Padi tumbuh dalam kesunyian, sejak hijau hingga menguning. Dia tidak banyak "bicara" dan gembar-gembor untuk mempersiapkan kematangannya. Dan saat matang dia justru merunduk. Semakin berisi semakin tunduk. [iqbal.dawami@gmail.com]
Kamis, 24 September 2015
Senin, 31 Agustus 2015
Cinderamata dari Tebuireng
Buku ini memberi teladan kepada lembaga entah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, maupun usaha, bahwa sebuah lembaga selayaknya mempunyai buku sejarahnya. Tidak hanya penting tetapi juga mempunyai manfaat yang luas. Letak pentingnya jelas bahwa dengan menuliskan sejarah lembaga tersebut akan “terabadikan” dari masa ke masa. Para pelaku sejarahnya mungkin sudah tidak ada, tetapi rekaman sejarahnya berupa buku tersebut akan tetap ada dan dibaca oleh generasi selanjutnya.
Sedang letak manfaatnya seperti: ajang promosi, rujukan setiap yang mau menuliskannya, cinderamata, dll. Buku profil secara tidak langsung akan menjadi ajang promosi lembaga tersebut. Mereka yang membacanya siapa tahu tertarik dan terbersit untuk melakukan kerjasama. Dengan buku tersebut juga akan dijadikan referensi bagi para peneliti entah itu siswa, mahasiswa, dosen, peneliti, dan siapa saja yang membutuhkannya. Jadi jelas sekali manfaatnya, bukan?
Sedang letak manfaatnya seperti: ajang promosi, rujukan setiap yang mau menuliskannya, cinderamata, dll. Buku profil secara tidak langsung akan menjadi ajang promosi lembaga tersebut. Mereka yang membacanya siapa tahu tertarik dan terbersit untuk melakukan kerjasama. Dengan buku tersebut juga akan dijadikan referensi bagi para peneliti entah itu siswa, mahasiswa, dosen, peneliti, dan siapa saja yang membutuhkannya. Jadi jelas sekali manfaatnya, bukan?
Dan yang tidak kalah penting manfaatnya juga adalah menjadi cinderamata. Ya, buku yang isinya profil lembaga tersebut bisa dijadikan cinderamata bagi para tamu dan relasi. Ketika ada tamu atau relasi yang berkunjung ke lembaga Anda, maka Anda bisa memberikannya sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Keren, bukan? Jika saya perhatikan banyak sekali lembaga yang kedatangan tamunya tidak memberikan apa-apa yang bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh. Buku profil adalah oleh-oleh yang akan membekas di hati para tamu. Mereka merasa bahagia dan terhormat mendapat bingkisan itu. Tentu itu akan menjadi kredit poin tersendiri bagi lembaga yang bersangkutan.
Saya tersentuh saat mendapatkan cinderamata berupa buku Profil Pesantren Tebuireng ini. Buku ini diberikan saat saya main ke pondok Tebuireng. Memilikinya ada kebanggaan tersendiri. Saya harap lembaga-lembaga lain pun mempunyai buku sejarahnya untuk dijadikan cinderamata bagi tamu yang datang. Terima kasih.
Kamis, 09 Juli 2015
Sekolah Islam Athirah
Waktu itu, di dalam pesawat Makassar – Yogyakarta, tak henti-hentinya mulutku
mengucapkan hamdalah sebagai wujud rasa syukur. Syukur akan banyak hal. Saya
bukanlah siapa-siapa di depan mereka. Tapi perlakuan mereka membuat saya
tersanjung. Mengharukan. Betapa tidak, ada banyak kebaikan yang rasanya saya
tidak pantas untuk mendapatkannya.
Ada hal-hal dalam hidup ini yang selalu ingin kuingat. Salah satunya adalah
kenangan berkesan pada saat saya menghadiri launching buku Pemimpin Cinta
karya Edi Sutarto di Sekolah Islam Athirah, Makassar pada Februari 2015. Saya
merasa ada suatu bagian dari diri saya yang tertinggal di sekolah ini.
