Tampilkan postingan dengan label Motivas Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivas Hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2008

Perjalanan Sidney Sheldon Menjadi Penulis


Tak banyak para penulis menceritakan perjalanan hidup kepenulisannya, terutama trik-trik bagaimana mereka bisa menulis. Mengapa bisa demikian? karena mereka enggan bercerita tentang dirinya di dalam proses kreatifnya. Sebagaimana dikatakan oleh Stephen King bahwa seorang penulis menulis tentang menulis adalah sesuatu yang “lucu”. Karena, setiap penulis mempunyai cara tersendiri dalam menulis. Pengalaman bagaimana cara menulisnya tidak bisa dijadikan hal yang pasti untuk menjamin para penulis lain dapat mengikuti caranya. Ada seribu satu cara dalam latihan menulis.

Namun satu hal yang jelas dan pasti bahwa setiap penulis mempunyai pengalaman menulis yang panjang dan jalannya yang berliku-liku.

Dalam tulisan ini saya hendak mengupas tentang perjalanan kepenulisan Sidney Sheldon, seorang penulis novel yang sangat luar biasa jalan yang ditempuhnya untuk meraih impiannya menjadi seorang penulis.

Sejak kecil Sheldon memang mempunyai sedikit bakat dalam menulis, hanya saja lingkungan tidak mendukungnya. Selain faktor ekonomi yang tak menentu, faktor lainnya adalah ayahnya. Pernah suatu ketika ia mengirim puisi ke sebuah majalah tapi ayahnya mengganti nama dia, lantaran ayahnya tidak ingin malu kalau tulisan anaknya ditolak oleh majalah tersebut, padahal tulisannya berhasil dimuat. Namun yang terpampang bukan namanya, melainkan nama saudaranya.

Saat usia 17 tahun, Sidney Sheldon pernah melakukan percobaan bunuh diri. Hal yang mendorong untuk melakukan itu adalah karena ia merasa hidupnya tidak bahagia. Sebenarnya saat itu ia sudah bekerja di apotik. Namun, suasana keluargalah yang membuat ia tidak betah. Mulai dari kesulitan ekonomi, di mana ayahnya sering pindah-pindah tempat bekerja, hingga pertengkaran ayah dan ibunya. Cita-citanya saat itu adalah ingin kuliah dan menjadi penulis. Tapi kedua keinginan itu seperti membentur tembok, lantaran keadaan ekonomi keluarga tidak mendukung.

Menarik untuk diceritakan percobaan bunuh diri Sheldon. Saat pulang kerja, ia sudah membawa barang yang akan merenggut nyawanya, yaitu pil tidur. Nantinya pil tersebut akan dicampur dengan wiski. kombinasi yang mematikan, begitu Sheldon sering mendengarnya. kebetulan saat itu orangtuanya hendak silaturrahmi ke saudaranya, dan adiknya menginap di rumah temannya. Ketika mereka semua sudah pergi, ia mengeluarkan kedua barang tersebut. Wiski sendiri ia dapatkan di dapur, kepunyaan ayahnya. Baru saja akan meminum pil tersebut, tiba-tiba ayahnya muncul. Keduanya sama-sama terkejut. Sheldon tak menyangka ayahnya akan balik lagi. Ayahnya pun tak menduga kalau Sheldon hendak mengakhiri hidupnya waktu itu. Ayahnya lalu bertanya mengapa ia ingin bunuh diri? Sepertinya Sheldon dalam pandangan ayahnya tidak pernah mengalami hal macam-macam dalam kehidupan sehari-harinya.

Ia lalu mengajak sheldon jalan-jalan sembari menasihatinya.

“Hidup ini seperti novel,” ujar ayahnya, “Penuh ketegangan. kau tidak tahu apa yang akan terjadi hingga kau buka halamannya…Setiap hari adalah halaman yang berbeda, Sidney, dan setiap hari bisa penuh kejutan, kau tak pernah tahu apa yang akan ada selanjutnya sebelum kau buka halaman itu.” Ujar ayahnya panjang lebar. Mulai saat itu hidup Sheldon bersemangat lagi. Kata-kata itu terus dikenangnya hingga Sheldon beranjak senja.

Pada tahun selanjutnya ia mendapatkan beasiswa kuliah. Namun baru saja ia bersemangat memasukinya, ia mengurungkan kuliahnya lagi. Hal itu disebabkan masalah klasik yang selalu up to date, yaitu kesulitan keuangan di keluarganya. Ibunya yang terpaksa menjadi pramuniaga selama 6 hari seminggu, membantu ayahnya yang sering tak dapat pekerjaan, membuat ia harus mencari uang sebanyak-banyaknya dengan bekerja sebanyak-banyaknya. Mulai dari penjaga apotik, cleaning service, penjaga toko, dan lain-lainnya, ia jalani.

Berawal dari Piano
Ibu Sheldon sangat berperan di dalam karir kepenulisannya. Hal itu ditandai dari sebuah piano yang dibelikan ibunya. Piano? ya, piano. Sepintas tidak begitu ada kaitannya. Ketika dewasa, ibunya membelikan dia piano, dan memberikan lesnya bagi Sheldon. Sheldon sangat menyukai memainkan piano, dan belajar menulis lirik-lirik lagu. Suatu ketika, saat di depan piano, sambil menciptakan melodi dan syairnya, ia kemudian mempunyai inspirasi untuk mengirim melodi dan sya’ir-sya’irnya ke hotel-hotel yang memiliki orkestra. Di sana nanti ia akan menemui pemilik orkestranya. Barangkali saja mereka berminat terhadap karya-karyanya, pikir Sheldon. Idenya itu pun ia wujudkan dengan mendatangi salah satu hotel dekat rumahnya. tepatnya ia mendatangi pemimpin orkestranya, bernama Phil Levant.

Ternyata, pemimpin orkestra tersebut menyukai karya Sheldon. Lagu tersebut ia beri judul My Silent Self. Lagu itu kemudian dibuat orkestranya oleh Phil Levant. Setelah itu karya tersebut terdengar di kota tersebut dan sering diulang-ulang.
Itulah awal mula Sheldon menapaki jejak dunia kepenulisan. Namun saat namanya akan mulai melambung, di mana ia akan diajak bekerja sama dengan seorang penulis lagu yang terkenal bernama Max Rich, Sheldon malah menciut. Ia merasa rendah diri untuk bekerja sama dengan penulis lagu tersebut. Ia khawatir penulis tersebut akan kecewa kepadanya saat penulis itu tahu bahwa dirinya bodoh dan hanya merugikan diri penulis tersebut.

Itulah awal dari dunia kepenulisan yang akan digelutinya, sekaligus akhir dari dunia penulisan lagu. Ia pun kembali ke pekerjaannya semula, yaitu penjaga apotik, penjaga hotel, dan lain sebagainya.

Namun itu tak lama. Saat kedatangan keluarga Charley Fine, di mana hendak pergi ke California, ia mendapatkan ide untuk pergi ke sana juga, tepatnya ia akan ke Hollywood. Kali saja dirinya beruntung, ucap pada orangtuanya. Mereka pun memberinya kesempatan. Keesokan harinya ia pergi bersama keluarga Charley. Di sana ia tinggal di rumah kos-kosan. Columbia Pictures adalah studio film yang didatangi paling pertama oleh Sheldon, karena berdekatan dengan kosnya. Pengalaman pertama tersebut begitu berharga baginya karena dari situ dia tahu bagaimana cara melamar sebuah pekerjaan dalam perfilman. Berikut ini adalah dialog saat pertama kali Sheldon mendatangi studi perfilman.

“Nama saya Sidney Sheldon. Saya ingin menjadi penulis. Siapa yang harus saya temui?”
“Apakah kau sudah punya janji?”
“Tidak, tapi—”
“Kalau begitu kau tak bisa bertemu siapa pun.”
“Pasti ada seseorang yang bisa saya —”
“Tanpa janji tidak bisa,”

Tolakan demi tolakan ia terima. Dan itu dilakukan kurang lebih dua mingguan. Hampir semua studio mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh penjaga studio yang pertama. Dalam pikiran Sheldon, bahwa yang berbeda itu hanya studionya saja, tapi penjaga-penjaganya semuanya sama, karena mempunyai jawaban yang sama. Di saat tidak mendatangi studio, ia berada dalam kamarnya, menulis cerita-ceritanya dengan mesin tik yang sudah tua. Selama penolakan dan berada di kamarnya, ia sudah kehabisan bekal finansialnya. Tak jarang ia kelaparan sehingga tidak bisa berpikir untuk menuangkan idenya ke dalam kertas. Maka, tak ada jalan lain selain meminta makanan ke ibu kosnya.

Suatu hari ada seorang teman kosnya bercerita bahwa adik temannya tersebut diterima sebagai pembaca naskah di studio MGM (Metro-Goldwyn-Mayer).
“Pembaca? apa artinya itu?” tanya Sheldon.
“Semua studio punya pembaca,” jelasnya. “Mereka membuat sinopsis cerita-cerita, agar para produser tidak perlu repot-repot membaca banyak sampah. Jika menyukai sinopsisnya, produser akan membaca seluruh buku atau drama itu. Beberapa studio memiliki staf pembaca. Beberapa lainnya menggunakan pembaca dari luar.”

Mendengar penjelasan dari temannya itu, Sheldon kemudian terpacu membuat sinopsis hasil bacaannya. Kebetulan baru saja ia selesai membaca karya Steinbeck, of Mice and Men. Sinopsis buku itulah yang dijadikan alat untuk menawarkan jasanya sebagai pembaca di studio film. ia kirim sinopsis tersebut ke enam studio. Apa lacur, sampai tiga hari setelah pengirimannya itu tidak ada satu pun yang membalasnya. Sampai hari kelima baru ada telepon dari studio Selznick International Studios. Mereka meminta Sheldon untuk membuatkan sinopsis sebuah novel. Novel tersebut merupakan buah karya direktur studio tersebut setebal 400 halaman.

Sebetulnya Sheldon agak sedikit ragu untuk menerimanya, lantaran sinopsis tersebut harus dibuat sekitar 30 halaman, dan harus selesai pada pukul enam petang. Tapi, karena ini kesempatan emas sebagai modal awal untuk menjadi penulis, ditambah karena memang membutuhkan uang, maka ia menerima tawaran itu. Setelah itu mereka tak memanggilnya lagi.

Berdasarkan pengalaman itu, Sheldon kemudian menyurati kembali studio-studio film dengan mencantumkan kata-kata di bawah ini:
“Atas permintaan pribadinya, saya baru saja menyelesaikan sinopsis sebuah novel untuk david O. Selznick, dan sekarang saya bebas untuk mengerjakan sinopsis lain…”
Dua hari berikutnya telepon mulai berdatangan. Mereka membutuhkan Sheldon untuk menjadi pembaca naskah freelance, karena pembaca tetap mereka sedang tak mampu menangani naskah yang membludak. Hal itu berlangsung berbulan-bulan.
Pada suatu hari Universal Studio menawarkan dirinya untuk bekerja di sana sebagai pembaca tetap. Alangkah senang Sheldon mendapatkan tawaran itu. Sejak saat itu hidupnya mulai sejahtera. Ia sudah bisa membayar kos tepat waktu dan bisa makan dengan menu yang nikmat pula. Melihat perkembangan dirinya, ia pun menelepon orangtuanya untuk mengabarkan keadaannya itu. Namun, sebulan kemudian ia di PHK karena bosnya menjual studio tersebut.

Namun selang beberapa hari ia mendapatkan tawaran untuk bekerja di Twentieth-Century Fox sebagai pembaca tetap lagi, dengan gaji 23 dolar per minggu. Saat itu mendapatkan pekerjaan dirasa sangat mudah. Cita-citanya hampir kesampaian. Namun ia belum mempunyai karya sendiri. Sembari bekerja menjadi pembaca tetap di Twentieth-Century Fox, ia dan teman barunya, Ben Roberts, penghuni kos baru, mencoba menulis novel. Karya kolaborasi mereka diberi judul Dangerous Holiday. Karya tersebut diterima oleh Paramount dengan harga seribu dolar (kurang lebih 10 juta rupiah). Selang satu hari karyanya yang lain berjudul South of Panama diterima oleh Producers Releasing Corporation seharga lima ratus dolar, namun harus dibuatkan pula skenarionya. Kolaborasi yang sangat mengagumkan, karena mereka bisa menjual dua karya sekaligus dalam waktu 24 jam.

Semenjak itu karirnya mulai naik. Pekerjaan tetapnya di Twentieth-Century Fox ia tinggalkan, dan minta diberhentikan saja. Kebanjiran orderan untuk membuat skenario membuatnya harus tidur hingga dini hari. Setiap malam. Hampir semua studio membutuhkannya. Semua skenario digarapnya, mulai dari film, sinetron-sinteron, dan acara-cara TV serta pementasan lainnya.

Dalam perjalanannya kemudian, ia juga merangkap menjadi penulis skenario, sutradara, dan produser sekaligus. Luar biasa usahanya. Semua orang studio mempercayakannya. Karena usahanya memang terbukti sukses. Semua karya dari sentuhan tangannya selalu berhasil. Tidak ada kegagalan yang berarti. Namun melihat namanya terapampang di semua bidang (penulis naskah, produser, hak cipta, dan lain-lain) ia merasa tak enak dipandang, karena terkesan begitu egois. Maka ia pun membuat nama samaran, seperti Christoper Golato, Allan Devon, dan Mark Rowane.

