Tampilkan postingan dengan label Dunia Kepenulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kepenulisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

Menulis Buku juga Membutuhkan Kemampuan Mengedit

Selaku mantan editor in-house (dan saat ini menjadi editor lepas), saya perhatikan, kebanyakan penulis pemula yang seringkali ditolak penerbit saat mengirimkan naskahnya adalah salah satunya ketidakpunyaan kemampuan mengedit. Naskah yang masih hangat ditulis langsung dikirim ke penerbit begitu saja, tanpa diedit terlebih dahulu. Mungkin Anda bingung apa yang harus diedit? Apa yang harus dibenahi agar penerbit kesengsem dengan naskah Anda?

Saya hendak membuka kelas privat penyuntingan naskah (editing). Nanti saya akan memberikan materi editing dan langsung mempraktikkan kepada naskah Anda, kemudian dikirim ke penerbit yang hendak Anda tuju.

Tarifnya Rp 500.000,00.

Bagi yang tertarik bisa kontak saya via email iqbal.dawami@gmail.com.
Terima kasih
M. Iqbal Dawami

Editor Bentang Pustaka (2012 - 2014) 

Rabu, 27 Juni 2012

Mencintai Buku seperti Mencintai Kamu

Nak, bapak ingin bercerita padamu, bahwa selain kamu dan ibumu ada juga yang bapak cintai, bahkan sejak sebelum mengenal ibumu; sejak zaman “azali”. Cinta bapak kepadanya hingga kini masih terpatri. Cinta bapak kepadanya sama dengan cinta pada kamu dan ibumu.

Maafkan bapak, nak. Bapak tidak bisa menghilangkan rasa cinta bapak padanya. Oh, kuharap kau dan ibumu tidak terlalu cemburu, kecuali sedikit saja. Barangkali saat aku tak bersamamu (dan juga ibumu) boleh jadi bapak sedang bermesraan dengannya. Maafkan bapak nak jika membuat kamu dan ibu marah.  

Mungkin kamu penasaran dan bertanya-tanya, siapa sesungguhnya yang bapak cintai itu selain kamu dan ibumu sejak dari dulu hingga kini? Baiklah, nak, mari dekat bapak, akan bapak beritahu. Yang bapak cintai sesungguhnya adalah buku, he-he. 

Bagaimana perasaanmu, nak? Ah, barangkali hatimu menjadi plong sekarang, he-he-he. Tapi, itu betul, nak. Bapak tidak bercanda. Bapak memang mencintai buku sudah lama sekali. Bapak tidak bisa melepaskan perasaan itu. Kecintaan bapak pada buku didasari atas dasar kesukaan pada aktivitas membaca, nak. Ya, bapak memang senang membaca. Membaca tentang apa saja, baik tulisan di koran maupun buku. Dan bisa dipastikan setiap bulan bapak selalu membeli buku. 

Jika belum ada uang lebih, bapak pinjam kepada kawan-kawan, perpustakaan kampus, atau baca-baca di toko buku. Bapak seperti sudah kecanduan membaca. Sehari tidak membaca seperti gersang hati bapak, nak. Lantas, sejak kapan bapak mulai meresensi buku? Sebetulnya dulu pas kuliah, bapak sudah mulai meresensi buku, tapi belum serius. Hanya sesekali saja. Waktu itu bapak masih fokus menerjemah, bukan meresensi. 

Bapak mulai meresensi buku secara serius pada saat awal menikah dengan ibumu. Lha, mengapa justru setelah menikah baru serius meresensi? Simpel nak jawabanya, karena setelah menikah dana belanja buku dialihkan ke dana belanja keperluan kami berdua sehari-hari, he-he. Jadi, sejak itulah bapak mulai meresensi buku secara serius. Resensinya kemudian dikirim ke pelbagai media massa.  

Menekuni Resensi 
Anakku, mungkin kamu akan bertanya mengapa bapak memilih meresensi tidak yang lainnya, misalnya, opini? Bapak memilih resensi karena tiga alasan. Pertama, kecintaan bapak membaca buku mendorong bapak untuk membagikan hasil bacaannya ke orang lain. Rasanya aneh, apabila bapak tidak membagikan apa yang sudah bapak baca. Ada semacam kegelisahan apabila hal itu tidak dibagikan kepada orang lain.

Kedua, aktivitas meresensi akan memacu bapak untuk senantiasa membaca buku. Berbeda dengan halnya meresensi opini, mungkin membaca bukunya tidak seintens meresensi buku. Jadi, dengan kata lain, meresensi akan membuat bapak tetap rajin membaca, nak. 

Nah, yang ketiga, ini barangkali yang agak realistis, yakni mendatangkan buku secara gratis dan materi. Jika resensi dimuat di media massa, maka keuntungan secara materi bisa “berlipat”. Materi itu bisa berupa uang, buku, dan barang yang lainnya, entah dari media massa, penerbit, bahkan penulisnya. Mungkin yang ketiga inilah alasan terbesar mengapa bapak meresensi, nak. Sebagaimana bapak ceritakan di atas, bahwa budget untuk membeli buku setelah menikah sudah minim, sedang membaca buku tidak ada kata berhenti, maka bapak harus mendapatkan jalan keluarnya. 

Bapak mendapatkan solusinya dari kawan, bahwa agar mendapat pasokan buku secara gratis adalah dengan meresensi buku. Apabila resensi dimuat di media, maka kita akan mendapatkan buku secara gratis dari penerbit yang kita resensi bukunya. Bahkan, mendapatkan uang pula. Hmm, sungguh menarik, bukan? Dari situlah bapak serius meresensi. Bapak mendisiplinkan diri untuk menghasilkan satu resensi satu minggu. Jadi, satu bulan bapak bisa membuat 4 resensi. 

Tentu sebagai modal awal, bapak membeli 1-2 buku baru. Bapak kelabakan saat buku baru yang bapak beli itu ternyata resensinya tidak ada yang dimuat. Akhirnya, bapak pinjam kepada kawan-kawan yang rajin membeli buku. Bapak terus meresensi setiap minggunya. Bapak baca resensi-resensi yang dimuat di massa. Bulan pertama resensi bapak tidak dimuat, bulan kedua tidak dimuat, bulan ketiga tidak juga dimuat, bulan keempat, bulan kelima, dan bulan keenam… uerekaaa! Akhinya di bulan keenam itulah resensi bapak dimuat. Alhamdulillah. Bapak dan ibu senang bukan kepalang, nak. Bapak merasa pada bulan itu resmi untuk disebut sebagai “peresensi”, he-he. 

Dari situ bapak mulai berani memperkenalkan diri ke pelbagai penerbit sekaligus menawarkan jasa resensi. Alhamdulillah, banyak yang respons. Dari situ pula bapak mulai kebanjiran buku. Anakku, perlu engkau ketahui, pada waktu itu bapak belum punya komputer, apalagi laptop. Bapak menulis di atas kertas HVS. Ketika selesai menulis, ibumu kemudian mengetiknya di rental, yang jaraknya tak jauh dari kos. Kadang, bapak juga ikut ke rental; bapak membacakan (mendiktekan) resensinya, sedang ibu mengetiknya. Sungguh, kami bahu-membahu untuk bisa melestarikan aktivitas meresensi ini. Hal itu berlangsung selama kurang lebih satu tahun. 

Selepas satu tahun itu baru kami mempunyai komputer, tidak tanggung-tanggung mendapatkan dua unit. Satu dari pemilik rental yang sering kami sambangi, dia menawari kami komputer (Pentium 2) seharga 300 ribu rupiah. Dan satunya lagi dari kawan peresensi yang tinggal di Bandung. Dia mengirimkannya via pos. Saya tak akan melupakan jasa baik keduanya. 

Anugerah Ramadhan  
Kegiatan meresensi semakin menggila setelah mempunyai dua unit komputer. Namun seiring waktu, satu per satu komputer itu mulai “rewel”, mungkin karena sudah uzur dan dipaksa untuk “bekerja rodi”. Akhirnya keduanya pun “wafat”. Tuhan Mahatahu. Tak lama setelah 2 unit komputer itu rusak, kami justru bisa membeli notebook. Alhamdulillah. Dan waktu itu juga, kamu lahir ke dunia, anakku. 

Bagi kami, bulan itu yang bertepatan bulan Ramadhan—bulan pernuh berkah—merupakan bulan anugerah. Kehadiran notebook dan kehadiran kamu. Sungguh, tak terasa pula perjalanan bapak menekuni dunia resensi sudah hampir 5 tahun (2008 --…). Seperti halnya di bidang lain, menekuni bidang resensi pun banyak suka-dukanya. Insya Allah, di kesempatan lain bapak akan menceritakannya padamu. Bapak hanya berdoa semoga bapak tetap istiqamah meresensi buku, meski orientasinya kini berubah. Jika dulu meresensi sebagai job dan career, maka saat ini bapak mengubahnya menjadi calling; panggilan hidup. Bapak tidak lagi membuat resensi karena uang. Saat ini, bapak meresensi karena ingin berbagi pengetahuan; berbagi cerita dan materi apa yang sudah bapak baca kepada khayalak masyarakat. Tak lain, itu semua karena bapak mencintai buku, nak. Dan mencintai buku sama seperti layaknya mencintai kamu.[] 


Jumat, 01 Juni 2012

Menulis adalah Zikir

Kawan-kawan, pernah mendengar nama Abdul Munir Mulkhan? Beliau adalah guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan juga penulis produktif baik bentuk buku maupun tulisan di Koran-koran. Sudah 60 buku lebih beliau hasilkan, dan ratusan tulisan di media massa. Luar biasa, bukan?

Tema yang ditulisnya biasanya seputar keislaman (tasawuf, pendidikan Islam, dll). Apa sih yang bisa membuat dia produktif? Tentu kita bertanya-tanya soal itu. Di usianya yang sudah uzur ternyata beliau masih semangat menulis dan menghasilkan karya. Suatu ketika dalam sebuah seminar, ada yang bertanya sebagaimana pertanyaan di atas, ‘apa sih yang bisa membuat bapak Munir Mulkhan produktif?’ beliau lantas menjawab: “Saya menjadikan menulis sebagai wirid”. Singkat, padat, dan mendalam. 

Kita tahu bahwa wirid adalah melafalkan bacaan-bacaan tertentu dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah SWT. Mungkin bisa kita samakan dengan zikir: mengingat Allah dengan melafalkan kalimah2 thayyibah. Apa yang bisa kita ambil dari kata-kata Pak Munir Mulkhan itu? Bahwa menulis itu sesungguhnya wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah. Menulis adalah olah batin dan laku spiritual. Dengan begitu, menulis adalah aktivitas mulia yang bernilai ibadah dan sangat bermanfaat. 

Kalau sudah begitu, tidak menjadi soal pabila tulisan kita tidak dibaca orang, atau tidak diterima oleh media massa maupun redaktur. Kita pun tidak akan patah arang jika tulisan-tulisan kita terus ditolak media/penerbit. Karena toh kita sudah merasakan nikmatnya “wiridan” tersebut. Justru, dengan begitu sebetulnya secara tidak langsung akan menghasilkan kebiasaan menulis, sehingga lambat-laun dengan sendirinya tulisan kita semakin berkualitas. Dan bukan tidak mungkin redaktur pun akan terketuk pintu hati dan otaknya saat membaca tulisan kita. 

Satu hal yang perlu diingat, bahwa wirid/zikir adalah aktivitas yang tidak mengenal waktu. Tidak hanya selepas shalat, tapi “Qiyaman wa qu’udan,” begitu ditulis dalam Al-Qur’an. Begitu juga dengan menulis pabila dijadikan sebagai wirid, maka konsekuensinya harus melakukan ritual menulis setiap hari. Dengan begitu, kemahiran dalam menulis hanyalah soal waktu. Dimuat di media massa hanya soal waktu. Dan, naskah kita diterima penerbit hanya soal waktu juga. 

Btw, apakah hari ini kawan2 sudah melakukan wirid menulis?

Selasa, 22 Mei 2012

Renungan Malam (22 April 2012)

# Menulis itu memang menuntut kejujuran sejak dalam pikiran. Jika tidak, maka ia akan gelisah saat menggarapnya. Naskahnya pun tidak dibanggakan. Oleh karena itu, menulislah secara jujur. Misalnya, ia jujur kalau ia mengutip kalimatnya dari sesuatu, bahwa itu bukan hasil dari pikirannya sendiri. Dengan begitu ia akan tenang pada saat menggarapnya.

# Menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Satu-satunya yang harus ditaklukkan adalah dirinya sendiri. Satu sisi ia harus melawan kemalasan, sisi lain ia harus menjaga kedisiplinan. Ia harus membaca, merenung, dan lalu menuliskannya.  

# Persoalan orang tidak bisa menulis bukan soal ‘tidak tahu cara menulis’, tetapi pada persoalan tidak bisa menyempatkan waktu untuk menulis. Tidak ada waktu yang tepat untuk menulis. Akan selalu ada gangguan dan alasan baik logis maupun tidak pada saat anda merencanakan “waktu” untuk menulis. Satu-satunya yang bisa menjamin bahwa anda bisa menulis adalah sekarang juga, tuliskan segera apa yang menjadi buah pikiran dan perasaan anda.

# Kegagalan menulis itu mirip dengan saat anda ingin berwirausaha, yakni mempunyai banyak alasan untuk menggagalkannya. Jika dalam bisnis alasannya adalah modal, sedang dalam menulis adalah waktu. Saat modal belum ada, maka ia tidak akan berwirausaha. Saat waktu (menulis tidak ada) maka ia tidak akan menulis.

Kamis, 10 Mei 2012

Sekali Lagi, Kendalikan Facebook

Sekarang ini, internet semakin mengerucut, hanya menjadi facebook.

Betapa tidak, waktu banyak dihabiskan di facebook ketimbang membuka situs-situs lainnya. Tidak sepenuhnya salah sebetulnya untuk membuka facebook, karena masih bisa dijadikan ajang silaturahmi dan mendapat pengetahuan dan berita juga. Tapi, berdasar pengalaman saya, facebook banyak tidak manfaatnya ketimbang manfaatnya, buat saya lho.

Mungkin itu lain halnya jika facebook sebagai lapak atau tempat jualan atau bisa mendatangkan manfaat karena sesuai dengan profesinya. Tapi, bagi saya yang profesinya sebagai penulis, facebook tidak begitu banyak membawa faedah. Facebook memberangus produktifitas. Itu yang saya rasakan. Jadi, hati-hatilah dengan facebook. Kendali harus ada dalam diri kita, bukan pada facebook. Soalnya, sudah banyak orang “disibukkan” dengan facebook. Entah itu pegawai, mahasiswa, siswa, dan yang lainnya.  

