Minggu, 29 Maret 2009

Situ Gintung

Jam dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Dan aku masih berdiri di balik jendela kaca sejak satu jam lalu. Sesekali kuusap jejak hembusan nafasku yang menempel di kaca jendela menghalangi pandanganku menatap halaman rumah.

Oh, di luar hujan masih belum reda dari semalam. Mentari yang mestinya bersinar di pagi ini urung menampakkan diri, lantaran langit masih belum puas mencurahkan “airmata”nya, karena sedih melihat calon para penguasa (baca: legislator) berpesta pora mengobral janji yang mampu meninabobokan rakyat jelata.

Di balik jendela kaca itu kulihat kolam ikan beralihfungsi menjadi penampung air hujan. Air yang tidak tertampung terus mengalir melalui celah-celah kolam. Sedikit namun tidak berhenti. Dan saat hujan bertambah besar, frekuensi air pun berkecipak dengan hebat di atas kolam ikan tersebut. Tak ayal, air yang mengalir pun amat deras dari atas kolam. Aku berpikir dan bertanya, seperti itukah gambaran tragedi Situ Gintung? Sungguh, betapa mengerikan peristiwa itu. Kejadian yang sama sekali tidak diduga oleh penduduk di daerah sekitar Situ Gintung. Hanya sekali cipakan saja, ratusan rumah beserta penghuninya terseret air. Dan sejak tulisan ini ditulis terbilang 91 orang meninggal, ratusan lebih luka-luka, dan puluhan orang masih belum ditemukan.

Melihat tragedi itu, aku harus mengambil hikmah: Aku harus senantiasa waspada dan siap dengan kenyataan hidup yang datang dari arah tak diharapkan. Kematianku dan kehilangan orang yang kita cintai, itulah di antaranya.

Dari Jogja, kukirim doa untuk saudara-saudaraku, semoga yang meninggal diberi maghfirah oleh Allah dan yang ditinggalkan diberi kesabaran. Allahummaghfirlahum war hamhum wa ‘aafihim wa’fu’anhum. Amin.

Pak Guru Sakit?

Waktu duduk di bangku sekolah dasar, aku mempunyai dua orang teman yang sangat akrab, satunya laki-laki bernama Arif Rahman Hakim (panggilannya Maman) dan satunya lagi perempuan, bernama Rosita (biasa dipanggil Iros).

Mereka kini sudah berkeluarga dan sudah punya anak. Keakraban kami sangat terkenal, sebagaimana kenakalannya. Ingat mereka ingat pula suatu kejadian menarik waktu itu.
Ketika kami naik ke kelas lima, ada seorang guru laki-laki yang killer. Usianya sekitar empatpuluhan. Ia selalu datang pagi-pagi sebelum jam sekolah berdenting. Dan pulang paling akhir. Yang membuat kami sekelas tak suka adalah guru ini selalu memberi kami tugas yang kami rasa sangat berat dan membebani.

Tugas itu hampir setiap hari ada. Dan jika ada salah seorang yang tidak mengerjakannya maka dia akan menghukumnya. Hukuman tersebut biasanya sesuatu yang menguntungkan dia sendiri. Seperti membuatkan minuman untuknya, membelikan kebutuhannya di pasar, membereskan meja kantornya, dan sebagainya.

Tugas yang berat dan membebani itu ditambah hukuman yang hanya selalu menguntungkan dirinya sendiri membuat kami semakin tidak menyukainya. Kami selalu mendoakan mudah-mudahan saja guru itu jatuh sakit, sehingga kami memperoleh kebebasan selama beberapa hari. Tapi, sayangnya guru itu tidak pernah sakit, dan tetap bersemangat mengajar.

Kami jengkel. Kami tak ingin terus-terusan dibebani seperti ini. Kami ingin santai bermain sepuas kami setelah pulang sekolah tanpa memikirkan tugas sekolah, sebagaimana pada waktu kelas empat. Kejengkelan kami pada guru itu akhirnya memuncak. Dan kami bertiga mempunyai ide untuk mengerjai guru tersebut. Kami bertiga mengoordinir kelas kami atas rencana ini untuk esok hari. Ini adalah salah satu rencana dari dua rencana yang kami pikirkan.

