Selasa, 02 September 2008

Sang Suami


Wanita itu berjalan dengan tergopoh-gopoh, sendirian. Ia tengah mengejar angkot terakhir pada pukul delapan malam.

“Kali ini aku tak boleh gagal mengejarnya, aku malu, selalu menumpang pada Dawam” ujar ia sambil berjalan dengan sangat cepat sekali.

Ia adalah seorang istri yang bekerja di sebuah perusahaan sepatu, yang jarak rumah dengan tempatnya bekerja lumayan jauh sekali. Dan parahnya lagi ia ditempatkan bekerja pada waktu sore hingga malam hari, karena shift untuk pagi hingga siang hari sudah penuh. Apa boleh buat, dia sangat membutuhkan biaya untuk kehidupan keluarganya.

Ia terus berjalan tak kenal lelah menuju halte yang jarak dari tempatnya bekerja sedikit jauh kalau jalan kaki. Mestinya ada ojek di tempat ini, tapi mungkin karena jalannya sepi ojek pun enggan mangkal di situ, mungkin akan terus rugi.

“Ah, masih setengah perjalanan lagi jaraknya” keluh ia sambil terus berjalan di tengah kegelapan. Sambil berjalan perempuan itu melamun. Seandainya Shiva, suaminya selalu mengantar dan menjemputnya tentu ia takkan kesepian berjalan sendirian di malam yang gelap begini. Ia akan menikmati boncengan suaminya itu. Tapi, entah mengapa ia tak mau menjemputnya, padahal ia sangat ketakutan berjalan sendirian menuju halte ini, karena gelap, dan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Suaminya memang tak tahu perasaannya, atau mungkin ada persoalan lain, yang menjadikan alasannya mengapa ia tak mengantar atau pun menjemputnya.

Tiba-tiba ada motor menghampirinya. Dan ketika pengendara motor itu membuka helmnya, dia menjadi gugup dan grogi. Tak salah lagi, pikirnya, pengendara itu adalah Dawam, yang selalu saja memberikan tumpangannya pada perempuan itu.

“Terima kasih, kali ini saya mau jalan saja, sebentar lagi sampai kok di halte” tolak perempuan itu.

“Kamu enggak kelelahan? Ayolah!”

Tapi perempuan itu tetap menolaknya dengan sopan. Laki-laki itu tak ingin memaksakan kehendaknya.

“Ya sudah aku tak mau memaksa. Hati-hati ya. Aku mencemaskanmu kalau kamu sendirian” ujar ia.

Lelaki itu pun menancap gas motornya lagi, lama kelamaan hilang dalam pandangan perempuan itu. Tentu bukan suatu kebetulan lelaki itu menemukan perempuan itu berjalan sendirian. Tempat mereka bekerja memang saling berdekatan, dan kebetulan mereka masih sekampung, dan kebetulannya lagi lelaki itu adalah mantan kekasihnya, dulu sewaktu mereka masih kuliah di Jogjakarta. Maka tak heran kalau perempuan tersebut sering gugup ketika menerima tawaran untuk memberi tumpangan padanya. Karena dia bukanlah yang dulu lagi, dia sudah menjadi istri Shiva.

Seandainya lelaki itu adalah Shiva tentu dia tak menunggu untuk tawarannya, bahkan ia akan meminta padanya. Tapi mengapa yang sering memberikan tumpangan itu Dawam? Mengapa Dawam selalu datang saat waktu yang tepat? Mengapa tidak Shiva, suaminya yang datang menjemput?
● ● ●

Shiva masih menunggu giliran membuka kartunya.

“Ayo cepatlah kau, Made. Lama sekali kau berpikir, paling-paling angkamu kecil” ujar Shiva sebel menunggu Made membuka kartunya.

Ia sudah merasa yakin kalau kali ini dialah yang mendapat giliran menang. Angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kedua temannya itu. Dan benar saja ketika kartu Made dibuka ternyata lebih kecil darinya. Shiva girang bukan main. Dia meraup dan merapikan uang ribuan yang lecek itu. Dia menghitung-hitungnya, lalu kemudian memasukkannya pada dompet. Dompet itupun menjadi tebal diisi oleh uang ribuan.

“Wah, hari ini kamu sangat mujur sekali. Uang kami dikuras habis olehmu sendiri. Tapi ngomong-ngomong mau dipakai apa uang itu heh?” tanya Kholik dengan nada menggoda.

“Aku ingin perbaiki motorku” jawab ia dengan singkat.

“Baguslah. Kasihan kan istrimu berangkat kerja tak diantar, apalagi dijemput. Apa kamu tak cemburu istrimu sering diantar pulang oleh si Dawam, ketika kamu enggak pernah menjemputnya? Jemputlah! Walau enggak ada motor juga. Masalahnya dia kan pulangnya malam terus, dan wajarlah kalau si Dawam sering mengantar pulang karena kalau ada apa-apa di jalan, bagaimana?” Ujar Made sambil menghisap Gudang Garamnya.

Tiba-tiba darah Shiva mendidih, panas. Cemburunya memuncak. Ucapan kedua temannya itu membuat panas dadanya. Sumpah serapah lalu keluar dari mulutnya. Caci maki pada Dawam terus memenuhi mulutnya hingga berbusa-busa. Dan memutuskan untuk pulang dengan cepat. Biasanya ia pulang tengah malam, saat istrinya tengah tidur nyenyak. Namun kali ini ia pulang sekitar pukul sepuluhan, gara-gara temannya memanas-manasi. Istri sialan, ujar ia dalam hati, ternyata ia berbuat serong dengan mantan pacarnya itu. Apa dia ingin kembali lagi pada si Dawam, yang sudah bekerja di perusahaan dekat tempat bekerja istrinya. Ternyata mereka main serong di belakangnya. Pikiran-pikiran itu terus mengalir, anggapan yang belum pasti tersebut seolah menjelma dalam pikirannya, seolah mereka benar-benar melakukan serong. Begitulah kalau pikiran sedang kalang kabut. Angan-angan menjelma dalam otaknya, mempengaruhi hatinya. Emosi negatif muncul.
● ● ●

Sesampai di halaman rumahnya dia terperangah.

“Ada apa di rumahku? Apa yang terjadi? “ ia bertanya-tanya dalam hati.
Suara hiruk pikuk orang-orang di dalam rumah membuat ia semakin penasaran. Ia masuk dengan langkah sedikit mengintai. Semua orang menatapnya tatkala ia membuka pintu. Semua mata sedang menuju ke arahnya. Mereka semua adalah tetangganya.

“Mas Shiva kemana saja? Kasihan tuh istrinya Mas!” ujar Ani, tetangga sebelah yang sering main ke rumahnya, teman akrab istrinya.
Dia tak menjawab.

“Ada apa dengan istriku?” tanya ia dengan sedikit kencang.

Wajahnya sangat tegang sekali. Ia langsung masuk kamar, ingin tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Orang-orang terus memperhatikannya, ada yang menggeleng-geleng kepala, mencibir, dan berbisik. Ia tak peduli, ia terus masuk ke ruang tengah lalu menuju kamarnya, tempat di mana istrinya berada.

Di kamar itu terdapat mertuanya sedang menunggu istrinya pingsan. Selain mertuanya ada lelaki itu, Dawam. Wajahnya merah seketika saat melihat Dawam. Darahnya mendidih saat laki-laki itu mengajak bersalaman dengannya. Terasa kontras sekali wajah Dawam dengan wajahnya. Wajah Dawam terlihat kalem memancarkan kedamaian.

“Shiv, darimana saja? Kasihan ini istrimu. Seandainya enggak ada Nak Dawam apa jadinya istrimu ini. Sewaktu pulang kerja saat menuju halte ia dicegat oleh dua orang bersenjata hendak merampas tasnya. Tapi untunglah nyawanya selamat karena ada Nak Dawam menolongnya.”

Shiva hanya menundukkan kepalanya. Hatinya hampa terasa. Kepalanya ingin pecah.

Wisma Tape, Mei 2005

Laki-Laki yang Menyukai Bunga


Seminggu sudah aku tinggal di sini. Kota kecil yang sejuk dan jauh dari kebisingan. Tetangga-tetanggaku semuanya ramah, jauh berbeda dengan orang-orang di kota-kota besar seperti Jakarta yang selalu mementingkan diri sendiri, cuek dan jauh dari kesan bersahabat.

Selama seminggu ini, aku berusaha untuk menjalin keakraban dengan tetangga-tetangga baruku dengan bertandang ke rumah mereka. Aku pun sudah bisa merasakan adanya ikatan kekeluargaan terbangun dari silaturrahim yang aku lakukan.

"Mampir sini dulu, dik." Sapa pak Ipung, tetangga samping rumahku. Dia melambaikan tangan ke arahku sementara tangannya yang lain menyiram bunga di pekarangannya.

"Aduh maaf, Saya lagi buru-buru, pak. Saya harus mengembalikan belanjaan saya dulu." Jawabku sambil menunjukkan tas plastik yang kupegang.

"Oh begitu. Tapi kamu bisa ke sini lagi. Kita ngobrol-ngobrol di sini sambil menikmati udara sore hari." Aku hanya mengangguk dan berlalu dari sana.

Aku melewati pekarangan rumah itu. Aneka bunga tumbuh dengan subur, menambah suasana semakin asri. Pak Ipung ternyata sangat pandai menata dan merawat bunga-bunga itu, bahkan sampai urusan rumput pun sangat diperhatikan olehnya. Hanya saja aku masih heran. Sejak pertama aku ke sini, aku hanya melihat bapak setengah umur itu hanya sendirian menempati rumah yang indah dan asri ini.

"Kok, masih bengong di situ, dik. Ayo kemari!" tegur pak Ipung yang membuat lamunanku buyar. Aku pun menghampirinya.

"Aku tadi kagum atas penataan pekarangan rumah bapak ini. Sangat bagus." Ujarku memuji.

"Adik ini terlalu melebih-lebihkan. Bapak hanya suka bertanam bunga dan tidak terlalu perduli dengan penataannya," katanya merendah. Ia kemudian bangkit masuk dan keluar membawa dua cangkir kopi hangat dengan snack. Keherananku pun semakin bertambah. Benarkah ia hidup hanya sendiri?

"Sekedarnya, dik. Maklum self service." Ujarnya sekaligus menjawab satu keherananku.

"Memangnya nyonya rumah ke mana, pak?" selidikku. Aku melihat perubahan mendadak di raut mukanya. Mata yang tadi memancarkan keceriaan berubah menjadi nanar. Aura kemarahan.

"Maafkan saya. Mungkin pertanyaan saya tadi membuat….." Aku tidak melanjutkan kata-kataku. Aku menjadi kikuk sendiri. Kami pun terdiam. Lama. Beberapa kali bapak setengah baya di depanku itu menghirup nafas sebelum kemudian menjawab pertanyaanku.

"Tidak apa-apa. Saya memang terkadang lepas kontrol bila ditanya soal tadi." Lalu ia mempersilhkan aku mencicipi hidangan kecil kami. Suasana pun mulai agak mencair.

"Maaf ya. Saya telah membuat obrolan kita jadi agak kaku," katanya sambil menghembuskan asap rokok yang tadi dibakarnya. "Bukannya aku tidak mau ditanya soal yang satu ini. Hanya saja, setiap ada yang menanyakan hal itu, aku langsung teringat pada perempuan jalang yang telah menyakiti hatiku."

"Oh! Eh, bunga mawar di samping pohon palem itu bagus sekali. Bapak dapat benihnya dari mana?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan, karena tak ingin dia semakin larut dalam kenangan menyakitkannya.

Rupanya pak Ipung langsung mengerti dengan sleboranku. Orang tua itu pun menjelaskan padaku tentang semua bunga-bunga yang ada di pekarangannya itu. Selain pandai menata bunga, ternyata juga dia sangat memahami semua yang ada sangkut pautnya dengan bunga-bungaan. Layaknya seorang ahli tanaman, beliau pun dengan panjang lebar menerangkan tentang cara menanam dan memelihara bunga, mulai dari memilih bibit yang baik sampai kondisi tanah yang cocok untuk ditanami bunga
Aku hanya mendengarkan penjelasannya meski tidak semua aku fahami. Hanya sesekali aku menyelanya dengan pertanyaan bila ada yang kurang jelas. Pak Ipung sangat senang karena aku memiliki perhatian pada tanaman bunganya.

"Aku dulu sebenarnya tidak tertarik dengan hal-hal semacam ini. Kalau pun sekarang aku menyukainya, itu hanya berawal dari perasaan gagal membina rumah tanggaku. "

"Maksudnya?"

"Aku mulai menanam bunga setelah perempuan jalang yang pernah menemaniku membina keluarga itu pergi meninggalkan aku. Pergi dengan sopir pribadi karena mengetahui kalau aku sudah mencurigai perselingkuhan mereka. Bahkan, dia lari membawa sebagian hartaku dan buah hati kami. Sejak itu aku sangat mengutuknya dan berharap ia mati dalam keadaan yang sangat terhina."