Aku pernah menon-aktifkan akun facebook-ku, karena sudah kesal dan bosan, tapi sekarang sudah aku aktifkan lagi. Bisa saja aku memang kecanduan, bisa juga kesepian, atau bisa juga kerinduan, bahkan aku pikir bisa dijadikan tempat mencari uang. Tidak ada alasan yang mutlak. Namun, yang jelas, aku sekarang bisa mengendalikan facebook. Paling tidak, hanya seminggu sekali buka facebooknya. Terus hanya membuka dan membaca akun facebook tertentu yang mendatangkan manfaatnya buatku, terutama yang sesuai dengan bidangku, yakni menulis. Selainnya, aku tak perlu komentar dan tak perlu membacanya. 

Aku harus dianggap bahwa aku sedang tidak aktif atau jarang membuka facebook. Aku hanya akan membalas yang masuk ke inbox saja. Karena itu artinya mereka memang serius ingin berkomunikasi dengan aku. Nah, dengan begitu aku bisa menekan kecanduanku, kerinduanku, dan kelangenanku pada facebook, sehingga aku bisa lebih banyak fokus pada menulis sebagai pekerjaan utamaku. Ingat, pekerjaan utamaku adalah menulis, menulis, dan menulis. Bukan yang lainnya. Aku akan ngamuk menulis.

Tak Perlu "Bahan Banyak”

Menulis itu tidak perlu banyak bahan, yang penting bahan seadanya tapi ditulis dan dijabarkan semampunya. Jika mentok baru baca buku dan merenung lagi. Begitu dan begitu. Yang penting lagi adalah kuat berpikir dan duduk. Artinya, selalu menjaga kefokusan pikiran. Jangan melamun, dan berpikir kesana kemari. Jika kita bisa menjaga fokus selama satu jam itu sudah bagus. Tinggal menjaga konsistensinya saja. Terakhir adalah sabar. Kita harus sabar dalam menuliskannya, tidak terburu-buru. Menikmati setiap hurufnya. Jika kita bisa mengamalkan hal di atas, Insya Allah kita akan bisa merampungkan sebuah tulisan, bahkan sebuah buku. Insya Allah.

Sabtu, 25 Februari 2012

Tulis Segera, Jangan Menunggu Sempurna

Sesungguhnya untuk menulis buku tidak perlu banyak bahan, karena sesuai dengan pengalaman saya, terkadang banyak bahan malah membuat bingung, mana dulu yang hendak ditulis, dan bagaimana meracik tulisan dari pelbagai bahan tersebut. Jadi, dengan kata lain, banyaknya bahan tidak ada jaminan kalau kita bisa menulis sebuah buku. Justru, terkadang dengan sedikitnya bahan, akan membuat kita lebih efisien dalam menuliskan gagasan kita.

Hal yang perlu diingat adalah tidak ada yang lebih menjamin selain menuliskan dengan segera apa yang kita dapatkan, entah itu ide maupun bahan (referensi). Dengan menuliskannya secara langsung, maka secara otomatis hasilnya sudah terlihat. Dahulu, semasa menyusun tesis, saya diberitahu oleh dosen pembimbing, Pak Sahiron Syamsuddin, PhD., beliau kira-kira mengatakan begini, “Tulis saja dulu, apa yang sudah kamu dapatkan, jangan menunggu bahan atau referensi lengkap.”


Aih, perkataan Pak Sahiron tersebut betul adanya. Sungguh, baru aku merasakannya pada saat aku serius menggeluti dunia tulis-menulis, tepatnya saat aku lulus kuliah pasca sarjana. Aku tidak perlu menunggu segala sesuatunya sempurna, seperti halnya saat aku hendak menikah, tidak perlu menunggu waktu yang tepat, entah dari segi materi, mental, spiritual, apalagi seksual, hehe. Saat ada bahan atau ide, langsung aku menulisnya, sesedikit apa pun. Aku tidak perlu menunggu waktu yang tenang untuk menulis, tidak perlu pula menunggu bahan referensi yang banyak.

Jadi, sekali lagi saya katakan, banyaknya bahan tidak menjamin bisa disulap menjadi sebuah tulisan, entah itu resensi, esai, opini, maupun naskah (buku). Hal yang menjamin hanyalah dengan menuliskannya sesegera mungkin, meski bahannya sedikit. Ibarat kita hendak sodaqoh, kalau tidak sesegera mungkin, maka belum tentu kita bisa sodaqoh. Biasanya kita mengatakan, ‘Ah, nanti saja sodaqohnya, sekalian kalau sudah banyak duit’. Eh, tahunya duitnya tidak banyak-banyak, dan akhirnya tidak pernah sodaqoh. Atau saat anda banyak duit, malah pengen beli ini-itu. Atau juga, anda tiba-tiba dijemput paksa malaikat pencabut nyawa, maka selamanya anda tidak bisa lagi sodaqoh. Menyesal, bukan?

Kesempatan. Ya, itu dia kata yang sangat penting untuk diperhatikan bagi siapa saja yang hendak menulis. Bahkan, sebetulnya bagi orang yang hendak melakukan sesuatu, tidak terbatas pada persoalan tulis-menulis saja. Seringkali orang ingin menulis, dengan mencari waktu yang tepat, atau nanti ditulisnya pada saat bahan sudah terpenuhi. Dan, saat mereka gagal melakukannya, pada akhirnya mereka mencari dalih, alias alasan. Entah itu pada saat jam yang sudah direncanakannya ada gangguan (ada kawan, mati listrik, kecapean, dan lain-lain), atau lantaran ada salah satu referensinya tidak ditemukan.

Itulah konsekuensi dari niat ‘hendak menulis’ yang dinanti-nanti. Maka dari itu, saran saya, gunakan kesempatan menulis pada waktu yang terdekat. Maksudnya, bersegeralah menuliskannya atas apa yang hendak anda tulis. Jadi, anda bisa menulis pada saat apa saja dan di mana saja. Dengan begitu anda saya jamin bisa menulis. Anda saya jamin bisa menuangkan curahan hati dan pikiran anda dalam sebuah tulisan. []

Yogyakarta,25 Februari 2012

Jumat, 24 Februari 2012

Masa Depan Buku Cetak

Suatu malam saya dan kawan-kawan peresensi Jogjakarta berbincang dengan seorang distributor buku di sebuah kafe daerah selokan mataram, Jogjakarta. Kami berbincang mengenai dunia perbukuan, salah satunya adalah soal masa depan buku cetak. Distributor itu bercerita bahwa buku (cetak) kini mendapat tantangan serius dari waktu ke waktu. Minat baca dan daya beli masyarakat itu masih menjadi masalah klasik dan klise dalam dunia perbukuan di Indonesia. Belum juga kelar mencari solusi soal itu, kini perbukuan juga diserang oleh hadirnya e-book (electronic book)—buku elektronik—alias buku digital.


Tidak hanya penerbit yang mendapat getahnya, tetapi juga distributor dan toko buku. Bahkan penulis juga. Penerbit akan menyusut memproduksi bukunya lantaran konsumen tertarik membeli buku elektronik yang murah dan mudah. Distributor pusing apa yang hendak didistribusikan kepada toko-toko buku jika pasokan buku-bukunya berkurang sedang ongkos di lapangan tidak kenal kompromi. Sedang toko buku kelimpungan menjual. Konsumen sudah jarang pergi ke toko buku lagi. Mereka tinggal memesan e-book via internet yang cepat dan murah. Amboi.

Hal itulah yang dialami di Amerika. Jaringan toko buku terbesar di Amerika, Borders Group, bangkrut. Sekitar 400 gerai lebih telah ditutup dan dijual. Padahal perusahaan tersebut menguasai pasar buku dalam dan luar negeri, mempunyai cabang di beberapa negara, seperti Singapura dan Australia. Penghasilan mereka per tahun mencapai $ 3 miliar atau Rp 25 triliun. Mereka bangkrut lantaran serbuan e-book atau buku digital yang begitu massif.

Menurut Asosiasi Penerbit Amerika (AAP), per Juni 2011, penjualan buku dewasa dengan kertas koran (paperback) merosot tajam sebesar 63,8% dalam waktu 12 bulan. Diperkirakan, ini setara dengan 85 juta dolar AS. Untuk buku hardcover, penjualannya juga menurun. Walaupun prosentasenya lebih kecil tapi tak kalah mencemaskan, yakni turun 25,4%. Bagaimana dengan e-book? Penjualannya, melalui Kindle, iPad, dan Nook, melonjak sampai 167% atau sekitar 50 juta dolar AS.

Di Inggris, penjualan Kindle terdongkrak 20% dibandingkan tahun lalu. Kabarnya, Amazon.co.uk telah mampu menjual 242 e-book untuk setiap 100 buku hardcover yang laku. Penurunan penjualan buku di Inggris memang tidak sedrastis di AS, yakni 7,5% selama tiga bulan pertama tahun 2011. Tapi, seperti di AS, penurunan penjualan buku hardcover di Inggris tidak sebanyak paperback. Pembaca buku paperback umumnya beralih ke e-book, sedangkan perpustakaan di negara maju lazimnya lebih suka membeli buku hardcover karena lebih awet (blogtempointeraktif.com, 6/12/11).

Lantas, bagaimana di Indonesia? Sejauh pengamatan saya, efek adanya buku digital masih belum terasa. Perbukuan di Indonesia masih berkutat soal bagaimana meningkatkan minat baca pada masyarakat dan bagaimana kertas agar bisa murah, di samping perkembangan tablet computer masih rendah lantaran harganya masih dianggap mahal. Majalah Tempo pernah melakukan survey bahwa penjualan tablet di Indonesia hanya 150 ribu unit, nyaris tak berarti dibandingkan dengan total penjualan di pasar dunia yang mencapai 100 juta unit.

Tapi, meski begitu, jika mendengar cerita distributor yang saya ceritakan di atas fenomena buku digital yang telah meluluhlantahkan perbukuan konvensional di luar negeri menjadi kegelisahan pekerja buku di Indonesia juga. Musyawarah antar-penerbit sudah dilakukan. Beberapa penerbit sudah melakukan inisiatif sendiri sebagai langkah antisipatif. Gramedia, Mizan, dan Ufuk, misalnya, sudah mulai menggarap pasar buku digital. Gramedia meluncurkan aplikasi Gramedia for iPad dan aplikasi pembaca buku digital untuk tablet Samsung Galaxy Tab.

Mizan di bawah lini Mizan New Media mulai menggarap buku-buku digital dengan beberapa terma: Mizan-Google Book Search, Mizan e-Book, dan Mizan Fonovela. Buku-buku Mizan bisa ditemukan di Nokia Ovi Store. Di ranah tablet, bisa diunduh lewat aplikasi gratis Mizan di Apple Store. Untuk perangkat berbasis Android, unduh aplikasi toko buku wayangforce.com. Aplikasi buku untuk pengguna Blackberry siap diluncurkan. Dalam menyelenggarakan layanan konten digital ini, Mizan bekerjasama dengan sejumlah pengembang aplikasi seperti Manggis Mobile untuk aplikasi buku di Nokia dan Blackberry, PhaseDev untuk aplikasi Mizan di Apple Store dan Android Market serta Huawei untuk layanan XL Baca.

Sedang Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing. Ufuk bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu sebuah situs toko buku online, yang membuatkan versi elektronik dari seluruh buku yang telah diterbitkan. Ufuk hanya menerima royalti dari setiap buku yang dibeli dari toko buku online tersebut.

Ya, zaman terus bergulir, teknologi terus melaju. Beberapa tahun ke depan tablet komputer dengan layar sentuh akan menjadi tren seiring penurunan harganya lantaran pihak produsen makin kompetitif. Dan era buku cetak segera beralih ke era buku digital. Namun, kedua jenis buku tersebut tetap memiliki pasarnya masing-masing. Ini soal selera dan kebiasaan. “Jenis buku cetak akan tetap diminati dan buku elektronik pun punya penggemarnya sendiri,” ujar Baqar Bilfaqih,
direktur produksi penerbit Ufuk. Budaya membaca buku versi cetak akan beriringan dengan budaya membaca buku versi digital.

Jadi, buku cetak tetap kelak akan selamat dan diproduksi karena masih ada yang senang membacanya, atau dijadikan barang koleksi (collectible items).Terlepas dari wacana di atas, ada hal yang lebih penting sesungguhnya yang harus dijadikan PR kita bersama, baik pemerintah maupun pekerja buku. Di Inggris sudah melakukan antisipasi jauh ke depan persoalan gurita buku digital ini. Pemerintah Inggris kini menyediakan insentif pajak dan berbagai kemudahan finansial lain untuk mencegah buku-buku karya sastrawan Inggris dibeli oleh museum-museum Amerika Serikat.

Tommy Satryatomo, konsultan konten digital Penerbit Mizan, dalam milis bercerita bahwa selang sehari setelah dirilisnya buku-buku Mizan dalam bentuk digital, dia langsung dikontak oleh perpustakaan Kedubes Australia di Jakarta. Dia dimintai daftar buku-buku digital Mizan. Tentu saja akan dibeli. Dia berpikir jauh ke depan, jangan-jangan kelak kita mesti ke Australia atau Belanda untuk membaca buku cetak berisi karya-karya Taufiq Ismail, Romo Mangun, Radhar Panca Dahana, Helvy Tiana Rosa, Farid Gaban, dan lain-lain sama seperti kita kini mesti ke Leiden untuk membaca manuskrip kuno Indonesia.
Waspadalah, waspadalah!! []

*M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta.

Selasa, 13 Desember 2011

Wa Dullah

Saat mendengar khutbah jumat, pikiranku tiba-tiba menuju satu sosok yang kukagumi karena keistikamahannya. Dia biasa dipanggil Wa Dullah. Usianya sudah tua, mungkin seangkatan dengan almarhum kakekku. Aku tidak tahu persis. Tapi semangat memakmurkan mesjidnya begitu istimewa. Dia tidak hanya sekadar rajin shalat berjamaah lima waktu, tapi juga orang yang selalu pertama dan terakhir di mesjid. Dia yang mengumandangkan azan dan iqamat. Dia yang selalu membersihkan mesjid. Dia juga yang selalu menggelar karpet pas persiapan jumatan.


Bagiku Wa Dullah adalah pencinta sejati mesjid, meski pada hakikatnya pencinta Allah yang tulus mendermakan hidupnya pada rumah Tuhan. Beliau adalah orang yang dirinya menyerahkan sepenuhnya pada mesjid. Dia melakukan semua itu hanya berharap rahmat Tuhan. Tidak lebih. Setiap kali pulang kampung aku hampir bertemu dengannya di mesjid. Kadang sembari menunggu shalat berjamaah beliau mengajak aku ngobrol, sambil memijit pundakku. Beliau selalu menasihatiku. Pernah suatu ketika dia memberi nasihat padaku agar aku menjadi penerus kakekku kelak sudah tidak ada.

