Rabu, 27 Juni 2012

Mencintai Buku seperti Mencintai Kamu

Nak, bapak ingin bercerita padamu, bahwa selain kamu dan ibumu ada juga yang bapak cintai, bahkan sejak sebelum mengenal ibumu; sejak zaman “azali”. Cinta bapak kepadanya hingga kini masih terpatri. Cinta bapak kepadanya sama dengan cinta pada kamu dan ibumu.

Maafkan bapak, nak. Bapak tidak bisa menghilangkan rasa cinta bapak padanya. Oh, kuharap kau dan ibumu tidak terlalu cemburu, kecuali sedikit saja. Barangkali saat aku tak bersamamu (dan juga ibumu) boleh jadi bapak sedang bermesraan dengannya. Maafkan bapak nak jika membuat kamu dan ibu marah.  

Mungkin kamu penasaran dan bertanya-tanya, siapa sesungguhnya yang bapak cintai itu selain kamu dan ibumu sejak dari dulu hingga kini? Baiklah, nak, mari dekat bapak, akan bapak beritahu. Yang bapak cintai sesungguhnya adalah buku, he-he. 

Bagaimana perasaanmu, nak? Ah, barangkali hatimu menjadi plong sekarang, he-he-he. Tapi, itu betul, nak. Bapak tidak bercanda. Bapak memang mencintai buku sudah lama sekali. Bapak tidak bisa melepaskan perasaan itu. Kecintaan bapak pada buku didasari atas dasar kesukaan pada aktivitas membaca, nak. Ya, bapak memang senang membaca. Membaca tentang apa saja, baik tulisan di koran maupun buku. Dan bisa dipastikan setiap bulan bapak selalu membeli buku. 

Jika belum ada uang lebih, bapak pinjam kepada kawan-kawan, perpustakaan kampus, atau baca-baca di toko buku. Bapak seperti sudah kecanduan membaca. Sehari tidak membaca seperti gersang hati bapak, nak. Lantas, sejak kapan bapak mulai meresensi buku? Sebetulnya dulu pas kuliah, bapak sudah mulai meresensi buku, tapi belum serius. Hanya sesekali saja. Waktu itu bapak masih fokus menerjemah, bukan meresensi. 

Bapak mulai meresensi buku secara serius pada saat awal menikah dengan ibumu. Lha, mengapa justru setelah menikah baru serius meresensi? Simpel nak jawabanya, karena setelah menikah dana belanja buku dialihkan ke dana belanja keperluan kami berdua sehari-hari, he-he. Jadi, sejak itulah bapak mulai meresensi buku secara serius. Resensinya kemudian dikirim ke pelbagai media massa.  

Menekuni Resensi 
Anakku, mungkin kamu akan bertanya mengapa bapak memilih meresensi tidak yang lainnya, misalnya, opini? Bapak memilih resensi karena tiga alasan. Pertama, kecintaan bapak membaca buku mendorong bapak untuk membagikan hasil bacaannya ke orang lain. Rasanya aneh, apabila bapak tidak membagikan apa yang sudah bapak baca. Ada semacam kegelisahan apabila hal itu tidak dibagikan kepada orang lain.

Kedua, aktivitas meresensi akan memacu bapak untuk senantiasa membaca buku. Berbeda dengan halnya meresensi opini, mungkin membaca bukunya tidak seintens meresensi buku. Jadi, dengan kata lain, meresensi akan membuat bapak tetap rajin membaca, nak. 

Nah, yang ketiga, ini barangkali yang agak realistis, yakni mendatangkan buku secara gratis dan materi. Jika resensi dimuat di media massa, maka keuntungan secara materi bisa “berlipat”. Materi itu bisa berupa uang, buku, dan barang yang lainnya, entah dari media massa, penerbit, bahkan penulisnya. Mungkin yang ketiga inilah alasan terbesar mengapa bapak meresensi, nak. Sebagaimana bapak ceritakan di atas, bahwa budget untuk membeli buku setelah menikah sudah minim, sedang membaca buku tidak ada kata berhenti, maka bapak harus mendapatkan jalan keluarnya. 

Bapak mendapatkan solusinya dari kawan, bahwa agar mendapat pasokan buku secara gratis adalah dengan meresensi buku. Apabila resensi dimuat di media, maka kita akan mendapatkan buku secara gratis dari penerbit yang kita resensi bukunya. Bahkan, mendapatkan uang pula. Hmm, sungguh menarik, bukan? Dari situlah bapak serius meresensi. Bapak mendisiplinkan diri untuk menghasilkan satu resensi satu minggu. Jadi, satu bulan bapak bisa membuat 4 resensi. 

Tentu sebagai modal awal, bapak membeli 1-2 buku baru. Bapak kelabakan saat buku baru yang bapak beli itu ternyata resensinya tidak ada yang dimuat. Akhirnya, bapak pinjam kepada kawan-kawan yang rajin membeli buku. Bapak terus meresensi setiap minggunya. Bapak baca resensi-resensi yang dimuat di massa. Bulan pertama resensi bapak tidak dimuat, bulan kedua tidak dimuat, bulan ketiga tidak juga dimuat, bulan keempat, bulan kelima, dan bulan keenam… uerekaaa! Akhinya di bulan keenam itulah resensi bapak dimuat. Alhamdulillah. Bapak dan ibu senang bukan kepalang, nak. Bapak merasa pada bulan itu resmi untuk disebut sebagai “peresensi”, he-he. 

Dari situ bapak mulai berani memperkenalkan diri ke pelbagai penerbit sekaligus menawarkan jasa resensi. Alhamdulillah, banyak yang respons. Dari situ pula bapak mulai kebanjiran buku. Anakku, perlu engkau ketahui, pada waktu itu bapak belum punya komputer, apalagi laptop. Bapak menulis di atas kertas HVS. Ketika selesai menulis, ibumu kemudian mengetiknya di rental, yang jaraknya tak jauh dari kos. Kadang, bapak juga ikut ke rental; bapak membacakan (mendiktekan) resensinya, sedang ibu mengetiknya. Sungguh, kami bahu-membahu untuk bisa melestarikan aktivitas meresensi ini. Hal itu berlangsung selama kurang lebih satu tahun. 