Pertama tiba di bandara, aku sudah ditunggu penjemput. Dia membawa mobil
sedan. Saat menaikinya aku seperti seorang direktur karena begitu istimewanya
mobil tersebut. Di dalam mobil aku disodori parcel dengan aneka panganan khas
Makassar. Di dalam parcel terselip ucapan selamat datang untukku. Nyess...
hatiku gerimis syahdu. Ucapan itu tertulis di daun kering. Ini penampakannya:
Di mobil itu sudah ada seorang editor Mizan, Fuad Irawan, yang datang
setengah jam sebelum saya. Dia berangkat dari Jakarta. Kami berdua dibawa ke
hotel dimana kami akan menginap selama dua hari di Makassar. Kami sms Pak Edi,
selaku direktur Sekolah Islam Athirah, agar kami menginap di masjid sekolah
saja. Beliau hanya mengirim emoticon senyum. Bagi kami hotel bintang lima
itu terlalu mewah. Kami selaku jebolan pesantren sudah terbiasa tidur di
masjid. Justru kami tidak terbiasa tidur di kamar hotel semewah itu. Serba
kikuk. Bahkan cara mengeluarkan pasta gigi saja kami kebingungan, hehe.
Keesokan harinya kami ke sekolah untuk menghadiri launching buku tersebut. Kami
dibuat terkagum-kagum dengan konsep launchingnya. Seumur-umur baru kali itu
saya menemukan launching yang unik, kreatif, dan menyentuh. Launching buku itu diisi
oleh siswa semua. Mulai dari pemandu acara hingga pembicara. Di acara tersebut
juga terdapat musikalisasi buku, dimana lirik lagunya diambil dari cuplikan
buku yang sedang di-launching. Asyik sekali. Sungguh menggetarkan mendengarnya.
Kulihat ada dua grup musik di atas panggung yang saling bergantian menghibur para
peserta.
Dua hari kami di Makassar. Dua hari itu pula kami banyak menghabiskan waktu
di lingkungan sekolah Islam Athirah. Saya melihat bagaimana sekolah itu tumbuh
dengan karakter kuat. Setiap siswa berpapasan dengan guru mereka berucap salam,
dan sang guru menjawabnya. Siapa saja yang melihat sampah di dekatnya, mereka
langsung memungutnya dan memasukkannya ke tong sampah. Tidak guru, tidak siswa.
Sistemnya sudah berjalan dengan sangat baik. Kekompakan para gurunya juga luar
biasa. Pengabdiannya pada sekolah begitu militan. Semangat belajarnya untuk
tumbuh menyala-nyala. Hal itu saya lihat pada saat kami mengisi pelatihan
menulis untuk para guru sekolah tersebut.
Para pimpinan Sekolah Islam Athirah memang bermental driver, bukan
passenger. Masing-masing mereka punya tekad untuk selalu melakukan perubahan. Mereka
kompak untuk berkembang bersama. Mereka melakukan pembaruan dan
terobosan-terobosan dengan penuh keberanian.
Saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada semua orang-orang di
Sekolah Islam Athirah yang sudah mengundang saya di acara launching buku
tersebut. Terima kasih atas segala kebaikannya.
Begitulah kesan dalam
ingatan mesra saya pada saat berkunjung ke Sekolah Islam Athirah. Sekolah ini meninggalkan jejak indah di hati saya. Tabe.
Selasa, 23 Juni 2015
Lakukan dengan Cinta
Lakukanlah sesuatu dengan penuh cinta. Niscaya, engkau akan merasa bahagia
pada saat melakukannya. Rasa malas, terpaksa, benci, akan hilang seketika. Dan yang
ada hanyalah rasa senang dan bahagia. Dalam pikiran kita akan tertanam bahwa apa
yang kita lakukan ini merupakan sebuah ibadah, karena memberikan manfaat bagi
orang lain dan diri sendiri. Jadi ingatkan selalu dirimu pada saat melakukan
apapun untuk diiringi perasaan cinta. Niscaya bibirmu akan tersenyum, hatimu
akan tentram, pikiranmu akan damai, dan perasaan buruk apapun tak akan
mendekat.
