<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582</id><updated>2012-01-17T05:22:07.886+07:00</updated><category term='Perempuan dalam Dunia Islam'/><category term='Dunia Kepenulisan'/><category term='Motivas Hidup'/><category term='Kasidah Cinta'/><category term='Cerpen'/><category term='Opini'/><category term='Refleksi Hidup'/><title type='text'>PENULIS PINGGIRAN</title><subtitle type='html'>Sebuah lambang selalu melampaui orang yang menggunakannya dan dalam kenyataan membuat dia berkata lebih daripada yang hendak ia jelaskan.
--Albert Camus, Mite Sisifus:Pergulatan dengan Absurditas</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>149</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7929547577727336380</id><published>2012-01-17T05:22:00.000+07:00</published><updated>2012-01-17T05:22:07.900+07:00</updated><title type='text'>Anomali Hujan</title><content type='html'>Di Pati. Sudah dua hari ini hujan turun terus menerus tak kenal henti. Mungkin ada dua hari dua malam. Berhenti hanya sejenak, seolah hendak sekadar mengambil napas saja. Setelah itu hujan turun kembali. Baru kali ini aku menemui hujan seperti ini. Sebelumnya tidak pernah. Bayangan banjir menghantuiku. Betapa tidak bayangkan saja apabila hujan turun terus menerus, air sungai meluap, dan banjir kiriman dari gunung datang menerjang. Mengerikan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ah, semoga saja tidak terjadi perihal ketakutanku itu.  Amin. Meski begitu aku harus siap dengan segala kemungkinan. Toh, apa pun bisa saja terjadi. Dan, aku sebagai hamba-Nya hanya bisa pasrah, tak mampu untuk mengubah sesuatu. Hujan seolah mempunyai dua sisi mata uang: bisa membawa berkah, bisa pula membawa petaka. Tidak sepenuhnya benar pernyataanku itu. Karena hujan sesungguhnya selalu membawa kebaikan, hanya saja manusia yang ditugasi sebagai pengelola dunia tidak amanah dalam menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakamanahan manusia menjadikan sirkulasi alam raya tidak lancar. Misalnya, penebangan pohon yang semena-mena. Hal itulah kemudian saat datang hujan, banyak wilayah menjadi banjir. Karena air yang melimpah tidak terserap tanaman. Sehingga banjir dan longsor. Jadi, bukan hujannya yang bisa disalahkan, tapi ketidaksiapan bumi sendiri untuk menerima air yang melimpah itu. Jika saja hujan makhluk hidup, mungkin dia tidak rela untuk disalahkan apalagi dikambinghitamkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan saat ini seperti sebuah anomali. Satu sisi kita mengharapkan kehadirannya saat kita terkena musim kemarau panjang yang sulit menemukan air, namun sisi lain, saat turun hujan seperti ini, malah kita berharap segera berlalu musim hujan. Karena menyebabkan banjir. Tentu ada yang salah dengan keadaan anomali demikian. Iklim yang tak menentu turut menjadikanya demikian. Pemanasan global juga sangat bertanggung jawab dengan keadaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, banyak faktor sebetulnya yang menyebabkan anomali. Ketakutan kita lah penyebab kita menjadi takut. Aneh juga, mengapa kita harus takut?  Sejak kapan sebetulnya munculnya ketakutan itu yang menyebabkan anomali? Wallahu a'lam. Mungkin saat manusia tidak merasakan manfaatnya apa arti hujan dan apa arti kemarau. Mungkin saat manusia merasakan kala berkah menjadi petaka. Ya, mungkin saja demikian. Tapi, mesti diingat anomali itu—sebagaimana telah disinggung di atas—terjadi karena manusia itu sendiri. Bukan karena yang lainnya. Mari kita merenungkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati, senin, 9 januari 2012.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7929547577727336380?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7929547577727336380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7929547577727336380&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7929547577727336380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7929547577727336380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2012/01/anomali-hujan.html' title='Anomali Hujan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5121615262862983298</id><published>2011-12-13T20:42:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T20:42:35.029+07:00</updated><title type='text'>Wa Dullah</title><content type='html'>Saat mendengar khutbah jumat, pikiranku tiba-tiba menuju satu sosok yang kukagumi karena keistikamahannya. Dia biasa dipanggil Wa Dullah. Usianya sudah tua, mungkin seangkatan dengan almarhum kakekku. Aku tidak tahu persis. Tapi semangat memakmurkan mesjidnya begitu istimewa. Dia tidak hanya sekadar rajin shalat berjamaah lima waktu, tapi juga orang yang selalu pertama dan terakhir di mesjid. Dia yang mengumandangkan azan dan iqamat. Dia yang selalu membersihkan mesjid. Dia juga yang selalu menggelar karpet pas persiapan jumatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagiku Wa Dullah adalah pencinta sejati mesjid, meski pada hakikatnya pencinta Allah yang tulus mendermakan hidupnya pada rumah Tuhan. Beliau adalah orang yang dirinya menyerahkan sepenuhnya pada mesjid. Dia melakukan semua itu hanya berharap rahmat Tuhan. Tidak lebih. Setiap kali pulang kampung aku hampir bertemu dengannya di mesjid. Kadang sembari menunggu shalat berjamaah beliau mengajak aku ngobrol, sambil memijit pundakku. Beliau selalu menasihatiku. Pernah suatu ketika dia memberi nasihat padaku agar aku menjadi penerus kakekku kelak sudah tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian lucu yang sering diceritakan bapakku mengenai Wa Dullah. Pada suatu dini hari Wa Dullah azan. Bapakku terbangun dan melihat jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Bapakku berujar, "Lha, masih jam dua malam Wa Dullah kok sudah azan subuh. Pasti dia salah lihat jam." Dan benar saja, tak lama kemudian beliau mengumandangkan kata, "Hampuraaa". Hampura adalah bahasa sunda yang berarti mohon maaf. Pas subuh, bapakku kemudian bertemu dengannya dan mengonfirmasikan kejadian itu, dan benar saja Wa Dullah salah lihat jam, dikira sudah masuk waktu subuh maka dia buru-buru azan. Dan ketika melihat jam ternyata masih jam dua, maka dia buru-buru lagi membatalkan azannya yang sudah setengah perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekelumit kisah Wa Dullah. Mengenai beliau aku banyak tahu dari bapakku. Bapakku pernah menceritakan asal-usulnya dan kedekatannya dengan almarhum kakekku.  Pas lebaran tahun 2011 dengan ditemani bapak, aku silaturahmi ke rumahnya untuk pertama kalinya. Kulihat sosoknya yang begitu ringkih, dia sudah tidak bisa berjalan lagi. Itu lantaran faktor usia, bukan faktor lainnya. Namun penglihatan dan pendengarannya serta ingatannya masih segar bugar. Aku yakin itu karena hasil dari keistikamahannya memakmurkan mesjid (shalat, ngaji, dan menjaga segala sesuatunya yang ada di dalam mesjid). Dia hanya tidak bisa berjalan lantaran kakinya sudah lumpuh termakan usia. Itu saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya, dan baru kali itu lagi kami bertemu. Aku bersyukur dia masih ingat padaku. Alhamdulillah. Ingatannya masih normal. Biasanya usia yang sudah uzur seperti itu sudah banyak lupa, terlebih kepada orang yang sudah lama tidak pernah bertemu. Tapi beliau sungguh berbeda, berada di luar kebiasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku pernah bilang bahwa keistikamahan Wa Dullah dalam shalat berjamaah di mesjid lima waktu belum ada yang menyamainya. Banyak orang yang lebih muda darinya tapi tidak ada yang rajin shalat berjamaah di mesjid. Mestinya mereka malu. Ujar bapakku. Padahal rumahnya tidak begitu jauh dari area masjid. Bandingkan dengam rumah Wa Dullah yang posisinya antara desa Bojong dan Citumenggung. Lumayan jauh. Meski jika ada yang mengatakan tidak jauh, tapi dia harus naik jika hendak ke mesjid. Butuh perjuangan ekstra untuk ke mesjid dengan medan seperti itu. Terlebih pada musim hujan, jalan yang dilaluinya agak becek. Coba anda bayangkan pada musim hujan beliau keluar rumah menuju mesjid pada menjelang subuh. Gelap dan becek. Tapi, ternyata bagi beliau itu bukanlah halangan. Biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kita melakukannyat? Aku sendiri belum tentu. Wong pas dekat saja kadang malas-malasan. Kebetulan rumah kakek-nenekku persis samping mesjid. Jaraknya cuma 5 langkah padahal. Jadi sungguh memalukan sebenarnya aku jika sedang di tempat kakek aku tidak sampai ke mesjid untuk shalat berjamaah. Rasa malu itu bertambah jika hendak dibandingkan dengan Wa Dullah yang notanene-nya sudah tua dan jauh dari mesjid, namun tidak pernah absen untuk shalat di mesjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa aku ambil dari kisah Wa Dullah itu? Keteladanan dan totalitas. Ya, dua hal itulah yang melekat dalam dirinya yang bisa kulekatkan juga dalam diriku. Istikamahnya dalam "menjaga" mesjid menjadi hal yang patut diteladani, terlebih di zaman sekarang yang menggerus kita dengan pelbagai kesibukan duniawi sehingga melupakan mesjid. Zaman ini adalah dengan meminjam bahasa teman, zaman bergelimang material tapi busung lapar di gurun spiritual. Totalitasnya mengabdi pada Tuhan menjadikan dirinya tak goyah di telan zaman. Wa Dullah tetap hidup bersahaja dan istikamah.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati, 11 Desember 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5121615262862983298?