Untuk beberapa saat pak Ipung terdiam. Sesekali tangannya memegang sekuntum mawar putih, mencium dan menghirup aroma wanginya. Ia menghirup aroma bunga itu dalam-dalam, setelah itu hembuskan pelan-pelan seolah ingin mengeluarkan semua beban yang menghimpit batin bersama hembusan nafasnya.

"Bapak tidak ingin mencari pendamping yang baru? Saya rasa untuk laki-laki seukuran bapak, masih banyak kok gadis yang bersedia," aku mencoba berhumor.

"Wanita jalang itu tidak hanya membuat aku membenci dan mengutuknya. Dia juga meninggalkan perasaan traumatik padaku. Masih beruntung aku tidak sampai fobia terhadap wanita. Aku takut mendekati perempuan, apalagi sampai menikah lagi." Kami kembali duduk-duduk di teras rumahnya. Pak Ipung tampak sangat menyesalkan kejadian yang menimpanya beberapa waktu yang lalu itu.

"Aku tidak bisa membayangkan diriku tidur dengan wanita yang mengobral tubuhnya hanya karena seks yang tak terpuaskan. Memang, bukan berarti semua wanita sama. Aku tahu, ini hanya perasaanku saja."

"Terkadang, karena sikapku yang menjaga jarak dengan wanita, aku merasa kesepian juga. Tapi rasa sepi yang menyerangku akan lenyap sendiri bila aku teringat pada peristiwa itu dan aku berusaha menyibukkan diri dengan menanam bunga. Bunga-bunga yang aku tanam lebih bisa menenangkan aku, memberi rasa damai dalam hidupku. Aku merasa mereka lebih memahami aku daripada orang-orang di sampingku. Dan karenanya aku menyukai dan menyintai mereka."

Perlahan pak Ipung mendekati mawar putih. Kelopak bunga ia sentuh dengan lembut, menciumnya, kemudian tersenyum.

Penangkap Tokek


“Kali ini kita tidak dapat lagi, Di. Bagaimana nih?” Ujar Dede kepada temannya, Adi, saat di perjalanan pulang dari hutan.
“Mau bagaimana lagi. Kita sudah berusaha. Sabar saja, masih ada hari esok.” Sahut Adi.
Sudah tiga hari ini mereka belum juga mendapatkannya. Tak satu pun didapatkannya. Tak seperti biasanya. Mereka adalah para penangkap tokek. Ya, betul, penangkap tokek.

Boleh dibilang menangkap tokek sebagai profesi mereka. Bayangkan saja, mereka berangkat dari pagi hari dan pulang tengah malam. Hal ini sudah dijalaninya 5 bulan yang lalu. Tepatnya setelah mereka bersama puluhan lainnya di PHK dari perusahaan tempat mereka bekerja. Namun, bulan ini mereka sangat sulit mendapatkan tokek, padahal mereka sudah sangat jauh mencarinya, sampai ke hutan.

Sebenarnya menangkap tokek bukanlah kehendak mereka. Mereka ingin bekerja lainnya sebagaimana umumnya manusia. Namun pekerjaan-pekerjaan yang pantas itu malah tidak mereka dapatkan juga. Mereka hanya lulusan SMP, tentu saja lamaran-lamaran mereka ke berbagai perusahaan akan ditolak. Akhirnya pada suatu hari saat mereka nonton bola di rumah Dede, mereka kedatangan orang cina yang menawarkan pekerjaan untuk menangkap tokek. Tokek bagi orang cina itu dianggap mempunyai khasiat yang sangat ampuh, apalagi tokek berwarna putih. Katanya tokek itu bisa menyembuhkan penyakit kencing manis dan darah tinggi.

Satu ekor tokek akan dihargai sepuluh ribu, katanya. Itu tokek biasa. Sedang tokek putih akan dihargai dua kali lipat dari harga tokek biasa. Dede dan Adi sebetulnya gengsi untuk menerima tawaran mencari tokek. Apa kata orang-orang nanti. Mungkin mereka akan dicap orang aneh. Tapi apa boleh buat. Mereka belum punya pekerjaan. Dan mereka butuh duit untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing, dan tentu saja juga untuk membayar hutang ke tetangga yang kian menumpuk itu. Jadi, biarlah apa kata orang, yang penting mereka mendapatkan uang dengan cara yang halal.

Satu tokek sepuluh ribu. Itu tokek biasa. Belum nanti kalau tokek putih. Wow, lumayan nih, pikir mereka. Mereka sudah membayangkan peruntungannnya. Bukan tanpa sebab mereka berpikir begitu, karena di kampung, baik di rumah-rumah maupun di kebun-kebun tokek amat sering ditemui. Dan yang membuat mereka senyum lagi adalah mereka berdua tidak mempunyai saingan. Jadi, mereka sangat leluasa untuk mendapatkan tokek tanpa harus bersaing dengan orang lain. “Bisa dapat untung besar nih,” ujar Dede. Mereka pun menerima tawaran itu.

Baru satu minggu saja mereka sudah bisa membayar hutang mereka. Itu semua berkat tokek. Tentu saja tokek yang mereka tangkap lalu dijual pada orang cina tersebut. Sehari mereka bisa mendapatkan antara 50 sampai 100 ekor tokek. Tokek-tokek yang mereka tangkap itu baru yang ada di desa mereka baik di rumah-rumah warga maupun di kebun-kebun. Belum yang ada di tetangga-tetangga desa, baik rumah-rumah maupun kebun-kebun milik warga.
Ketika satu bulan berlalu, mereka mulai kesulitan mencari tokek di desanya sendiri. Mereka pun mulai mencari ke tetangga desa. Untungnya saja mereka tak dipersulit oleh para warga. Sehingga mereka tetap lancar mencari tokek-tokek tersebut. Selang satu bulan menjadi penangkap tokek, kehidupan mereka sangat mencukupi. Bahkan Dede berani membeli motor dengan cara kredit. Sedang Adi membeli beberapa peralatan elektronik seperti kulkas, magic jar, oven bolu, dan lain-lain. Semua itu dibayar dengan cara kredit juga. Mereka berani melakukan itu karena mereka pikir bahwa profesi ini masih sangat menjanjikan dan memberi keuntungan besar.

Di bulan ketiga mereka harus melebarkan pencariannya lagi. Soalnya di tetangga-tetangga desa sudah habis tokeknya. Mereka harus agak jauh mencarinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari ke hutan-hutan yang masih lebat. Namun sudah hampir lima jam mencari, mereka tidak menemukan satu pun juga. Yang mereka lihat hanyalah binatang-binatang lain.
Hari sudah gelap. Suara-suara burung bersahutan. Mereka berdua memutuskan untuk pulang. Hari ini mereka cuma dapat tiga ekor.
“Nampaknya tokek semakin sulit kita dapatkan, Di” ujar Dede dalam perjalanan pulang.
“Iya. Besok kita harus lebih pagi dan jauh lagi.” Sahut Adi.
Mereka datang ke rumah masing-masing tengah malam.
* *
“Di, coba kamu lihat di ujung dahan sana, ada banyak tokek sedang mengerumuni nyamuk.” Ujar Dede.

“Iya, aku melihatnya. Wah, hari ini kita akan panen, setelah sekian lama kita gagal terus. Kita akan mendapatkan banyak duit. Ayo kita tangkap!” sahut Adi begitu bersemangat. Mereka begitu cekatan menangkap tokek-tokek itu. Hewan-hewan itu sedang lengah karena sibuk konsentrasi hendak menangkap buruannya.

Hari itu mereka berhasil menangkap 20 ekor tokek. Bagi mereka 20 ekor saja sudah sangat bagus untuk saat ini. Biasanya mereka cuma dapat tiga sampai lima ekor saja. Mereka sangat bersyukur. Mereka memutuskan untuk pulang.

Seperti biasa, mereka sampai di rumah sudah tengah malam. Namun sebelum pulang Dede mengantar Adi ke rumahnya terlebih dahulu. Ketika Dede pulang, istrinya sudah tidur nyenyak. Ia tak tega untuk membangunkannya, memberi kabar gembira ini. “Nanti di pagi hari saja aku akan memberi tahu”, ujar Dede dalam hati.

Badan Dede terasa lelah, dan matanya sangat mengantuk. Ia ingin segera membaringkan tubuhnya dan lalu memejamkan matanya. Tapi baru saja hendak pergi ke kamar tidur, ia mendengar suara pintu diketuk. Siapa tengah malam begini hendak bertamu, pikir Dede dalam hati. Ia lalu membuka pintu. Oh, ternyata bapak-bapak yang berpenampilan aneh.

“Ada apa pak? Bapak mencari siapa?” tanya Dede dengan setengah heran dan agak segan, karena matanya benar-benar mengantuk. Bagaimana dia tidak heran, laki-laki itu berpakaian tidak lazim dan memakai ikat kepala seperti orang tempo dulu zaman kerajaan, sebagaimana yang sering dilihatnya di film Wiro Sableng dan Jaka Sembung.

“Maaf Mas menganggu istirahat, Mas. Saya mau pinjam linggis. Kalau tidak ada, obeng juga tidak apa-apa. Untuk membuka kotak ini. Saya kesulitan membukanya.”

“Oh, iya, sebentar ya pak. Saya carikan dulu” sahut Dede.

Tak lama Dede kembali lagi dengan membawa obeng.

“Ini, pak, obengnya.”

“Terima kasih”

Pak tua itu kemudian membuka kotaknya. Setelah berhasil dibuka, pak tua itu mengembailkan kembali obeng tersebut disertai barang yang ditutup kantong plastik hitam.

“Terima kasih ya mas. Ini ada sesuatu untuk mas. Tapi tolong dijaga dengan baik! Aku ulangi sekali lagi, tolong dijaga dengan baik! Ini bekal hidup untuk mas dan sekeluarga. Oleh karena itu, mas tidak perlu mencari tokek lagi. Silakan cari pekerjaan lain. Sekali lagi terima kasih, saya pamit dulu.”

Belum sempat Dede hendak mengucapkan terima kasih dan menanyakan sesuatu, tiba-tiba orang tua itu langsung pergi dengan cepat dan menghilang di tengah-tengah kegelapan. Orang yang aneh, pikir Dede. “Bagaimana dia tahu pekerjaanku?” ujar Dede dalam hati.

Apa isi bungkusan tersebut? Dede belum mengetahuinya karena belum membukanya. Saat dibuka bungkusan tersebut, Dede hanya bisa melongo, melototi isi bungkusan itu. Perasaannya berkecamuk, campur aduk. Antara senang dan takut. Kaget, tak percaya kalau isinya ternyata adalah uang. Uang itu sepuluh ribuan, masih baru. Lalu ia menghitungnya, dan ternyata jumlahnya lima ratus ribu rupiah. Pak tua itu memberikan uang yang berjumlah besar itu secara cuma-cuma. Namun, Dede merasa was-was. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapa laki-laki itu? Apa maksudnya memberikan uang itu. Ia mencoba mengingat-ingat lagi perkataan pak tua tadi. Ia disuruh berhenti mencari tokek. Dan sebagai gantinya ia diberi bungkusan itu untuk pengganti mencari tokek dan ucapan terima kasih.

Uang misterius itu Dede simpan di tempat yang tidak akan diketahui istrinya. Untuk sementara ia akan merahasiakan dulu kejadian tersebut serta bungkusannya. Ia pun pergi tidur.
* * *

“Mas, semalam aku bermimpi lagi dengan mimpi yang sama seperti kemarin-kemarin malam.
Ada apa ya mas?” tanya sang istri pada suaminya, Dede.

“Entahlah, aku tidak tahu, dik. Kebetulan saja mungkin. Kita berdoa saja semoga mimpimu itu hanya bunga tidur, tidak ada arti apa-apa.” jawab Dede.

“Tapi aku takut mas.” Ujar istrinya.

Dede terus meyakinkan istrinya bahwa itu hanya mimpi biasa tak mengartikan apa-apa. Namun, Dede sebetulnya menyimpan rasa takut juga. Jangan-jangan mimpi itu berkaitan dengan apa yang dialaminya selama ini. Dede khawatir mimpi itu ada hubungannya dengan bungkusan itu. Mimpi istrinya selalu sama di tiga malam berturut-turut. Di dalam mimpi tersebut, terlihat rumah mereka begitu bagus dan perabotannya sangat lengkap. Namun di depan rumahnya terdapat jurang yang sangat dalam. Setiap kali mereka keluar rumah, mereka akan terperosok ke dalam jurang tersebut. Setelah itu istrinya bangun. Mimpi yang seperti itu sudah terulang tiga malam berturut-turut. Wajar kalau istrinya ketakutan dan menyimpan keheranan.

