Kamis, 11 September 2008

Menjadi Dosen Yang Berselera Rakyat


Sedih. Sebuah kata yang patut kulontarkan saat aku hendak menggambarkan beberapa kenyataan di bawah ini, menyangkut perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa.

Aku sedih jika melihat sebuah perguruan tinggi yang tidak punya perpustakaan, atau punya perpustakaan tapi tidak layak dan mencukupi kebutuhan mahasiswanya. Aku sedih melihat para dosen yang tidak menulis; yang tidak mampu menyempatkan diri untuk menulis. Sedih pula melihat para mahasiswa yang tidak fokus pada studinya. Kebanyakan mereka hanya duduk manis, mendengar omongan dosen, mencuri-curi waktu untuk mengobrol dengan teman-temannya yang ada di sampingnya. Atau pula sibuk dengan lamunannya masing-masing.


Tapi, dari ketiga elemen itu, hal yang patut aku soroti adalah dosen. Alasan logisnya, hal ini lantaran menyangkut diri saya sendiri sebagai seorang pengajar. Karena dari dosenlah kedua elemen lain akan ikut kena sebabnya. Bagiku, seorang dosen haruslah menjadi teladan dan profesional. Dengan begitu pihak kampus maupun mahasiswa akan respek padanya. Saya ingin mengemukakan beberapa contoh prihal masalah ini.

Ada para dosen di salah satu kampus di Magelang yang yang menugasi mahasiswanya untuk membuat makalah. Saya tidak tahu apakah para dosen itu mengerti apa tidak tentang kondisi kampusnya dan mahasiswanya. Mestinya, seorang dosen menawarkan terlebih dahulu disepakati atau tidak untuk membuat makalah. Kalau disepakati, tentu tidak masalah. Jika tidak, tentu ini namanya memaksakan kehendak.

Saya sendiri tidak memaksa mereka untuk membuat makalah. Karena saya tahu kondisi kampus dan mahasiswanya. Boleh dikata, kampus tersebut tidak ada perpustakaannya. Katanya sih memang ada, tapi hanya satu lemari (baju) saja. Dan itu pun tidak pernah dibuka, aliasan dikunci, bahkan (mungkin) tidak dipinjamkan. Selain itu, kondisi mahasiswanya juga kurang memungkinkan, kebanyakan di antara mereka tempat tinggalnya di pelosok-pelosok Magelang, berkeluarga, dan berprofesi sebagai guru (SMA, MTs, SDS/MI). Keadaan itu tentu sangat berat untuk membuat makalah yang memerlukan pemikiran, fasilitas komputer, perpustakaan, internet, bahkan waktu juga.

Maka, alangkah bijaknya jika para dosen mengganti tugas pembuatan makalah pada mahasiswanya dengan tugas lain, yang relatif terjangkau.

Wallahu a'lam.

Minggu, 07 September 2008

Mendadak (Jadi) Ustadz

(Mohon maaf tidak ada foto aku yang lagi ceramah.. jadinya kucomot aja foto Uje, gak jauh-jauh amat lah cakepnya:D)

Entah bagaimana tadinya, tiba-tiba saja bulan puasa kali ini aku banyak "orderan" mengisi ceramah di beberapa mesjid, mulai dari sebelum tarawih, setelah shubuh, dan menjelang buka puasa. Tentu saja, hal ini patut aku syukuri, paling tidak untuk dua hal: Mengasah mental bicara di depan umum, dan mendapat bayaran.

Tapi, terus terang dan harus aku akui, aku belum biasa untuk berceramah di khalayak luas (baca: jama'ah mesjid). Boleh dikata, aku enggak bakat mengkhutbahi orang, apalagi sampai berbusa-busa. Walau beberapa kali sebelum puasa ini aku juga pernah beberapa kali menceramahi para jama'ah, tepatnya puasa pada tahun lalu, mengisi ceramah shubuh dan tarawih—plus imam shalatnya, khutbah jum'at, bahkan pula pernah menjadi penceramah Idul Fitri di kampungku.

Ah, tapi tetap saja aku selalu merasa tidak biasa menceramahi orang.

Ketidakbiasaanku itu membuat aku sering berpikir materi apa yang mesti kusampaikan pada jama'ah? Dan seingatku aku tidak pernah memberi doktrin-doktrin yang menyerempet pada hitam-putih pada jama'ah. Biasanya, aku lebih banyak menyampaikan suatu kisah-kisah yang sederhana kemudian disampaikan pula beberapa pesan dan pelajaran dari kisah tersebut. Dengan cara seperti itu, aku berharap para jama'ah tidak merasa digurui olehku. Biarkanlah setiap individu mendapatkan kesannya masing-masing lewat kisah-kisah yang kusampaikan itu. Dan aku pun tak pernah berlama-lama berceramah.

Sebenarnya metodeku ini berangkat dari pengalaman saat aku menjadi salah satu jama'ah. Katakanlah jama'ah shalat jum'at. Aku sering menggerutu sendiri, kok bisa-bisanya para penceramah tidak tahu psikologi jama'ahnya. Telingaku dipaksa untuk mendengarkan ocehan-ocehan mereka tentang doktrin-doktrin islam yang cenderung pada fiqh-sentris, memojokkan hal-hal yang mereka tidak sukai, dst. Setelah itu dengan PD-nya mereka berkoar-koar dengan begitu lama. Lamaaa…banget. Padahal ceramah itu berdurasi setengah jam, tapi kayak setengah hari. Dus, untuk tidak mengatakan pembodohan dan "penyesatan", para penceramah seperti itu sebetulnya sangat tidak mendidik jama'ahnya. (lho, mengapa tulisan ini jadi mencerca begini ya, aku harus buru-buru mengucapkan istighfar agar tidak menodai puasaku. Astaghfirullah...

Ok, kembali pada jalan yang benar. Lain halnya denganku sebagai ustadz dadakan dan freelance, temanku, Munawir, yang sudah dicap ustadz sejak lama oleh teman-teman, benar-benar berprofesi ustadz, tentu selain dosen juga. Dia sudah terbiasa menceramahi orang. Dan harus kuakui dia memang pandai menyampaikan materi-materinya, baik yang sederhana maupun yang besar sekalipun. Aku bisa membayangkan, di luar Ramadhan saja dia sudah banyak undangan untuk mengisi ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian, apalagi di bulan ramadhan, seperti ini. Menariknya lagi, kalau kita lihat honornya. Haqqul yaqin, semua yang mengundang ceramah hampir dipastikan memberi amplop. Tentu saja di dalam amplop ada isinya yang berisi uang. Katakanlah paling kecil 20 ribu rupiah. Setahuku itu honor paling kecil lho, dan jarang ada yang melakukannya. Jika satu bulan ada 10 kali mengisi pengajian atau ceramah, maka penceramah dapat mengisi kantongnya 200 ribu rupiah. Aku kira temanku itu lebih dari 10 kali dalam satu bulan, apalagi di bulan puasa seperti ini. Dan, aku tidak yakin setiap satu pengajian dia mendapat 20 ribu rupiah. Pasti lebih dari itu.

Mungkin pembaca dapat membayangkan dan menduga-duga setelah aku ceritakan di bawah ini tentang temanku itu. Hari itu hari jum'at di bulan agustus, dia datang ke kostku dengan membawa 2 kotak kardus yang isinya snack. Katanya dia habis mengisi pengajian rutinnya yang lumayan sudah lama, kira-kira 2 tahunan. Ketika aku buka kotak tersebut, snack-nya luar biasa mewah. Di dalamnya ada beberapa macam kue. Mulai yang manis hingga yang asin. Ada roti, bolu, agar, kacang telor, dll. Dan, jenis semua makanan yang kuabsen itu terbilang mahal. Dan hal itu sangat pantas saat dia bercerita kalau jama'ahnya adalah kalangan menengah ke atas. Mungkin semi-executive kali ya.

