Aku lihat demonstrasi dimana-mana. Pusing juga lihatnya. Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi chaos, seperti pada zaman orde baru dulu, saat lengsernya Soeharto. Istilah chaos sendiri, populer pas kejadian itu. Sebelumnya aku tidak paham apa itu chaos. Tahunya saos. Mahasiswa dan buruh demo lumayan besar di hari ini. Terutama di Jakarta, yang berpusat di istana presiden dan gedung DPR. Aku lihat yang di depan Gedung DPR, para demonstran begitu banyak. Mereka berhasil menggeser pintu gerbang gedung tersebut, namun tidak sampai masuk, karena masih bisa mengendalikan diri.
BBM per 1 April akan dinaikkan. Itulah penyebab maraknya demonstrasi. Ya, bagi rakyat jelata, BBM naik adalah siksa kubur. Betapa tidak, gara-gara BBM naik, harga sembako akan naik, uang transportasi naik, bahkan semuanya akan naik. Itu sebuah kepastian, karena BBM memengaruhi semua sendi kehidupan. Jadi, tidak hanya situasi politik dan ekonomi yang menyebabkan segalanya naik, tetapi juga BBM yang bisa menggalaukan semua perkara kehidupan.
Alangkah nahasnya menjadi kaum dhuafa. Mereka (termasuk aku) menjadi sasaran empuk korban segala kebijakan pemerintah. Alasan pemerintah menaikkan BBM lantaran minyak mentah dunia naik, dan APBN akan jebol jika tidak dinaikkan. Okelah pemerintah punya alasan seperti itu, tapi apa tidak ada cara lain selain menaikkan BBM? Mungkin pemerintah menjawab, sudah ada cara lain, yakni dengan adanya subsidi, tapi itu belum cukup. Ya, cari cara lainnya dong. Pemerintah sebagai penjamin kemakmuran rakyatnya, harus kreatif lah. Pemerintah harus mencari cara bagaimana BBM tidak naik, bahkan bagaimana bangsa Indonesia tidak tergantung pada minyak dunia. Bukankah sumber daya alam berupa minyak di negara kita ada?
Mestinya kita mampu berpikir kesana. Atau, pemerintah juga bisa berpikir, bagaimana caranya kendaraan tidak memakai bahan bakar bensin dan solar? Dalam arti, pemerintah mencari cara pengganti bahan bakar bensin dan solar dengan bahan dasar lain, yang bisa kita ambil dari sumber daya alam kita ini? Kerahkan ilmuwan-ilmuwan kita untuk memikirkan hal ini. Dahlan Iskan sebetulnya sudah merintis hal ini, yaitu dengan menggagas kendaraan mobil listrik, yang katanya mulai dioperasikan pada tahun 2014. Ah, semoga saja terlaksana hal itu.
Cara berpikir Dahlan seperti itu patut ditiru oleh pejabat lainnya. Bahkan oleh masyarakat juga, dan oleh saya juga. Terobosan-terobosannya dinilai efektif dan terasa bagi masyarakat. Masyarakat juga harus kreatif, yakni mulai meningkatkan pendapatannya, bergaya hidup hemat, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Maaf, itu bukan untuk masyarakat, itu untuk saya. Karena saya tidak tahu untuk masyarakat mana yang saya sarankan kreatif, karena artis pun masyarakat, yang tidak terpengaruh oleh kenaikan BBM.
Ah, saya rindu dengan pemimpin yang kreatif, yang mampu melakukan terobosan-terobosan signifikan, demi kemakmuran rakyatnya. Ibda’ binafsik. Mulailah dari dirimu! Bukankah masing-masing di antara kita adalah pemimpin?
Padi tumbuh dalam kesunyian, sejak hijau hingga menguning. Dia tidak banyak "bicara" dan gembar-gembor untuk mempersiapkan kematangannya. Dan saat matang dia justru merunduk. Semakin berisi semakin tunduk. [iqbal.dawami@gmail.com]
Selasa, 27 Maret 2012
Sabtu, 25 Februari 2012
Tulis Segera, Jangan Menunggu Sempurna
Sesungguhnya untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung, mana dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Jadi, dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasan kita.
Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dahulu, semasa menyusun tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Pak Sahiron Syamsuddin, PhD., beliau kira-kira mengatakan begini, “Tulis saja dulu, apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.”
Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut betul adanya. Sungguh, baru aku merasakannya pada saat aku serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat aku lulus kuliah pasca sarjana. Aku tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna, seperti halnya saat aku hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung aku menulisnya, sesedikit apa pun. Aku tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.
Jadi, sekali lagi saya katakan, banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sodaqoh, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa sodaqoh. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sodaqohnya, sekalian kalau sudah banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sodaqoh. Atau saat anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya anda tidak bisa lagi sodaqoh. Menyesal, bukan?
Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis, dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.
Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudnya, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak anda tulis. Jadi, anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran anda dalam sebuah tulisan. []
Yogyakarta,25 Februari 2012
Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dahulu, semasa menyusun tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Pak Sahiron Syamsuddin, PhD., beliau kira-kira mengatakan begini, “Tulis saja dulu, apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.”
Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut betul adanya. Sungguh, baru aku merasakannya pada saat aku serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat aku lulus kuliah pasca sarjana. Aku tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna, seperti halnya saat aku hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung aku menulisnya, sesedikit apa pun. Aku tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.
Jadi, sekali lagi saya katakan, banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sodaqoh, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa sodaqoh. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sodaqohnya, sekalian kalau sudah banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sodaqoh. Atau saat anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya anda tidak bisa lagi sodaqoh. Menyesal, bukan?
Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis, dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.
Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudnya, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak anda tulis. Jadi, anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran anda dalam sebuah tulisan. []
Yogyakarta,25 Februari 2012
Jumat, 24 Februari 2012
Masa Depan Buku Cetak
Suatu malam saya dan kawan-kawan peresensi Jogjakarta berbincang dengan seorang distributor buku di sebuah kafe daerah selokan mataram, Jogjakarta. Kami berbincang mengenai dunia perbukuan, salah satunya adalah soal masa depan buku cetak. Distributor itu bercerita bahwa buku (cetak) kini mendapat tantangan serius dari waktu ke waktu. Minat baca dan daya beli masyarakat itu masih menjadi masalah klasik dan klise dalam dunia perbukuan di Indonesia. Belum juga kelar mencari solusi soal itu, kini perbukuan juga diserang oleh hadirnya e-book (electronic book)—buku elektronik—alias buku digital.
Tidak hanya penerbit yang mendapat getahnya, tetapi juga distributor dan toko buku. Bahkan penulis juga. Penerbit akan menyusut memproduksi bukunya lantaran konsumen tertarik membeli buku elektronik yang murah dan mudah. Distributor pusing apa yang hendak didistribusikan kepada toko-toko buku jika pasokan buku-bukunya berkurang sedang ongkos di lapangan tidak kenal kompromi. Sedang toko buku kelimpungan menjual. Konsumen sudah jarang pergi ke toko buku lagi. Mereka tinggal memesan e-book via internet yang cepat dan murah. Amboi.