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5121615262862983298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5121615262862983298&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5121615262862983298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5121615262862983298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/12/wa-dullah.html' title='Wa Dullah'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2445084222988323824</id><published>2011-12-13T20:36:00.002+07:00</published><updated>2011-12-13T20:36:39.268+07:00</updated><title type='text'>E 63</title><content type='html'>Sambil marende (ngelonin) Aghza, aku mencoba menulis. Entah mau menulis apa. Aku menulisnya di handphone Nokia E 63. Aku bersyukur sekali bisa beli hp ini, karena aku bisa menulis dimana saja dan sambil apa saja. Contohnya pada saat ini, sambil tiduran aku menulis. Fasilitas ini sangat mendukung aku dalam karier kepenulisanku. Hp ini belum begitu lama aku beli, jadi belum bisa kumaksimalkan segala fasilitasnya. Tapi aku memang hanya tertarik dengan fasilitas word-nya saja. Karena memang itu niatku membeli hp ini; ada fasilitas office-nya, utamanya word-nya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harapanku setelah mempunyai hp ini aku bisa lebih produktif lagi dalam menulis. Aku harap juga aku kehabisan alasan untuk tidak menulis, entah itu waktu, tempat, maupun fasilitas. Dan semoga semangat menulisku karena adanya hp ini bukan semangat sementara, bukan hangat-hangat tahi ayam. Ya, aku harus sadar bahwa semangat yang didasari kebendaan atau yang bersifat eksternal biasanya tidak lama, alias sementara. Biasanya begitu. Oleh karena itu aku harus dapat mengkonversinya menjadi semangat internal, yang betul-betul dapat tahan lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas tidak lebih penting dari menulis itu sendiri. Dengan kata lain, tanpa fasilitas pun aktifitas menulis harus dijalani. Banyak orang beralasan tidak bisa menulis lantaran tidak punya komputer, atau 'nanti saja menulisnya kalau sudah punya laptop', atau ' seandainya aku punya komputer aku akan rajin menulis'. Haha, itu hanya alasan saja, percayalah. Soalnya aku pernah mengalami hal itu. Bahkan alasanku saat ini adalah soal waktu, bukan soal fasilitas; aku sering berkata nanti aku menulis pada pagi hari, eh saat pagi datang malah aku enak tiduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan mutlak ada dalam diri kita.  Kitalah yang mengendalikan sepenuhnya atas kehendak kita setelah Tuhan. Komputer, laptop, hp, dan lain-lain hanyalah fasilitas belaka, jadi anda tidak boleh dikendalikan oleh semua fasilitas itu. So, tanpa fasilitas yang saya sebutkan di atas pun anda tetap bisa menulis asalkan anda punya kehendak untuk melakukannya. Fasilitas hanya wadah untuk bisa melakukannya senyaman dan seefektif mungkin. Fasilitas hanya penunjang agar anda bisa melakukannya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah menulis itu sendiri. Terserah anda menulis di apa saja, asal anda bisa menuliskannya. Anda bisa menulis di buku tulis, buku bekas yang halaman belakangnya masih kosong, bahkan bisa juga di bekas kertas bekas pembungkus bawang, cabai, kemiri, dan lain-lain (kesannya eksotis banget). Jangan salah, aku pun pernah mengalami hal itu. Pada saat belajar menulis resensi, aku masih belum punya komputer, terlebih notebook/laptop. Aku menulis di kertas bekas di halaman belakangnya. Setelah selesai satu tulisan, aku kemudian ke rental, untuk mengetiknya. Jadi, pekerjaanku dua kali. Kedaan itu aku jalani kurang lebih setengah tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya juga dengan Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun. Dia katanya sering menulis di secarik kertas. Pada saat dia manggung lalu mendapat ide, dia pergi ke belakang panggung dan menungkan idenya di secarik kertas. Tidak heran apabila dia begitu produktif (menulis) di tengah produktifitas lainnya, seperti ceramah budaya, main teater, dan bermusik dengan Kyai Kanjeng. Padahal saat itu belum zamannya komputer, dan aku yakin dia tidak begitu akrab dengan soal fasilitas modern itu, paling-paling hanya mesin ketik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan yang cukup produktif menulis di media massa, Muhammadun As, pernah berkisah juga bahwa di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan kuliah masternya, dia tetap bisa menulis. Aktivitas menulisnya sama sekali tak terganggu. Jadi setelah anak dan istrinya tidur, dia kemudian menulis. Agar kuat menulis, dia cukup menyediakan air putih saja, dan mungkin dengan beberapa batang rokok. Luar biasa, bukan? Bahwa selain ketiadaan fasilitas, waktu sibuk pun bukan alasan untuk tidak bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi alasan yang biasanya orang tidak bisa menulis, yaitu tidak adanya mood. Haha, ini nih yang sering sekali aku mendengarnya. Tidak adanya mood membuat orang macet menulis. Mereka tidak ada hasrat untuk menggerakan otak dan jari-jari tangannya baik di atas kertas maupun komputer/laptop. Tapi tunggu dulu, apa betul anda macet menulis karena tidak ada mood? Jangan langsung menuduh mood dulu, siapa tahu bukan itu penyebabnya. Kalau aku tidak begitu percaya penyebabnya itu, aku lebih percaya bahwa penyebab macet menulis lantaran aku malas berpikir dan malas menulis. Itu saja. Anda boleh percaya boleh tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap setelah punya hp ini aku tidak malas-malasan lagi untuk menulis.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pati, 9 Desember, 2011, pkl. 14.21 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-2445084222988323824?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/2445084222988323824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=2445084222988323824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2445084222988323824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2445084222988323824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/12/e-63.html' title='E 63'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3477844387934454985</id><published>2011-12-07T10:46:00.000+07:00</published><updated>2011-12-07T10:46:30.125+07:00</updated><title type='text'>Kebelet</title><content type='html'>Hari ini aku pulang—dalam perjalanan—menuju Pati. Aku lewat rute Semarang, padahal biasanya lewat rute Purwodadi. Dari berita aku mendengar di Purwodadi banjir, makanya aku pilih jalan Semarang. Saat ini baru sampai Magelang. Palbapang hingga Armada sekarang jalannya lebar, jadi lumayan cepat perjalanannya. Wah, kalau dulu pas jalannya masih sempit, perjalanan agak lama, karena macet dan pas tanjakan. Untunglah hal itu tidak berlangsung hingga sekarang. Mungkin inilah yang dinamakan kemajuan, he-he. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan selau membawa cerita, walau ada yang mengesankan atau pun tidak. Tinggal bagaimana kita menyerapnya. Ada cerita mengenai kita sendiri dan ada pula tentang orang lain. Ada yang bisa diserap untuk dijadikan pelajaran dan ada yang tidak. Salah satu kisah menarik yang aku alami sendiri adalah pada saat di bis Mira jurusan Surabaya - Yogyakarta. Aku naik dari terminal Solo hendak ke Jogja. Waktu itu aku duduk di bangku paling belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampingku ada seorang bapak tua (pantas disebut kakek sebetulnya) sedang gelisah. Sebentar-sebentar dia duduk lalu berdiri. Kadang maju sedikit. Terus ada orang lain yang berkata padanya, "Ngomong sama kondekturnya, pak!" Jujur aku belum ngeh sedikit pun, ada apa gerangan dengan si bapak itu. "Bisa gak berhenti di pom bensin?"  Ujar si bapak itu memohon kepada kondektur saat berada di dekatnya. Sang kondektur rupanya mencuekin permohonan si bapak itu. Bapak itu lalu duduk lagi. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dia lalu bertanya padaku, "Mas, punya Aqua, gak?" &lt;br /&gt;"Ada, pak." jawabku, kemudian aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebotol Aqua yang masih penuh. kuberikan padanya. &lt;br /&gt;"Ayo masnya minum dulu!" ujar bapak itu. &lt;br /&gt;"Oh tidak pak, silakan bapak dulu aja" jawabku. &lt;br /&gt;Bapak itu lalu membuka  botol Aquanya, dan meminumnya, tapi dia lalu berjalan menuju pintu bis yang agak sedikit turun. Dia lalu membuka celananya, setelah itu aku tidak memperhatikannya lagi, karena aku tahu dia hendak melakukan apa.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, rupanya bapak itu kebelet pengen buang air kecil (bak). Setelah dia melepaskan hajatnya kulihat mukanya begitu tenang, gerak-geriknya tidak gelisah lagi. Plong, mungkin begitu yang dia rasakan. Ha-ha, ternyata yang membuat dia tidak bisa diam, berdiri-duduk, maju-mundur, kesana-kemari, ternyata dalam rangka menahan buang hajatnya; dia tidak tahu hendak membuang kemana; bingung. Mau ngomong ke sopir tidak berani. Dan memendamnya membuat dirinya tersiksa. Tapi, dia akhirnya membuat keputusan yang terbilang nekad. Mungkin itu cara yang terbaik baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan memang harus dia ambil, jika tidak dia akan terus tersiksa selama dalam perjalanan. Aku tidak tahu sejak darimana dia menahan kencingnya. Setahuku dia naik bukan dari Solo, karena dia sudah ada pas aku naik bis tersebut. Mungkin dari Sragen, Mantingan, Madiun, Jombang, atau jangan-jangan dari Surabaya, hmm. Betapa tersiksanya bapak itu menahan kencingnya. Bisa kita bayangkan hal itu, karena kita pun mungkin pernah mengalami hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi mendapat pelajaran berharga dari kejadian itu, betapa bersyukurnya aku bisa buang air kecil dengan lancar, tanpa ada halangan. Hal kecil itu kadang luput dari perhatianku; kadang luput untuk disyukuri. Aku hanya mensyukuri hal-hal besar seperti pas mendapat rejeki nomplok, mendapat pekerjaan bagus, dan lain sebagainya. Sedang hal-hal kecil seperti bisa kentut, bisa buang air besar (bab), bisa berkedip, dan termasuk bisa kencing, aku telah melupakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali cara mensyukuri dari hal-hal semacam di atas adalah dengan menjaga kesehatanku sendiri dan lingkunganku. Ya, kata kuncinya adalah kepedulian terhadap kesehatan sendiri dan orang lain. Aku harus menjaga pola makan, kerja keras yang teratur—tidak memaksanya jika sudah letih, dan tidak juga memanjakannya jika memang belum letih, olahraga, saatnya buang air kecil/besar, maka buanglah segera. Begitu juga aku harus berpartipasi dalam kesehatan sesama, seperti bersih-bersih lingkungan, donor darah, dan lain-lain. Aku harus selalu ingat bahwa penyakit itu timbul dari hal-hal sepele dan keberlebihan kita dalam sesuatu. Jika tidak percaya, cobalah aku tahan kencingku pas pengen kencing, maka timbullah kencing batu. Atau makanlah sebanyak-banyaknya makan aku akan muntah, atau kolesterol, darah tinggi, dan hal-hal negatif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta-Pati, 5 desember 2011.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                                 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3477844387934454985?