Rabu, 31 Desember 2008

8 Alasan Berbisnis Internet

Di bulan Ramadhan kemarin aku mengikuti sebuah seminar perihal bisnis berbasis internet di toko buku Gramedia. Sungguh menarik. Pembicaranya adalah mas Hengki Ferdianto, sarjana kedokteran UGM yang kini bekerja sebagai asisten dokter di Rumah Sakit Sardjito. Acara tersebut dimulai siang hari hingga menjelang buka puasa.

Mas Hengki bercerita bahwa tentang sebuah analogi pentingnya berbisnis internet saat ini.

Alkisah, ada sebuah desa di Italia mempekerjakan dua pemuda untuk membawa air dari sungai ke sebuah penampungan air di tengah desa. Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno. Keduanya masing-masing membawa 2 buah ember dan segera menuju sungai. Menjelang sore hari, keduanya telah mengisi penampungan air sampai mencapai sisi-sisi permukaannya. Kepala Desa menggaji mereka masing-masing berdasarkan jumlah ember air yang mereka bawa.

Suatu hari punggung Pablo nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet akibat ia membawa 2 buah ember yang berat. Ia tidak lagi nyaman bekerja. Oleh karena itu, ia berpikir keras mencari akal bagaimana caranya membawa air dari sungai ke desanya.

“Bruno, saya punya rencana, daripada kita mondar-mandir membawa ember hanya untuk mendapatkan beberapa penny per hari, mengapa tidak sekalian kita membuat sebuah saluran pipa dari sungai ke desa kita?” ujar Pablo.

“Saluran pipa! Ide apaan itu? kita kan sudah mempunyai pekerjaan yang sangat bagus, Pablo. Saya bisa membawa 100 ember sehari. Dengan upah 1 penny per ember, berarti penghasilan kita bisa 1 dolar per hari! Saya akan menjadi orang kaya!” jawab Bruno.

Walau tidak didukung oleh temannya, Pablo tetap menjalankan idenya sendirian. Ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Ia tetap bekerja mengangkut ember-ember air. Ia meluangkan separuh waktunya serta akhir minggu untuk membangun saluran pipanya. Dari awal, ia sudah menyadari bahwa akan sangat sulit baginya untuk menggali saluran di tanah yang mengandung batu karang. Ia pun menyadari, lantaran upahnya berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun otomatis menurun.

Pablo paham benar bahwa ia membutuhkan waktu 1 tahun atau bahkan 2 tahun, sebelum saluran pipanya bisa menghasilkan seseuatu yang berarti. Namun, ia yakin akan impian dan cita-citanya. Oleh karena itu, ia terus giat bekerja. Bruno dan orang-orang desa mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa”. Bruno yang berpenghasilan hamper 2 kali lipat daripada Pablo terus membangga-banggakan barang baru yang telah berhasil dibelinya. Orang-orang desa menyebutnya “Mr.Bruno”. Mereka selalu menyambutnya kalau dia mentraktir mereka minum di bar dan ikut tertawa-tawa saat ia menceritakan lelucon-leluconnya.

Sementara Bruno berbaring santai di jaring gantungan pada sore hari di akhir minggu, Pablo terus menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan pertamanya, Pablo memang tidak bisa menunjukkan hasil usahanya. Pekerjaannya memang sangat berat, bahkan lebih berat daripada pekerjaan Bruno karena Pablo pun harus bekerja pada malam hari, demikian pula di akhir minggu.

Hari berganti bulan. Pada suatu hari, Pablo menyadari bahwa saluran pipanya sudah setengah jadi. Berarti dia hanya perlu berjalan setengahnya dari jarak yang biasa ditempuh untuk mengisi ember-embernya. Kemudian, ia menggunakan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian sluran pipanya pun semakin mendekat.

Saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus mengangkut ember-ember. Bahu Bruno tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia menyeringai kesakitan, langkahnya semakin lamban akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena ia menyadari bahwa ia “ditakdirkan” untuk terus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.

Akhirnya, saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran pipanya sudah rampung. Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desanya. Sekarang, desa sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan orang-orang yang semula tinggal di sekeliling desa sengaja pindah ke sana. Desa itu pun kemudian terus tumbuh dan semakin makmur. Setelah saluran pipa selesai, Pablo sudah tidak perlu membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik saat ia sedang bekerja maupun tidak. Air mengalir di akhir minggu ketika ia asyik bermain.

Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo. Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan “si manusia pipa”, sekarang menjadi lebih lebih terkenal dengan sebutan “si manusia ajaib”. Saat itu ia berencanan membangun saluran pipa di seluruh dunia.

Itulah analogi yang jitu akan dahsyatnya internet. Sarana internet merupakan terobosan dalam bidang tekonologi dan bisnis.

Selain analogi di atas, ada delapan alasan yang perlu anda ketahui letak pentingnya berbisnis internet:

Pertama, peningkatan pemakai dan pelanggan internet yang signifikan
Kedua, bisnis berbasis internet tidak dibatasi oleh ruang dan wilayah
Ketiga, modal yang diperlukan kecil
Keempat, bisnis berbasis internet bisa berlangsung 24 jam
Kelima, bisnis internet bisa berjalan secara otomatis
Keenam, tidak membutuhkan ruang kantor, tetapi jika memerlukan, kantor pun tidak harus luas
Ketujuh, anda bisa menjadi bos bagi diri sendiri
Kedelapan, bisnis internet tidak dipengaruhi oleh cuaca, kemacetan lalu lintas, dan hambatan lainnya.

Dalam bukunya dipaparkan secara gamblang kedelapan poin di atas. Buku ini juga dilengkapi dengan bagaimana cara mempromosikan website bisnis kita, mulai dari email hingga mempromosikan di google adWords. Selain itu, buku ini pun memberikan fakta para pebisnis internet yang beberapa di antaranya sudah tidak asing lagi di telinga kita, seperti Jerry Yang dan David Filo pemilik Yahoo, dan Jeff Bezos pendiri www.amazon.com.

Minggu, 28 Desember 2008

Kalah Terhormat

Akhirnya muncul juga kabar itu, setelah sehari semalam aku menunggunya, dengan jantung dag-dig-dug. Tapi apa lacur, kabar itu nampaknya tidak terdengar syahdu di telingaku.

Tak apalah, mungkin ini sudah menjadi suratan takdirku. Tak ada cara lain, selain menerima kenyataan itu dengan sabar dan pasrah. Dan harus diakui dia memang lebih baik dariku.

Ku terima kekalahan ini dengan gentle, karenanya kekalahanku adalah kekalahan terhormat. Lantaran usahaku lumayan maksimal.

Apakah kekalahan harus dihadirkan dengan tangisan dan ratapan?
Apakah ada episode selanjutnya yang ternyata lebih indah ketimbang jika aku meraih impianku yang tak sampai ini?

Renungi sebuah kekalahan dengan keridhaan.

Betul kata orang bijak bahwa kekalahan hanyalah kerikil kecil yang membuat kakiku harus lebih hati-hati lagi.
* * *
Beberapa teman mencoba menghiburku dengan tulus (kuucapkan terima kasih pada mereka semua):

“Sabar ya semoga Allah memberikan yang terbaik buat kang Iqbal, amin…”

“Tetap sabar kawanku! Sudah disiapkan-Nya jalan yang lain untukmu”

“Sabar usiamu masih muda. Masih banyak waktu berjuang.”

“Ya paling tidak pengalaman. Semoga kesempatan lain ya”

Kalau yang ini dari Abahku di kampung:

“Tidak lulus bukan segalanya. Masih banyak bidang-bidang yang lain yang harus digarap dan ini juga bagian dari ujian hidup yang menjadi motivasi dalam menghadapi hidup. Sabar … sabar… dan sabar… tawakal pada Allah dan lebih dekat lagi. Abah selalu mendoakan. Amin..”

* * *
So, siapa berikutnya yang mau menghiburku?




Dia Yang Berada Di Balik Kesuksesan Para Ulama Muslim

Refleksi Hari Ibu
Persembahan bagi para ibu (khususnya ibuku)
- - - - - - - - - - - - - -


Tak perlu kita mencari jawaban mengapa kita harus menghormati orangtua. Selain naluri sebagai anak, Islam pun sudah mengatur hal ini, bahwa kita—sebagai anak—harus menghormati orangtua. Lihat, misalnya, dalam Alquran surat 17 ayat 23. Dan dalam Hadis pun kurang lebih sama, bahkan lebih tegas lagi. Misalnya Hadis di bawah ini:

“Berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu, sebab hanya dengan begitulah anak-anakmu nanti akan berbuat baik kepadamu, dan jagalah kesucian dirimu, sebab hanya dengan begitulah istrimu akan terjaga kesuciannya.” (HR. Bukhari) .