Hal itulah yang dialami di Amerika. Jaringan toko buku terbesar di Amerika, Borders Group, bangkrut. Sekitar 400 gerai lebih telah ditutup dan dijual. Padahal perusahaan tersebut menguasai pasar buku dalam dan luar negeri, mempunyai cabang di beberapa negara, seperti Singapura dan Australia. Penghasilan mereka per tahun mencapai $ 3 miliar atau Rp 25 triliun. Mereka bangkrut lantaran serbuan e-book atau buku digital yang begitu massif.
Menurut Asosiasi Penerbit Amerika (AAP), per Juni 2011, penjualan buku dewasa dengan kertas koran (paperback) merosot tajam sebesar 63,8% dalam waktu 12 bulan. Diperkirakan, ini setara dengan 85 juta dolar AS. Untuk buku hardcover, penjualannya juga menurun. Walaupun prosentasenya lebih kecil tapi tak kalah mencemaskan, yakni turun 25,4%. Bagaimana dengan e-book? Penjualannya, melalui Kindle, iPad, dan Nook, melonjak sampai 167% atau sekitar 50 juta dolar AS.
Di Inggris, penjualan Kindle terdongkrak 20% dibandingkan tahun lalu. Kabarnya, Amazon.co.uk telah mampu menjual 242 e-book untuk setiap 100 buku hardcover yang laku. Penurunan penjualan buku di Inggris memang tidak sedrastis di AS, yakni 7,5% selama tiga bulan pertama tahun 2011. Tapi, seperti di AS, penurunan penjualan buku hardcover di Inggris tidak sebanyak paperback. Pembaca buku paperback umumnya beralih ke e-book, sedangkan perpustakaan di negara maju lazimnya lebih suka membeli buku hardcover karena lebih awet (blogtempointeraktif.com, 6/12/11).
Lantas, bagaimana di Indonesia? Sejauh pengamatan saya, efek adanya buku digital masih belum terasa. Perbukuan di Indonesia masih berkutat soal bagaimana meningkatkan minat baca pada masyarakat dan bagaimana kertas agar bisa murah, di samping perkembangan tablet computer masih rendah lantaran harganya masih dianggap mahal. Majalah Tempo pernah melakukan survey bahwa penjualan tablet di Indonesia hanya 150 ribu unit, nyaris tak berarti dibandingkan dengan total penjualan di pasar dunia yang mencapai 100 juta unit.
Tapi, meski begitu, jika mendengar cerita distributor yang saya ceritakan di atas fenomena buku digital yang telah meluluhlantahkan perbukuan konvensional di luar negeri menjadi kegelisahan pekerja buku di Indonesia juga. Musyawarah antar-penerbit sudah dilakukan. Beberapa penerbit sudah melakukan inisiatif sendiri sebagai langkah antisipatif. Gramedia, Mizan, dan Ufuk, misalnya, sudah mulai menggarap pasar buku digital. Gramedia meluncurkan aplikasi Gramedia for iPad dan aplikasi pembaca buku digital untuk tablet Samsung Galaxy Tab.
Mizan di bawah lini Mizan New Media mulai menggarap buku-buku digital dengan beberapa terma: Mizan-Google Book Search, Mizan e-Book, dan Mizan Fonovela. Buku-buku Mizan bisa ditemukan di Nokia Ovi Store. Di ranah tablet, bisa diunduh lewat aplikasi gratis Mizan di Apple Store. Untuk perangkat berbasis Android, unduh aplikasi toko buku wayangforce.com. Aplikasi buku untuk pengguna Blackberry siap diluncurkan. Dalam menyelenggarakan layanan konten digital ini, Mizan bekerjasama dengan sejumlah pengembang aplikasi seperti Manggis Mobile untuk aplikasi buku di Nokia dan Blackberry, PhaseDev untuk aplikasi Mizan di Apple Store dan Android Market serta Huawei untuk layanan XL Baca.
Sedang Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing. Ufuk bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu sebuah situs toko buku online, yang membuatkan versi elektronik dari seluruh buku yang telah diterbitkan. Ufuk hanya menerima royalti dari setiap buku yang dibeli dari toko buku online tersebut.
Ya, zaman terus bergulir, teknologi terus melaju. Beberapa tahun ke depan tablet komputer dengan layar sentuh akan menjadi tren seiring penurunan harganya lantaran pihak produsen makin kompetitif. Dan era buku cetak segera beralih ke era buku digital. Namun, kedua jenis buku tersebut tetap memiliki pasarnya masing-masing. Ini soal selera dan kebiasaan. “Jenis buku cetak akan tetap diminati dan buku elektronik pun punya penggemarnya sendiri,” ujar Baqar Bilfaqih,
direktur produksi penerbit Ufuk. Budaya membaca buku versi cetak akan beriringan dengan budaya membaca buku versi digital.
Jadi, buku cetak tetap kelak akan selamat dan diproduksi karena masih ada yang senang membacanya, atau dijadikan barang koleksi (collectible items).Terlepas dari wacana di atas, ada hal yang lebih penting sesungguhnya yang harus dijadikan PR kita bersama, baik pemerintah maupun pekerja buku. Di Inggris sudah melakukan antisipasi jauh ke depan persoalan gurita buku digital ini. Pemerintah Inggris kini menyediakan insentif pajak dan berbagai kemudahan finansial lain untuk mencegah buku-buku karya sastrawan Inggris dibeli oleh museum-museum Amerika Serikat.
Tommy Satryatomo, konsultan konten digital Penerbit Mizan, dalam milis bercerita bahwa selang sehari setelah dirilisnya buku-buku Mizan dalam bentuk digital, dia langsung dikontak oleh perpustakaan Kedubes Australia di Jakarta. Dia dimintai daftar buku-buku digital Mizan. Tentu saja akan dibeli. Dia berpikir jauh ke depan, jangan-jangan kelak kita mesti ke Australia atau Belanda untuk membaca buku cetak berisi karya-karya Taufiq Ismail, Romo Mangun, Radhar Panca Dahana, Helvy Tiana Rosa, Farid Gaban, dan lain-lain sama seperti kita kini mesti ke Leiden untuk membaca manuskrip kuno Indonesia.
Waspadalah, waspadalah!! []
*M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta.
Tidak hanya penerbit yang mendapat getahnya, tetapi juga distributor dan toko buku. Bahkan penulis juga. Penerbit akan menyusut memproduksi bukunya lantaran konsumen tertarik membeli buku elektronik yang murah dan mudah. Distributor pusing apa yang hendak didistribusikan kepada toko-toko buku jika pasokan buku-bukunya berkurang sedang ongkos di lapangan tidak kenal kompromi. Sedang toko buku kelimpungan menjual. Konsumen sudah jarang pergi ke toko buku lagi. Mereka tinggal memesan e-book via internet yang cepat dan murah. Amboi.