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3477844387934454985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3477844387934454985&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3477844387934454985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3477844387934454985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/12/kebelet.html' title='Kebelet'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2383273504098150960</id><published>2011-12-05T06:50:00.000+07:00</published><updated>2011-12-05T06:50:04.216+07:00</updated><title type='text'>See U Facebook</title><content type='html'>Alhamdulillah semenjak akun fb-ku kunonaktifkan aku bisa menulis lebih banyak lagi, terutama menulis di blog lagi. Tentu ini adalah hal positif, meski konsekuensinya aku tidak lagi berkomunikasi dengan banyak orang di fb dari pelbagai daerah. Ah, tak mengapa, karena lebih banyak "mudarat"-nya ketimbang manfaatnya. Mudarat yang kumaksud adalah banyak sekali waktu yang kubuang secara cuma-cuma. Ada waktu yang mestinya kuisi dengan menulis resensi eh malah dibuat fesbukan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu itu sebuah kerugian bagiku. Dan itu membuatku tidak produktif. Dan itu membuatku makin ketinggalan dari orang-orang yang sama-sama mengejar mimpi seperti aku. Maka menghentikan (sementara) akun fesbukku adalah langkah positif, karena senyatanya membuatku produktif. Anda tak harus mengikuti jejakku ini karena ini hanya usaha pribadiku saja, yang bisa jadi tidak akan sesuai dengan anda. Tapi kalau mau mengikuti langkahku ini tidak mengapa, haha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik ke belakang, di mana saat aku belum punya akun fesbuk, aku lumayan produktif menulis. Paling tidak aku bisa membuat 4 resensi dan tulisan-tulisan lainnya. Tapi setelah mempunyai fb, produktifitasku mulai turun, meski tidak drastis. Sedikit demi sedikit waktu kreativitasku mulai tergerus oleh fesbuk ini. Waktu itu aku belum pasang internet di komputerku. Bukannya belum tapi memang belum "zaman"nya modem-modeman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi waktu itu kalau ngirim tulisan aku harus ke warnet. Dan di warnet aku cuma kirim tulisan saja, dan sedikit googling bahan tulisan. Jadi waktunya pun cuma sebentar, kadang 5 menit, 10 menit, 30 menit, atau maksimalnya 1 jam. Tapi coba lihat setelah aku punya akun fb, hampir tidak pernah aku di warnet cuma sebentar, minimalnya 1 jam. Dan itu cuma untuk fesbukan saja tidak dengan yang lainnya. Semenjak fesbukan juga aku jadi jarang googling. Internet itu seolah-olah hanya fesbuk semata—sangat identik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu fesbuk ada manfaatnya juga dong. Sungguh tidak fair kalau aku mengatakan fesbuk murni mudarat. Karena kenyataannya aku banyak mendapat pengetahuan dan informasi dari fesbuk. Dan yang lebih penting aku juga mendapat kenalan dengan para penulis, penerbit, pembaca bukuku, dan yang lainnya. Bahkan terkadang aku mendapat rezeki juga dari sana, seperti ada yang beli bukuku langsung dariku. Jadi sekali lagi fesbuk sungguh berjasa bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bisa saja aku tetap mengaktifkan akun fesbukku, tapi masalahnya aku belum bisa mengendalikan fesbuk tersebut, malah aku yang dikendalikan olehnya. Aku seperti kecanduan, sehari saja tidak fesbukan seperti ada yang kurang, ada yang belum terpenuhi. Bukankah itu berbahaya? Aku seperti diperbudak olehnya. Maka dari itulah aku memutuskan untuk menon-aktifkan sementara akun fesbukku. Entah sampai kapan. Aku harus melepas ketergantungan dari fb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini sudah dua orang yang bertanya soal fesbukku. Hehe. Sorry deh kawan-kawan jika aku sudah tidak berkomunikasi lagi via fb. Tapi kan masih ada media lain untuk melakukan komunikasi? Aku merasa fb hanya sebagai ajang narsis aku saja ketimbang silaturahmi. Buat status dan upload foto hanya sekadar ingin dibaca orang lain. Seolah aku ingin diperhatikan. Fesbuk membuatku kehilangan kemisterianku, hehe.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 3 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-2383273504098150960?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/2383273504098150960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=2383273504098150960&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2383273504098150960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2383273504098150960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/12/see-u-facebook.html' title='See U Facebook'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7900880517155612392</id><published>2011-11-28T18:40:00.000+07:00</published><updated>2011-11-28T18:40:57.315+07:00</updated><title type='text'>Ampun Deh…</title><content type='html'>Mau menulis apa ya sore ini? banyak sebetulnya, tapi entah aku harus mendahulukan yang mana. Ah, kebanyakan bahan pusing juga, sepusing saat tidak adanya ide. Tapi, yang jelas, aku lega bukan main, karena aku sudah menyelesaikan 60 halaman editan. Ini rekor baru dalam karier editanku yang halamannya begitu gemuk. Patut aku syukuri prestasi harianku ini. Alhamdulillah. Tapi, aku berencana akan kulanjutkan lagi malam ini editanku, sampai 30 halaman. Ah, semoga saja bisa. Mood ini harus aku jaga sebaik-baiknya, karena jarang-jarang datangnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai peristiwa baik yang aku alami sendiri maupun orang lain memberikan pelajaran berharga bagiku. Begitu juga kisah-kisah yang dialami kawan-kawanku, baik kisahnya kawanku sendiri maupun kisah kawannya kawanku. Semua itu menyodorkan hikmah dan pelajaran yang bernilai, yang sangat berguna bagiku, entah itu peristiwa yang harus kuikuti maupun yang harus kuhindari. Misalnya, seorang teman yang belum berani mengambil keputusan besar untuk menikahi kekasihnya, lantaran faktor finansial yang minim atau faktor tergoda oleh perempuan lain; ada juga kisah temannya teman yang hidupnya bergelimang materi tapi anaknya mengidap penyakit epilepsi—dimana kata temanku sebanyak apa pun duit, tidak ada apa-apanya kalau anaknya sudah kumat penyakitnya. Dari peristiwa itu aku harus bersyukur dengan sesungguh-sungguhnya. Betapapun minimnya kondisi finansialku tapi aku bersyukur kondisi keluargaku baik-baik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pengalaman yang menimpaku yang harus kuambil pelajarannya. Aku masih ingat, bersama seorang kawan aku hendak membuat penerbitan yang didanai oleh seorang pemilik toko buku besar di Indonesia, tapi tidak jadi. Ketidakjadian itu sangat tidak jelas alasannya. Walaupun ada alasannya, sungguh tidak masuk akal sama sekali. Yang jelas yang aku tahu, awalnya kawanku tidak serius merintis rencana penerbitan ini tapi kemudian alasannya dibuat-buat. Mestinya kami segera menemui sang donator, tapi tidak pernah jadi. Banyak alasan. Akhirnya molor terus dan tidak pernah kesana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal waktu itu sang donator sudah menanti-nanti kapan kita bisa ketemu untuk membuat pendirian penerbitannya. Walhasil, kawanku itu tidak ada keinginan lagi membuat penerbit karena bla-bla-bla. Alasannya sangat banyak. Dia seperti takut untuk membuat penerbitan itu, karena barangkali dalam hitungannya akan merugikan dia. Itu sangat berbeda sekali saat pertama kami selepas bertemu dengan donatur. Dia begitu bersemangat dan berapi-api, dan sudah punya mimpi juga untuk siap-siap “naik lift”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan tanya tentang aku waktu itu; aku sendiri pas pulang dari pertemuan itu, sekitar jam 1 dini hari, aku langsung menelpon istriku. Aku kabarkan berita baik itu. Aku ceritakan semuanya hasil pertemuan itu. Aku dan istriku begitu gembira. Masa depan cerah seolah sudah terlihat. Pas tanggal tertentu kami sudah merencanakan untuk bertemu donatur, tapi kawanku membatalkannya. Lalu, aku tanya lagi kapan kita bisa bertemu dengan donatur lagi. Jawabannya mengambang, tidak ada langkah konkrit. Meski begitu aku tetap menjalin persahabatan dengannya. Hanya saja dalam konteks soal uang aku tidak mau lagi. Persahabatan lebih aku utamakan, ketimbang permusuhan, karena bisa saja aku marah, protes dan mengkritisi kawanku itu yang tidak serius membuat penerbitan dan sudah membuat harapanku pupus. Tapi, aku tidak ingin melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku dapatkan dari pengalaman itu adalah bahwa aku tidak boleh menggantungkan harapan pada orang lain. Begitu juga sebaliknya, aku tidak boleh memberikan harapan pada orang lain, karena ketika harapan itu tidak tercapai, maka aku hanya akan membuat orang lain kecewa. Itu saja. Dan sudah selayaknya, aku harus membuat harapan sendiri dengan upayaku sendiri. Itu lebih aman. Kecewa dan bahagia akan aku rasakan sendiri, ha-ha-ha. [] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 28 november 2011, pkl. 17.58 WIB. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7900880517155612392?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7900880517155612392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7900880517155612392&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7900880517155612392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7900880517155612392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/11/ampun-deh.html' title='Ampun Deh…'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8146979141241288975</id><published>2011-11-20T17:00:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T17:00:43.853+07:00</updated><title type='text'>Hanya Soal Mentalitas Saja</title><content type='html'>Tadi malam timnas Sepakbola Indonesia menang lawan Vietnam di semi final Sea Games. Lumayan puas menontonnya. Keduanya bermain sangat terbuka dan saling serang. Asyik sekali melihatnya. Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi catatanku untuk tim Indonesia. Misalnya, sikap individualisnya Okto M. dia terlalu banyak membawa bola sendirian padahal sudah dekat dengan garis kiper. Seandainya dia mengoper bola yang dia kuasai saat dia terdesak, tentu peluang meraih gol sangat besar. Dia malah terus membawanya meski dalam keadaan terdesak, padahal ada kawan yang cukup bebas untuk melakukan penetrasi. Itu sungguh menjengkelkan. Tapi, kecepatannya sungguh tidak diragukan. Sangat luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, secara kesebelasan, permainan mereka terlalu terburu-buru, tidak taktis dan praktis. Mereka kebanyakan bermain lambung. Mungkin ingin bergaya Liga Inggris, he-he-he. Tapi, kurang maksimal, masih banyak kekurangannya. Walhasil, bola mudah direbut, dan permainan sering kali didominasi oleh Vietnam. Tapi okelah, secara keseluruhan tim Indonesia lumayan bagus ketimbang pas lawan Malaysia di pertandingan sebelumnya. Begitu buruknya Indonesia pas lawan Malaysia itu. Mereka kalah 0-1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beberapa pemain inti diistirahatkan, untuk persiapan pertandingan  lawan Vietnam tadi malam. Apakah memang Indonesia selalu grogi dengan Malaysia, karena secara pengalaman terdahulu Indonesia selalu kalah dalam pertandingan penting, seperti di final piala AFF, tempo lalu. Tapi itu bukan alasan yang signifikan. Kalah ya kalah, jangan banyak dalih. Dan harus diakui Malaysia lebih baik. Utamanya pertahanannya yang begitu solid dan kuat. Apa sesungguhnya rahasianya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentalitas. Ya, itulah kunci sukses tim Malaysia. Mereka punya mental yang kuat dalam meraih pertandingan. Sikap superior selalu ditunjukkan mereka. Mental yang kuat memberikan antusiasme yang lebih. Ada gelora yang besar dalam dada mereka. Tentu saja mentalitas itu disertai dengan teknik dan taktik yang brilian. Saya melihat tim Indonesia belum terlihat. Geregetnya kurang menonjol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rahmad Darmawan (RD), sang pelatih, kekalahan dari Malaysia adalah sebuah pukulan. Namun, hal itu harus dijadikan motivasi untuk bangkit. “Saya berharap kekalahan ini bukan sebuah pukulan yang membuat jatuh. Saya harap ini sebuah pukulan untuk bangun dan termotivasi.” Itulah yang dikatakan RD. Luar biasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, tim asuhannya betul-betul sangar pas lawan Vietnam. Mental bertarungnya kelihatan. Mereka benar-benar habis-habisan. Aku salut. Dan akhirnya, timnas Indonesia berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-0. Dan di final (senin, 21 November 2011) akan bertemu Malaysia kembali. Semoga kekalahan dari Malaysia pas di perebutan juara group menjadi pelajaran berharga, dan menemukan taktik jitu untuk menaklukannya. Walau tidak menang, mari tunjukkan mentalitas yang kuat, dengan disertai permainan yang apik (taktik dan teknik yang jitu). Bravo Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, minggu, tgl. 20.11.2011 (hari ini nomornya cantik, seperti 11.11.2011), pkl. 16.49   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8146979141241288975?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8146979141241288975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8146979141241288975&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8146979141241288975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8146979141241288975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/11/hanya-soal-mentalitas-saja.html' title='Hanya Soal Mentalitas Saja'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2852368477669481839</id><published>2011-11-19T16:34:00.000+07:00</published><updated>2011-11-19T16:34:58.892+07:00</updated><title type='text'>Kapitalis dan Idealis</title><content type='html'>Di luar hujan lumayan lebat. Aku kehabisan ide mau berbuat apa. Membaca sudah, menulis (mengedit) juga sudah. Rasanya mau ngapa-ngapain agak malas. Akhirnya, kunyalakan notebook dan kubuat secangkir teh hangat. Dalam pikiranku saat menyalakan notebook bukan untuk menulis buku atau pun resensi, tapi mau menulis catatan harian saja. Entah kenapa, menulis catatan harian (cathar) atau biasa disebut diary begitu mengasyikkan. Tak pernah bosan. Bahkan ada perasaan lega, puas, senang, dan perasaan positif lainnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini harus disyukuri, karena jarang-jarang juga aku melakukannya pada saat banyak pekerjaan. Terutama saat aku bekerja di kantoran. Jadi, mumpung masih banyak waktu luang, maksudku waktu yang tidak terikat, aku harus menggunakannya untuk menulis diary. Terserah apa saja yang hendak aku tulis. Anggap saja sebagai sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tak perlu dipikirkan bermutu atau tidak tulisannya, bagus atau tidak bahasanya, yang penting menulis. Ya, menulis segala unek-unek dalam otak dan hati. Unek-unek bisa dari diri sendiri maupun orang lain, baik yang dirasakan sendiri maupun dirasakan orang lain, baik kisah sendiri maupun kisah orang lain. Dari mana saja dan apa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada baiknya memang tulisanku harus dibagi dua, satu sisi ada yang diarahkan, dan sisi lain ada yang dibebaskan. Maksudku, satu sisi bisa dijadikan bahan buku, sisi lain bisa memplongkan pikiran dan perasaan. Satu sisi kapitalis, sisi lain idealis, ha-ha-ha. Jadi, dua sisi ini memang tidak bisa dipisahkan dalam diriku. Keduanya sama-sama tumbuh, dan sama-sama membawa masalah dalam hidupku, he-he-he. Lho, kok masalah? Mari aku perlihatkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri, kalau aku mencari nafkah memang dari menulis. Itu fakta. Tapi, aku juga masih mempunya sisi idealisme, yakni tetap setia pada jalur ini. Banyak godaan ingin bekerja pada hal yang lain, tapi aku menepisnya. Aku ingin bekerja yang masih berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Utamanya lagi, aku ingin bekerja sebagai penulis, dan menulis yang aku sukai. Itu idealisme aku. Aku pernah menjadi guru, pernah juga menjadi dosen, pernah juga menjadi penjaga taman bacaan, tapi entah kenapa aku tidak merasa cocok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku merasa cocok pas kerja di bidang tulis-menulis. Tapi, lha kok masih ada ‘tapi’nya? Bukankah sudah sesuai dengan idealisme-ku? Nah, ternyata aku pun tidak cocok dengan menjadi pekerjaan kantoran. Aku pernah kerja di penerbitan, di mana aku harus ngantor tiap harinya. Ternyata, aku merasa jenuh kerja di kantor. Monoton banget. Akhirnya aku minta resign saja. Payah memang diriku ini. Tapi mau bagaimana lagi? Jadi, yang paling cocok bagiku adalah menulis di rumah/kos, ha-ha-ha. Aku merasa bebas dan leluasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma masalahnya aku kadang tidak disiplin, tidak mendapat kepastian finansial dari apa yang kutulis, dan banyak menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif. Aku kebanyakan melakukan yang bernilai 20 % dan tidak melakukan yang bernilai 60%--jika menggunakan pembagian waktu berrdasarkan hukum Pareto.  Inilah PR-ku. Dan sampai saat ini aku masih ngisi PR tersebut setiap hari. Semoga aku bisa menyandingkan dengan indah antara kapitalis dan idealis dalam hal tulis-menulis. Semoga pilihanku tidak keliru, ha-ha-ha. Semoga sukses bagiku. Semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 19 November 2011, pkl. 16.27, saat turun hujan dengan deras, dan aku menyesap teh hangat. Hmm… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-2852368477669481839?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/2852368477669481839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=2852368477669481839&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2852368477669481839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2852368477669481839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/11/kapitalis-dan-idealis.html' title='Kapitalis dan Idealis'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3131404292794484188</id><published>2011-11-18T17:02:00.000+07:00</published><updated>2011-11-18T17:02:51.781+07:00</updated><title type='text'>Hari Ini Disyukuri, Hari Esok Diharapkan</title><content type='html'>Alhamdulillah, hari ini sesuai target. Editing Masnawi sesuai rencana, aku mengedit sekitar 10 halaman. Sedikit sebetulnya, tapi aku merasa puas, karena sesuai dengan rencana. Namun, harus aku tingkatkan lagi menjadi 20 sampai 30 halaman. Karena, terlalu sedikit kalau aku menargetkan 10 halaman per hari. Terlebih jika melihat ketebalan bukunya yang mencapai 400-an halaman, dan diberi waktu oleh penerbit hanya 3 minggu. Jadi, mau tak mau aku harus menambah halaman lagi per harinya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ada dua naskah pula yang sedang aku garap, dari dua penerbit. Ini naskahku sendiri. Aku menargetkan satu bulan ini kedua naskah itu bisa rampung. Terkesan nafsu mungkin, tapi tidak mengapa, karena sudah ada beberapa naskah yang menunggu aku garap pula, walau sebenarnya naskah-naskah itu belum ada yang meminangnya, alias belum ada kepastian untuk diterima dan diterbitkan oleh penerbit. Tidak mengapa. Aku tetap akan menggarapnya karena siapa tahu bisa diterbitkan, baik oleh penerbit orang lain maupun penerbit sendiri, he-he-he. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi-prestasi kecil di atas patut aku syukuri, karena tanpa tekad yang kuat dan kemurahan dari Tuhan, sungguh tidak akan terjadi. Janganlah aku melupakan hal itu, karena syukur itu akan membuka prestasi-prestasi lainnya. Aku harus yakin itu. Aku tidak boleh luput dari perasaan syukur. Bayangkan saja, di saat orang lain mengalami kesulitan dalam masalah menulis buku, aku malah dilancarkan. Dua hal yang sangat kontras. Dan juga di saat orang lain kesulitan mendapat ide-ide untuk menuliskan sesuatu, aku malah kelimpahan ide yang bisa kutulis menjadi buku. Subhanallah banget, bukan? *sindrom syahrini* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ekspresi rasa syukur itu aku harus mengejawantahkannya dalam tindakanku sehari-hari. Jangan sampai aku kufur nikmat, lupa dengan segala nikmat yang Tuhan berikan padaku ini. Meski hidupku kadang susah, aku harus tetap berpikir jernih, aku harus tetap semangat menjalani hidup ini. Tidak boleh putus asa. Tidak boleh habis harapan. Yakinkan pada diri ini bahwa aku mampu menjalani hidup dengan segala keterbatasan, entah itu keterbatasan harta, keterbatasan kemampuan, maupun keterbatasan lainnya yang selalu mengganjal cita-citaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu akan bisa kuatasi dengan menjadikan diri sebagai pribadi yang penuh semangat dan kemauan untuk terus belajar. Semangat itu penting, karena akan menjaga aku dari keputusasaan. Semangat itu perlu, karena itu menjadi semacam bensin untuk menggerakkan roda perjalanan hidupku menuju arah atau tujuan yang hendak ingin kucapai. Sedang soal kenapa aku harus terus belajar, kiranya sudah jelas, bahwa dengan menanamkan ‘aku sebagai manusia pembelajar’ aku akan terus menggali pelbagai macam pengetahuan; pengetahuan apa saja. Kemampuanku akan terus terasah jika aku terus belajar, dan belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat dan belajar itu aku yakin hari esok segala yang aku harapkan bisa tercapai. Tentunya dengan izin Allah. Dan dengan mensyukuri hari ini membuat hidupku berlimpah kenikmatan. Kepada Tuhan aku memohon dan kepada-Nya pula aku berserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 18 November 2011, pkl. 16.57. sembari minum teh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3131404292794484188?