Setiap kali istrinya ke pasar, Dede selalu menengok bungkusan dari pak tua itu, dan lalu membukanya. Uang itu terlihat selalu utuh. Dede tak berani menggunakan dulu uang itu untuk keperluan sehari-harinya, walaupun sebetulnya sangat butuh untuk mencicil tagihan kredit motornya.

Di hari-hari berikutnya istrinya semakin ketakutan saja, karena mimpi itu selalu terulang. Saking ketakutannya, istrinya tak berani tidur cepat-cepat. Ia selalu tidur larut malam dan bangun sebelum subuh. Kebiasaan baru itu membuat dirinya sakit flu dan panas, karena kurang tidur. Dede akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang pernah dialaminya. Karena ia yakin mimpi istrinya masih terkait dengan apa yang dialaminya waktu itu.

“Bungkusan yang berisi uang ratusan ribu? Yang benar, Mas?” tanya istrinya sedikit tak percaya.

“Iya, malahan aku sudah menghitungnya. Jumlahnya ada lima ratus ribu rupiah.”

“Hah. Terus mas taruh dimana bungkusan itu?”

“Aku simpan di tempat yang aman, bahkan pencuri pun tak akan bisa mencium keberadaannya. Sebentar, aku ambil dulu biar kamu percaya.” jawab Dede sambil melangkah menuju tempat persembunyian uang tersebut.

Dede mengambil bungkusan itu, lalu membukanya. Tiba-tiba wajahnya tegang dan matanya melongo persis saat ia dulu pertama kali membuka bungkusan itu. Namun bedanya, kalau dulu wajahnya tegang dan matanya melongo karena melihat ada uang di dalam bungkusan itu, namun sekarang karena tidak melihatnya, alias sudah tidak ada uangnya.

Berguru Pada Penulis Handal


“Saya sungguh percaya bahwa cara belajar untuk memulai menulis adalah dengan meniru teknik menulis mereka” (Bertand Russel)

Sewaktu saya masih kuliah saya mempunyai teman yang kerjaannya menulis ulang cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai media massa, terutama cerpen-cerpen yang telah mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik dalam berbagai versi, seperti versi majalah Horison, Kompas, AnNida, dan yang lainnya.

Hampir setiap minggu dia lakukan. Dulu saya berpikir mengapa dia melakukan itu? Untuk apa? Kenapa tidak membuat cerpen sendiri? Tapi waktu itu pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah saya lontarkan pada dia, malahan aku melontarkan ejekan, “Kamu ini enggak ada kerjaan, saja. Tulisan kok ditulis ulang lagi”. Setelah waktu berlalu kurang-lebih satu tahun, tiba-tiba saja aku sering mendapatkan cerpen dia dimuat di mana-mana, terutama di koran lokal.

Minggu sekarang di Koran ini, minggu besok di Koran itu, minggu besoknya lagi di tabloid. Dia sekarang sudah mahir menulis cerpen, dan bisa menempatkan cerpennya sesuai koran yang dia tuju. Ia sudah mengerti betul kemana ia kirim cerpennya, ia telah mengerti bahwa setiap Koran atau media massa mempunyai karakter atau ciri khas masing-masing dalam menentukan cerpen yang bisa dimuat.

Pikiranku pun melayang ke masa-masa dulu yang pernah aku lihat ia belajar menulis cerpen. Dan sekarang saya tahu rahasia di balik kesuksesannya itu. Anda ingin tahu? Bahwa dia belajar mencermati gaya cerpen orang lain dengan menulis ulang cerpen orang tersebut. Dari aktivitas menulis ulang tersebut dia akan merasakan gaya si pengarang tersebut, bagaimana cara membuka tulisan, membuat konflik dan klimaks, dan membuat ending yang bagus. Sebetulnya dengan membaca saja pun bisa, tapi itu hanya sebatas melihat saja. Dengan menulis ulang, bukan hanya melihat tapi juga bisa merasakannya, seolah-olah kita sendiri yang melakukan tersebut. Bagus bukan tekniknya?

Dan saya yakin bahwa semua penulis sekarang ini pasti pernah membaca karya-karya para penulis sebelum mereka, atau penulis yang dianggap lebih pintar dari mereka, walau mungkin dengan cara-cara yang berbeda-beda. Bahkan boleh dikatakan itu merupakan sebuah kemutlakan bagi orang yang ingin jadi penulis. Karena bagaimana dia akan menulis kalau tidak pernah membaca karya orang lain. Oleh karena itu belajar dari orang lain adalah mutlak bagi orang yang ingin bisa menulis. Kita bisa belajar dari para penulis Indonesia seperti Danarto, Putu Wijaya, Ahmad Munif, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Teguh Winarso, dan yang lainnya. Kita pelajari satu persatu karya mereka. Karena semua penulis tersebut mempunyai ciri khas masing-masing. Setelah kita meneliti satu-persatu tanyalah pada diri sendiri, kira-kira saya cocok dengan karya siapa? Setelah memilihnya, kini tinggal anda mempelajari dengan amat detail. Ini adalah gaya belajar teman saya ketika belajar cerpen, yang ternyata sangat manjur dan terbukti hasilnya.

Dan ternyata proses belajar menulis seperti itu telah dirumuskan pula oleh beberapa penulis ulung seperti Bertand Russel, Dr. Stephen D. Krashen, Burrough, dan Hernowo, serta para penulis lainnya. Bertand Russel mengatakan, “Saya sungguh percaya bahwa cara belajar untuk memulai menulis adalah dengan meniru teknik menulis mereka”.

Sedangkan Dr. Stephen D. membuktikan, “Hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca.” Dalam bukunya Vitamin T Hernowo pun mengakui bahwa salah satu strategi menulis yang dia gunakan dalam rangka mengatasi keminderan yaitu dengan “meniru” gaya para penulis ulung seperti Emha Ainun Nadjib, Quraish Shihab, dan Jalaluddin Rakhmat. Dengan cara demikian dia bisa mengatasi kesulitan menulis dan memunculkan ke-pede-annya. Dia berkata, “Untuk mampu melakukan sesuatu, kita harus meniru. Untuk dapat berbicara, kita harus meniru orangtua kita ketika mereka berbicara. Untuk dapat menendang bola dengan baik, kita harus meniru seseorang yang sudah berpengalaman dalam menendang bola dengan baik.” Begitulah ilustrasi dia dalam soal meniru. Karena dia berkeyakinan bahwa dengan meniru kita akan bisa juga mengembangkan khas kita menulis, karena (lama kelamaan) akan mengalirkan karakter kita sesungguhnya. (Ingin membaca lebih detail silahkan baca bukunya Vitamin T halaman 238-239 penerbit MLC, Bandung).

Satu contoh lagi yang akan saya berikan untuk anda tentang soal ‘meniru’ ini, yang telah terbukti metodenya. Burroughs, yang terkenal dengan karyanya yaitu Tarzan, tidak langsung begitu saja terkenal, atau bahkan langsung bisa menulis tentang Tarzan lalu kemudian Best Seller. Tidak segampang itu. Ia sebetulnya tidak bisa menulis, bahkan bakat pun tidak ada. Waktu sedang membaca cerita-cerita picisan, ia tiba-tiba terinspirasi untuk menulis. Ia mengatakan, “Kalau orang bisa mendapat uang dengan menulis cerita bualan seperti ini, saya juga bisa.” Dan ia telah membuktikannya. Ia lalu menulis cerita yang berjudul Dejah Thoris, Princess of Mars.

Karya pertamanya ini bukanlah asli dari imajinasi sendiri, tapi ia meniru dan menganalisis cerita-cerita yang dibuat John Carter dan Planet Mars. Setahun telah berlalu, ia lalu bertekad menjadi penulis dan yakin bahwa dari menulis ia bisa menghidupi keluarganya. Setelah karya Tarzan-nya muncul mulailah karir kepenulisannya melonjak naik, dan terkenal di mana-mana. Tarzan-nya kemudian dikomikkan, difilmkan, dan diterjemahkan di mana-mana. Dahsyat bukan?

Semua yang saya ceritakan di atas adalah hasil dari proses ‘peniruan’ terlebih dahulu. Dengan kata lain, hasil dari berguru pada penulis yang lain yang dianggap lebih hebat dari mereka, karena kekagumannya. So, begitupun dengan kita kalau ingin bisa menulis, kita harus berguru terlebih dahulu pada mereka lewat karyanya. Kita selidiki karya-karya mereka. Kita lihat gaya-gaya mereka dalam menggunakaan bahasa ketika hendak mengungkapkan sesuatu.
Oke, selamat mencoba!

Kamis, 28 Agustus 2008

Once Upon A Time In Solo-Jogja*


Yogyakarta memasuki musim hujan. Pagi yang indah. Langit yang cerah. Penduduk Jogja mulai beraktifitas dengan penuh semangat. Begitu juga aku.

Aku melangkah menuju kampus tercinta, Universitas Islam Negeri Yogyakarta, dengan langkah penuh antusias. Fakultas Agama dan Filsafat yang berada di sebelah utara kampus begitu aku cintai.

Aku bayangkan masa-masa kuliah ini begitu indah dan penuh barokah. Mata kuliah Tafsir, Hadis, Sejarah Islam, Filsafat, dan lain sebagainya selalu aku ikuti dengan antusias. Niat yang tulus, dan teman-teman yang saling mendukung menyempurnakan pencarian ilmu ini di kampus tercinta. Semuanya menjadi cahaya dalam jiwa.


Jadwal kuliah hari ini pada jam pertama adalah Tafsir yang diampu oleh Prof. Dr. Hamim Ilyas, M.A. aku begitu khusyuk mendengarkan penjelasannya:

”Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad adalah ”Iqro”, yang artinya

”bacalah”. Oleh karena itu amat sangat jelas bahwa Allah menghendaki kita seorang muslim untuk membaca. Membaca dalam artian, membaca apa saja, bukan hanya alqur’an. Membaca dengan kata lain bahwa kita disuruh untuk senantiasa belajar. Membaca adalah salah satu aktifitas belajar, dengan mempelajari sesuatu agar kita tahu. Oleh karena itu orang yang berpengetahuan adalah orang yang sangat dicintai oleh Allah. Dalam ayat alquran disebutkan,
يرفع الله الذين امنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Artiinya: ”Allah akan mengangkat derajatnya orang yang beriman dan berilmu”

Juga dalam banyak ayat kita temukan seruan Allah kepada manusia untuk berilmu dengan beberapa redaksi kata seperti: ulil albab, ulil abshor, dan ulin nuha...”

Kuliah Tafsir pada kali ini aku mendapatkan penjelasan mengenai kata ”iqro”, sebagai ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Penjelasan Prof. Dr. Hamim Ilyas, M.A. begitu menggetarkan jiwaku. Semangat mencari ilmu semakin menjadi-jadi.
* * *

Matahari tepat di atas kepalaku. Sinarnya yang panas begitu menyengat kulitku. Aku berjalan meninggalkan kampus menuju kosku. Letaknya berada di belakang kampus. Ah, lega rasanya sudah sampai di kosku. Seteguk air ku minum menghilangkan dahagaku. Alhamdulillah. Setelah makan siang aku kembali membuka buku yang hendak kuterjemahkan yang belum rampung dari kemarin. Buku yang berjudul الشباب وأقات الفراغ (pemuda dan waktu luang) harus kuselesaikan pada bulan ini juga, mengingat uangku sudah semakin menipis dan untuk bayar kos bulan depan juga.

Hidupku memang penuh perjuangan dan pengorbanan. Itulah yang aku rasakan. Aku, seorang mahasiswa yang berasal keluarga tidak mampu, yang hanya bermodalkan doa orangtua dan keinginan yang membaja saja untuk pergi ke Jogja, kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Aku tidaklah seperti kebanyakan mahasiswa-mahasiswa lainnya, yang mempunyai waktu luang dan fasilitas lengkap. Waktuku habis untuk bekerja dan mengerjakan tugas, jika ada tugas kuliah. Kemampuan yang aku bisa hanyalah bahasa arab dan bahasa inggris. Dua bahasa itu kudapat sewaktu aku nyantri dekat rumahku dulu. Dengan kemampuan itu aku sering mencari proyek ke penerbit-penerbit yang ada di Yogyakarta ini. Dari pekerjaan inilah aku bisa membiayai kuliahku. Tak terasa 4 tahun sudah kulewati masa-masa kuliah. Sungguh, aku sangat bersyukur.
* * *

Bulan telah berganti. Alhamdulillah, sesuai dengan harapan, terjemahanku sudah selesai dan telah kuserahkan pada penerbit tadi siang. Hasil jerih payahku pun terbalas sudah. Uang itu cukup untuk bayar kos, beli buku, untuk bahan skripsi, dan biaya kebutuhan sehari-hari. Penerbit juga menyerahkan buku lainnya untuk aku terjemahkan. Aku baca sepintas buku itu. Mataku sudah 5 watt. Aku ingin tidur.