Ada kejadian lucu yang sering diceritakan bapakku mengenai Wa Dullah. Pada suatu dini hari Wa Dullah azan. Bapakku terbangun dan melihat jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Bapakku berujar, "Lha, masih jam dua malam Wa Dullah kok sudah azan subuh. Pasti dia salah lihat jam." Dan benar saja, tak lama kemudian beliau mengumandangkan kata, "Hampuraaa". Hampura adalah bahasa sunda yang berarti mohon maaf. Pas subuh, bapakku kemudian bertemu dengannya dan mengonfirmasikan kejadian itu, dan benar saja Wa Dullah salah lihat jam, dikira sudah masuk waktu subuh maka dia buru-buru azan. Dan ketika melihat jam ternyata masih jam dua, maka dia buru-buru lagi membatalkan azannya yang sudah setengah perjalanan.

Begitulah sekelumit kisah Wa Dullah. Mengenai beliau aku banyak tahu dari bapakku. Bapakku pernah menceritakan asal-usulnya dan kedekatannya dengan almarhum kakekku. Pas lebaran tahun 2011 dengan ditemani bapak, aku silaturahmi ke rumahnya untuk pertama kalinya. Kulihat sosoknya yang begitu ringkih, dia sudah tidak bisa berjalan lagi. Itu lantaran faktor usia, bukan faktor lainnya. Namun penglihatan dan pendengarannya serta ingatannya masih segar bugar. Aku yakin itu karena hasil dari keistikamahannya memakmurkan mesjid (shalat, ngaji, dan menjaga segala sesuatunya yang ada di dalam mesjid). Dia hanya tidak bisa berjalan lantaran kakinya sudah lumpuh termakan usia. Itu saja.

Mungkin sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya, dan baru kali itu lagi kami bertemu. Aku bersyukur dia masih ingat padaku. Alhamdulillah. Ingatannya masih normal. Biasanya usia yang sudah uzur seperti itu sudah banyak lupa, terlebih kepada orang yang sudah lama tidak pernah bertemu. Tapi beliau sungguh berbeda, berada di luar kebiasaan.

Bapakku pernah bilang bahwa keistikamahan Wa Dullah dalam shalat berjamaah di mesjid lima waktu belum ada yang menyamainya. Banyak orang yang lebih muda darinya tapi tidak ada yang rajin shalat berjamaah di mesjid. Mestinya mereka malu. Ujar bapakku. Padahal rumahnya tidak begitu jauh dari area masjid. Bandingkan dengam rumah Wa Dullah yang posisinya antara desa Bojong dan Citumenggung. Lumayan jauh. Meski jika ada yang mengatakan tidak jauh, tapi dia harus naik jika hendak ke mesjid. Butuh perjuangan ekstra untuk ke mesjid dengan medan seperti itu. Terlebih pada musim hujan, jalan yang dilaluinya agak becek. Coba anda bayangkan pada musim hujan beliau keluar rumah menuju mesjid pada menjelang subuh. Gelap dan becek. Tapi, ternyata bagi beliau itu bukanlah halangan. Biasa-biasa saja.

Bisakah kita melakukannyat? Aku sendiri belum tentu. Wong pas dekat saja kadang malas-malasan. Kebetulan rumah kakek-nenekku persis samping mesjid. Jaraknya cuma 5 langkah padahal. Jadi sungguh memalukan sebenarnya aku jika sedang di tempat kakek aku tidak sampai ke mesjid untuk shalat berjamaah. Rasa malu itu bertambah jika hendak dibandingkan dengan Wa Dullah yang notanene-nya sudah tua dan jauh dari mesjid, namun tidak pernah absen untuk shalat di mesjid.

Apa yang bisa aku ambil dari kisah Wa Dullah itu? Keteladanan dan totalitas. Ya, dua hal itulah yang melekat dalam dirinya yang bisa kulekatkan juga dalam diriku. Istikamahnya dalam "menjaga" mesjid menjadi hal yang patut diteladani, terlebih di zaman sekarang yang menggerus kita dengan pelbagai kesibukan duniawi sehingga melupakan mesjid. Zaman ini adalah dengan meminjam bahasa teman, zaman bergelimang material tapi busung lapar di gurun spiritual. Totalitasnya mengabdi pada Tuhan menjadikan dirinya tak goyah di telan zaman. Wa Dullah tetap hidup bersahaja dan istikamah.[]

Pati, 11 Desember 2011

E 63

Sambil marende (ngelonin) Aghza, aku mencoba menulis. Entah mau menulis apa. Aku menulisnya di handphone Nokia E 63. Aku bersyukur sekali bisa beli hp ini, karena aku bisa menulis dimana saja dan sambil apa saja. Contohnya pada saat ini, sambil tiduran aku menulis. Fasilitas ini sangat mendukung aku dalam karier kepenulisanku. Hp ini belum begitu lama aku beli, jadi belum bisa kumaksimalkan segala fasilitasnya. Tapi aku memang hanya tertarik dengan fasilitas word-nya saja. Karena memang itu niatku membeli hp ini; ada fasilitas office-nya, utamanya word-nya.


Dan harapanku setelah mempunyai hp ini aku bisa lebih produktif lagi dalam menulis. Aku harap juga aku kehabisan alasan untuk tidak menulis, entah itu waktu, tempat, maupun fasilitas. Dan semoga semangat menulisku karena adanya hp ini bukan semangat sementara, bukan hangat-hangat tahi ayam. Ya, aku harus sadar bahwa semangat yang didasari kebendaan atau yang bersifat eksternal biasanya tidak lama, alias sementara. Biasanya begitu. Oleh karena itu aku harus dapat mengkonversinya menjadi semangat internal, yang betul-betul dapat tahan lama.

Fasilitas tidak lebih penting dari menulis itu sendiri. Dengan kata lain, tanpa fasilitas pun aktifitas menulis harus dijalani. Banyak orang beralasan tidak bisa menulis lantaran tidak punya komputer, atau 'nanti saja menulisnya kalau sudah punya laptop', atau ' seandainya aku punya komputer aku akan rajin menulis'. Haha, itu hanya alasan saja, percayalah. Soalnya aku pernah mengalami hal itu. Bahkan alasanku saat ini adalah soal waktu, bukan soal fasilitas; aku sering berkata nanti aku menulis pada pagi hari, eh saat pagi datang malah aku enak tiduran.

Kekuasaan mutlak ada dalam diri kita. Kitalah yang mengendalikan sepenuhnya atas kehendak kita setelah Tuhan. Komputer, laptop, hp, dan lain-lain hanyalah fasilitas belaka, jadi anda tidak boleh dikendalikan oleh semua fasilitas itu. So, tanpa fasilitas yang saya sebutkan di atas pun anda tetap bisa menulis asalkan anda punya kehendak untuk melakukannya. Fasilitas hanya wadah untuk bisa melakukannya senyaman dan seefektif mungkin. Fasilitas hanya penunjang agar anda bisa melakukannya dengan baik.

Tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah menulis itu sendiri. Terserah anda menulis di apa saja, asal anda bisa menuliskannya. Anda bisa menulis di buku tulis, buku bekas yang halaman belakangnya masih kosong, bahkan bisa juga di bekas kertas bekas pembungkus bawang, cabai, kemiri, dan lain-lain (kesannya eksotis banget). Jangan salah, aku pun pernah mengalami hal itu. Pada saat belajar menulis resensi, aku masih belum punya komputer, terlebih notebook/laptop. Aku menulis di kertas bekas di halaman belakangnya. Setelah selesai satu tulisan, aku kemudian ke rental, untuk mengetiknya. Jadi, pekerjaanku dua kali. Kedaan itu aku jalani kurang lebih setengah tahun.

Sama halnya juga dengan Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun. Dia katanya sering menulis di secarik kertas. Pada saat dia manggung lalu mendapat ide, dia pergi ke belakang panggung dan menungkan idenya di secarik kertas. Tidak heran apabila dia begitu produktif (menulis) di tengah produktifitas lainnya, seperti ceramah budaya, main teater, dan bermusik dengan Kyai Kanjeng. Padahal saat itu belum zamannya komputer, dan aku yakin dia tidak begitu akrab dengan soal fasilitas modern itu, paling-paling hanya mesin ketik.

Seorang kawan yang cukup produktif menulis di media massa, Muhammadun As, pernah berkisah juga bahwa di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan kuliah masternya, dia tetap bisa menulis. Aktivitas menulisnya sama sekali tak terganggu. Jadi setelah anak dan istrinya tidur, dia kemudian menulis. Agar kuat menulis, dia cukup menyediakan air putih saja, dan mungkin dengan beberapa batang rokok. Luar biasa, bukan? Bahwa selain ketiadaan fasilitas, waktu sibuk pun bukan alasan untuk tidak bisa menulis.

Satu lagi alasan yang biasanya orang tidak bisa menulis, yaitu tidak adanya mood. Haha, ini nih yang sering sekali aku mendengarnya. Tidak adanya mood membuat orang macet menulis. Mereka tidak ada hasrat untuk menggerakan otak dan jari-jari tangannya baik di atas kertas maupun komputer/laptop. Tapi tunggu dulu, apa betul anda macet menulis karena tidak ada mood? Jangan langsung menuduh mood dulu, siapa tahu bukan itu penyebabnya. Kalau aku tidak begitu percaya penyebabnya itu, aku lebih percaya bahwa penyebab macet menulis lantaran aku malas berpikir dan malas menulis. Itu saja. Anda boleh percaya boleh tidak.

Aku berharap setelah punya hp ini aku tidak malas-malasan lagi untuk menulis.[]

Pati, 9 Desember, 2011, pkl. 14.21 WIB

Rabu, 07 Desember 2011

Kebelet

Hari ini aku pulang—dalam perjalanan—menuju Pati. Aku lewat rute Semarang, padahal biasanya lewat rute Purwodadi. Dari berita aku mendengar di Purwodadi banjir, makanya aku pilih jalan Semarang. Saat ini baru sampai Magelang. Palbapang hingga Armada sekarang jalannya lebar, jadi lumayan cepat perjalanannya. Wah, kalau dulu pas jalannya masih sempit, perjalanan agak lama, karena macet dan pas tanjakan. Untunglah hal itu tidak berlangsung hingga sekarang. Mungkin inilah yang dinamakan kemajuan, he-he.


Perjalanan selau membawa cerita, walau ada yang mengesankan atau pun tidak. Tinggal bagaimana kita menyerapnya. Ada cerita mengenai kita sendiri dan ada pula tentang orang lain. Ada yang bisa diserap untuk dijadikan pelajaran dan ada yang tidak. Salah satu kisah menarik yang aku alami sendiri adalah pada saat di bis Mira jurusan Surabaya - Yogyakarta. Aku naik dari terminal Solo hendak ke Jogja. Waktu itu aku duduk di bangku paling belakang.

Di sampingku ada seorang bapak tua (pantas disebut kakek sebetulnya) sedang gelisah. Sebentar-sebentar dia duduk lalu berdiri. Kadang maju sedikit. Terus ada orang lain yang berkata padanya, "Ngomong sama kondekturnya, pak!" Jujur aku belum ngeh sedikit pun, ada apa gerangan dengan si bapak itu. "Bisa gak berhenti di pom bensin?" Ujar si bapak itu memohon kepada kondektur saat berada di dekatnya. Sang kondektur rupanya mencuekin permohonan si bapak itu. Bapak itu lalu duduk lagi.

Dia lalu bertanya padaku, "Mas, punya Aqua, gak?"
"Ada, pak." jawabku, kemudian aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebotol Aqua yang masih penuh. kuberikan padanya.
"Ayo masnya minum dulu!" ujar bapak itu.
"Oh tidak pak, silakan bapak dulu aja" jawabku.
Bapak itu lalu membuka botol Aquanya, dan meminumnya, tapi dia lalu berjalan menuju pintu bis yang agak sedikit turun. Dia lalu membuka celananya, setelah itu aku tidak memperhatikannya lagi, karena aku tahu dia hendak melakukan apa.

Ya, rupanya bapak itu kebelet pengen buang air kecil (bak). Setelah dia melepaskan hajatnya kulihat mukanya begitu tenang, gerak-geriknya tidak gelisah lagi. Plong, mungkin begitu yang dia rasakan. Ha-ha, ternyata yang membuat dia tidak bisa diam, berdiri-duduk, maju-mundur, kesana-kemari, ternyata dalam rangka menahan buang hajatnya; dia tidak tahu hendak membuang kemana; bingung. Mau ngomong ke sopir tidak berani. Dan memendamnya membuat dirinya tersiksa. Tapi, dia akhirnya membuat keputusan yang terbilang nekad. Mungkin itu cara yang terbaik baginya.

Keputusan memang harus dia ambil, jika tidak dia akan terus tersiksa selama dalam perjalanan. Aku tidak tahu sejak darimana dia menahan kencingnya. Setahuku dia naik bukan dari Solo, karena dia sudah ada pas aku naik bis tersebut. Mungkin dari Sragen, Mantingan, Madiun, Jombang, atau jangan-jangan dari Surabaya, hmm. Betapa tersiksanya bapak itu menahan kencingnya. Bisa kita bayangkan hal itu, karena kita pun mungkin pernah mengalami hal itu.

Aku jadi mendapat pelajaran berharga dari kejadian itu, betapa bersyukurnya aku bisa buang air kecil dengan lancar, tanpa ada halangan. Hal kecil itu kadang luput dari perhatianku; kadang luput untuk disyukuri. Aku hanya mensyukuri hal-hal besar seperti pas mendapat rejeki nomplok, mendapat pekerjaan bagus, dan lain sebagainya. Sedang hal-hal kecil seperti bisa kentut, bisa buang air besar (bab), bisa berkedip, dan termasuk bisa kencing, aku telah melupakannya.

Barangkali cara mensyukuri dari hal-hal semacam di atas adalah dengan menjaga kesehatanku sendiri dan lingkunganku. Ya, kata kuncinya adalah kepedulian terhadap kesehatan sendiri dan orang lain. Aku harus menjaga pola makan, kerja keras yang teratur—tidak memaksanya jika sudah letih, dan tidak juga memanjakannya jika memang belum letih, olahraga, saatnya buang air kecil/besar, maka buanglah segera. Begitu juga aku harus berpartipasi dalam kesehatan sesama, seperti bersih-bersih lingkungan, donor darah, dan lain-lain. Aku harus selalu ingat bahwa penyakit itu timbul dari hal-hal sepele dan keberlebihan kita dalam sesuatu. Jika tidak percaya, cobalah aku tahan kencingku pas pengen kencing, maka timbullah kencing batu. Atau makanlah sebanyak-banyaknya makan aku akan muntah, atau kolesterol, darah tinggi, dan hal-hal negatif lainnya.

Yogyakarta-Pati, 5 desember 2011.



Senin, 05 Desember 2011

See U Facebook

Alhamdulillah semenjak akun fb-ku kunonaktifkan aku bisa menulis lebih banyak lagi, terutama menulis di blog lagi. Tentu ini adalah hal positif, meski konsekuensinya aku tidak lagi berkomunikasi dengan banyak orang di fb dari pelbagai daerah. Ah, tak mengapa, karena lebih banyak "mudarat"-nya ketimbang manfaatnya. Mudarat yang kumaksud adalah banyak sekali waktu yang kubuang secara cuma-cuma. Ada waktu yang mestinya kuisi dengan menulis resensi eh malah dibuat fesbukan.


Tentu itu sebuah kerugian bagiku. Dan itu membuatku tidak produktif. Dan itu membuatku makin ketinggalan dari orang-orang yang sama-sama mengejar mimpi seperti aku. Maka menghentikan (sementara) akun fesbukku adalah langkah positif, karena senyatanya membuatku produktif. Anda tak harus mengikuti jejakku ini karena ini hanya usaha pribadiku saja, yang bisa jadi tidak akan sesuai dengan anda. Tapi kalau mau mengikuti langkahku ini tidak mengapa, haha.

Jika ditilik ke belakang, di mana saat aku belum punya akun fesbuk, aku lumayan produktif menulis. Paling tidak aku bisa membuat 4 resensi dan tulisan-tulisan lainnya. Tapi setelah mempunyai fb, produktifitasku mulai turun, meski tidak drastis. Sedikit demi sedikit waktu kreativitasku mulai tergerus oleh fesbuk ini. Waktu itu aku belum pasang internet di komputerku. Bukannya belum tapi memang belum "zaman"nya modem-modeman.

Jadi waktu itu kalau ngirim tulisan aku harus ke warnet. Dan di warnet aku cuma kirim tulisan saja, dan sedikit googling bahan tulisan. Jadi waktunya pun cuma sebentar, kadang 5 menit, 10 menit, 30 menit, atau maksimalnya 1 jam. Tapi coba lihat setelah aku punya akun fb, hampir tidak pernah aku di warnet cuma sebentar, minimalnya 1 jam. Dan itu cuma untuk fesbukan saja tidak dengan yang lainnya. Semenjak fesbukan juga aku jadi jarang googling. Internet itu seolah-olah hanya fesbuk semata—sangat identik.

Tapi tentu fesbuk ada manfaatnya juga dong. Sungguh tidak fair kalau aku mengatakan fesbuk murni mudarat. Karena kenyataannya aku banyak mendapat pengetahuan dan informasi dari fesbuk. Dan yang lebih penting aku juga mendapat kenalan dengan para penulis, penerbit, pembaca bukuku, dan yang lainnya. Bahkan terkadang aku mendapat rezeki juga dari sana, seperti ada yang beli bukuku langsung dariku. Jadi sekali lagi fesbuk sungguh berjasa bagiku.

Sebetulnya bisa saja aku tetap mengaktifkan akun fesbukku, tapi masalahnya aku belum bisa mengendalikan fesbuk tersebut, malah aku yang dikendalikan olehnya. Aku seperti kecanduan, sehari saja tidak fesbukan seperti ada yang kurang, ada yang belum terpenuhi. Bukankah itu berbahaya? Aku seperti diperbudak olehnya. Maka dari itulah aku memutuskan untuk menon-aktifkan sementara akun fesbukku. Entah sampai kapan. Aku harus melepas ketergantungan dari fb.

Sejauh ini sudah dua orang yang bertanya soal fesbukku. Hehe. Sorry deh kawan-kawan jika aku sudah tidak berkomunikasi lagi via fb. Tapi kan masih ada media lain untuk melakukan komunikasi? Aku merasa fb hanya sebagai ajang narsis aku saja ketimbang silaturahmi. Buat status dan upload foto hanya sekadar ingin dibaca orang lain. Seolah aku ingin diperhatikan. Fesbuk membuatku kehilangan kemisterianku, hehe.

Yogyakarta, 3 Desember 2011

Senin, 28 November 2011

Ampun Deh…

Mau menulis apa ya sore ini? banyak sebetulnya, tapi entah aku harus mendahulukan yang mana. Ah, kebanyakan bahan pusing juga, sepusing saat tidak adanya ide. Tapi, yang jelas, aku lega bukan main, karena aku sudah menyelesaikan 60 halaman editan. Ini rekor baru dalam karier editanku yang halamannya begitu gemuk. Patut aku syukuri prestasi harianku ini. Alhamdulillah. Tapi, aku berencana akan kulanjutkan lagi malam ini editanku, sampai 30 halaman. Ah, semoga saja bisa. Mood ini harus aku jaga sebaik-baiknya, karena jarang-jarang datangnya.


Pelbagai peristiwa baik yang aku alami sendiri maupun orang lain memberikan pelajaran berharga bagiku. Begitu juga kisah-kisah yang dialami kawan-kawanku, baik kisahnya kawanku sendiri maupun kisah kawannya kawanku. Semua itu menyodorkan hikmah dan pelajaran yang bernilai, yang sangat berguna bagiku, entah itu peristiwa yang harus kuikuti maupun yang harus kuhindari. Misalnya, seorang teman yang belum berani mengambil keputusan besar untuk menikahi kekasihnya, lantaran faktor finansial yang minim atau faktor tergoda oleh perempuan lain; ada juga kisah temannya teman yang hidupnya bergelimang materi tapi anaknya mengidap penyakit epilepsi—dimana kata temanku sebanyak apa pun duit, tidak ada apa-apanya kalau anaknya sudah kumat penyakitnya. Dari peristiwa itu aku harus bersyukur dengan sesungguh-sungguhnya. Betapapun minimnya kondisi finansialku tapi aku bersyukur kondisi keluargaku baik-baik saja.

Ada juga pengalaman yang menimpaku yang harus kuambil pelajarannya. Aku masih ingat, bersama seorang kawan aku hendak membuat penerbitan yang didanai oleh seorang pemilik toko buku besar di Indonesia, tapi tidak jadi. Ketidakjadian itu sangat tidak jelas alasannya. Walaupun ada alasannya, sungguh tidak masuk akal sama sekali. Yang jelas yang aku tahu, awalnya kawanku tidak serius merintis rencana penerbitan ini tapi kemudian alasannya dibuat-buat. Mestinya kami segera menemui sang donator, tapi tidak pernah jadi. Banyak alasan. Akhirnya molor terus dan tidak pernah kesana.

Padahal waktu itu sang donator sudah menanti-nanti kapan kita bisa ketemu untuk membuat pendirian penerbitannya. Walhasil, kawanku itu tidak ada keinginan lagi membuat penerbit karena bla-bla-bla. Alasannya sangat banyak. Dia seperti takut untuk membuat penerbitan itu, karena barangkali dalam hitungannya akan merugikan dia. Itu sangat berbeda sekali saat pertama kami selepas bertemu dengan donatur. Dia begitu bersemangat dan berapi-api, dan sudah punya mimpi juga untuk siap-siap “naik lift”.

Dan jangan tanya tentang aku waktu itu; aku sendiri pas pulang dari pertemuan itu, sekitar jam 1 dini hari, aku langsung menelpon istriku. Aku kabarkan berita baik itu. Aku ceritakan semuanya hasil pertemuan itu. Aku dan istriku begitu gembira. Masa depan cerah seolah sudah terlihat. Pas tanggal tertentu kami sudah merencanakan untuk bertemu donatur, tapi kawanku membatalkannya. Lalu, aku tanya lagi kapan kita bisa bertemu dengan donatur lagi. Jawabannya mengambang, tidak ada langkah konkrit. Meski begitu aku tetap menjalin persahabatan dengannya. Hanya saja dalam konteks soal uang aku tidak mau lagi. Persahabatan lebih aku utamakan, ketimbang permusuhan, karena bisa saja aku marah, protes dan mengkritisi kawanku itu yang tidak serius membuat penerbitan dan sudah membuat harapanku pupus. Tapi, aku tidak ingin melakukannya.

Yang aku dapatkan dari pengalaman itu adalah bahwa aku tidak boleh menggantungkan harapan pada orang lain. Begitu juga sebaliknya, aku tidak boleh memberikan harapan pada orang lain, karena ketika harapan itu tidak tercapai, maka aku hanya akan membuat orang lain kecewa. Itu saja. Dan sudah selayaknya, aku harus membuat harapan sendiri dengan upayaku sendiri. Itu lebih aman. Kecewa dan bahagia akan aku rasakan sendiri, ha-ha-ha. []

Yogyakarta, 28 november 2011, pkl. 17.58 WIB.

Minggu, 20 November 2011

Hanya Soal Mentalitas Saja

Tadi malam timnas Sepakbola Indonesia menang lawan Vietnam di semi final Sea Games. Lumayan puas menontonnya. Keduanya bermain sangat terbuka dan saling serang. Asyik sekali melihatnya. Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi catatanku untuk tim Indonesia. Misalnya, sikap individualisnya Okto M. dia terlalu banyak membawa bola sendirian padahal sudah dekat dengan garis kiper. Seandainya dia mengoper bola yang dia kuasai saat dia terdesak, tentu peluang meraih gol sangat besar. Dia malah terus membawanya meski dalam keadaan terdesak, padahal ada kawan yang cukup bebas untuk melakukan penetrasi. Itu sungguh menjengkelkan. Tapi, kecepatannya sungguh tidak diragukan. Sangat luar biasa.


Selain itu, secara kesebelasan, permainan mereka terlalu terburu-buru, tidak taktis dan praktis. Mereka kebanyakan bermain lambung. Mungkin ingin bergaya Liga Inggris, he-he-he. Tapi, kurang maksimal, masih banyak kekurangannya. Walhasil, bola mudah direbut, dan permainan sering kali didominasi oleh Vietnam. Tapi okelah, secara keseluruhan tim Indonesia lumayan bagus ketimbang pas lawan Malaysia di pertandingan sebelumnya. Begitu buruknya Indonesia pas lawan Malaysia itu. Mereka kalah 0-1.

Memang ada beberapa pemain inti diistirahatkan, untuk persiapan pertandingan lawan Vietnam tadi malam. Apakah memang Indonesia selalu grogi dengan Malaysia, karena secara pengalaman terdahulu Indonesia selalu kalah dalam pertandingan penting, seperti di final piala AFF, tempo lalu. Tapi itu bukan alasan yang signifikan. Kalah ya kalah, jangan banyak dalih. Dan harus diakui Malaysia lebih baik. Utamanya pertahanannya yang begitu solid dan kuat. Apa sesungguhnya rahasianya?

Mentalitas. Ya, itulah kunci sukses tim Malaysia. Mereka punya mental yang kuat dalam meraih pertandingan. Sikap superior selalu ditunjukkan mereka. Mental yang kuat memberikan antusiasme yang lebih. Ada gelora yang besar dalam dada mereka. Tentu saja mentalitas itu disertai dengan teknik dan taktik yang brilian. Saya melihat tim Indonesia belum terlihat. Geregetnya kurang menonjol.

Menurut Rahmad Darmawan (RD), sang pelatih, kekalahan dari Malaysia adalah sebuah pukulan. Namun, hal itu harus dijadikan motivasi untuk bangkit. “Saya berharap kekalahan ini bukan sebuah pukulan yang membuat jatuh. Saya harap ini sebuah pukulan untuk bangun dan termotivasi.” Itulah yang dikatakan RD. Luar biasa.

Walhasil, tim asuhannya betul-betul sangar pas lawan Vietnam. Mental bertarungnya kelihatan. Mereka benar-benar habis-habisan. Aku salut. Dan akhirnya, timnas Indonesia berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-0. Dan di final (senin, 21 November 2011) akan bertemu Malaysia kembali. Semoga kekalahan dari Malaysia pas di perebutan juara group menjadi pelajaran berharga, dan menemukan taktik jitu untuk menaklukannya. Walau tidak menang, mari tunjukkan mentalitas yang kuat, dengan disertai permainan yang apik (taktik dan teknik yang jitu). Bravo Indonesia.

Yogyakarta, minggu, tgl. 20.11.2011 (hari ini nomornya cantik, seperti 11.11.2011), pkl. 16.49

Jumat, 18 November 2011

Hari Ini Disyukuri, Hari Esok Diharapkan

Alhamdulillah, hari ini sesuai target. Editing Masnawi sesuai rencana, aku mengedit sekitar 10 halaman. Sedikit sebetulnya, tapi aku merasa puas, karena sesuai dengan rencana. Namun, harus aku tingkatkan lagi menjadi 20 sampai 30 halaman. Karena, terlalu sedikit kalau aku menargetkan 10 halaman per hari. Terlebih jika melihat ketebalan bukunya yang mencapai 400-an halaman, dan diberi waktu oleh penerbit hanya 3 minggu. Jadi, mau tak mau aku harus menambah halaman lagi per harinya.


Di samping itu, ada dua naskah pula yang sedang aku garap, dari dua penerbit. Ini naskahku sendiri. Aku menargetkan satu bulan ini kedua naskah itu bisa rampung. Terkesan nafsu mungkin, tapi tidak mengapa, karena sudah ada beberapa naskah yang menunggu aku garap pula, walau sebenarnya naskah-naskah itu belum ada yang meminangnya, alias belum ada kepastian untuk diterima dan diterbitkan oleh penerbit. Tidak mengapa. Aku tetap akan menggarapnya karena siapa tahu bisa diterbitkan, baik oleh penerbit orang lain maupun penerbit sendiri, he-he-he.

Prestasi-prestasi kecil di atas patut aku syukuri, karena tanpa tekad yang kuat dan kemurahan dari Tuhan, sungguh tidak akan terjadi. Janganlah aku melupakan hal itu, karena syukur itu akan membuka prestasi-prestasi lainnya. Aku harus yakin itu. Aku tidak boleh luput dari perasaan syukur. Bayangkan saja, di saat orang lain mengalami kesulitan dalam masalah menulis buku, aku malah dilancarkan. Dua hal yang sangat kontras. Dan juga di saat orang lain kesulitan mendapat ide-ide untuk menuliskan sesuatu, aku malah kelimpahan ide yang bisa kutulis menjadi buku. Subhanallah banget, bukan? *sindrom syahrini*

Oleh karena itu, ekspresi rasa syukur itu aku harus mengejawantahkannya dalam tindakanku sehari-hari. Jangan sampai aku kufur nikmat, lupa dengan segala nikmat yang Tuhan berikan padaku ini. Meski hidupku kadang susah, aku harus tetap berpikir jernih, aku harus tetap semangat menjalani hidup ini. Tidak boleh putus asa. Tidak boleh habis harapan. Yakinkan pada diri ini bahwa aku mampu menjalani hidup dengan segala keterbatasan, entah itu keterbatasan harta, keterbatasan kemampuan, maupun keterbatasan lainnya yang selalu mengganjal cita-citaku.

Semua itu akan bisa kuatasi dengan menjadikan diri sebagai pribadi yang penuh semangat dan kemauan untuk terus belajar. Semangat itu penting, karena akan menjaga aku dari keputusasaan. Semangat itu perlu, karena itu menjadi semacam bensin untuk menggerakkan roda perjalanan hidupku menuju arah atau tujuan yang hendak ingin kucapai. Sedang soal kenapa aku harus terus belajar, kiranya sudah jelas, bahwa dengan menanamkan ‘aku sebagai manusia pembelajar’ aku akan terus menggali pelbagai macam pengetahuan; pengetahuan apa saja. Kemampuanku akan terus terasah jika aku terus belajar, dan belajar.