“Selamat pagi pak, Bapak kok terlihat pucat, apakah Bapak sakit?” tanya aku sambil menuju tempat dudukku.
“Tidak, aku tidak sakit. Biasa saja. Tumben kamu memperhatikan Bapak. Terima kasih” jawab sang guru sambil tersenyum.
Tak lama Maman datang masuk kelas.
“Lho pak, wajah Bapak tidak seperti biasanya. Terlihat pucat, apakah Bapak sakit?” tanya Maman.
“Jangan ngawur kamu. Aku sehat, tidak sakit.” Jawab sang guru.
“Benar lho pak. Aku jujur. Ya sudah Bapak kalau tidak percaya.” Timpal Maman lagi.
Sang guru agak tercenung. Matanya melongo seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dalam batinnya bertanya-tanya, “Benarkah aku sakit?”
“Selamat pagi, pak. Bapak kok pagi-pagi sudah melamun. Kayaknya Bapak sakit ya? Aku lihat wajah Bapak benar-benar pucat.” Ujar Rosita.
“Sakit? Benarkah aku sakit? Apakah wajahku pucat?” sang guru mulai mempercayai kami.
Kami semua serentak mengatakan bahwa guru sakit, wajah guru pucat. Melihat kami semua menjawab demikian, sang guru pun yakin bahwa dirinya sakit.
“Kalau begitu, aku harus cepat-cepat pulang, biar langsung bisa istirahat dulu. Jadi aku harap keesokan hari aku sudah bisa kembali ke sekolah dengan tidak pucat lagi.”
Kami senang bukan kepalang. Kami sudah membayangkan pulang sekolah sudah bisa bermain dengan sepuas hati. Tapi….
“Untuk itu, hari ini kita belajar di rumah Bapak saja!” ujar sang guru dengan sambil berpikir apa betul dirinya sakit.
Semua diam. Kami tidak jadi senang. Kebahagiaan kami ditarik kembali. Rencana kami gagal untuk mengelabui sang guru.

Apa boleh buat kami menjalankan rencana kedua. Kami semua jalan kaki sedang sang guru naik motor. Di rumahnya, sang guru mengomeli istrinya. “Ibu ini bagaimana sih, aku pucat kok enggak dikasih tahu. Kalau terlihat guru-guru lain bagaimana reputasiku di sekolah nanti? Aku kan sudah dikenal guru teladan. Untung saja sakitku belum parah.”
Dengan penuh keheranan, istri sang guru berkata, “Bapak sakit? Ah yang benar saja? Bapak tidak terlihat pucat kok. Bapak sehat, Bapak benar-benar sehat. Coba saja lihat di cermin!”

Tapi sang guru tidak bergeming. Ia langsung masuk ke kamarnya dan ganti pakaian. Istrinya mengikuti.
“Mungkin perasaan bapak saja itu. Soalnya wajah Bapak benar-benar bugar.” Istrinya masih meyakinkan suaminya.
“Tidak bu, kata anak-anak Bapak pucat. Memalukan saja aku ini. Tapi, jangan khawatir aku suruh anak-anak belajar di sini selama aku kurang sehat. ”

Istrinya hanya diam. Ia tidak mau mengajak ribut pagi-pagi begini.
Tak lama kami datang dan langsung disambut oleh sang guru.
“Berhubung aku sakit, jadi kalian saja yang aktif ya. Aku hanya mendengarkan saja belajar kalian.” Ujar sang Guru.
Kami hanya mengiyakan.
“Coba Maman baca pelajaran ketiga di halaman tujuh puluh!”
Maman pun membacanya.
“Jangan kencang-kencang membacanya. Biasa saja!” tegur sang guru.
“Tidak guru. Aku membacanya dengan pelan kok.”
Giliran Rosita membaca.
“Kamu juga. Jangan keras-keras membacanya!” Bentak sang guru lagi.
“Siapa yang keras-keras pak guru? Aku biasa saja kok membacanya” ujar Rosita pura-pura heran.