Selepas satu tahun itu baru kami mempunyai komputer, tidak tanggung-tanggung mendapatkan dua unit. Satu dari pemilik rental yang sering kami sambangi, dia menawari kami komputer (Pentium 2) seharga 300 ribu rupiah. Dan satunya lagi dari kawan peresensi yang tinggal di Bandung. Dia mengirimkannya via pos. Saya tak akan melupakan jasa baik keduanya. 

Anugerah Ramadhan  
Kegiatan meresensi semakin menggila setelah mempunyai dua unit komputer. Namun seiring waktu, satu per satu komputer itu mulai “rewel”, mungkin karena sudah uzur dan dipaksa untuk “bekerja rodi”. Akhirnya keduanya pun “wafat”. Tuhan Mahatahu. Tak lama setelah 2 unit komputer itu rusak, kami justru bisa membeli notebook. Alhamdulillah. Dan waktu itu juga, kamu lahir ke dunia, anakku. 

Bagi kami, bulan itu yang bertepatan bulan Ramadhan—bulan pernuh berkah—merupakan bulan anugerah. Kehadiran notebook dan kehadiran kamu. Sungguh, tak terasa pula perjalanan bapak menekuni dunia resensi sudah hampir 5 tahun (2008 --…). Seperti halnya di bidang lain, menekuni bidang resensi pun banyak suka-dukanya. Insya Allah, di kesempatan lain bapak akan menceritakannya padamu. Bapak hanya berdoa semoga bapak tetap istiqamah meresensi buku, meski orientasinya kini berubah. Jika dulu meresensi sebagai job dan career, maka saat ini bapak mengubahnya menjadi calling; panggilan hidup. Bapak tidak lagi membuat resensi karena uang. Saat ini, bapak meresensi karena ingin berbagi pengetahuan; berbagi cerita dan materi apa yang sudah bapak baca kepada khayalak masyarakat. Tak lain, itu semua karena bapak mencintai buku, nak. Dan mencintai buku sama seperti layaknya mencintai kamu.[] 


Jangan Bakar Buku!

Rabu (13/6), PT. Gramedia Pustaka Utama memusnahkan 216 eksemplar buku 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia. Buku yang diterjemahkan dari karya Douglas Wilson ini dianggap menghina Nabi Muhammad. Tidak banyak sebetulnya, hanya di halaman 24 dan 25 saja. Itu pun hanya 3 paragraf. Salah satu bunyinya:
“Selanjutnya ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain. Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan Mekkah. Muhammad memerintahkan serangkaian pembunuhan demi meraih kendali atas Madinah, dan di tahun 630 M, ia menaklukkan Mekkah” (hal 24).

Sedang di halaman 25 alinea kedua dan ketiga, Wilson membuat penafsiran, bahwa agama yang dibawa Muhammad (baca: Islam), selalu ditegakkan dengan pedang. Lantaran paragraf di atas, buku ini bernasib nahas. Penerbitnya membakar buku tersebut. Padahal, di luar halaman tersebut, buku ini sama sekali tidak ada penghinaan, bahkan memuat informasi pelbagai kota berpengaruh secara mendalam. 

Direktur Utama Gramedia Pustaka Utama, Wandi S Brata, menjelaskan buku edisi terjemahan itu mulai diedarkan pada minggu kedua Maret 2012 dengan total cetakan sebanyak 3.000 eksemplar. Hingga awal Juni 2012 buku telah terjual sebanyak 489 eksemplar. Selain di Jakarta, pemusnahan telah dilakukan di Cakung, Jawa Barat, Semarang, Jawa Tengah, Surabaya, Jawa Timur, dan Pekanbaru. 

Kejadian ini sungguh memilukan. Terlepas, soal beberapa paragraf yang dianggap SARA, sesungguhnya pembakaran buku juga termasuk pelecehan terhadap karya. Seorang kawan mengatakan, “Hasil karya tulis seseorang itu seperti lahirnya seorang anak, ia anak kandung pemikiran, bila buku itu dibakar, maka ia sama saja membakar seorang anak, membakar kehidupan.” 

Saya melihat pihak penerbit melakukan pembakaran atas terbitannya sendiri adalah sikap paranoid yang berlebihan. Ya, ada ketakutan yang amat besar sehingga jalan itu ditempuh. Terlebih, sebelumnya sudah ada orang dari pihak ormas tertentu yang melayangkan gugatannya kepada pihak berwajib. Bayang-bayang protes dengan pengerahan massa ke kantor penerbit menambah paranoid yang sudah ada. Sebelum perkara ini menjadi besar, penerbit meminta maaf secara tertulis. Serasa belum puas penerbit lalu mengambil langkah ekstrem, yaitu membakar buku tersebut secara simbolik di hadapan masyarakat, wartawan, dan MUI. 

Coba Anda bayangkan, sebuah buku (anak kandung pemikiran) dibakar “hidup-hidup” sembari disaksikan oleh kaum intelektual, cendekia, dan ulama. Ironik, bukan? Menurut saya, pihak penerbit tidak perlu melakukan pembakaran terhadap buku tersebut. Pihak penerbit cukup dengan meminta maaf secara tertulis dan menarik buku tersebut, dan berjanji akan merevisinya. Sebagai kaum beragama, tentu kita terima iktikad baik berupa permohonan maaf yang disertai penarikan dan perevisian tersebut. 