Dalam Hadis lain kita diperintahkan oleh Nabi untuk menghormati ibu kita agak dominan. Mengingat jasa ibu yang begitu besar bagi perkembangan kita, sebagai anak. Paling tidak ada dua Hadis yang memperlihatkan dan memperkuat hal tersebut. Pertama, Hadis yang sudah sering kita dengar, “Surga berada di telapak kaki ibu” (HR. Bukhari).

Kedua, Hadis yang bunyinya, “Ada seorang pemuda mendatangi Nabi dan bertanya, ‘Siapa yang paling pantas kucintai dan kuhormati?” Nabi menjawab, “Ibumu!”, “dan yang kedua?” “Ibumu!”, “dan yang ketiga?” Nabi menjawab, “Ibumu!”, “terus siapa lagi?”, “(Baru) ayahmu!” (HR. Bukhari).

Begitulah Islam menghormati kaum perempuan (baca:Ibu) karena peranannya begitu besar dalam kehidupan, terutama kehidupan seorang anak. Jalaluddin Rumi berkomentar tentang seorang ibu dalam Matsnawi, “(Karena) kelembutan ibu berasal dari dari Tuhan, merupakan kewajiban suci dan tugas mulia bagi kita untuk berbakti kepadanya.”

Tak heran sesungguhnya jika kita menyadari bahwa kita dibesarkan oleh ibu kita, karena sedari kecil kita lebih interaktif dengan ibu dibanding ayah. Kita dirawat dan dijaga dengan baik oleh sang ibu. Maka secara tidak langsung watak kita akan terpengaruh oleh ibu. Kelembutan hatinya mampu mencurahkan kasih sayang kepada kita.

Dalam sejarah juga diceritakan bagaimana para tokoh besar dalam Islam berkat asuhan sang ibu. Bukhari adalah salah satu contohnya. Hampir semua kaum muslim pernah mendengar namanya. Melalui karyanya Shahih al-Bukhari ia dikenal baik, karena karyanya dianggap compatible di bawah Alquran. Dan kita semua berhutang budi padanya karena kita jadi tahu Hadis-Hadis shahih. Bukhari menjadi sukses tidak lepas dari “campur tangan” ibunya. Karena ibunya lah ia berbudi baik, dan berpendidikan tinggi. Konon, kekayaan ibunya dicurahkan untuk Bukhari dalam membiayai mencari ilmunya. Sungguh, pengorbanan ibu yang sangat luar biasa. Imam Syafi’i, kurang lebih hampir sama dengan Bukhari yang mempunyai ibu luar biasa.

Annemarie Schimmel menulis begitu dalam mengenai hal peranan perempuan, terutama dalam bidang tasawuf. Melalui bukunya Jiwaku Adalah Wanita dia mengatakan bahwa para ibu memainkan peranan menentukan dalam biografi orang-orang suci Chisyti dari India utara. Betapa para ibu orang-orang suci begitu dihormati di sana. Di Mehrauli, misalnya, para pengunjung perempuan ke pusara Quthbuddin Bakhtiyar Kaki (w. 1235) untuk meletakkan karangan bunga di atas kuburan ibunya dan anggota-anggota keluarganya yang perempuan. Hal sama juga pada kuburan Burhanudin Gharab (w. 1338) di Khuldabad di Dekan atau pusara ibu Maulana Rumi di Karaman (Anatolia).

Masih di India, Fariduddin Ganj–i Syakar, sufi tersohor pada masanya, sebenarnya turunan dari seorang ibu yang saleh. Fariduddin mengaku bahwa seluruh keberhasilannya adalah berkat ibunya, yang diyakini memiliki mukjizat dapat membutakan seorang pencuri yang memasuki rumahnya. Setelah si pencuri bertobat atas perbuatannya yang salah, ibunya mengembalikan penglihatan si pencuri tersebut dan orang itu pun masuk Islam.

Dalam tulisan ini saya ingin menutup dengan ulasan mengenai puisi yang menceritakan seorang ibu. Puisi-puisi yang ditulis para penyair Islam begitu dalam maknanya. Di dalamnya telah diekspresikan rasa terima kasih dan kecintaan kaum muslim kepada ibu-ibu mereka. Muhammad iqbal, misalnya, seorang filsuf dan penyair India menulis puisi tentang ibunya:
Siapakah itu, yang menungguku di rumah, berdoa untukku,
Dan merasa khawatir ketika surat-surat datang terlambat?
Pada pusaramu akan kutulis pertanyaan ini:
Siapa yang ingat kepadaku dalam salat malamnya?