Lantas, sambil makan roti dan disusul makan agar, aku berpikir, snack-nya saja sudah mewah kayak gini, bagaimana ya dengan honornya? Hmm… menarik juga ya jadi penceramah.

Sabtu, 06 September 2008

Kontribusi Penerjemah Di Zaman Keemasan Islam


Salah satu hal yang paling signifikan dalam zaman keemasan Islam adalah ilmu pengetahuan, di mana pada waktu itu semua ilmu pengetahuan telah dikuasai dengan baik, di antaranya dalam hal sain, filsafat, kedokteran, maupun sastra.

Hal yang paling penting untuk dipertanyakan kemudian adalah mengapa sebegitu maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan pada masa itu? Faktor-faktor apa saja yang bisa memunculkan potensi keemasan Islam pada zaman tersebut? Pertanyaan inilah yang akan saya coba menjawabnya melalui tulisan ini.

Kekhalifahan Abbasiyah
Kemunculan khalifah Abbasiyah pada masa pertengahan abad kedelapan menandai dimulainya era budaya dan ilmiah yang bukan hanya untuk Islam saja, tetapi juga untuk umat manusia, sebuah masa di mana kegiatan belajar dan kegiatan ilmiah tumbuh dengan intensif. Dengan berlangsungnya penaklukan-penaklukan teritorial, maka tersedialah sumber-sumber daya (baik SDA mapun SDM) yang memadai bagi orang-orang Arab.

Ketika akademi Plato ditutup tahun 529 M, banyak sarjana Yunani yang pergi ke Persia. Dan satu abad kemudian, pengetahuan Yunani yang tumbuh di sana menjadi bagian dari kekuasaan Islam. Arab telah membangun hubungan dengan Byzantium-Yunani. Bahkan salah seorang khalifah Abbasiyah, yaitu al-Ma’mun, membuat sebuah syarat perjanjian perdamaian dengan kaisar Byzantium bahwa beberapa naskah Yunani harus diserahkan ke Ibu kota Kerajaannya.

Mesir, yaitu sebagai pusat pengetahuan Yunani pada zaman Alexandria, juga telah berada di bawah kekuasaan muslim. Jadi, bekas pengetahuan Yunani yang masih ada disumbangkan pada aktifitas intelektual. Di samping itu, sarjana Syiria di Antiokia, Emesa, dan Damaskus maupun Edesa, pusat-pusat penyimpanan ilmu pengetahuan Yunani semua berada di bawah kekuasaan bangsa Arab. Secara keseluruhan, bangsa Arab telah mengendalikan atau memiliki akses terhadap budaya kekaisaran Byzantium, Mesir, Syiria, Persia, dan India.

Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad menjadi patron besar dalam ilmu pengetahuan dan mengundang para ahli ke istana, tanpa menghiraukan kebangsaan atau agama mereka. Karakteristik aktifitas intelektual yang unik selama periode Islam adalah pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya terbatas di kalangan para imam.

Demikian pula, ilmu pengetahuan tidak menjadi hak istimewa para raja. Pendidikan yang diperuntukkan pada pengolahan kebenaran dan pengetahuan tetap dapat dimasuki oleh semua strata yang berbeda dalam masyarakat Islam.

Dalam hal inilah penghargaan patut diberikan bagi penguasa muslim sesudah periode penaklukan, mereka bersikap terbuka terhadap seluruh masyarakat. Sekitar tahun 772 M, istana khalifah al-Mansur dikunjungi oleh seorang astronomi Hindu dari Sind yang memberinya sebuah tabel astronomi. Semenjak itulah ilmu astronomi mulai bergejolak dipelajari.

Baghdad tumbuh sebagai pusat perdagangan dan intelektual selama peradaban Islam. Dalam kurun waktu yang dimulai tahun 750 M, ilmu-ilmu pasti diolah di sekitar ibu kota dengan lebih intensif. Sehubungan dengan adanya sejumlah besar ilmuan yang bekerja, puncak kegiatan dapat tercapai, pada tingkat yang tidak pernah diraih pada masa-masa sesudahnya di abad pertengahan. Meskipun bahasa lain diizinkan, bahasa Arab yang juga bahasa al-Qur'an, menjadi lingua-franca di seluruh wilayah kekhalifahan Abbasiyah.

Pada masa pemerintahan kekhalifahan Harun al-Rasyid dibangun perpustakaan di Baghdad di mana seseorang dapat menemukan karya-karya asli dari bahasa Yunani, Sansekerta, dan Persia serta terjemahan dari masing-masing bahasa tersebut. Segera sesudah itu, aliran ilmu pengetahuan kuno mulai memasuki negeri muslim sebagai hasil aktifitas penerjemahan yang sistematis dan intensif. Sebagaimana ayahnya, al-Ma’mun juga merupakan patron ilmu pengetahuan yang handal. Ia mendirikan lembaga riset yang disebut “Baitul Hikmah”. Didukung keuangan Negara, lembaga ini menarik ilmuan dan sarjana terutama para penerjemah yang berkompeten.

Mencari Akar Peradaban Islam Dalam Ilmu Pengetahuan
Di bawah ini, setidaknya ada empat hal yang menjadi akar atau potensi munculnya peradaban Islam dalam hal ilmu pengetahuan:

Pertama, di tengah kemunduran Yunani dan munculnya Islam berkembanglah sebuah kebudayaan yang memainkan peranan penting setelah kebudayaan Yunani dan juga merupakan sebuah perpaduan dari elemen-elemen timur yaitu peradaban Helenisme yang mulai muncul di permukaan setelah 300 SM. Tempat yang menjadi pusat intelektualnya adalah Alexandria, di mana sebuah institusi penelitian yang besar, de museum telah dibangun. Dari institusi ini peradaban Helenisme berkembang ke segala penjuru dan secara signifikan memengaruhi orang-orang yang berhubungan dengannya, seperti orang-orang Mesir, Syria, Persia dan Arab.

Filsafat Yunani mengalami stagnasi sejak tahun 529 M seiring dengan penutupan akademi Athena secara resmi oleh Justianian. Banyak dari para filosof neo-Platonik yang meminta perlindungan terhadap penguasa Persia, yaitu Kisra Anushirwan. Peristiwa migrasi ini merupakan hal kedua bagi permulaan penyebaran pengetahuan Yunani ke wilayah-wilayah luar lainnya, yaitu salah satunya Arab. Ketiga, adalah akademi Jundishapur di Persia, sebuah akademi yang menjadi pusat pertukaran dan sinkretisme pengetahuan terbesar pada abad ke-7 M. Institusi ini menjadi surga bagi para Nestorian (pengikut Nestorius) yang diusir dari Edessa pada tahun 489 M dan juga bagi para Platonis yang terusir. Para Nestorian itu membawa bersama mereka ke Jundishapur terjemahan-terjemahan Syiria dari berbagai macam karya, khususnya karya-karya dalam bidang pengobatan.

Di Jundishapur pula Kisra Anushirwan memerintahkan penerjemahan karya-karya Aristoteles dan Plato ke dalam bahasa Persia. Ia mengirim para dokter ke India untuk mencari manuskrip-manuskrip dan mereka kembali tidak hanya dengan membawa berbagai macam karya pengobatan tapi juga permainan catur serta fabel-fabel.