Ada baiknya kita mencontoh teladan pada masa terdahulu yang kasusnya hampir sama dengan kejadian ini. Pada masa kolonial Belanda, buku yang menghina Nabi tidak dibakar. Hendri F. Isnaini, sejarawan, memaparkannya dalam majalah Historia (edisi Juni 2012). Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson. Di dalamnya terdapat paragraf, “Karena itulah Hitler makin lama makin yakin sendiri bahwa ia kebal dan besar … ia sendiri lalu menjadi lebih besar sedikit, mungkin semacam Mohamed dengan ‘pedang di sebelah tangannya dan buku Mein Kampf di tangan lainnya’…”. Reaksi muncul. Koran Pemandangan memuat kritik atas buku tersebut pada 4 Desember 1940, yang ditulis oleh Anwar Tjokroaminoto. Menurutnya, Nabi Muhammad tak pernah memaksa dan mengancam dengan pedang, dan tak bisa disamakan dengan Hitler. Bahkan, menurut Anwar, “Hitler tidak bisa dipersamakan dengan manusia biasa, melainkan sebagai kepala dari bangsa biadab.” 

Berbagai tulisan pun bertandangan ke meja redaksi Pemandangan, menyuarakan kekecewaan terhadap buku Henderson. Seorang penulis bernama Depe menulis di Pemandangan, 12 Desember 1940, menguraikan bagaimana sejarah persepsi Barat terhadap Nabi yang keliru. Dia beranggapan bahwa buku ini tak perlu dibaca bangsa Belanda maupun orang yang mengerti bahasa Belanda. “Perlunya, untuk menjaga jangan sampai orang mendapat salah faham tentang junjungan kita tadi seperti di zaman Abad Pertengahan.” 

Belum reda masalah buku Henderson, muncul tulisan di AID De Preanger Bode pada 8 April 1941 yang mengutip ulasan buku karya Karl Barth di koran Het Vaderland yang terbit di Belanda. Dalam bukunya, Karl Barth menulis: “… Orang harus menganggap nasional sosialisme sebagai Islam baru, dan Hitler sebagai Nabinya,” yang harus dilenyapkan sebagaimana dulu “hancurnya benteng nabi palsu Muhammad.” Komisi Pemberantas Penghinaan Islam di bawah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) melakukan penyelidikan. Hasilnya dikirimkan melalui kawat ke Dewan MIAI di Surabaya, yang berkesimpulan karya Barth menghina Islam. 

Diceritakan bagaimana pada masa itu berbagai reaksi dari umat Islam terus dilakukan secara legal, berupa protes, mengirimkan mosi, delegasi menghadap yang berwajib, dan sebagainya. Anggota-anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang beragama Islam juga berulang kali membicarakannya dalam sidang-sidang mereka di Volksraad. Organisasi Pembela Islam di Bandung melaporkan kepada Hoofd Parket (Kejaksaan Agung) di Jakarta bahwa penghinaan “pers putih” kepada Islam sudah amat sering. Dalam pertemuan itu, dirumuskan tiga hal penting: pemerintah berikhtiar menyusun undang-undang penghinaan agama, melalui RPD (Regerings Publiciteitsdienst, Dinas Penerangan) terus menganjurkan kerukunan antarumat beragama, dan apabila suatu saat menjumpai kasus penghinaan agama, Kejaksaan Agung membuka pintu selebar-lebarnya untuk pengaduan. 

Apa yang bisa kita ambil dari masa lalu itu adalah bahwa siapa pun tidak boleh melakukan pembakaran buku. Kita harus mengutamakan asas praduga tak bersalah. Bagi yang hendak protes sudah ada jalur hukum yang bisa ditempuh. Atau bisa melawan dengan buku juga, yakni menulis buku untuk menyangkal argumentasi Douglas Wilson tersebut. Dengan begitu perkara kesalahpahaman bisa diselesaikan dengan elegan. 

Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa “pembakaran buku” ini, agar jangan sampai terulang di lain waktu. Kedaulatan buku harus ditegakkan sejak awal. Mari kita selalu mengingat kata-kata Milan Kundera: “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya!” Oleh karena itu, apabila bangsa Indonesia tidak ingin hancur, jangan bakar buku![] 


Jumat, 01 Juni 2012

Menulis adalah Zikir

Kawan-kawan, pernah mendengar nama Abdul Munir Mulkhan? Beliau adalah guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan juga penulis produktif baik bentuk buku maupun tulisan di Koran-koran. Sudah 60 buku lebih beliau hasilkan, dan ratusan tulisan di media massa. Luar biasa, bukan?

Tema yang ditulisnya biasanya seputar keislaman (tasawuf, pendidikan Islam, dll). Apa sih yang bisa membuat dia produktif? Tentu kita bertanya-tanya soal itu. Di usianya yang sudah uzur ternyata beliau masih semangat menulis dan menghasilkan karya. Suatu ketika dalam sebuah seminar, ada yang bertanya sebagaimana pertanyaan di atas, ‘apa sih yang bisa membuat bapak Munir Mulkhan produktif?’ beliau lantas menjawab: “Saya menjadikan menulis sebagai wirid”. Singkat, padat, dan mendalam. 

Kita tahu bahwa wirid adalah melafalkan bacaan-bacaan tertentu dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah SWT. Mungkin bisa kita samakan dengan zikir: mengingat Allah dengan melafalkan kalimah2 thayyibah. Apa yang bisa kita ambil dari kata-kata Pak Munir Mulkhan itu? Bahwa menulis itu sesungguhnya wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah. Menulis adalah olah batin dan laku spiritual. Dengan begitu, menulis adalah aktivitas mulia yang bernilai ibadah dan sangat bermanfaat. 

Kalau sudah begitu, tidak menjadi soal pabila tulisan kita tidak dibaca orang, atau tidak diterima oleh media massa maupun redaktur. Kita pun tidak akan patah arang jika tulisan-tulisan kita terus ditolak media/penerbit. Karena toh kita sudah merasakan nikmatnya “wiridan” tersebut. Justru, dengan begitu sebetulnya secara tidak langsung akan menghasilkan kebiasaan menulis, sehingga lambat-laun dengan sendirinya tulisan kita semakin berkualitas. Dan bukan tidak mungkin redaktur pun akan terketuk pintu hati dan otaknya saat membaca tulisan kita. 