Dengan semangat dan belajar itu aku yakin hari esok segala yang aku harapkan bisa tercapai. Tentunya dengan izin Allah. Dan dengan mensyukuri hari ini membuat hidupku berlimpah kenikmatan. Kepada Tuhan aku memohon dan kepada-Nya pula aku berserah.

Yogyakarta, 18 November 2011, pkl. 16.57. sembari minum teh.

Senin, 14 November 2011

Kutempuh Jalan Sunyi

Jalan yang aku tempuh adalah jalan sunyi. Jalan yang jarang dilalui orang. Tidak semua orang suka dengan jalanku. Barangkali tidak popular dan tidak biasa. Barangkali tidak menjanjikan apa-apa, selain kesunyian. Entahlah. Yang jelas demikian faktanya. Di antara sekian banyak teman-temanku, mulai dari teman SD, MTs, MAK, hingga PT, sepengetahuanku tidak satu pun ada yang menempuh jalan sepertiku. De facto. Merek lebih memilih jalan lain, yang ramai, dan menjanjikan. Ya, menjanjikan segala sesuatunya.

Tetapi, mengapa aku memilih jalan sunyi itu padahal jelas-jelas banyak orang tidak menempuhnya?

Hingga saat ini aku belum mendapat jawaban yang mantap. Paling-paling aku hanya bisa menjawab, bahwa aku memilih jalan itu karena sesuai dengan karakter dan kepribadianku. Ya, begitu saja. Bisa saja aku memilih jalan yang banyak ditempuh layaknya kawan-kawanku juga, karena secara kualitas keilmuan, kapabilitas, tidak jauh berbeda dengan mereka. Tapi, ya itu tadi, sebagaimana yang aku sebutkan di atas, tidak cocok dengan karakter dan kepribadianku.

Meski jalan ini jalan penuh kesunyian aku harus menempuhnya, karena sudah menjadi pilihanku. Aku telah memilihnya, maka aku harus bertanggungjawab. Jadi, aku tidak boleh mengeluh (paling tidak jangan mengeluh terlalu banyak, haha), dan tidak pula bersedih karena kondisi itu. Mengapa aku mengatakan demikian, karena keluhan dan kesedihan sering aku rasakan di jalan ini. Jalan ini begitu terjal, penuh kerikil, bebatuan, dan lubang yang menganga, yang membuatku sulit berjalan cepat, dan harus hati-hati dalam melangkah. Semua keadaan itu menggoda aku untuk marah, mengeluh, menggerutu, sumpah serapah, dan hal-hal negatif lainnya.

Aku harus yakin bahwa jalan ini adalah jalan menuju keindahan dan kebahagiaan. Aku harus yakin seyakin-yakinnya di ujung jalan sana ada sebuah “dunia” yang penuh pesona, penuh kenikmatan, penuh keindahan, dan penuh kebahagiaan, yang kontras dengan jalan ini sendiri. Itulah “sebuah dunia” yang dijadikan balasan bagiku jika kelak aku dapat sampai di ujung jalan ini. Aku harus yakin bahwa jalan yang kutempuh ini bukan jalan buntu, bukan pula jalan yang penuh kesia-siaan. Aku harus yakin itu.

Mungkin keresahan dan kegelisahan yang kutempuh di jalan ini disebabkan oleh orientasiku juga yang serba kapitalistis, di mana segala hal yang kulakukan harus mendatangkan finansial alias rupiah. Maka jadinya aku resah dan gelisah tatkala gagal meraup uang. Namun begitu, wajar sebetulnya jika aku mempunyai niat dan orientasi ini, karena manusiawi—butuh sandang, pangan, dan papan—terlebih aku sudah beristri dan beranak. Cuma jangan terlalu, itu saja. Jadi, kuncinya ada pada kontrol diri.

Aku sedikit yakin seandainya aku tidak money oriented maka jalan yang kutempuh ini akan penuh dengan kebahagiaan. Lakukan segala sesuatunya sebagai panggilan hidup, sebagai pengabdian pada masyarakat. Betapa tidak, aku akan banyak membantu orang dalam segi pencerahan hidup, penambah wawasan bagi banyak orang, dan “petunjuk” menuju hidup kayak makna. Bukankah itu perilaku terpuji? Sungguh, aku harus yakin dengan hal itu. Keyakinan itu penting karena akan membuat aku percaya diri dalam hidup ini. Keyakinan itu penting karena akan memantapkan jiwa dan ragaku.

Teringat dengan puisi Emha Ainun Nadjib berjudul “Jalan Sunyi”:

Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi
Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata - kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya

Apabila kau dengar tangis di saat lengang
Kalau bulan senyap dan langit meremang
Sesekali temuilah detak - detik pelaminan ruh sepi hidupku
Agar terjadi saat saling mengusap peluh dendam rindu

Kuanyam dari dan malam dalam nyanyian
Kerajut waktu dengan darah berlarut - larut
Tak habis menimpukku batu demi batu kepalsuan
Demi mengongkosi penantian ke Larut

Bagiku yang paling berkesan dari puisi di atas adalah kelompok bait terakhir, yang menggambarkan betapa beratnya orang menempuh jalan sunyi. Segala derita dari waktu ke waktu dia rasakan, dan hanya dia yang merasakannya. Tak ada orang lain, tak ada yang peduli. Ujian datang silih berganti, tak habis-habisnya. Semua itu dia lakukan demi sebuah idealisme, sebuah cita-cita yang didambakannya. Itulah ongkos yang harus dia bayar dengan begitu mahalnya. Jalan sunyi adalah jalan penuh onak-duri. Dan dia menempuh jalan itu.

Di jalan sunyi ini aku seperti tidak menghamba pada siapa pun. Aku merasa menjadi manusia merdeka. Aku tidak terikat oleh apa pun, tidak meruang dan mewaktu. Jalan ramai hanya membuat aku si pejalan sunyi menjadi kering jiwa, mematikan rasa, tidak peka dengan lingkungan. Jalan ini jauh dari hiruk-pikuk. Di jalan ini yang ada hanyalah ketenangan yang bercabang: bisa melenakan dan bisa menyadarkan. Tinggal bagaimana yang menjalaninya.

Aku akan terus berjalan di jalan sunyi ini, karena aku merasa membuatku menemukan nurani.

Selasa, 10 Maret 2009

Meniru Kreativitas Tuhan

Tulisan ini disuguhkan pada LK I HMI Kom. Fak. Ekonomi UGM, pada 09 Maret 2009.
--------------------------
“Apabila ingin mengubah dunia, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri”
“Allah tidak akan mengubah suatu masyarakat, sampai masyarakat sendiri yang mengubahnya”
“Apa yang anda wariskan dalam hidup saat anda sudah mati?”

Disadari atau tidak, peradaban Islam sebenarnya adalah peradaban buku. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Pertama adalah ditandai dengan turunnya ayat al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (S.Al-‘Alaq: 1-5).

Pada masa Nabi Muhammad SAW Al-Qur’an mulai ditulis oleh masing-masing sahabat. Setelah Nabi wafat, Umar bin Khattab kemudian menggagas agar Al-Qur’an dijadikan satu mushaf. Dari situ, jadilah Al-Qur’an yang kita lihat saat ini. Ketika Islam menyebar ke luar Mekkah dan Madinah, tuntutan tafsir/interpretasi atas Al-Qur’an menjadi keniscayaan. Hal itu disebabkan masyarakat di luar Makkah dan Madinah mempunyai konteks yang berbeda. Dari situ, mulai bermunculan tafsir-tafsir Al-Qur’an. Seiring dengan itu, ilmu-ilmu keislaman--yang terinspirasi dari pokok-pokok Al-Qur’an--mulai bermunculan, sesuai dengan kapasitas keilmuan ulama dan kebutuhan masyarakat pada waktu itu, seperti kitab-kitab fiqih, tasawuf, sejarah, sastra, politik, ekonomi, filsafat, kedokteran, dan lain-lain.

Dari fenomena di atas, tak aneh kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam berkembang pesat, dan puncaknya adalah meraih peradabannya. Hampir semua lini mengalami kemajuan: filsafat, politik, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain. Warisan-warisan para ulama terdahulu masih dapat kita saksikan pada saat ini. Salah satu warisannya adalah karya tulis (alias buku/kitab).

Jika anda berkunjung ke perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, anda akan mendapatkan deretan kitab-kitab klasik yang ditulis pada abad-abad silam. Kitab-kitab tersebut lazim dijuluki dengan “kitab kuning” (lantaran kertasnya sudah termakan usia, meski tidak mesti berwarna kuning). Sebut saja misalnya, tafsir at-Thabari, tafsir ar-Razy, tafsir az-Zamakhsari, di mana semua kitab itu masing-masing lebih dari sepuluh jilid. Belum lagi, kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, al-Qanun fi ath-Thib karya Ibnu Sina, dan masih banyak lagi.

Pada tulisan ini saya hendak mengatakan bahwa tulisan mempunyai dua manfaat: 1) dapat mengubah seseorang dan masyarakat, dan 2) sifatnya abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertama, tulisan dapat mengubah seseorang dan masyarakat. Berbagai karya tulis para ulama adalah salah satu bukti konkritnya. Karya-karya tulis mereka secara tidak langsung telah mengantarkan umat Islam pada kejayaannya. Dengan kata lain, karya tulis mereka mampu mengubah dan menggerakkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik.

Sisi lain, karya tulis pun mampu mengubah penulisnya sendiri. Beberapa penelitian dan pengalaman orang-orang membuktikan hal itu, bahwa menulis benar-benar memberikan efek sugesti yang baik bagi diri kita, dari berbagai sisi, misalnya kesehatan dan melejitkan potensi, serta merencanakan hidup sukses dan bahagia. (Lebih detailnya silakan baca karangan saya, The True Power of Writing: Menulis itu Menyembuhkan, 2007).

Kedua, tulisan mempunyai sifat yang abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Bukti konkrit dalam hal ini adalah Al-Qur’an. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika Al-Qur’an tidak ditulis, dengan jarak yang yang terbentang begitu jauh baik ruang dan waktu, apakah bisa sampai kepada kita saat ini? Begitu juga dengan karya-karya tulis para ulama terdahulu, jika saja mereka tidak menulis dapatkah mereka mewariskan sesuatu yang abadi kepada generasi mereka berikutnya, yaitu kita? Pun dengan tokoh-tokoh Indonesia, mereka tetap dikenang lantaran terekam dalam buku-buku sejarah, apalagi mereka yang menulis karya tulis (baik fiksi, non-fiksi, maupun memoar/diary).

Dari kedua manfaat menulis di atas, apa yang bisa kita petik hikmah/pelajarannya bagi kita, sebagai umat muslim generasi saat ini dan mendatang?

Nabi bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi”. Dari sabda nabi ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa kita (sebagai ulama; ilmuwan/cendekiawan) harus meneruskan tradisi para nabi, yaitu membawa misi kebaikan kepada dunia ini. Lebih-lebih kita sebagai muslim intelektual dan akademis.

Hal itu bisa dilakukan salah satunya adalah melalui tulis menulis. Dengan tulis menulis kesempatan kita amatlah besar. Melalui tulis menulis, benih-benih kebaikan dapat kita sebarkan kepada orang lain, paling tidak kepada diri kita sendiri. Menulis akan mengabadikan kita sepanjang adanya dunia, meski kita telah lama mati. Menulis pula dapat kita wariskan pada anak cucu kita, lebih-lebih pada dunia. Menulis pula—mudah-mudahan—akan dapat menjadi amal baik kita yang akan terus menerus mengalir pahalanya kepada kita, lantaran dibaca dan bermanfaat bagi orang lain, sehingga hal itu menjadi doa bagi kita.

Selamat menulis (apa saja), asal bermanfaat bagi diri sendiri, lebih-lebih bagi orang lain. Scripta manent verba volant! Yang tertulis akan abadi yang terucap akan hilang.

M.Iqbal Dawami
penulis buku The True Power Of Writing: Menulis itu Menyembuhkan (2007)

Jumat, 21 November 2008

Merencanakan Hidup Sukses dan Bahagia Dengan Menulis

Paparan Hernowo dalam bukunya yang berjudul Vitamin T (MLC:2004) begitu menginspirasi hidup saya.Pasalnya, dalam buku itu ada sub judul Lebih Baik Punya Tujuan Hidup atau Peta Hidup? Bab ini membuat saya tersadarkan dari tidur panjang saya bahwa hidup memang harus punya tujuan atau peta, agar kita tak kehilangan arah.

Untuk lebih jelasnya coba kita simak perkataan Hernowo di bawah ini:
“Peta? Ya, peta. Saya kira peta adalah sebentuk pedoman atau pemandu yang membuat apa pun yang ingin kita lakukan dapat terbayangkan sebelumnya. Apa “peta kehidupan” kita? Bagaimana kita mendapatkan peta yang dapat memandu kehidupan kita yang terus berjalan dan kita tak tahu kapan hidup kita berhenti?”


“Orang bilang, hidup yang berkualitas dan jelas adalah hidup yang bertujuan. Siapa saja yang dapat merumuskan hidupnya secara jelas, tentulah dia akan dapat menjalani hidup itu tanpa siksaan. Apakah pernyataan ini benar? Bukankah kadang kita memiliki tujuan yang sangat jelas di dalam kehidupan kita, namun kadang-kadang kita tetap berada dalam kegelapan kehidupan kita?”

“Bukankah tujuan hidup kita adalah untuk mematuhi perintah dan menghindari larangan Tuhan? Bukankah tujuan hidup kita sudah dirumuskan oleh kitab suci yang kita yakini kebenarannya? Bukankah, mungkin, kita juga mampu untuk merencanakan hidup kita setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahun? Apalagi yang kurang?”

“Apa wujud konkret dari “peta hidup” atau peta untuk membantu kita agar lebih mudah dan nyaman dalam menyusuri hidup kita ini. Ya, apa wujudnya? Inilah yang ingin saya diskusikan di sini. Peta itu harus jelas dan nyata. Peta itu harus memiliki gambar-gambar yang menunjukkan arah perjalanan hidup kita. Peta itu juga terus dapat diperbaiki letak atau tempat-tempat yang akan kita tuju.”

“Saya merasakan sekali bahwa kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk membuat peta kehidupan kita. Saya juga merasakan sekali bahwa teks atau kalimat-kalimat tertulis itu dapat menampung kekayaan kehidupan kita—baik itu kekayaan hidup yang sudah kita jalani maupun yang belum sempat kita jalani.”

Bagaimana perasaan Anda setelah mendengar perkataan Hernowo itu? Tidakkah Anda terketuk seperti halnya saya. Sungguh, saya merasakan sekali betapa manfaat menulis masih saja ada. Menulis bisa memasuki daerah-daerah yang tak pernah kita ketahui dan sadari.