Hal itulah yang dialami di Amerika. Jaringan toko buku terbesar di Amerika, Borders Group, bangkrut. Sekitar 400 gerai lebih telah ditutup dan dijual. Padahal perusahaan tersebut menguasai pasar buku dalam dan luar negeri, mempunyai cabang di beberapa negara, seperti Singapura dan Australia. Penghasilan mereka per tahun mencapai $ 3 miliar atau Rp 25 triliun. Mereka bangkrut lantaran serbuan e-book atau buku digital yang begitu massif.
Menurut Asosiasi Penerbit Amerika (AAP), per Juni 2011, penjualan buku dewasa dengan kertas koran (paperback) merosot tajam sebesar 63,8% dalam waktu 12 bulan. Diperkirakan, ini setara dengan 85 juta dolar AS. Untuk buku hardcover, penjualannya juga menurun. Walaupun prosentasenya lebih kecil tapi tak kalah mencemaskan, yakni turun 25,4%. Bagaimana dengan e-book? Penjualannya, melalui Kindle, iPad, dan Nook, melonjak sampai 167% atau sekitar 50 juta dolar AS.
Di Inggris, penjualan Kindle terdongkrak 20% dibandingkan tahun lalu. Kabarnya, Amazon.co.uk telah mampu menjual 242 e-book untuk setiap 100 buku hardcover yang laku. Penurunan penjualan buku di Inggris memang tidak sedrastis di AS, yakni 7,5% selama tiga bulan pertama tahun 2011. Tapi, seperti di AS, penurunan penjualan buku hardcover di Inggris tidak sebanyak paperback. Pembaca buku paperback umumnya beralih ke e-book, sedangkan perpustakaan di negara maju lazimnya lebih suka membeli buku hardcover karena lebih awet (blogtempointeraktif.com, 6/12/11).
Lantas, bagaimana di Indonesia? Sejauh pengamatan saya, efek adanya buku digital masih belum terasa. Perbukuan di Indonesia masih berkutat soal bagaimana meningkatkan minat baca pada masyarakat dan bagaimana kertas agar bisa murah, di samping perkembangan tablet computer masih rendah lantaran harganya masih dianggap mahal. Majalah Tempo pernah melakukan survey bahwa penjualan tablet di Indonesia hanya 150 ribu unit, nyaris tak berarti dibandingkan dengan total penjualan di pasar dunia yang mencapai 100 juta unit.
Tapi, meski begitu, jika mendengar cerita distributor yang saya ceritakan di atas fenomena buku digital yang telah meluluhlantahkan perbukuan konvensional di luar negeri menjadi kegelisahan pekerja buku di Indonesia juga. Musyawarah antar-penerbit sudah dilakukan. Beberapa penerbit sudah melakukan inisiatif sendiri sebagai langkah antisipatif. Gramedia, Mizan, dan Ufuk, misalnya, sudah mulai menggarap pasar buku digital. Gramedia meluncurkan aplikasi Gramedia for iPad dan aplikasi pembaca buku digital untuk tablet Samsung Galaxy Tab.
Mizan di bawah lini Mizan New Media mulai menggarap buku-buku digital dengan beberapa terma: Mizan-Google Book Search, Mizan e-Book, dan Mizan Fonovela. Buku-buku Mizan bisa ditemukan di Nokia Ovi Store. Di ranah tablet, bisa diunduh lewat aplikasi gratis Mizan di Apple Store. Untuk perangkat berbasis Android, unduh aplikasi toko buku wayangforce.com. Aplikasi buku untuk pengguna Blackberry siap diluncurkan. Dalam menyelenggarakan layanan konten digital ini, Mizan bekerjasama dengan sejumlah pengembang aplikasi seperti Manggis Mobile untuk aplikasi buku di Nokia dan Blackberry, PhaseDev untuk aplikasi Mizan di Apple Store dan Android Market serta Huawei untuk layanan XL Baca.
Sedang Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing. Ufuk bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu sebuah situs toko buku online, yang membuatkan versi elektronik dari seluruh buku yang telah diterbitkan. Ufuk hanya menerima royalti dari setiap buku yang dibeli dari toko buku online tersebut.
Ya, zaman terus bergulir, teknologi terus melaju. Beberapa tahun ke depan tablet komputer dengan layar sentuh akan menjadi tren seiring penurunan harganya lantaran pihak produsen makin kompetitif. Dan era buku cetak segera beralih ke era buku digital. Namun, kedua jenis buku tersebut tetap memiliki pasarnya masing-masing. Ini soal selera dan kebiasaan. “Jenis buku cetak akan tetap diminati dan buku elektronik pun punya penggemarnya sendiri,” ujar Baqar Bilfaqih,
direktur produksi penerbit Ufuk. Budaya membaca buku versi cetak akan beriringan dengan budaya membaca buku versi digital.
Jadi, buku cetak tetap kelak akan selamat dan diproduksi karena masih ada yang senang membacanya, atau dijadikan barang koleksi (collectible items).Terlepas dari wacana di atas, ada hal yang lebih penting sesungguhnya yang harus dijadikan PR kita bersama, baik pemerintah maupun pekerja buku. Di Inggris sudah melakukan antisipasi jauh ke depan persoalan gurita buku digital ini. Pemerintah Inggris kini menyediakan insentif pajak dan berbagai kemudahan finansial lain untuk mencegah buku-buku karya sastrawan Inggris dibeli oleh museum-museum Amerika Serikat.
Tommy Satryatomo, konsultan konten digital Penerbit Mizan, dalam milis bercerita bahwa selang sehari setelah dirilisnya buku-buku Mizan dalam bentuk digital, dia langsung dikontak oleh perpustakaan Kedubes Australia di Jakarta. Dia dimintai daftar buku-buku digital Mizan. Tentu saja akan dibeli. Dia berpikir jauh ke depan, jangan-jangan kelak kita mesti ke Australia atau Belanda untuk membaca buku cetak berisi karya-karya Taufiq Ismail, Romo Mangun, Radhar Panca Dahana, Helvy Tiana Rosa, Farid Gaban, dan lain-lain sama seperti kita kini mesti ke Leiden untuk membaca manuskrip kuno Indonesia.
Waspadalah, waspadalah!! []
*M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta.
Selasa, 17 Januari 2012
Anomali Hujan
Di Pati. Sudah dua hari ini hujan turun terus menerus tak kenal henti. Mungkin ada dua hari dua malam. Berhenti hanya sejenak, seolah hendak sekadar mengambil napas saja. Setelah itu hujan turun kembali. Baru kali ini aku menemui hujan seperti ini. Sebelumnya tidak pernah. Bayangan banjir menghantuiku. Betapa tidak bayangkan saja apabila hujan turun terus menerus, air sungai meluap, dan banjir kiriman dari gunung datang menerjang. Mengerikan.
Ah, semoga saja tidak terjadi perihal ketakutanku itu. Amin. Meski begitu aku harus siap dengan segala kemungkinan. Toh, apa pun bisa saja terjadi. Dan, aku sebagai hamba-Nya hanya bisa pasrah, tak mampu untuk mengubah sesuatu. Hujan seolah mempunyai dua sisi mata uang: bisa membawa berkah, bisa pula membawa petaka. Tidak sepenuhnya benar pernyataanku itu. Karena hujan sesungguhnya selalu membawa kebaikan, hanya saja manusia yang ditugasi sebagai pengelola dunia tidak amanah dalam menjalankannya.