Hal senada juga ditulis oleh Jalaludin Rumi dalam Matsnawi-nya mengenai sang ibu:
Kemarahan para nabi itu seperti kemarahan para ibu,
Kemarahan yang dipenuhi kasih sayang bagi anaknya tercinta
Sebab tidak ada ibu yang memarahi anaknya hanya untuk mendapatkan kesenangan,
Melainkan untuk membantunya mengerti.
Akankah dia membiarkan anaknya berlumuran darah jika dia tidak tahu
Bahwa sedikit rasa sakit dapat mendatangkan kebaikan pada anak itu?
* * *

Untuk para ibu, selamat berhari raya.
Ibuku yang ada di kampung, semoga selalu berada dalam lindungan-Nya. Maafkan anakmu ini, yang masih saja merepotkanmu, alih-alih membahagiakanmu.

Kamis, 25 Desember 2008

SELAMAT NATAL

BAGI KAWAN-KAWANKU YANG BERAGAMA NASRANI
KU UCAPKAN.....

SELAMAT NATAL

SEMOGA ALLAH MEMBERKAHI KITA SEMUA
AMIN...





Rabu, 03 Desember 2008

Misteri Sebuah Nama


Senin, 8 Desember 2008 bertepatan dengan 10 Zulhijah 1429 H umat Islam akan melaksanakan Hari Raya Idul Adha. Hari raya ini disebut juga Hari Raya Kurban. Karena pada hari itu diadakan kurban yang berupa penyembelihan binatang ternak: Unta, kerbau, sapi, domba atau kambing.

Terkait dengan kurban, adalah sebuah ayat Alquran menjadi asal-muasal adanya perintah berkurban tersebut, yaitu dalam surat As-Saffat (37) dari ayat 102 sampai 107.

Ayat itu menceritakan bahwa Ibrahim bermimpi dirinya diperintah Allah untuk menyembelih anaknya. Dan anaknya pun pasrah.

Namun saat hendak disembelih Allah pun menggantinya dengan kambing sambil menjelaskan bahwa itu adalah hanyalah ujian bagi Ibrahim. Nah, dalam ayat-ayat tersebut tidak disebut secara pasti putra Ibrahim yang mana yang hendak disembelih tersebut? Apakah Ismail atau Ishak? Pertanyaan lebih lanjut, ada rahasia apa di balik tidak disebutkannya di antara dua nama tersebut?

Dua Pandangan Ulama
Dalam lintasan sejarah ada dua kubu ulama berbeda pandangan tentang siapa yang hendak disembelih di antara kedua putra Ibrahim itu. Wajar sebetulnya kedua pandangan itu muncul, karena imbas dari pada hal di atas. Sebagian ada yang menyebut Ismail, anak Ibrahim dari hasil perkawinannya dengan Hajar, isteri kedua. Dan ada pula yang menyatakan Ishak, anak Ibrahim dari hasil perkawinannya dengan Sarah, isteri pertama.
Rentang usia Ismail dan Ishak sendiri sebetulnya begitu berjauhan. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Qur`an al-Karim (Juz IV hlm.16) menjelaskan bahwa Ismail lahir saat Ibrahim berumur 86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahim berumur 99 tahun.

Kelompok pertama menyatakan bahwa Ismail lah yang hendak disembelih waktu itu. Hal ini berdasarkan data historis yang menjelaskan bahwa penyembelihan tersebut berlangsung di Mekah. Oleh karena tempatnya di Mekah, maka hampir dipastikan bahwa Ismail lah yang dimaksud anak tersebut, karena Ishak sepanjang hidupnya tidak pernah sampai ke sana. Selain data itu, tanduk hewan kurban, pengganti Ismail, digantung di Ka’bah. Pendapat ini dikemukakan oleh sejumlah sahabat Nabi dan tabi’in: Abu Hurairah, Abu Thufail, Amir bin Watsilah, Sa’id ibn al-Musayyab, Yusuf bin Mihran, Rabi’ bin Anas, dan Muhammad ibn Ka’b al-Quradhiy.