Setelah agak jemu dengan dunia perfilman dan persinetronan, sambil tetap bekerja di bidang tersebut, ia menulis novel. Novel pertamanya ia beri judul The Naked Face. Novel tersebut ditolak 5 penerbit, dan penerbit ke 6 baru menerimanya. Ketika novel tersebut sudah di tangan para pembaca, banyak ulasan-ulasan keluar. Dan yang paling bagus menurut Sheldon adalah dari New York Times, “The Naked Face jelas-jelas merupakan kisah misteri pendatang baru terbaik tahun ini.” Namun yang sangat surprise, ia mendapat penghargaan Edgar Allan Poe Award.

Dibandingkan dengan karya-karya tulis lainnya, membuat novel mempunyai elemen yang sangat penting, pikir Sheldon, yaitu dia telah merasa mengalami kebebasan kreatif yang tidak dikenal sebelumnya. Menulis skenario, acara televisi, atau drama selalu merupakan usaha kolaboratif. Bahkan jika itu ditulis sendiri, penulis selalu bekerja dengan para para pemain, sutradara, produser, dan musisi.

Novelis adalah pemain, produser, dan sutradara. Novelis, pikir sheldon, bebas menciptakan semua kata-katanya. Bisa kembali ke masa lalu atau maju ke masa depan, memberi para tokohnya; tentara, pelayan, villa, dan lain-lain. Tak ada batas kecuali imajinasi itu sendiri yang membatasinya. Ia lalu menulis novel kedua berjudul The Other Side of Midnight yang kemudian mengubah hidupnya menjadi penulis novel penuh waktu. Novel itu bertahan di daftar Best-Seller selama 52 minggu. The Other Side Of Midnight menjadi fenomenal, best-seller internasional yang luar biasa.

Novel adalah dunia yang berbeda, yaitu dunia pikiran dan hati, pikir Sheldon. Dalam novel, orang bisa menciptakan tokoh-tokoh dan menghidupkannya. Menurut Sheldon peralihan dari penulis naskah drama dan penulis skenario menjadi novelis lebih mudah daripada yang pernah dibayangkan, dan lagi keuntungan-keuntungannya. Sheldon dapat berkelana ke seluruh dunia, melakukan riset, menemui orang-orang yang menarik, dan pergi ke tempat-tempat menarik.

Terkadang Sheldon mendapatkan surat yang sangat emosional. Hal itu lantaran mereka terpengaruh oleh novelnya. Sheldon menerima surat dari wanita yang menderita serangan jantung hebat dan dirawat di rumah sakit. Dia melarang orangtua dan pacarnya datang menemuinya. Dia menulis kepada Sheldon bahwa dia hanya ingin mati. Di kamar tempat wanita itu dirawat ada yang meninggalkan satu eksemplar The Other Side Of Midnight, di sebelah ranjangnya. Dia kemudian membacanya dan larut di dalamnya, sehingga dia melupakan masalahnya sendiri, dan siap menghadapi kehidupan lagi. itu adalah salah satu kisah yang ada dalam surat tersebut. dan masih banyak lagi cerita yang lainnya.
Novel-novel Sheldon terjual di 108 negara dan telah diterjemahkan ke dalam 51 bahasa.

Pada tahun 1997, Guinness Book Of Word Records mencantumkan namanya sebagai Most Translated Outhor In The Word—penulis yang karya-karyanya paling banyak diterjemahkan di dunia. Bukunya telah terjual lebih dari 300 juta eksemplar. Sheldon meyakini bahwa keberhasilan buku-bukunya karena tokoh-tokohnya sangat nyata baginya dan, karenanya, nyata pula bagi para pembacanya. Para pembaca luar, dari negara-negara lain mengenali buku-bukunya karena cinta, kebencian, kecemburuan adalah emosi-emosi yang dimengerti semua orang. Emosi universal.

Ada kata-kata “mutiara” dari Sheldon yang dapat dijadikan motivasi bagi kita semua yang ingin belajar darinya. “Aku cinta menulis, dan aku beruntung bisa mengerjakan hal yang kucintai. Aku yakin tidak seorang pun boleh mendapatkan pujian atas bakat apa pun yang mungkin dimiliki. Bakat adalah pemberian, apakah itu untuk melukis, musik, atau menulis, kita harus bersyukur atas bakat apa pun yang telah diberikan kepada kita dan bekerja keras dengannya.”

Kebenaran Itu Paralel

Seorang pawang gajah membawa gajahnya ke sebuah pameran di negeri yang belum pernah melihat gajah. Gajah itu kemudian ditempatkan di sebuah ruangan gelap. Dalam kegelapan itu para pengunjung diiizinkan untuk mendekati gajah dan menyentuhnya. Seketika itu juga gajah tersebut dikelilingi para pengunjung. Tidak ada sama sekali ruang untuk mengelilingi gajah tersebut. Masing-masing pengunjung hanya bisa menyentuh gajah tersebut di tempatnya masing-masing.

Salah satu di antara pengunjung berkomentar saat memegang belalai gajah tersebut, “Oh gajah ternyata seperti pipa air.”
Lain halnya bagi orang yang menyentuh kupingnya, “Gajah itu seperti kipas”. Namun bagi orang yang menyentuh kakinya, komentarnya lain juga, “Tidak, gajah itu seperti tiang.”

“Oh, tidak, gajah itu seperti tahta seorang raja,” Ujar orang yang menyentuh punggungnya.

Kesimpulan dari setiap masing-masing yang menyentuhnya lain-lain. Mereka tampaknya berbeda pendapat perihal gajah. Padahal perbedaan yang mereka ributkan hanya satu hal, yaitu tentang ciri-ciri gajah. Karena kegelapanlah mereka menjadi seperti itu.

Kegelapan menimbulkan ketidaktahuan. ketidaktahuan membawa ketidaksadaran. Mereka lupa bahwa mereka berpendapat dalam kegelapan. Jadi, sifat pendapat mereka hanyalah praduga. Andai saja mereka mengedepankan kerjasama bukan ego, tentu mereka akan mendapatkan pengetahuan tentang gajah yang lengkap dan komprehensif.

Begitulah bahayanya jika seseorang berpendapat tentang sesuatu dalam “kegelapan”. Mereka membutuhkan “cahaya” sebelum mereka berpendapat, namun jika tidak ada “cahaya” maka mereka harus saling bekerjasama dan tukar informasi atas apa yang mereka sentuh dalam “kegelapan” tadi. Tentu hasilnya akan sama-sama memuaskan dan mendapatkan kebenaran dari setiap masing-masing orang.

Ilutrasi di atas sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal apa saja. Mulai dari klaim kebenaran dalam sebuah berita, dalam jual beli, dalam diskusi keilmuan, keagamaan, dan lain sebagainya. Ada banyak peristiwa yang sangat kita sayangkan kejadiannya lantaran seperti kejadian orang yang menyentuh gajah di atas.

Di sekitar kita sering melihat polemik yang berkepanjangan lantaran ego dari setiap pelaku masing-masing. Mereka tak mau mengalah dan mengklaim dirinya yang paling benar.

Hal yang paling mencolok yang bisa kita lihat adalah dalam dua hal saya kira, yaitu dalam masalah persoalan agama, baik itu fikih maupun wacana keagamaan, dan persoalan keilmuan terutama ilmu sosial.

Dalam hal agama, misalnya, tentang fikih, apakah menyentuh wanita yang bukan muhrim, seperti saudara, membatalkan shalat? Apakah haram menggambar sesuatu yang bernyawa? Apakah hukum potong tangan wajib dilakukan? Dan masalah tentang wacana keagamaan misalnya tentang persoalan Syariat Islam, perlu apa tidak secara formal? Sekulerisme, harapan atau ancaman? Dan masih banyak lagi persoalan lainnya dalam bidang agama. Umat Islam selalu berkutat dalam masalah itu, dari dulu hingga kini.

Sedang dalam masalah keilmuan, misalnya tentang sastra, adakah sastra Islami? Apakah batasan sastra Islami tersebut? Apakah novel-novel teenlit atau ceeklit bisa disebut sastra? dan lain-lain. Perdebatan di seputar sastra tak henti-hentinya. Tentunya jika perdebatan itu mengarah kepada hal positif tidak masalah. Positif dalam artian perdebatan itu memberikan perkembangan sastra ke arah yang lebih baik, di antaranya memunculkan karya-karya yang berkualitas, tidak sekadar kuantitas.

Saya khawatir perdebatan itu mengarah kepada hal negatif, seperti menjadikan adanya dua kubu yang saling kontra-produktif. Saling menjatuhkan satu sama lainnya. Sehingga masing-masing di antara kedua kubu itu mengklaim bahwa dirinya atau kelompoknya lah yang benar atau terbaik.

Andai saja kita menyadari bahwa segala yang kita perdebatkan adalah kebenaran yang pararel, mungkin kita tidak akan saling menuding orang lain jelek dan mengklaim diri sendiri paling benar. Pararel dalam artian, bahwa semua pihak sama-sama benar dan saling melengkapi. Kalau pun toh berbeda tapi perbedaan itu tidak dibenturkan, justru dicari persamaannya menuju sesuatu yang lebih baik bagi semua orang.

Dus, kebenaran pararel adalah kebenaran yang sama rata, yaitu sama-sama saling melengkapi kekurangan dari setiap pendapat dan memahami perbedaan tersebut.
Hal yang sering kita dengar adalah kebenaran yang relatif. Kebenaran relatif adalah kebenaran semu bagi saya. Bagaimana bisa kita mengatakan sesuatu yang benar itu relatif. Itu kan namanya membohongi diri sendiri. Jadi, ada dualisme dalam hati kita.

Satu sisi kita mengatakan bahwa sesuatu itu benar, tapi sisi lain kita mengatakan kebenaran kita itu relatif, karena ada orang lain yang tidak sependapat dengan kita, dan orang lain itu juga benar, bagi diri mereka. Melihat sesuatu yang hitam pasti kita akan berpendapat bahwa itu hitam, bukan? itulah kebenaran yang mutlak, bukan relatif.

Maka yang paling tepat adalah kebenaran pararel. Kebenaran melihat sesuatu dari sisi kita adalah benar, dan kebenaran dilihat dari kacamata orang lain juga benar. Karena melihat dari sisi lain itulah kebenaran pararel. Semuanya sejajar, tidak ada yang mengklaim dirinya paling benar dan yang lainnya salah, atau kurang benar.

Satu hal yang harus kita sadari bahwa pendapat yang diutarakan oleh setiap individu atau kelompok itu sangat dipengaruhi oleh masing-masing pengalamannya. Pengalaman sangat berperan dalam mengambil keputusan. Sebut saja misalnya tentang perbedaan orang yang memperjuangkan Khilafah Islamiyah dan memperjuangkan sekulerisme. Orang yang memperjuangkan Khilafah Islamiyah biasanya mempunyai latar belakang pendidikan dan pemahaman ‘ke-Araban’. Dalam arti bacaan dan studi mereka berkiblat ke Timur Tengah (baca: Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan). Sedang orang yang memperjuangkan sekulerisme biasanya mempunyai latar belakang pendidikannya barat, dan atau konsumsi bacaan mereka buku-buku pembaharuan (baca:pemikiran baru dan kritis).

Latar pendidikan dan pemikiran Anda saja sudah beda, apalagi pendapat Anda. oleh karena itu, kita mesti saling memahami satu sama lain. Jangan sampai kita menjadi orang yang seperti meraba gajah di kegelapan dengan mengatakan gajah itu seperti kipas, padahal ada orang lain yang mengatakan seperti tahta seorang raja.

Manusia Sejati

Di siang bolong, terdapat seorang Darwis masuk-keluar pasar dengan sebuah lilin di tangannya. Ada yang menegur dia, “Apa yang sedang engkau cari? Untuk apa pula menyalakan lilin? Tidak cukupkah cahaya matahari?”
Darwis menjawab, “Aku sedang mencari seorang manusia.”
“Seorang manusia? Pasar ini penuh dengan mereka. Manusia di mana-mana. Siapa yang kau maksudkan?”
“Seorang manusia sejati. Ia yang mampu mempertahankan kemanusiaannya dalam dua keadaan.”
“Keadaan apa?”
“Pertama dalam keadaan marah, kedua dalam keadaan lapar. Bila ada yang mampu mempertahankan kemanusiaannya dalam kedua keadaan itu, maka dialah seorang manusia sejati.”

“Engkau sedang mencari sesuatu yang langka. Katakan apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan seorang manusia sejati seperti itu?”
“Aku akan mengabdi kepadanya, seumur hidup, untuk selama-lamanya.”
“Sungguh, engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa yang menutupi permukaan laut. Kenapa tidak memperhatikan laut?”
* * *

Cerita di atas adalah kiasan yang diberikan Jalaluddin Rumi dalam karya fenomenalnya, Masnawi. Jika membaca cerita di atas paling tidak ada dua makna tersirat yang bisa kita dapatkan.

Pertama, manusia sejati adalah manusia yang dapat mengendalikan diri saat marah dan lapar. Bagi Rumi, saat mengalami dua hal itulah manusia kadang kesadarannya hilang. Seseorang ketika dilanda marah biasanya ia akan membabi buta baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Kata-kata orang marah biasanya ngelantur ke sana-kemari. Caci-maki, hinaan, ejekan, sumpah serapah, merendahkan orang dan yang sejenisnya keluar tanpa kontrol.