Satu hal yang perlu diingat, bahwa wirid/zikir adalah aktivitas yang tidak mengenal waktu. Tidak hanya selepas shalat, tapi “Qiyaman wa qu’udan,” begitu ditulis dalam Al-Qur’an. Begitu juga dengan menulis pabila dijadikan sebagai wirid, maka konsekuensinya harus melakukan ritual menulis setiap hari. Dengan begitu, kemahiran dalam menulis hanyalah soal waktu. Dimuat di media massa hanya soal waktu. Dan, naskah kita diterima penerbit hanya soal waktu juga. 

Btw, apakah hari ini kawan2 sudah melakukan wirid menulis?

Selasa, 22 Mei 2012

Puncak Suroloyo

Matahari pagi terlihat bersejajar dengan kami, saat kami sampai di pegunungan Menoreh pada pukul 07.00 WIB. Sinarnya begitu lembut menyambut kehadiran kami. Burung-burung berkicau meramaikan angkasa, seolah saling memberi semangat satu dan lainnya dalam memulai aktivitas. Tiga gunung besar di pulau Jawa, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi.

Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut, perlahan namun pasti. Itulah pemandangan yang bisa dilihat saat pagi hari ketika kami berada di Puncak Suroloyo, bukit tertinggi di Pegunungan Menoreh yang berada pada 1.600 meter di atas permukaan laut. 

Menuju puncak Suroloyo kami tempuh dengan jalan kaki kurang lebih 7 kilo meter. Kendaraan kami titipkan di rumah penduduk. Kami melewati rute jalan setapak yang hanya digunakan oleh para petani, pencari rumput, dan kayu bakar. Karena itu, medannya cukup sulit untuk dilewati. Jalan setapak yang licin, tanjakan yang mencapai kemiringan 600, harus kami lalui. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang sedang bercocok tanam maupun yang mencari kayu bakar. Mereka tampak ramah, prototype penduduk desa yang penuh dengan keotentikan. Hidupnya jauh dari hingar bingar dunia. Mereka bertekun dengan kesunyian dalam berkarya. 

Dalam sebuah ladang, kami melihat tanaman cabe sedang berbuah, menunggu dipetik oleh pemiliknya. Perjalanan menuju puncak Suroloyo ala jungle tracking sungguh melelahkan, namun itu terbayar dengan keindahan pemandangan yang dapat dilihat dalam perjalanannya. Terlebih pada saat sampai di puncak Suroloyo. Tidak hanya itu, tampias keringat dan udara sejuk nan segar menjadikan diri kami merasakan sensasi yang luar biasa. Lelah tapi puas. 

Saat sampai di sana saya melihat tiga buah gardu pandang. Gardu-gardu tersebut sudah difasilitasi tangga yang kokoh dengan kemiringan 300 - 600. Sungguh itu memanjakan orang-orang yang berwisata ke situ. Menurut cerita yang pernah saya baca, gardu pandang tersebut dahulu adalah pertapaan, yang masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Tempat ini mempunyai kaitan sejarah dengan Kerajaan Mataram Islam. 

Dalam Kitab Cabolek yang ditulis Ngabehi Yasadipura pada sekitar abad ke-18 menyebutkan, suatu hari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang kala itu masih bernama Mas Rangsang mendapat wangsit agar berjalan dari Keraton Kotagede ke arah barat. Petunjuk itu pun diikuti hingga dia sampai di puncak Suroloyo. Karena sudah menempuh jarak sekitar 40 km, Mas Rangsang merasa lelah dan tertidur di tempat ini. Pada saat itulah, dia kembali menerima wangsit agar membangun tapa di tempat dia berhenti. Ini dilakukan sebagai syarat agar dia bisa menjadi penguasa yang adil dan bijaksana. 

Selain memiliki pemandangan yang mengagumkan, Puncak Suroloyo juga menyimpan mitos. Puncak ini diyakini sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa. Dengan kata lain, jika ditarik lurus dari utara ke selatan, serta dari barat ke timur di atas pulau jawa, maka akan bertemu di puncak Suroloyo. 

Mitos inilah yang menyebabkan pada malam satu satu Sura (1 Muharam) kawasan ini sangat ramai dikunjungi baik penduduk, warga setempat, masyarakat Yogyakarta, maupun dari daerah lain. Mereka kebanyakan melakukan ritual untuk menolak bala yang dipercaya akan datang pada bulan suro. Puncak Suroloyo terletak di dusun Keceme, Gerbosari, kecamatan Samigaluh, Kulonprogo. 

Ada dua jalur untuk bisa mencapai tempat ini yakni jalan Godean – Sentolo – Kalibawang (dari arah Yogyakarta dan Puworejo) dan dari jalan Magelang - Pasar Muntilan – Kalibawang (dari arah Semarang). Di gardu pandang Suroloyo, gardu paling tinggi, kami membuka perbekalan yang kami beli saat di perjalanan, tepatnya di pasar Balangan, Minggir, Sleman. Saat kami menikmati jajanan pasar datang seorang turis dari Prancis. Turis itu bernama Robert, seorang penerjemah Prancis-Inggris. Kami pun mengajaknya untuk bergabung. Turis itu terkesan dengan Naga Sari, salah satu makanan khas jawa yang kami bawa. Enak sekali, ujarnya. Perjamuan makan pun kami tutup dengan minum teh hangat. 

Yogyakarta, Jumat 18 Mei 2012

Renungan Malam (22 April 2012)

# Menulis itu memang menuntut kejujuran sejak dalam pikiran. Jika tidak, maka ia akan gelisah saat menggarapnya. Naskahnya pun tidak dibanggakan. Oleh karena itu, menulislah secara jujur. Misalnya, ia jujur kalau ia mengutip kalimatnya dari sesuatu, bahwa itu bukan hasil dari pikirannya sendiri. Dengan begitu ia akan tenang pada saat menggarapnya.

# Menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Satu-satunya yang harus ditaklukkan adalah dirinya sendiri. Satu sisi ia harus melawan kemalasan, sisi lain ia harus menjaga kedisiplinan. Ia harus membaca, merenung, dan lalu menuliskannya.  

# Persoalan orang tidak bisa menulis bukan soal ‘tidak tahu cara menulis’, tetapi pada persoalan tidak bisa menyempatkan waktu untuk menulis. Tidak ada waktu yang tepat untuk menulis. Akan selalu ada gangguan dan alasan baik logis maupun tidak pada saat anda merencanakan “waktu” untuk menulis. Satu-satunya yang bisa menjamin bahwa anda bisa menulis adalah sekarang juga, tuliskan segera apa yang menjadi buah pikiran dan perasaan anda.

# Kegagalan menulis itu mirip dengan saat anda ingin berwirausaha, yakni mempunyai banyak alasan untuk menggagalkannya. Jika dalam bisnis alasannya adalah modal, sedang dalam menulis adalah waktu. Saat modal belum ada, maka ia tidak akan berwirausaha. Saat waktu (menulis tidak ada) maka ia tidak akan menulis.

Kamis, 10 Mei 2012

Sekali Lagi, Kendalikan Facebook

Sekarang ini, internet semakin mengerucut, hanya menjadi facebook.

Betapa tidak, waktu banyak dihabiskan di facebook ketimbang membuka situs-situs lainnya. Tidak sepenuhnya salah sebetulnya untuk membuka facebook, karena masih bisa dijadikan ajang silaturahmi dan mendapat pengetahuan dan berita juga. Tapi, berdasar pengalaman saya, facebook banyak tidak manfaatnya ketimbang manfaatnya, buat saya lho.

Mungkin itu lain halnya jika facebook sebagai lapak atau tempat jualan atau bisa mendatangkan manfaat karena sesuai dengan profesinya. Tapi, bagi saya yang profesinya sebagai penulis, facebook tidak begitu banyak membawa faedah. Facebook memberangus produktifitas. Itu yang saya rasakan. Jadi, hati-hatilah dengan facebook. Kendali harus ada dalam diri kita, bukan pada facebook. Soalnya, sudah banyak orang “disibukkan” dengan facebook. Entah itu pegawai, mahasiswa, siswa, dan yang lainnya.  

Aku pernah menon-aktifkan akun facebook-ku, karena sudah kesal dan bosan, tapi sekarang sudah aku aktifkan lagi. Bisa saja aku memang kecanduan, bisa juga kesepian, atau bisa juga kerinduan, bahkan aku pikir bisa dijadikan tempat mencari uang. Tidak ada alasan yang mutlak. Namun, yang jelas, aku sekarang bisa mengendalikan facebook. Paling tidak, hanya seminggu sekali buka facebooknya. Terus hanya membuka dan membaca akun facebook tertentu yang mendatangkan manfaatnya buatku, terutama yang sesuai dengan bidangku, yakni menulis. Selainnya, aku tak perlu komentar dan tak perlu membacanya. 

Aku harus dianggap bahwa aku sedang tidak aktif atau jarang membuka facebook. Aku hanya akan membalas yang masuk ke inbox saja. Karena itu artinya mereka memang serius ingin berkomunikasi dengan aku. Nah, dengan begitu aku bisa menekan kecanduanku, kerinduanku, dan kelangenanku pada facebook, sehingga aku bisa lebih banyak fokus pada menulis sebagai pekerjaan utamaku. Ingat, pekerjaan utamaku adalah menulis, menulis, dan menulis. Bukan yang lainnya. Aku akan ngamuk menulis.

Tak Perlu "Bahan Banyak”

Menulis itu tidak perlu banyak bahan, yang penting bahan seadanya tapi ditulis dan dijabarkan semampunya. Jika mentok baru baca buku dan merenung lagi. Begitu dan begitu. Yang penting lagi adalah kuat berpikir dan duduk. Artinya, selalu menjaga kefokusan pikiran. Jangan melamun, dan berpikir kesana kemari. Jika kita bisa menjaga fokus selama satu jam itu sudah bagus. Tinggal menjaga konsistensinya saja. Terakhir adalah sabar. Kita harus sabar dalam menuliskannya, tidak terburu-buru. Menikmati setiap hurufnya. Jika kita bisa mengamalkan hal di atas, Insya Allah kita akan bisa merampungkan sebuah tulisan, bahkan sebuah buku. Insya Allah.

Selasa, 10 April 2012

Padi Tumbuh dalam Kesunyian

Hampir setiap pagi jika anakku bangun pagi, aku sering mengajaknya jalan-jalan ke pematang sawah. Dia tampak antusias setiap kali aku ajak ke persawahan. Aku bonceng dia dengan sepeda ontel. Di sawah kami jalan-jalan, kadang duduk-duduk. Di sana kami melihat hamparan sawah sejauh mata memandang. Kami menyaksikan burung-burung yang terbang, saat petani mengusirnya. Kami juga melihat petani baru berdatangan, dan siap bekerja. Pada kali itu, kami melihat padi mulai menguning, yang beberapa hari sebelumnya masih tampak hijau. Jadi, kami menyaksikan perubahan padi dari hari ke hari.

Aku perhatikan padi tumbuh dalam kesunyian. Dia tumbuh dari mulai hijau hingga menguning. Dia tidak banyak "bicara" dan gembar-gembor untuk mempersiapkan kematangannya. Dan saat matang dia justru merunduk, tanda kerendahan hati. Semakin berisi semakin merunduk. Dia tidak berdiri tegak. Begitulah filosofi padi yang bisa aku ambil. Kerendahan hati wujud kesalehan sejati. Begitu ucap seorang kawan. Ah, aku berharap bisa meneladani padi itu, yang ketika matang justru semakin tunduk dan rendah hati.