Kelompok kedua menyatakan bahwa Ishak lah orangnya. Mereka berdasarkan pada
Hadis Nabi SAW dan data historis juga. Tanduk domba yang digantung di Ka’bah itu, kata mereka, dibawa Ibrahim dari negeri Kan’an, tempat tinggal Ishak. Pendapat ini diikuti oleh Abdullah ibn Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khaththab, Jabir, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Alqamah, Sya’biy, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ka’ab al-Ahbar, Qatadah, Masruq, Ikrimah, Qasim bin Abi Bazzah, Atha`, Abdurrahman bin Sabith, al-Zuhry, al-Sadiy, Abdullah bin Abi al-Hudzail, dan Malik bin Anas. Untuk lebih rincinya silakan lihat kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Jilid VIII, halaman 87 karangan Al-Qurthubiy.

Senada dengan pandangan kedua, Perjanjian Lama juga menyebutkan bahwa bahwa Ishak lah yang akan dikurbankan, bukan Ismail. Bunyi pernyataannya yaitu, “Tuhan berfirman kepada Ibrahim, ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu’” (Kejadian, 22: 2).

Fenomena kedua pandangan yang berbeda di atas mempunyai satu kesamaan landasan argumentasi, yaitu sama-sama menyandarkan data-data sejarah, yang notabene-nya sangat sulit untuk dibuktikan secara empiris. Walhasil, kedua pandangan di atas sangat sulit kita terima dengan akal sehat. Harus diakui bahwa tidaklah mudah kita buktikan kebenaran kisah-kisah dalam Alquran. Semuanya bersifat spekulatif dan membingungkan masyarakat awam.

Oleh karena itu, amatlah rentan sebenarnya jika Alquran didekati dengan pendekatan kritik sejarah, karena mengharuskan peristiwa-peristiwa itu tersusun secara kronologis, padahal sebagaimana dikemukakan Kenneth Cragg (1971), “It is not arranged in chrological order”. Dan tampaknya akan lebih bijaksana jika penggunaan kisah-kisah Alquran itu dijadikan sebagai moral sejarah, yang dapat kita ambil pelajarannya.

Pertanyaan Alternatif
Sebenarnya ada sebuah pertanyaan alternatif yang lebih bermanfaat nan bijak dibanding pertanyaan ‘Ismail atau Ishak yang hendak dikurbankan Ibrahim?’, yaitu ‘mengapa Tuhan menyembunyikan sebuah nama yang hendak dikurbankan Ibrahim?’ Saya percaya bukan tanpa maksud Tuhan tidak menyebutkan dengan jelas siapa yang hendak dikurbankan Ibrahim tersebut.

Hemat saya, bahwa esensi kisah kurban ini adalah uji ketaatan bagi Ibrahim untuk merelakan sesuatu yang paling dicintainya. Apakah dirinya rela mengorbankan sesuatu yang dicintainya (baca: anaknya) demi Tuhan? Tidak soal siapa—Ismail atau pun Ishak—yang dikorbankan tersebut, karena pada akhirnya yang dijadikan kurban adalah domba oleh Tuhan.

Dalam sebuah kisah paling tidak terdapat tiga unsur: Tokoh, peristiwa, dan dialog. Ketiga unsur ini terdapat pada hampir seluruh kisah dalam Alquran. Hanya saja tampilan ketiga unsur itu tidak sama, terkadang salah satunya tampil secara menonjol, sedangkan kedua unsur lainnya hanya sedikit, bahkan menghilang. Maksud Tuhan menyuguhkan kisah dengan model itu tak lain adalah agar pembaca dapat fokus pada salah satu unsur tersebut, sehingga pengambilan pelajaran bisa efektif. Nah, dalam kisah Ibrahim ini, yang ditonjolkan adalah (tokoh) Ibrahim yang sedang diuji ketaatannya. Dengan begitu, pembaca dapat memfokuskan diri pada tokoh tersebut dan mengambil pelajarannya.

Kiranya dapatlah kita ambil pelajaran dari peristiwa kurban ini, bahwa kecintaan Ibrahim kepada Tuhan melebihi segalanya. Kecintaan tersebut justru menumbuhkan nilai humanis dalam diri Ibrahim. Ia adalah seorang ayah yang egaliter yang meminta pendapat anaknya saat hendak melakukan sesuatu. Walhasil, kedua anaknya pun (Ismail dan Ishak) menjadi anak yang taat pada Tuhan dan orang tua. Pelajaran lainnya yang tak kalah penting yaitu bahwa Tuhan tidak pernah membenarkan pembunuhan manusia sebagai jalan beriman. Itulah kemudian Tuhan menggantikan Ismail/Ishak dengan binatang sembelihan saat hendak dikurbankan.