Saya ingin mengatakan pada Anda tentang dua hal dari perkataan Hernowo tersebut, yaitu tujuan hidup dan menulis. Apa hubungannya tujuan hidup dengan menulis? Seperti halnya Hernowo, bagi saya keduanya mempunyai kaitan yang sangat erat. Sebagaimana kita ketahui, kita hidup bukan hanya sebatas hidup. Kita hidup tentu ada suatu misi yang harus kita emban. Karena, apalah artinya kita diciptakan dan diberi akal kalau tak ada sesuatu yang harus kita perjuangkan. Maka, sebuah tujuan hidup adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki setiap manusia. Dan tujuan hidup bisa kita gambarkan dengan jelas yaitu dengan cara menuliskannya. Teks-teks yang kita buat akan membantu kita untuk menampung semua tujuan hidup kita. Karena dengan teks, kita bisa merencanakan apa yang akan kita jadikan tujuan hidup tersebut.

Hernowo lebih sreg menyebut tujuan hidup dengan “peta hidup”. Oleh karenanya ia mengutip Stephen J. Spignesi dalam pembuka sub-bab bukunya, bahwa “Sebuah perjalanan selalu lebih mudah dengan peta”. Saya akui, memang dengan bahasa “peta hidup” kesan saya adalah bahwa hidup kita akan terpandu dan terbimbing lantaran adanya sebuah peta. Dan dengan menuliskannya, peta tersebut akan mengontrol kehidupan kita, apakah kita masih dalam jalur yang benar atau tidak. Jadi, menuliskan peta tersebut kita bukan saja bisa terpandu dan terbimbing tapi juga terkontrol kehidupan kita, seperti, apakah hari ini sesuai dengan apa yang kita petakan? Dan apakah hari ini mendekati tujuan hidup kita? Bahkan dengan menuliskannya pula, hidup kita akan selalu diingatkan oleh peta tersebut. Dan masih banyak hal lagi manfaat membuat “peta hidup” dan lalu menuliskannya.

Hernowo telah membuktikannya. Ia akui sendiri sebagaimana perkataannya di bawah ini:
“… saya telah berhasil membuat peta kehidupan saya sendiri. Saya telah merekam hampir seluruh kehidupan saya yang lalu dan yang akan datang—dan juga malah yang sekarang ini lagi saya jalani—dalam teks-teks yang saya tuliskan setiap hari, dan kemudian itu mewujud menjadi sebuah peta, “peta kehidupan saya”.

Selain Hernowo, masih ada orang-orang yang berhasil hidupnya lantaran membuat tujuan hidup atau, meminjam istilah Hernowo, peta hidupnya, di antaranya ialah Benjamin Franklin yang telah membuat rencana hidupnya baik menyangkut impiannya maupun pengembangan kepribadiannya. Dan saat sudah berusia lanjut, ia telah memenuhinya dengan baik. Selain Benjamin yaitu Lee Laccoca, mantan pemimpin perusahaan di Amerika. Ia membuat rencana jangka pendek dan berusaha memperhatikan waktu dengan sebaik mungkin. Dan ia mengatakan, “Sejak di perguruan tinggi, saya selalu bekerja keras dari Senin sampai Jum’at dan mencoba untuk meluangkan akhir pekan saya untuk keluarga dan berekreasi. Setiap Minggu malam saya memupuk kembali semangat saya dengan membuat garis besar apa yang ingin saya selesaikan pekan depan.”

Ada kisah menarik perihal tujuan hidup/cita-cita ini, yang saya angkat dari buku Seajaib Lampu Aladdin karya Jack Canfield dan Mark Victor .

“John Goddard membuat daftar semacam itu ketika dia berusia lima belas tahun. Ayahnya, seorang pengusaha yang berhasil, biasa mengundang relasinya untuk makan malam di rumah mereka sekali sepekan, tepatnya setiap Jumat malam. John Goddard muda sangat terkesan dengan pembicaraan yang didengarnya selama acara makan malam tersebut. Ayah John dan tamu-tamunya pada akhirnya mendiskusikan penyesalan mereka dalam hidup—semua hal yang mereka inginkan pernah mereka lakukan, namun tidak pernah sempat diselesaikan, atau bahkan dimulai. Setelah melewati suatu jamuan makan malam semacam itu, John bertekad untuk tidak bernasib seperti teman-teman ayahnya ketika mencapai usia mereka. John masuk ke kamarnya dan menuliskan 127 hal yang dia ingin raih dalam hidupnya. Saat ini, pada usia enam puluhan, John telah menyelesaikan 115 dari 127 cita-cita tersebut. Daftar ini memberikan kerangka bagi hidupnya dan dia telah mengunjungi lebih dari seratus negara, bertemu banyak pemimpin dunia, termasuk Paus, dan mencapai banyak impian yang bersifat pribadi. Dia telah mengunjungi Tembok Besar Cina, menjelajahi Sungai Nila, mengendarai kuda di Rose Bowl Parade (Parade Rangkaian Bunga Mawar), dan belajar menerbangkan empat puluh delapan jenis pesawat terbang yang berbeda.”

Dan masih banyak lagi sebenarnya kisah orang-orang yang sukses lantaran mempunyai tujuan hidup yang ditulis.

Tentunya menuliskan keberhasilan dalam menempuh tujuan hidup, atau yang dicita-citakannya tidak menjamin kesuksesan, tapi setidaknya lima puluh persen kesuksesan telah kita raih, yang sisanya adalah aksi. Ya, rencana tertulis harus dibarengi dengan aksi. Dua hal ini harus kita lakukan jika ingin meraih kesuksesan hidup tersebut. Sebagaimana telah saya katakan, bahwa dengan menuliskan tujuan atau cita-cita hidup, maka kita bisa melihatnya dengan gamblang apa saja tujuan atau cita-cita hidup kita itu? Kapan kita akan melakukannya? Apakah kita melakukannya dengan bergairah? Apakah kita bisa meraihnya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akan bisa kita jawab jika kita menuliskan tujuan hidup kita itu. Dengan menuliskannya kita bisa mengontrol dan mengingatkan akan tujuan kita itu, sehingga kita bisa mengevaluasinya. Tujuan atau cita-cita hidup bisa dalam hal pekerjaan, impian, atau kegiatan kita sehari-hari seperti dalam keluarga atau masyarakat.

Namun perlu kita ketahui bahwa ada beberapa hal yang harus diingat tentang tujuan atau cita-cita hidup kita itu, di antaranya seperti yang diingatkan oleh Thomas Armstrong dalam bukunya 7 Kinds of Smart:

Pertama, kita harus memilih sasaran yang harus dicapai. Artinya, kita harus bersifat realistis apakah cita-cita itu bisa kita capai dengan disesuaikan dengan kekuatan dan keterbatasan kita. Kedua, ambil sasaran yang pantas diharapkan. Artinya, apakah tujuan atau cita-cita tersebut bermanfaat bagi kita? Karena hal ini akan mempengaruhi proses pelaksanaan cita-cita tersebut. Thomas mengingatkan bahwa sasaran Anda muncul dari diri sendiri, sehingga akan timbul gairah untuk menjalankannya. Seperti yang dikatakan Charles Garfield, “orang boleh menargetkan 99 sasaran, tetapi kegairahan yang muncul karena sasaran itu sangat bermakna bagi orang yang dapat membuang sikap ‘masa bodoh’.“ Ketiga, sasaran (tujuan/cita-cita hidup) dapat diukur. Oleh karena itu, lanjut Thomas, kita harus menggunakan bahasa yang konkret dan terperinci untuk menggambarkan apa yang akan kita kerjakan dan kapan bisa menyelesaikannya. Misalnya, jangan Anda mengatakan bahwa Anda akan menghasilkan banyak uang, tetapi katakanlah Anda akan menghasilkan 100 juta rupiah dalam waktu setahun sebagai desainer interior pada tahun 2007.

Thomas Armstrong memberikan sebuah latihan yang bagus buat kita untuk membantu bagaimana caranya meraih sebuah cita-cita atau tujuan.

“Daftarlah 10 sasaran penting yang ingin Anda capai dalam kehidupan Anda dan/atau kehidupan profesional Anda pada kertas kosong. Buatlah sasaran seterperinci mungkin dan pastikan bahwa sasaran itu merupakan sasaran yang penting dan dapat dicapai. Kemudian urutkan sasaran itu, tulis sasaran terpenting di bagian teratas dan sasaran kurang penting pada bagian terbawah. Ambillah sehelai kertas kedua dan tuliskan sasaran terpenting dari daftar Anda pada bagian teratas halaman baru ini (di sampingnya cantumkan tanggal kapan Anda ingin mencapai sasaran itu). Tuliskan segala sesuatu yang perlu Anda lakukan untuk mencapai sasaran tersebut (kalau perlu, lakukanlah sumbang saran bersama seorang teman). Pada helai kertas ketiga, daftarkan kegiatan untuk mencapai sasaran tersebut menurut urutan kepentingannya (apa yang harus Anda lakukan terlebih dahulu, hal kedua yang perlu Anda kerjakan, begitu seterusnya). Kemudian, mulailah melakukan kegiatan pada bagian atas daftar itu.
Setelah Anda menyelesaikannya, tandai sasaran itu dan lanjutkan ke sasaran berikut. Lanjutkan proses ini sampai sasaran Anda tercapai. Untuk menolong proses tersebut, tuliskan epigram Goethe ini pada sehelai kartu: “Apa pun yang dapat Engkau lakukan atau ingin Engkau lakukan, rintislah. Di dalam keberanian ada kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban. Lakukan sekarang!” tempatkan kartu ini di meja anda atau carilah kutipan lain yang membangkitkan inspirasi Anda mencapai sasaran.”

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca hal-hal yang di atas, apakah timbul kegairahan untuk bertindak? Semoga saja.

Selasa, 18 November 2008

Mereka yang Tercerahkan Dengan Menulis

Saya ingin membuktikan kepada pembaca bahwa banyak orang-orang yang benar-benar tercerahkan lantaran aktivitas menulis. Hidup mereka menjadi lebih bergairah karena menulis.

Mereka bisa bangkit dari kegagalan dan bahkan kualitas hidupnya meningkat pesat dengan, sekali lagi, menulis. Anda bisa merasakan bagaimana perjuangan hidup mereka dalam melawan penderitaan, atau dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Setidaknya ada lima orang yang saya ketahui tentang orang-orang yang tercerahkan karena menulis tersebut. Dan saya harap walau hanya lima orang semoga membuat kita yakin kalau menulis memang benar-benar ampuh untuk membuat hidup kita cerah.

Seringkali saya temui teman-teman saya tidak mempercayai akan sebuah teori tanpa ada bukti terlebih dahulu. Begitu pun dalam masalah menulis yang bisa mencerahkan ini.
Saya sendiri telah membuktikannya kalau aktivitas menulis benar-benar ampuh untuk mengobati penyakit hati di kala saya gundah gulana, pun saat saya kehilangan makna.
Dan alhamdulillah dalam waktu empat tahun saya bisa menghasilkan dua buku yang berisi catatan harian yang kira-kira ketebalannya mirip dengan Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya tak punya catatan harian, apakah saya bisa meredam segala gejolak emosi saya, apakah saya mempunyai planning hidup, dan sebagainya. Bagi saya, menulis memang seperti terapi dan obat untuk menyembuhkan segala penyakit hati saya, seperti halnya orang-orang di bawah ini.

1. Karen Armstrong
“Hidup saya berubah setelah penerbitan buku Sejarah Tuhan”
(Karen Armstrong)
Buku-buku Karen Armstrong telah menggemparkan dunia. Nama dirinya melejit tatkala bukunya A History of God (1993) terbit dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tak ada satu pun bukunya yang tak laris. Buku-bukunya memang hanya berkisar di seputar agama, seperti Kristen, Islam, Yahudi, dan Budha. Tapi, yang menjadi keunikan dan berbeda dengan buku-buku semisalnya adalah berangkat dari pengalamannya sendiri tatkala “mencari Tuhan”. Ia bukan saja menelusuri lewat literatur untuk menulis bukunya, tetapi juga mengadakan perjalanan spiritual ke berbagai negara.
Hal yang mendorong untuk menulis dan mengadakan perjalanan spiritualnya bukan semata-mata ingin menjadi penulis (pada awalnya) dan mengadakan observasi langsung sebagai bahan tulisannya. Tetapi lebih dari itu. Ia mencari “obat” untuk menyembuhkan lukanya dari trauma dan penyakit yang dideritanya semenjak remaja serta haus akan spiritualnya.

Pada tahun 1962 ia disuruh masuk biara. Namun dalam biara ia merasa seperti dalam penjara. Badan dan jiwanya merasa terkungkung, kaku, harus mengikuti aturan yang monoton, dan banyak pengalaman yang menekan hidupnya. Setiap hari pekerjaannya selalu begitu saja. Selama tujuh tahun ia mengikuti tradisi yang berlaku di biara. Tujuh tahun itu pula ia merasa di “penjara”, memberikan trauma yang sangat dalam sekali, yang sulit dihilangkan hingga beberapa tahun setelah ia keluar dari biara tersebut.
Setelah memutuskan keluar ia kemudian masuk ke perguruan tinggi di Universitas Oxford, jurusan sastra Inggris. Ia tengah memulai kehidupan baru yang sekuler. Namun, ia merasa tak bisa bebas juga hidupnya. Ia merasa terasing di dunia luar. Banyak hal yang tidak ia ketahui. Ia menjadi manusia kuper (kurang pergaulan), dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Dan ia masih saja dibayang-bayangi kehidupan biaranya, yang begitu melekat akan pengalaman pedihnya. Perlakuaan-perlakuan di biara dulu masih terbayang-bayang jelas di matanya. Dengan kata lain, ia tengah mengalami trauma yang berkepanjangan dan sangat akut sampai-sampai ia menderita epilepsi serta gangguan lainnya.

Pengalaman tragisnya dialami juga setelah keluar dari biara, gara-gara penyakit yang dideritanya. Suatu ketika ia telah menjadi guru tetap di SMA khusus perempuan. Namun karena penyakit yang dideritanya ia diberhentikan oleh pihak sekolah. Inilah penderitaan klimaks yang dialaminya. Gara-gara diberhentikan dan sering kambuh traumanya, ia sering berhalusinasi, kadang-kadang ketakutan dan kadang-kadang ia panik. Ia merasa tak berguna hidupnya. Karena penyakit yang sangat akut itu ia pernah mencoba bunuh diri, berharap penderitaannya berakhir. Namun sedikit demi sedikit ia mulai sembuh setelah sering berkonsultasi ke psikiater, dan akhirnya sang dokter bisa mendeteksi penyakitnya tersebut.
Setelah sembuh walau belum seratus persen, ia mencoba kembali menggeluti dunia spiritualnya yang telah hilang. Ia lalu menulis buku keagamaan sebagai representasi pencarian dan pengalamannya. A History of God, begitu ia namakan bukunya. Dan dengan secepat kilat kehidupannya berubah. Ia telah menemukan kembali ruh hidupnya lantaran menuliskan segala pencarian serta pengalaman spiritualnya. Tulisan-tulisan yang bertemakan keagamaan terus ia tekuni, dan menjadi pembicaraan banyak kalangan. Karya-karyanya seperti Sejarah Tuhan, Berperang Demi Tuhan, Perang Suci, Islam dan Buddha, dan yang lainnya mendapat apresiasi di sebagian negara di dunia ini. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa yang kurang lebih berjumlah 40 bahasa di seluruh dunia.