Setelah itu giliran aku. Aku pun sama ditegur oleh sang guru.
“Aha, aku tahu pak guru. Sebetulnya bukan suara kami yang keras tapi mungkin kepala pak guru saja yang lagi pusing. Jadi, suara kami yang lembut ini terdengar keras.” Ujar aku panjang lebar.
“Mungkin juga ya. Ya sudah kalau begitu kalian belajar sendiri saja di rumah. Aku harus istirahat total.”
Bukan main senangnya hati kami. Kami merasa bebas. Seolah-olah kami baru saja memenangkan perlombaan drama. Akting kami sungguh bagus dan benar-benar menjiwai. Kami semua pulang dengan kemenangan.

Sesampai di rumah ibuku bertanya penuh keheranan. Aku jawab saja bahwa pak gurunya sakit. Jadi, kelas kami diliburkan. Tapi ibuku tak mempercayainya begitu saja. Ia berpikir bahwa ada sesuatu yang janggal. Untuk memastikannya, ia pun pergi menuju rumah sang guru.

Apa yang terjadi? Ternyata memang betul. Sang guru sakit betulan. Aku pun tak mempercayainya. tapi kenyataannya memang demikian.

“Kok bisa ya Pak guru tiba-tiba sakit?” tanya ibuku.
“Entahlah, tiba-tiba saja aku sakit. Untung diberitahu oleh para siswa, sehingga bisa cepat-cepat pulang ke rumah dan beristirahat. Kalau tidak, mungkin lebih parah lagi,” kata sang guru.

Kamis, 26 Maret 2009

Beda, donk!

Aku : Hok, kenapa sih orang Cina itu kaya raya, dagangannya kok sukses terus?

Ahok : Lho, kami kan orang cina sering berdoa!

Aku : Kita orang Indonesia juga berdoa, emang beda?

Ahok : Beda, donk. Kami kan berdoa dengan bahasa cina





Selasa, 10 Maret 2009

Meniru Kreativitas Tuhan

Tulisan ini disuguhkan pada LK I HMI Kom. Fak. Ekonomi UGM, pada 09 Maret 2009.
--------------------------
“Apabila ingin mengubah dunia, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri”
“Allah tidak akan mengubah suatu masyarakat, sampai masyarakat sendiri yang mengubahnya”
“Apa yang anda wariskan dalam hidup saat anda sudah mati?”

Disadari atau tidak, peradaban Islam sebenarnya adalah peradaban buku. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Pertama adalah ditandai dengan turunnya ayat al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (S.Al-‘Alaq: 1-5).

Pada masa Nabi Muhammad SAW Al-Qur’an mulai ditulis oleh masing-masing sahabat. Setelah Nabi wafat, Umar bin Khattab kemudian menggagas agar Al-Qur’an dijadikan satu mushaf. Dari situ, jadilah Al-Qur’an yang kita lihat saat ini. Ketika Islam menyebar ke luar Mekkah dan Madinah, tuntutan tafsir/interpretasi atas Al-Qur’an menjadi keniscayaan. Hal itu disebabkan masyarakat di luar Makkah dan Madinah mempunyai konteks yang berbeda. Dari situ, mulai bermunculan tafsir-tafsir Al-Qur’an. Seiring dengan itu, ilmu-ilmu keislaman--yang terinspirasi dari pokok-pokok Al-Qur’an--mulai bermunculan, sesuai dengan kapasitas keilmuan ulama dan kebutuhan masyarakat pada waktu itu, seperti kitab-kitab fiqih, tasawuf, sejarah, sastra, politik, ekonomi, filsafat, kedokteran, dan lain-lain.

Dari fenomena di atas, tak aneh kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam berkembang pesat, dan puncaknya adalah meraih peradabannya. Hampir semua lini mengalami kemajuan: filsafat, politik, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain. Warisan-warisan para ulama terdahulu masih dapat kita saksikan pada saat ini. Salah satu warisannya adalah karya tulis (alias buku/kitab).