Keempat, adalah aktifitas para Nestorian. Pada pertengahan pertama abad kelima Masehi, pendeta Syiria, Nestorius dipecat dan diusir dari kota Antioch ke wilayah Arab dan kemudian ke Mesir. Para pengikutnya dengan tulus dan penuh dedikasi mereka pindah sambil mengajarkan ilmunya ke wilayah timur, tepatnya ke kota Edessa, di mana terdapat sebuah akademi kedokteran yang sedang berkembang di sana. Akademi itu menjadi pusat bagi aktifitas Nestorian dan memperoleh dukungan dari akademi Nisbis di Mesopotamia dan juga oleh akademi Jundishapur.

Banyak karya-karya Yunani tentang Matematika dan kedokteran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria oleh para Nestorian yang karena paham Polyglotisme (sebuah paham yang mewajibkan dirinya untuk bisa beragam bahasa) yang mereka anut, pekerjaan ini menjadi sangat cocok bagi mereka. Mereka memiliki peranan yang besar dalam menjadikan Islam sebagai agama yang dapat berada di barisan terdepan dalam budaya dan sains.

Sejak itulah kemudian ilmu pengetahuan muslim muncul ke permukaan dan terkemuka dalam sepanjang sejarah. Periode ini merupakan era pencerahan bagi dunia.

Selain hal-hal di atas, munculnya akar peradaban Islam boleh jadi lantaran semangat keagamaan yang tinggi dalam memajukan ilmu pengetahuan, karena ayat suci al-Qur’an sendiri telah memotivasi kaum muslimin agar mereka selalu membaca dan membaca.

Penerjemahan Karya-Karya Yunani dan Persia ke Bahasa Arab
Sebelum Islam datang telah berkembang pendidikan Sassanian yang dipelopori oleh para penguasanya sendiri. Ardeshir Papakan, misalnya, mengirimkan orang-orang terpelajar ke India dan kekaisaran Romawi untuk mendapatkan karya-karya ilmiah dan filsafat.

Selanjutnya ia memerintahkan penerjemahan karya-karya tersebut ke dalam bahasa Pahlavi, sebuah tugas yang kemudian dilanjutkan oleh anak laki-lakinya, Shapur.

Tradisi penerjemahan terus dipelihara, sehingga lambat laun menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan baru di kota-kota penting Persia, seperti, Jundi-Shapur. Di antara sekolah-sekolah baru tersebut yang terkenal adalah Beit Ardeshir dimana terjemahan dilakukan oleh kepala sekolahnya sendiri, Maan Beit Ardeshiri.

Sekolah Maan telah berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan Helenistik, Syrian dan Zoroastrian. Namun yang paling berpengaruh hingga masa Islam adalah Jundi-Shapur. Dari akademi ini pula muncul beberapa terjemahan penting dari bahasa Sansekerta, Pahlavi, dan Syria.

Periodisasi penerjemahan
Periodisasi penerjemahan ini dimulai sejak masa Umayyah hingga Abbasiyah:

650 – 800 M
Severus Sebokht, pendeta biara Qen-Neshre di Upper Euphrates yang terkenal sekitar tahun 650 M adalah seorang ahli sains dan filosof. Di bawah kepemimpinannya, biara menjadi salah satu pusat utama dari pengetahuan Yunani. Banyak dari pengetahuan Yunani dan mungkin juga Hindu yang ditransmisikan kepada bangsa Arab melalui usaha-usahanya. Ia memiliki keyakinan, sebuah keyakinan yang tidak lazim pada masanya, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan haruslah berjalan di atas alas internasional.

Khalid ibn Yazid ibn Murawiya, seorang penguasa Umayyah dan filosof dianggap sebagai orang yang mendorong para sarjana Yunani di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Peristiwa ini merupakan proses penerjemahan pertama yang terjadi dalam dunia Islam. Ibnu Yazid hidup di Mesir dan meninggal antara tahun 704-708 M.

Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari menerjemahkan karya astronomi Siddhanta berbahasa Sansekerta, ke dalam bahasa arab sekitar tahun 772 M. Ayahnya dianggap sebagai seorang muslim pertama yang mengkonstruksi Astrolabe (ilmu perbintangan), dan ia dipercaya sebagai salah satu sarjana yang pertama kali memiliki hubungan dengan matematika Hindu. Penerjemahan yang dilakukannya mungkin telah membawa huruf-huruf Hindu ke dalam Islam.

Abu Sahl al-Fadl ibn Naubkht, seorang kepala Pustakawan berkebangsaan Persia pada masa Harun al-Rasyid, menerjemahkan karya-karya astronomi dari bahasa Persia ke dalam bahasa arab.

Jirjis ibn Jibril ibn Bakhtyashu, seorang berkebangsaan Persia pengikut Nestorian, merupakan orang pertama yang menerjemahkan karya-karya kedokteran ke dalam bahasa arab. Ia juga merupakan orang pertama dari kelompok tabib terkenal Nestorian yang memiliki hubungn dengan beberapa khalifah Abbasiyah. Mereka semua memberikan pengaruh yang besar bagi ilmu pengobatan muslim pada abad ke-8 dan ke-9. Bakhtyashu datang ke Bagdad melalui Jundishapur dimana ia di sana bekerja sebagai kepala rumah sakit pada masa khalifah al-Mansur.

Abu Yahya ibn al-Batriq, seorang dokter yang hidup pada abad ke-8. Sebagaimana Bakhtyashu, ia bekerja pada khalifah al-Mansur. Ia menerjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa arab yaitu sebagian dari karya-karya Hippocrates dan Galen.

Abdullah ibn al-Muqaffa adalah seorang pemikir asli Persia yang terkenal di Basrah. Ia menerjemahkan beberapa karya dalam bahasa Matlawi yang berkaitan dengan logika dan medis. Akan tetapi ia lebih dikenal karena terjemahannya terhadap syair Muluk al-Ajam dan Kalila Wa Dimna.

Al-Mansur, khalifah Abbasiyah kedua (754-775 M) pendiri kota Bagdad, terkenal karena karya-karya terjemahannya dari bahasa Syiria, Persia, Yunani dan India selama masa kekuasaannya.

Harun al-Rasyid, khalifah kelima dan salah satu penguasa Abbasiyah yang terbesar, memerintah dari tahun 786 hingga 809 M. Ia mempunyai perananan aktif dalam kemajuan dunia penerjemahan.

Periode 800-900 M
Al-Makmun, penguasa Bagdad (786-833 M), khalifah ketujuh dan mungkin juga khalifah Abbasiyah terbesar (813-833), merupakan pemrakarsa pengetahuan dan karya-karya ilmiah melebihi Harun al-Rasyid serta menjadikan pencarian dan penerjemahan manuskrip-manuskrip Yunani sebagai tujuan hidupnya, bahkan ia mengirim sebuah misi kepada raja Byzantium, Leon De Armenia, demi tujuan hidupnya itu. Al-Makmun mengundang, menerjemahkan dan mendukung para sarjana Yahudi dan Kristen untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip Yahudi itu ke dalam bahasa arab.

Ia juga mendirikan perpustakaan Bait Al-Hikmah (house of wisdom), akademi ilmu pengetahuan, serta membangun sebuah pusat penelitian berdasarkan usulan ratu Palmyra. Selama masa kekuasaannya, beratus-ratus manuskrip telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

Abu Zakariyya Yahya Ibn Batriq, menerjemahkan ke dalam bahasa arab, yaitu buku-buku Hipocrates tentang tanda-tanda kematian, beberapa karya Aristoteles, karya-karya Galen, De Theriaca dan Pisonem.