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3131404292794484188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3131404292794484188&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3131404292794484188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3131404292794484188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/11/hari-ini-disyukuri-hari-esok-diharapkan.html' title='Hari Ini Disyukuri, Hari Esok Diharapkan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8350308030307649213</id><published>2011-11-14T12:58:00.000+07:00</published><updated>2011-11-14T12:58:45.534+07:00</updated><title type='text'>Kutempuh Jalan Sunyi</title><content type='html'>Jalan yang aku tempuh adalah jalan sunyi. Jalan yang jarang dilalui orang. Tidak semua orang suka dengan jalanku. Barangkali tidak popular dan tidak biasa.  Barangkali tidak menjanjikan apa-apa, selain kesunyian. Entahlah. Yang jelas demikian faktanya. Di antara sekian banyak teman-temanku, mulai dari teman SD, MTs, MAK, hingga PT, sepengetahuanku tidak satu pun ada yang menempuh jalan sepertiku. De facto. Merek lebih memilih jalan lain, yang ramai, dan menjanjikan. Ya, menjanjikan segala sesuatunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, mengapa aku memilih jalan sunyi itu padahal jelas-jelas banyak orang tidak menempuhnya? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini aku belum mendapat jawaban yang mantap. Paling-paling aku hanya bisa menjawab, bahwa aku memilih jalan itu karena sesuai dengan karakter dan kepribadianku. Ya, begitu saja. Bisa saja aku memilih jalan yang banyak ditempuh layaknya kawan-kawanku juga, karena secara kualitas keilmuan, kapabilitas, tidak jauh berbeda dengan mereka. Tapi, ya itu tadi, sebagaimana yang aku sebutkan di atas, tidak cocok dengan karakter dan kepribadianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski jalan ini jalan penuh kesunyian aku harus menempuhnya, karena sudah menjadi pilihanku. Aku telah memilihnya, maka aku harus bertanggungjawab. Jadi, aku tidak boleh mengeluh (paling tidak jangan mengeluh terlalu banyak, haha), dan tidak pula bersedih karena kondisi itu. Mengapa aku mengatakan demikian, karena keluhan dan kesedihan sering aku rasakan di jalan ini. Jalan ini begitu terjal, penuh kerikil, bebatuan, dan lubang yang menganga, yang membuatku sulit berjalan cepat, dan harus hati-hati dalam melangkah. Semua keadaan itu menggoda aku untuk marah, mengeluh, menggerutu, sumpah serapah, dan hal-hal negatif lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus yakin bahwa jalan ini adalah jalan menuju keindahan dan kebahagiaan. Aku harus yakin seyakin-yakinnya di ujung jalan sana ada sebuah “dunia” yang penuh pesona, penuh kenikmatan, penuh keindahan, dan penuh kebahagiaan, yang kontras dengan jalan ini sendiri. Itulah “sebuah dunia” yang dijadikan balasan bagiku jika kelak aku dapat sampai di ujung jalan ini. Aku harus yakin bahwa jalan yang kutempuh ini bukan jalan buntu, bukan pula jalan yang penuh kesia-siaan. Aku harus yakin itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin keresahan dan kegelisahan yang kutempuh di jalan ini disebabkan oleh  orientasiku juga yang serba kapitalistis, di mana segala hal yang kulakukan harus mendatangkan finansial alias rupiah. Maka jadinya aku resah dan gelisah tatkala gagal meraup uang. Namun begitu, wajar sebetulnya jika aku mempunyai niat dan orientasi ini, karena manusiawi—butuh sandang, pangan, dan papan—terlebih aku sudah beristri dan beranak. Cuma jangan terlalu, itu saja. Jadi, kuncinya ada pada kontrol diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit yakin seandainya aku tidak money oriented maka jalan yang kutempuh ini akan penuh dengan kebahagiaan. Lakukan segala sesuatunya sebagai panggilan hidup, sebagai pengabdian pada masyarakat. Betapa tidak, aku akan banyak membantu orang dalam segi pencerahan hidup, penambah wawasan bagi banyak orang, dan “petunjuk” menuju hidup kayak makna. Bukankah itu perilaku terpuji? Sungguh, aku harus yakin dengan hal itu. Keyakinan itu penting karena akan membuat aku percaya diri dalam hidup ini. Keyakinan itu penting karena akan memantapkan jiwa dan ragaku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat dengan puisi Emha Ainun Nadjib berjudul “Jalan Sunyi”:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi&lt;br /&gt;Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati&lt;br /&gt;Puisi yang kusembunyikan dari kata - kata&lt;br /&gt;Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kau dengar tangis di saat lengang&lt;br /&gt;Kalau bulan senyap dan langit meremang&lt;br /&gt;Sesekali temuilah detak - detik pelaminan ruh sepi hidupku&lt;br /&gt;Agar terjadi saat saling mengusap peluh dendam rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuanyam dari dan malam dalam nyanyian&lt;br /&gt;Kerajut waktu dengan darah berlarut - larut&lt;br /&gt;Tak habis menimpukku batu demi batu kepalsuan&lt;br /&gt;Demi mengongkosi penantian ke Larut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku yang paling berkesan dari puisi di atas adalah kelompok bait terakhir, yang menggambarkan betapa beratnya orang menempuh jalan sunyi. Segala derita dari waktu ke waktu dia rasakan, dan hanya dia yang merasakannya. Tak ada orang lain, tak ada yang peduli. Ujian datang silih berganti, tak habis-habisnya. Semua itu dia lakukan demi sebuah idealisme, sebuah cita-cita yang didambakannya. Itulah ongkos yang harus dia bayar dengan begitu mahalnya. Jalan sunyi adalah jalan penuh onak-duri. Dan dia menempuh jalan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan sunyi ini aku seperti tidak menghamba pada siapa pun. Aku merasa menjadi manusia merdeka. Aku tidak terikat oleh apa pun, tidak meruang dan mewaktu. Jalan ramai hanya membuat aku si pejalan sunyi menjadi kering jiwa, mematikan rasa, tidak peka dengan lingkungan. Jalan ini jauh dari hiruk-pikuk. Di jalan ini yang ada hanyalah ketenangan yang bercabang: bisa melenakan dan bisa menyadarkan. Tinggal bagaimana yang menjalaninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan terus berjalan di jalan sunyi ini, karena aku merasa membuatku menemukan nurani.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8350308030307649213?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8350308030307649213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8350308030307649213&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8350308030307649213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8350308030307649213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2011/11/kutempuh-jalan-sunyi.html' title='Kutempuh Jalan Sunyi'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5084282789450117375</id><published>2010-12-29T17:17:00.000+07:00</published><updated>2010-12-29T17:17:34.848+07:00</updated><title type='text'>Lomba Resensi Buku Percy Jackson, THE LAST OLYMPIAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TRsKYaoMbGI/AAAAAAAAAkw/PB-ZWbey1eg/s1600/tlo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TRsKYaoMbGI/AAAAAAAAAkw/PB-ZWbey1eg/s320/tlo.jpg" width="204" /&gt;&lt;/a&gt;Buruan..ikuti lomba resensi Percy Jackson, THE LAST OLYMPIAN&lt;br /&gt;Syarat : Posting resensi kamu via facebook dan tag minimal 20 sobat kamu termasuk Rumah Buku Hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga resensi utama yang terpilih berhak mendapatkan masing-masing.. hadiah uang senilai Rp 1 juta rupiah plus paket buku senilai Rp 250.000 rupiah. 10 Resensi terpilih lainnya akan mendapatkan hadiah hiburan berupa paket buku dari penerbit Hikmah senilai Rp 250 ribu rupiah. Cepetan bikin..........&lt;br /&gt;Pengumuman pemenang Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dont Miss IT&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5084282789450117375?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5084282789450117375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5084282789450117375&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5084282789450117375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5084282789450117375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/12/lomba-resensi-buku-percy-jackson-last.html' title='Lomba Resensi Buku Percy Jackson, THE LAST OLYMPIAN'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TRsKYaoMbGI/AAAAAAAAAkw/PB-ZWbey1eg/s72-c/tlo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6272341252250491161</id><published>2010-11-26T08:29:00.000+07:00</published><updated>2010-11-26T08:29:03.301+07:00</updated><title type='text'>Bahagiakah dengan Pekerjaan Anda?</title><content type='html'>“Setelah gak kerja di situ lagi, terus kerjamu apa sekarang?” tanya aku, kepada seorang kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, “Aku kerja freelance. Dan, aku sangat bahagia dengan pekerjaanku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi. Indah sekali aku mendengar jawaban dari seorang kawan itu. Betapa nikmatnya kerja yang dikerjakan penuh dengan rasa bahagia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering aku mendengar orang-orang “mengeluh” dengan pekerjaannya. Terkesan tidak bahagia. Mereka bekerja hanya sebatas mencari uang. Soal nikmat atau tidak dengan apa yang dikerjakannya, itu lain hal. Oleh karena itu, mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, ingin segera habis jadwal jam kerjanya, ingin segera datang hari libur, membenci hari senin, mengawali hari dengan menggerutu, dan seterusnya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, mereka tidak sungguh-sungguh dalam bekerja. Mereka sering korupsi waktu; datang terlambat, pulang cepat, tugas pekerjaannya sering molor alias tidak tepat waktu. Mereka bekerja lantaran terpaksa. Itulah saya kira gambaran orang yang bekerja dengan perasaan tidak bahagia. Mereka bekerja hanya sebatas menjalankan kewajiban, meski kewajibannya sering kali dikorup. Namun, parahnya lagi, mereka sangat “melek” terhadap uang. Sensitif sekali dengan rupiah. Salah satunya, ingin meraih uang dengan jumlah yang banyak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, harus juga disadari bahwa antara pekerjaan kita dengan “pekerjaan” yang kita senangi sering kali menjadi dua hal yang berbeda. Kita bekerja, baik bekerja pada orang lain, maupun bekerja yang dikelola sendiri, selalu mendapatkan bayaran (berupa uang). Tapi, apa yang kita lakukan dengan penuh kesenangan tidak mesti menghasilkan uang. Dua hal inilah yang sering kali kita alami. Itu menjadi sebuah dilema. Meski pada akhirnya kita sering kali lebih memilih bekerja (yang menghasilkan uang) ketimbang “bekerja” dengan yang kita senangi (yang tidak mesti menghasilkan uang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, alangkah bahagianya orang yang bisa menggabungkan di antara dua hal itu, di mana pekerjaan yang dia senangi ada yang membayarnya. Pekerjaannya tidak menjadi sebuah “penderitaan” atau “keterpaksaan”, tetapi kebahagiaan. Bahagialah orang yang menikmati pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogjakarta, Jumat, 26 November 2010, Pkl. 07.00.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6272341252250491161?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6272341252250491161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6272341252250491161&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6272341252250491161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6272341252250491161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/11/bahagiakah-dengan-pekerjaan-anda.html' title='Bahagiakah dengan Pekerjaan Anda?'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8935952458373382229</id><published>2010-11-25T08:20:00.000+07:00</published><updated>2010-11-25T08:20:49.043+07:00</updated><title type='text'>Kuliner di Kudus</title><content type='html'>Bismillah… hari ini aku merasa segar sekali, baik jiwa maupun raga. Barusan aku menghabiskan secangkir kopi Kapal Api. Sembari ngopi aku ngobrol ngalor ngidul dengan kawan. Ah, nikmat sekali. Dan, ketika kopi mau habis, kami pun mengakhiri obrolan. Kami mulai aktivitas masing-masing. Aku memilih membuka laptopku. Dan memulai menulis catatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari mendengar lagu-lagu Doel Soembang, aku ingin bercerita pas kemarin di Kudus. Malam hari, bersama dua orang kawan, satunya wartawan Suara Merdeka, dan satunya lagi esais, kami berwisata kuliner di kota kudus. Ada dua tempat yang kami singgahi. Pertama, warung makan sop ayam. Baru kali itu aku merasakan nikmatnya makan sop ayam. Kuahnya terasa nikmat sekali. Porsinya juga porsi jumbo. Mangkuknya besar sekali. Berbeda dengan mangkok yang sering kulihat di warung-warung makan jogja, mangkuknya kecil-kecil. Tentu saja itu berpengaruh pada porsi makanannya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai menghabiskan semangkuk sop ayam, kami meluncur ke lokasi kuliner lainnya. Kami menuju lesehan wedang alang-alang. Senang sekali aku mendengarnya. Kupikir pasti unik nih wedangnya. Seperti halnya keunikan kopi jos di Jogjakarta. Dan benar saja, ketika kulihat wedang itu, unik sekali wedangnya. Wedang tersebut warnanya agak kekuning-kuningan, dan ada rempah-rempahnya, semacam akar begitu. Dan, rasanya mirip jahe. Dan mirip rasa purwaceng juga, ketika aku dulu meminumnya di Dieng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alang-alang atau ilalang  adalah sejenis rumput berdaun tajam yang merupakan gulma (tumbuhan pengganggu) para petani. Konon, ilalang mempunyai manfaat di bidang kesehatan. Di antaranya sebagai pelembut kulit; peluruh air seni, pembersih darah, penambah nafsu makan, penghenti perdarahan dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat banyak orang menikmati wedang tersebut. Ada yang berpasangan, muda-mudi, ada pula yang bersama keluarganya. Nikmat sekali memang menyeruput wedang alang-alang, apalagi setelah capai sehabis kerja seharian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menyeruput wedang alang-alang kami ngobrol ngalor-ngidul. Dari obrolan itu, banyak infromasi yang berharga buatku terutama dalam soal tulis-menulis dan beberapa informasi penting mengenai dunia pendidikan di Kudus. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8935952458373382229?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8935952458373382229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8935952458373382229&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8935952458373382229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8935952458373382229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/11/kuliner-di-kudus.html' title='Kuliner di Kudus'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-636351530743267793</id><published>2010-08-09T08:42:00.002+07:00</published><updated>2010-08-09T20:35:29.775+07:00</updated><title type='text'>Pembajakan Buku yang Memprihatinkan</title><content type='html'>&lt;b&gt;Jumat, 31 Juli 2010,&lt;/b&gt; aku melihat dwilogi novel Padang Bulan karya Andrea Hirata versi bajakan di pedagang buku emperan di jalan Kahar Muzakkar, Yogyakarta. Kavernya agak pucat, kertasnya sejenis kertas koran. Jadi, walaupun halamannya sama, tapi jauh lebih tipis. Setelah kutanya harganya, oh, ternyata hanya 35 ribu rupiah dan bisa ditawar. Padahal harga buku versi aslinya 76.500 rupiah. Kulihat tidak hanya buku itu saja, ada juga buku-buku lainnya, seperti  tetralogi Laskar Pelangi masih karya Andrea Hirata, Bumi Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, Eclipse karya Stephenie Meyer, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku sedih bukan kepalang melihat buku-buku yang dibajak itu. Betapa tidak, hasil karya seseorang yang sudah “berdarah-darah” menuliskan ide, gagasan, pikiran, dan perasaannya, dibajak begitu saja oleh orang-orang yang rakus terhadap keuntungan semata. Bahkan jika dilihat dalam lingkup yang lebih luas, sebetulnya yang dirugikan tidak hanya penulisnya saja, melainkan penerbit, distributor, dan toko-toko buku yang menjual buku-buku non-bajakan. Pembelian buku asli akan mengalami penurunan drastis seiring beredarnya buku bajakan. Dan, tentu saja, royalti si penulis menjadi seret. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat aku mengikuti acara bedah buku dwilogi novel Padang Bulan di Toga Mas Affandi, Yogyakata, Andrea Hirata mengatakan bahwa baru diluncurkan tiga hari saja dwilogi Padang Bulan-nya sudah dibajak, tepatnya di Stasiun Bogor. Alamak. Sedang novel Laskar Pelangi-nya dibajak mencapai 15 juta eksemplar. Sungguh memprihatinkan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya, buku-buku yang menjadi sasaran pembajakan adalah buku-buku best seller, mulai dari kamus, buku panduan, novel, dan yang lainnya. Sistem kerjanya pun sangat cepat. Mereka jeli terhadap buku-buku yang dikategorikan best seller. Seperti kasus dwilogi Padang Bulan, baru tiga hari launching, sudah ada bajakannya. Sungguh, luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi dan Mental Masyakarat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, teknologi sangat berperan besar dalam pembajakan buku. Teknologi semakin canggih, pembajakan buku pun semakin merajalela. Tahun-tahun dahulu, pembajak melakukannya dengan mengetik ulang dan mencetaknya. Jika, tidak mau repot, pembajak menggunakan foto kopi. Lain halnya dengan sekarang. Mereka sudah bisa menggunakan alat yang dinamakan scanner. Tinggal men-scan saja buku yang hendak dibajak, lalu diolah memakai program OCR (Optical Character Recognition). Dan penjualannya bisa dilakukan dengan dua cara, dalam bentuk e-book yang kemudian dimasukkan ke dalam CD dan bentuk buku cetak. Luar biasa, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembajakan buku di Amerika Serikat lebih canggih lagi, seiring kemajuan teknologinya. Di sana telah menjamur buku-buku elektronik berformat PDF yang sesungguhnya hasil pemindaian dari buku yang asli. Pasarannya menuntut seperti itu, karena di sana komputer bisa dikatakan hampir dipunyai oleh semua masyakarat. Salah satu korbannya adalah Stephen King, penulis spesialis thriller. Novelnya berjudul The Stand dengan ketebalan 1.100 lembar dibajak dalam bentuk PDF.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mafhum, bahwa pembajakan buku termasuk pelanggaran Undang-undang Hak Cipta No 19 tahun 2002. Tapi, undang-undang itu tidak pernah digubris oleh sang pembajak. Kenyataannya, mereka baik-baik saja, tidak ada yang menangkap, dan pembeli pun lumayan banyak. Dengan kata lain, mereka melakukan pembajakan karena ada pasarannya dan aman-aman saja untuk dilakoni.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pembajakan sangat susah diberantas? Menurut saya paling tidak ada dua hal, yaitu lemahnya penegakan hukum dan kronisnya mental masyarakat. Sejak dulu pembajakan buku sudah ada, tapi sejauh pengamatan saya tidak ada satu pun terdengar kasus terkait masalah ini, misalnya di media diberitakan ada pembajak buku dijebloskan ke penjara. Yang sering terdengar adalah aksi sweeping atas buku-buku yang tidak boleh beredar karena isinya dianggap “membahayakan”.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain, mental masyarakat dalam menghargai buku masih lemah pula. Masyarakat hanya memikirkan bagaimana bisa mendapatkan buku yang diinginkan dengan harga yang relatif murah. Dalam hal ini, saya kira, tidak terkait persoalan isi kantong seseorang, tetapi soal mental membeli buku. Karena kenyataannya ada juga sebagian masyakarat yang hidupnya pas-pasan tapi mampu membeli buku-buku asli.