Sedang perbuatan orang marah biasanya “ringan tangan”. Segala benda yang ada di sekelilingnya akan dibanting atau dilempar. Bahkan kadang lebih mengerikan, yaitu mencari benda tajam dengan niat melukai orang yang menyebabkan ia marah. Orang yang hendak dilukainya pun tak pandang bulu, entah itu orang lain, kenal atau tidak, bisa saudara, sekeluarga, bahkan orangtuanya atau kakak-adiknya sendiri. Sudah cukup banyak bukti di atas yang sudah terjadi.

Jika Anda menyaksikan berita kriminal di televisi, hampir seperti itulah kejadian-kejadiannya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Maka sangat wajar jika Rumi mengatakan bahwa marah adalah salah satu yang menyebabkan manusia hilang kesadarannya, atau hilang kemanusiaannya. Dan pada saat itu yang muncul adalah kebinatangannya.

Begitu pun dengan lapar, manusia pada saat itu sulit dikontrol kesadarannya. Naluri biologisnya mengatakan bahwa ia harus makan. Jika tidak makan ia akan kelaparan, dan mengalami kematian. Bukan hanya lapar yang dirasakan dirinya sendiri tapi boleh juga lantaran lapar yang dirasakan oleh keluarganya, istri dan anak-anaknya, misalnya. Kelaparan membuat manusia terkadang menjadi buas. Jika pada saat itu hilang kesadarannya, maka apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar ia akan melakukan tindak kejahatan, seperti mencuri, merampok, membajak, menjambret, dan lain-lain.

Atas nama lapar manusia melakukan hal di atas. Belum lagi jika lapar berjama’ah, seperti satu keluarga kelaparan. Kemungkinan besar sang istri dan anaknya akan membenarkan tindak pencurian yang dilakukan suaminya. Karena, itu semua demi keluarga juga. Demi melangsungkan kehidupan mereka. Demi anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan asupan makanan bergizi. Dan lain sebagainya.

Kesadaran manusia atas dua keadaan tersebut harus tetap dijaga. Jangan sampai kemanusiawiannya terkikis dan tergantikan oleh kehewaniannya. Membenarkan sesuatu yang salah tetap saja salah. Mencuri dengan niat memberi makan anak-isteri tetap tidak dibenarkan, baik dilihat dari agama maupun aturan pemerintah.

Oleh karena itu, Rumi menegaskan bahwa manusia sejati adalah manusia yang mampu mengontrol dirinya saat ia sedang marah dan lapar.

Kedua, kita harus menjadi pelaku atas manusia sejati itu. Kita tidak perlu mencari manusia sejati, tetapi jadikan diri kita sebagai manusia sejati. Rumi mengatakan di akhir ceritanya, “Sungguh, engkau sedang mencari ranting. Kenapa tidak mencari akar? Engkau memperhatikan busa yang menutupi permukaan laut. Kenapa tidak memperhatikan laut?” Begitulah sindiran Rumi untuk kita, bahwa kita mencari sesuatu yang berada di luar diri kita, dengan mencari para wali, kyai, ulama, ahli hikmah, dan yang lainnya, dengan niat mendapat wejangan nasihat agar kita seperti mereka.

Itu tidak perlu, kata Rumi, sesuatu yang Anda cari sesungguhnya ada dalam diri Anda sendiri. Cukuplah bagi kita dengan mengamalkan hal di atas. Ujian kita cukup dengan mengendalikan marah dan lapar. Jika kita selamat dari kedua hal tersebut, berarti kita termasuk orang yang sejati, manusia sejati. Anand Krishna mengatakan bahwa pengendalian diri Anda, kesabaran Anda, membuktikan bahwa anda masih “manusia”.

Carilah sifat sabar dalam diri Anda sendiri. Karena, tak ada gunanya dan untuk apa juga kita mencari manusia sabar. Lebih baik kita sendiri yang melakukan kesabaran itu. Agama pun menyuruh kita demikian, “Jadikan sabar itu sebagai penolongmu!”

Menulis Meningkatkan Kecerdasan Intrapribadi Dan Lingustik

Kurang lebih lima belas tahun yang lalu Howard Gardner, seorang psikolog sekaligus peneliti Barat, telah menemukan sebuah teori tentang Multiple Intelegence (kecerdasan ganda), yang mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat banyak potensi yang belum dikembangkan.

Dan, bahkan kadang potensi tersebut telah kita kubur gara-gara kesibukan kita sehari-hari, seperti pekerjaan dan mengurus rumah tangga, atau karena sekolah. Dan dalam budaya kita pada umumnya orang yang dianggap cerdas yaitu orang yang pintar secara otak bukan emosi, atau lebih dikenal IQ (Intelectual Quotient) dan bukan EQ (Emotional Quotient).

Dalam penemuannya, setidaknya ada tujuh kecerdasan yang patut diperhitungkan secara sungguh-sungguh sebagai sebuah kecerdasan juga. Tujuh kecerdasan itu di antaranya: kecerdasan linguistik¸ logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik, jasmani, antarpribadi, dan intrapribadi. Dengan adanya tujuh kecerdasan tersebut memberikan peluang pada kita bahwa kita pun patut dianggap cerdas walau tidak dalam kacamata adat masyarakat. Hanya kadang kita menganggap sebagai orang bodoh lantaran tidak cerdas dalam berpikir, matematika, atau pandai berkata-kata.

Kita harus menganggap bahwa sesungguhnya kita adalah orang yang cerdas dalam salah satu kecerdasan itu atau bahkan lebih. Sekarang tinggal bagaimana kita menemukan dan menggalinya di antara ketujuh kecerdasan itu. Lantas apa hubungannya Multiple Intelegence (kecerdasan ganda) dengan menulis sebagaimana judul di atas?
Setelah saya amati penelitian Gardner tersebut dan ditambah dengan membaca buku Thomas Armstrong—pengembang teori Gardner—ternyata aktivitas menulis bisa dimasukan pada dua kecerdasan yaitu, kecerdasan linguistik (Word Smart) dan kecerdasan intrapribadi (self smart). Kedua kecerdasan tersebut sama-sama menggunakan alat ‘aktivitas menulis’ untuk meningkatkan kedua kecerdasan tersebut. Setidaknya ‘aktivitas menulis’ ikut andil dalam peningkatan kedua kecerdasan itu.

Untuk membedah masalah ini saya menggunakan sebagian besar buku karangan Thomas Armstrong yang berjudul 7 Kinds of Smart yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia. Ia adalah pengajar dan peneliti mengenai pendidikan di California. Kecerdasan linguistik bertumpu pada kemampuannya dalam berbicara dan menulis. Menurut Armstrong, orang yang mempunyai bakat di bidang ini akan peka dan tajam terhadap bunyi atau fonologi bahasa. Mereka sering menggunakan permainan kata-kata, rima, tongue twister, aliterasi, onomatope, dan lain-lain.

Mereka juga mahir memanipulasi sintaksis (struktur atau susunan kalimat), juga kepekaannya terhadap bahasa melalui semantik (pemahaman tentang makna). Kemampuan tersebut mereka gunakan dalam berbicara (berkomunikasi dan pidato) maupun menulis.
Ia pun memberi contoh dengan Marcel Proust, Robert Lowell, dan William Safier. Proust mampu merangkai anak kalimat menjadi kalimat satu paragraf untuk menciptakan dampak yang menakjubkan. Penyair Robert Lowell menjadi masyhur karena mampu mengambil kata apa pun yang dibahas dalam kuliah penulisan puisi di Harvard, kemudian membahas penggunaan kata itu dalam berbagai cara sepanjang sejarah kesusastraan Inggris.

Demikian pula William Safier, yang menulis sebuah kolom mingguan di The New York Times, telah memilih karir memeriksa neologisme pembentukan kata baru dan nuansa makna yang subtil dalam bahasa Inggris yang terus menerus berkembang.

Sedangkan kecerdasan intrapribadi (self smart) bertumpu pada kemampuannya mengelola diri, menganggap diri adalah sebagai konsep hidupnya. Diri sejati, bagi mereka kata Armstrong, merupakan sumber kreativitas batin, fasilitas, spontanitas, dan kesejahteraan emosi seseorang. Menurut psikiater James Masterson, penulis buku The Search for the Real Self, diri sejati mempunyai sejumlah komponen, yaitu:
1. kemampuan untuk mengalami berbagai perasaan secara mendalam dengan gairah, semangat, dan spontanitas
2. kemampuan bersikap tegas
3. pengakuan terhadap harga diri
4. kemampuan untuk meredakan perasaan sakit pada diri sendiri
5. mempunyai segala sesuatu yang diperlukan untuk mempertahankan niat dalam pekerjaan maupun relasi
6. kemampuan untuk berkreasi dan berhubungan secara dekat
7. kemampuan untuk menyendiri

Thomas Armstrong menerangkan bahwa Masterson telah menunjukkan tentang diri sejati yang mampu bertahan menghadapi waktu dan ruang. “Entah di atas atau di bawah, dalam suasana hati yang baik atau buruk, menerima kegagalan atau hidup dengan keberhasilan, seseorang dengan diri sejati mempunyai inti batin yang tetap sama bahkan sewaktu dia tumbuh dan berkembang.”

Ahli psikologi juga mengatakan bahwa diri tak lebih dari suatu peta mental yang amat rumit atau sebuah sistem skema yang memungkinkan kita mengorganisasi informasi tentang dunia secara lebih efisien. William James merangkum gagasan tentang diri. Ia mengatakan: ”Seringkali saya berpikir bahwa cara terbaik untuk merumuskan watak seseorang adalah dengan mencari sikap moral atau mental tertentu, bila menyangkut dirinya, dia dapat mengenal dirinya secara paling mendalam, sangat aktif, dan sangat hidup. Pada saat itu, muncul suara dari dalam batin yang berkata:’inilah Saya yang sejati’”.

Masih dalam buku 7 Kinds of Smart, Howard Gardner menganggap seseorang yang mempunyai kecerdasan intrapribadi yang kuat dapat memilah-milah berbagai emosi batin, kemudian memberinya nama, mengungkapkannya dalam bentuk simbol, lalu memanfaatkan emosi itu sebagai sarana untuk memahami dan membimbing perilaku diri.

Orang semacam ini mencakup ahli terapi, tetua masyarakat, dan penulis. Marcel Proust, misalnya, ketika dewasa menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan tiduran di ranjang sambil merenungkan kembali kehidupannya dengan detail yang menakjubkan. Hasil permenungannya merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam peradaban dunia Barat, yakni novel Remembrance of Things Past.

Baiklah, sekarang bagaimana cara melejitkan diri lewat menulis untuk meningkatkan kecerdasan linguistik (word smart) dan intrapribadi (self smart)?Ini adalah latihan yang diberikan Thomas Armstrong.

Latihan Kecerdasan Linguistik (Word Smart)
Duduklah di atas bangku atau meja dengan beberapa lembar kertas dan dua atau tiga pensil terletak di dekat situ. Tutup kedua mata Anda dan dengarkanlah arus bawah kata-kata yang mengalir melalui pikiran Anda. Amati apakah kata-kata itu muncul dalam bentuk tetesan (kata-kata tunggal), riak lembut (potongan kalimat), aliran deras (arus komentar), atau dengan cara lain.

Setelah mendengarkan suara batin selama dua atau tiga menit, ambillah sebatang pensil, masih dengan kedua mata setengah tertutup, mulailah menuliskan secara persis apa yang Anda dengar seandainya Anda mampu mendengar sesuatu. Lakukanlah latihan ini selama kurang lebih lima belas menit. Latihan tersebut bisa digunakan untuk mencari ilham dalam pembuatan puisi, pidato, cerita, esai, dan yang lainnya, dimana ketika Anda tidak mampu untuk memulainya.

Cara Membuat Aliran Kata Ini adalah saran Natalie Goldberg, penulis Writing Down the Bones, tentang bagaimana agar kata-kata bisa mengalir. Hal-hal yang perlu diingat ialah ingatan pertama Anda, orang yang Anda sayangi, orang yang telah meninggalkan Anda, peristiwa paling menakutkan yang pernah Anda alami, perasaan paling dekat yang pernah Anda alami dengan Tuhan atau alam, seorang guru yang anda kenal, kenangan akan kakek-nenek, dan lain-lain.

Selain itu ada juga cara-cara untuk mengembangkan kecerdasan linguistik—terutama menulis—dengan media bahasa:
1. bergabunglah dengan klub pecinta buku
2. hadirilah konferensi pengarang, ceramah, atau lokakarya tentang mengarang pada perguruan tinggi setempat
3. hadirilah acara peluncuran buku atau acara lain yang menampilkan penulis ternama
4. kunjungi perpustakaan/toko buku secara teratur
5. bacalah sebuah buku setiap minggu dan buatlah perpustakaan pribadi
6. belajarlah menggunakan program pengolah kata
7. buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran Anda setiap harinya sebanyak 250 kata
8. dan lain-lain

Armstrong mengatakan bahwa penjelajahan bahasa dapat menghabiskan waktu yang tak terbatas ketika bereksperimen, memanipulasi, menafsirkan, memproduksi, memperluas atau memodifikasinya dengan berbagai cara sesuai dengan dimensi yang kita pilih. Dalam proses ini, mungkin kita baru tersadar bahwa pikiran kita sendiri telah berkembang, sebab pada dasarnya bahasa merupakan alat berpikir.

Dengan menggunakannya secara sadar untuk meningkatkan kecerdasan, kita dapat mengalami keragaman dan kekayaannya dengan cara yang pragmatis, tetapi juga menyenangkan. Latihan Kecerdasan Intrapribadi (Self Smart) Berikut ini adalah beberapa saran untuk berpindah ke citra diri yang positif:
1. jangan mengecewakan diri dengan menjelek-jelekkan diri sendiri
2. lakukanlah sesuatu yang dapat memompa semangat Anda setiap hari
3. tuliskan 20 pernyataan positif tentang diri Anda dan bacalah pernyataan itu secara teratur
4. bentuklah gambaran mental diri sejati Anda
5. kelilingi diri Anda dengan tokoh panutan yang positif
6. bacalah buku self-help yang memperkuat munculnya rasa diri positif

Kunci penting, kata Armstrong, dalam mengembangkan citra diri positif adalah memupuk rasa batin yang menguasai dan berkompeten, atau perasaan batin bahwa kita mempunyai pengaruh terhadap dunia.

Cara-Cara Untuk Mengembangkan Kecerdasan Batiniah
1. tuliskan autobiografi Anda
2. ciptakan ritual pribadi atau ritual perjalanan hidup Anda
3. rekam dan tafsirkan mimpi Anda secara teratur
4. bacalah buku self-help
5. tentukan sasaran jangka pendek dan jangka panjang Anda dan kemudian tindaklanjuti rencana itu
6. buatlah buku atau catatan harian untuk merekam gagasan, perasaan, sasaran, dan kenangan Anda
7. amatilah biografi dan autobiografi orang besar yang memiliki kepribadian hebat
8. dan lain-lain

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca hal yang di atas? Ternyata menulis bisa menggabungkan dua kecerdasan sekaligus bukan? Selamat mencoba

Bisnis Ala Orang Cina

Ann Wan Seng, pengusaha Cina sekaligus penulis buku-buku best-seller, lahir dari keluarga pedagang. Sejak kecil, ia sudah mengikuti dan membantu orangtuanya berdagang. Berdasarkan pengalaman dan pengamatannya bahwa cara orang Cina berdagang agak berbeda dengan kaum dan bangsa yang lain.

Mereka mempunyai pandangan, cara, konsep, dan falsafah dagang tersendiri. Orang Cina jarang berbagi petuah dan rahasia berdagangnya pada orang lain. Petuah dan rahasia dagang inilah sesungguhnya menjadi senjata utama keberhasilan orang Cina dalam perdagangan serta bidang ekonomi lainnya.

Melalui bukunya, Rahasia Bisnis Orang Cina (Hikmah: 2007) Ann mencoba memaparkan sebagian rahasia dan petuah dagang orang Cina tersebut. Buku ini diklaim sebagai buku bisnis paling laris di Malaysia pada tahun 2006, dan di Indonesia pada tahun 2007. Kita menyadari bahwa untuk menjadi pedagang yang berhasil, seseorang perlu memiliki wawasan dan pandangan yang dapat melihat jauh ke depan. Selain itu, dituntut juga komitmen, disiplin, kesabaran, kekuatan, dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Perdagangan adalah bidang yang dapat dipelajari dan tidak menjadi monopoli kelompok masyarakat tertentu. Itu adalah nilai-nilai universal yang dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin menjadi pegadang. Namun, harus diakui usaha-usaha untuk mematahkan dominasi orang Cina di bidang ekonomi, sampai saat ini masih belum berhasil dilakukan. Hal ini, kata Ann Wan Seng, karena hubungan perdagangan di antara orang Cina begitu erat sehingga tidak dapat dipisahkan.

Menurut Ann, orang Cina adalah bangsa yang fleksibel, mudah berubah, dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimanapun. Mereka akan dapat hidup dan mencari makan di mana pun mereka berada. Inilah salah satu kepandaian orang Cina.

Orang Cina bisa berdagang di mana saja termasuk di kawasan yang paling tidak produktif sekalipun. Hal ini senada dengan ungkapan, bahwa “Orang Cina bisa berdagang di kampung Melayu, tetapi orang Melayu belum tentu bisa berdagang di kawasan orang Cina.” Kita memang dapat melihat, bahwa orang Cina mudah berkembang di mana saja. Lihat saja di kota-kota yang ada di Indonesia, pengusaha Cina berkembang pesat.

Mengapa bisa demikian? Hal itu dikarenakan totalitas. Bahwa orang Cina selalu menginginkan perubahan secara total, maka hijrah adalah sebuah keharusan. “Orang itu harus hijrah bukan saja secara fisik melainkan juga mental, jiwa, dan mendekatkan diri pada-Nya.

Keinginan seseorang untuk berubah adalah kunci utama keberhasilan orang Cina,” ujar Ann Wan Seng. Namun, bukan tanpa kegagalan mereka berdagang. Nasib gagal tidak dijadikan alasan untuk menerima kekalahan dalam perdagangan mereka. Setiap pedagang Cina dapat mengambil hikmah dan belajar dari kegagalannya. Mereka mengevaluasi segala kekurangan, kelemahan, kesalahan, dan kegagalan. Mereka terus belajar dari segala kegagalan itu.

Kegagalan pertama tidak dapat melunturkan semangatnya, sebaliknya justru akan membuatnya lebih gigih. Kegagalan yang kedua dijadikannya sebagai pelajaran. Kegagalan yang ketiga menjadikannya lebih bijak. Kegagalan yang seterusnya akan menguji kesabaran dan ketabahannya. Gagal beberapa kali bagi orang Cina tidak berarti akan gagal untuk seterusnya. Ann Wan Seng mengatakan, “Orang Cina percaya dan yakin mereka pasti akan berhasil suatu hari nanti.”

Usaha orang Cina dalam mengalami kegagalan dan menghadapi persaingan adalah dengan terus belajar dan meningkatkan etos kerjanya. Mau tak mau kinerja mereka tingkatkan. Tokoh konglomerat Korea Selatan, Kim Woo Choong, pernah menyatakan, “Jika kita sama rajinnya dengan orang-orang di Barat, kita tidak akan dapat menyaingi mereka. Jika ingin lebih berhasil dari orang lain, kita tidak punya pilihan, kecuali bekerja dengan lebih giat dan rajin.”

Barangkali akan aneh dan “gila” jika dilihat oleh orang Indonesia tentang hal di bawah ini, bahwa orang Cina yang sudah berhasil pun ternyata masih menjaga etos kerja tingginya. Mereka bangun dan mulai bekerja sepagi mungkin dan tidur menjelang tengah malam. Jumlah jam kerja mereka melebihi jumlah jam kerja orang lain. Jika pekerja biasa bekerja 8 hingga 10 jam sehari, mereka bekerja antara 16 sampai 18 jam sehari. Mereka bukannya gila kerja, melainkan pekerja keras.

Mereka juga tidak berhenti ketika telah berhasil mencapai tujuan karena perjalanan dalam perdagangan masih panjang. “Satu tujuan terlewati, tujuan yang lain sudah menunggu,” ujar Ann Wan Seng. Orang Cina rela untuk bangun dini hari dan terus bekerja sampai malam hari. Mereka bekerja keras. Sinonim dari kerja keras adalah tekun. Ketekunan merupakan salah satu faktor keberhasilan orang Cina dalam kegiatan berdagang. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak menjadi sukses jika mereka tekun dan rajin, seperti halnya orang Cina.

Ada sebuah pertanyaan menarik, mengapa orang cina identik dengan berdagang? Menurut Ann Wan Seng orang Cina dan perdagangan sudah bersatu padu serta menjadi satu entitas yang tidak dapat dipisahkan. Mereka yang berdagang sama dengan bekerja untuk diri sendiri. Ini lebih baik daripada bekerja dengan dan untuk orang lain. Orang yang bekerja dan mendapat gaji dianggap belum dewasa. Sejak kecil, orang Cina sudah ditanamkan pada pemikiran mereka agar tidak bergantung pada orang lain. Mereka memiliki kemampuan dan potensi. Untuk membuktikannya dengan cara melibatkan diri dalam kegiatan perdagangan.

Berdagang dapat menjadikan seseorang lebih bijak, disiplin, dan tahan banting. Orang Cina tidak suka mendapat gaji. Golongan yang mendapat gaji tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi dalam masyarakat. Orang Cina dianjurkan berdagang meskipun hanya kecil-kecilan. Pendapatannya mungkin lebih kecil dibandingkan mereka yang mendapat gaji, tetapi akan dianggap lebih baik dibandingkan bekerja pada orang lain. Berdagang sendiri berarti seseorang dapat menjadi bos dan tuan. Bekerja dengan orang, sampai kapan pun akan dianggap sebagai kuli.

Orang yang berdagang dikatakan berani dan hanya orang yang beranilah yang memiliki kesempatan menjadi kaya dan sukses. Sedikit tip dari Ann Wan Seng tentang rahasia sukses berdagang orang Cina, bahwa pedagang tidak boleh mengharapkan keuntungan pada saat baru memulai perdagangannya. Mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, seperti kerugian dan kegagalan pada tahap awal. Untuk itu, mereka harus mempunyai modal yang kuat dan sumber keuangan yang dapat digunakan selama masa kritis itu.

Keuntungan yang diperoleh sebaiknya tidak dibelanjakan. Keuntungan harus digunakan untuk menambah modal kerja dan melakukan investasi. Keuntungan yang bakal diperoleh bergantung pada berapa banyak invetasi yang sudah dilakukan. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan juga, bahwa jangan sekali-kali menghardik pelanggan karena mereka membayar bukan untuk mendapatkan kata-kata yang tidak enak didengar. Siapkah kita menaladani cara berdagang orang Cina?

Menabur dan Menuai

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok.

Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang ke rumahnya.

Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa.

Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.

Si pemuda pertama adalah seorang miskin sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati yang mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.

Tahukan anda nama pemuda miskin yang akhirnya menjadi dokter ini? Namanya Alexander Flemming, yang kemudian menemukan obat penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi semacam itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan dr.Flemming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan penemuan baru itu. Apa yang terjadi kemudian? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itu akhirnya sembuh!

Tahukan anda siapa nama pemuda pemuda itu? Namanya adalah Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris yang termasyhur itu.
* * *
Dalam cerita di atas telah menceritakan dua tokoh dunia yang terkenal. Pertama, Alxander Fleming, dan kedua, Winston Churchill.

Alexander Fleming dilahirkan di Skotlandia, tepatnya di daerah pertanian Lochfield dekat Darvel di kota Ayrshire pada 6 Agustus 1881. Ketika berusia tiga belas tahun, ia memasuki London. Ia diajak kakaknya untuk melanjutkan sekolah di London. Alexander belajar di Politeknik Regent Street, tempat yang menyediakan kelas-kelas dengan bayaran rendah untuk orang-orang yang ingin belajar. Ketika berusia enam belas tahun itu, Alexander telah lulus.

Setelah itu ia ada tawaran pekerjaan dari perusahaan pelayaran America Line. Pekerjaannya adalah menyalin dokumen dengan tangan, mencatat keuangan, dan perincian-perincian penumpang dan barang muatan. Ia bekerja sangat hati-hati, namun ia merasa pekerjaannya sangat menjemukan.

Pada bulan Oktober 1901 ia bersekolah di sekolah kedokteran Rumah Sakit St. Mary. Berbeda dengan pekerjaannya dulu, sekarang ia harus menyelidiki struktur tubuh manusia, jaringan, dan organ-organnya sampai detail yang sekecil-kecilnya. Ia membedah bisul dan abses (sekumpulan nanah yang merupakan tumpukan bakteri), menjahit dan membalut luka, mencabut gigi, dan mebidai tulang patah. Namun, hanya sedikit dokter yang dapat mengobati kebanyakan penyakit yang mengisi rumah sakit-rumah sakit pada abad itu sebelum ditemukannya penisilin.

Pada Juli 1906, ia lulus ujian akhir kedokterannya. Ia menjadi dokter yang berkualifikasi. Ia terkenal sebagai seorang ahli pada bidang pengobatan dengan vaksin. Pada Februari 1929 Alexander menemukan dan membuat laporan mengenai penisilin. Secara tidak sengaja, ia menumpahkan jamur yang ia bawa kepada cawan yang berisi streptococcus yang sedang diteliti oleh rekan kerjanya ketika bakteri itu akan dibuang. Alhasil, betapa terkejutnya Alex ketika jamur itu menutupi dan menetralkan streptococcus. Akhirnya, dengan tekun ia mencari terus apa gerangan yang ada pada jamur itu. Ilmuwan lain yang ahli soal jamur mengatakan kepadanya bahwa jamurnya itu adalah salah satu kelompok dari kelompok penicillium dan Alex mulai menggunakan nama "penisilin" bagi senyawa pembunuh bakterinya.

Ia menolong Harry Lambert dengan hasil penemuannya (penisilin), yang kemudian membuat dirinya menjadi begitu terkenal dan mendapat penghargaan Nobel pada 1945. Saat Perang Dunia II, penisilin diberikan pada tindakan amputasi pasukan sekutu, menyelamatkan 12-15% nyawa. Sampai sekarang Alexander tetap dikenang sebagi penemu penisilin, obat mujarab untuk mencegah infeksi. Ia wafat pada 11 Maret 1955.

Tokoh kedua yaitu Winston Churchill. Nama lengkapnya adalah Winston Leonard Spencer Churchill. Ia lahir di Blenheim Palace, Inggris, tanggal 30 November 1874. Masa kecilnya ia habiskan di asrama sekolah, Harrow. hal itu sudah lazim pada masanya bagi kalangan atas. Bidang pelajaran yang disukainya adalah bahasa inggris dan sejarah. Churchill kecil begitu mencintai dan mengagumi ibunya. Saat di asrama, ia sering menyempatkan untuk menulis surat; berbagi cerita kesehariannya di asrama dan kerinduan pada ibunya tersebut. Kedekatan dengan ibunya terus terbawa sampai ia dewasa.

Adapun dengan ayahnya, walau tidak sedekat dengan ibunya, ia begitu mengaguminya juga, terutama dalam hal karir. Saking kagumnya, ia pernah berucap, "Ayah saya adalah kanselir keuangan dan satu hari nanti, aku pun akan melakukan hal yang sama."
Begitu lulus di bangku sekolah, ia pun melanjutkan ke akademi militer di Sandhurst. Dan setelah lulus pada umur 20 tahun, Churchill bergabung dengan tentara sebagai Subaltern (pangkat letnan) di regimen kavaleri Hussar IV.

Tahun 1895, ia mendapatkan ijin pergi ke Kuba untuk menjadi pengamat perang antara prajurit Spanyol dan gerilyawan Kuba. Selain itu, ia juga mendapatkan komisi untuk menjadi koresponden surat kabar Daily Graphic. Karirnya dalam militer dan jurnalistik terus menanjak. Churchill juga pernah ditugaskan ke India untuk melawan pemberontakan di sana, sembari menulis artikel untuk surat kabar The Pioneer dan The Daily Telegraph.

Sekembalinya ke Inggris, ia menerbitkan buku pertamanya mengenai konflik di atas berjudul The Story of Malakand Field Force. Pengalaman pertamanya itu, membuat ia ketagihan untuk mencobanya lagi. Ia pun berangkat ke Afrika Selatan bergabung dengan militer sekutu. Adapun perjalanan terakhirnya dalam dunia militer dikirimnya ia ke Sudan. Dan seperti biasa, sebagai hobinya dalam tulis menulis, di sana ia juga menjadi koresponden untuk surat kabar Morning Post. Dan sekembalinya dari sana, ia menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku yang diberi judul The River War.
Setelah itu ia mulai merintis di jalur parlemen. Karirnya langsung melejit. Ia menjadi kandidat bagi partai konservatif di Oldham akan tetapi hanya bisa menduduki tempat ketiga dalam pemilihan tersebut, sementara Oldham pada waktu itu hanya mempunyai kuota untuk dua kursi.

Perjalanan karirnya dalam politik begitu berliku, namun eskalasinya terus meningkat. Santai tapi pasti. Karirnya terus melonjak, hingga akhirnya ia menjadi Perdana Menteri. Saat menjabat perdana menteri, suasana dunia barat sedang terjadi perang dunia II.

Keadaan perang tersebut, pernah muncul dari mulutnya, sebuah kata-kata yang inspiratif dan dikenang sampai sekarang. Bunyinya yaitu, "Saya tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali darah, kerja keras, air mata, dan peluh…. Kita akan mempertahankan pulau kita, walau apa pun harganya, kita akan bertempur di pantai, kita akan bertempur di tempat pendaratan, kita akan bertempur di padang dan jalan, kita akan bertempur di bukit; kita tidak akan sekali-kali menyerah."

Dalam perjalanan karir politiknya, ia terpilih dua kali menduduki jabatan Perdana Menteri Inggris. Adapun gelar kehormatan yang begitu prestise yaitu mendapat dua gelar, gelar Sir dan hadiah nobel dalam literatur untuk kepakarannya dalam penulisan riwayat dan sejarah serta kepintarannya berorasi dalam mempertahankan nilai kemanusiaan yang tinggi. Ia meninggal pada 24 Januari 1965.

Memang, sejak muda hingga menjabat Perdana Menteri, Churchill tidak pernah lepas dari buku. Segala jenis buku, terutama yang berhubungan dengan sejarah merupakan ”makanan”nya sehari-hari. Bahkan waktu bertugas di medan perang pun (di Kuba, India, Sudan, dan Afrika Selatan), Churchill selalu ditemani dengan buku dan pena. Ia belajar dari buku sejarah, orang-orang sekitar, dan budaya yang ditemuinya. Hasil pemikiran dari buku-buku yang dipelajari dan orang-orang serta budaya sekitar yang diamati dituangkannya dalam bentuk buku-buku yang berharga untuk dipelajari juga oleh orang lain. Oleh karena itu dalam dirinya terkumpul tiga profesi: tentara, penulis, politisi, dan negarawan.
* * *

Saya hendak kembali pada kisah di atas. Dalam kisah tersebut dapat kita lihat hukum menabur dan menuai. Flemming menabur kebaikan dan ia menuai kebaikan pula. Keinginannya terkabul untuk menjadi dokter, bahkan lebih dari itu, ia mendapat penghargaan nobel berkat penemuannya, yaitu menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churcill. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churcill.
Satu kalimat kunci yang kita dapatkan dari cerita di atas yaitu MENABUR DAN MENUAI.

Menabur dan menuai adalah dua kata yang saling berkelindan, yang seolah-olah masuk pada hukum kausalitas. Pernahkah Anda merenungkan bahwa hidup ini serba hubungan sebab akibat yang kompleks? Percayakah anda bahwa apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai? Walau kadang sifatnya sederhana dan kadang juga rumit. Semua itu berpulang pada anda sendiri. Saya adalah orang yang percaya dengan hukum sebab akibat.

Hubungan sebab akibat dalam kehidupan kita bisa terjadi secar sederhana. Bila seorang pelajar mempersiapkan diri dengan baik untuk suatu ulangan atau ujian, misalnya, maka tak heran kita lalu mendapatkan nilai yang baik untuk mata pelajaran yang diujikan. Dalam rentang waktu yang lebih panjang, tidak jarang hubungan sebab akibat itu juga dapat dilihat dengan sama jelasnya. Jika kita membesarkan anak dalam kondisi miskin kasih sayang, misalnya juga, itu akan penuh dengan celaan dan caci maki.

Gambaran contoh di atas senada dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Dorothy Law Nolte, yang pada hakikatnya menganut hukum sebab-akibat. “Jika Anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, Ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, Ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”

Sahabat saya pernah mengilustrasikan bahwa kehidupan ini jika ingin bahagia harus seperti koki yang pandai memasak secara profesional. Dalam artian supaya hidup ini senantiasa menghasilkan yang “lezat-lezat”, maka sudah menjadi keharusan menabur sesuatu yang baik-baik dan harus punya “bumbu” serta kiat rahasia. Apa sih “bumbu” dan kiat rahasianya? Bagi dirinya, resepnya adalah cinta, kesungguhan dan keikhlasan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan cinta dan kesungguhan akan memberikan hasil yang lebih prima.

Dia lalu memberikan contoh riil, yaitu para pengamen di sebuah bis. Dalam bis tersebut para penumpang dapat menilainya mana pengamen yang menyanyi sekedarnya dan mana yang melakukannya dengan penuh cinta, kesungguhan dan keikhlasan. Penuh cinta dan kesungguhan karena mampu menyajikan lagu dan musik yang indah dan enak didengar. Kepiawaian ini tentunya tidak datang sekonyong-konyong. Ikhlas menyanyi sebagus mungkin walaupun mungkin nanti ternyata tidak ada yang memberi uang. Hasilnya langsung dapat dilihat saat itu juga. Penumpang bis umumnya tidak segan merogoh dompet atau kantongnya untuk memberikan imbalan atas lagu-lagu yang dinyanyikan dengan baik.

Percayakah anda jika kita menabur kebaikan kepada orang lain, maka di kemudian hari tuaian akan terjadi. Bisa kita sendiri yang menuainya, bisa pula keluarga kita. Dan yang pasti, sebagai orang beragama, kebaikan yang kita tabur itu bisa kita tuai baik di bumi, atau di akhirat kelak. Jika tidak terjadi di bumi, di akhirat pasti akan terjadi. Begitulah agama mengajarkan kepada kita.

Hal itu sebetulnya sangat logis, karena menabur kebaikan sesungguhnya sama artinya dengan investasi kehidupan. Lebih sederhananya lagi, bahwa menabur kebaikan sama halnya dengan menanam benih pada taman kehidupan kita. Hidup bermasyarakat adalah ibarat taman luas di mana semua orang dapat menikmatinya. Oleh karena itu, semua individu mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memelihara dan merawat taman tersebut. Salah satunya adalah dengan membangun hubungan yang positif (baca: kepedulian) antara satu dengan lainnya. Dengan kepedulian itu pada gilirannya akan dapat membangun dan menguatkan sesama kita yang merupakan tanaman dalam taman kehidupan kita.

Hidup manusia sebenarnya mempunyai misi atau tugas, lebih-lebih keberadaannya di muka bumi ini sebagai wakil Tuhan. Sayangnya banyak dari kita tidak menyadari dan tidak pernah mengetahui apa sebenarnya misi hidup kita di dunia ini. Nah, salah satu misinya adalah menyebarkan kebaikan kepada semua yang ada di muka bumi ini. Entah itu kepada sesama manusia, maupun kepada non-manusia: tanaman, pepohonan, hewan, lingkungan, dan lain sebagainya. Kesadaran seperti itu secara otomatis akan dapat memberi makna dalam mengisi kehidupan kita sendiri.

Siapa menabur kebaikan, ia akan menabur kebaikan pula. Ya, saya tak akan bosan untuk mengucapkan kalimat itu. Karena itu adalah “kalimat kunci” dalam kehidupan jika mendambakan kebaikan dalam hidup. Jika anda mendengarkan sesuatu yang baik, dan anda juga membaca sesuatu yang baik, lalu anda terapkan dalam kehidupan anda, maka anda akan menjadikan pengetahuan itu sebuah tindakan. Setelah itu menjadi sebuah kebiasaan. Nah, kebiasaan inilah yang akan membawa kepada kesuksesan.

Namun satu hal yang perlu diingat bahwa berbuat sesuatu yang baik dan menjadi individu yang baik harus dilandaskan ketulusan. Sungguh tak jarang kita menemukan sebagian di antara kita salah dalam mengartikan makna berbuat sesuatu yang baik dan menjadi individu yang baik dalam hidup ini, entah di dalam hubungan antara dua orang atau lebih, maupun kaitannya dalam pekerjaan, persahabatan sampai bertetangga.

Kenyataan di lapangan memperagakan pada kita bahwa banyak orang yang berusaha menjadi paling baik justru dengan cara-cara tidak baik, seperti mengalahkan, merendahkan, dan bahkan menyingkirkan orang lain. Banyak juga kebaikannya dilakukan dengan ukuran penampilan luar atau materi semata, seperti pakaian glamour, rumah megah, kendaraan mahal, dan lain-lainnya, dan juga dengan ukuran kedudukan seperti jabatan, gelar, pangkat, serta yang lainnya. Bahkan tak jarang kebaikannya disertai dengan kesombongan dan kebanggaan yang sangat berlebihan. Hal itu nampak sekali kita lihat saat orang memberikan sumbangan dan menolong seseorang saat ditimpa kesusahan.

Sebagaimana yang telah saya singgung di atas bahwa melakukan hal baik harus benar-benar tulus, dan satu lagi mengutamakan kepentingan orang lain. Kebaikan kita harus berasaskan manfaat bagi orang lain bukan karena kepentingan diri kita sendiri. Dengan kata lain, bahwa semakin kita berbuat baik dan menjadi lebih baik maka semakin rendah hatilah kita, semakin jujurlah kita, dan semakin ikhlaslah kita. Itulah kebaikan yang sebenarnya. Jadi, bukan sebaliknya, semakin kita berbuat baik malah kita semakin tidak menjadi baik, karena disertai oleh perilaku-perilaku yang tidak baik.

Kebaikan dapat kita lakukan di mana saja, kapan saja, dan dalam peran apa saja. Kalau anda seorang bisnisman, misalnya, jadilah bisnisman yang baik, bahkan lebih baik di antara bisnisman yang lainnya. Begitu juga jika anda seorang pegawai, jadilah pegawai yang baik, dan bahkan yang terbaik di antara yang lain. Sungguh, hal itu dapat dilakukan oleh siapa saja: orangtua; anak; kakek; mertua; suami;istri;mahasiswa;sopir; dan lain-lainnya. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa menjalankan kebaikan itu harus dilandasi ketulusan, kejujuran dan mengutamakan kepentingan orang lain. Ada yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi orang lain. Tidak mudah memang, tapi tak sulit pula sesungguhnya jika kita berkomitmen untuk melakukannya. Ada pribahasa mengatakan, “Menjadi orang baik tidaklah mudah, tapi menjadi orang yang bijaksana lebih sulit lagi”.

Setelah membaca pemaparan di atas, sudahkah anda berbuat baik hari ini? Mudah-mudahan anda sudah mempraktikkannya sekecil apa pun, karena Adam Smith mengatakan, “Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini, anda juga membuat dia berbahagia dua puluh tahun lagi, saat ia mengenang peristiwa itu.”

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil tinggallah benda-benda abstrak seperti cinta, kesedihan, kekayaan, kebahagiaan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan segera menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat segera menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik dan mulai membasahi kaki Cinta.

Tak lama kemudian Cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.”

Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku!”, teriak cinta. Namun Kegembiraan terlalu bergembira menemukan perahu sehingga ia tidak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi sampai ke pinggang dan cinta pun mulai panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. ”Kecantikan, bawalah aku bersamamu”, teriak Cinta.

“Wah Cinta, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku ini”, sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat Kesedihan. “Oh Kesedihan bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.

“Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta sudah mulai putus asa, ia melihat air semakin naik dan akan segera menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah terdengar suara, “Cinta, mari segera naik perahuku”. Cinta menoleh ke suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat ia naik ke perahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang telah menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan orang tua itu kepada penduduk tua di pulau, siapa sebenarnya orang tua itu.

“Oh, orang tua itu tadi? dia adalah Waktu,” kata orang-orang tersebut.
“Tapi kenapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan untuk menolongku,” tanya Cinta heran.
“Sebab hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”.
* * *

Sebagai manusia, makhluk paling mulia, kita patut bersyukur dianugerahi rasa cinta. Dengan cinta manusia bisa memancarkan gairahnya dalam segala hal. Cinta adalah fitrah, suci. Hanya saja kita terkadang yang menodainya dengan perilaku kita yang negatif. Allah fitrahkan cinta menjadi bagian integral pada penciptaan manusia, dia adalah rasa yang memancar dari mata air naluri-nalurinya.

Dengan adanya cinta ini, manusia bisa membangun dan memiliki kecenderungan dan cinta kepada lawan jenisnya, cinta kepada orangtua, saudara, kerabat handai taulannya, dan yang lainnya. Juga bisa menampilkan cinta kepada harta, kekuasaan, pangkat, jabatan, sanjungan, kehormatan dan sejenisnya.

Tuhan menciptakan manusia dengan begitu sempurna baik jasmani maupun ruhani. Dia juga memberikan potensi-potensi manusia mulai dari kekuatan dan kebutuhan fisiknya, beserta naluri yang bisa memancarkan cinta dan akal yang akan jadi tongkat penyangga dia memaknai hidup itu semua.

Seperti yang sudah diungkap di atas, cinta manusia bisa pada yang bersifat fisik (materi) maupun non-fisik (abstrak). Tapi walau pun begitu, kadarnya tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya baik secara kualitas maupun kuantitas. Persepsi masing-masing orang pun boleh jadi tak ada yang sama dalam memandang cinta. Tapi, satu hal yang dapat kita pastikan bahwa cinta itu universal.

Sebagai makhluk yang berakal, manusia tentu harus hidup seimbang. Dalam hal ini, seorang manusia harus dapat menata cinta dalam skala prioritas yang proporsional. Dengan kata lain, bahwa cinta harus diekspresikan dengan kadarnya masing-masing terhadap sesuatu. Seseorang mencintai barang-barang berharganya, misalnya, tentu janganlah disamakan dengan mencintai terhadap keluarganya.

“Intisari dari segala sesuatu adalah cinta”. Para pemikir, penyair, dan ahli spiritual, mengatakan itu sejak ratusan tahun lalu hingga kini. Plato, misalnya, mengatakan bahwa cinta atas kebaikan adalah dasar dari semua kebajikan dan kebenaran. Filosofi cinta seperti itu menjadi pijakan dasar atas cinta platonis: yaitu hanya mencintai tanpa berharap dicintai kembali. Apa yang kita pandang baik dan kita melakukan dengan penuh cinta, niscaya akan mendatangkan kebajikan dan kebenaran.
Begitulah intisari cinta yang diberikan oleh Plato, sang filosof legendaris.

Seringkali orang menggambarkan cinta dengan gambar hati. Tentu itu dapat kita pahami bahwa hati adalah pusat segala perasaan untuk menerima dan mempersembahkan. Dalam setiap sendi kehidupan, hati kita yang menentukan apa yang harus kita persembahkan dan apa yang harus kita terima dalam kehidupan ini. Gambaran seperti itu sungguh mirip dengan pengertian cinta. Maka dapat kita katakan bahwa cinta sama dengan hati. Sumber cinta adalah memang dari hati.

Sadarkah anda bahwa kita sebenarnya dibesarkan oleh orangtua kita atas dasar cinta? Semenjak dalam kandungan ibu kita sudah mencintai kita. Semenjak dilahirkan kita dibesarkan dengan cinta pula. Ayah kita pun rela bekerja keras demi kita, karena cinta. Cinta mampu membuat orangtua kita mengacuhkan dirinya demi yang dicintainya, yaitu kita.

Sungguh cinta yang sangat luar biasa. Begitu juga dengan orang-orang yang bekerja dan belajar atas dasar cinta. Mereka berhasil menghasilkan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi umat manusia. Dan lagi-lagi mereka rela menghabiskan waktu untuk terus bekerja dan belajar demi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Kita lihat saja saking cintanya pada fisika, Albert Einstein akhirnya menemukan teori relativitas. Karena cintanya pada sastra, William Shakespeare dapat membuat karyanya “abadi”, sebuah cerita cinta sepanjang jaman, Romeo & Juliet. Karena cintanya pula, psikologi, Sigmund Freud menemukan teori dasar tentang jiwa manusia. Karena cintanya pada komputer, Bill Gates membuat Windows yang begitu bermanfaat bagi jutaan manusia. Masih banyak lagi orang-orang semacam mereka di atas.

Di sini, saya akan memfokuskan pada cinta yang sering kita alami, yaitu cinta antar lawan jenis. Cinta ini mampu membuat manusia bergetar hebat, yang dapat berbuat apa saja demi orang yang dicintainya. Cinta membuat seseorang berani menempuh risiko yang tak dapat dibayangkan. Sungguh, cinta merupakan sebuah pengalaman yang begitu berharga dalam hidup manusia. Manusia diberi potensi untuk mencintai dan dicintai. Dan Tuhan memang menciptakan pria dan wanita untuk saling melindungi dan menyayangi.
Kedua jenis makhluk (pria dan wanita) itu, mempunyai tugas yang sama, yaitu melestarikan kehidupan meskipun ada perbedaan peran dalam keduanya. Nah, peran inilah yang bisa menjadikan keduanya menjalani fungsinya sebagai mahluk
sosial. Dan rasa cinta ini pula yang akan membantu laki-laki dan perempuan untuk melestarikan keturunan agar kehidupan harus terus berlanjut. Dan itu dibingkai dalam sebuah kontrak sosial bernama perkawinan.

Sekali lagi, cinta adalah naluri manusia. Karena cinta sebagai salah satu naluri, maka ia berasal dari dalam kalbu. Manusia memiliki hati yang dalam bahasa arabnya kalbu, yang artinya “bolak-balik”. Oleh karena itu, ia sering berubah-ubah, kadang ke kiri dan kadang pula ke kanan. Begitu juga dengan cinta, maka ia akan mengalami pasang surut. Cinta mengisi suatu waktu, sedangkan waktu itu terus berlalu.

Karenanya, cinta pun dapat berlalu. Quraish Shihab menyinggung perihal cinta, “Sebelum bercinta, seseorang merasa dirinya adalah salah satu yang “ada”. Tetapi, ketika bercinta, ia dapat merasa memiliki segala yang “ada”. Dan ketika cintanya putus, ia merasa “tidak ada” dan hampa. Demikianlah cinta mempermainkan manusia.”
Cinta itu letaknya di hati, meskipun tersembunyi, namun getarannya jelas sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan kita sehingga kadangkala kita melakukan hal terbodoh tanpa kita sadari. Menurut pakar Neurosains, Taufik Pasiak, bahwa ketika seseorang jatuh cinta semua zat kimia dalam tubuh, terutama dopamin dan oksitoskin dalam otak, mengalami fluktuasi dalam darah. Ini yang menjelaskan mengapa ketika seseorang jatuh cinta ia dapat melakukan apa saja yang dalam situasi normal tidak mungkin dilakukan. Dada bergemuruh, denyut nadi bertambah, napas memburu, dan gairah meningkat ketika cinta membara datang mendera seseorang. Dalam keadaan jatuh cinta, kita menjadi sangat obsesif terhadap pasangan. Akibatnya, sulit tidur, pikiran terfokus pada pasangan.

Lebih dari itu, jatuh cinta memiliki fenomena kimiawi yang sama dengan penyakit jiwa bernama obsesif-kompulsif atau OCD. Monatella Marazitti, profesor psikiatri dari Universitas Pisa Italia, sebagaimana yang dikutip oleh Taufik Pasiak, membandingkan kadar serotonin (zat kimia yang diproduksi otak) pada 24 orang yang sedang jatuh cinta dalam enam bulan terakhir dengan para penderita penyakit tersebut dan orang yang tidak kasmaran atau mengalami OCD itu. Ia menemukan bahwa kadar serotonin pada orang yang jatuh cinta dan penderita OCD turun hingga 40 persen di bawah normal.

Dengan kata lain, orang yang jatuh cinta memiliki gejala yang sama dengan OCD. Walaupun tidak dikatakan secara eksplisit, tetapi tersimpulkan dari riset ini bahwa orang yang sedang jatuh cinta menjadi sangat tidak rasional dan kehilangan nalar yang kritis, seperti halnya penderita gangguan jiwa. Masuk akal jika ada kisah seperti Julius Caesar yang ketika jatuh cinta kepada Cleopatra mengabaikan banyak masalah negara dan politik.

Namun, setelah kita tahu gambaran cinta di atas, ada satu hal yang mesti diingat bahwa cinta akan diuji oleh waktu. Semua orang mendambakan cinta yang terjalin akan indah dan berseri sepanjang masa. Namun kehangatan api cinta bisa padam, keindahan pesona cinta bisa memudar dan hilang. Diperlukan pemahaman dan usaha untuk menyalakan api cinta dan mempertahankan keindahan cinta.

Setelah cinta itu terjalin hanya satu kata yang diperlukan untuk melanggengkannya, yaitu saling setia. Kata itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Karena ini berkaitan dengan waktu. Seiring berjalannya waktu maka godaan demi godaaan akan menguji kesetiaan. Tapi dalam keadaan apapun kesetiaan harus tetap dijaga, sebab tidak mungkin mempertahankan cinta tanpa kesetiaan. Manusiawi sekali kalau sewaktu-waktu kamu mengagumi dan menyukai orang lain yang sangat menarik, namun kesetiaan akan mencegah kamu mengkhianati orang yang anda cintai dengan cara apapun. Kesetiaan juga akan diuji oleh situasi dan kondisi yang buruk. Kesetiaan akan memilih untuk tetap mencintainya ketika dia sakit, ketika dia tidak berdaya, atau ketika dia tidak menarik lagi secara fisik.

Terlebih-lebih lagi setelah dua insan yang saling mencintai itu sudah menikah. Mereka sudah diikat dengan janji setia dengan disaksikan banyak orang. Jadi, setelah ijab-kabul diikrarkan, dua insan yang sudah terikat janji suci perkawinan itu akan membentangkan layar pertanda biduk rumah tangga mulai mengarungi lautan kehidupan. Setelah itu, cinta akan terlihat secara jujur, karena tidak ada tabir pembatas lagi bagi sepasang suami-istri dalam berinteraksi.

Dalam perkawinanlah cinta akan diuji seiring dengan berbagai ujian kehidupan rumah tangga, seiring pengetahuan akan kelebihan dan kekurangan pasangan, yang mungkin jauh dari harapan awal sebelum menikah. Maka dapatlah kita katakan bahwa orang yang setia sesungguhnya adalah orang yang begitu berkarakter.

Kesetiaan dalam relasi suami isteri mengandung pengertian saling memiliki satu sama lain, tanpa terbagi dengan orang lain. Dengan demikian kesetiaan sejati mengandung pengertian, baik suami atau isteri, tidak membagi emosi, apalagi fisiknya kepada orang lain. Dalam hidup perkawinan, kesetiaan sesuatu yang sangat penting bahkan mutlak, bagi isteri maupun suami.

Kesetiaan itu melepaskan diri dari sifaf egoisme dan melebur pada komitmennya masing-masing. Kesetiaan itu juga membuat kita berani melakukan hal-hal yang besar, yang kadang oleh diri kita sendiri merasa tidak mampu. Maka, tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa buah dari kesetiaan adalah kesuksesan, dapat memperkaya diri, dan yang pasti akan mendatangkan rahmat. Mencapai kesuksesan dengan memegang kesetiaan memang tidak mudah. Hal itu membutuhkan pengorbanan entah itu harta maupun waktu dan tenaga yang harus kita bayar untuk mempraktikkannya. Ia harus dibayar mahal. Karena kita tahu bahwa menerima hal-hal yang kurang baik itu gampang tapi untuk menerima dan menjalankan hal-hal yang baik itu sulit. Hal itu senada dengan kalimat yang pernah saya dengar ini, “Jika kesetiaan dan ketulusan berjalan beriringan maka kesuksesan akan menanti di ujung jalan. Berbahagialah orang yang mendapatkan orang yang setia.”

Selain setia pada pasangan kita, ada satu kata kunci lagi, yaitu pengorbanan. Seorang Ayah mesti berkorban untuk atau demi sesuatu yang dia cintai, istri dan anaknya. Dia akan rela bekerja tak kenal lelah mencari nafkah demi istri dan anaknya. Dia keluar memeras keringat, banting tulang. Itulah pengrobanan. Hal yang nyata juga pada para TKI. Mereka pergi ke luar negeri, meninggalkan keluarga, kerabat dan kampung halaman, hanya untuk suatu pengorbanan. Sungguh banyak lagi kisah-kisah yang bisa kita jadikan contoh perihal pengorbanan ini.
* * *

Cinta adalah bagian dari emosi yang semua manusia normal mengalaminya. Cinta adalah kebutuhan yang mesti dipenuhi. Oleh karena itu, Abraham Maslow memasukkan cinta ke dalam hirarki kebutuhan manusia. Maslow juga mengatakan jika kebutuhan ini tidak dipenuhi maka anda akan merasakan kesepian yang begitu mendalam.
Cinta sendiri ada tiga macam istilah yang masing-masingnya mempunyai kecenderungan berbeda-beda.

Pertama, Eros, asal kata ini adalah dari dewa mitologi Yunani, bernama Eros, nama dewa cinta. Cina eros adalah cinta manusia semata, yang diinspirasi oleh sesuatu yang menarik dalam objeknya. Eros merupakan cinta yang tumbuh dari seseorang kepada yang lain. Misalkan, si A suka sama si B karena si B cantik. Faktor yang berperan dalam cinta ini lebih disebabkan pada yang berhubungan dengan fisik, sebagaimana dalam bahasa Inggrisnya “erotic”.

Kedua, Philia, setingkat lebih tinggi dari eros, berhubungan dengan jiwa ketimbang fisik. Misalnya, cinta antar sahabat. Cinta ini juga menyentuh kepribadian manusia—intelektual, emosi, dan kehendak, melibatkan saling berbagi. Philia ini cinta yang tumbuh dari perhatian dan kebersamaan. Ada sedikit unsur eros dalam philia. Kita memilih teman karena kesenangan yang bisa kita dapatkan dari mereka. Ada kualitas pribadi dalam mereka yang kita hargai, kepintaran dan ketertarikan budaya, dan ekspresi diri yang saling memuaskan.

Ketiga, Agape. Ini adalah kasih Tuhan, kasih yang tidak mencari kesenangan sendiri, tapi senang memberi tanpa menuntut balas. Misalnya cinta seorang ibu terhadap anaknya.

Terkait dengan ketiga macam cinta di atas, di bawah ini terdapat cerita tentang cinta yang saya kutip dari Arvan Pradiansyah, motivator ternama. Silakan anda menebak cinta apa yang pantas untuk disandang pelaku dalam kisah di bawah ini.
“Kisah ini tentang seorang anak SD yang miskin bernama Joni yang hanya memiliki seorang sahabat di kelasnya. Joni sering diejek dan dihina teman-temannya. Suatu ketika menjelang ulang tahun Joni, sahabatnya membayangkan betapa hari itu akan merupakan hari yang paling menyedihkan bagi Joni. Betapa tidak, tak ada orang yang akan mengucapkan selamat ulang tahun. Tak ada kue ulang tahun, tak ada hadiah, tak ada yang peduli. Karena itu, si sahabat menceritakan hal ini kepada ibunya dengan harapan sang ibu dapat menolongnya. Dan di hari berbahagia itu, sang ibu membuat kejutan. Ia muncul di pintu kelas anaknya sambil membawakan kue dengan lilin yang menyala, menyanyikan lagu ulang tahun kemudian menyalami Joni yang hanya tertegun meneteskan air mata menyaksikan kejutan tersebut. Berpuluh tahun kemudian peristiwa ini dikenang sahabatnya sebagai salah satu peristiwa yang paling indah dalam hidupnya. Ia mengatakan, ”Aku hampir tak bisa mengingat lagi nama teman-temanku yang ikut merayakan ulang tahun itu. Aku pun tak tahu lagi di mana Joni sekarang berada. Tapi setiap kali aku mendengar lagu yang sangat kukenal itu, aku ingat hari itu, saat nada-nadanya berbunyi sangat indah: di dalam suara Mama yang lembut, cahaya dalam mata seorang anak laki-laki dan kue yang paling manis.

Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru.
"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya. "Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
(From : Suluk - logsome)
* * *
Saat anda menghadapi persoalan yang rumit, sangatlah mudah menimpakan semua kesalahan kepada Tuhan. Anda akan berkata, Mengapa dari sekian milyar orang yang Kau ciptakan, kenapa harus aku yang menanggung beban permasalahan ini ya Tuhan? Ya, sangat mudah kita berputus asa, dan berpikir seperti itu. Oleh karena itu, ketika pikiran negatif kita berkuasa, kita akan berpikir untuk menimpakan semua masalah itu ke Tuhan dan lalu menyesal kenapa semua itu harus terjadi pada kita.
Tapi, percayalah, selalu ada pikiran positif yang akan memberikan alternatif yang lebih menenangkan jiwa kita, lalu membuat kita bersyukur di balik semua masalah yang menimpa kita. Bersyukur bahwa semua masalah itu dapat kita hadapi dan membuat kita lebih dewasa. Singkatnya, kita akan belajar tentang hidup ketika kita menghadapi masalah.
Sadarlah selalu, bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki masalah, hanya kadar dan macamnya saja yang berbeda-beda. Seseorang, misalnya, sedang mempunyai masalah dengan keluarganya, sementara yang lain mengalami kesulitan keuangan. Namun intinya sama, yaitu bebas dari masalah. Disadari atau tidak sesungguhnya Tuhan menciptakan persoalan sesuai dengan kemampuan manusianya. Jadi, pada dasarna tergantung pada manusianya, apakah mampu mengatasinya atau tidak. Bahkan tidak hanya mengatasi, apakah mengubahnya menjadi lebih baik atau tidak.
Menyikapi masalah atau persoalan, setiap manusia mempunyai dua cara meresponnya, ada yang dengan senang hati menerimanya dan ada pula yang putus asa.
Respon yang paling bijak adalah terima masalah tersebut dengan lapang dada, tidak menyesali apa yang telah terjadi dan selalu memupuk spirit. Sungguh, hidup adalah anugerah, sehingga cobalah untuk menerima dengan lapang dada dan senang hati meski hidup terkadang pelik dan sulit. Hidup juga perjuangan, hadapilah semampunya, cari solusinya jika mendapati masalah atau persoalan. Dan jika tidak bisa, mintalah bantuan kepada yang mau dan mampu memecahkan permasalahan kita.
Benar sekali bahwa seseorang belum dikatakan teruji kalau belum tersandung masalah. Kebahagiaan maupun kesuksesan sejati sesungguhnya berawal dari timbulnya masalah, namun dapat diatasi dengan baik. Kita sering mendengar bahwa “dibalik kesulitan, ada kemudahan“.
Cinta, benci, sedih, dan bahagia, itu semua diawali dari pemikiran kita sendiri dan rangsangan dari pihak luar tubuh kita. Semua itu masuk ke dalam otak kita yang mempunyai kadar pertimbangan sendiri untuk memikirkan bahwa input tersebut menyenangkan atau tidak.
Tidak ada orang yang bahagia selamanya. Begitu pun sebaliknya, tidak ada orang yang sedih selamanya. Namun, ada orang yang sebagian besar hidupnya dia merasakan kebahagiaan, walau minim harta, apalagi tahta. Ada juga yang merasakan kesedihan yang tak berujung, walau dia bergelimang harta dan tahta. Bahagia dan sedih sesungguhnya hanya dipikiran kita saja. Kita sendirilah yang membuatnya, mau dibuat sedih atau bahagia. Ya, terkadang situasi sekitarlah yang sedikit banyak mempengaruhi suasana hati kita. Ada orang yang saat perasaan sedih datang, ia melampiaskannya dengan mendekatkan diri pada agama, atau mendengar musik, bahkan menonton dan membaca kisah-kisah lucu. Tapi, ada juga melampiaskannya pada hal-hal negatif, tak patut saya sebutkan di sini. Anda dapat melakukan macam lainnya, misalnya dengan menyenangkan hati orang-orang terdekat, yang pada intinya melakukan hal-hal positif. Marilah kita sejak dini—saat ini—mengenali jati diri kita., agar kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dari sekarang.
Suatu kali, Mario Teguh, sang Motivator dan konsultan, mendapatkan seseorang “curhat” mengenai pengalaman buruk yang dialaminya. Orang itu bercerita bahwa dirinya merasa dikhianati oleh seseorang yang telah menipunya habis-habisan. Singkatnya, dalam hubungan itu, ia ditinggalkan dan dicampakkan begitu saja. Hatinya perih dan pedih bila mengingat peristiwa itu. Kebahagiaannya hingga saat itu hilang ditelan bumi. Orang itu lalu bertanya pada Mario bagaimana cara menghilangkan perasaan tersebut.
Sang motivator plus konsultas tersebut kemudian memberiman solusinya, bahwa janganlah mengeluhkan perubahan yang terjadi di sekitar kita, dan menyalahkan atas ketidakbahagiaan kita. Mario berujar, “Ingatlah bahwa sumber utama dari ketidak-bahagiaan adalah penolakkan terhadap yang telah terjadi. Apakah yang bisa Anda lakukan untuk yang telah disebut ‘tadi'?Kehidupan Anda berada dalam rentang waktu yang disebut ‘sekarang' dan sedang terjadi sekarang - sehingga satu-satunya waktu yang bisa Anda gunakan untuk menyebabkan perubahan yang membahagiakan adalah sekarang.”
Ya, saya sepakat dengan Mario bahwa kita memang tidak akan mampu mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kita tetap berkuasa penuh atas apa yang dapat kita lakukan untuk menjadikan apa pun yang terjadi sebagai alasan bagi upaya-upaya terbaik kita. jadi, saat inilah untuk mengubah energi negatif menjadi energi positif.
Mario juga mengatakan bahwa bila kita mensyaratkan kebahagiaan atas suatu keadaan, maka kita pasti tidak akan berbahagia dalam keadaan yang lain. Karena perubahan adalah nama dari perjalanan hidup kita. Oleh karena itu jadikanlah diri kita mampu merasakan kebahagiaan dalam keadaan apapun.
Rasa senang, bahagia, kesal, kecewa adalah salah satu rasa yang ada dalam hati kita. Kita tentu lebih suka jika rasa itu adalah senang dan bahagia bukan? Tetapi apakah kita tetap bisa bahagia dan senang meskipun kita mengalami kejadian yang buruk? Harus kita sadari bahwa kita tak akan pernah bisa mengubah kejadian itu sesuai dengan keinginan kita. Satu yang pasti, kita bisa menentukan rasa yang muncul. Itulah yang dinamakan menata hati. Sangat sulit memang mempraktikannya, walau mudah juga sebetulnya.
sedari kecil kita telah terbiasa merespon hal-hal yang ada sesuai dengan persepsi kita. Kita selalu berpikir bahwa ketika ada sesuatu yang di luar harapan maka respon yang paling tepat adalah kecewa atau marah. Dan ketika bisa mendapatkan apa yang kita inginkan maka kita akan senang dan bahagia.
Sesungguhnya kebahagiaan dan ketenangan sejati itu tidak tergantung pada apa yang terjadi di luar kita. Kedua hal itu sangat bergantung dengan keadaan di dalam diri kita, pun tidak bergantung pada apa yang kita miliki, siapa kita, pendidikan kita, jabatan kita, dan lain-lain. Kebahagiaan datang dengan menutup mata. Kebahagiaan menghampiri pada siapa saja. Hanya saja kebahagiaan terkadang datangnya tidak gratis. Kita harus melewati ujian-ujian terlebih dahulu, atau juga kadang harus kita kejar baru bisa kita dapatkan.
Oleh karena itu, ada dua yang pasti kita dapatkan dalam meraih hidup ini di mana keduanya harus kita terima dengan ikhlas, jangan hanya salah satunya saja. Dua hal itu adalah bahagia dan sedih/kecewa. Bersiap-siaplah menerima kebahagiaan itu, tapi bersiap-siap pula menerima kesedihan. Marilah kita terima kedua rasa itu sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bukankah di dunia ini banyak sekali yang berpasangan, kebahagiaan dan kekecewaan adalah salah satunya. Di mana ada bahagia pasti ada kecewa. Begitu juga sebaliknya di mana ada kekecewaan pasti ada kebahagiaan.
Kebahagiaan sesungguhnya tak perlu ditunggu. Rasakanlah saat ini juga. Kebahagiaan dapat kita ciptakan saat ini juga. Awalnya memang sulit dan terkesan dibuat-buat. Tapi lama kelamaan anda akan mendapatkan manfaatnya. Perasaan maupun pikiran anda akan jauh lebih tenang dan damai. Bukankah tujuan utama hidup kita ini adalah meraih kebahagiaan? Entah itu kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Nikmatilah kebahagiaan itu saat ini juga. Syukurilah kehidupan kita bagaimana pun adanya, dan betapa pun beratnya hidup yang kita jalani ini. Dengan begitu hidup kita terus berjalan dengan senyum bahagia.
Apakah anda mengukur kebahagiaan dengan materi atau uang? Waspadalah jangan sampai terjebak oleh kebahagiaan semu itu. Karena kenyataannya banyak orang yang bergelimang harta justru mereka merasa tidak bahagia. Oleh karena itu sadarilah bahwa kebahagiaan itu tidaklah identik dengan uang. Kebahagiaan ada di setiap kalangan: atas, menengah, dan bawah.
Saya pun menyadari bahwa tidak mudah memang saat kita mengalami kesulitan keuangan sering kali kita ditimpa kepiluan yang begitu mendalam, tiba-tiba hidup begitu susah. Tapi, kita harus menyadari bahwa kita adalah hamba Tuhan yang sudah diberi anugerah, bahwa seberat apa pun masalah yang kita hadapi sesuai dengan kadar yang Tuhan berikan pada kita. Kita harus yakin akan hal itu. Tuhan tidak serta memberikan kesulitan melebihi apa yang tidak kita atasi.
Ada seorang sahabat menceritakan kepada saya, bahwa dirinya pernah waktu dulu ingin bunuh diri. Persoalan yang dihadapinya, menurutnya, begitu berat. Ditambah lagi dengan situasi bangsa yang semakin terpuruk saja dalam segala hal, terutama dalam hal ekonomi. Dia merasa yang kaya semakin kaya saja, dan sebaliknya, yang miskin semakin miskin.
Tapi seiring waktu berjalan, ia mulai kembali kepada kesadarannya. Ia menata hati dan pikirannya lagi. Dan ia mendapat pencerahan bahwa hidup itu sungguh-sungguh berharga. Apalagi, katanya, ketika ia melihat seorang bapak yang berjualan roti di bulan puasa waktu sahur. Ia mendengar pedagang roti yang sering ia beli waktu dirinya masih kecil, demi untuk melanjutkan hidup. Pedagang itu berjuang pantang menyerah walaupun keadaan hidup semakin berat dengan berdagang roti di saat orang-orang sedang sahur.
Ia juga mengaku tersadarkan saat melihat tukang sapu di jalanan yang kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu. Walau wajah mereka terlihat lelah dan terbakar oleh sengatan matahari, mereka tetap menjalaninya dengan tulus tanpa berkeluh kesah. Ya, mereka adalah para pejuang sejati.
Jadi, alangkah malunya jika kita sedih (terlalu lama) dan berputus asa, apalagi sampai mau bunuh diri, karena orang-orang yang taraf hidupnya di bawah kita saja begitu tulus menjalani hidupnya. Mereka bekerja keras dan tak ada waktu untuk bermuram durja serta meratapi kesusahannya. Daripada tenaga kita habis oleh hal-hal negatif yang sesungguhnya lambat laun akan menggerogoti “dunia” kita yang berharga, lebih baik salurkan energi positif kita yang tanpa kita sadari akan membantu kita mendapatkan kebahagiaan. Mari kita membantu orang lain dan yakinlah hidup kita akan baik pula. Sekecil apa pun yang kita lakukan, yakinlah bawha hal itu akan mempunyai dampak yang besar pada diri kita.
Ada benarnya jika hidup ini diumpamakan seperto roda, karena kadang kita di atas, kadang kita di bawah. Kadang kita sedih tapi kadang juga senang. Ketika kita berada di bawah dan selalu di rundung sedih dan menderita, yakinlah kalau hidup kita akan berubah kepada yang lebih baik. Tentunya asal kita terus berusaha dengan disertai doa yang tulus. Mudah-mudahan dengan keyakinan itu membuat sikap selalu optimis. Jadikanlah hati anda seluas samudra, jangan hanya sesempit gelas.

Hasrat yang Besar

Beethoven mempunyai ambisi dan kemauan yang besar. Perhatikanlah apa yang dikatakan H.A. Rudall dalam biografinya berjudul Beethoven, “Pada musim dingin atau musim panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian dia duduk di depan meja tulisnya, dan terus menulis sampai waktu makan siang yang biasanya dia lakukan pada pukul dua atau tiga sore.

Pekerjaannya tidak terputus kecuali untuk berjalan-jalan mencari udara segar, tetapi selalu dengan membawa notes untuk menuliskan inspirasi segar yang didapatnya ketika dia berjalan.”

Hodini, si tukang sulap, adalah contoh yang lain. Di bawah ini adalah sebuah pernyataan dari buku Harold Kellock berjudul Biography of Houdini, “Latihannya untuk berbagai adegan penyelaman, adegan berbahaya, dan aksi yang membutuhkan ketrampilan tinggi, seperti berada di dalam kotak baja di bawah air selama satu setengah jam merupakan latihan yang sangat berat. Selama berbulan-bulan, beberapa kali dalam sehari dia akan berlatih menyelam di dalam air di kamar mandinya sendiri, sambil memegang sebuah Stop Watch untuk menguji ketahanannya. Dia memperpanjang waktu penyelamannya setiap hari sampai dia mampu berdiam di bawah air hingga lebih dari empat menit tanpa kesukaran—membiasakan dirinya dengan keadaan yang minim oksigen, sehingga ia mampu menghirup udara yang banyaknya tidak mencapai 1m³ di dalam kotak baja dan bertahan di situ sampai waktu yang hampir tidak dapat dipercaya.”

Keinginan yang membara merupakan kebiasaan dan dapat dilatih. Sukses merupakan pencapaian yang terus-menerus dari tujuan yang menantang dan bernilai. Anda dapat membiasakan diri untuk meraih sukses dengan membangun hasrat besar nan terarah. Earl Nightingale dalam buku buku Our Changing World, memberikan rumus untuk menghasilkan banyak materi:
1. Masuklah dalam suatu bisnis atau pekerjaan yang benar-benar membuat anda tertarik, sesuatu yang benar-benar mengasyikan bagi anda sehingga anda merasa nyaman untuk menghabiskan 12-15 jam sehari untuk mengerjakannya, dan untuk memikirkannya pada waktu yang tersisa.
2. Pelajarilah sebanyak mungkin pekerjaan itu, dan apa yang dikerjakan orang lain di bidang yang sama, terutama mereka yang berhasil.
3. Curahkanlah diri anda sepenuhnya. Yakni, dengan sepenuhnya memberikan diri anda pada bidang ini dan berketetapan hati untuk berhasil di dalamnya.
4. Bersabarlah. Ketahuilah bahwa salah satu unsur keberhasilan adalah mengetahui bahwa untuk berhasil memerlukan waktu yang tidak sedikit. Anda harus menekuni pekerjaan itu sekurang-kurangnya selama lima tahun, dan harus tegar dalam kegetiran selama masa itu, sampai dapat dikatakan berhasil. Kebanyakan sukses yang sejati bersumber pada lima tahun pertama ini.
5. Belajarlah untuk mengabaikan hal-hal yang tidak penting dan mengganggu. Waktu anda terbatas, jadi pastikanlah bahwa anda menggunakan waktu yang ada sebaik-baiknya untuk hal-hal yang menguntungkan.
6. Ciptakanlah, jangan bersaing. Berpikirlah maju dan bergeraklah dengan keberanian yang cerdik untuk memasuki wilayah perkembangan yang baru dan mungkin belum pernah dijajagi. Jadilah pemimpin, jangan hanya mengekor.

Tidak ada jalan pintas untuk keberhasilan. Banyak orang berpikir bahwa satu-satunya jalan untuk maju adalah dengan memanfaatkan pengaruh dan kedudukan orang lain atau menipu, atau dengan rekomendasi dari seseorang yang berkedudukan tinggi. Meskipun akhirnya anda bisa mendapatkan posisi itu, pasti anda tidak akan bertahan lama kecuali bila anda menguasai prinsip-prinsip keberhasilan; atau anda mengenal bidang anda dengan baik; atau anda mampu bersaing dengan semua orang yang menduduki posisi yang sama bukan saja, dalam pekerjaan sendiri sendiri tetapi juga di antara pekerjaan-pekerjaan saingan lainnya. Sebenarnya, memanfaatkan pengaruh orang lain, atau membonceng nama besar orang lain merupakan hal terburuk yang dapat terjadi pada orang muda yang sedang mencoba untuk berhasil. Hal itu dapat membuatnya hancur.

Anda dapat menghasilkan keinginan yang membara. Saya akan memberi anda sebuah rumus: pertama, anda harus mempunyai suatu tujuan; dan tentu saja tujuan-tujuan adalah juga cita-cita. Tujuan dan cita-cita berbeda hanya pada derajatnya saja. Cita-cita merupakan impian jangka panjang dan menyeluruh hidup anda; tujuan adalah tempat pemeriksaan dalam perjalanan menuju sukses. Apakah anda tahu ke mana anda menuju? Apakah anda tahu apa yang harus anda lakukan? Ingat, kita akan menjadi seperti yang kita pikirkan. Jika anda mempunyai tujuan, anda mempunyai gambaran tentang diri anda. Jika anda mempunyai tujuan, anda hidup, bernapas, berjalan, dan bertindak secara dinamis dan terarah. Jika anda melihat di jalan, orang-orang yang sedang bergegas, dengan kepala tegak, pundak tegap, dengan sikap militer, dengan langkah laku yang tegas, itulah orang yang mempunyai tujuan. Dia tahu apa yang dia kerjakan. Tidak mungkin seorang pengecut menjadi ksatria.

Napoleon Hill mengatakan, “Setiap gagasan yang ada dalam pikiran, yang ditekankan, dihormati atau yang membuat kita takjub, segera mulai membungkus dirinya dengan bentuk fisik yang paling pas dan nyaman yang tersedia.” Hill juga mengatakan, “Pemindahan pemikiran dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar dapat dipercepat melalui proses sederhana percepatan atau perangsangan getaran pikiran oleh ketakutan, kepercayaan, atau emosi lain yang sangat kuat, seperti semangat yang tinggi, yakni keinginan membara yang didasari oleh tujuan yang jelas dan pasti.”

Chirtopher Columbus memimpikan sebuah dunia baru dan bertolak untuk menemukannya tanpa menghitung betapa besar ongkos yang harus ditanggung. Kita pun tahu apa yang terjadi sesudah itu. Thomas Alva Edison bermimpi untuk menerangi dunia dengan lampu pijar dan dia harus mengalami 10.000 kegagalan, dia mampu memberi penerangan bagi dunia. Samuel Johnson mengatakan, “Keinginan kita selalu meningkat sebanding dengan apa yang sampai saat ini belum kita nikmati, merusak kegembiraan untuk semua yang baik yang ada di hadapan kita.”

Cara kedua untuk menghasilkan keinginan yang membara adalah dengan memperbarui energi dinamik kita. Jangan biarkan diri kita menjadi kendor atau loyo. Ingat kata Dale Carnegie: “Apakah menyampaikan kepada dirimu kata-kata pembangkit semangat setiap hari itu dangkal dan kekanak-kanakan? Tidak, bahkan sebaliknya. Itulah sebenarnya inti psikologi yang baik.” Tetaplah bergairah dengan pekerjaan anda. Kita bergairah kalau mengikuti dengan sepenuh hati jalan menuju keberhasilan yang luar biasa, romantis, dan penuh semangat di hadapan kita.

Manusia menjadi kendor atau loyo karena beberapa hal: terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak bermain atau bersenang-senang, tidak ada aktivitas rutin, gagal menemukan atau mencapai keseimbangan dalam hidup. Manusia adalah makhluk dengan empat sisi. Dia adalah fisik, mental, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, aktivitas harian dan mingguan anda seharusnya mencakup stimulasi mental yang kreatif. Sangatlah penting bahwa anda mendapatkannya dalam pekerjaan anda. Orang yang sedikit mengendor selama delapan jam di tempat kerja, tidak berdaya juga di rumah.

Tentu saja harus ada stimulasi yang bersifat menggembirakan dan berarti dalam hubungan bermasyarakat, harus ada pembinaan hubungan baru dengan orang lain, dan harus ada pemeliharaan serta penguatan hubungan yang sudah ada. Tentu saja, setiap orang membutuhkan program latihan kebugaran dan peningkatan kebugaran. Kita semua adalah juga makhluk spiritual dan memerlukan peribadatan harian atau mingguan. Pilihlah tempat ibadah yang anda sukai dan curahkanlah diri anda sepenuhnya di sana. Tidak mungkin terjadi hubungan yang inten dengan Tuhan saat berada di sembarang tempat. Sepanjang hidup anda harus ada kenikmatan dalam beribadah.

Cara ketiga untuk menghasilkan keinginan yang membara adalah dengan tetap berkompetisi dalam pekerjaan anda. Tumbuhkanlah dan peliharalah kegembiraan keberhasilan dan semangat berkompetisi dengan orang lain yang terlibat dalam pekerjaan yang sama. Orang yang berhenti bekerja, mati dalam bisnisnya saat itu. Orang sering mengatakan kepada saya, “Kapan anda punya waktu untuk membaca?” Kita selalu menemukan waktu untuk hal-hal yang ingin kita kerjakan dan itu sangat besar artinya bagi kita. Saya membaca ketika berada di pesawat terbang atau sedang menunggu di ruang tunggu dokter. Saya membaca setiap saat, pada waktu-waktu yang oleh kebanyakan orang disia-siakan. Saya membaca jauh di malam hari setelah selesai dengan tanggung jawab saya, sedangkan orang lain memilih menonton acara televisi yang tidak berarti. Perhatikanlah hal-hal yang baik; ikutilah apa yang berguna dari acara televisi; tetapi berlatihlah untuk menolak hal-hal yang tidak terencana atau tanpa tujuan dalam hidup anda.

Yang keempat adalah berikanlah ucapan selamat secara teratur kepada diri anda atas keberhasilan yang anda capai. Hitunglah berkah yang anda terima. Sadarilah bahwa anda bekerja untuk mencapai tujuan anda, bahwa anda sedang mengejar prestasi.

Cara kelima untuk membangun keinginan yang membara adalah dengan menjadi kreatif. Untuk menjadi seperti itu, anda harus mendorong diri anda. Anda memiliki kemampuan yang besar dan tidak terbatas—kemampuan yang belum pernah tertantang, kemampuan yang belum pernah dikembangkan. Di beberapa perguruan tinggi, 75% dari mahasiswa baru berhenti kuliah. Bukankah itu sangat tragis? Mereka tidak mungkin lolos ujian kalau mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya. Tetapi mereka tidak kreatif; mereka tidak menantang diri mereka sendiri; mereka tidak siap untuk berhasil.

Mulai saat ini mari nyalakan hasrat anda menuju cita-cita.