Sering kita menyaksikan manusia yang sombong saat mendapatkan kemasyhurannya. Dia angkuh saat dirinya meraih sesuatu yang sudah diraihnya. Dia lupa bagaimana kehidupan dulunya. Di alpa bahwa apa yang dicapainya banyak campur tangan orang lain. Sombong, angkuh, dan egois adalah penyakit hati. Jadi, harus disembuhkan. Dan yang lebih penting lagi adalah menjaga diri dari penyakit tersebut. Bukankah pencegahan lebih penting ketimbang pengobatan?

Oleh karena itu, aku hendak membiasakan kepada anakku perilaku-perilaku positif sejak dini ini. Aku bersyukur bisa membawa dia kepada alam nyata yang segar. Aku perkenalkan dia sawah, sungai, tanaman, suara-suara alam: gemericik air, kicau burung, gonggongan anjing, dan lain sebagainya. Aku berharap dari situ dia mempunyai ingatan otentik masa kecilnya yang bisa dibawa ke masa dewasanya. Aku berharap dia bisa mempunyai pikiran otentik yang berpikir dan berbuat serta menjadi tumbuh secara alami layaknya alam ini, mereka tumbuh secara natural nan alami. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Masanobi Fukuoka dalam Revolusi Sebatang Jerami (1991):

"Dalam mengasuh anak, banyak orangtua membuat kekeliruan yang sama dengan yang mula-mula saya lakukan di kebun buah-buahan. Misalnya, mengajarkan musik kepada anak-anak sama tidak perlunya seperti memangkas pohon-pohonan di kebun buah-buahan. Telinga anak-anak menangkap musik. Gemericik aliran sungai, suara kuakan katak di tepi sungai, geremisik dedaunan di hutan, semua suara alam ini merupakan musik--musik yang sebenarnya. Tetapi bila bermacam suara gaduh mengganggu masuk dan mengaburkan telinga, apresiasi langsung dan murni dari anak-anak terhadap musik mundur. Jika dibiarkan berlangsung terus seperti itu, anak tidak akan mampu mendengarkan kicauan seekor burung atau desauan angin sebagai nyanyian-nyanyian."

Selasa, 27 Maret 2012

BBM Naik, Tanya Kenapa

Aku lihat demonstrasi dimana-mana. Pusing juga lihatnya. Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi chaos, seperti pada zaman orde baru dulu, saat lengsernya Soeharto. Istilah chaos sendiri, populer pas kejadian itu. Sebelumnya aku tidak paham apa itu chaos. Tahunya saos. Mahasiswa dan buruh demo lumayan besar di hari ini. Terutama di Jakarta, yang berpusat di istana presiden dan gedung DPR. Aku lihat yang di depan Gedung DPR, para demonstran begitu banyak. Mereka berhasil menggeser pintu gerbang gedung tersebut, namun tidak sampai masuk, karena masih bisa mengendalikan diri.

BBM per 1 April akan dinaikkan. Itulah penyebab maraknya demonstrasi. Ya, bagi rakyat jelata, BBM naik adalah siksa kubur. Betapa tidak, gara-gara BBM naik, harga sembako akan naik, uang transportasi naik, bahkan semuanya akan naik. Itu sebuah kepastian, karena BBM memengaruhi semua sendi kehidupan. Jadi, tidak hanya situasi politik dan ekonomi yang menyebabkan segalanya naik, tetapi juga BBM yang bisa menggalaukan semua perkara kehidupan.


Alangkah nahasnya menjadi kaum dhuafa. Mereka (termasuk aku) menjadi sasaran empuk korban segala kebijakan pemerintah. Alasan pemerintah menaikkan BBM lantaran minyak mentah dunia naik, dan APBN akan jebol jika tidak dinaikkan. Okelah pemerintah punya alasan seperti itu, tapi apa tidak ada cara lain selain menaikkan BBM? Mungkin pemerintah menjawab, sudah ada cara lain, yakni dengan adanya subsidi, tapi itu belum cukup. Ya, cari cara lainnya dong. Pemerintah sebagai penjamin kemakmuran rakyatnya, harus kreatif lah. Pemerintah harus mencari cara bagaimana BBM tidak naik, bahkan bagaimana bangsa Indonesia tidak tergantung pada minyak dunia. Bukankah sumber daya alam berupa minyak di negara kita ada?

Mestinya kita mampu berpikir kesana. Atau, pemerintah juga bisa berpikir, bagaimana caranya kendaraan tidak memakai bahan bakar bensin dan solar? Dalam arti, pemerintah mencari cara pengganti bahan bakar bensin dan solar dengan bahan dasar lain, yang bisa kita ambil dari sumber daya alam kita ini? Kerahkan ilmuwan-ilmuwan kita untuk memikirkan hal ini. Dahlan Iskan sebetulnya sudah merintis hal ini, yaitu dengan menggagas kendaraan mobil listrik, yang katanya mulai dioperasikan pada tahun 2014. Ah, semoga saja terlaksana hal itu.

Cara berpikir Dahlan seperti itu patut ditiru oleh pejabat lainnya. Bahkan oleh masyarakat juga, dan oleh saya juga. Terobosan-terobosannya dinilai efektif dan terasa bagi masyarakat. Masyarakat juga harus kreatif, yakni mulai meningkatkan pendapatannya, bergaya hidup hemat, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Maaf, itu bukan untuk masyarakat, itu untuk saya. Karena saya tidak tahu untuk masyarakat mana yang saya sarankan kreatif, karena artis pun masyarakat, yang tidak terpengaruh oleh kenaikan BBM.