Badanku lelah seharian mengedit terjemahan, dan langsung ke penerbit di jalan Kaliurang. Baru saja aku berniat menutup mataku, tiba-tiba HP-ku berbunyi. Aku mengangkatnya.

”Assalamu’alaikum” ujarku.

”Wa’alaikum salam. Apa kabar mas Dawam? Ini aku, Muttaqin”

”Alhamdulillah baik. Oh, pak Taqin, apa kabar juga?”

”Baik. Maaf ya ganggu. Masih sibuk kuliah atau sudah garap skripsi?”

”Ada 3 mata kuliah semester ini, tapi sambil garap skripsi juga”.

”Anu, mas Dawam. Besok punya waktu luang gak?”

”Besok, aku tidak ada kuliah, paling-paling cuma garap terjemahan, seperti biasa.”

”Begini mas, di STAIN kami akan mengadakan Workshop pelatihan penerjemahan. Kami ngin mengundang mas Dawam menjadi pemateri. Saya kira mas Dawam sudah waktunya membagi ilmunya kepada teman-teman, baik para dosen maupun mahasiswa yang ada di STAIN Surakarta. Bagaimana mas, bisa kan?”

Mendengar tawaran dari pak Muttaqin membuatku bingung. Antara siap dan tidak.

”Bagaimana ya, rasanya saya belum pantas untuk mengisi pelatihan itu, Pak. Ilmu saya dalam menerjemah belum seberapa. Mungkin pak Muttaqin bisa cari orang lain dulu, nanti kalau tidak ada, baru saya yang mengisinya.”

”Saya tidak punya waktu lagi mas. Waktunya tinggal saat ini, besok acaranya. Saya mohon mas Dawam bersedia!”

Aku terus didesak oleh Pak Muttaqin. Sampai aku tak bisa mengelaknya.

”Baiklah, Pak. Saya menyanggupinya. Tapi saya harap Pak Muttaqin tidak kecewa dengan saya yang ilmunya belum seberapa ini.”

”Saya percaya kepada mas Dawam. Saya kan bukan kemarin sore mengenal mas Dawam.”
Pak Muttaqin kemudian memberi tahu apa saja yang mesti diterangkan, serta time schedul-nya pun ia jelaskan.

Aku tak percaya kalau aku menyanggupi tawaran menjadi pemateri pelatihan penerjemahan ini. Aku harus percaya diri dan yakin dengan kemampuanku. Ya Allah berilah aku kekuatan dan kemampuan untuk mengisi acara pelatihan besok hari.

Pak Muttaqin adalah dosen STAIN Surakarta yang kukenal sejak 3 tahun yang lalu di salah satu penerbit di Solo. Beliau juga seorang penerjemah, tapi hanya dari bahasa inggris saja.
* *

”Saudara-saudara sekalian menerjemah itu gampang-gampang susah. Dibilang gampang ya gampang dibilang susah juga susah. Hal ini tergantung wawasan kita atas teks yang kita terjemahkan. Menerjemah itu seni. Sebuah terjemahan akan bagus kalau kita bisa mempunyai jiwa seni. Dengan kata lain, bagaimana kita dapat merangkai kata-kata menjadi jelas, enak, dan indah, serta mudah dipahami.

”Satu hal lagi, menerjemah juga membutuhkan pengetahuan yang kita kerjakan. Kalau anda ingin menerjemahkan buku-buku kedokteran, maka anda harus paham terlebih dahulu dalam dunia kedokteran. Menerjemah juga bukan hanya memindahkan kata tapi juga memindahkan budaya.”

Para dosen dan mahasiswa begitu antusias mendengar penjelasanku. Aku bersyukur mereka dapat memahami apa yang aku sampaikan. Waktu sudah habis, padahal peserta masih banyak yang hendak bertanya. Begitulah perjalanan pertamaku menjadi pembicara dalam acara pelatihan terjemahan di STAIN Surakarta. Acara berjalan sukses. Tak henti-hentinya aku memanjatkan puji syukur pada Allah SWT. Alhamdulillah.
Kini aku berada di Bis Solo-Jogja, hendak pulang ke Jogja. Aku menempati kursi sebelah kanan yang berderet 2 kursi. Letak kursi itu tepat di tengah-tengah bis. Tak lama kemudian di halte depan banyak yang naik juga. Para penumpang yang baru naik banyak yang tidak kebagian tempat duduk.

Bis Solo-Jogja mulai melaju kencang. Pikiranku masih saja terpusat pada acara tadi. Luar biasa pesertanya begitu banyak. Mereka begitu bersemangat mengikuti pelatihan tersebut. Awalnya aku merasa kikuk, karena yang aku hadapi adalah para dosen dan mahasiswa, bukan anak-anak SMA. Sebuah pengalaman yang begitu berharga buatku. Kelak ini menjadi bekal bagiku untuk lebih baik lagi dalam menerjemah. Bagiku, honor menerjemah sebenarnya lebih dari cukup. Jika dirata-datakan, setiap satu buku yang kuterjemahkan baik dari bahasa arab maupun bahasa inggris honornya mencapai 1-2 juta rupiah. Katakanlah, 1,5 juta jika aku bulatkan. Andai saja aku bisa produktif menerjemah setiap 1 bulan 1 buku, maka satu tahun aku mendapatkan honor 12 juta. 1,5 juta perbulan bagiku lumayan besar. Selama 1 bulan biasa menghabiskan 450 ribu untuk keperluan sehari-hari seperti bayar kos, beli buku, makan, dan keperluan lainnya. 1 juta bisa aku simpan. Cuma masalahnya selama ini aku masih belum produktif menerjemah. 1 buku kadang aku baru menyelesaikan 3 bulan kemudian.

Baiklah, mulai saat ini aku akan berusaha produktif lagi menerjemah. Aku harus rajin, tekun, dan disiplin dalam menerjemah. Targetku menerjemah 1 buku 1 bulan. Itu berarti aku akan bisa menabung 1 juta 1 bulan. Ah, semoga saja aku bisa. Memang sudah saatnya aku menabung untuk masa depanku. Sebentar lagi aku akan selesai kuliah, dan full time dapat bekerja menjadi penerjemah. Nanti tabunganku itu buat modal usahaku kelak dan modal..... menikah. Ah, kenapa aku tiba-tiba berpikir menikah. Tapi mengapa tidak, jika aku sudah siap secara mental dan materi Insya Allah aku tak mau lama-lama menunggu pernikahanku, tapi masalahnya siapa wanita yang mau sama aku...

”Maaf Mas, bisa geser ke kursi sebelah. Kursi ini tidak ada yang menempati kan?”
Aku kaget. Suara itu membuyarkan lamunanku. Untuk memastikan bahwa suara itu ditujukan ke aku, aku menengok ke arah orang tersebut. Mataku beradu dengan mata orang itu. Subhanallah. Tiba-tiba hatiku bergetar. Seorang gadis yang begitu cantik berdiri menghadapku. Gadis itu memakai jilbab putih, berjaket, serta memakai celana panjang jeans yang tidak ketat. Dia terlihat anggun. Matanya yang bening, wajahnya yang putih bersih, serta bibirnya yang mungil, tipis dan kemerah-merahan, melengkapi keindahan wanita itu.

”Mas...?” ujar gadis itu.

”E..iya, silakan, tempat ini kosong kok!” jawab aku tergagap.

Aku pun bergeser, ke kursi yang dekat dengan dinding bis. Gadis itu pun duduk. Hatiku tak karuan. Getaran itu masih saja ada. Ingin rasanya aku kenalan tapi hatiku berdegup kencang. Aku coba menenangkan diri. Aku tak biasa duduk berdampingan dengan gadis, apalagi gadis itu membuatku gemetaran karena terpesona oleh kecantikannya. Keinginan berkenalan dengan gadis itu terhalang oleh dinding rasa maluku.

Aku melihat seorang ibu berdiri di deretan depan di antara orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk.

”Bu, ibu yang berdiri, silakan duduk sini menempati tempat dudukku!” ujar aku memanggil ibu tersebut.

Aku pun bergegas dari tempat dudukku yang tepat di sisi gadis itu. Sambil mengucapkan permisi aku lewat di depan gadis tersebut. Ia hanya mengangguk. Ibu itu pun mengucapkan rasa terima kasih kepadaku dan menempati tempat dudukku. Aku kemudian berdiri dan berjalan ke belakang. Ah, baru saja aku ngomong masalah pernikahan, tiba-tiba ada seorang gadis di hadapanku. Anehnya, gadis itu membuat hatiku bergetar.

Tidak sebagaimana mestinya. Mungkinkah ini tanda-tanda dia jodohku? Mungkinkah gadis itu calon istriku kelak? Mungkinkan ini termasuk rencana Tuhan? Ah, tidak mungkin. Aku merasa tidak pantas dengan wanita seperti itu. Dia terlalu cantik bagiku. Lagian, belum tentu juga hatinya cantik. Astaghfirullah, aku tak boleh su’udzon. Ah, sudahlah, aku tak ingin memikirkannya lagi, pusing. Kalau memang Allah menghendaki pasti aku akan bertemu dengannya lagi.

Bis tersebut sudah memasuki Klaten. Kulihat gadis itu turun dari bis. Subhanallah, mengapa hatiku masih saja ada getaran. Mungkinkah...ah, sudahlah.
***

Satu tahun telah berlalu. Puji syukur pada Allah kuliahku telah selesai, tepatnya pada bulan kemarin. Lima tahun kuliah di UIN Sunan Kalijaga adalah waktu yang dianggap standar. Tidak cepat tapi tidak pula lambat. Bagiku lima tahun kuliah sambil bekerja dan biaya sendiri adalah waktu yang wajar. Karena banyak para mahasiswa yang kuliahnya lama hampir tujuh sampai delapan tahun, padahal mereka tidak punya kesibukan apapun. Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan, sehingga kuliahnya tak rampung-rampung. ”Ngapain cepet-cepet selesai kuliah, wong SPP-nya paling murah sedunia. Jadi, nikmati aja waktu ini.” Begitulah rata-rata jawaban kakak kelasku dulu saat aku tanya mengapa tidak selesai-selesai kuliahnya. Harus diakui oleh siapapun, kalau biaya kuliah per semester saat angkatanku hanya 210 ribu rupiah, tidak ada tambahan apa-apa lagi. Murah, bukan? Apalagi angkatan-angkatan sebelum aku lebih murah lagi. Jadi, wajar saja sih jika mereka mempunyai alasan seperti itu.
Hp-ku berdering. Aku angkat.

”Halo, Assalamualaikum?”

”Wa ’alaikumussalam, apakah ini mas Dawam?”

”Iya betul. Ini siapa?”

”Saya, bekas dosen sampean, Hamim Ilyas”

”Oh, pak Hamim. Tumben nelpon,pak, ada apa ya?”

“Begini, mas Dawam sudah selesai kan kuliahnya? Kalau sudah mas Dawam mau ngajar nggak?”

“Insya Allah mau. Kebetulan saya memang belum punya rencana apa-apa. Di mana pak tempatnya?”

“Pihak rektorat ada program baru, yaitu mencari mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi untuk diterjunkan ke masyarakat untuk mengabdi sesuai dengan kemampuannya. Sebagai imbalannya, kami kuliahkan di Pasca Sarjana. Saat mendengar program itu, terus aku ingat kamu yang baru selesai kuliah dan lumayan bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya.“

Hatiku berdesir. Subhanallah. Sungguh ini karunia-Mu ya Allah yang diberikan kepadaku.

“I…iya pak, insya Allah saya bersedia mengikuti program itu pak, terima kasih.”

Aku sedikit gugup karena seperti tak percaya. Kuliah S2 adalah impianku yang tadinya aku pikir sangat mustahil, karena biayanya yang mahal. Tapi ternyata Allah memudahkan jalannya. Lakal hamdu wa laka syukru ya Allah.

Setelah aku menyetujuinya, esok pagi aku disuruh ke gedung rektorat dengan rekomendasi dari pak Hamim Ilyas. Di sana aku diberi penjelasan semua prosedur serta apa saja yang mesti kupersiapkan. Hanya dua puluh orang yang diterima program ini.

Dua puluh orang ini disebar ke daerah-daerah pelosok di Jogja dan sekitarnya. Selain di lima kabupaten yang ada di Jogja, di antara kami juga disebar di Prambanan, Klaten, dan Boyolali. Aku adalah satu-satunya yang diutus untuk mengabdi di Boyolali. Esok hari aku akan berangkat.
**

Tak terasa sudah satu bulan aku di Boyolali. Boleh dikatakan satu minggu pertama adalah masa-masa adaptasi dengan masyarakat setempat. Alhamdulillah penduduknya ramah-ramah. Aku ditempatkan di pondok pesantren kecil bernama Zumratut Tholibin pimpinan Kyai Haji Ali Albar. Kyai tersebut adalah temannya pak Hamim Ilyas. Tugas utamaku adalah mengajar bahasa Arab dan Bahasa Inggris bagi para santri dan penduduk luas. Oleh karena itu, aku tidak hanya mengajar di pondok tersebut tetapi juga di sekolah-sekolah yang ada di desa itu.