Al-Kindi, seorang filosof lepas, menerjemahkan dan memimpin proses penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa arab. Karya-karya terjemahannya yang paling terkenal adalah sebuah karya Neoplatonik yang didasarkan pada buku-buku IV hingga VI dari buku Enneads karya Plotinus.

Jibrail Ibn Bakhtyashu, cucu dari seorang penerjemah pendahulu dengan nama yang sama, menjadi dokter ahli bagi al-Makmun dan Harun al-Rasyid dan menerjemahkan banyak manuskrip Yunani dalam bidang kedokteran.

Sahl at-Thabari, seorang ahli astronomi dan tabib yahudi adalah satu dari penerjemah-penerjemah pertama Adri Almagest karya Ptolemy ke dalam bahasa arab.
Ibnu Sahda, menerjemahkan banyak karya dalam bidang kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Syria dan Arab. Ia terkenal dengan terjemahannya terhadap beberapa karya Hippocrates dan Galen ke dalam bahasa arab.

Al-Hajjaj ibn Yusuf ibn Matar, adalah penerjemah pertama Element karya Euclid ke dalam bahasa arab. Ia juga penerjemah pertama al-Magest ke dalam bahasa arab dari versi Syria pada tahun 830 M.

Tsabit Ibn Qurra, adalah seorang tabib, ahli matematika dan ahli astronomi, serta salah satu dari penerjemah hebat dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Syria dan bahasa arab. Ia mendirikan sebuah sekolah bagi para penerjemah yang anggotanya adalah kebanyakan dari keluarganya sendiri. Karya-karyanya yang telah diterjemahkan olehnya atau di bawah arahannya adalah buku V-VII karya Apollonius of Perga, dan beberapa karya Archimedes.

Tiga bersaudara Banu Musa, yang masing-masing memiliki keahlian dalam salah satu atau tiga bidang ilmu pengetahuan, menghabiskan sebagian besar waktu dan kekayaannya untuk memperoleh manuskrip-manuskrip Yunani serta menerjemahkannya ke dalam bahasa arab. Hunain Ibn Ishaq dan Tsabit Ibn Qurra merupakan para penerjemah paling terkenal yang mereka pekerjakan. Banyak tulisan-tulisan dalam bidang matematika, mekanik, dan astronomi serta beberapa karya dalam bidang logika diterjemahkan untuk mereka.

Abu Zakariya Yuhanna Ibn Masawaih, seorang tabib yang menerjemahkan beberapa karya Yunani tentang ilmu kedokteran ke dalam bahasa arab, adalah pemimpin pertama dari perpustakaan Bait Al-Hikmah yang didirikan al-Makmun.

Hunain ibn Ishaq (808-877 M), adalah seorang tabib Nestorian, salah satu sarjana hebat dan penerjemah handal pada masanya. Adapun jumlah karya terjemahan yang telah dihasilkannya adalah 95 karya versi bahasa Persia, lima darinya adalah edisi revisi dan 39 versi bahasa arab dari buku-buku Galen dan lainnya. Ia bekerja sebagai seorang penerjemah sekitar lebih dari 50 tahun. Jumlah dan kualitas karya terjemahan dari ilmu kedokteran yang dihasilkan oleh Hunain dan kelompoknya, menjadi pondasi dari pengetahuan muslim yang mendominasi pemikiran pertengahan hingga abad ke-17, dan kemudian dilanjutkan oleh putranya.

Barangkali Hunainlah sebagai penerjemah terbesar karya-karya klasik, terutama karya Helenistik ke dalam bahasa arab yang boleh jadi terjemahannya sama pentingnya dan sama berpengaruhnya dengan terjemahan karya-karya bahasa arab ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Cremona, selama paruh kedua abad kedua belas. Hunain mempunyai 90 murid penerjemah di bawah pengawasannya. Dorongan membuat karya-karya terjemahan pada masa kejayaan Islam terlihat dari pemberian bayaran kepada para penerjemah. Hunain, misalnya, ketika diangkat dan sebagai pengawas Bait al-Hikmah, diberikan emas senilai dengan berat buku yang diterjemahkan.

Qusta Ibn Luqa, adalah seorang tabib, ahli astronomi, matematika, filosof dan penerjemah. Ia banyak menerjemahkan dari karya-karya Diophantus, Theodosius, Anatolycos, dan lain-lain.

Hubaish Ibn Al-Hasan, keponakan dari Hunain Ibn Ishaq, menerjemahkan karya-karya Yunani, seperti karya Oribasius, pengarang Ensiklopedia Filsafat.

Stephanos, rekan dari Hunain Ibn Ishaq. Menurut Hunain, ia menerjemahkan sembilan buah karya-karya Galen ke dalam bahasa arab. Ia merupakan orang pertama yang menerjemahkan karya-karya Dioscrides ke dalam bahasa arab dan juga sebagai penerjemah karya Oribasius.

Penerjemahan pada 650-800 M, menunjukkan sebuah permulaan yang berharga. Pada permulaannya, aktifitas penerjemahan tersebut berjumlah sedikit dan bergerak selama lebih dari satu periode panjang. Ketertarikan dalam proses penerjemahan tidak hanya berasal dari sebagian para kaum terpelajar saja, tapi pejabat-pejabat tinggi juga secara aktif mendukung usaha ini. Misalnya, Sevrus Sebokht seorang pendeta dan Khalid Ibn Yazid Ibn Murawiya, adalah seorang penguasa dan berpengaruh dalam urusan-urusan pemerintahan yang telah memberikan dukungan besar terhadap aktifitas penerjemahan ini.

Untuk pertama kalinya di Jundi-Shapur dan kemudian di Bagdad di bawah pemerintahan al-Ma’mun, penerjemahan buku-buku ilmiah, moral, sejarah dan buku-buku terkenal lainnya dilakukan ke dalam bahasa arab. Di antara para pendukung ilmu pengetahuan Islam-Persia dan non-arab pada masa itu adalah kelompok Syu’ubiyah, yaitu suatu kelompok yang terdiri dari beberapa bangsa yang berusaha untuk membebaskan diri dari supremasi dan kultur orang-orang Arab di dunia muslim dengan cara menghidupkan kembali kebudayaan dan standar zaman kuno. Mereka menerjemahkan ke bahasa arab dari sumber-sumber Persia.

Beberapa karya bahasa Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab adalah sebagai berikut:

Javidanio Khirad, Pand-Namah, Andarz, yang diterjemahkan oleh Ibnu Mushkuya.
Kalila Wa Dimna, Khudai Namah, Ain Namah, dan al-Yatima, yang diterjemahkan oleh Ibnul Muqoffa
Khoday Namah diterjemahkan oleh Jabala Ibnu Salem
Kitab al-Mahasin diterjemahkan oleh al-Farrukhan
Dll.

Hasil nyata pertama terjadi pada separuh abad ke-8 ketika aktifitas penerjemahan ke dalam bahasa arab terhadap karya-karya bahasa Syria, Persia, Hindu, dan Yunani mulai dilakukan. Sekali lagi haruslah diingat bahwa proses penerjemahan ke dalam bahasa arab itu tidak dilakukan secara sendiri-sendiri, tetapi dilakukan berdasarkan program yang terencana dengan baik dan dengan dukungan dari pemerintah.