Pada saat menulis, maka menulislah dengan penuh cinta. Pada saat bicara,
bicaralah dengan penuh cinta, pada saat membaca, membacalah dengan penuh cinta,
begitu juga dalam aktivitas lainnya. Termasuk pada saat mengetik dan minum
kopi. Mengetiklah dengan penuh cinta dan minum kopilah dengan penuh cinta. Rasakan
sensasinya.
Minggu, 21 Juni 2015
Untuk RB
Aku tak dapat menyembunyikan rasa bahagia saat kamu mengatakan bahwa kamu akan kembali ke khittah, jalan yang pernah kita tekuni bersama sewaktu mahasiswa dulu. Waktu itu, lantaran orangtuamu menyuruh pulang kampung, akhirnya membuat kamu putus mata rantai dengan jalan yang kita tekuni itu. Di kampung halaman, kamu merasa jauh dari dunia yang kita geluti itu.
“Dunia buku adalah dunia yang sangat saya cintai, makanya sejak selesai kuliah saya masih sempat membeli buku sampai lebih seribu judul,” ujar kamu. Kamu pun bercerita panjang lebar mengingat masa masa-masa kuliah dulu.
“Saya rela lapar-lapar asal saya membeli buku yang saya suka di emperan-emperan jalan, rasanya setelah memiliki buku saya merasa kenyang. Waktu mahasiswa hampir semua judul buku beserta letak-letaknya saya hafal di deretan rak perpustakaan IAIN, itu karena setiap hari saya ke perpus. Makanya kalau saya kenang kembali dunia yang hilang itu rasanya ada sejumput penyesalan yang maha besar di batin saya. Saya mau kembali start dari titik nol.”
Selamat datang kembali, kawan. Seperti yang sudah kuduga, kemanapun kamu pergi dan apapun yang kamu lakukan, dunia buku adalah hidupmu. Selamat membaca dan menulis, kawan!
Rabu, 10 Juni 2015
Dosen PTAI Harus Mampu Menulis Populer
Tidak banyak dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang mampu menulis dengan ngepop alias populer. Kebanyakan mereka menulis dengan kaku dan formal.
Mungkin sudah terbiasa
menulis untuk jurnal, laporan penelitian, dan laporan akhir waktu kuliah seperti skripsi, tesis, dan
disertasi. Oleh karena itu saya acungkan jempol apabila ada dosen yang bisa
menulis buku-buku keislaman untuk masyarakat umum, karena hampir dipastikan mereka menggunakan penulisan
populer.
Kemampuan menulis secara populer sangatlah penting bagi
kalangan dosen PTAI. Karena, pengetahuan keislaman yang mereka punyai tentu
sangatlah dalam dan komprehensif. Ilmu pengetahuan mereka sangatlah dibutuhkan
oleh masyarakat. Masyarakat butuh pengetahuan keislaman yang dalam,
multi-perspektif, dan bijak. Tiga hal itu saya pikir dosen PTAI sangat mumpuni.
Sebagai alumnus dari PTAI, saya merasakan betul betapa mumpuninya mereka dalam
kajian-kajian keislaman.
Masyarakat saat ini butuh bacaan keislaman yang mencerahkan,
toleran, santun, dan kaya perspektif. Dosen PTAI yang notabene-nya akrab dengan
kajian keislaman tentu harus menjadi ambil bagian dalam hal ini. Jika tidak,
buku-buku keislaman tidak ada kemajuan signifikan dari segi mutu dan kualitas.
Buku-buku keislaman hanya jalan di tempat, penerbit hanya akan menerbitkan buku
keislaman yang ganti judul dan kover saja, dan kontennya mutakarrirah alias
mengulang-ulang, tanpa ada gagasan baru.
Coba kalau para dosen PTAI yang menulis, mereka akan
menyuguhkan tema-tema keislaman yang dalam, penuh gagasan, dan kaya perspektif.