Penulis yang tinggal di London ini juga membuat acara-acara yang bertemakan keagamaan, di antaranya bersama Bill Moyers dalam seri Genesis. Ia sering mendapat undangan-undangan untuk menjadi pembicara tentang keagamaan lantaran tulisannya. Dan bahkan banyak orang Barat menanyakan pada dia tentang Islam, dan sekali lagi, lantaran bukunya, yang banyak membahas tentang Islam. Ada dua buku yang bagi saya sangat mengagumkan, yaitu Muhammad dan Menerobos Kegelapan. Judul yang pertama berbicara tentang Nabi Muhammad Saw yang dia gambarkan dengan sangat memikat. Ia telah menjungkirbalikkan anggapan-anggapan barat tentang Nabi Muhammad ini. Ia ingin memberitahukan bahwa Muhammad tidaklah sosok yang “sangar” sebagaimana yang digambarkan oleh Salman Rushdi dalam Satanic Verses-nya atau kaum orientalis lainnya. Ia sangat mengagumi sosok Nabi ini dalam membawa Islam, terutama kepribadiannya. Walau secara substansi tidak ada yang baru tapi cara penyampaiannya mendapat nilai plus di mata pembaca. Saya ingin mengatakan di sini bahwa Karen menulis bukan hanya mengandalkan literatur saja, tapi ia juga menulis dengan jiwa dan raganya. Ia sangat menghayati apa yang ia tulis, dan yang pasti kesan yang mendalamnya terhadap tema yang akan dia sampaikan, sehingga bahasanya mudah dicerna dan mengalir bagai mata air. Inilah salah satu keistimewaan karya-karyanya.

Adapun buku Menerobos Kegelapan adalah sebuah perjalanan hidupnya. Inilah buku yang telah merekam kehidupannya semenjak kecil hingga menjadi saat ini. Dan saya sangat yakin kalau ia telah menemukan jati dirinya lantaran menulis tersebut. Ia telah tersembuhkan dan tercerahkan gara-gara menuliskan segala kepedihan dan traumanya, serta yang ia cari dan ia dapatkan. Sekarang ia telah menemukan jawabannya, dan ia mengatakan:

"Teologi itu sejenis puisi yang elusif, yang memerlukan pikiran tenang dan reseptif seperti yang anda perlukan untuk mendengarkan Beethoven atau membaca Rilke. Anda mesti memberinya perhatian penuh, menunggunya dengan sabar,dan menyisakan ruang kosong untuknya .... Dan di ujung hari karya itu akan mewartakan diri Anda ke Anda-hingga menjadi bagian dari Anda."

2. Virginia Woolf
Dalam sastra Barat nama Virginia Woolf sudah tak asing lagi. Ia merupakan sastrawan Inggris yang karya-karyanya disejajarkan dengan sastrawan lainnya seperti William Shakespeare, T.S. Elliot, Charles Dickens, atau George Orwel. Namun, di telinga kita nama tersebut memang masih asing, tak sepopuler yang lainnya, seperti halnya William Shakespeare dengan Romeo and Juliet-nya. Mungkin saja dikarenakan karyanya tak lazim dengan selera pembaca Indonesia. Karya-karya Virginia masih sangat jarang untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Memang, karyanya tergolong tak seperti halnya pengarang lainnya. Ia sering membuat karya dengan gaya yang berbeda dengan kebanyakan sastrawan lainnya.
Virginia mengidap penyakit kejiwaan yang amat sangat menyiksa hidupnya, seperti halnya Karen Armstrong. Namun ia masih terus menulis, dan menjadikan obat bagi penyakitnya itu. Seolah-olah derita telah tertahankan saat ia merangkai dunia imajinasinya, walau pada akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Nama lengkapnya adalah Adeline Virginia Woolf, dilahirkan di London pada tahun 1882 dari pasangan Leslie dan Julia Stephen. Ayahnya adalah seorang redaktur Cornhill Magazine dan penyunting Dictionary of National Biography. Bakat menulisnya tertular dari ayahnya. Ia hanya belajar membaca dan menulis dari orangtuanya, dan tak pernah merasakan bangku sekolah. Ia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan yang letaknya di dalam rumahnya sendiri. Bimbingan orangtuanya serta semangat belajarnya membuat bakat kepenulisannya cepat berkembang. Semakin lama semakin terasah pula insting menulisnya yang pada akhirnya ia mengabdikan hidupnya untuk menulis. Setelah menikah, ia bersama suaminya membuat penerbit Hogarth Press. Selain menerbitkan karya-karyanya ia juga menerbitkan pengarang lainnya yang terkenal seperti puisi T.S. Elliot.

Dalam penulisan karya sastranya, ia memperkenalkan corak yang tak lazim dilakukan oleh sastrawan lainnya. Ia telah mengembangkan temuannya William James dalam gaya penceritaan yaitu yang dikenal dengan istilah arus kesadaran (stream of consciosness) atau juga dikenal dengan dialog batin, dimana teknik tersebut akan menghasilkan efek yang berbeda di mata pembacanya. Efek dari teknik tersebut adalah pembaca benar-benar merasa menjadi terlibat di dalamnya, seolah-olah menjadi bagian dalam cerita tersebut, dimana pembaca merasakan sama yang dirasakan tokohnya. Efek lainnya adalah memberikan kesadaran kepada manusia bahwa mereka sering merasakan kesendiriannya, seperti saat mengalami kesedihan yang luar biasa. Untuk lebih jelasnya silakan baca tulisan Kurniasih dalam kata pengantar novel Mrs. Dalloway (Jalasutra:Yogyakarta).
Selain kegiatan menulis, ia juga pejuang hak asasi perempuan. Ia seorang feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada masa itu yang dianggap telah dirugikan kedudukannya. Kedudukannya amat berpengaruh lantaran ide-ide feminisnya yang bisa membuat merah telinga orang yang mendengarnya.

Gangguan jiwa yang dialaminya semenjak remaja semakin hari semakin parah. Mulai dari anorexia (tidak bernafsu makan), sakit kepala, depresi, hypermania (perasaan gembira berlebihan), hingga kehilangan kesadaran akan realitas membuat hidupnya semakin tak bergairah. Menurut para peneliti, badan Virginia adalah badan yang sakit. Keadaan seperti itu mendorong ia mencoba untuk melakukan bunuh diri, tapi selalu saja gagal. Untunglah ia menulis. Menulis adalah semacam cara untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Segala perasaan yang dialaminya ia tuangkan ke dalam karyanya. Maka tak heran jika karya-karyanya sering menggambarkan tentang keadaan dan perasaan yang dimilikinya. Lewat karyanya, ia membuat dunia ciptaannya dimana ia bisa tinggal, sesuai dengan kehendaknya, dan ia merasa nyaman di dalamnya. Namun setelah merampungkan ceritanya sering terjadi dualisme dalam dirinya, yaitu antara rasa plong dan menderita kembali seperti ketika sebelum ia menuliskan cerita tersebut. Bagai seorang ibu, begitu Kurniasih mengibaratkan, setiap kali melahirkan tulisannya ia merasa senang sekaligus merasa kehilangan sesuatu setelah diterbitkan karyanya itu. Namun setidaknya dengan menulis ia bisa menghilangkan tekanan jiwanya itu, walau pada akhirnya ia berhasil bunuh diri, lantaran penyakitnya yang sudah akut. Tapi, seandainya tidak karena menulis boleh jadi peristiwa tersebut akan terjadi sedini mungkin. Menulis, bisa dikatakan, adalah penyelamat hidupnya, yang ikut memperlambat proses percobaan bunuh dirinya tersebut.

Virginia bukan hanya menulis novel dan cerpen saja, tetapi ia juga menulis catatan harian, biografi, dan esai-esai tentang hak asasi perempuan. Di antara karya-karyanya ialah The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919), Mondays or Tuesday (1921), Jacob's (1927) dan The Waves (1931), Mrs. Dalloway, dan masih banyak lagi karya yang lainnya.

3. Pipiet Senja
“Alhamdulillah, akhirnya penyakit ini bagi teteh malah merupakan berkah. Mungkin teteh gak akan jadi seorang penulis kalau gak thallassemia, ya kan?” (Pipiet Senja)
Nama Pipiet Senja sudah dikenal di seluruh pelosok Indonesia, terutama bagi anggota Forum Lingkar Pena. Namun sepertinya masih jarang yang tahu nama aslinya. Etty Hadiwati Arief ialah nama aslinya. Ia lahir di Sumedang, 16 Mei 1957 dari pasangan Hj. Siti Hadijah dan SM. Arief (alm). Ia mulai menulis sejak remaja. Semenjak kecil hingga remaja ia sudah suka baca karya sastra seperti Old Sutherhand karya Karl May, Winetou, komik-komik wayang Kosasih, cerita silat Kho Phing Ho, sajak-sajaknya Ajip Rosidi, WS.Rendra, Kuntowijoyo, Abdulhadi WM, Charles Dicksen, Emille Zola, Barbara Cartland, Sidney Sheldon, dan masih banyak lagi. Keluasan wawasannya mengenai karya sastra sangat mempengaruhi pada penulisan karyanya sendiri. Daya tampung otaknya seolah-olah tak muat lagi untuk diisi, maka jalan satu-satunya adalah menulis. Tak aneh jika aktivitas menulisnya tak pernah off. Kurang lebih 55 buah buku telah ia hasilkan sejak tahun 1975.

Dan perlu pembaca ketahui ia mengenyam pendidikan formal hanya sampai kelas dua SMU, selebihnya ia belajar dari kehidupan. Menulis pun ia belajar sendiri alias otodidak. Sebelum terjun menjadi penulis professional, ia pernah juga mencicipi berbagai pekerjaan di antaranya menjadi pramuniaga toko buku, dengan alasan ingin banyak baca buku dengan gratis, pernah pula ia jadi penyiar radio daerah, dan terakhir, menjadi reporter tabloid Mutiara, Selecta Group.

Ia tak setuju kalau pandai menulis itu karena bakat. “Kan sebenarnya bakat itu hanya sekian persen, selanjutnya tergantung motivasi penulisnya. Apakah dia memang kepingin menjadi seorang penulis, atau cuma coba-coba, motivasi. Ini sungguh modal awal!” ujar Pipiet saat ia diwawancara oleh kru Kafemuslim.com. Dan untuk membuktikannya ia melatih putrinya menulis yang masih berusia 16 tahun, Adzimatinnur Siregar. Dan ajaib, putrinya itu telah menghasilkan lebih dari 5 buku., yang salah satunya berjudul Amerika Siapa Takut!

Satu hal yang membuat saya terkesan dan terenyuh tentang cerita Pipiet Senja ini, ialah perjuangannya melawan penyakit thallasemia. Thallassemia adalah penyakit genetis, sejak lahir ia sudah membawa gen thallassemia. Kelas enam SD Pipiet sudah mulai ditransfusi setiap dua-tiga bulan sekali hingga sekarang. Penyakit ini tidak ada obatnya kecuali ditransfusi darah, dan setelah itu ia harus memakai desferal, namanya syringedriver yang ditempelkan di perut untuk mengalirkan obat desferal selama sepuluh jam. Setelah demikian ia sudah tak bisa apa-apa. Namun yang membuat saya salut adalah ketetapannya menulis walau keadaan seperti itu, bahkan lebih produktif lagi. Seolah-olah ia ingin melawan penyakitnya dengan menulis, bahkan ia mengatakan,“Alhamdulillah, akhirnya penyakit ini bagi teteh malah merupakan berkah. Mungkin teteh gak akan jadi seorang penulis kalau gak thallassemia, ya kan?”

Baginya, penyakit bukanlah halangan untuk merangkai kata, kalimat dan menjelma menjadi cerita. Dan lantaran semangatnya untuk terus menulis—walau keadaan sakit—ia mendapat julukan sebagai pengarang Prolifik. Kapan dan dimana pun ia bisa menulis, “Insya Allah, saya bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Kalau saya lagi diopname di rumah sakit, saya suka bawa-bawa mesin ketik yang kuberi nama si denok.
Nyuri-nyuri waktu dari dokter atau suster, pas mereka meleng, teteh ngederektek aja nulis”, ujar Pipiet dengan logat sundanya yang masih kental. Ia pun sudah terbiasa bangun pukul tiga dinihari. Setelah sholat malam, ia langsung menulis hingga subuh.

Bagi Pipiet, inspirasi pun tidak perlu dicari kemana-mana. Ia akan datang sendiri. Misalnya, ketika ia jalan ke rumah sakit, bertemu pasien kanker yang divonis tinggal beberapa bulan lagi. Maka dari situ ia bisa membuat cerpen atau novel yang temanya penderitaaan seorang ibu karena mengidap kanker.

Perjalanan hidupnya telah ia tulis dalam buku yang berjudul “Cahaya di Kalbuku: Sebuah Memoar Pipiet Senja”. Baginya menulis adalah sebuah proses penyembuhan dan pencerahan yang membuat ia terus hidup dan selalu optimis menghadapi kenyataan yang penuh lika-liku. “Hidupnya memang untuk menulis bahkan suatu ketika dia pernah mengatakan kalau tidak menulis dia tidak akan hidup,” komentar Izzatul Jannah saat ia berbicara tentang Pipiet Senja.

Nama Pipiet Senja telah diabadikan di buku Pengarang Peneliti di Indonesia sebagai profil perempuan pengarang, dan Penulis Perempuan Indonesia, (ed. Korrie Layun Rampan). Di antara karya-karyanya yang terbaru ialah Namaku May Sarah, Riak Hati Garsini, Dan Senja Pun Begitu Indah (novelet bareng Mariam Arianto, Asy-Syaamil), Serpihan Hati, Menggapai Kasih-Mu, memoarnya Cahaya di Kalbuku, Lukisan Rembulan, Trilogi; Kalbu, Nurani, Cahaya (Mizan), Kidung Kembara, Tembang Lara, Rembulan Sepasi, Rumah Idaman (Gema Insani Press).