Bulan pertama telah ku lewati dan hendak menginjak bulan kedua. Secara keseluruhan tidak ada cobaan yang berarti dalam melaksanakan pengabdian di sini. Riak-riak kecil mesti ada, tapi tidak begitu berarti. Jadwal mengajarku di desa ini aku sesuaikan dengan jadwal kuliahku, sehingga tidak berbenturan satu dengan lainnya. Lama-kelamaan aku merasa capek juga, bolak-balik antara Jogja-Boyolali. Tapi saat merasakan kepenatan itu, ku ingat kembali niatku bahwa ini semata-mata lillahi ta’ala, karena Allah semata. Maka aku pun berhasil memompa semangat kembali. Aku nikmati semua aktifitasku ini, yang insya Allah akan dicatat sebagai amal sholeh, amin.

Tiga bulan telah berlalu. Peranku semakin bertambah. Yang tadinya hanya ditugasi sebagai pengajar Bahasa arab dan Inggris, Sekarang aku juga ditugasi mengajar bidang studi lainnya, seperti ulumul qur’an, ulumul hadis, tarikh Islam dan yang lainnya.

Tadinya aku mau menolaknya. Karena aku nanti tak punya waktu untuk menggarap tugas kuliahku, tapi aku tak enak, karena takut mengecewakan. Akhirnya aku terima saja dengan lapang dada. Hitung-hitung mengamalkan ilmuku juga. Dan alhamdulillah baik para santri, siswa, maupun penduduk yang belajar denganku merasa senang dan puas. Mereka begitu semangat belajar.

Saat genap satu tahun, aku menjadi bagian yang seolah tak terpisahkan dari masyarakat tersebut. Suatu hari pak Kyai memanggilku.

“Nak Dawam. Malam jum’at besok tolong isi pengajian di Mesjid Al-Hidayah. Besok saya harus ke Jakarta, ada urusan.”

Sungguh, aku tak ingin beliau kecewa dengan penolakanku. Walau hatiku menolak perintahnya, tapi entah kenapa mulutku mengatakan, “Insya Allah pak, saya akan menjalankan amanat ini.” Betapa berat menanggung beban amanat ini. Diriku telah kupertaruhkan untuk mengisi pengajian rutin malam jum’at yang biasa diisi oleh pak Kyai Ali Albar pimpinan pondok pesantren yang ada di desa ini. Yang menghadiri pengajian ini ratusan orang. Terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu, dimulai dari ba’da isya’ sampai pukul sembilan. Segalanya telah kupersiapkan. Masih ada dua hari lagi kesempatan untuk mempersiapkan segalanya, terutama bahan-bahan yang akan kusampaikan.

Ya Allah, berilah aku kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan amanah ini, ucapku saat setiap selesai shalat lima waktu. Pak Kyai menyuruhku berarti dia sudah percaya dengan kemampuanku. Oleh karena itu, aku tak boleh menyia-nyiakan amanah yang diberikan kepadaku ini.

Dua hari telah berlalu. Nanti malam adalah jadwal pengajian yang akan aku isi sebagai pengganti kyai Ali Albar. Tadi pagi beliau menelpon aku untuk mengingatkanku lagi menjadi penggantinya nanti malam. Beliau berpesan agar materi yang hendak disampaikan jangan yang berat-berat, dan harus dekat dengan kehidupan masyarakat. Sesaat sebelum beliau menutup telpon, aku meminta do’a restunya agar dilancarkan saat mengisi pengajian nanti.

Adzan maghrib berkumandang. Para penduduk sudah mulai berduyun-duyun melangkahkan kakinya ke mesjid dan mushola-mushola yang dekat dengan rumahnya masing-masing. Aku sendiri seperti biasa shalat berjama’ah bersama para santri. Yang menjadi imam di masjid pondok biasanya para ustadznya. Mereka bergantian. Namun tak jarang aku pun sering ditunjuk oleh pak kyai untuk menjadi imam.

Begitu selesai shalat maghrib, lalu zikir sebentar. Kemudian para jama’ah mengadakan tahlilan sebagaimana biasanya. Aku tidak ikut. Aku langsung bergegas ke kamar, hendak membaca kembali bahan-bahan yang akan kusampaikan di pengajian nanti di mesjid al-Hidayah. Tak terasa adzan isya’ telah dikumandangkan. Bismillah, aku menuju masjid al-Hidayah yang letaknya berada di sebelah utara pondok. Para penduduk mulai berdatangan. Karena ba’da isya’ ada pengajian di mesjid, maka mereka memilih sholat isya’ di mesjid sekalian. Begitu shalat isya’ selesai, seorang ustadz dari pondok melangkah ke depan menuju alat pengeras suara. Dia lalu mengumumkan bahwa pak kyai tidak bisa mengisi pengajian karena ada urusan penting ke Jakarta, namun pak kyai mengutus ustadz Dawam sebagai gantinya, ujar ustadz tersebut. Para jama’ah lalu banyak yang mengarahkan matanya kepadaku. Mereka yang tidak tahu aku bertanya kepada orang yang berada di sebelah kanan atau kirinya.

Setelah selesai bicara, ustadz tersebut mempersilakan aku maju. ”Nuwun sewu, pak” ucapku pada orang-orang yang berada di kanan-kiriku saat aku hendak ke depan.
”Nggih, monggo, monggo” jawab mereka hampir berbarengan.
Saat sampai mimbar kutatap semua jama’ah dari kiri ke kanan, dan dari belakang ke depan. Subhanallah, luar biasa banyaknya jama’ah yang biasa mengikuti pengajian ini.

Aku mengucapkan salam, lalu kususul ucapan syukur dan shalawat. Aku kemudian memohon maaf kepada para jama’ah yang sudah lancang memberi ceramah, yang memang belum pantas untuk berdiri di situ. Jika bukan pak kyai yang menyuruh tentu aku tidak akan mau memberi ceramah ini. Kujelaskan semua kepada para jama’ah. Setelah aku meminta maaf lagi barulah aku masuk pada materi. Aku menjelaskan tentang akhlak dan hakikat hidup dari A sampai Z. Kadang kusisipi kisah-kisah, baik kisah pada zaman Rasul maupun pada zaman sekarang. Para jama’ah begitu khusyu’ menyimaknya. Tidak ada satu pun yang mengantuk atau mengobrol.

”Urip mung mampir ngombe. Begitu pribahasa Jawa seperti yang telah kita ketahui. Artinya bahwa hidup kita ini hanya sementara. Jadi, pergunakanlah hidup kita ini dengan baik. ’Baik’ di sini dalam artian mampu memberikan yang terbaik pada diri kita dan orang lain. Jauhkan sifat hawa nafsu yang ada dalam diri kita, seperti menyakiti tetangga kita, sombong, pelit, iri hati, dengki, dan lain sebagainya. Dan tampilkanlah sikap positif dari diri kita seperti menolong, membantu, menghargai, peduli, dan lain-lainnya.”

Para jama’ah semakin antusias mendengarkan ceramahku, yaitu pada saat aku memasukkan beberapa pribahasa Jawa, pembahasanku ini membuat benar-benar melekat dalam hati mereka. Ketika aku membahas masalah kebaikan, kusisipi kembali pribahasa Jawa yang relevan dengan pembahasan tersebut.

”Di dalam kitab Nasho’ihul ’Ibad, Ibnu Hajar al-Asqolani berkata, ’jika kita ingin ikhlas ada dua hal yang harus diingat dan ada dua hal yang harus dilupakan. Dua hal yang harus diingat itu adalah ingatlah kebaikan orang lain dan lupakan kebaikan diri kita, sebaliknya lupakan kebaikan diri kita terhadap orang lain dan ingatlah kebaikan orang lain. Hal ini selaras dengan pribahasa jawa yang sering kita dengar yaitu ’mikul dhuwur mendhem jero’. Kebaikan dan keburukan itu akan dibalas oleh Allah swt.

Pribahasa jawa yang lain juga mengatakan ’becik ketitik ala ketara’, bahwa kebaikan dan keburukan sama-sama akan nampak terutama di mata gusti Allah swt.”
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Jam yang ada di dinding mesjid sudah menunjukkan pukul sembilan petanda bahwa aku harus mengakhirinya. Sebelum aku tutup aku sampaikan permohonan maaf kepada para jama’ah jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para jama’ah.

Begitu selesai mengucapkan salam, banyak para jama’ah menghampiriku. Mereka senang bukan kepalang atas cara penyampaianku. Mengena namun tidak menggurui, ujar mereka. Pengajian itu adalah awal aku menjadi penceramah beberapa kali. Di saat pak kyai berhalangan hadir, mesti beliau maupun para penduduk meminta aku untuk menggantikanya. Aku bersyukur para penduduk dapat menerimaku dengan baik.
* *

Semenjak mengisi pengajian, aku menjadi akrab dengan masyarakat setempat. Jadi bukan saja anak-anaknya, melainkan juga para orangtuanya. Aku sering silaturahmi ke beberapa orang penduduk. Kami mengobrol masalah apa saja. Mulai masalah ekonomi, politik, dan keagamaan. Bahkan masalah keagamaanlah yang sering kami bahas, terutama masalah fiqih. Seperti kenapa penentuan puasa dan lebaran idul fitri berbeda-beda, apa itu ruqyah dan hisab, dan lain-lainnya. Semua jawaban yang aku berikan ternyata sangat memuaskan mereka. Mereka tidak merasa digurui olehku, dan merubah keyakinan mereka.

Di antara penduduk itu, yang paling dekat denganku adalah Pak Syihab. Beliau sering mengajakku ke rumahnya, karena di rumahnya sepi. Cuma ada istrinya saja. Kedua anaknya tidak di rumah. Anak pertama sudah bekerja di RB Klaten. Sedangkan anak keduanya sekolah di pondok pesantren Assalam Surakarta. Secara tidak langsung Pak Syihab seperti menjadikan aku sebagai anaknya.

”Nak Dawam, ngomong-ngomong sudah punya calon istri belum?” tanya Pak Syihab suatu hari saat kami ngobrol masalah usaha mebelnya yang katanya lagi lumayan.

Pertanyaan yang tak kuduga sebelumnya. Ini menyangkut pribadiku. Bagaimana aku harus menjawabnya.

”Belum pak. Saya belum sempat mencarinya. Walaupun mencari, saya gak yakin bakal mendapatkannya. Lelaki seperti saya ini tidak disukai pak.” jawabaku.

”Nak Dawam terlalu merendah. Memangnya belum minat ya menikah? Asal tahu saja, seorang da’i itu harus sudah menikah. Jadi, istilahnya gak asal ngomong saja. Banyak ngomong soal hidup, tentang keluarga, tetapi nak Dawam belum berkeluarga. Lucu kedengarannya. Maaf lho nak Dawam.”

”Tidak apa-apa pak. Tapi betul juga kata bapak. Ee.. sebetulnya saya ingin segera menikah, tapi saya tak punya keberanian pak untuk mendekati wanita. Bukan hanya itu, walaupun nanti ada yang mau, tapi saya kadang ragu apakah saya bisa membahagiakan istri saya kelak.”

”Ketakutan itu wajar nak, tapi mbok ya jangan berlebihan. Eh, ngomong-ngomong di desa ini ada enggak gadis yang menjadi tambatan hati nak Dawam?” tanya pak Syihab dengan senyum.

”Ada sih pak, tapi gak usah saya sebut ya pak, saya malu.” jawabku.

”Lha, kenapa mesti malu. Coba katakan siapa orangnya?”

”Anak pak lurah, kalau tidak salah namanya Indah, ya pak?”

”Iya. Oh itu toh tambatan hatimu. Sebetulnya tidak salah pilih dengan pilihan nak Dawam. Gadis itu sangat baik, berjilbab, taat beragama, sopan, dan keibuan, serta tidak mengikuti pergaulan ala orang-orang kota. Tapi, sayang nak Dawam harus melupakan gadis itu karena dia sudah tunangan dengan anak teman bapaknya. Seperti dijodohkan begitulah. Untuk itu coba cari yang lagi ya!”

Aku menyimaknya dengan serius. Aku tidak terlalu kecewa bila wanita itu sudah tunangan sehingga aku tidak perlu mendekatinya, karena mungkin juga memang bukan jodohku.

”Nak Dawam, saya bertanya masalah ini sebenarnya saya ingin mengenalkan Nak Dawam dengan putriku, kalau nak Dawam mau. Kebetulan putriku meminta aku sebagai Bapaknya untuk mencarikan calon suami yang kira-kira cocok dengan dia, terus akhlaknya baik dan taat beragama. Kebetulan aku mengenal nak Dawam dengan baik, dan memiliki semua kriteria di atas. Sebetulnya putriku satu alumni dan teman dekat dengan si Indah.
Mereka seangkatan waktu SMK. Begitu lulus, keduanya berpisah, si Indah ke AKPER Solo dan Putriku ke AKBID Klaten. Bagaimana nak Dawam, apa mau saya jodohkan dengan putriku?”

