Kamis, 21 Agustus 2008

Proses dan Prosedur Penelitian Sanad Hadis (Bagian I)

Al-I'tibar
Setelah dilakukan kegiatan takhrij hadis sebagai langkah awal penelitian maka seluruh sanad dicatat dan dihimpun untuk kemudian dilakukan kegiatan i’tibar.

Al-I’tibar adalah menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sanad yang tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadis dimaksud.

Kegiatan al-i’tibar diperlukan pembuatan skema untuk seluruh sanad bagi hadis yang akan diteliti. Dalam pembuatan skema, ada tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian, 1)jalur seluruh sanad, 2)nama-nama periwayat untuk seluruh sanad, dan 3) metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat.

Nama-nama periwayat yang ditulis dalam skema sanad meliputi seluruh nama, mulai dari periwayat pertama, yakni sahabat Nabi Saw yang mengemukakan hadis, sampai mukharrij-nya.

Contoh Skema Sanad
Ada 5 hadis tentang perempuan harus sujud kepada suami yaitu dalam Sunan Abu Dawud (1 hadis), At-Turmudzi (1 hadis), Ibnu Majah (2 hadis), dan Ahmad (1 hadis).

Sunan Abu Dawud
حدثنا عمرو بن عون أخبرنا إسحق بن يوسف عن شريك عن حصين عن الشعبي عن قيس بن سعد قال أتيت الحيرة فرأيتهم يسجدون لمرزبان لهم فقلت رسول الله أحق أن يسجد له قال فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت إنى أتيت الحيرةفرأيتهم يسجدون لمرزبان لهم فأنت يا رسول الله أحق أن نسجد لك قال أرأيت لو مررت بقبر أكنت تسجد له قال قلت لا قال فلا تفعلوا لو كنت امرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت النساء أن يسجدن لأزواجهن لما جعل الله لهم عليهن من الحق.

Sunan At-Turmudzi
حدثنا محمود بن غيلان حدثنا النضربن شميل أخبرنا محمد بن عمروعن أبي سلمة عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لو كنت امرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن يسجد لزوجها

Persambungan Sanad yang Diteliti
A. Lambang-Lambang Metode Periwayatan
Periwayatan hadis ada dua macam: Tahammulul hadis (penerimaan hadis), dan ada’ul hadis (penyampaian hadis). Lafal/lambang dalam periwayatan hadis di antaranya sami’tu, sami’na, haddatsani, haddatsana, ‘an, anna, akhbarani, qala lana, dan lain-lain. Sami’tu, sami’na, haddatsani, haddatsana, akhbarani, dan qala lana tingkat akurasinya sangat tinggi, sedang yang lainnya kurang. Walau begitu di antara ulama ada yang tidak sepakat juga.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Hadis Mu’an’an, yakni hadis yang sanadnya mengandung lambang ‘an, dan Hadis Mu’annan, yakni hadis yang memakai lambang anna, memiliki sanad yang putus. Tetapi bisa bersambung sanadnya bila dipenuhi syarat-syarat sbb: 1) pada sanad hadis yang bersangkutan tidak terdapat tadlis (penyembunyian cacat), 2) para periwayat yang namanya beriring dan di antara oleh lambang ‘an ataupun anna itu telah terjadi pertemuan, 3) dan periwayat yang menggunakan lambang ‘an atau pun anna itu adalah periwayat yang terpercaya (tsiqoh).

B. Hubungan Periwayat Dengan Metode Periwayatannya
Keadaan periwayat dapat dibagi kepada: tsiqah dan tidak tsiqah. Periwayat yang tsiqah memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan karenanya dapat dipercaya riwayatnya. Bagi periwayat yang tidak tsiqah, perlu terlebih dahulu diteliti letak ketidak-tsiqat-annya, yakni apakah berkaitan dengan kualitas pribadinya ataukah berkaitan dengan kapasitas intelektualnya. Jadi, riwayat yang disampaikan oleh orang yang tidak tsiqah, akurasinya berada di bawah riwayat yang tsiqah.

Dalam hubungannya dengan persambungan sanad, kualitas periwayat sangat menentukan. Walau menerima riwayat dengan metode sami'na, misalnya, tetapi karena yang menyatakan lambang itu adalah orang yang tidak tsiqah, maka informasi yang dikemukakannya itu tetap tidak dapat dipercaya. Ada periwayat yang dinilai tsiqah oleh ulama ahli kritik hadis, namun dengan syarat bila dia menggunakan lambang periwayatan haddasani atau sami'tu, sanadnya terdapat tadlis (penyembunyian cacat). Periwayat yang tsiqah namun bersyarat itu, misalnya 'Abdul Malik bin 'Abdul 'Aziz bin Juraij, Ibn Juraij.

Hubungan antara periwayat dan metode periwayatan yang digunakan perlu diteliti. Karena tadlis masih mungkin terjadi pada sanad yang dikemukakan oleh periwayat yang tsiqah, maka ke-tsiqat-an periwayat dalam menggunakan lambang metode periwayatan perlu dilakukan penelitian secara cermat.

Tidak ada komentar: