Senin, 30 November 2015

Menjadi Guru yang Menulis


(Jawa Pos, Rubrik Di Balik Buku, 29/11/2015)

RABU, 25 November 2015, kita merayakan Hari Guru Nasional. Di media sosial hari itu begitu riuh dengan pelbagai ekspresi ucapan selamat kepada para guru. Tentu ucapan itu adalah sebagai rasa terima kasih kita kepada para guru yang telah mengajari kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Kita berterima kasih kepada para guru karena melahirkan banyak profesi. Semua belajar dari guru.

Namun, apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan? Tentu itu patut diuji. Hal ini berkaitan dengan kualitas guru itu sendiri. Tak dapat dipungkiri apabila guru-guru kita masih banyak yang berada di bawah standar kualitasnya. Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak—sehingga dapat memengaruhi peran dan tugasnya, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transmisi pengetahuan.

Salah satunya adalah belum ada kecakapan menulis dalam diri seorang guru. Bisa kita uji kepada para guru yang telah lulus sertifikasi yang notabene-nya telah teruji keprigelan menulis karya ilmiah, apakah mereka sudah tertanam kebiasaan menulisnya? Bagi seorang guru, menulis tidak hanya untuk menulis karya ilmiah, tetapi juga untuk keperluan transfer knowledge-nya juga. Pada umumnya, guru menulis karya ilmiah untuk kepentingan naik pangkat dan tunjangan. Apabila sudah terpenuhi kepentingannya, maka berhenti pula menulisnya. Dari situ terlihat bahwa menulis belumlah menjadi kebiasaan bagi seorang guru.

Menulis sampai tahap kebiasaan memang membutuhkan perjuangan. Karena dituntut kesadaran dan kebutuhan, tentu kemampuan juga. Bagi guru, menulis dan berbicara adalah dua cara untuk berkomunikasi dengan peserta didiknya. Tapi faktanya banyak guru yang hanya menggunakan satu cara saja, yaitu berbicara. Mereka berbicara secara panjang lebar di dalam kelas pada saat menerangkan pelajarannya.

Sedang menulis masih belum mendapat porsi yang setara dengan berbicara pada saat mereka berkomunikasi dengan para siswanya. Keterampilan menulis sangatlah dibutuhkan oleh para guru, karena akan berguna untuk kegiatan pembelajaran, tidak hanya untuk pembuatan karya ilmiah (untuk kenaikan jenjang/pangkat), tetapi juga hal lainnya, seperti untuk materi yang hendak disampaikan, surat kabar, jurnal, buletin, dan lain-lain. 

Guru yang terampil menulis juga akan memperoleh tambahan pemasukan secara finansial.  Tentu hal ini tidak akan didapatkan bagi guru yang tidak suka menulis. Tulisan-tulisan mereka juga akan dibukukan dan diterbitkan. Buku-buku mereka akan menghiasi toko-toko buku. Dus, dengan karya-karya mereka, baik yang tersiar di media massa maupun toko buku, mereka akan dikenal oleh masyarakat. Dan bukan tidak mungkin mereka akan diundang ke pelbagai lembaga pendidikan. Mereka akan diundang ke pelbagai daerah untuk sharing gagasan-gagasan yang ditulisnya, atau pun membagikan ilmu menulisnya kepada para guru lainnya yang seprofesi dengan dirinya.

J. Sumardianta adalah contohnya. Pak Guru (panggilan akrabnya) adalah seorang guru SMA De Britto Yogyakarta. Ia punya keterampilan menulis yang mumpuni. Tulisannya telah tersebar di surat kabar nasional seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, dan lain-lain. Ia kerap menulis tema-tema pendidikan, namun tak jarang pula merambah tema lain, seperti sosial, budaya, bahkan traveling, karena hobinya jungle tracking.

Selain artikel, ia juga menulis beberapa buku. Guru Gokil Murid Unyu (2013) adalah salah satunya. Gaya tulisan dalam bukunya begitu khas dan asyik untuk dinikmati, sehingga tak heran mengalami beberapa kali cetak ulang. Lewat karya-karyanya ia dikenal para pendidik, sastrawan, budayawan, akademisi, bahkan pejabat. Ia sering sekali diundang ke lembaga-lembaga pendidikan maupun lainnya, untuk sharing soal pendidikan, kepenulisan, sastra, dan lainnya.

Beliau adalah contoh nyata bahwa seorang guru yang mempunyai keterampilan menulis akan mendapatkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Tentu masih banyak guru-guru lainnya seperti Pak Guru ini. Dan semua guru bisa belajar padanya. Melihat manfaat yang begitu besar dari keterampilan menulis ini, semoga saja para guru mau mempelajari, menggeluti, dan membiasakan menulis, sehingga menjadi tradisi bagi dirinya.

Dari situ kemudian mereka akan memberi inspirasi dan teladan kepada para guru lainnya. Sungguh, dunia pendidikan kita begitu membutuhkan para guru yang mempunyai keterampilan menulis.[]

M. Iqbal Dawami, penulis, editor, dan trainer kepenulisan.    


Kamis, 24 September 2015

Senin, 31 Agustus 2015

Cinderamata dari Tebuireng

 Buku ini memberi teladan kepada lembaga entah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, maupun usaha, bahwa sebuah lembaga selayaknya mempunyai buku sejarahnya. Tidak hanya penting tetapi juga mempunyai manfaat yang luas. Letak pentingnya jelas bahwa dengan menuliskan sejarah lembaga tersebut akan “terabadikan” dari masa ke masa. Para pelaku sejarahnya mungkin sudah tidak ada, tetapi rekaman sejarahnya berupa buku tersebut akan tetap ada dan dibaca oleh generasi selanjutnya.

Sedang letak manfaatnya seperti: ajang promosi, rujukan setiap yang mau menuliskannya, cinderamata, dll. Buku profil secara tidak langsung akan menjadi ajang promosi lembaga tersebut. Mereka yang membacanya siapa tahu tertarik dan terbersit untuk melakukan kerjasama. Dengan buku tersebut juga akan dijadikan referensi bagi para peneliti entah itu siswa, mahasiswa, dosen, peneliti, dan siapa saja yang membutuhkannya. Jadi jelas sekali manfaatnya, bukan?

Dan yang tidak kalah penting manfaatnya juga adalah menjadi cinderamata. Ya, buku yang isinya profil lembaga tersebut bisa dijadikan cinderamata bagi para tamu dan relasi. Ketika ada tamu atau relasi yang berkunjung ke lembaga Anda, maka Anda bisa memberikannya sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Keren, bukan? Jika saya perhatikan banyak sekali lembaga yang kedatangan tamunya tidak memberikan apa-apa yang bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh. Buku profil adalah oleh-oleh yang akan membekas di hati para tamu. Mereka merasa bahagia dan terhormat mendapat bingkisan itu. Tentu itu akan menjadi kredit poin tersendiri bagi lembaga yang bersangkutan.

Saya tersentuh saat mendapatkan cinderamata berupa buku Profil Pesantren Tebuireng ini. Buku ini diberikan saat saya main ke pondok Tebuireng. Memilikinya ada kebanggaan tersendiri. Saya harap lembaga-lembaga lain pun mempunyai buku sejarahnya untuk dijadikan cinderamata bagi tamu yang datang. Terima kasih.

Kamis, 09 Juli 2015

Sekolah Islam Athirah

Waktu itu, di dalam pesawat Makassar – Yogyakarta, tak henti-hentinya mulutku mengucapkan hamdalah sebagai wujud rasa syukur. Syukur akan banyak hal. Saya bukanlah siapa-siapa di depan mereka. Tapi perlakuan mereka membuat saya tersanjung. Mengharukan. Betapa tidak, ada banyak kebaikan yang rasanya saya tidak pantas untuk mendapatkannya.