Jika anda berkunjung ke perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, anda akan mendapatkan deretan kitab-kitab klasik yang ditulis pada abad-abad silam. Kitab-kitab tersebut lazim dijuluki dengan “kitab kuning” (lantaran kertasnya sudah termakan usia, meski tidak mesti berwarna kuning). Sebut saja misalnya, tafsir at-Thabari, tafsir ar-Razy, tafsir az-Zamakhsari, di mana semua kitab itu masing-masing lebih dari sepuluh jilid. Belum lagi, kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, al-Qanun fi ath-Thib karya Ibnu Sina, dan masih banyak lagi.

Pada tulisan ini saya hendak mengatakan bahwa tulisan mempunyai dua manfaat: 1) dapat mengubah seseorang dan masyarakat, dan 2) sifatnya abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertama, tulisan dapat mengubah seseorang dan masyarakat. Berbagai karya tulis para ulama adalah salah satu bukti konkritnya. Karya-karya tulis mereka secara tidak langsung telah mengantarkan umat Islam pada kejayaannya. Dengan kata lain, karya tulis mereka mampu mengubah dan menggerakkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik.

Sisi lain, karya tulis pun mampu mengubah penulisnya sendiri. Beberapa penelitian dan pengalaman orang-orang membuktikan hal itu, bahwa menulis benar-benar memberikan efek sugesti yang baik bagi diri kita, dari berbagai sisi, misalnya kesehatan dan melejitkan potensi, serta merencanakan hidup sukses dan bahagia. (Lebih detailnya silakan baca karangan saya, The True Power of Writing: Menulis itu Menyembuhkan, 2007).

Kedua, tulisan mempunyai sifat yang abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Bukti konkrit dalam hal ini adalah Al-Qur’an. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika Al-Qur’an tidak ditulis, dengan jarak yang yang terbentang begitu jauh baik ruang dan waktu, apakah bisa sampai kepada kita saat ini? Begitu juga dengan karya-karya tulis para ulama terdahulu, jika saja mereka tidak menulis dapatkah mereka mewariskan sesuatu yang abadi kepada generasi mereka berikutnya, yaitu kita? Pun dengan tokoh-tokoh Indonesia, mereka tetap dikenang lantaran terekam dalam buku-buku sejarah, apalagi mereka yang menulis karya tulis (baik fiksi, non-fiksi, maupun memoar/diary).

Dari kedua manfaat menulis di atas, apa yang bisa kita petik hikmah/pelajarannya bagi kita, sebagai umat muslim generasi saat ini dan mendatang?

Nabi bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi”. Dari sabda nabi ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa kita (sebagai ulama; ilmuwan/cendekiawan) harus meneruskan tradisi para nabi, yaitu membawa misi kebaikan kepada dunia ini. Lebih-lebih kita sebagai muslim intelektual dan akademis.

Hal itu bisa dilakukan salah satunya adalah melalui tulis menulis. Dengan tulis menulis kesempatan kita amatlah besar. Melalui tulis menulis, benih-benih kebaikan dapat kita sebarkan kepada orang lain, paling tidak kepada diri kita sendiri. Menulis akan mengabadikan kita sepanjang adanya dunia, meski kita telah lama mati. Menulis pula dapat kita wariskan pada anak cucu kita, lebih-lebih pada dunia. Menulis pula—mudah-mudahan—akan dapat menjadi amal baik kita yang akan terus menerus mengalir pahalanya kepada kita, lantaran dibaca dan bermanfaat bagi orang lain, sehingga hal itu menjadi doa bagi kita.

Selamat menulis (apa saja), asal bermanfaat bagi diri sendiri, lebih-lebih bagi orang lain. Scripta manent verba volant! Yang tertulis akan abadi yang terucap akan hilang.

M.Iqbal Dawami
penulis buku The True Power Of Writing: Menulis itu Menyembuhkan (2007)