Ketidakamanahan manusia menjadikan sirkulasi alam raya tidak lancar. Misalnya, penebangan pohon yang semena-mena. Hal itulah kemudian saat datang hujan, banyak wilayah menjadi banjir. Karena air yang melimpah tidak terserap tanaman. Sehingga banjir dan longsor. Jadi, bukan hujannya yang bisa disalahkan, tapi ketidaksiapan bumi sendiri untuk menerima air yang melimpah itu. Jika saja hujan makhluk hidup, mungkin dia tidak rela untuk disalahkan apalagi dikambinghitamkan.
Hujan saat ini seperti sebuah anomali. Satu sisi kita mengharapkan kehadirannya saat kita terkena musim kemarau panjang yang sulit menemukan air, namun sisi lain, saat turun hujan seperti ini, malah kita berharap segera berlalu musim hujan. Karena menyebabkan banjir. Tentu ada yang salah dengan keadaan anomali demikian. Iklim yang tak menentu turut menjadikanya demikian. Pemanasan global juga sangat bertanggung jawab dengan keadaan ini.
Ya, banyak faktor sebetulnya yang menyebabkan anomali. Ketakutan kita lah penyebab kita menjadi takut. Aneh juga, mengapa kita harus takut? Sejak kapan sebetulnya munculnya ketakutan itu yang menyebabkan anomali? Wallahu a'lam. Mungkin saat manusia tidak merasakan manfaatnya apa arti hujan dan apa arti kemarau. Mungkin saat manusia merasakan kala berkah menjadi petaka. Ya, mungkin saja demikian. Tapi, mesti diingat anomali itu—sebagaimana telah disinggung di atas—terjadi karena manusia itu sendiri. Bukan karena yang lainnya. Mari kita merenungkannya.
Pati, senin, 9 januari 2012.
Ah, semoga saja tidak terjadi perihal ketakutanku itu. Amin. Meski begitu aku harus siap dengan segala kemungkinan. Toh, apa pun bisa saja terjadi. Dan, aku sebagai hamba-Nya hanya bisa pasrah, tak mampu untuk mengubah sesuatu. Hujan seolah mempunyai dua sisi mata uang: bisa membawa berkah, bisa pula membawa petaka. Tidak sepenuhnya benar pernyataanku itu. Karena hujan sesungguhnya selalu membawa kebaikan, hanya saja manusia yang ditugasi sebagai pengelola dunia tidak amanah dalam menjalankannya.
Ketidakamanahan manusia menjadikan sirkulasi alam raya tidak lancar. Misalnya, penebangan pohon yang semena-mena. Hal itulah kemudian saat datang hujan, banyak wilayah menjadi banjir. Karena air yang melimpah tidak terserap tanaman. Sehingga banjir dan longsor. Jadi, bukan hujannya yang bisa disalahkan, tapi ketidaksiapan bumi sendiri untuk menerima air yang melimpah itu. Jika saja hujan makhluk hidup, mungkin dia tidak rela untuk disalahkan apalagi dikambinghitamkan.
Hujan saat ini seperti sebuah anomali. Satu sisi kita mengharapkan kehadirannya saat kita terkena musim kemarau panjang yang sulit menemukan air, namun sisi lain, saat turun hujan seperti ini, malah kita berharap segera berlalu musim hujan. Karena menyebabkan banjir. Tentu ada yang salah dengan keadaan anomali demikian. Iklim yang tak menentu turut menjadikanya demikian. Pemanasan global juga sangat bertanggung jawab dengan keadaan ini.
Ya, banyak faktor sebetulnya yang menyebabkan anomali. Ketakutan kita lah penyebab kita menjadi takut. Aneh juga, mengapa kita harus takut? Sejak kapan sebetulnya munculnya ketakutan itu yang menyebabkan anomali? Wallahu a'lam. Mungkin saat manusia tidak merasakan manfaatnya apa arti hujan dan apa arti kemarau. Mungkin saat manusia merasakan kala berkah menjadi petaka. Ya, mungkin saja demikian. Tapi, mesti diingat anomali itu—sebagaimana telah disinggung di atas—terjadi karena manusia itu sendiri. Bukan karena yang lainnya. Mari kita merenungkannya.
Pati, senin, 9 januari 2012.
Selasa, 13 Desember 2011
Wa Dullah
Saat mendengar khutbah jumat, pikiranku tiba-tiba menuju satu sosok yang kukagumi karena keistikamahannya. Dia biasa dipanggil Wa Dullah. Usianya sudah tua, mungkin seangkatan dengan almarhum kakekku. Aku tidak tahu persis. Tapi semangat memakmurkan mesjidnya begitu istimewa. Dia tidak hanya sekadar rajin shalat berjamaah lima waktu, tapi juga orang yang selalu pertama dan terakhir di mesjid. Dia yang mengumandangkan azan dan iqamat. Dia yang selalu membersihkan mesjid. Dia juga yang selalu menggelar karpet pas persiapan jumatan.
Bagiku Wa Dullah adalah pencinta sejati mesjid, meski pada hakikatnya pencinta Allah yang tulus mendermakan hidupnya pada rumah Tuhan. Beliau adalah orang yang dirinya menyerahkan sepenuhnya pada mesjid. Dia melakukan semua itu hanya berharap rahmat Tuhan. Tidak lebih. Setiap kali pulang kampung aku hampir bertemu dengannya di mesjid. Kadang sembari menunggu shalat berjamaah beliau mengajak aku ngobrol, sambil memijit pundakku. Beliau selalu menasihatiku. Pernah suatu ketika dia memberi nasihat padaku agar aku menjadi penerus kakekku kelak sudah tidak ada.
Ada kejadian lucu yang sering diceritakan bapakku mengenai Wa Dullah. Pada suatu dini hari Wa Dullah azan. Bapakku terbangun dan melihat jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Bapakku berujar, "Lha, masih jam dua malam Wa Dullah kok sudah azan subuh. Pasti dia salah lihat jam." Dan benar saja, tak lama kemudian beliau mengumandangkan kata, "Hampuraaa". Hampura adalah bahasa sunda yang berarti mohon maaf. Pas subuh, bapakku kemudian bertemu dengannya dan mengonfirmasikan kejadian itu, dan benar saja Wa Dullah salah lihat jam, dikira sudah masuk waktu subuh maka dia buru-buru azan. Dan ketika melihat jam ternyata masih jam dua, maka dia buru-buru lagi membatalkan azannya yang sudah setengah perjalanan.