Ada hal-hal dalam hidup ini yang selalu ingin kuingat. Salah satunya adalah kenangan berkesan pada saat saya menghadiri launching buku Pemimpin Cinta karya Edi Sutarto di Sekolah Islam Athirah, Makassar pada Februari 2015. Saya merasa ada suatu bagian dari diri saya yang tertinggal di sekolah ini. 

Pertama tiba di bandara, aku sudah ditunggu penjemput. Dia membawa mobil sedan. Saat menaikinya aku seperti seorang direktur karena begitu istimewanya mobil tersebut. Di dalam mobil aku disodori parcel dengan aneka panganan khas Makassar. Di dalam parcel terselip ucapan selamat datang untukku. Nyess... hatiku gerimis syahdu. Ucapan itu tertulis di daun kering. Ini penampakannya:




Di mobil itu sudah ada seorang editor Mizan, Fuad Irawan, yang datang setengah jam sebelum saya. Dia berangkat dari Jakarta. Kami berdua dibawa ke hotel dimana kami akan menginap selama dua hari di Makassar. Kami sms Pak Edi, selaku direktur Sekolah Islam Athirah, agar kami menginap di masjid sekolah saja. Beliau hanya mengirim emoticon senyum. Bagi kami hotel bintang lima itu terlalu mewah. Kami selaku jebolan pesantren sudah terbiasa tidur di masjid. Justru kami tidak terbiasa tidur di kamar hotel semewah itu. Serba kikuk. Bahkan cara mengeluarkan pasta gigi saja kami kebingungan, hehe.

Keesokan harinya kami ke sekolah untuk menghadiri launching buku tersebut. Kami dibuat terkagum-kagum dengan konsep launchingnya. Seumur-umur baru kali itu saya menemukan launching yang unik, kreatif, dan menyentuh. Launching buku itu diisi oleh siswa semua. Mulai dari pemandu acara hingga pembicara. Di acara tersebut juga terdapat musikalisasi buku, dimana lirik lagunya diambil dari cuplikan buku yang sedang di-launching. Asyik sekali. Sungguh menggetarkan mendengarnya. Kulihat ada dua grup musik di atas panggung yang saling bergantian menghibur para peserta.

Dua hari kami di Makassar. Dua hari itu pula kami banyak menghabiskan waktu di lingkungan sekolah Islam Athirah. Saya melihat bagaimana sekolah itu tumbuh dengan karakter kuat. Setiap siswa berpapasan dengan guru mereka berucap salam, dan sang guru menjawabnya. Siapa saja yang melihat sampah di dekatnya, mereka langsung memungutnya dan memasukkannya ke tong sampah. Tidak guru, tidak siswa. Sistemnya sudah berjalan dengan sangat baik. Kekompakan para gurunya juga luar biasa. Pengabdiannya pada sekolah begitu militan. Semangat belajarnya untuk tumbuh menyala-nyala. Hal itu saya lihat pada saat kami mengisi pelatihan menulis untuk para guru sekolah tersebut.  

Para pimpinan Sekolah Islam Athirah memang bermental driver, bukan passenger. Masing-masing mereka punya tekad untuk selalu melakukan perubahan. Mereka kompak untuk berkembang bersama. Mereka melakukan pembaruan dan terobosan-terobosan dengan penuh keberanian.

Saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada semua orang-orang di Sekolah Islam Athirah yang sudah mengundang saya di acara launching buku tersebut. Terima kasih atas segala kebaikannya.

Begitulah kesan dalam ingatan mesra saya pada saat berkunjung ke Sekolah Islam Athirah. Sekolah ini meninggalkan jejak indah di hati saya. Tabe. 

Selasa, 23 Juni 2015

Lakukan dengan Cinta

Lakukanlah sesuatu dengan penuh cinta. Niscaya, engkau akan merasa bahagia pada saat melakukannya. Rasa malas, terpaksa, benci, akan hilang seketika. Dan yang ada hanyalah rasa senang dan bahagia. Dalam pikiran kita akan tertanam bahwa apa yang kita lakukan ini merupakan sebuah ibadah, karena memberikan manfaat bagi orang lain dan diri sendiri. Jadi ingatkan selalu dirimu pada saat melakukan apapun untuk diiringi perasaan cinta. Niscaya bibirmu akan tersenyum, hatimu akan tentram, pikiranmu akan damai, dan perasaan buruk apapun tak akan mendekat.

Pada saat menulis, maka menulislah dengan penuh cinta. Pada saat bicara, bicaralah dengan penuh cinta, pada saat membaca, membacalah dengan penuh cinta, begitu juga dalam aktivitas lainnya. Termasuk pada saat mengetik dan minum kopi. Mengetiklah dengan penuh cinta dan minum kopilah dengan penuh cinta. Rasakan sensasinya.

Pada saat belajar sesuatu, pelajarilah dengan penuh cinta. Maka kedamaian akan menyertaimu selalu. Karena rasa cinta akan memunculkan perasaan syukur.  

Minggu, 21 Juni 2015

Untuk RB

Aku tak dapat menyembunyikan rasa bahagia saat kamu mengatakan bahwa kamu akan kembali ke khittah, jalan yang pernah kita tekuni bersama sewaktu mahasiswa dulu. Waktu itu, lantaran orangtuamu menyuruh pulang kampung, akhirnya membuat kamu putus mata rantai dengan jalan yang kita tekuni itu. Di kampung halaman, kamu merasa jauh dari dunia yang kita geluti itu.

“Dunia buku adalah dunia yang sangat saya cintai, makanya sejak selesai kuliah saya masih sempat membeli buku sampai lebih seribu judul,” ujar kamu. Kamu pun bercerita panjang lebar mengingat masa masa-masa kuliah dulu.

“Saya rela lapar-lapar asal saya membeli buku yang saya suka di emperan-emperan jalan, rasanya setelah memiliki buku saya merasa kenyang. Waktu mahasiswa hampir semua judul buku beserta letak-letaknya saya hafal di deretan rak perpustakaan IAIN, itu karena setiap hari saya ke perpus. Makanya kalau saya kenang kembali dunia yang hilang itu rasanya ada sejumput penyesalan yang maha besar di batin saya. Saya mau kembali start dari titik nol.”

Selamat datang kembali, kawan. Seperti yang sudah kuduga, kemanapun kamu pergi dan apapun yang kamu lakukan, dunia buku adalah hidupmu. Selamat membaca dan menulis, kawan! 

Rabu, 10 Juni 2015

Dosen PTAI Harus Mampu Menulis Populer


Tidak banyak dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang mampu menulis dengan ngepop alias populer. Kebanyakan mereka menulis dengan kaku dan formal. Mungkin sudah terbiasa menulis untuk jurnal, laporan penelitian, dan laporan akhir waktu kuliah seperti skripsi, tesis, dan disertasi. Oleh karena itu saya acungkan jempol apabila ada dosen yang bisa menulis buku-buku keislaman untuk masyarakat umum, karena hampir dipastikan mereka menggunakan penulisan populer.

Kemampuan menulis secara populer sangatlah penting bagi kalangan dosen PTAI. Karena, pengetahuan keislaman yang mereka punyai tentu sangatlah dalam dan komprehensif. Ilmu pengetahuan mereka sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat. Masyarakat butuh pengetahuan keislaman yang dalam, multi-perspektif, dan bijak. Tiga hal itu saya pikir dosen PTAI sangat mumpuni. Sebagai alumnus dari PTAI, saya merasakan betul betapa mumpuninya mereka dalam kajian-kajian keislaman.

Masyarakat saat ini butuh bacaan keislaman yang mencerahkan, toleran, santun, dan kaya perspektif. Dosen PTAI yang notabene-nya akrab dengan kajian keislaman tentu harus menjadi ambil bagian dalam hal ini. Jika tidak, buku-buku keislaman tidak ada kemajuan signifikan dari segi mutu dan kualitas. Buku-buku keislaman hanya jalan di tempat, penerbit hanya akan menerbitkan buku keislaman yang ganti judul dan kover saja, dan kontennya mutakarrirah alias mengulang-ulang, tanpa ada gagasan baru.

Coba kalau para dosen PTAI yang menulis, mereka akan menyuguhkan tema-tema keislaman yang dalam, penuh gagasan, dan kaya perspektif. Tentu harus dibarengi dengan keprigelannya dalam mengolah gagasan dan menyajikannya secara populer. Saya yakin buku-buku keislaman akan bergeliat dan memengaruhi para pembaca;  tercerahkan, memahami persoalan, dan mewajarkan perbedaan. Mereka bisa menulis soal fiqih, sejarah Islam, sirah nabawiyah, tasawuf, dll.
Faktanya memang tidak banyak dosen-dosen PTAI yang mau dan mampu menulis keislaman secara populer. Mereka sudah nyaman dengan menulis di jurnal dan laporan penelitian yang dapat dipresentasikan di depan akademisi yang diselenggarakan oleh lembaga sponsornya. Tentu tidak salah, dan ini juga bukan soa benar atau salah. Mungkin soal selera saja. Soal pilihan. Saya cuma menyayangkan saja, kenapa mereka hanya  menulis untuk jurnal dan laporan penelitian saja, tidak menulis buku? Atau walaupun menulis buku mereka menulis dengan bahasa yang mengawang-awang tidak populer? Biasanya sih itu pun buku proyek, atau hasil tesis atau disertasinya.

Bukan apa-apa, kajian keislaman yang tidak ditulis secara populer itu tidak akan sampai kepada pembaca non-akademis, katakanlah pembaca umum. Mereka akan kesulitan membacanya: kalau tidak pusing ya ngantuk. Mereka tidak akan tergerak mengkhatamkannya. Untuk itu mereka harus menuliskannya secara populer. Sungguh, masyarakat membutuhkan bacaan keislaman yang mumpuni. Selama ini buku-buku keislaman populer ditulis oleh para penulis yang tidak otoritatif. Mereka hanya mengambil rujukan-rujukan sekunder yang jelas tidak memadai dalam mengkaji sebuah pembahasan. Tapi mereka menang dalam penulisannya. Ya, mereka menulis dengan gaya populer. Tak aneh kemudian mereka mendapat tempat di hati pembaca. Dan kajian keislaman yang mereka tulis akan memengaruhi pola pikir dan perilaku pembaca juga.

Jadi, tak ada jalan lain (dan tak ada waktu lagi), kini para dosen PTAI harus menulis kajian keislaman dengan gaya populer. Apabila ada dosen yang kesulitan bagaimana cara menulis buku keislaman secara populer, baiknya membaca buku saya ini, hehe... Jika dirasa masih kurang, mereka bisa mengundang saya, itu lebih baik, hehe...


Terima kasih. Wallahu a'lam bisshawab.

Senin, 08 Juni 2015

Selamat Merayakan Cinta


Waktu kuliah saya mendapat pengetahun tentang ilmu tafsir. Salah satu metode tafsir yang saya sukai adalah tafsir tematik (maudhu’i). Saya menjadi tahu sejarah, keutamaan, dan aspek teknis-metodologis tafsir tematik. Hmm, rupanya pengetahuan itu menjadi bekal saya saat sudah lulus kuliah dan menekuni dunia literasi (baca-tulis). Begini ceritanya.
Tahun lalu semenjak resign ngantor, saya banyak waktu untuk membaca, menelaah, menulis, merenung (dan menangis kenapa memutuskan resign, hikss... [jiah ketauan deh]), termasuk membaca Al-Quran (bukan sok rajin, ini ikhtiar menghilangkan rasa galau, haha).
Saat membaca Al-Quran itu kerap saya menemukan “ayat–ayat cinta”, dengan redaksi “sesungguhnya Allah mencintai orang-orang...” dan dalam ayat lain saya menemukan juga “sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang...”. Aha! Saya kemudian terbersit untuk mengkajinya secara reflektif dan populer. Maka bulan ini terbitlah buku itu diterbitkan oleh Mizania. Udah gitu aja. smile emotikon
Bagi yang pengen beli hanya Rp 40.000,- (sudah termasuk ongkir)
Terima kasih

Sabtu, 30 Mei 2015

Menggeser Niat


Seorang penulis miskin begitu tekun menulis. Yang dia tulis adalah skenario. Kadang skenarionya berhasil terjual, tapi banyak pula yang tidak terjual. Mungkin malah lebih banyak yang tidak terjualnya. Sehari dia bisa menulis 3 sampai 4 skenario. Di saat orang berkencan, dia menulis. Hingga larut malam. Ketika tidak terjual skenarionya maka “teman-temannya” berdatangan: frustrasi, pesimis, sedih. Galau, kata jaman anak kiwari. Kalau kata Cita-Citata: Gegana (Gelisah Galau Merana).

Namun, suatu ketika dia mendapatkan bayaran yang cukup besar, yang dia bandingkan dengan penghasilan kakek-neneknya bekerja seumur hidup. Itu adalah titik tolaknya mereguk kenikmatan hasil jerih payahnya perjuangan dalam menulis. Mulai dari situ, bukan dia lagi yang menawarkan skenarionya, melainkan ditawari. Melambunglah namanya. Bayarannya pun berlipat-lipat. Dan seiring dengan itu, banyak pula segala keinginan hidupnya. Salah satunya mempunyai rumah mewah, mobil mewah, dan apartemen mewah.

Proyek skenario yang berasal dari lubuk hatinya selalu dia kesampingkan. Dia selalu menggarap proyek pesanan. Tentu saja dia mengutamakan proyek pesanan tersebut, karena jelas bayarannya, ketimbang proyek pribadinya yang belum jelas. Pundi-pundi uangnya makin bejibun. Keinginannya untuk membeli guest house membuat dia tertekan. Ketika itu dia menulis bukan lagi yang dpikirkannya soal isi tulisannya, melainkan bayarannya. Dia sudah mulai berhitung. Tujuan hidup bukan lagi untuk menulis, tapi untuk menghasilkan uang. Hidup berubah menjadi gaya hidup. Tidak ada yang salah memang, tapi imbas atau implikasinya lain.

Gegara pergeseran “menulis untuk mencari uang” tiba-tiba saja teman-teman yang dulu pada saat dia menjadi penulis miskin datang lagi. Dia mulai takut, setres, dan frustrasi kembali. Suatu hari dia menyadari hal itu. “Sukacita dan cinta yang membuatku terus menulis pada malam hari setelah dua belas jam di belakang kemudi kini menghilang,” ujar dia menyadarinya. Akhirnya dia membuat keputusan untuk menjual rumah mewahnya, dan membeli rumah yang biasa saja. Orientasi menulis ia geser kembali. Wallhasil, dia merasakan hal yang luar biasa. Ada beban berat yang rasanya baru terangkat, ujarnya.

Setelah itu, menulis terasa menyenangkan lagi. Dia duduk di pagi hari, menulis, dengan penuh sukacita. Dia hanya memikirkan isi tulisannya. Soal laku atau tidak tulisannya, dibayar kecil atau besar, biarlah itu urusan nanti. Saking senangnya dengan perasaan ini, dia mengatakan begini: “Ya Tuhan, aku bersenang-senang!” Sebuah ungkapan rasa syukur: Alhamdulillah, Puji Tuhan. Ternyata perasaan senang itu berdampak positif pada kondisi finansialnya juga. Yup, dia menghasilkan lebih banyak uang ketimbang sebelumnya, yakni pada saat “menulis untuk uang”.

Saya akhiri kisah dia dengan ungkapannya yang ditujukan untuk penulis pemula, atau mungkin yang baru mau niat menjadi penulis:


“Jika inilah satu-satunya pekerjaan yang cocok untuk kalian, jika inilah pekerjaan yang menghidupkan jiwa kalian, maka terjun dan bekerja keraslah. Berjuang, menangis, dan gigihlah menulis. Dan jangan lupa untuk mencintainya, bahkan ketika tulisan kalian mulai menghasilkan.” []
  

Selasa, 05 Mei 2015

Gunung Ken Dedes

Minggu pagi, 26 April 2015. Matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Sketsa alam terbentang luas memanjakan trekking kami pagi itu. Sesekali kicau burung elang terdengar sebagai tanda mereka sedang bermesraan atau mencari mangsa.


Jelitanya gunung Api Purba telah lama membuat kangen pasca aku boyongan dari Yogyakarta. Gunung yang berada di wilayah Kabupaten Gunung Kidul paling subur ini menjadi magnet aku saat berkunjung ke Yogyakarta. Ya, ke Yogya tapi tidak trekking ke sini rasanya kurang afdhal. Ada satu ruang yang belum terisi jika belum ke sini. Terbayar sudah kerinduan trekking di Yogya.

Gunung Ken Dedes, begitu kami menyebutnya. Kami menamakan Ken Dedes, karena tempatnya sungguh eksotik. Di gunung Ken Dedes ini kami bisa melihat gunung utama yang biasa dijadikan tempat wisata. Kami bisa berdiam lama-lama di sini tanpa mendengar suara orang lain, selain suara kami.



Jungle Trekking

“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures we can have if only we seek them with our eyes open” (Jawaharial Nehru)

Sewaktu di Yogyakarta semenjak kenal Pak Guru (J. Sumardianta), nyaris setiap minggu pagi saya jungle trekking. Olahraga ini boleh dikata tidak populer ketimbang olahraga lain yang biasa digeluti orang-orang. Saya melakukannya bersama teman-teman, yang jumlahnya paling banyak enam orang. Misalnya, Pak Guru, Mas Toni dan Om Jit (ketiganya hingga kini masih aktif). Kadang saya melakukannya cuma dua orang, yakni dengan Pak Guru, di sore hari di lain hari minggu, karena yang lain masih bekerja. Ada kenikmatan tersendiri pada saat olahraga jungle trekking ini yang tidak saya dapatkan dari olahraga lainnya.

Lokasi jungle trekking kami adalah daerah perbukitan yang ada di Yogyakarta, di antaranya perbukitan Prambanan, Piyungan, dan Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Jarak tempuh jungle trekking bervariasa, tergantung jauh-dekatnya dari kota Yogyakarta. Tapi paling jauh hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Jalanan yang kadang menanjak dan menurun membuat kaki kami terlatih.
Keseimbangan juga sangat diperlukan untuk olahraga ini. Apalagi pada saat musim hujan, tak jarang kami seringkali terpeleset. Jika tidak hati-hati, kami bisa saja masuk jurang.

Pada saat perjalanan menuju puncak bukit seringkali kami menemukan hal-hal yang menakjubkan, entah itu panorama yang indah, bertemu dengan penduduk desa yang mampu merelatifkan hidupnya, maupun melewati ladang-tanaman, seperti tomat, cabe, dan kacang, yang menggoda untuk dipetik. Dan pada saat kami sampai di puncak bukit, kami bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Basah kuyup keringat sudah tidak kami pedulikan.

Pada saat mencapai puncak, sembari menyaksikan pemandangan yang indah, saya sering merasakan rasa syukur atas limpahan karunia Tuhan yang diberikan pada saya. Kesehatan jasmani dan rohani adalah suatu capaian anugerah Tuhan yang bisa dirasakan oleh semua orang. Namun, sering kali saya tak mampu menjaganya lantaran pelbagai dalih. Di puncak itu kami membuka perbekalan, yakni jajanan pasar yang kami beli sewaktu di perjalanan. Sembari menyeruput teh dan makan naga sari, kami mengobrol ngalor-ngidul, hal berat maupun remeh temeh. Kebersamaan dan keakraban benar-benar kami rasakan.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari jungle trekking, misalnya dalam melihat kehidupan saya harus mampu mempunyai banyak perspektif. Pelajaran itu saya dapatkan pada saat kami melewati jalan-jalan yang baru, yang jarang dilalui penduduk setempat. Menyusuri jalan-jalan baru tersebut membuat kami tak jarang harus merangkak untuk menaikinya. Otak dan otot benar-benar diberdayakan pada saat itu.

Kini, setelah saya hijrah ke Pati nyaris tidak pernah jungle trekking lagi, kecuali sekali, yakni pas ke
Gunung Muria via Gembong, bersama teman-teman Tadarus Buku.[]

Rabu, 22 April 2015 (sambil memandang rintik hujan pagi di jendela)



Kamis, 23 April 2015

Panggilan Jiwa

“Aku percaya satu-satunya cara berbagi cinta personal kita adalah dengan melalui kerja, dan kerjaku ya menulis, sama seperti sopir taksi menyopir” (Paulo Coelho)

Sewaktu masih kuliah aku pernah berkata, “Sepertinya aku sudah tahu panggilan jiwaku. Aku ingin jadi penulis.” Entah dari mana bisikan itu. Dunia kepenulisan saja masih belum tahu waktu itu. Mungkin satu hal yang membikin aku yakin kalau itu panggilan jiwa yaitu merasa nyaman dan asyik pada saat menuliskan sesuatu ke dalam kertas kosong. Mungkin ditambah kekaguman pada orang yang menulis buku karena tulisannya mau dibaca banyak orang dan dapat bayaran pula atas buku yang mereka tulis. 

Pelbagai rintangan dan ujian menempuh mimpi menjadi penulis datang silih berganti. Sempat pula merasa kalau mimpi ini adalah sebuah kesalahan yang akhirnya menjadi kutukan. “Makan tuh mimpi!” Ujar setan dalam diriku. Aku sebut kutukan karena ketika menjajal profesi lain selalu saja gagal. Tidak ada yang istiqamah. Aku pernah jadi guru, dosen, dan editor in-house, tapi ketiganya tidak ada yang langgeng aku jalani. Dalam diriku seolah-olah ada yang berkata, “Ayo keluar, panggilan jiwamu bukan ini!” Oh My God. Aku juga pernah mengikuti tes CPNS dosen sampai 3 kali. Hasilnya nihil. Yang agak mendekati lolos yaitu pas aku tes di IAIN Walisongo Semarang. Waktu itu sudah tahap wawancara, yang hanya menyisakan 2 orang saja, dimana aku salah satunya.

Aku berpikir apakah itu semua adalah isyarat kalau aku memang ditakdirkan untuk jadi penulis? Mboh lah. Jika “menulis” itu sebuah makhluk mungkin akan mengatakan kepadaku, “Kemana pun kamu pergi pada akhirnya akan pulang ke aku juga, hehe...” Sialan. Tapi ada benarnya ungkapan itu, karena aktivitas menulis tidak pernah terputus pada waktu itu (tentu saja sampai sekarang). Segala jenis tulisan dan buku aku buat dan aku kirim ke pelbagai media. Kadang dimuat/diterbitkan, kadang pula ditolak. Bahkan banyak ditolaknya ketimbang dimuat/diterbitkan. Kalau cintamu sering ditolak oleh para perempuan, santai saja. Sungguh ujianmu belum seberapa. Karena tetap kalah banyak olehku saat tulisanku ditolak oleh redaktur dan editor, hehe...

Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti dalam menjalani laku penulis. Bahkan mungkin banyak sedihnya. Tahu sendiri lah bagaimana kondisi penulis pemula di Indonesia. Tapi karena ini memang sudah panggilan jiwaku, seperti apapun kesedihannya akan aku telan. Ya, satu-satunya pekerjaan yang tidak terputus dari kuliah sampai sekarang adalah menulis. Dan kini, menulis membawa keberkahan bagiku. Aku teringat saat Paulo Coelho ditanya seorang reporter, “Kau merasa penulisan mendesakkan dirinya padamu atau kau memilihnya?” Dia jawab, “Aku memilihnya dan memimpikannya seumur hidup. Aku selalu mengejarnya, tersandung-sandung, kerap berbuat salah, tapi aku menang melalui kekuatan tekadku, dan ini selalu menjadi semboyan hidupku.” Itu pula yang aku rasakan sepertinya halnya Coelho.

Melalu aktivitas menulis aku dipertemukan dengan banyak orang, dari yang tadinya tidak kenal menjadi kenal, bahkan menjadi saudara. Melalui menulis pula aku diperjalankan dari satu tempat ke tempat lain. Alhamdulillah, puji Tuhan.

Kini, aku membuat usaha pelatihan dan penerbitan. Melalui lembaga ini aku berharap bisa menjadi tempat sharing pengetahuan dan pengalaman bagi siapa pun yang ingin mengenal dunia baca-tulis. Bismillah. []


Kamis, 23 April 2015



Kamis, 28 Agustus 2014

Menulis Buku juga Membutuhkan Kemampuan Mengedit

Selaku mantan editor in-house (dan saat ini menjadi editor lepas), saya perhatikan, kebanyakan penulis pemula yang seringkali ditolak penerbit saat mengirimkan naskahnya adalah salah satunya ketidakpunyaan kemampuan mengedit. Naskah yang masih hangat ditulis langsung dikirim ke penerbit begitu saja, tanpa diedit terlebih dahulu. Mungkin Anda bingung apa yang harus diedit? Apa yang harus dibenahi agar penerbit kesengsem dengan naskah Anda?

Saya hendak membuka kelas privat penyuntingan naskah (editing). Nanti saya akan memberikan materi editing dan langsung mempraktikkan kepada naskah Anda, kemudian dikirim ke penerbit yang hendak Anda tuju.

Tarifnya Rp 500.000,00.

Bagi yang tertarik bisa kontak saya via email iqbal.dawami@gmail.com.
Terima kasih
M. Iqbal Dawami

Editor Bentang Pustaka (2012 - 2014) 

Rabu, 27 Juni 2012

Mencintai Buku seperti Mencintai Kamu

Nak, bapak ingin bercerita padamu, bahwa selain kamu dan ibumu ada juga yang bapak cintai, bahkan sejak sebelum mengenal ibumu; sejak zaman “azali”. Cinta bapak kepadanya hingga kini masih terpatri. Cinta bapak kepadanya sama dengan cinta pada kamu dan ibumu.

Maafkan bapak, nak. Bapak tidak bisa menghilangkan rasa cinta bapak padanya. Oh, kuharap kau dan ibumu tidak terlalu cemburu, kecuali sedikit saja. Barangkali saat aku tak bersamamu (dan juga ibumu) boleh jadi bapak sedang bermesraan dengannya. Maafkan bapak nak jika membuat kamu dan ibu marah.  

Mungkin kamu penasaran dan bertanya-tanya, siapa sesungguhnya yang bapak cintai itu selain kamu dan ibumu sejak dari dulu hingga kini? Baiklah, nak, mari dekat bapak, akan bapak beritahu. Yang bapak cintai sesungguhnya adalah buku, he-he. 

Bagaimana perasaanmu, nak? Ah, barangkali hatimu menjadi plong sekarang, he-he-he. Tapi, itu betul, nak. Bapak tidak bercanda. Bapak memang mencintai buku sudah lama sekali. Bapak tidak bisa melepaskan perasaan itu. Kecintaan bapak pada buku didasari atas dasar kesukaan pada aktivitas membaca, nak. Ya, bapak memang senang membaca. Membaca tentang apa saja, baik tulisan di koran maupun buku. Dan bisa dipastikan setiap bulan bapak selalu membeli buku. 

Jika belum ada uang lebih, bapak pinjam kepada kawan-kawan, perpustakaan kampus, atau baca-baca di toko buku. Bapak seperti sudah kecanduan membaca. Sehari tidak membaca seperti gersang hati bapak, nak. Lantas, sejak kapan bapak mulai meresensi buku? Sebetulnya dulu pas kuliah, bapak sudah mulai meresensi buku, tapi belum serius. Hanya sesekali saja. Waktu itu bapak masih fokus menerjemah, bukan meresensi. 

Bapak mulai meresensi buku secara serius pada saat awal menikah dengan ibumu. Lha, mengapa justru setelah menikah baru serius meresensi? Simpel nak jawabanya, karena setelah menikah dana belanja buku dialihkan ke dana belanja keperluan kami berdua sehari-hari, he-he. Jadi, sejak itulah bapak mulai meresensi buku secara serius. Resensinya kemudian dikirim ke pelbagai media massa.  

Menekuni Resensi 
Anakku, mungkin kamu akan bertanya mengapa bapak memilih meresensi tidak yang lainnya, misalnya, opini? Bapak memilih resensi karena tiga alasan. Pertama, kecintaan bapak membaca buku mendorong bapak untuk membagikan hasil bacaannya ke orang lain. Rasanya aneh, apabila bapak tidak membagikan apa yang sudah bapak baca. Ada semacam kegelisahan apabila hal itu tidak dibagikan kepada orang lain.

Kedua, aktivitas meresensi akan memacu bapak untuk senantiasa membaca buku. Berbeda dengan halnya meresensi opini, mungkin membaca bukunya tidak seintens meresensi buku. Jadi, dengan kata lain, meresensi akan membuat bapak tetap rajin membaca, nak. 

Nah, yang ketiga, ini barangkali yang agak realistis, yakni mendatangkan buku secara gratis dan materi. Jika resensi dimuat di media massa, maka keuntungan secara materi bisa “berlipat”. Materi itu bisa berupa uang, buku, dan barang yang lainnya, entah dari media massa, penerbit, bahkan penulisnya. Mungkin yang ketiga inilah alasan terbesar mengapa bapak meresensi, nak. Sebagaimana bapak ceritakan di atas, bahwa budget untuk membeli buku setelah menikah sudah minim, sedang membaca buku tidak ada kata berhenti, maka bapak harus mendapatkan jalan keluarnya. 

Bapak mendapatkan solusinya dari kawan, bahwa agar mendapat pasokan buku secara gratis adalah dengan meresensi buku. Apabila resensi dimuat di media, maka kita akan mendapatkan buku secara gratis dari penerbit yang kita resensi bukunya. Bahkan, mendapatkan uang pula. Hmm, sungguh menarik, bukan? Dari situlah bapak serius meresensi. Bapak mendisiplinkan diri untuk menghasilkan satu resensi satu minggu. Jadi, satu bulan bapak bisa membuat 4 resensi. 

Tentu sebagai modal awal, bapak membeli 1-2 buku baru. Bapak kelabakan saat buku baru yang bapak beli itu ternyata resensinya tidak ada yang dimuat. Akhirnya, bapak pinjam kepada kawan-kawan yang rajin membeli buku. Bapak terus meresensi setiap minggunya. Bapak baca resensi-resensi yang dimuat di massa. Bulan pertama resensi bapak tidak dimuat, bulan kedua tidak dimuat, bulan ketiga tidak juga dimuat, bulan keempat, bulan kelima, dan bulan keenam… uerekaaa! Akhinya di bulan keenam itulah resensi bapak dimuat. Alhamdulillah. Bapak dan ibu senang bukan kepalang, nak. Bapak merasa pada bulan itu resmi untuk disebut sebagai “peresensi”, he-he. 

Dari situ bapak mulai berani memperkenalkan diri ke pelbagai penerbit sekaligus menawarkan jasa resensi. Alhamdulillah, banyak yang respons. Dari situ pula bapak mulai kebanjiran buku. Anakku, perlu engkau ketahui, pada waktu itu bapak belum punya komputer, apalagi laptop. Bapak menulis di atas kertas HVS. Ketika selesai menulis, ibumu kemudian mengetiknya di rental, yang jaraknya tak jauh dari kos. Kadang, bapak juga ikut ke rental; bapak membacakan (mendiktekan) resensinya, sedang ibu mengetiknya. Sungguh, kami bahu-membahu untuk bisa melestarikan aktivitas meresensi ini. Hal itu berlangsung selama kurang lebih satu tahun. 

Selepas satu tahun itu baru kami mempunyai komputer, tidak tanggung-tanggung mendapatkan dua unit. Satu dari pemilik rental yang sering kami sambangi, dia menawari kami komputer (Pentium 2) seharga 300 ribu rupiah. Dan satunya lagi dari kawan peresensi yang tinggal di Bandung. Dia mengirimkannya via pos. Saya tak akan melupakan jasa baik keduanya. 

Anugerah Ramadhan  
Kegiatan meresensi semakin menggila setelah mempunyai dua unit komputer. Namun seiring waktu, satu per satu komputer itu mulai “rewel”, mungkin karena sudah uzur dan dipaksa untuk “bekerja rodi”. Akhirnya keduanya pun “wafat”. Tuhan Mahatahu. Tak lama setelah 2 unit komputer itu rusak, kami justru bisa membeli notebook. Alhamdulillah. Dan waktu itu juga, kamu lahir ke dunia, anakku. 

Bagi kami, bulan itu yang bertepatan bulan Ramadhan—bulan pernuh berkah—merupakan bulan anugerah. Kehadiran notebook dan kehadiran kamu. Sungguh, tak terasa pula perjalanan bapak menekuni dunia resensi sudah hampir 5 tahun (2008 --…). Seperti halnya di bidang lain, menekuni bidang resensi pun banyak suka-dukanya. Insya Allah, di kesempatan lain bapak akan menceritakannya padamu. Bapak hanya berdoa semoga bapak tetap istiqamah meresensi buku, meski orientasinya kini berubah. Jika dulu meresensi sebagai job dan career, maka saat ini bapak mengubahnya menjadi calling; panggilan hidup. Bapak tidak lagi membuat resensi karena uang. Saat ini, bapak meresensi karena ingin berbagi pengetahuan; berbagi cerita dan materi apa yang sudah bapak baca kepada khayalak masyarakat. Tak lain, itu semua karena bapak mencintai buku, nak. Dan mencintai buku sama seperti layaknya mencintai kamu.[] 


Jangan Bakar Buku!

Rabu (13/6), PT. Gramedia Pustaka Utama memusnahkan 216 eksemplar buku 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia. Buku yang diterjemahkan dari karya Douglas Wilson ini dianggap menghina Nabi Muhammad. Tidak banyak sebetulnya, hanya di halaman 24 dan 25 saja. Itu pun hanya 3 paragraf. Salah satu bunyinya:
“Selanjutnya ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain. Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan Mekkah. Muhammad memerintahkan serangkaian pembunuhan demi meraih kendali atas Madinah, dan di tahun 630 M, ia menaklukkan Mekkah” (hal 24).

Sedang di halaman 25 alinea kedua dan ketiga, Wilson membuat penafsiran, bahwa agama yang dibawa Muhammad (baca: Islam), selalu ditegakkan dengan pedang. Lantaran paragraf di atas, buku ini bernasib nahas. Penerbitnya membakar buku tersebut. Padahal, di luar halaman tersebut, buku ini sama sekali tidak ada penghinaan, bahkan memuat informasi pelbagai kota berpengaruh secara mendalam. 

Direktur Utama Gramedia Pustaka Utama, Wandi S Brata, menjelaskan buku edisi terjemahan itu mulai diedarkan pada minggu kedua Maret 2012 dengan total cetakan sebanyak 3.000 eksemplar. Hingga awal Juni 2012 buku telah terjual sebanyak 489 eksemplar. Selain di Jakarta, pemusnahan telah dilakukan di Cakung, Jawa Barat, Semarang, Jawa Tengah, Surabaya, Jawa Timur, dan Pekanbaru. 

Kejadian ini sungguh memilukan. Terlepas, soal beberapa paragraf yang dianggap SARA, sesungguhnya pembakaran buku juga termasuk pelecehan terhadap karya. Seorang kawan mengatakan, “Hasil karya tulis seseorang itu seperti lahirnya seorang anak, ia anak kandung pemikiran, bila buku itu dibakar, maka ia sama saja membakar seorang anak, membakar kehidupan.” 

Saya melihat pihak penerbit melakukan pembakaran atas terbitannya sendiri adalah sikap paranoid yang berlebihan. Ya, ada ketakutan yang amat besar sehingga jalan itu ditempuh. Terlebih, sebelumnya sudah ada orang dari pihak ormas tertentu yang melayangkan gugatannya kepada pihak berwajib. Bayang-bayang protes dengan pengerahan massa ke kantor penerbit menambah paranoid yang sudah ada. Sebelum perkara ini menjadi besar, penerbit meminta maaf secara tertulis. Serasa belum puas penerbit lalu mengambil langkah ekstrem, yaitu membakar buku tersebut secara simbolik di hadapan masyarakat, wartawan, dan MUI. 

Coba Anda bayangkan, sebuah buku (anak kandung pemikiran) dibakar “hidup-hidup” sembari disaksikan oleh kaum intelektual, cendekia, dan ulama. Ironik, bukan? Menurut saya, pihak penerbit tidak perlu melakukan pembakaran terhadap buku tersebut. Pihak penerbit cukup dengan meminta maaf secara tertulis dan menarik buku tersebut, dan berjanji akan merevisinya. Sebagai kaum beragama, tentu kita terima iktikad baik berupa permohonan maaf yang disertai penarikan dan perevisian tersebut. 

Ada baiknya kita mencontoh teladan pada masa terdahulu yang kasusnya hampir sama dengan kejadian ini. Pada masa kolonial Belanda, buku yang menghina Nabi tidak dibakar. Hendri F. Isnaini, sejarawan, memaparkannya dalam majalah Historia (edisi Juni 2012). Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson. Di dalamnya terdapat paragraf, “Karena itulah Hitler makin lama makin yakin sendiri bahwa ia kebal dan besar … ia sendiri lalu menjadi lebih besar sedikit, mungkin semacam Mohamed dengan ‘pedang di sebelah tangannya dan buku Mein Kampf di tangan lainnya’…”. Reaksi muncul. Koran Pemandangan memuat kritik atas buku tersebut pada 4 Desember 1940, yang ditulis oleh Anwar Tjokroaminoto. Menurutnya, Nabi Muhammad tak pernah memaksa dan mengancam dengan pedang, dan tak bisa disamakan dengan Hitler. Bahkan, menurut Anwar, “Hitler tidak bisa dipersamakan dengan manusia biasa, melainkan sebagai kepala dari bangsa biadab.” 