Hatiku berkecamuk mendengar tawaran pak Syihab. Antara senang dan ragu. Bukannya aku tak percaya dengan omongan Pak Syihab, tapi apa secepat itu ia menjodohkan aku dengan putrinya.

”Bagaimana ya Pak aku mesti menjawabnya. Aku masih bingung. Bagaimana kalau nanti dia kecewa saat melihatku Pak? Apa baiknya putri Bapak mengenal terlebih dahulu siapa saya?”

”Begini nak, anakku itu sangat kuat memegang prinsipnya. Dalam kamus hidupnya tidak kenal dengan istilah pacaran. Dia tidak mau main-main dengan soal cinta. Kalau memang dia ingin mengekspresikan cintanya, maka dia harus menikah. Begitulah dia. Dan anakku itu saat ini sudah merasa waktunya menikah. Dia menyerahkan semuanya padaku, pada bapaknya. Sebagai bapak, aku pun tak asal mencarinya begitu saja. Beberapa bulan ini aku mencari kesana-kemari lelaki yang pantas buat calon suaminya, dan aku belum menemukannya. Namun saat mengenal nak Dawam, aku kok merasa cocok, bahwa nak Dawam lah yang sepertinya pantas menjadi calon suaminya. Berakhlak, berilmu, dan berkepribadian serta bertakwa. Itulah yang aku lihat di dalam diri nak Dawam. Insya Allah nak Dawam akan dapat membimbing dia di jalan yang lurus. Sehingga aku dan ibunya pun akan tenang.”

Pak Syihab berbicara kepadaku dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ada kesungguhan dan harapan. Harapan kalau aku dapat menerima tawaran. Subhanallah, maha suci Allah. Bagaimana aku harus menjawabnya. Pak Syihab telah mempercayakan putrinya kepadaku. Kini kartu As ada di tanganku. Aku hanya memilih jawaban ia atau tidak saja. Namun aku hanya memilih...

”Saya akan istikharah dulu pak. Insyaallah tiga hari lagi saya akan memberi jawabannya.”

Aku pun pamitan. Dalam perjalanan menuju ke pondok, pikiranku tak tenang. Aku belum berani mengambil keputusan antara ia dan tidak. Jika kupilih ia, aku khawatir gadis itu akan kecewa kepadaku, karena aku ini tidak punya apa-apa. Dan jika kupilih tidak, berarti aku menyia-nyiakan rizki yang diberikan Allah kepadaku. Dilihat dari cerita bapaknya aku yakin gadis itu solehah. Istri solehah adalah istri yang paling berharga melebihi rizki yang ada dalam semesta ini, begitu sabda Nabi yang pernah kubaca. Biarlah aku endapkan dulu semuanya, aku akan istikharah selama tiga malam berturut-turut. Setelah itu kuputuskan sesuai dengan petunjuk dan keyakinanku.

Alhamdulillah, Allah telah memberikan petunjuk-Nya kepadaku. Sudah tiga kali istikharah dan setiap kali dalam tidur aku bermimpi bahwa aku sedang tadarus al-qur’an, surat ar-rum ayat 21. Aku anggap ini isyarat dari Allah agar aku menikah. Keesokan harinya, sesuai janjiku pada pak Syihab aku memberikan jawabanku, bahwa aku menerima tawarannya. Jawabanku itu memberikan suasana haru pada pak Syihab dan keluarganya. Desa ini rasanya sudah seperti desa sendiri. Penduduknya sudah begitu melekat dalam hatiku. Begitu juga sebaliknya.

”Kalau begitu minggu besok aku akan kasih tahu putriku di Klaten untuk menyampaikan kabar bahagia ini. Sekalian aku suruh pulang untuk diadakan acara ta’aruf.” ujar pak Syihab dengan wajah sumringah.
**

Minggu yang dinanti itu telah tiba. Acara ta’aruf dihadiri oleh sanak saudara dari pihak putri pak Syihab dan pak Kyai Ali Albar serta beberapa santrinya untuk mewakili keluargaku. Pukul sembilan pagi semua telah kumpul di rumah pak Syihab. Aku lihat pak Kyai dan pak Syihab sedang mengobrol, serta yang lainnya pun demikian. Aku hanya bisa menunduk dan berfikir bahwa apakah aku sedang mimpi. Apakah ini semua nyata. Untuk memastikannya kupencet jempol kakiku. Aduh, sakit. Oh, astaghfirullah ternyata aku tidak mimpi. Semua orang yang ada di sekitarku nyata. Tapi…aku belum melihat gadis itu, seperti apa gerangan orangnya. Aku sudah pasrah dan yakin sama pak Syihab bahwa putrinya itu adalah wanita baik dan solehah. Masalah fisik, aku tidak begitu menghiraukan. Itu nomor sekian, yang penting agamanya. Begitulah yang diajarkan Rosulullah dalam memilih kriteria seorang istri.

Acara pun hendak dimulai. Semua yang ada di rumah itu disuruh ke ruang tengah.
“Wulan, keluarlah. Masnya sudah menunggu.” ujar pak Syihab dengan senyum.
Semua orang berbisik-bisik, entah apa yang mereka bisikan.

Hatiku berdegup kencang. Keringat dingin keluar bercucuran. Entah seperti apa mukaku ini. Aku tunduk. Aku tak berani mengangkat wajahku. Malu rasanya jika muka ini yang pucat karena grogi.

Wanita itu pun keluar. Dengan langkah pelan dan muka menunduk. Dia kemudian duduk dekat orang tuanya. Gadis itu persis duduk di depanku dengan jarak sekitar lima meter. Aku masih tak berani mengangkat wajahku. Wanita itu pun masih tunduk. Semua pada senyum-senyum. ’Ah, kalian berdua malu-malu kucing,’ pikir mereka mungkin seperti itu.

”Nak Dawam, ayo tatap calon istrimu itu!” ucap pak Kyai ِAli Albar.

”Kamu juga Wulan, jangan tunduk terus, coba lihat calon suamimu!” ujar pak Syihab.
Kuangkat pelan-pelan wajahku, begitu juga gadis itu. Saat mata kami beradu, kami sama-sama kaget. Subhanallah ... bukankah wanita itu yang pernah kutemui di bis jurusan Solo-Jogja. Ya, wanita yang saat itu membuat hatiku bergetar. Saat itu juga aku lagi melamun tentang pernikahanku dan tiba-tiba wanita itu ada di depanku menanyakan apakah kursi di sebelahku kosong. Lakal hamdu wa laka syukru. Hatiku berbunga-bunga. Perjalanan hidup menemukan belahan jiwaku begitu unik.

Wanita itu senyum padaku, senyum yang begitu menentramkan hati. Kulihat wajahnya putih bersih dengan bibir yang mungil dan tipis. Subhanallah, betapa indahnya dia. Benar sabda Rasul itu. Adakah rizki yang paling berharga melebihi istri solehah nan cantik?

Dalam hati aku tak henti-hentinya berucap syukur kepada Allah. Mungkin inilah buah dari keimanan kepada Allah, ketulusan dan keikhlasan hati dalam berbuat dan mengamalkan ilmu apa yang kita miliki.

Nikmat Tuhan mana yang kamu akan dustakan (S.Ar-Rahman:13)
***
*)untuk mengenang seseorang. Tuhan memberi kita kenangan. Sungguh betapa ajaibnya hidup ini.

Wanita itu Bernama Suci


Namanya Suci. Hanya itu. Aku tak tahu apa nama panjangnya. Bukan asli penduduk Yogyakarta. Katanya sih, ia berasal dari Boyolali, Jawa Tengah. Semenjak dulu kehidupannya yang loyal dan royal, seperti kehidupan sosialnya, perekonomiannya, pergaulan kesehariannya, pendidikannya, hobinya, sudah tak menarik lagi untuk diperbincangkan. Begitu pun dengan kecantikannya. Semua orang sudah paham itu semua.

Pergaulannya dengan lawan jenis, pendidikannya di AKBID, hobinya belanja, dan lain sebagainya dianggap biasa hingga saat ini jika memang ia masih berperilaku seperti itu. Tetapi kini ia membuat heboh teman-teman sekampusnya maupun para pelanggannya di counter HP yang ia jaga pada malam hari.

Tahu tidak apa yang membuatnya heboh? Yaitu ia mengenakan jilbab dan perilakunya yang santun.

Sejak ia bekerja di counter, tepatnya 1 tahun yang lalu pergaulannya semakin luas. Suci, mahasiswi tingkat akhir di AKBID yang sudah tidak terikat lagi dengan kuliah di dalam ruangan dan kegiatan di asrama memutuskan untuk bekerja di salah satu counter besar di Yogyakarta. Dan ia memilih shift malam. Pergaulan saat di asrama yang terkesan sempit, kaku, dan membosankan, terasa mendapat angin segar saat Suci bergaul di counter dengan para pelanggan dan pegawainya. Kecantikannya yang di atas rata-rata membuat ia percaya diri untuk bergaul dengan siapa pun.

Bermodalkan itu membuat ia tak lama untuk akrab dengan semua orang. Karena semuanya merasa senang saat ngobrol dengannya. Dan tak lama juga ia mendapatkan seorang kekasih.

Seorang pekerja di counter memang dituntut untuk menarik pelanggan, apalagi waktu itu counter-counter lain sudah menjambur di berbagai arah. Tuntutan itu membuat Suci ‘over acting’. Dia bukan hanya pintar menarik pelanggan untuk belanja di situ, tapi mereka juga betah dan mesti ingin belanja ke situ lagi. Begitulah Suci. Dia sudah terkenal dengan hal itu. Keterkenalannya semakin bertambah dan bercabang, yaitu ia sudah terkenal dengan gonta-ganti pacar. Bermodalkan cantik dan pandai menggoda, siapa sih lelaki yang tak bisa diperdaya? Mungkin hanya malaikat. Bulan kemarin ia berpacaran dengan si anu, bulan esok ia berpacaran dengan si itu, dan entah bulan lusanya, siapa yang akan jadi korbannya? Saat ditanya, “Suci, kenapa sih kamu suka gonta-ganti pacar, apa pacar kamu tidak baik?” Suci hanya menjawab dengan enteng, “Pacar itu seperti channel TV! Tidak suka acaranya, raih remotmu, dan ganti saluran.

Beres deh!” Begitulah dunia Suci. Adapun kekasihnya seperti tukang ojek yang sering antar-jemput dirinya antara Klaten dan Jogja.
* * *
Sekali lagi kukatakan, namanya Suci. Usianya 23 tahun. Asli Boyolali. Dia terlahir sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Kehidupan ekonomi orangtuanya yang lumayan waktu ia di bangku SMK, membuat ia tertarik dan dapat dukungan penuh dari orangtuanya, untuk kuliah di AKBID. Di awal-awal kuliah hingga semester 4, orangtuanya masih tak ada masalah untuk membiayai SPP dan biaya hidup dirinya. Namun, setelah 4 semester ke atas usaha orangtuanya mulai bangkrut, dan otomatis memacetkan pula untuk membiayai kuliah Suci. Biaya kuliahnya memang selangit, tak ada apa-apanya dibanding dengan kuliahku waktu S-1. Keadaan ekonomi orangtuanya dan keadaan kuliahnya yang sudah tidak ada mata kuliah lagi, cuma Tugas Akhir, membuat ia berpikir untuk bekerja. Sekitar 1 bulanan ia mencari kerja antara Klaten dan Jogja. Dan akhirnya ia mendapatkannya di Jogja.

Itulah awal mula mengapa ia harus bekerja sambil kuliah. Dengan bekerja, bukan saja ia dapat membiayai kuliahnya, tapi juga dapat mengirim uang ke orangtua dan adiknya yang masih sekolah di SMU. Kisah di atas aku dapatkan dari orangnya langsung saat 3 bulan yang lalu. Ia menceritakan itu semua padaku dengan air mata yang terus bercucuran. Penderitaan dan penyesalan atas apa yang dialaminya dulu semenjak awal-awal di counter membuat ia selalu menangis.

Adalah sebuah hal luar biasa melihat perubahan yang begitu drastis dalam diri Suci. Sungguh tidak mudah merubah kebiasaan yang telah melekat begitu lama, apalagi semua orang sudah mengetahui dan terlanjur mengecapnya. Gosip demi gosip, cerita demi cerita, dan omongan demi omongan tentang dirinya sudah sangat menggelisahkan dirinya. Ia bercerita padaku bahwa ia gelisah dan panas saat orang melihat perubahan dirinya.