Dua dari khalifah besar Abbasiyah mendukung usaha para penerjemah yang sibuk untuk mengungkap harta karun pengetahuan Yunani. Al-Mansur dianggap berjasa karena telah membawa Ibn Bakhtyashu, seorang tabib yang berkecimpung dalam kegiatan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa arab, ke kota Bagdad. Al-Mansur juga meminta bantuan kepada Ibnu Batriq, salah satu dari para penerjemah yang menjadi pionir dalam penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa arab, dan terkenal karena penerjemahannya terhadap banyak karya Galen dan Hippocrates.

Dengan demikian, pertengahan kedua abad kedelapan merupakan periode penyebaran pengetahuan dan asimilasinya dengan bangsa arab. Selaras dengan bertambahnya penerjemahan ke dalam bahasa arab, langkah-langkah Islam untuk menjadi yang terdepan dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan semakin maju. Hal ini menandakan bahwa aktifitas penerjemahan merupakan kekuatan penggerak (driving force) bagi Islam, ia akan terus berkembang selama aktifitas ini terus berkembang.

Masa keemasan penerjemahan dari bahasa yunani ke bahasa arab terjadi pada abad kesembilan. Kaum muslim menjadi alat ukur standar bagi peradaban, yang sebagian besar dikarenakan banyaknya karya-karya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Lihatlah metode-metode penerjemahan yang dipakai, kuantitas dan kualitas karya-karya yang diterjemahkan selama periode tersebut, dan institusi-institusi yang secara khusus didesain sebagai pusat-pusat penerjemahan.

Pada abad kesembilan Bagdad benar-benar menjadi pusat ilmu pengetahuan. Penerjemahan-penerjemahan yang telah dihasilkan selama 900 tahun menjadi anti-klimaks bagi karya-karya yang ditulis selama ratusan tahun sebelumnya. Teks-teks Yunani klasik dalam bidang matematika dan medis telah selesai diterjemahkan. Akan tetapi, antara periode 900-1000 tahun bukan berarti tidak ada aktivitas atau usaha-usaha yang terorganisir untuk mengembangkan karya-karya terjemahan. Aktivitas itu terus ada walaupun intensitasnya agak menurun.

Kontribusi yang diberikan oleh para ilmuwan arab dan kaum muslim Persia memiliki arti yang signifikan. Mereka mendapatkan dukungan yang besar dalam kegiatan penerjemahannya, dalam pendirian pusat-pusat penerjemahan dan dalam pengamanan manuskrip-manuskrip Yunani.

Masa penerjemahan (the age of translation) yang berlangsung hampir 150 tahun (750-900 M), merupakan masa bagi berlangsungnya kreatifitas murni dan pengaruh intelektual muslim.

Dan secara garis besar ada dua periode penerjemah pada masa Abbasiyah: dari penguasa I sampai pencapaian al-Ma’mun, 132-198 H.; di bawah al-Ma’mun dan para penggantinya, terpusat di sekolah tinggi yang baru didirikan di Bagdad, yaitu Baitul Hikmah. Para penerjemah kebanyakan orang Kristen, Yahudi, dan sisanya mereka yang berpindah agama kepada Islam dari berbagai kepercayaan.

Penerjemahan periode pertama, tahun 132-198 H di antaranya yang paling tersohor: Abdullah Ibnu al-Muqaffa, Ibrahim al-Fazari, Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi, George Bakhtishu, Isa Ibnu Thkerbokht, dan Babriel Bakhtishu.

Penerjemahan periode kedua, setelah tahun 198 H yang paling termasyhur adalah: John Bar Maserjoye, Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakariya ar-Razi, Yahya Ibnu Masawih (kepala Baitul Hikmah), Abu Zaid Hunain Ibnu Ishaq al-Ibadi, Ishaq Hunain, Questa Ibnu Luqa, Abu Biysr Matka Ibnu Yunus, Yahya Ibnu Adi, dan Abu Ali Isa Ibnu Zaraah.

Las but not least, sepakat atau tidak, kejayaan Islam dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan secara dekat berhubungan dengan aktivitas penerjemahan. Selama aktivitas itu masih terus berlangsung secara konstan, Islam tetap memiliki kesempatan untuk meraih kemajuan-kemajuan kultural yang lebih tinggi. Tetapi, ketika aktivitas-aktivitas itu semakin menurun, kepemimpinan peradaban Islam menjadi hilang dengan sendirinya. Apa yang telah direncanakan oleh Islam—untuk menyerap kebudayaan dan peradaban masyarakat lainnya melalui penerjemahan—telah mencapai titik puncaknya.
Sebagaimana proses penerjemahan telah membawa Islam ke puncak kepemimpinan budaya dan peradaban, maka proses penerjemahan itu pula yang telah membangunkan eropa dari tidur panjangnya dan membawa dunia barat meraih kemajuannya, yaitu ditandai dengan renaissance.

Penerjemahan telah terbukti menjadi sesuatu yang memainkan peranan utama. Aktivitas penerjemahan memungkinkan suatu kebudayaan dapat mempelajari kebudayaan lainnya dan hasil yang diperoleh melalui penerjemahan ini lebih menakjubkan daripada kemenangan dan penguasaan wilayah-wilayah lain.

Umat Islam sesungguhnya hari ini masih sangat bisa meraih peradabannya lagi, seperti sedia kala, karena faktor-faktor menuju ke sana masih ada, seperti di Indonesia, sudah banyak sekali buku-buku yang telah diterjemahkan dari berbagai bahasa, dan dalam semua bidang. Maka, tak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti Indonesia akan menjadi perintis peradaban Islam di dunia. Walaupun umat Islam sudah sangat tertinggal jauh dari peradaban barat, tapi peluang Islam untuk meraih peradabannya sangat berpotensi, karena Alquran sendiri selalu memotivasi kita untuk selalu belajar dan belajar. Hal itu ditunjukkan dengan salah satu ayatnya yang berbunyi, “Bacalah! Bacalah…” (Al-‘Alaq: 1-2). Dengan ayat itu sebenarnya umat Islam selalu mempunyai ruh untuk selalu maju dan meraih peradabannya kembali.

Wallahu a’lam.

Proses Dan Prosedur Penelitian Matan Hadis (Bagian I)

Tolok ukur penelitian matan (ma’ayir naqdil-matn) yang dikemukakan oleh ulama tidak seragam. Menurut al-Khatib Al-Baghdadi (wafat 463 H/1072 M), suatu matan hadis barulah dinyatakan maqbul (diterima) apabila:
1.tidak bertentangan dengan akal sehat
2.tidak bertentangan dengan hukum Alquran yang telah muhkam (ketentuan hukum yang telah tetap)
3.tidak bertentangan dengan hadis mutawatir
4.tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (ulama salaf)
5.tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti
6.dan tidak bertentangan dengan hadis ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat.

Sebagai contoh, ada ulama yang mengemukakan tolok ukur dengan mengatakan bahwa salah satu tanda hadis palsu ialah suatu riwayat yang berisi peristiwa yang terjadi di depan umum, namun ternyata tidak banyak periwayat yang mengemukakannya. Tolok ukur ini sulit diterima secara mutlak sebab tidaklah setiap sahabat Nabi yang menyaksikan suatu peristiwa (hadis) yang terjadi di muka umum, lalu serta merta meriwayatkannya kepada orang lain.