Berbagai tulisan pun bertandangan ke meja redaksi Pemandangan, menyuarakan kekecewaan terhadap buku Henderson. Seorang penulis bernama Depe menulis di Pemandangan, 12 Desember 1940, menguraikan bagaimana sejarah persepsi Barat terhadap Nabi yang keliru. Dia beranggapan bahwa buku ini tak perlu dibaca bangsa Belanda maupun orang yang mengerti bahasa Belanda. “Perlunya, untuk menjaga jangan sampai orang mendapat salah faham tentang junjungan kita tadi seperti di zaman Abad Pertengahan.” 

Belum reda masalah buku Henderson, muncul tulisan di AID De Preanger Bode pada 8 April 1941 yang mengutip ulasan buku karya Karl Barth di koran Het Vaderland yang terbit di Belanda. Dalam bukunya, Karl Barth menulis: “… Orang harus menganggap nasional sosialisme sebagai Islam baru, dan Hitler sebagai Nabinya,” yang harus dilenyapkan sebagaimana dulu “hancurnya benteng nabi palsu Muhammad.” Komisi Pemberantas Penghinaan Islam di bawah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) melakukan penyelidikan. Hasilnya dikirimkan melalui kawat ke Dewan MIAI di Surabaya, yang berkesimpulan karya Barth menghina Islam. 

Diceritakan bagaimana pada masa itu berbagai reaksi dari umat Islam terus dilakukan secara legal, berupa protes, mengirimkan mosi, delegasi menghadap yang berwajib, dan sebagainya. Anggota-anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang beragama Islam juga berulang kali membicarakannya dalam sidang-sidang mereka di Volksraad. Organisasi Pembela Islam di Bandung melaporkan kepada Hoofd Parket (Kejaksaan Agung) di Jakarta bahwa penghinaan “pers putih” kepada Islam sudah amat sering. Dalam pertemuan itu, dirumuskan tiga hal penting: pemerintah berikhtiar menyusun undang-undang penghinaan agama, melalui RPD (Regerings Publiciteitsdienst, Dinas Penerangan) terus menganjurkan kerukunan antarumat beragama, dan apabila suatu saat menjumpai kasus penghinaan agama, Kejaksaan Agung membuka pintu selebar-lebarnya untuk pengaduan. 

Apa yang bisa kita ambil dari masa lalu itu adalah bahwa siapa pun tidak boleh melakukan pembakaran buku. Kita harus mengutamakan asas praduga tak bersalah. Bagi yang hendak protes sudah ada jalur hukum yang bisa ditempuh. Atau bisa melawan dengan buku juga, yakni menulis buku untuk menyangkal argumentasi Douglas Wilson tersebut. Dengan begitu perkara kesalahpahaman bisa diselesaikan dengan elegan. 

Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa “pembakaran buku” ini, agar jangan sampai terulang di lain waktu. Kedaulatan buku harus ditegakkan sejak awal. Mari kita selalu mengingat kata-kata Milan Kundera: “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya!” Oleh karena itu, apabila bangsa Indonesia tidak ingin hancur, jangan bakar buku![] 


Jumat, 01 Juni 2012

Menulis adalah Zikir

Kawan-kawan, pernah mendengar nama Abdul Munir Mulkhan? Beliau adalah guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan juga penulis produktif baik bentuk buku maupun tulisan di Koran-koran. Sudah 60 buku lebih beliau hasilkan, dan ratusan tulisan di media massa. Luar biasa, bukan?

Tema yang ditulisnya biasanya seputar keislaman (tasawuf, pendidikan Islam, dll). Apa sih yang bisa membuat dia produktif? Tentu kita bertanya-tanya soal itu. Di usianya yang sudah uzur ternyata beliau masih semangat menulis dan menghasilkan karya. Suatu ketika dalam sebuah seminar, ada yang bertanya sebagaimana pertanyaan di atas, ‘apa sih yang bisa membuat bapak Munir Mulkhan produktif?’ beliau lantas menjawab: “Saya menjadikan menulis sebagai wirid”. Singkat, padat, dan mendalam. 

Kita tahu bahwa wirid adalah melafalkan bacaan-bacaan tertentu dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah SWT. Mungkin bisa kita samakan dengan zikir: mengingat Allah dengan melafalkan kalimah2 thayyibah. Apa yang bisa kita ambil dari kata-kata Pak Munir Mulkhan itu? Bahwa menulis itu sesungguhnya wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah. Menulis adalah olah batin dan laku spiritual. Dengan begitu, menulis adalah aktivitas mulia yang bernilai ibadah dan sangat bermanfaat. 

Kalau sudah begitu, tidak menjadi soal pabila tulisan kita tidak dibaca orang, atau tidak diterima oleh media massa maupun redaktur. Kita pun tidak akan patah arang jika tulisan-tulisan kita terus ditolak media/penerbit. Karena toh kita sudah merasakan nikmatnya “wiridan” tersebut. Justru, dengan begitu sebetulnya secara tidak langsung akan menghasilkan kebiasaan menulis, sehingga lambat-laun dengan sendirinya tulisan kita semakin berkualitas. Dan bukan tidak mungkin redaktur pun akan terketuk pintu hati dan otaknya saat membaca tulisan kita. 

Satu hal yang perlu diingat, bahwa wirid/zikir adalah aktivitas yang tidak mengenal waktu. Tidak hanya selepas shalat, tapi “Qiyaman wa qu’udan,” begitu ditulis dalam Al-Qur’an. Begitu juga dengan menulis pabila dijadikan sebagai wirid, maka konsekuensinya harus melakukan ritual menulis setiap hari. Dengan begitu, kemahiran dalam menulis hanyalah soal waktu. Dimuat di media massa hanya soal waktu. Dan, naskah kita diterima penerbit hanya soal waktu juga. 

Btw, apakah hari ini kawan2 sudah melakukan wirid menulis?

Selasa, 22 Mei 2012

Puncak Suroloyo

Matahari pagi terlihat bersejajar dengan kami, saat kami sampai di pegunungan Menoreh pada pukul 07.00 WIB. Sinarnya begitu lembut menyambut kehadiran kami. Burung-burung berkicau meramaikan angkasa, seolah saling memberi semangat satu dan lainnya dalam memulai aktivitas. Tiga gunung besar di pulau Jawa, yaitu Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi.

Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut, perlahan namun pasti. Itulah pemandangan yang bisa dilihat saat pagi hari ketika kami berada di Puncak Suroloyo, bukit tertinggi di Pegunungan Menoreh yang berada pada 1.600 meter di atas permukaan laut. 

Menuju puncak Suroloyo kami tempuh dengan jalan kaki kurang lebih 7 kilo meter. Kendaraan kami titipkan di rumah penduduk. Kami melewati rute jalan setapak yang hanya digunakan oleh para petani, pencari rumput, dan kayu bakar. Karena itu, medannya cukup sulit untuk dilewati. Jalan setapak yang licin, tanjakan yang mencapai kemiringan 600, harus kami lalui. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang sedang bercocok tanam maupun yang mencari kayu bakar. Mereka tampak ramah, prototype penduduk desa yang penuh dengan keotentikan. Hidupnya jauh dari hingar bingar dunia. Mereka bertekun dengan kesunyian dalam berkarya. 