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hemat saya, jika ingin memberantas pembajakan buku, kedua hal di atas harus diselesaikan; yaitu para penegak hukum serius membawa para pembajak ke pengadilan dan masyarakat diberi penyuluhan melalui berbagai media untuk tidak membeli buku-buku bajakan. Untuk yang kedua, itu adalah tugas kita semua, bagaimana mengubah masyarakat yang biasa membeli buku bajakan dan menyadarkan mereka untuk menghargai jerih payah sang pengarang dan penerbit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, bukan tidak mungkin jika pembajakan buku dibiarkan begitu saja, akan menimbulkan dampak negatif pada pengembangan perekonomian Indonesia. Lingkup yang lebih kecilnya barangkali berdampak pada sang pengarang untuk enggan berkarya lagi. Persis seperti yang pernah diutarakan Andrea Hirata, bahwa riset novelnya (dwilogi Padang Bulan) selama 3,5 tahun dengan menghabiskan dana Rp 30 juta, dibajak begitu saja.  Fenomena pembajakan kerap kali membuatnya kehilangan minat menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan mengatakan bahwa pelanggaran hak cipta oleh pembajak di Indonesia bagai memindahkan air laut dengan tangan. Dibutuhkan banyak pihak untuk turut membantu menertibkannya dengan serius, tuntas, dan istiqomah.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, pencinta buku, tinggal di Muntilan &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-636351530743267793?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/636351530743267793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=636351530743267793&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/636351530743267793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/636351530743267793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/08/pembajakan-buku-yang-memprihatinkan.html' title='Pembajakan Buku yang Memprihatinkan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5202150809685450764</id><published>2010-07-22T07:01:00.000+07:00</published><updated>2010-07-22T07:01:49.070+07:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan di Tengah Penderitaan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TEeKRhfwstI/AAAAAAAAAjg/I3ZB2Ocglfk/s1600/cover_cityofjoy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TEeKRhfwstI/AAAAAAAAAjg/I3ZB2Ocglfk/s320/cover_cityofjoy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul buku : Negeri Bahagia (The City of Joy)&lt;br /&gt;Penulis : Dominique Lapierre &lt;br /&gt;Penerjemah: Wardah Hafidz&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang Pustaka, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2008&lt;br /&gt;Tebal: xv + 799 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpujilah untuk penerbit yang sudah menerbitkan buku yang bermutu nan memberdayakan ini. Terpujilah untuk penerjemah yang sudah berhasil menyuguhkan rasa bahasa Indonesia ini. Terpujilah penyuntingnya yang sudah mengamplas huruf, kata, dan paragraf dalam novel ini, sehingga nikmat dibaca, tanpa ada gangguan sedikit pun. Terpujilah sang pengarang yang telah berhasil menulis novel ini dengan usaha keras, sehingga usaha anda telah menginspirasi banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Terpujilah Pak Guru (J. Sumardianta) yang sudah merekomendasikan kepadaku novel ini. Terpujilah Pak Hernadi Tanzil yang telah bersedia meminjamkan bukunya. Kini buku tersebut sedang dalam perjalanan menuju sang pemiliknya. Semoga selamat sampai tujuan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, belum ada sebuah novel yang begitu mengguncangkan aku sedemikian rupa, kecuali novel ini. Tak jarang air mataku dibuatnya mengalir dalam keheningan. Dan ketika membacanya, waktu dan detak jantungku seolah berhenti. Aku sadar bahwa ini hanyalah fiksi, tapi entah mengapa aku memercayainya bahwa itu adalah sebuah fakta. Fakta dan fiksi rasanya sudah tidak penting lagi. Karena kenyataannya, bukan tidak mungkin di belahan dunia sana atau bahkan di sekelilingku apa yang diceritakan oleh sang pengarang benar-benar fakta.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;City of Joy sejatinya bukanlah novel biasa. Itu aku simpulkan manakala pembacaanku sudah sampai halaman sepuluh. Aku tahu novel ini dari Pak Guru, Sang Predator Buku. Beliau merekomendasikannya agar aku harus membaca novel itu jika ingin menjadi suami dan bapak yang baik. Dan setiap kali kami jungle tracking bersama, beliau sering mengutip kata-kata Hasari Pal, salah satu tokoh dalam novel tersebut, “Setiap yang tidak diberikan akan hilang sia-sia” dan bercerita tentang perjuangan Hasari untuk keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun hendak meminjam kepada beliau buku tersebut, tapi, sayang sekali, sedang dipinjam, katanya. Aku pun berburu ke toko-toko buku bahkan sampai kutanyakan langsung ke penerbitnya, tapi, aku sedang tidak mujur. Aku tidak mendapatkan novel itu. Suatu ketika aku iseng menulis status di FB-ku, “Siapa yang punya novel City of Joy? Jika ada yang punya perkenankan aku meminjamnya.Trims.” Tak disangka, ternyata ada orang yang rela untuk meminjamkannya padaku. Orang itu mengomentari statusku tentang kesediaannya untuk meminjamkan buku tersebut. Kemudian, ia meminta alamatku. Alhamdulillah—Puji Tuhan, akhirnya aku dapat membaca novel itu. Tentu saja, aku salut sama orang itu yang berani untuk memercayaiku untuk meminjamkan bukunya walau kami berada di dua provinsi yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca novel itu bak sopir bus pariwisata yang hendak memberikan kenyamanan pada penumpangnya. Aku tidak ingin buru-buru mengkhatamkannya. Setiap kisahnya aku resapi dalam-dalam. Novel ini berlatar di Kalkuta, salah satu wilayah di India yang paling sering didera bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Kemiskinan, pengangguran, dan berbagai penyakit, terutama penyakit lepra, menjadi identitas yang melekat dalam diri kota Kalkuta. Tak heran, jika Kalkuta dijuluki sebagai ”rumah besar” bagi orang yang terkena kusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominique Lapierre, novelis Prancis, mengangkat Kalkuta dari sisi bencana kemanusiaannya. Dia menceritakan penderitaan keluarga miskin yang tercerabut dari kampung halamannya. Dan, harapan hidup yang layak di kota Kalkuta menjadi klangenan semata. Meski begitu, dalam pandangan saya novel ini sejatinya hendak hendak menyampaikan dua pesan utama, yaitu 1) betapa pun kerasnya hidup, manusia harus terus menggenggam harapannya, 2) rela berkorban (dengan cara-cara yang baik) untuk orang lain, terlebih untuk keluarga.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, pesan tersebut bisa digambarkan, misalnya, dalam dua paragraf, di bawah ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayahnya datang dan merangkul istrinya. “Ibu anak-anak lelakiku,” ujarnya, “kita berdua tidak usah makan supaya beras itu cukup untuk waktu yang lebih lama. Anak-anak tidak boleh menderita.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki itu juga mempunyai senyum yang sulit dimengerti kalau melihat penderitaannya,” ujar Stephan Kovalski. “Ia tidak pernah sedikit pun mengeluh. Kalau saya kebetulan bertemu di jalan lorong, ia selalu menegur saya dengan suara yang penuh getaran kegembiraan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak aneh jika novel ini diberi judul Negeri Bahagia. Faktanya, semenderita apa pun mereka tidak pernah mengeluh dan egois. Yang ada malah sebaliknya, mereka selalu berbagi dan penuh dengan kebahagiaan, misalnya pada saat mereka mengantri untuk buang hajat. Keceriaan dan suara tawa terlihat jelas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini percampuran antara fakta dan fiksi. Sang penulisnya meriset novelnya dengan langsung ke lapangan, yaitu di Kalkuta selama dua tahun. Dia melihat langsung fenomena di Kalkuta; merasakan, mencatat dan melakukan wawancara dengan penduduk setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Lapierre ini pun menginspirasi banyak orang untuk melakukan sesuatu, terutama sumbangan berupa material yang mengalir ke Kalkuta. Buku ini sekarang sudah terjual lebih dari enam juta kopi dalam 31 bahasa dan edisi, termasuk lima edisi dalam huruf Braille.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, setelah membaca novel ini, kesan saya tak jauh beda dengan resensor The New York Times, yang mengatakan bahwa: “Buku ini terpahat di pikiran saya selama-lamanya.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda merasa sengsara dan miskin? Boleh jadi belum ada apa-apanya dibanding Hasari Pal, salah satu tokoh dalam novel ini, yang rela menjual organ tubuhnya untuk biaya pernikahan anaknya. Silakan baca novel ini.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Iqbal Dawami, penikmat teh, gogodoh, dan sastra. Aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community     &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5202150809685450764?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5202150809685450764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5202150809685450764&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5202150809685450764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5202150809685450764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/07/kebahagiaan-di-tengah-penderitaan.html' title='Kebahagiaan di Tengah Penderitaan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/TEeKRhfwstI/AAAAAAAAAjg/I3ZB2Ocglfk/s72-c/cover_cityofjoy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6515381565075482774</id><published>2010-06-22T17:12:00.000+07:00</published><updated>2010-06-22T17:12:33.920+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Guruku</title><content type='html'>Amin tadzakurin jiranin bi Dzi Salami,Mazajta dam‘an jara min muqlatin bi dami?&lt;br /&gt;(Tidakkah kau ingat tetanggamu di Dzu Salam, Yang air matanya tercucur bercampur darah?)