Banyak orang bilang, “Suci sekarang sok alim”, “Suci sok muna..”, dan yang semacamnya. Kata-kata itulah yang membuat ia mudah goyah antara keinginan untuk berubah dengan tidak. Ia sering meminta nasihatku dan pendapatku. Waktu aku memberi saran, jika ingin berubah dan tenang dia harus hijrah. Dalam artian, jika ingin berubah ia harus cari lingkungan kerja yang baru, yang mendukung dengan perubahannya itu. Tapi ternyata itu tak mudah baginya, karena berarti ia harus mencari pekerjaan baru. Masalahnya lagi, aku tak bisa mencarikan pekerjaan baru itu.

Aku malu. Ya, aku sangat malu pada Suci dan diriku sendiri yang tidak bisa membantunya. Aku sok sibuk dengan pekerjaanku, yaitu kuliah di pascasarjana ini. Aku menganggap kuliah S-2 ini sebagai pekerjaan karena memang aku digaji oleh kampus, alias mendapat beasiswa. Aku sibuk dengan teman-temanku yang katanya intelek, dan calon cendekiawan, sibuk menulis makalah-makalah, berdiskusi, makan-makan sambil mengadakan bedah buku, dan yang semacamnya. Kami, tepatnya sih aku, melupakan bahkan menutup mata atas realitas yang terjadi di sekelilingku, yang sesungguhnya banyak memohon bantuan dari kami. Salah satunya adalah masalah yang dihadapi Suci, yang terbentur dengan keadaan yang kontradiktif. Satu sisi ia ingin mengubah masa lalunya, namun satu sisi ia tidak kehilangan pekerjaannya. Bagaimana aku harus bersikap?
Masalah Suci adalah masalah kehidupan orang banyak, bahkan banyak yang lebih parah dari dirinya: wanita, keinginan untuk selesai kuliah, dan orangtuanya tidak punya biaya. Begitulah awal kasus semua wanita ‘nakal’. Apalagi di kota-kota besar, semisal Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tentu lebih parah lagi. Aku tak ingin Suci seperti itu. Namun ironisnya banyak orang tidak begitu memerhatikan dan tidak ambil pusing masalah ini. Sikap individualisme dan nafsi-nafsi begitu merasuki jiwa-jiwa kita, mudah-mudahan aku tidak termasuk seperti itu.
* * *

Entah kenapa aku ingin selalu mengucapkannya, bahwa wanita itu bernama Suci. Tidak, aku tidak bosan mengucapnya sampai kapan pun. Apalagi sekarang ia mulai mantap memakai jilbab, dan tetap dengan pendiriannya menjadi muslimah kaffah. Tidak mudah baginya untuk memutuskan sebuah ketetapan. Jika ia tetap bertahan dengan jilbabnya dan meninggalkan pekerjaannya detik itu juga, sama saja dengan bunuh diri. Sebab mencari lowongan pekerjaan teramat susahnya zaman sekarang, bagaimana ia bisa membiayai kuliahnya yang hanya sebentar lagi? Untuk sementara ia akan bekerja di situ sambil berjilbab, dan menunggu jawaban lamaran pekerjaan, walau ia akan didera seribu topan badai cemoohan dan ejekan. Suatu saat ia akan pergi dan tidak mau lagi menjadi sumber fitnah. Ada sesungguhnya keinginan untuk menunda pemakaian jilbabnya sampai ada kabar ia diterima di tempat kerja yang lain yang mendukung perubahannya dan agar terjaga keistiqomahannya, tetapi sampai kapan ia menunggu? Sementara ia selalu dingiangi bisikan-bisikan tentang buruknya su’ul khotimah, selain gelayutan rasa penuh dosa di masa-masa silamnya yang mendesak-desak keinginan untuk memakai jilbab secepatnya. Paling tidak dengan jilbab, membuat ia selalu terjaga.

Sebenarnya ada tawaran bekerja di TPA,tetapi entah mengapa ditolaknya. Tidak sreg karena ilmu agamanya belum matang, sebab ia sendiri baru belajar Islam dengan benar, begitu alasannya. Lagi pula ia tidak pantas institusi keagamaan diajar oleh mahasiswi AKBID. Tidak nyambung, katanya. Dan ia pun sudah memasukkan beberapa lamaran ke beberapa Rumah Sakit maupun Rumah Bersalin, tetapi mereka meminta ia lulus dulu, baru bisa diterima bekerja di situ. Akhirnya, Suci pasrah.
* * *

Suci, aku mengenalnya sudah seitar 6 bulanan. Awal pertemuanku di Bis Solo-Jogja, ketika aku dari UMS menghadiri seminar pendidikan. Pertemuan yang tidak disengaja namun mengesankan. Entah mengapa, obrolan kami begitu nyambung dan terbuka satu sama lain. Kami saling percaya atas apa yang dibicarakan. Melihat aku orangnya bisa dipecaya, dan tahu kalau aku kuliah di UIN (Universitas Islam Negeri) Yogyakarta, dia pun membuka diri, atau istilah gaulnya ‘curhat’ mengenai kehidupan pribadinya. Cara menyimak dan memberikan saran padanya, membuat dia ingin lebih kenal dekat denganku, terutama tentang masalah keislaman. Itulah awal mula perkenalanku dengannya. Saat ia kerja di Jogja, sesekali aku pun sering mampir di tempat kerjanya. Semua kehidupannya telah kuketahui.

Harus aku akui, ia memang gadis yang cantik, wajahnya bersih bersinar, matanya indah bulat, dan bibirnya tipis. Kecantikannya semakin sempurna tatkala ia memakai jilbab dan tingkah lakunya yang sopan dan anggun. Ya, semenjak memakai jilbab ia begitu tahu sopan santun dan mengerti norma-norma. Ah, ia memang sudah ‘hanif’ dan ‘kaffah’ saat ini. Sungguh beruntunglah jika ada lelaki yang dapat menjadi suami baginya.
* * *

Alhamdulillah, kini ia sudah lulus kuliah dan bekerja di RB Klaten. Dan kemarin, saat aku selesai tahajud, ia mengirim sms kepadaku. “Mas, demi menjaga imanku, dan demi menyempurnakan agamaku, aku ingin segera menunaikan sunnah rosul yang mulia ini dan berlipat ganjarannya… Aku ingin menikah, mas.”
Lalu ku balas sms-nya.

“Suci, hatimu sudah dipenuhi cahaya Ilahi. Syukurlah, aku mendukung keinginanmu. Semoga jeng Suci segera dapat jodohnya.”

Sesaat setelah aku mengirim sms di atas. Tak lama ia membalasnya, sms-nya membuatku tercenung dan tak tahu harus menjawab apa. Sms itu berbunyi,

“Mas, aku ingin menikah dengan mas”. ***

Puisi Abadi


“Seorang guru yang bisa membangkitkan sebuah perasaan untuk berbuat satu kebaikan, untuk menciptakan satu puisi indah, menghasilkan lebih banyak daripada seorang guru yang memenuhi kenangan kita dengan berderet-deret benda nyata, yang digolongkan berdasarkan nama dan bentuk.”
(John Wolfgang Von Goethe)

Aduh, bagaimana ini. Aku grogi bukan main. Kenapa aku menjadi salah tingkah begini, saat pak Dawam menghampiriku. Ia hendak mengembalikan tugas kami, yaitu puisi yang kami buat. Aku tak sabar ingin melihat nilaiku. Harap-harap cemas saat aku hendak melihatnya. Jangan-jangan nilaiku jelek.

Padahal aku sudah berusaha mati-matian membuatnya. Aku bekerja ekstra keras membuat kumpulan puisiku, berbaring di ranjangku setiap malam selama satu bulan, dengan cermat mengukir kata-kataku supaya setiap puisi menyanyi, menari, dan mengalir. Seminggu yang lalu kami disuruh mengumpulkan puisi tersebut. Dan saat ini adalah pengembalian puisinya dengan disertai catatan, komentar dan nilainya.
* * *

Pak Dawam adalah seorang dosen di bidang sastra. Ia sangat cerdas dan bersemangat. Aku sedikit jatuh hati padanya. Selain kedua hal itu, ada satu lagi yang menjadikannya sempurna di mataku, yaitu cara mengajarnya yang luar biasa berwibawa dan berkesan. Aku yakin, ini bukan hanya menurutku saja, teman-temanku yang lain juga bicara seperti itu. Aku sering duduk di belakang jika pada saat jam mata kuliah pak Dawam. Aku malu, walau sebenarnya aku ingin ia memperhatikanku. Ah, aku ini memang mahasiswi yang aneh.

Aku ingin menceritakan beberapa pengalaman yang berkesan pada saat mata kuliah pak Dawam, dimana pertemuan itu adalah awal aku menyukai dunia puisi.
Pengalaman pertama, yaitu saat kami membahas puisi cinta karya Sapardi Djoko Damono. Tak disangka waktu itu tiba-tiba pak Dawam menyuruhku membaca puisi itu. Kontan saja aku kaget, mengapa ia memilihku untuk membacanya padahal aku duduk di belakang? Keringat dingin mulai bercucuran, dan tangan gemetaran. Puisi itu puisi cinta, dan aku tak bisa mengelak untuk membayangkan siapa kekasih itu. Sebelum aku membacanya ia berpesan bahwa agar puisi itu bisa dijiwai maka aku harus membayangkan untuk siapa puisi itu. Teman-teman menyorakiku. Sesaat setelah hening aku pun mulai membacanya dengan sangat memalukan. ”A...a...ku i..nginn mencin...taimu. Aduh pak, aku tak bisa” ujarku. Aku sungguh memalukan melakukan hal sekonyol itu. Semuanya menertawakanku.

Pak Dawam hanya tersenyum. Setelah kelas mulai reda, pak Dawam kemudian memberi contoh bagaimana cara menghayati sebuah puisi. Dia pun membacanya dengan sangat indah.
”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tidak sempat disampaikan awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada”

Ketika selesai membacanya semua mahasiswa bertepuk tangan. Luar biasa. Aku terasa di awang-awang saat pak Dawam membaca puisi itu, seolah-olah puisi itu ditujukan ke aku. Suaranya terdengar sejuk saat mengucapkan puisi tersebut. Lalu aku berandai-andai. Ah, andai saja...

Pengalaman berkesan kedua adalah saat ia menjelaskan karya Khalil Gibran, yaitu Sayap-Sayap Patah, sebuah penjelasan tentang cinta sejati. Aku terpukau dan terpesona dengan paparan pak Dawam.

”Cinta sejati adalah melakukan pengorbanan untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Itulah yang dipraktekkan Gibran kepada Salma dalam karyanya Sayap-Sayap Patah. Dalam bab 8 bisa kita lihat, bahwa Gibran meminta kepada Salma, yang mengetahui bahwa dia telah menikah dengan keponakan seorang pendeta, untuk terbang bersamanya ke negara lain sekalipun mungkin akan mendapat dakwaan dari pendeta. Namun, Salma menolak halus tawaran Gibran. Dia mengungkapkan ketidakegoisannya:

’Cinta hanya mengajarkan kepadaku untuk melindungimu bahkan dari aku sendiri. Adalah cinta, yang bebas dari api, yang menahanku dari mengikutimu pergi ke tempat yang jauh. Cinta membunuh hasratku sehingga engkau bisa hidup bebas dan benar. Cinta yang tak terbatas mencari kepemilikan dari orang yang dicintai, namun cinta yang terbatas hanya mencari dirinya!’

Oleh karena itu, mahasiswaku semua, belajarlah dari Salma, yang mengorbankan dirinya demi sang pencinta. Salma ini sesuai dengan definisi yang diberikan Leibniz, seorang filosof abad 18, ’Amorae est gaudere felicitate alterius’ (bahwa mencintai adalah mengupayakan kebahagiaan orang yang dicintainya).”

Begitulah penjelasan pak Dawam. Dan sejak saat itu aku begitu menyukai puisi. Banyak karya-karya puisi para tokoh, terutama dari Indonesia aku baca. Lalu lama kelamaan aku sering membuat sendiri. Dan kupikir bagus juga puisi buatanku. Sejak saat itu aku selalu semangat mengikuti kuliah pak Dawam. Menyukai dosen dan mata kuliahnya adalah dua hal yang jarang sebetulnya aku alami. Jika ada tugas dari pak Dawam aku selalu senang. Dan aku adalah orang yang selalu pertama kali yang mengumpulkan tugasnya di mejanya.