Begitulah sekelumit kisah Wa Dullah. Mengenai beliau aku banyak tahu dari bapakku. Bapakku pernah menceritakan asal-usulnya dan kedekatannya dengan almarhum kakekku. Pas lebaran tahun 2011 dengan ditemani bapak, aku silaturahmi ke rumahnya untuk pertama kalinya. Kulihat sosoknya yang begitu ringkih, dia sudah tidak bisa berjalan lagi. Itu lantaran faktor usia, bukan faktor lainnya. Namun penglihatan dan pendengarannya serta ingatannya masih segar bugar. Aku yakin itu karena hasil dari keistikamahannya memakmurkan mesjid (shalat, ngaji, dan menjaga segala sesuatunya yang ada di dalam mesjid). Dia hanya tidak bisa berjalan lantaran kakinya sudah lumpuh termakan usia. Itu saja.
Mungkin sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya, dan baru kali itu lagi kami bertemu. Aku bersyukur dia masih ingat padaku. Alhamdulillah. Ingatannya masih normal. Biasanya usia yang sudah uzur seperti itu sudah banyak lupa, terlebih kepada orang yang sudah lama tidak pernah bertemu. Tapi beliau sungguh berbeda, berada di luar kebiasaan.
Bapakku pernah bilang bahwa keistikamahan Wa Dullah dalam shalat berjamaah di mesjid lima waktu belum ada yang menyamainya. Banyak orang yang lebih muda darinya tapi tidak ada yang rajin shalat berjamaah di mesjid. Mestinya mereka malu. Ujar bapakku. Padahal rumahnya tidak begitu jauh dari area masjid. Bandingkan dengam rumah Wa Dullah yang posisinya antara desa Bojong dan Citumenggung. Lumayan jauh. Meski jika ada yang mengatakan tidak jauh, tapi dia harus naik jika hendak ke mesjid. Butuh perjuangan ekstra untuk ke mesjid dengan medan seperti itu. Terlebih pada musim hujan, jalan yang dilaluinya agak becek. Coba anda bayangkan pada musim hujan beliau keluar rumah menuju mesjid pada menjelang subuh. Gelap dan becek. Tapi, ternyata bagi beliau itu bukanlah halangan. Biasa-biasa saja.
Bisakah kita melakukannyat? Aku sendiri belum tentu. Wong pas dekat saja kadang malas-malasan. Kebetulan rumah kakek-nenekku persis samping mesjid. Jaraknya cuma 5 langkah padahal. Jadi sungguh memalukan sebenarnya aku jika sedang di tempat kakek aku tidak sampai ke mesjid untuk shalat berjamaah. Rasa malu itu bertambah jika hendak dibandingkan dengan Wa Dullah yang notanene-nya sudah tua dan jauh dari mesjid, namun tidak pernah absen untuk shalat di mesjid.
Apa yang bisa aku ambil dari kisah Wa Dullah itu? Keteladanan dan totalitas. Ya, dua hal itulah yang melekat dalam dirinya yang bisa kulekatkan juga dalam diriku. Istikamahnya dalam "menjaga" mesjid menjadi hal yang patut diteladani, terlebih di zaman sekarang yang menggerus kita dengan pelbagai kesibukan duniawi sehingga melupakan mesjid. Zaman ini adalah dengan meminjam bahasa teman, zaman bergelimang material tapi busung lapar di gurun spiritual. Totalitasnya mengabdi pada Tuhan menjadikan dirinya tak goyah di telan zaman. Wa Dullah tetap hidup bersahaja dan istikamah.[]
Pati, 11 Desember 2011
Bagiku Wa Dullah adalah pencinta sejati mesjid, meski pada hakikatnya pencinta Allah yang tulus mendermakan hidupnya pada rumah Tuhan. Beliau adalah orang yang dirinya menyerahkan sepenuhnya pada mesjid. Dia melakukan semua itu hanya berharap rahmat Tuhan. Tidak lebih. Setiap kali pulang kampung aku hampir bertemu dengannya di mesjid. Kadang sembari menunggu shalat berjamaah beliau mengajak aku ngobrol, sambil memijit pundakku. Beliau selalu menasihatiku. Pernah suatu ketika dia memberi nasihat padaku agar aku menjadi penerus kakekku kelak sudah tidak ada.
Ada kejadian lucu yang sering diceritakan bapakku mengenai Wa Dullah. Pada suatu dini hari Wa Dullah azan. Bapakku terbangun dan melihat jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Bapakku berujar, "Lha, masih jam dua malam Wa Dullah kok sudah azan subuh. Pasti dia salah lihat jam." Dan benar saja, tak lama kemudian beliau mengumandangkan kata, "Hampuraaa". Hampura adalah bahasa sunda yang berarti mohon maaf. Pas subuh, bapakku kemudian bertemu dengannya dan mengonfirmasikan kejadian itu, dan benar saja Wa Dullah salah lihat jam, dikira sudah masuk waktu subuh maka dia buru-buru azan. Dan ketika melihat jam ternyata masih jam dua, maka dia buru-buru lagi membatalkan azannya yang sudah setengah perjalanan.
Begitulah sekelumit kisah Wa Dullah. Mengenai beliau aku banyak tahu dari bapakku. Bapakku pernah menceritakan asal-usulnya dan kedekatannya dengan almarhum kakekku. Pas lebaran tahun 2011 dengan ditemani bapak, aku silaturahmi ke rumahnya untuk pertama kalinya. Kulihat sosoknya yang begitu ringkih, dia sudah tidak bisa berjalan lagi. Itu lantaran faktor usia, bukan faktor lainnya. Namun penglihatan dan pendengarannya serta ingatannya masih segar bugar. Aku yakin itu karena hasil dari keistikamahannya memakmurkan mesjid (shalat, ngaji, dan menjaga segala sesuatunya yang ada di dalam mesjid). Dia hanya tidak bisa berjalan lantaran kakinya sudah lumpuh termakan usia. Itu saja.
Mungkin sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya, dan baru kali itu lagi kami bertemu. Aku bersyukur dia masih ingat padaku. Alhamdulillah. Ingatannya masih normal. Biasanya usia yang sudah uzur seperti itu sudah banyak lupa, terlebih kepada orang yang sudah lama tidak pernah bertemu. Tapi beliau sungguh berbeda, berada di luar kebiasaan.
Bapakku pernah bilang bahwa keistikamahan Wa Dullah dalam shalat berjamaah di mesjid lima waktu belum ada yang menyamainya. Banyak orang yang lebih muda darinya tapi tidak ada yang rajin shalat berjamaah di mesjid. Mestinya mereka malu. Ujar bapakku. Padahal rumahnya tidak begitu jauh dari area masjid. Bandingkan dengam rumah Wa Dullah yang posisinya antara desa Bojong dan Citumenggung. Lumayan jauh. Meski jika ada yang mengatakan tidak jauh, tapi dia harus naik jika hendak ke mesjid. Butuh perjuangan ekstra untuk ke mesjid dengan medan seperti itu. Terlebih pada musim hujan, jalan yang dilaluinya agak becek. Coba anda bayangkan pada musim hujan beliau keluar rumah menuju mesjid pada menjelang subuh. Gelap dan becek. Tapi, ternyata bagi beliau itu bukanlah halangan. Biasa-biasa saja.