Tentu harus dibarengi dengan keprigelannya dalam mengolah gagasan dan
menyajikannya secara populer. Saya yakin buku-buku keislaman akan bergeliat dan
memengaruhi para pembaca; tercerahkan,
memahami persoalan, dan mewajarkan perbedaan. Mereka bisa menulis soal fiqih,
sejarah Islam, sirah nabawiyah,
tasawuf, dll.
Faktanya memang tidak
banyak dosen-dosen PTAI yang mau dan mampu menulis keislaman secara populer.
Mereka sudah nyaman dengan menulis di jurnal dan laporan penelitian yang dapat
dipresentasikan di depan akademisi yang diselenggarakan oleh lembaga
sponsornya. Tentu tidak salah, dan ini juga bukan soa benar atau salah. Mungkin
soal selera saja. Soal pilihan. Saya cuma menyayangkan saja, kenapa mereka
hanya menulis untuk jurnal dan laporan
penelitian saja, tidak
menulis buku? Atau walaupun menulis buku mereka menulis dengan bahasa yang
mengawang-awang tidak populer? Biasanya
sih itu pun buku proyek, atau hasil tesis atau disertasinya.
Bukan apa-apa, kajian keislaman yang tidak ditulis secara
populer itu tidak akan sampai kepada pembaca non-akademis, katakanlah pembaca
umum. Mereka akan kesulitan membacanya: kalau tidak pusing ya ngantuk. Mereka
tidak akan tergerak mengkhatamkannya. Untuk itu mereka harus menuliskannya
secara populer. Sungguh, masyarakat membutuhkan bacaan keislaman yang mumpuni.
Selama ini buku-buku keislaman populer ditulis oleh para penulis yang tidak
otoritatif. Mereka hanya mengambil rujukan-rujukan sekunder yang jelas tidak memadai
dalam mengkaji sebuah pembahasan. Tapi mereka menang dalam penulisannya. Ya,
mereka menulis dengan gaya populer. Tak aneh kemudian mereka mendapat tempat di
hati pembaca. Dan kajian keislaman
yang mereka tulis akan memengaruhi pola pikir dan perilaku pembaca juga.
Jadi, tak ada jalan lain (dan tak ada waktu lagi),
kini para dosen PTAI harus menulis kajian keislaman dengan gaya populer.
Apabila ada dosen yang kesulitan bagaimana cara menulis buku keislaman secara
populer, baiknya membaca buku saya ini, hehe... Jika dirasa masih kurang,
mereka bisa mengundang saya, itu lebih baik, hehe...
Terima kasih. Wallahu a'lam bisshawab.
Senin, 08 Juni 2015
Selamat Merayakan Cinta
Waktu kuliah saya mendapat pengetahun tentang ilmu tafsir. Salah satu metode tafsir yang saya sukai adalah tafsir tematik (maudhu’i). Saya menjadi tahu sejarah, keutamaan, dan aspek teknis-metodologis tafsir tematik. Hmm, rupanya pengetahuan itu menjadi bekal saya saat sudah lulus kuliah dan menekuni dunia literasi (baca-tulis). Begini ceritanya.
Tahun lalu semenjak resign ngantor, saya banyak waktu untuk membaca, menelaah, menulis, merenung (dan menangis kenapa memutuskan resign, hikss... [jiah ketauan deh]), termasuk membaca Al-Quran (bukan sok rajin, ini ikhtiar menghilangkan rasa galau, haha).
Saat membaca Al-Quran itu kerap saya menemukan “ayat–ayat cinta”, dengan redaksi “sesungguhnya Allah mencintai orang-orang...” dan dalam ayat lain saya menemukan juga “sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang...”. Aha! Saya kemudian terbersit untuk mengkajinya secara reflektif dan populer. Maka bulan ini terbitlah buku itu diterbitkan oleh Mizania. Udah gitu aja. smile emotikon
Bagi yang pengen beli hanya Rp 40.000,- (sudah termasuk ongkir)
Terima kasih
Langganan:
Postingan (Atom)