4. Hernowo
“Saya merasakan sekali bahwa kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk membuat peta kehidupan kita. Saya juga merasakan sekali bahwa teks atau kalimat-kalimat tertulis itu dapat menampung kekayaan kehidupan kita—baik itu kekayaan hidup yang sudah kita jalani maupun yang belum sempat kita jalani” (Hernowo)
Bagi orang yang suka membaca, menulis, dan berkunjung ke toko-toko buku hampir saya pastikan telah mengenal buku-buku Hernowo. Karena Sudah 17 buku telah ia hasilkan dari tangannya. Buku-bukunya berisi tentang motivasi, manfaat, dan bagaimana agar kita bergairah membaca dan menulis. Buku-bukunya seperti Mengikat Makna, dan Andaikan Buku itu Sepotong Pizza telah mengalami cetak ulang. Ini artinya, buku-bukunya telah mendapat sambutan yang luar biasa di masyarakat pembaca dan penulis. Lantaran buku-bukunya, ia telah melalang buana ke berbagai kota untuk mengisi acara baik sebagai promotor buku-bukunya, undangan tentang baca-tulis, atau pun untuk mempresentasikan berbagai gagasan dan penemuannya mengenai membaca dan menulis.

Hernowo lahir di Magelang pada 12 Juli 1957. TK hingga SMU-nya ia habiskan di tanah kelahirannya itu. Kemudian ia kuliah di ITB, Bandung, jurusan Teknik Industri. Hingga sekarang ia masih di sana untuk melanjutkan “sekolahnya” di penerbit Mizan yang kesekian, katanya. Semenjak kecil ia sudah rajin membaca. Semua bacaan mengenai dunia “anak-anak” telah disantapnya dengan lahap sekali, seperti majalah anak-anak, komik, cerita silat, dan masih banyak lagi. Namun ia merasa beku otaknya saat mempelajari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, karena buku-bukunya monoton dan banyak yang “beracun”, ujarnya saat mengisi acara di Toko Buku Toga Mas Yogyakarta pada 26 Pebruari 2005.

Semenjak kuliah ada sebuah buku yang amat ia sukai yang sering sekali ia sebut di buku-bukunya dan amat berpengaruh yaitu Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karya Muhammad Iqbal. Itulah buku pertama yang mengenalkan ia dengan filsafat. Sosok Iqbal begitu ia kagumi. Dan setelah ia bekerja di penerbit Mizan pada tahun 1984, ia mulai berkenalan dengan penulis-penulis lainnya seperti Ali Syariati dan Murtadha Muthahhari, serta Anemarie Schimmel. Itulah para penulis yang ia kagumi hingga sekarang ini. Bekerja di sebuah penerbitan maka secara otomatis kebiasaan membacanya meningkat pesat. Baginya, tiada hari tanpa membaca. Selama bekerja di Mizan itu, ia mempersepsi dirinya sedang menjalani proses pembelajaran. Haidar Bagir bercerita tentang Hernowo, “Hampir semua buku Mizan, terutama yang terbit pada 1983-1993, telah dilahapnya. Dia bukan membaca huruf, melainkan benar-benar memahaminya—dia bisa tahu secara cepat kelebihan-kelebihan sebuah buku yang dibacanya dan siapa yang tepat mengonsumsinya.”

Pekerjaan sekaligus hobi membuat kariernya melonjak naik secara cepat. Berawal dari karyawan di bagian produksi kemudian naik menjadi staf keredaksian, menjadi manajer Produksi, lalu General Manager Editorial. Setelah itu ia dipercaya memimpin penerbit Kaifa yang masih berada di bawah Mizan yang dikhususkan untuk menerbitkan buku-buku How to seperti Quantum Learning, dan Learning Revolution. Dan, saat ini ia memegang penerbit MLC (Mizan Learning Centre). Setelah ia memegang penerbit Kaifa ia sering menjadi trainer tentang pembelajaran seperti bagaimana agar bergairah membaca dan menulis, dan lain sebagainya. Kegemarannya membaca buku, dan kemudian menulis meningkat amat pesat.

Pada tahun 1998 ia dipercaya untuk mengajar matakuliah “Digesting” (mencerna buku) di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM), Bandung. Pada tahun berikutnya ia juga mengajar Bahasa Indonesia (bidang ketrampilan menulis), di SMU plus Mutahhari, Bandung.

Buku pertamanya muncul pada tahun 2001 yaitu Mengikat Makna: Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Buku ini adalah hasil pembelajarannya setelah ia “sekolah” di penerbit Mizan bertahun-tahun. Usahanya ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Setelah sukses dengan buku pertamanya ia susul buku keduanya berjudul Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, dan mengalami hal yang sama yaitu sambutan ruarr biasa. Mesin menulisnya seolah-olah tak mau berhenti sampai di situ. Ia kemudian menyusul buku ketiganya, keempatnya hingga sampai yang ketujuh belasnya.

Seiring dengan meningkat karya-karyanya, karakter serta kepribadiannya pun meningkat pesat. Wawasannya yang luas membuat ia kaya akan perspektif, atau dengan istilahnya sendiri, “mata baru”. Jika Haidar Bagir mengatakan kalau prestasi-prestasinya itu dihasilkan akibat dari aktivitas membacanya, maka saya akan menambahkan dengan aktivitas menulisnya juga ia menjadi seperti itu. Membaca akan memperkaya perspektif dan meluaskan wawasannya sedangkan menulis akan merekam serta mengekspresikan apa yang diungkapkannya. Perpaduan itu menjadikan hidupnya amat luar biasa. Dia sendiri mengakui kalau pribadinya (dulu) introvert dan kaku dalam berbicara di depan umum. Tapi berkat membaca dan menulis (untuk dirinya sendiri) sifat itu pun hilang. Dengan dua aktivitas itu ia bisa menghadapi hidup dengan sehat, karena baginya, membaca—terutama menulis—bisa menyembuhkan dan mencerahkan. Setiap ada gejolak emosi atas pengalamannya ia selalu menuliskan ke dalam buku hariannya. Dan setiap membaca buku ia selalu menuliskan apa yang menurut ia penting dan manfaat untuk dirinya sendiri.

Melalui pengalamannya, ia sangat yakin kalau dengan membaca dan menulis maka hidup kita akan bahagia, lebih terarah, dan mampu meredam segala emosi baik disebabkan peristiwa masa lalu atau yang sedang dialaminya saat ini. Jadi, selain mengasah ketrampilan menulis dan membaca ia juga sangat yakin keduanya itu bisa melejitkan potensi apa yang ada dalam diri kita. Bahkan bisa dikatakan, bagi dia, keduanya adalah kunci kebahagiaan.

Membaca buku, menurut Hernowo, sama halnya mencerna makanan. Dan makanan dari buku adalah gagasan. Jika kita memakan makanan yang banyak lemaknya otomatis itu tidak akan menyehatkan badan kita dan memberi ruang datangnya penyakit. Begitu pun dengan buku, jika kita membaca buku yang tak bermanfaat maka buku itu akan merusak otak kita. Oleh karena itu, bacalah buku yang bergizi, yang memberikan asupan pada badan kita sehingga kita menjadi sehat baik jiwa maupun raga. Sebagaimana kita makan, membaca pun tak bisa dilakukan secara sekaligus. Bacalah buku secara ngemil dan perlahan-lahan seperti halnya memakan makanan.

Kekuatan menulis, menurutnya, terletak pada kemampuannya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang ditujukan pada diri kita sebagai orang yang menulis. Menulis, ia artikan sebagai merumuskan hal-hal yang kita simpan "di dalam" untuk kemudian dapat kita pahami "di luar". “Dan syarat menulis yang dapat menghasilkan rumusan yang baik adalah adanya kongruensi, bahwa segala sesuatu yang ada di dalam (yang kita pikir dan rasakan) harus sama persis dengan segala yang sesuatu yang ada di luar (yang kita tulis dan lakukan)” Ujar Hernowo.

Ia menyarankan, jika kita ingin tercerahkan dengan menulis kita harus mempunyai catatan harian. Dengan catatan harian itu kita akan mengekspresikan diri kita. Kita akan menuliskan segala apa yang kita pikirkan dan rasakan. Dan kita juga akan merekam segala aktivitas dan perubahan-perubahan yang ada dalam diri kita lantaran catatan harian tersebut. Sungguh, ia bukan hanya bicara thok mengenai penemuannya ini, tapi ia berdasarkan pengalaman dan penelitiannya. Inilah yang membuat kita mempercayai akan perkataannya. Maka tak heran kalau buku-bukunya sangat laris di pasaran. Ia sudah mempunyai “peta kehidupan”nya sendiri melalui teks-teks yang ia tuliskan di catatan hariannya. Selain tercerahkan lantaran menulis, ia juga memiliki keunggulan dalam menyelenggarakan kegiatan membaca dan menulis. Dan keunggulannya itu memang bersifat 'ke dalam'. “Artinya, saya merasakan memiliki keunggulan dalam hal membaca dan menulis lebih dikarenakan saya merasakan sekali bahwa diri saya tumbuh dan berkembang setiap hari gara-gara saya melakukan, secara konsisten dan kontinu, kegiatan membaca dan menulis. Manfaat yang saya raih selama saya menekuni kegiatan membaca dan menulis dapat mewujud baik berkaitan dengan manfaat fisik maupun non fisik”.

Adapun karya-karyanya di antaranya Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Main-Main Dengan Teks, Quantum Reading, Quantum Writing, dan buku yang lainnya.

5. Asma Nadia
“Menulis sekarang menjadi kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Kalau pergi ke mana-mana, jauh dari komputer, kangen. Saya tiap hari harus menulis sehingga ada kebutuhan untuk menulis. Setelah urusan lain-lain di rumah selesai, aktivitas pertama menulis. Menutup hari juga dengan menulis” (Asma Nadia)

Asma Nadia adalah nama pena dari Asmarani Rosalba. Ia adalah adik kandung dari seorang sastrawan yang tak asing lagi di telinga kita yaitu Helvy Tiana Rosa. Asma dikenal sebagai seorang novelis dan cerpenis. Karya-karyanya mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat. Hal itu terbukti dengan beberapa karyanya yang mendapatkan penghargaan, di antaranya dua bukunya, Rembulan di Mata Ibu (Mizan, 2000) dan Dialog Dua Layar (Mizan, 2001) dinobatkan sebagai buku remaja terbaik Adikarya IKAPI 2001 dan 2002. Bahkan, “sempat cetak ulang sampai delapan kali”, ujar Asma Nadia saat ia diwawancarai wartawan Republika. Sedang bukunya yang lain, Derai Sunyi (Mizan, 2002) menjadi novel terpuji tingkat nasional versi Forum Lingkar Pena. Dalam karir kepengarangannya, ia pernah terpilih sebagai salah satu pengarang terbaik tingkat nasional selama dua tahun berturut-turut yang berbarengan dengan kedua bukunya tersebut.

Adalah sebuah proses yang begitu panjang untuk menuju hal yang disebutkan di atas itu. Banyak jalan terjal yang harus ia lewati: Sejak kecil Asma Nadia sangat suka membaca. Semua bacaan ia lahap dengan “rakus”. Mulai buku cerita, buku pelajaran, koran, bungkus cabai, bawang, dan kertas-kertas pembungkus sayur yang dibawa pulang ibunya dari pasar.

Suatu hari, pada waktu umur tujuh tahun ia terjatuh dan kepalanya terbentur benda keras. Ia kesakitan dan dibawa ke rumah sakit. Ia “divonis” gegar otak oleh sang dokter.

"Kami sangat menyesal. Lima benjolan kecil di kepalanya ternyata tumor, harus diangkat." Ujar sang dokter saat memeriksa Asma kecil.

Sesekali merasakan sakit, ia lalu dibawa ke rumah sakit lagi. Kadang menjalani rawat inap beberapa hari. Saat sakit itulah ia sering mengisi waktunya dengan menulis cerita. Kadang juga menulis lagu. Buku-buku yang telah dibacanya sudah tak terhitung lagi. Namun, sesekali ia memegangi kepalanya sambil memejamkan matanya. Akibat efek dari operasi itulah ia sering pusing dan sulit berkonsentrasi dalam waktu lama.

"Tapi apa aku bisa, Kak? Aku kan gegar otak." Ujar ia saat mengucapkan keinginannya jadi penulis. Namun kakaknya memberi semangat.

“Tentu, Dik. Tentu saja kamu bisa! Kamu bisa melakukan apa pun yang kakak kerjakan bila kamu mau!" ujar sang kakak.

Dari situ ia mulai serius belajar. Ia tak memedulikan sakit yang ada di kepalanya itu. Walau sesekali ia pusing. Di bangku sekolah ia mulai menonjol. Ia selalu menjadi rangking satu, bahkan juara umum pun pernah diraihnya.

"Aku akan melawan penyakit ini dengan berkarya, Kak. Dengan melakukan sesuatu!" kata Asma Nadia pada kakaknya saat remaja.

Begitulah, hingga beranjak dewasa ia selalu mempertahankan keinginannya menjadi pengarang. Ia melupakan sakitnya dengan berkarya. Mulailah ia menulis untuk media massa. Ia menulis artikel, cerpen, dan cerita bersambung, bahkan skenario televisi. Maka, di tahun 2000 terbitlah bukunya yang diterbitkan oleh As Syamil. Dan, hingga sekarang ia telah menulis beberapa puluh buku yang telah diterbitkan. Karir kepenulisannya pernah membawanya terbang ke negeri jiran (Malaysia) dan Mesir, dan pemateri workshop kepenulisan.

Sejak tahun 1997 hingga kini ia menjadi Direktur Yayasan Prakarsa Insan Mandiri, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial, budaya, dan pendidikan. Ia juga menjadi ketua I FLP pusat, dan menjadi CEO Lingkar Pena Publishing House. Ia juga menjadi pengarang nasyid, pernah meluncurkan tiga album bersama kelompok Bestari, dan beberapa lagunya dibawakan oleh Snada.

Ia menjadi inspirator kakaknya, Helvi Tiana Rosa. “Setiap kali saya merasa lemah dalam melangkah, saya akan selalu teringat saat-saat kami masih kecil juga tekad Asma Nadia untuk melawan semua penyakitnya dengan berkarya.” Ujar Helvy. Sedangkan Helvy, bagi Asma bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai guru menulisnya.

Saat ini ia dikaruniai dua orang anak, Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus. Namun, menjadi seorang ibu dua orang anak itu, tak membuat surut karir kepenulisannya. Pada awalnya memang agak repot untuk menulis, mesti menunggu anak-anaknya tidur. Namun, setelah beradaptasi dengan keadaannya sebagai seorang ibu, ia mampu kapan saja menulis. “Penulis harus punya kemampuan adaptasi yang bagus. Bisa menulis dalam berbagai situasi: ribut atau hening. Bisa menulis tidak dalam satu waktu, tapi sambil melakukan hal-hal lain.” Ujarnya.

Ia sangat mensyukuri bisa bertahan hingga sekarang lantaran menulis.
''Allah memberikan begitu banyak tanda. Mungkin wujud syukur yang bisa saya lakukan adalah tetap menulis,'' ujarnya.