Bisakah kita melakukannyat? Aku sendiri belum tentu. Wong pas dekat saja kadang malas-malasan. Kebetulan rumah kakek-nenekku persis samping mesjid. Jaraknya cuma 5 langkah padahal. Jadi sungguh memalukan sebenarnya aku jika sedang di tempat kakek aku tidak sampai ke mesjid untuk shalat berjamaah. Rasa malu itu bertambah jika hendak dibandingkan dengan Wa Dullah yang notanene-nya sudah tua dan jauh dari mesjid, namun tidak pernah absen untuk shalat di mesjid.
Apa yang bisa aku ambil dari kisah Wa Dullah itu? Keteladanan dan totalitas. Ya, dua hal itulah yang melekat dalam dirinya yang bisa kulekatkan juga dalam diriku. Istikamahnya dalam "menjaga" mesjid menjadi hal yang patut diteladani, terlebih di zaman sekarang yang menggerus kita dengan pelbagai kesibukan duniawi sehingga melupakan mesjid. Zaman ini adalah dengan meminjam bahasa teman, zaman bergelimang material tapi busung lapar di gurun spiritual. Totalitasnya mengabdi pada Tuhan menjadikan dirinya tak goyah di telan zaman. Wa Dullah tetap hidup bersahaja dan istikamah.[]
Pati, 11 Desember 2011
E 63
Sambil marende (ngelonin) Aghza, aku mencoba menulis. Entah mau menulis apa. Aku menulisnya di handphone Nokia E 63. Aku bersyukur sekali bisa beli hp ini, karena aku bisa menulis dimana saja dan sambil apa saja. Contohnya pada saat ini, sambil tiduran aku menulis. Fasilitas ini sangat mendukung aku dalam karier kepenulisanku. Hp ini belum begitu lama aku beli, jadi belum bisa kumaksimalkan segala fasilitasnya. Tapi aku memang hanya tertarik dengan fasilitas word-nya saja. Karena memang itu niatku membeli hp ini; ada fasilitas office-nya, utamanya word-nya.
Dan harapanku setelah mempunyai hp ini aku bisa lebih produktif lagi dalam menulis. Aku harap juga aku kehabisan alasan untuk tidak menulis, entah itu waktu, tempat, maupun fasilitas. Dan semoga semangat menulisku karena adanya hp ini bukan semangat sementara, bukan hangat-hangat tahi ayam. Ya, aku harus sadar bahwa semangat yang didasari kebendaan atau yang bersifat eksternal biasanya tidak lama, alias sementara. Biasanya begitu. Oleh karena itu aku harus dapat mengkonversinya menjadi semangat internal, yang betul-betul dapat tahan lama.
Fasilitas tidak lebih penting dari menulis itu sendiri. Dengan kata lain, tanpa fasilitas pun aktifitas menulis harus dijalani. Banyak orang beralasan tidak bisa menulis lantaran tidak punya komputer, atau 'nanti saja menulisnya kalau sudah punya laptop', atau ' seandainya aku punya komputer aku akan rajin menulis'. Haha, itu hanya alasan saja, percayalah. Soalnya aku pernah mengalami hal itu. Bahkan alasanku saat ini adalah soal waktu, bukan soal fasilitas; aku sering berkata nanti aku menulis pada pagi hari, eh saat pagi datang malah aku enak tiduran.
Kekuasaan mutlak ada dalam diri kita. Kitalah yang mengendalikan sepenuhnya atas kehendak kita setelah Tuhan. Komputer, laptop, hp, dan lain-lain hanyalah fasilitas belaka, jadi anda tidak boleh dikendalikan oleh semua fasilitas itu. So, tanpa fasilitas yang saya sebutkan di atas pun anda tetap bisa menulis asalkan anda punya kehendak untuk melakukannya. Fasilitas hanya wadah untuk bisa melakukannya senyaman dan seefektif mungkin. Fasilitas hanya penunjang agar anda bisa melakukannya dengan baik.
Tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah menulis itu sendiri. Terserah anda menulis di apa saja, asal anda bisa menuliskannya. Anda bisa menulis di buku tulis, buku bekas yang halaman belakangnya masih kosong, bahkan bisa juga di bekas kertas bekas pembungkus bawang, cabai, kemiri, dan lain-lain (kesannya eksotis banget). Jangan salah, aku pun pernah mengalami hal itu. Pada saat belajar menulis resensi, aku masih belum punya komputer, terlebih notebook/laptop. Aku menulis di kertas bekas di halaman belakangnya. Setelah selesai satu tulisan, aku kemudian ke rental, untuk mengetiknya. Jadi, pekerjaanku dua kali. Kedaan itu aku jalani kurang lebih setengah tahun.
Sama halnya juga dengan Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun. Dia katanya sering menulis di secarik kertas. Pada saat dia manggung lalu mendapat ide, dia pergi ke belakang panggung dan menungkan idenya di secarik kertas. Tidak heran apabila dia begitu produktif (menulis) di tengah produktifitas lainnya, seperti ceramah budaya, main teater, dan bermusik dengan Kyai Kanjeng. Padahal saat itu belum zamannya komputer, dan aku yakin dia tidak begitu akrab dengan soal fasilitas modern itu, paling-paling hanya mesin ketik.
Seorang kawan yang cukup produktif menulis di media massa, Muhammadun As, pernah berkisah juga bahwa di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan kuliah masternya, dia tetap bisa menulis. Aktivitas menulisnya sama sekali tak terganggu. Jadi setelah anak dan istrinya tidur, dia kemudian menulis. Agar kuat menulis, dia cukup menyediakan air putih saja, dan mungkin dengan beberapa batang rokok. Luar biasa, bukan? Bahwa selain ketiadaan fasilitas, waktu sibuk pun bukan alasan untuk tidak bisa menulis.
Satu lagi alasan yang biasanya orang tidak bisa menulis, yaitu tidak adanya mood. Haha, ini nih yang sering sekali aku mendengarnya. Tidak adanya mood membuat orang macet menulis. Mereka tidak ada hasrat untuk menggerakan otak dan jari-jari tangannya baik di atas kertas maupun komputer/laptop. Tapi tunggu dulu, apa betul anda macet menulis karena tidak ada mood? Jangan langsung menuduh mood dulu, siapa tahu bukan itu penyebabnya. Kalau aku tidak begitu percaya penyebabnya itu, aku lebih percaya bahwa penyebab macet menulis lantaran aku malas berpikir dan malas menulis. Itu saja. Anda boleh percaya boleh tidak.
Aku berharap setelah punya hp ini aku tidak malas-malasan lagi untuk menulis.[]
Pati, 9 Desember, 2011, pkl. 14.21 WIB
Dan harapanku setelah mempunyai hp ini aku bisa lebih produktif lagi dalam menulis. Aku harap juga aku kehabisan alasan untuk tidak menulis, entah itu waktu, tempat, maupun fasilitas. Dan semoga semangat menulisku karena adanya hp ini bukan semangat sementara, bukan hangat-hangat tahi ayam. Ya, aku harus sadar bahwa semangat yang didasari kebendaan atau yang bersifat eksternal biasanya tidak lama, alias sementara. Biasanya begitu. Oleh karena itu aku harus dapat mengkonversinya menjadi semangat internal, yang betul-betul dapat tahan lama.