Dalam sebuah ladang, kami melihat tanaman cabe sedang berbuah, menunggu dipetik oleh pemiliknya. Perjalanan menuju puncak Suroloyo ala jungle tracking sungguh melelahkan, namun itu terbayar dengan keindahan pemandangan yang dapat dilihat dalam perjalanannya. Terlebih pada saat sampai di puncak Suroloyo. Tidak hanya itu, tampias keringat dan udara sejuk nan segar menjadikan diri kami merasakan sensasi yang luar biasa. Lelah tapi puas. 

Saat sampai di sana saya melihat tiga buah gardu pandang. Gardu-gardu tersebut sudah difasilitasi tangga yang kokoh dengan kemiringan 300 - 600. Sungguh itu memanjakan orang-orang yang berwisata ke situ. Menurut cerita yang pernah saya baca, gardu pandang tersebut dahulu adalah pertapaan, yang masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Tempat ini mempunyai kaitan sejarah dengan Kerajaan Mataram Islam. 

Dalam Kitab Cabolek yang ditulis Ngabehi Yasadipura pada sekitar abad ke-18 menyebutkan, suatu hari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang kala itu masih bernama Mas Rangsang mendapat wangsit agar berjalan dari Keraton Kotagede ke arah barat. Petunjuk itu pun diikuti hingga dia sampai di puncak Suroloyo. Karena sudah menempuh jarak sekitar 40 km, Mas Rangsang merasa lelah dan tertidur di tempat ini. Pada saat itulah, dia kembali menerima wangsit agar membangun tapa di tempat dia berhenti. Ini dilakukan sebagai syarat agar dia bisa menjadi penguasa yang adil dan bijaksana. 

Selain memiliki pemandangan yang mengagumkan, Puncak Suroloyo juga menyimpan mitos. Puncak ini diyakini sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa. Dengan kata lain, jika ditarik lurus dari utara ke selatan, serta dari barat ke timur di atas pulau jawa, maka akan bertemu di puncak Suroloyo. 

Mitos inilah yang menyebabkan pada malam satu satu Sura (1 Muharam) kawasan ini sangat ramai dikunjungi baik penduduk, warga setempat, masyarakat Yogyakarta, maupun dari daerah lain. Mereka kebanyakan melakukan ritual untuk menolak bala yang dipercaya akan datang pada bulan suro. Puncak Suroloyo terletak di dusun Keceme, Gerbosari, kecamatan Samigaluh, Kulonprogo. 

Ada dua jalur untuk bisa mencapai tempat ini yakni jalan Godean – Sentolo – Kalibawang (dari arah Yogyakarta dan Puworejo) dan dari jalan Magelang - Pasar Muntilan – Kalibawang (dari arah Semarang). Di gardu pandang Suroloyo, gardu paling tinggi, kami membuka perbekalan yang kami beli saat di perjalanan, tepatnya di pasar Balangan, Minggir, Sleman. Saat kami menikmati jajanan pasar datang seorang turis dari Prancis. Turis itu bernama Robert, seorang penerjemah Prancis-Inggris. Kami pun mengajaknya untuk bergabung. Turis itu terkesan dengan Naga Sari, salah satu makanan khas jawa yang kami bawa. Enak sekali, ujarnya. Perjamuan makan pun kami tutup dengan minum teh hangat. 

Yogyakarta, Jumat 18 Mei 2012

Renungan Malam (22 April 2012)

# Menulis itu memang menuntut kejujuran sejak dalam pikiran. Jika tidak, maka ia akan gelisah saat menggarapnya. Naskahnya pun tidak dibanggakan. Oleh karena itu, menulislah secara jujur. Misalnya, ia jujur kalau ia mengutip kalimatnya dari sesuatu, bahwa itu bukan hasil dari pikirannya sendiri. Dengan begitu ia akan tenang pada saat menggarapnya.

# Menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Satu-satunya yang harus ditaklukkan adalah dirinya sendiri. Satu sisi ia harus melawan kemalasan, sisi lain ia harus menjaga kedisiplinan. Ia harus membaca, merenung, dan lalu menuliskannya.  

# Persoalan orang tidak bisa menulis bukan soal ‘tidak tahu cara menulis’, tetapi pada persoalan tidak bisa menyempatkan waktu untuk menulis. Tidak ada waktu yang tepat untuk menulis. Akan selalu ada gangguan dan alasan baik logis maupun tidak pada saat anda merencanakan “waktu” untuk menulis. Satu-satunya yang bisa menjamin bahwa anda bisa menulis adalah sekarang juga, tuliskan segera apa yang menjadi buah pikiran dan perasaan anda.

# Kegagalan menulis itu mirip dengan saat anda ingin berwirausaha, yakni mempunyai banyak alasan untuk menggagalkannya. Jika dalam bisnis alasannya adalah modal, sedang dalam menulis adalah waktu. Saat modal belum ada, maka ia tidak akan berwirausaha. Saat waktu (menulis tidak ada) maka ia tidak akan menulis.

Kamis, 10 Mei 2012

Sekali Lagi, Kendalikan Facebook

Sekarang ini, internet semakin mengerucut, hanya menjadi facebook.

Betapa tidak, waktu banyak dihabiskan di facebook ketimbang membuka situs-situs lainnya. Tidak sepenuhnya salah sebetulnya untuk membuka facebook, karena masih bisa dijadikan ajang silaturahmi dan mendapat pengetahuan dan berita juga. Tapi, berdasar pengalaman saya, facebook banyak tidak manfaatnya ketimbang manfaatnya, buat saya lho.

Mungkin itu lain halnya jika facebook sebagai lapak atau tempat jualan atau bisa mendatangkan manfaat karena sesuai dengan profesinya. Tapi, bagi saya yang profesinya sebagai penulis, facebook tidak begitu banyak membawa faedah. Facebook memberangus produktifitas. Itu yang saya rasakan. Jadi, hati-hatilah dengan facebook. Kendali harus ada dalam diri kita, bukan pada facebook. Soalnya, sudah banyak orang “disibukkan” dengan facebook. Entah itu pegawai, mahasiswa, siswa, dan yang lainnya.  

Aku pernah menon-aktifkan akun facebook-ku, karena sudah kesal dan bosan, tapi sekarang sudah aku aktifkan lagi. Bisa saja aku memang kecanduan, bisa juga kesepian, atau bisa juga kerinduan, bahkan aku pikir bisa dijadikan tempat mencari uang. Tidak ada alasan yang mutlak. Namun, yang jelas, aku sekarang bisa mengendalikan facebook. Paling tidak, hanya seminggu sekali buka facebooknya. Terus hanya membuka dan membaca akun facebook tertentu yang mendatangkan manfaatnya buatku, terutama yang sesuai dengan bidangku, yakni menulis. Selainnya, aku tak perlu komentar dan tak perlu membacanya. 

Aku harus dianggap bahwa aku sedang tidak aktif atau jarang membuka facebook. Aku hanya akan membalas yang masuk ke inbox saja. Karena itu artinya mereka memang serius ingin berkomunikasi dengan aku. Nah, dengan begitu aku bisa menekan kecanduanku, kerinduanku, dan kelangenanku pada facebook, sehingga aku bisa lebih banyak fokus pada menulis sebagai pekerjaan utamaku. Ingat, pekerjaan utamaku adalah menulis, menulis, dan menulis. Bukan yang lainnya. Aku akan ngamuk menulis.