Ah, saya rindu dengan pemimpin yang kreatif, yang mampu melakukan terobosan-terobosan signifikan, demi kemakmuran rakyatnya. Ibda’ binafsik. Mulailah dari dirimu! Bukankah masing-masing di antara kita adalah pemimpin?

Sabtu, 25 Februari 2012

Tulis Segera, Jangan Menunggu Sempurna

Sesungguhnya untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung, mana dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Jadi, dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasan kita.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dahulu, semasa menyusun tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Pak Sahiron Syamsuddin, PhD., beliau kira-kira mengatakan begini, “Tulis saja dulu, apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.”


Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut betul adanya. Sungguh, baru aku merasakannya pada saat aku serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat aku lulus kuliah pasca sarjana. Aku tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna, seperti halnya saat aku hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung aku menulisnya, sesedikit apa pun. Aku tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Jadi, sekali lagi saya katakan, banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sodaqoh, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa sodaqoh. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sodaqohnya, sekalian kalau sudah banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sodaqoh. Atau saat anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya anda tidak bisa lagi sodaqoh. Menyesal, bukan?

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis, dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudnya, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak anda tulis. Jadi, anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran anda dalam sebuah tulisan. []

Yogyakarta,25 Februari 2012

Jumat, 24 Februari 2012

Masa Depan Buku Cetak

Suatu malam saya dan kawan-kawan peresensi Jogjakarta berbincang dengan seorang distributor buku di sebuah kafe daerah selokan mataram, Jogjakarta. Kami berbincang mengenai dunia perbukuan, salah satunya adalah soal masa depan buku cetak. Distributor itu bercerita bahwa buku (cetak) kini mendapat tantangan serius dari waktu ke waktu. Minat baca dan daya beli masyarakat itu masih menjadi masalah klasik dan klise dalam dunia perbukuan di Indonesia. Belum juga kelar mencari solusi soal itu, kini perbukuan juga diserang oleh hadirnya e-book (electronic book)—buku elektronik—alias buku digital.


Tidak hanya penerbit yang mendapat getahnya, tetapi juga distributor dan toko buku. Bahkan penulis juga. Penerbit akan menyusut memproduksi bukunya lantaran konsumen tertarik membeli buku elektronik yang murah dan mudah. Distributor pusing apa yang hendak didistribusikan kepada toko-toko buku jika pasokan buku-bukunya berkurang sedang ongkos di lapangan tidak kenal kompromi. Sedang toko buku kelimpungan menjual. Konsumen sudah jarang pergi ke toko buku lagi. Mereka tinggal memesan e-book via internet yang cepat dan murah. Amboi.

Hal itulah yang dialami di Amerika. Jaringan toko buku terbesar di Amerika, Borders Group, bangkrut. Sekitar 400 gerai lebih telah ditutup dan dijual. Padahal perusahaan tersebut menguasai pasar buku dalam dan luar negeri, mempunyai cabang di beberapa negara, seperti Singapura dan Australia. Penghasilan mereka per tahun mencapai $ 3 miliar atau Rp 25 triliun. Mereka bangkrut lantaran serbuan e-book atau buku digital yang begitu massif.

Menurut Asosiasi Penerbit Amerika (AAP), per Juni 2011, penjualan buku dewasa dengan kertas koran (paperback) merosot tajam sebesar 63,8% dalam waktu 12 bulan. Diperkirakan, ini setara dengan 85 juta dolar AS. Untuk buku hardcover, penjualannya juga menurun. Walaupun prosentasenya lebih kecil tapi tak kalah mencemaskan, yakni turun 25,4%. Bagaimana dengan e-book? Penjualannya, melalui Kindle, iPad, dan Nook, melonjak sampai 167% atau sekitar 50 juta dolar AS.

Di Inggris, penjualan Kindle terdongkrak 20% dibandingkan tahun lalu. Kabarnya, Amazon.co.uk telah mampu menjual 242 e-book untuk setiap 100 buku hardcover yang laku. Penurunan penjualan buku di Inggris memang tidak sedrastis di AS, yakni 7,5% selama tiga bulan pertama tahun 2011. Tapi, seperti di AS, penurunan penjualan buku hardcover di Inggris tidak sebanyak paperback. Pembaca buku paperback umumnya beralih ke e-book, sedangkan perpustakaan di negara maju lazimnya lebih suka membeli buku hardcover karena lebih awet (blogtempointeraktif.com, 6/12/11).

Lantas, bagaimana di Indonesia? Sejauh pengamatan saya, efek adanya buku digital masih belum terasa. Perbukuan di Indonesia masih berkutat soal bagaimana meningkatkan minat baca pada masyarakat dan bagaimana kertas agar bisa murah, di samping perkembangan tablet computer masih rendah lantaran harganya masih dianggap mahal. Majalah Tempo pernah melakukan survey bahwa penjualan tablet di Indonesia hanya 150 ribu unit, nyaris tak berarti dibandingkan dengan total penjualan di pasar dunia yang mencapai 100 juta unit.

Tapi, meski begitu, jika mendengar cerita distributor yang saya ceritakan di atas fenomena buku digital yang telah meluluhlantahkan perbukuan konvensional di luar negeri menjadi kegelisahan pekerja buku di Indonesia juga. Musyawarah antar-penerbit sudah dilakukan. Beberapa penerbit sudah melakukan inisiatif sendiri sebagai langkah antisipatif. Gramedia, Mizan, dan Ufuk, misalnya, sudah mulai menggarap pasar buku digital. Gramedia meluncurkan aplikasi Gramedia for iPad dan aplikasi pembaca buku digital untuk tablet Samsung Galaxy Tab.