Cukup banyak hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja, tetapi isinya memberi indikasi bahwa hadis tersebut terjadi di muka umum. Misalnya hadis tentang niat. Pernyataan dalam hadis itu memberi indikasi dikemukakan oleh Nabi di muka umum, tetapi sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis itu, dalam hal ini yang sanadnya sahih, hanya ‘Umar bin al-Khattab saja.

Dalam praktik, penelitian matan memang tidak mudah. Sebagai penyebab sulitnya penelitian matan ialah:
1.Adanya periwayatan secara makna
2.Acuan yang digunakan sebagai pendekatan tidak satu macam saja
3.Latar belakang timbulnya petunjuk hadis tidak selalu mudah dapat diketahui
4.Adanya kandungan petunjuk hadis yang berkaitan dengan hal-hal yang berdimensi “supra rasional”.
5.Dan masih langkanya kitab-kitab yang membahas secara khusus penelitian matan hadis.

Meneliti Susunan Lafal Matan Yang Semakna
Terjadinya Perbedaan Lafal
Salah satu sebab terjadinya perbedaan lafal pada matan hadis yang semakna ialah karena dalam periwayat hadis telah terjadi periwayatan secara makna (ar-riwayah bil-ma’na). Perbedaan lafal yang tidak mengakibatkan perbedaan makna, asalkan sanadnya sama-sama sahih, maka hal itu tetap dapat ditoleransi.

Tetapi juga ada kemungkian karena periwayat hadis yang bersangkutan telah mengalami kesalahan. Kesalahan itu tidak hanya dialami oleh periwayat yang tidak tsiqah saja, tetapi juga dialami oleh periwayat yang tsiqah. Pernyataan yang terakhir itu memang dapat mengundang pertanyaan, mengapa periwayat yang dinyatakan sebagai bersifat tsiqah mengalami kesalahan dalam meriwayatkan hadis?

Dengan metode muqaranah (perbandingan) akan dapat diketahui kemungkinan adanya ziyadah, idraj, dan lain-lain yang dapat berpengaruh pada kedudukan matan yang bersangkutan, khususnya dalam kehujjahannya. Dalam penelitian matan hadis, apa yang disebut dengan ziyadah, idraj, dan lain-lain itu sangat penting untuk diperhatikan.

Dilihat dari pengertian istilahnya, idraj dan ziyadah memiliki kemiripan, yakni tambahan yang terdapat pada riwayat matan hadis. Bedanya, idraj berasal dari diri periwayat, sedang ziyadah (yang memenuhi syarat) merupakan bagian tak terpisahkan dari matan hadis Nabi.

Hadis yang mengandung idraj disebut sebagai hadis mudraj, sedang hadis yang mengandung ziyadah disebut sebagai hadis mazid. Selain terdapat pada matan, idraj dan ziyadah juga terdapat pada sanad.

Contoh hadis yang matan-nya mengandung idraj.
عن أبى هريرة قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اسيغوا الوضوء, ويل للأعقاب من النار. (رواه الخطيب)

Dari Abi Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda, “Sempurnakanlah wudhumu; neraka wail bagi tumit-tumit (orang yang tidak dibasuh dengan sempurna ketika mereka berwudhu).

Kata-kata أسيغوا الوضوء pada hadis tersebut bukanlah sabda Nabi, melainkan kata-kata Abu Hurairah. Kata-kata itu terlihat sebagai bagian dari sabda Nabi. Mukharrij hadis itu adalah al-Khatib al-Baghdadi. Dia menerima riwayat itu dari dua jalan (sanad), yakni dari jalan Abu Qatn dan jalan Syababah. Kata al-Khatib, kedua orang periwayat itu ragu-ragu, apakah kata-kata tersebut merupakan bagian dari sabda Nabi ataukah kata-kata Abu Hurairah. Dalam hal ini, al-Khatib yang berstatus sebagai mukharrij telah meneliti dan menjelaskan bahwa hadis yang diterimanya mengandung idraj.

Ahmad Amin dan Husain Haikal (Pemikiran Tentang Hadis)

Lahir di Kairo, pada 1878 dan meninggal pada 30 Mei 1954. Pernah menjadi Guru Besar di Universitas Kairo pada 1934-1941. Dia dikenal sebagai sejawaran Islam. Adapun karya-karyanya: Fajrul Islam, Duhal Islam, Zuhrul Islam, dll.
Amin menganggap pemalsuan Hadis telah terjadi semenjak Rasul masih hidup. Berdasarkan hadis من كذب علي متعمد فليتبوء مقعده من النار.

Amin tak percaya kalau semua para sahabat bersifat 'adil. Alasannya: di antara para sahabat saja sering terjadi kritik-mengkritik. Thalhah, Zubair, Aisyah Vs. Ali, Muwaiyah dan Amr bin Ash Vs. sahabat lain. Juga ditambah dengan adanya al-fitnah al-kubra I (pasca kematian Utsman) dan al-fitnah al-kubra II (pasca kematian Ali).

Dari peristiwa tersebut para sahabat tidak netral lagi. Terjadi blok-blok dan perang mengeluarkan hadis sesuai kepentingannya masing-masing, dan menyerang yang lain. Generasi pasca tabi'in hingga sekarang yang mengkultuskan bahwa para sahabat 'adil semua.

Amin memperkuat dengan alasan lainnya: Ibnu Abbas menolak hadis Abu Hurairoh yang berbunyi 'Barangsiapa membawa mait, maka berwudhulah'.
Aisyah juga menolak hadis Abu Hurairoh berbunyi 'barangsiapa bangun dari tidurnya maka basuhlah tangannya'.

Husain Haikal
Lahir di Kairo, pada 30 Agustus 1888. Kuliah di Prancis hingga jenjang doktoral pada 1912. Dia mengambil jurusan Hukum.

Karirnya sebagai pengacara dan pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Kairo. Pernah menjadi Menteri Negara Urusan Dalam Negeri. Dia juga pernah menulis novel Zainab yang terkenal, tentang kehidupan petani di mesir.

Karya-karyanya yang terkenal adalah: Hayat Muhammad saw, Zainab, al-Iman wal Ma'rifah wal Falsafah.

Husain Haikal lebih perhatian pada matan hadis ketimbang sanad hadis. Dia adalah pengikut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Haikal tidak percaya dengan hadis-hadis yang tidak masuk akal. Dia juga sangat kritis terhadap hadis-hadis Isra' Mi'raj. Dia mengutip beberapa hadis yang dianggapnya shahih secara matan, meski sanadnya lemah.

Seperti matan dari riwayat Aisyah, Ummu Hani, dan Muawiyah adalah shahih walau sanadnya lemah. Karena semua matannya sesuai dengan Alquran: al-Isra: 60, al-Kahfi: 110, an-Nisa: 68.

Jumat, 05 September 2008

Pesantren Dan Dunia Penulisan Sastra


Prolog
Pesantren dan sastra adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan sejak dulu hingga kini. Di antara keduanya ada jalinan kuat yang saling menopang dalam perjalanan sejarah. Hal itu disebabkan pesantren sebagai wadah menuntut ilmu keIslaman yang notabene-nya lekat dengan dunia teks (baca: al-Qur’an, Hadis, dan kitab-kitab kuning) dan masyarakat.

Kedua hal itu memberi inspirasi para penghuni pesantren untuk menulis, terutama menulis karya sastra. Tepatnya, karya sastra bermuatan ajaran-ajaran Islam. Karya sastra dianggap mampu mendekati masyarakat dengan aman dan efisien.

Sebut saja misalnya penyebar Islam tempo dulu, seperti wali sembilan, yang menggunakan sarana sastra. Tembang dan syair berbahasa Jawa kreasi sastra para wali itu hidup hingga kini di surau, langgar, dan masjid di berbagai pelosok indonesia.