Aku sering bereksperimen menulis puisi dengan susunan yang tak biasa. Karena aku rada bosan dengan gaya-gaya yang monoton yang sering kubaca. Keseringan bereksperimen aku malah keranjingan menulis dengan gaya itu. Dan hasilnya, 2 puisi yang kujadikan tugas pertengahan semester mata kuliah ini adalah hasil eksperimen aku. Aku yakin tidak bakalan ada kedua puisiku ini sama gayanya dengan teman-teman lainnya. Aku jamin itu. Aku menulis puisi ini pada tengah malam saat hatiku terasa sepi. Kuberi judul puisi itu dengan Pada Mulanya Sepi. Inilah bait-baitnya:
Tuhan
Sepi
Tuhan tak mau sepi
Adam jadi
Adam tak mau sepi
Hawa tiba

Kau sepi
Kau tak mau sepi
Aku ada

Aku sepi
Aku tak mau sepi
Kau ada

Jadi dari sepi
Tiba dari sepi
Ada dari sepi
Ada dalam sepi
Kau dan aku
Bertemu
Membagi sepi

Sepi tak bertemu
Sepi tak terbagi
Sepi tak bertepi
Sepi yang sunyi
Sepi yang asasi
Sepi yang aku
Sepi yang aku
Sepi nya kau
Sepi nya kau
K a u
K a u
A ku
Aku

Sedang puisi kedua kubuat ketika banyak persoalan hidup kuadukan pada Tuhan. Judul puisi itu Jadi .
Tidak setiap derita jadi luka
Tidak setiap sepi jadi duri
Tidak setiap tanda jadi makna
Tidak setiap tanya jadi ragu
Tidak setiap jawab jadi sebab
Tidak setiap seru jadi mau
Tidak setiap tangan jadi pegang
Tidak setiap kabar jadi tahu
Tidak setiap luka jadi kaca
Memandang kau
Pada wajahku!

Sungguh, aku merasa puas dengan karyaku itu. Saat ini karyaku yang kujadikan tugas mata kuliah hendak diserahkan kembali kepadaku. Untuk dilihat nilainya. Aku merasa sangat yakin dapat nilai bagus. Aku lihat bisikan dan tawa teman-teman ketika mereka saling memperlihatkan nilainya. Sebagaimana yang sudah kukatakan bahwa pak Dawam bukan hanya mencantumkan nilainya tapi juga menuliskan komentar di samping nilai kami. Aku tak sabar ingin tahu apa pendapatnya tentang puisiku itu.
Jantungku berdebar kencang ketika aku membuka sampul tugasku itu untuk melihat nilaiku. Dan di sanalah di bagian atas halaman—sebuah huruf C. Tidak ada kata-kata, tidak ada penjelasan, hanya huruf C, dalam tinta biru. Tubuhku disengat rasa panas. Aku hampir tak bisa bernapas. Aku harus protes. Ya, aku harus mengadu mengapa aku dapat nilai C. Nanti, setelah semuanya keluar.

Tak lama teman-teman kemudian keluar kelas. Ku hampiri pak Dawam yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. ”Permisi pak, ada yang mau saya tanyakan. Saya mendapat nilai C, kira-kira dimana letak kejelekan kedua puisi saya itu?” tanya aku.
”Puisimu itu seperti bukan hasil karyamu. Terlalu bagus bagi penulis pemula. Selain itu, puisimu itu menyimpang dari kaidah-kaidah sastra.” jawab pak Dawam dengan dingin.

Aku tak mengatakan apa-apa lagi. Aku langsung pergi meninggalkan pak Dawam. Sungguh alasan yang tak masuk akal. Bagaimana bisa ia menuduhku bahwa puisiku itu bukan hasil pikiranku. Aku camkan dalam hati, inilah awal kebencianku pada pak Dawam. Kalau dulu aku mengaguminya, sekarang berubah 360 derajat, aku membencinya. Sejak saat itu aku sering menghindar jika aku hendak berpapasan dengannya di kampus. Dan parahnya lagi, aku sudah 2 kali pertemuan tidak masuk mata kuliahnya. Lewat teman-temanku, pak Dawam menanyakan aku, mengapa tidak pernah masuk.

Di kamar saat hendak menulis puisi, tiba-tiba ingat dosen itu. Aku pun tak jadi menulis. Sungguh betapa besar efek kejadian itu pada diriku. Aku jadi benci menulis puisi yang tadinya aku mulai suka. Bagiku, nilai C itu sangat rendah. Tak pernah ada tugas mata kuliah yang kudapatkan nilai C. Paling kecil B. Nilai C adalah istilah dari ’Celaka’, ’Celaan’, ’Cobaan’, dan ’Cacingan’ barangkali.
Tapi, sebentar... sepertinya ada yang salah denganku. Sebuah pikiran dari sudut lain melintas dalam benakku. Jika pak Dawam menganggapnya itu bukan karyaku, berarti puisi-puisiku sangat bagus. Bahkan dia sendiri mengatakan, terlalu bagus bagi penulis pemula, katanya. Wah, sungguh ajaib. Aku berarti punya bakat dalam menulis. Tiba-tiba saja aku diliputi perasaan mampu yang sangat besar.

Orangtuaku selalu mempercayai kemampuanku dan mengatakan bahwa aku bisa menjadi apapun yang kuinginkan, dan kurasa karena itu aku jadi agak mempercayai diriku sendiri. Tapi kali ini lain. Inilah pertama kalinya seseorang yang bukan anggota keluargaku memberitahuku bahwa aku berbakat. Aku yakin pak Dawam tidak bermaksud mengatakan itu. Dan sejak saat itu, nilai C itu merupakan singkatan dari ’Confidence’ (keyakinan).

Saat aku masuk ke kelasnya lagi, pak Dawam menyuruhku untuk ke mejanya setelah selesai materi. Dia ingin tahu alasan aku tidak masuk. Aku pun menceritakan seadanya. Bahwa saat aku mendapatkan nilai C untuk tugas pembuatan puisi itu, jelas aku kecewa dan benci dengannya. Benci karena alasan yang tak masuk akal. Namun aku kemudian sadar, bahwa ada hikmah di situ, ada suatu pesan tersembunyi dari alasan yang tak logis itu. Mendengar penjelasanku pak Dawam tersenyum.

”Sudah kuduga, kamu pasti akan menyadari hal itu. Ulin, aku ingin katakan padamu, bahwa kamu punya bakat dalam menulis puisi. Puisimu begitu indah dan berpotensi mempunyai aliran baru. Aku memberi nilai C agar kamu terus menulis puisi, agar kamu terus melakukan kreatifitas. Aku kuatir jika kuberi nilai A, kamu akan merasa puas, bangga, dan tidak mau lagi menulis puisi. Aku tak ingin kamu seperti penyair Prancis Sully Prudhomme, pemenang nobel sastra pertama pada tahun 1901, setelah mendapat penghargaan ia tidak banyak mencipta puisi lagi. Itulah rahasia mengapa aku memberi nilai C buatmu. Teruslah menulis, aku yakin itu akan bermanfaat buatmu, bahkan buat semua orang sepanjang hayat kamu!”

Kata-kata pak Dawam begitu menggugah. Aku seperti tersengat aliran listrik. Akan kuingat terus kata-kata pak Dawam tersebut sampai kapan pun. Apa pun profesiku kelak, aku tak akan meninggalkan dunia puisi. Akan kutulis puisi sebanyak-banyaknya. Bukan hanya karena bakat, tapi karena sebagai panggilan hidup dan juga persembahanku pada pak Dawam.

Saat aku telah diwisuda, dan dalam fase hidupku selanjutnya beberapa tahun ke depan aku sudah bekerja di sebuah Rumah Sakit. Saat bekerja di RS itu, aku masih tetap menulis puisi. Puisiku sudah sering dimuat di koran-koran dan majalah-majalah. Selain menambah pemasukan, aku pun merasakan kepuasan yang luar biasa dalam hidupku. Dan tentu saja puisi-puisi itu mengabadikan sosok pak Dawam yang begitu melekat dalam hatiku. Ia telah menjadi ilham rahasiaku, meskipun ia tidak menyadari apa yang telah ia lakukan. Pak Dawam mungkin bukan hanya sebagai dosen tetapi juga seorang inspirator dan pembawa perubahan yang besar bagiku. Ah, aku jadi malu bila mengingat saat aku naksir sama dia, ehmm...
* * *

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Pak Dawam telah meninggal. Seorang teman memberi tahuku. Aku sedih. Air mataku bercucuran. Ini adalah kabar pertama kuketahui semenjak lulus kuliah tentang pak Dawam. Dan ini pula ternyata kabar terakhir yang hendak kuterima mengenai dirinya. Sungguh memilukan. Kabar ini benar-benar membuatku terpukul. Keinginanku untuk memberikan hadiah berupa karyaku di ultah perkawinan pak Dawam tidak kesampaian. Untuk pertama dan terakhir, aku akan ke rumahnya, ta’ziyah. Sebagai penghormatan terakhir padanya. Aku pun minta alamatnya kepada temanku. Keesokan harinya aku pergi menuju rumahnya.

Tak sulit untuk menemukan rumah keluarga pak Dawam. Rumahnya begitu sepi. Sudah tidak ada lagi yang melakukan ta’ziyah. Di rumah itu hanya ada istrinya. Kuperkenalkan diriku pada bu Dawam, dan aku mengucapkan belasungkawa atas meninggal suaminya. Ia mengucapkan terima kasih banyak sudah datang dan mohon dimaafkan jika ada kesalahan yang dilakukan mendiang suaminya saat dia masih mengajar. Mata bu Dawam berkaca-kaca, penuh dengan air mata yang hendak jatuh ke pipinya. Tak lama air mata itu tak terbendung lagi, dan mulai berjatuhan tetes demi tetes. Ah, ingin rasanya aku mengusap air mata itu. Tapi, aku tahan. Aku hanya memegang tangannya, sebagai isyarat bahwa ibu itu harus sabar dan lapang dada. Terus aku tanya sebelum pak Dawam meninggal dia mengidap penyakit apa. Dia pun menceritakan semuanya, bahwa dia mengidap penyakit tipes yang sudah akut. Dia dirawat di RS sekitar 2 minggu, lalu ketika semakin baik, dia dibawa pulang dengan rawat jalan.

”Sekitar 3 hari di rumah semenjak dari Rumah Sakit, penyakitnya seperti sudah mau sembuh. Aku mulai senang. Namun ternyata perkiraanku salah. Keesokan harinya ketika selesai shalat subuh, suamiku dijemput yang Maha Kuasa. Sungguh tak disangka. Mungkin sudah waktunya kali ya.” ucap bu Dawam sedikit bergetar suaranya.

”Begitulah bu kalau Tuhan sudah berkehendak. Dan saya yakin Tuhan menyayangi pak Dawam. Hal itu bisa kita lihat dengan cara melihat kematiannya, yaitu usai shalat subuh.”

”Aku pun berpikir seperti itu. Kematiannya begitu tenang dan ringan. Oh iya ada yang belum aku ceritakan pada nak Ulin. Ketika selesai shalat subuh, ia ingin rebahan sebentar. Saat rebahan itu ia membaca tulisan yang ada di beberapa kertas. Aku tanya apa yang sedang dibacanya, dan ternyata puisi. Kalau tak salah ada dua puisi. Ya, dua puisi yang begitu indah. Terus, ia memintaku untuk membacakan puisi itu untuknya.

Dengan suara pelan dan penuh penjiwaan ku baca puisi itu. Memang, kedua puisi itu begitu indah. Aku pun terpesona dibuatnya. Terus aku tanya Bapakkah yang membuatnya. Dia menggeleng lalu tersenyum. Hanya itu. Setelah itu matanya terpejam, dan ternyata terpejam untuk selama-lamanya.”

Mendengar cerita bu Dawam aku tercengang. Pak Dawam sungguh luar biasa. Aku sangat kagum padanya. Kekaguman yang sesungguhnya sejak dari dulu, sejak di bangku kuliah. Ia begitu mencintai puisi, sampai saat sebelum kematian menjemputnya ia masih sempat ingin dibacakan puisi.

”Kalau boleh tahu, kedua puisi itu boleh saya lihat bu?” tanyaku, karena penasaran puisi seperti apa yang membuat pak Dawam ingin membacanya sebelum ia meninggal.
”Boleh. Saya ambilkan dulu di kamar” jawab bu Dawam sembari berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Tak lama ia datang.

”Ini kedua puisi itu. Kertasnya sudah agak buram. Sepertinya ditulis beberapa tahun yang lalu. Sampai sekarang ibu belum yakin pak Dawam sendiri yang menulis kedua puisi itu.”

Bu dawam lalu menyerahkan kedua puisi itu. Alangkah kagetnya saat aku baca kedua puisi itu. Puisi itu adalah puisiku yang dulu kuberikan sebagai tugas mata kuliah sastra. Pak Dawam ternyata masih menyimpannya dengan baik. Dan yang membuatku takjub adalah dia membacanya di saat-saat ajalnya telah tiba. Itu artinya, ia masih mengingatku.

Bu Dawam terheran-heran melihat ekspresiku saat melihat puisi itu.
”Nak Ulin, ada apa? Apa nak Ulin kenal siapa yang membuat kedua puisi itu?” tanya bu Dawam.

Aku menatap teduh bu Dawam, lalu kugelengkan kepala sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis yang pernah kulakukan. ***