Mizan di bawah lini Mizan New Media mulai menggarap buku-buku digital dengan beberapa terma: Mizan-Google Book Search, Mizan e-Book, dan Mizan Fonovela. Buku-buku Mizan bisa ditemukan di Nokia Ovi Store. Di ranah tablet, bisa diunduh lewat aplikasi gratis Mizan di Apple Store. Untuk perangkat berbasis Android, unduh aplikasi toko buku wayangforce.com. Aplikasi buku untuk pengguna Blackberry siap diluncurkan. Dalam menyelenggarakan layanan konten digital ini, Mizan bekerjasama dengan sejumlah pengembang aplikasi seperti Manggis Mobile untuk aplikasi buku di Nokia dan Blackberry, PhaseDev untuk aplikasi Mizan di Apple Store dan Android Market serta Huawei untuk layanan XL Baca.

Sedang Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing. Ufuk bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu sebuah situs toko buku online, yang membuatkan versi elektronik dari seluruh buku yang telah diterbitkan. Ufuk hanya menerima royalti dari setiap buku yang dibeli dari toko buku online tersebut.

Ya, zaman terus bergulir, teknologi terus melaju. Beberapa tahun ke depan tablet komputer dengan layar sentuh akan menjadi tren seiring penurunan harganya lantaran pihak produsen makin kompetitif. Dan era buku cetak segera beralih ke era buku digital. Namun, kedua jenis buku tersebut tetap memiliki pasarnya masing-masing. Ini soal selera dan kebiasaan. “Jenis buku cetak akan tetap diminati dan buku elektronik pun punya penggemarnya sendiri,” ujar Baqar Bilfaqih,
direktur produksi penerbit Ufuk. Budaya membaca buku versi cetak akan beriringan dengan budaya membaca buku versi digital.

Jadi, buku cetak tetap kelak akan selamat dan diproduksi karena masih ada yang senang membacanya, atau dijadikan barang koleksi (collectible items).Terlepas dari wacana di atas, ada hal yang lebih penting sesungguhnya yang harus dijadikan PR kita bersama, baik pemerintah maupun pekerja buku. Di Inggris sudah melakukan antisipasi jauh ke depan persoalan gurita buku digital ini. Pemerintah Inggris kini menyediakan insentif pajak dan berbagai kemudahan finansial lain untuk mencegah buku-buku karya sastrawan Inggris dibeli oleh museum-museum Amerika Serikat.

Tommy Satryatomo, konsultan konten digital Penerbit Mizan, dalam milis bercerita bahwa selang sehari setelah dirilisnya buku-buku Mizan dalam bentuk digital, dia langsung dikontak oleh perpustakaan Kedubes Australia di Jakarta. Dia dimintai daftar buku-buku digital Mizan. Tentu saja akan dibeli. Dia berpikir jauh ke depan, jangan-jangan kelak kita mesti ke Australia atau Belanda untuk membaca buku cetak berisi karya-karya Taufiq Ismail, Romo Mangun, Radhar Panca Dahana, Helvy Tiana Rosa, Farid Gaban, dan lain-lain sama seperti kita kini mesti ke Leiden untuk membaca manuskrip kuno Indonesia.
Waspadalah, waspadalah!! []

*M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta.

Selasa, 17 Januari 2012

Anomali Hujan

Di Pati. Sudah dua hari ini hujan turun terus menerus tak kenal henti. Mungkin ada dua hari dua malam. Berhenti hanya sejenak, seolah hendak sekadar mengambil napas saja. Setelah itu hujan turun kembali. Baru kali ini aku menemui hujan seperti ini. Sebelumnya tidak pernah. Bayangan banjir menghantuiku. Betapa tidak bayangkan saja apabila hujan turun terus menerus, air sungai meluap, dan banjir kiriman dari gunung datang menerjang. Mengerikan.

Ah, semoga saja tidak terjadi perihal ketakutanku itu. Amin. Meski begitu aku harus siap dengan segala kemungkinan. Toh, apa pun bisa saja terjadi. Dan, aku sebagai hamba-Nya hanya bisa pasrah, tak mampu untuk mengubah sesuatu. Hujan seolah mempunyai dua sisi mata uang: bisa membawa berkah, bisa pula membawa petaka. Tidak sepenuhnya benar pernyataanku itu. Karena hujan sesungguhnya selalu membawa kebaikan, hanya saja manusia yang ditugasi sebagai pengelola dunia tidak amanah dalam menjalankannya.

Ketidakamanahan manusia menjadikan sirkulasi alam raya tidak lancar. Misalnya, penebangan pohon yang semena-mena. Hal itulah kemudian saat datang hujan, banyak wilayah menjadi banjir. Karena air yang melimpah tidak terserap tanaman. Sehingga banjir dan longsor. Jadi, bukan hujannya yang bisa disalahkan, tapi ketidaksiapan bumi sendiri untuk menerima air yang melimpah itu. Jika saja hujan makhluk hidup, mungkin dia tidak rela untuk disalahkan apalagi dikambinghitamkan.

Hujan saat ini seperti sebuah anomali. Satu sisi kita mengharapkan kehadirannya saat kita terkena musim kemarau panjang yang sulit menemukan air, namun sisi lain, saat turun hujan seperti ini, malah kita berharap segera berlalu musim hujan. Karena menyebabkan banjir. Tentu ada yang salah dengan keadaan anomali demikian. Iklim yang tak menentu turut menjadikanya demikian. Pemanasan global juga sangat bertanggung jawab dengan keadaan ini.

Ya, banyak faktor sebetulnya yang menyebabkan anomali. Ketakutan kita lah penyebab kita menjadi takut. Aneh juga, mengapa kita harus takut? Sejak kapan sebetulnya munculnya ketakutan itu yang menyebabkan anomali? Wallahu a'lam. Mungkin saat manusia tidak merasakan manfaatnya apa arti hujan dan apa arti kemarau. Mungkin saat manusia merasakan kala berkah menjadi petaka. Ya, mungkin saja demikian. Tapi, mesti diingat anomali itu—sebagaimana telah disinggung di atas—terjadi karena manusia itu sendiri. Bukan karena yang lainnya. Mari kita merenungkannya.

Pati, senin, 9 januari 2012.