Strategi para wali itu menjadi prestasi legendaris dalam sejarah kebudayaan Islam di negeri ini dan menjadi watak kultur dan tradisi pesantren hingga kini.

Perkembangan pesantren yang mengalami integrasi dengan ilmu-ilmu eksakta turut mempengaruhi pula dalam perkembangan sastranya. Sastra yang diciptakan di kalangan pesantren tersebut mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Pesan yang terdapat dalam karyanya, yakni tidak lagi mesti mengandung ajaran-ajaran Islam an sich. Banyak karya yang diciptakannya murni dari hasil dialektika dengan dunia pesantren. Para sastrawan semisal Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Kuswaidi Syafii, Mathori A Elwa, Amien Wangsitalaja, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah el Khaliqy, Ulfatin Ch adalah para penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren yang karya-karyanya berlatarkan kultur dan tradisi pesantren.

Sastra di lingkungan pesantren telah menemukan habitatnya. Berbagai apresiasi sastra selalu diadakan, seperti perlombaan menulis cerpen, pentas seni, terutama saat memperingati hari-hari besar. Belum lagi terdapat sanggar-sanggar sastra yang ada di sejumlah pesantren menambah semarak dunia sastra-pesantren. Konkritnya bisa kita lihat dari laporan penelitian Acep Zamzam Noor yang bisa di akses di situs rumahdunia.net. Pesantren-pesantren di Madura misalnya, telah melembagakan aktifitas kesenian, termasuk sastra, seperti halnya sebuah sanggar. Mereka mengadakan diskusi, pelatihan kepenulisan, penerbitan buletin dan juga kegiatan sastra dengan mendatangkan sastrawan dari luar. Untuk penerbitan misalnya, mereka juga banyak kerjasama dengan pihak lain hingga kara-karya mereka terdokumentasikan. Mereka juga aktif mengisi rubrik-rubrik sastra baik di media khusus maupun umum, lokal dan nasional.

Begitu juga di sejumlah pesantren di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur aktifitas kesusastraannya terus meningkat. Hal itu disokong oleh adanya majalah sastra khusus untuk kalangan pesantren, antologi puisi dan cerpen, serta novel yang mengangkat kehidupan pesantren. Yang membahagiakan dari itu semua adalah karya-karya para santri dibaca oleh khalayak umum. Hal ini telah secara tidak langsung memunculkan genre (baca: label) baru, yaitu “sastra pesantren”. Tentu ini sangat wajar karena mayoritas karya-karya tersebut menggambarkan dunia dan kehidupan pesantren, dan ditulis pula oleh para santri (dan “bekas” santri).

Kyai dan Santri Menulis
Para pengarang sastra yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan adalah mereka yang memang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. Paling tidak, mereka pernah mengecap bangku pesantren. Oleh karena itu, menulis fiksi dengan latar pesantren bisa dilakukan oleh para pengasuh, staf pengajar, maupun para santrinya. KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), misalnya, seorang pengasuh pesantren Roudlatul Ulum Rembang menulis cerpen dan puisi dengan produktif. Karya cerpennya diterbitkan dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003). Cerpen-cerpen dalam buku ini terilhami kisah-kisah yang khas dalam kultur dan tradisi pesantren. Kiai Bisri Musthofa, ayahanda Mustafa Bisri, penulis buku berjudul Kasykul, di dalamnya adalah kumpulan anekdot, sedang Kyai Abdurrahman Ar Roisi juga menerbitkan belasan jilid kumpulan cerita yang diberi judul 30 Kisah Teladan.

Dalam hal puisi, ada Kyai Ali Mansur Tuban yang menggubah Shalawat Badar yang amat populer dan menjadi shalawat wajib para santri Jawa Timur. Selain itu ada Gus Ishom, Cucu Kiai Hasyim, menggubah doa sebelum belajar dalam bentuk 12 nadzam (sajak berirama) berbahasa Arab yang wajib dibaca santri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Kyai Abdul Hamid Pasuruan juga mensyairkan Sullam At Taufiq --sebuah kitab fikih sufistik yang bercorak ghozalian dan menjadi mainstream pemahaman Islam Sunni Indonesia-- dalam 553 bait. Selain itu, ia juga menyairkan 99 nama Allah yang dikenal dengan Al Asma' Al Husna, dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan para santrinya yang menghasilkan karya sastra? Tentu saja lebih banyak dibandingkan dengan para kyainya. Ada yang memang penulis tersebut masih berada di lingkungan pesantren, dan ada pula para penulis yang pernah nyantri, baik dalam jangka waktu lama maupun sebentar. Namun biasanya kebanyakan para penulis itu pernah nyantri ketika duduk di bangku tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Sampai saat ini para santri kebanyakan belajar menulis secara otodidak, alias belajar sendiri tanpa ada wadah yang membuat mereka bisa belajar menulis. Ruang yang ada di pesantren biasanya hanya untuk qira’at al-Qur’an, kaligrafi, dan musik, tidak ada untuk belajar menulis. Melihat kenyataan tersebut, tidak menutup kemungkinan pesantren akan jadi pusat intelektual yang akan melahirkan para penulis lebih banyak lagi jika saja hal ada iklim yang kondusif, di antaranya: 1) sistem pengajaran yang harus mendukung kepada tradisi menulis, 2) suri tauladan dalam hal menulis dari pimpinan pesantren, dan 3) wadah untuk menampung tulisan para santri.

Harus diakui bahwa mayoritas sistem belajar pesantren, terutama pesantren tradisional, masih menggunakan metode “resital”, yaitu proses pembelajaran berbasis teks yang tidak dibaca, melainkan didengarkan. Para santri biasa menyebut metode resital itu dengan istilah tilawah. Jika hal ini masih saja dilestarikan tanpa dibarengi system lain, yaitu, misalnya, membuat synopsis hasil bacaan mereka atas kitab yang sedang dibahas, tentu tidak akan ada kemajuan dalam hal tulis-menulis.

Hal lain adalah tidak adanya tradisi menulis yang diwarisi oleh kyai-kyai. Fenomena ini diperparah lagi dengan para Kyai yang saat ini banyak yang bergelut di medan politik. Dus, pesantren cenderung kering dari sentuhan buku atau tulisan. Tak banyak lagi kyai yang memiliki naluri berekspresi menciptakan karya tulis. Kyai Mustofa Bisri menuturkan bahwa tradisi menulis di kalangan NU kian luntur. Hal itu disebabkan—salah satunya—munculnya teknologi speaker yang menyebabkan aktivitas para kyai lebih banyak tersita untuk berdakwah secara oral. Padahal, ilmu dan pemikiran yang dimiliki oleh para kyai dan ulama pesantren seharusnya lebih banyak didokumentasikan dalam bentuk tulisan, agar bisa dilacak oleh lintas generasi. Di sinilah pentingnya figur sentral seorang kyai yang rajin menulis.
Terakhir, wadah para santri untuk menyalurkan keinginan menulis harus diadakan.

Bahkan mereka bukan saja diberi wadah tapi juga disalurkan karya-karya mereka dengan mengirimkannya ke berbagai media. Pesantren An Nuqoyah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, adalah pesantren yang patut dicontoh dalam hal ini. Hampir setiap minggu, santri dan alumninya menghiasi media nasional dengan karya-karya tulisnya. Penggerak sastra dari Pesantren tersebut, M Faizi Kaelan mengatakan, kegiatan sastra di Pesantren An Nuqoyah temasuk semarak. Pendidikan tradisional dengan jumlah santri hingga 6.000 orang itu, juga memiliki banyak sanggar yang satu dengan lainnya saling berkompetisi secara positif.