Fasilitas tidak lebih penting dari menulis itu sendiri. Dengan kata lain, tanpa fasilitas pun aktifitas menulis harus dijalani. Banyak orang beralasan tidak bisa menulis lantaran tidak punya komputer, atau 'nanti saja menulisnya kalau sudah punya laptop', atau ' seandainya aku punya komputer aku akan rajin menulis'. Haha, itu hanya alasan saja, percayalah. Soalnya aku pernah mengalami hal itu. Bahkan alasanku saat ini adalah soal waktu, bukan soal fasilitas; aku sering berkata nanti aku menulis pada pagi hari, eh saat pagi datang malah aku enak tiduran.
Kekuasaan mutlak ada dalam diri kita. Kitalah yang mengendalikan sepenuhnya atas kehendak kita setelah Tuhan. Komputer, laptop, hp, dan lain-lain hanyalah fasilitas belaka, jadi anda tidak boleh dikendalikan oleh semua fasilitas itu. So, tanpa fasilitas yang saya sebutkan di atas pun anda tetap bisa menulis asalkan anda punya kehendak untuk melakukannya. Fasilitas hanya wadah untuk bisa melakukannya senyaman dan seefektif mungkin. Fasilitas hanya penunjang agar anda bisa melakukannya dengan baik.
Tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah menulis itu sendiri. Terserah anda menulis di apa saja, asal anda bisa menuliskannya. Anda bisa menulis di buku tulis, buku bekas yang halaman belakangnya masih kosong, bahkan bisa juga di bekas kertas bekas pembungkus bawang, cabai, kemiri, dan lain-lain (kesannya eksotis banget). Jangan salah, aku pun pernah mengalami hal itu. Pada saat belajar menulis resensi, aku masih belum punya komputer, terlebih notebook/laptop. Aku menulis di kertas bekas di halaman belakangnya. Setelah selesai satu tulisan, aku kemudian ke rental, untuk mengetiknya. Jadi, pekerjaanku dua kali. Kedaan itu aku jalani kurang lebih setengah tahun.
Sama halnya juga dengan Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun. Dia katanya sering menulis di secarik kertas. Pada saat dia manggung lalu mendapat ide, dia pergi ke belakang panggung dan menungkan idenya di secarik kertas. Tidak heran apabila dia begitu produktif (menulis) di tengah produktifitas lainnya, seperti ceramah budaya, main teater, dan bermusik dengan Kyai Kanjeng. Padahal saat itu belum zamannya komputer, dan aku yakin dia tidak begitu akrab dengan soal fasilitas modern itu, paling-paling hanya mesin ketik.
Seorang kawan yang cukup produktif menulis di media massa, Muhammadun As, pernah berkisah juga bahwa di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan kuliah masternya, dia tetap bisa menulis. Aktivitas menulisnya sama sekali tak terganggu. Jadi setelah anak dan istrinya tidur, dia kemudian menulis. Agar kuat menulis, dia cukup menyediakan air putih saja, dan mungkin dengan beberapa batang rokok. Luar biasa, bukan? Bahwa selain ketiadaan fasilitas, waktu sibuk pun bukan alasan untuk tidak bisa menulis.
Satu lagi alasan yang biasanya orang tidak bisa menulis, yaitu tidak adanya mood. Haha, ini nih yang sering sekali aku mendengarnya. Tidak adanya mood membuat orang macet menulis. Mereka tidak ada hasrat untuk menggerakan otak dan jari-jari tangannya baik di atas kertas maupun komputer/laptop. Tapi tunggu dulu, apa betul anda macet menulis karena tidak ada mood? Jangan langsung menuduh mood dulu, siapa tahu bukan itu penyebabnya. Kalau aku tidak begitu percaya penyebabnya itu, aku lebih percaya bahwa penyebab macet menulis lantaran aku malas berpikir dan malas menulis. Itu saja. Anda boleh percaya boleh tidak.
Aku berharap setelah punya hp ini aku tidak malas-malasan lagi untuk menulis.[]
Pati, 9 Desember, 2011, pkl. 14.21 WIB
Rabu, 07 Desember 2011
Kebelet
Hari ini aku pulang—dalam perjalanan—menuju Pati. Aku lewat rute Semarang, padahal biasanya lewat rute Purwodadi. Dari berita aku mendengar di Purwodadi banjir, makanya aku pilih jalan Semarang. Saat ini baru sampai Magelang. Palbapang hingga Armada sekarang jalannya lebar, jadi lumayan cepat perjalanannya. Wah, kalau dulu pas jalannya masih sempit, perjalanan agak lama, karena macet dan pas tanjakan. Untunglah hal itu tidak berlangsung hingga sekarang. Mungkin inilah yang dinamakan kemajuan, he-he.
Perjalanan selau membawa cerita, walau ada yang mengesankan atau pun tidak. Tinggal bagaimana kita menyerapnya. Ada cerita mengenai kita sendiri dan ada pula tentang orang lain. Ada yang bisa diserap untuk dijadikan pelajaran dan ada yang tidak. Salah satu kisah menarik yang aku alami sendiri adalah pada saat di bis Mira jurusan Surabaya - Yogyakarta. Aku naik dari terminal Solo hendak ke Jogja. Waktu itu aku duduk di bangku paling belakang.
Di sampingku ada seorang bapak tua (pantas disebut kakek sebetulnya) sedang gelisah. Sebentar-sebentar dia duduk lalu berdiri. Kadang maju sedikit. Terus ada orang lain yang berkata padanya, "Ngomong sama kondekturnya, pak!" Jujur aku belum ngeh sedikit pun, ada apa gerangan dengan si bapak itu. "Bisa gak berhenti di pom bensin?" Ujar si bapak itu memohon kepada kondektur saat berada di dekatnya. Sang kondektur rupanya mencuekin permohonan si bapak itu. Bapak itu lalu duduk lagi.
Dia lalu bertanya padaku, "Mas, punya Aqua, gak?"
"Ada, pak." jawabku, kemudian aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebotol Aqua yang masih penuh. kuberikan padanya.
"Ayo masnya minum dulu!" ujar bapak itu.
"Oh tidak pak, silakan bapak dulu aja" jawabku.
Bapak itu lalu membuka botol Aquanya, dan meminumnya, tapi dia lalu berjalan menuju pintu bis yang agak sedikit turun. Dia lalu membuka celananya, setelah itu aku tidak memperhatikannya lagi, karena aku tahu dia hendak melakukan apa.
Ya, rupanya bapak itu kebelet pengen buang air kecil (bak). Setelah dia melepaskan hajatnya kulihat mukanya begitu tenang, gerak-geriknya tidak gelisah lagi. Plong, mungkin begitu yang dia rasakan. Ha-ha, ternyata yang membuat dia tidak bisa diam, berdiri-duduk, maju-mundur, kesana-kemari, ternyata dalam rangka menahan buang hajatnya; dia tidak tahu hendak membuang kemana; bingung. Mau ngomong ke sopir tidak berani. Dan memendamnya membuat dirinya tersiksa. Tapi, dia akhirnya membuat keputusan yang terbilang nekad. Mungkin itu cara yang terbaik baginya.