Sekali lagi, penulis ingin menekankan bahwa sinergi ketiga hal itulah yang akan menjadikan tradisi menulis (termasuk menulis karya sastra) di kalangan pesantren akan tercipta secara cepat. Jangan heran jika hal itu benar-benar terjadi maka beberapa tahun ke depan Indonesia dunia tulis menulis baik perbukuan, media cetak, dan pementasan akan diramaikan oleh para santri.
Wallahu A’lam.

Selasa, 02 September 2008

SBY dan Presidency Lecture


Di istana Presiden, Susilo Bambang Yudoyono sudah dua kali mengadakan presidency lecture atau kuliah kepresidenan. Pertama, kuliah tentang kemiskinan, dan kedua, tentang korupsi.

Masalah ini memang menjadi dua topik besar yang hadir dan melekat dalam diri bangsa Indonesia dan memiliki kausalitas mutlak. Demikian mutlaknya kausalitas itu sehingga kita seperti berada dalam lingkaran setan. Tidak jelas lagi ujung pangkalnya.

Keduanya bisa menjadi sebab dan akibat sekaligus. Dua hal ini memang saling berkelindan. Korupsi adalah salah satu sebab kemiskinan dan dari kemiskinanlah implikasinya begitu luas. Agama pun telah mengajarkan bahwa kemiskinan membawa kekufuran, kerusakan lingkungan, konflik sosial, dan seterusnya, termasuk korupsi.


Data terbaru yang dilansir oleh ICW (Indonesia Corruption Watch) bahwa ada kecenderungan korupsi di BUMN atau BUPD yang telah mengalami peningkatan cukup signifikan selama enam bulan pertama tahun 2006, yaitu naik sekitar 46,4 persen. Hal ini menjadi bukti bahwa korupsi ternyata masih ada seiring dengan gencarnya presiden melakukan pemberantasannya. Selain laporan dari BUMN dan BUPD di atas ternyata fenomena otonomi daerah juga membawa pergeseran modus korupsi yang semula berada di pusat menjadi merata ke tingkat daerah.

Dulu, pusatlah menjadi sumber dari distribusi baik power secara politik maupun ekonomi. Nah, begitu ekonomi digeser ke masing-masing daerah maka secara proporsional justru korupsi terjadi di lembaga tingkat daerah. Sekali lagi, peralihan dari era otonomi daerah tidak akan memperkecil permasalahan korupsi, malah justru akan memperbesar. Misalnya, untuk daerah yang lebih kaya akan lebih mudah peluang melakukan korupsi dibandingkan daerah yang lebih miskin.

Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah luar biasa sehingga dengan cara apa pun memeranginya seperti membuang garam ke laut. Oleh karena itu, untuk memenangkan perang melawan korupsi harus dengan upaya sangat luar biasa. Kalau hanya biasa-biasa saja ibarat kita sedang mengecat langit, sia-sia dan letih.

Kita tahu bahwa persoalan korupsi merupakan salah satu tema kampanye presiden SBY ketika bertarung dalam pemilihan umum dua tahun yang lalu. Kendati kontestan lain juga mengusung tema yang sama, rakyat ternyata lebih percaya pada SBY sebagai panglima yang dibuktikan dengan mengalirnya suara mereka yang lebih banyak kepadanya. Ini berarti bahwa di tangan Pak SBY rakyat melihat ada peluang, cara, komitmen, kecerdasan, dan keberanian yang lebih menjanjikan daripada yang lain. Nah, kepercayaan yang lebih itu sekaranglah saatnya dibuktikan.

Tentu sangatlah tidak fair untuk mengatakan perang terhadap korupsi saat ini tidak mendatangkan hasil apa-apa. Sudah banyak kita melihat sejumlah konglomerat besar dan pejabat telah dijebloskan ke dalam penjara. Dan banyak pula anggota DPR, Bupati, serta Gubernur yang diperiksa kepolisian dan kejaksaan. Dulu, surat izin pemeriksaan para pejabat terasa sangat sulit, namun sekarang sebaliknya. Dus, jujur harus dikatakan bahwa perang melawan korupsi sekarang lebih bergema dan nyata.

Kehadiran dan gebrakan KPK adalah gendang yang membahanakan gema itu. Sehingga barangkali bisa dikatakan bahwa sekarang korupsi semakin sulit dilakukan. Ini bagus tentunya. Akan tetapi salah satu kelemahan mendasar yang sangat signifikan tentang perang terhadap penyakit sosial yang mematikan ini belum menjadi sebuah gerakan. Dengan kata lain belum menjadi human interest, terutama di kalangan elit dan birokrasi.

Adanya perbedaan persepsi di kalangan aparat hukum terhadap kejahatan korupsi masih sangat kentara. Seseorang yang oleh polisi dan jaksa diseret ke pengadilan karena dianggap memiliki bukti kuat melakukan kejahatan korupsi dibebaskan oleh hakim karena dianggap tidak memiliki bukti. Bila ini terjadi terus menerus bukan tidak mungkin polisi dan jaksa akan menyelesaikan kasus-kasus korupsi di tingkat wewenangnya. Dan kita bisa menduga penyelesaian model apa yang mereka tempuh, karena di mata mereka daripada capek-capek menyelidik dan menyidik hanya untuk kemudian dibebaskan hakim di ujung sana lebih baik diselesaikan sendiri di belakang meja. Ini berarti perang terhadap korupsi telah melahirkan korupsi baru yang lebih dahsyat.

Alangkah baiknya presidency lecture atau kuliah kepresidenan sebaiknya difokuskan pada penyamaan persepsi serta komitmen di kalangan aparatur penegak hukum, bahwa korupsi adalah kejahatan yang sangat mematikan peluang bangsa untuk meraih kemakmuran dan kesejahteraan. Lantas siapakah komandan tertinggi yang memiliki legitimasi untuk menggerakan dan memaksakan komitmen dan persamaan persepsi? Komandan tertinggi dan paling berkuasa sekarang ini ada di tangan Presiden. Saya sepakat dengan jargon pak Presiden bahwa bersama kita bisa, tetapi ‘bersama kita bisa’ atau dengan kata lain yaitu kemampuan kolektif harus dipelopori dan keberanian yang teguh dari presiden. Dan saya sepakat juga bahwa presidency lecture yang diadakan presiden tersebut adalah salah satu dari sekian banyak opsi keberanian yang ada di tangan SBY.

Dalam melakukan pemberantasan korupsi setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan lagi, yaitu dalam sistem dan aktor. Presiden SBY harus bisa lebih tegas lagi dalam menegakkan sistem dan menghukum koruptor. Sebaik apa pun sistem kalau aktor-aktor yang mengendalikan sistem atau man behind-nya buruk percuma saja. Begitu juga sebaliknya, sehebat apa pun orang mau melakukan sesuatu kalau secara sistem memang sudah salah, maka tentu saja akan susah pula menangkap sang koruptor.

Mari kita dukung pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, dan siapa pun pemerintahnya. Bahwa korupsi sudah seharusnya menjadi kesadaran kita semua untuk diberantas mulai dari hal yang terkecil, termasuk dari rumah tangga kita sendiri. Korupsi juga telah menjadi ekonomi dengan biaya tinggi sehingga investasi juga terlihat di Indonesia tidak menarik bagi kalangan investor.