Keputusan memang harus dia ambil, jika tidak dia akan terus tersiksa selama dalam perjalanan. Aku tidak tahu sejak darimana dia menahan kencingnya. Setahuku dia naik bukan dari Solo, karena dia sudah ada pas aku naik bis tersebut. Mungkin dari Sragen, Mantingan, Madiun, Jombang, atau jangan-jangan dari Surabaya, hmm. Betapa tersiksanya bapak itu menahan kencingnya. Bisa kita bayangkan hal itu, karena kita pun mungkin pernah mengalami hal itu.
Aku jadi mendapat pelajaran berharga dari kejadian itu, betapa bersyukurnya aku bisa buang air kecil dengan lancar, tanpa ada halangan. Hal kecil itu kadang luput dari perhatianku; kadang luput untuk disyukuri. Aku hanya mensyukuri hal-hal besar seperti pas mendapat rejeki nomplok, mendapat pekerjaan bagus, dan lain sebagainya. Sedang hal-hal kecil seperti bisa kentut, bisa buang air besar (bab), bisa berkedip, dan termasuk bisa kencing, aku telah melupakannya.
Barangkali cara mensyukuri dari hal-hal semacam di atas adalah dengan menjaga kesehatanku sendiri dan lingkunganku. Ya, kata kuncinya adalah kepedulian terhadap kesehatan sendiri dan orang lain. Aku harus menjaga pola makan, kerja keras yang teratur—tidak memaksanya jika sudah letih, dan tidak juga memanjakannya jika memang belum letih, olahraga, saatnya buang air kecil/besar, maka buanglah segera. Begitu juga aku harus berpartipasi dalam kesehatan sesama, seperti bersih-bersih lingkungan, donor darah, dan lain-lain. Aku harus selalu ingat bahwa penyakit itu timbul dari hal-hal sepele dan keberlebihan kita dalam sesuatu. Jika tidak percaya, cobalah aku tahan kencingku pas pengen kencing, maka timbullah kencing batu. Atau makanlah sebanyak-banyaknya makan aku akan muntah, atau kolesterol, darah tinggi, dan hal-hal negatif lainnya.
Yogyakarta-Pati, 5 desember 2011.
Perjalanan selau membawa cerita, walau ada yang mengesankan atau pun tidak. Tinggal bagaimana kita menyerapnya. Ada cerita mengenai kita sendiri dan ada pula tentang orang lain. Ada yang bisa diserap untuk dijadikan pelajaran dan ada yang tidak. Salah satu kisah menarik yang aku alami sendiri adalah pada saat di bis Mira jurusan Surabaya - Yogyakarta. Aku naik dari terminal Solo hendak ke Jogja. Waktu itu aku duduk di bangku paling belakang.
Di sampingku ada seorang bapak tua (pantas disebut kakek sebetulnya) sedang gelisah. Sebentar-sebentar dia duduk lalu berdiri. Kadang maju sedikit. Terus ada orang lain yang berkata padanya, "Ngomong sama kondekturnya, pak!" Jujur aku belum ngeh sedikit pun, ada apa gerangan dengan si bapak itu. "Bisa gak berhenti di pom bensin?" Ujar si bapak itu memohon kepada kondektur saat berada di dekatnya. Sang kondektur rupanya mencuekin permohonan si bapak itu. Bapak itu lalu duduk lagi.
Dia lalu bertanya padaku, "Mas, punya Aqua, gak?"
"Ada, pak." jawabku, kemudian aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebotol Aqua yang masih penuh. kuberikan padanya.
"Ayo masnya minum dulu!" ujar bapak itu.
"Oh tidak pak, silakan bapak dulu aja" jawabku.
Bapak itu lalu membuka botol Aquanya, dan meminumnya, tapi dia lalu berjalan menuju pintu bis yang agak sedikit turun. Dia lalu membuka celananya, setelah itu aku tidak memperhatikannya lagi, karena aku tahu dia hendak melakukan apa.
Ya, rupanya bapak itu kebelet pengen buang air kecil (bak). Setelah dia melepaskan hajatnya kulihat mukanya begitu tenang, gerak-geriknya tidak gelisah lagi. Plong, mungkin begitu yang dia rasakan. Ha-ha, ternyata yang membuat dia tidak bisa diam, berdiri-duduk, maju-mundur, kesana-kemari, ternyata dalam rangka menahan buang hajatnya; dia tidak tahu hendak membuang kemana; bingung. Mau ngomong ke sopir tidak berani. Dan memendamnya membuat dirinya tersiksa. Tapi, dia akhirnya membuat keputusan yang terbilang nekad. Mungkin itu cara yang terbaik baginya.
Keputusan memang harus dia ambil, jika tidak dia akan terus tersiksa selama dalam perjalanan. Aku tidak tahu sejak darimana dia menahan kencingnya. Setahuku dia naik bukan dari Solo, karena dia sudah ada pas aku naik bis tersebut. Mungkin dari Sragen, Mantingan, Madiun, Jombang, atau jangan-jangan dari Surabaya, hmm. Betapa tersiksanya bapak itu menahan kencingnya. Bisa kita bayangkan hal itu, karena kita pun mungkin pernah mengalami hal itu.
Aku jadi mendapat pelajaran berharga dari kejadian itu, betapa bersyukurnya aku bisa buang air kecil dengan lancar, tanpa ada halangan. Hal kecil itu kadang luput dari perhatianku; kadang luput untuk disyukuri. Aku hanya mensyukuri hal-hal besar seperti pas mendapat rejeki nomplok, mendapat pekerjaan bagus, dan lain sebagainya. Sedang hal-hal kecil seperti bisa kentut, bisa buang air besar (bab), bisa berkedip, dan termasuk bisa kencing, aku telah melupakannya.
Barangkali cara mensyukuri dari hal-hal semacam di atas adalah dengan menjaga kesehatanku sendiri dan lingkunganku. Ya, kata kuncinya adalah kepedulian terhadap kesehatan sendiri dan orang lain. Aku harus menjaga pola makan, kerja keras yang teratur—tidak memaksanya jika sudah letih, dan tidak juga memanjakannya jika memang belum letih, olahraga, saatnya buang air kecil/besar, maka buanglah segera. Begitu juga aku harus berpartipasi dalam kesehatan sesama, seperti bersih-bersih lingkungan, donor darah, dan lain-lain. Aku harus selalu ingat bahwa penyakit itu timbul dari hal-hal sepele dan keberlebihan kita dalam sesuatu. Jika tidak percaya, cobalah aku tahan kencingku pas pengen kencing, maka timbullah kencing batu. Atau makanlah sebanyak-banyaknya makan aku akan muntah, atau kolesterol, darah tinggi, dan hal-hal negatif lainnya.
Yogyakarta-Pati, 5 desember 2011.
Langganan:
Postingan (Atom)