&lt;br /&gt;Bushairi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis Trisulatama jurusan Semarang-Jogjakarta melaju dengan kecepatan sedang. Aku duduk di bangku belakang deretan sebelah kanan pojok. Aku acuhkan perempuan yang duduk di sampingku yang sepertinya menungguku untuk diajak ngobrol, lantaran aku sedang asyik membaca Novel The Man Who Loved Books (2010). Tiba-tiba HP-ku bergetar. Ada pesan masuk. “Info: Tolong kasih tau yang lain. Mohon doa buat Bapak Pengasuh. Skr kritis di kediamannya. Tks.” Aku pun berdoa dalam hati, “Ya Allah berilah beliau kesembuhan…”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Belakangan beliau memang sering sakit-sakitan. Sering dirawat di Rumah Sakit (RS), baik di RS Bandung, Tasikmalaya, maupun Ciamis. Aku sudah tahu itu sejak lama dari kawan-kawanku. Namun, dua minggu yang lalu, kawanku, yang berkunjung ke tempatku, bercerita bahwa beliau sudah tidak dirawat di RS lagi, mengingat keadaannya sudah sangat sulit disembuhkan. Beliau hanya rawat jalan saja. Mendengar itu aku sungguh sedih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun terus berlalu… Dan, tadi pagi, pkl. 06.45, kawanku sms: “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Bapak Pengasuh pupus! Wartosan nu sanes. Jam 06.10 WIB…” Aku tercenung. Perasaan hampa dan sedih menjadi satu. Pikiranku galau.Ya Allah, beliau telah tiada. Aku terus memberi tahu kawan-kawan lain, dan menulis status di dinding fesbuk-ku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba wajah beliau memenuhi pikiranku. Memoriku sewaktu nyantri di Ponpes Darussalam Ciamis terbuka kembali. Betapa masih ingat aku pertama kali berjumpa face to face, berpapasan dengan beliau yang sedang sendiri, kucium tangannya sembari mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamku. Setelah itu beliau bertanya dengan Bahasa Arab tentang siapa namaku dan dari mana asalku. Dan, waktu itu aku hanya bisa menjawab “na’am” dan “la” saja. Maklum, waktu itu baru satu mingguan aku berada di pondok pesantren, di mana sebelumnya belum menguasai Bahasa Arab dari segi istima’-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Etos Keilmuan &lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Salah satu yang aku teladani dari beliau hingga saat ini adalah etos keilmuannya. Seorang kawan asal Jawa Timur yang juga santri Darussalam pernah bercerita bahwa beliau terkenal ilmu laduninya. Boleh jadi memang benar ucapan kawanku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu syair gubahan beliau ada yang berbunyi, “Cinta segala ilmu dihiasi budi suci…” Ya, beliau memang sangat mencintai segala ilmu pengetahuan. Koleksi bukunya, baik yang berbahasa Arab, Inggris, dan Indonesia, sungguh luar biasa banyaknya. Pernah, beberapa kali aku masuk ke rumahnya, hampir di setiap ruangan terdapat koleksi buku-bukunya. Bahkan, beliau punya kamar khusus untuk membaca yang di dalamnya pun ada koleksi buku-bukunya juga. Kamar tersebut menyatu dengan mesjid pesantren, yang punya pintu langsung tembus ke dalam mesjid. &lt;br /&gt;Di kamar itulah beliau membaca dan menulis. Dan dari pintu kamar itu pula beliau masuk ke masjid untuk shalat berjamaah dan juga mengisi kuliah Shubuh. Beliau juga sering memberi penghargaan berupa buku/kitab kepada para santri yang berprestasi, misalnya, hafal Alquran, hafal Alfiyyah, dan lain sebagainya. Beberapa kawan sekamarku mendapatkan kitab dan buku-buku dari beliau karena hafal Alquran dan Alfiyyah. Sungguh, betapa beruntungnya mereka mendapatkan penghargaan berupa kitab dan buku-buku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena otakku tidak seencer kawan-kawanku itu, dan keinginan mengoleksi kitab menggebu-gebu, jalan yang aku tempuh adalah membeli ke toko buku/kitab. Biasanya aku beli buku maupun kitab ke toko Beirut yang ada di Pasar Ciamis. Kadang aku memesan kepada kawan yang mau ke Tasikmalaya, karena di sana harganya lebih murah. Aku pernah menitip kepada kawan yang hendak ke Tasikmalaya untuk membelikan kitab Ihya Ulumuddin (5 jilid), yang waktu itu harganya 40 ribuan. Pernah juga aku membeli kitab Sufwat At-Tafasir (4 jilid, kalau gak salah) dari seorang kawan yang kepepet tidak punya duit dan ia menjual koleksinya itu. Harganya separuh harga, karena barang second, dan di situ sudah tertera namanya: Ahmad Thobari. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ah, tentu banyak sekali teladan yang bisa aku ambil dari beliau selain hal di atas. Namun, bagiku itulah yang paling berkesan dan mengalir-menyatu dengan aliran darahku. Aku sangat mencintai ilmu. Aku sangat cinta dengan aktifitas membaca dan menulis. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri dan menyisihkan waktu untuk kedua aktifitas itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya,… selamat jalan guru kami tercinta. Semoga amal baikmu diterima oleh Allah Swt. Meski, engkau sudah tiada, tapi spirit dan teladanmu akan selalu ada. Mudah-mudahan aku bisa meneruskan etos keilmuanmu sampai kapan pun. Rencana reuni di bulan Desember 2010 di Ponpes Darussalam nantinya akan terasa lain, karena kami tidak bisa bermuwajahah denganmu, wahai guru kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, hanya doa yang bisa kami persembahkan untukmu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahmummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu wa akrim nuzulahu wawassi' madkhalahu waghsilhu bi maain watsaljin wabarodin wanaqqihi minalkhathaaya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minad danasi waabdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaujihi waqihi fitnatal qabri wa'adzaaban naari. Amin ya robbal alamin.     &lt;br /&gt;Alfatihah… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jangan mengira orang yang gugur di jalan Allah itu meninggal. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mereka mendapat rezeki” (QS. Ali Imran: 169) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 30 Mei 2010&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, santri Ponpes Darussalam, Ciamis, Jawab Barat, angkatan ’99. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6515381565075482774?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6515381565075482774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6515381565075482774&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6515381565075482774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6515381565075482774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/06/selamat-jalan-guruku.html' title='Selamat Jalan Guruku'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6553064914061454623</id><published>2010-05-31T15:40:00.000+07:00</published><updated>2010-05-31T15:40:04.502+07:00</updated><title type='text'>Pameran Buku yang Membosankan</title><content type='html'>Senin sore, 17 Mei 2010 aku berkunjung ke Jogja Islamic Book Fair (JIBF) 2010 di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta. Pameran ini berlangsung pada 13-19 Mei 2010. Pas kebetulan, waktu itu sedang ada bedah novel Bumi Cinta (2010) karya Habiburrahman El-Shirazy. Aku pun mengikuti acara tersebut. Pesertanya membludak. Sampai-sampai banyak yang berdiri tidak kebagian kursi. Untung saja aku mendapatkan tempat duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti acara tersebut hanya kuat sampai tanya jawab sesi pertama. Mengapa? Diskusinya terasa hambar. Tidak ada, misalnya, pembahasan mengenai kelebihan dan kekurangan buku itu, terutama dari sudut pandang sastranya, baik dari pembicara, penulis, maupun para penanya. Isinya hanya berputar soal materi novel dan di luar pembahasan buku tersebut. Diskusi itu terkesan ceramah keagamaan. Aku pun memilih hengkang dari situ. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, kemudian aku lihat denah dan agenda acara JIBF di depan pintu masuk gedung. Siapa tahu esoknya ada diskusi atau lomba penulisan. Ah, nampaknya tidak ada yang menarik. Aku pun masuk dan mulai bergerilya menelusuri stand-stand buku, mengamati satu per satu buku-buku yang ada setiap stand-nya. Dan, kurang lebih satu jam aku sudah menyambangi semua stand. Setelah itu, aku memutuskan untuk pulang. Sungguh, pameran buku Islam yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan perhelatan pameran JIBF itu. Hampir setiap tahun aku selalu menghadiri JIBF. Di tempat yang sama pula. Suka atau tidak, aku mengamati perubahan dari tahun ke tahunnya. Adakah perubahan yang signifikan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penerbit, Buku, dan Acara&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Ada tiga hal yang membuatku gelisah dari JIBF. Pertama, sekitar 90 persen para penerbit yang ikut pameran JIBF nampaknya tidak jauh beda dengan peserta pameran buku yang diadakan IKAPI. Lantas, kalau begitu apa bedanya dengan pameran buku yang diadakan IKAPI? Pemainnya itu-itu saja. Imbasnya, kesan keislamannya pun semakin luntur. Islamic Book Fair pun hanya sebatas slogan, minus substansi. Mengingat hal di atas, momen ini pun sebenarnya Gramedia bisa berpartisipasi, apalagi mereka punya penerbit Quanta yang khusus menerbitkan buku-buku keislaman praktis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kebanyakan yang dipajang adalah buku-buku itu melulu, baik stok lama maupun stok baru. Saya lihat sedikit sekali buku-buku barunya. Parahnya lagi, buku-buku baru tersebut didominasi oleh buku-buku Islam aplikatif, instan, dan “dangkal,” di mana rata-rata menyodorkan seputar kehidupan ala “Islam” menurut pandangan sang penulisnya yang menurutku sangat relatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya segelintir saja buku-buku yang mengangkat tema keislaman agak “berat” dan “dalam”. Jika boleh saya sebut, misalnya, Fiqih Jihad (2010) karya Yusuf Qardhawi yang diterbitkan Mizan,  tebalnya mencapai seribu halaman. Ada juga buku Kritik Terhadap Studi Al-Qur'an Kaum Liberal (2010) karya Fahmi Salim yang mencoba mengkonter pemikiran kaum Islam Liberal. Buku ini diterbitkan Gema Insani. Sedang dalam ranah fiksi, misalnya novel Muhammad (2010) karya Tasaro yang diterbitkan Bentang. Ada beberapa buku lainnya juga yang termasuk kategori itu. Namun, selebihnya adalah buku-buku yang berjenis “dangkal” dan instan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perihal acara atau kajian yang berlangsung pada saat perhelatan JIBF. Jika diperhatikan dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, nampaknya rangkaian acaranya tidak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, bedah buku dan ceramah keagamaan. Buku yang dibedah pun tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dan para penulisnya pun setali tiga uang. Sebut saja, misalnya, Salim A. Fillah. Tahun-tahun lalu sering pula ia mengisi bedah bukunya di pameran JIBF. Dan tahun ini pun demikian. Bukunya juga yang dibedah tema-tema seputar dakwah dan “cinta Islami” saja. Dalam Dekapan Ukhuwah (2010) adalah buku terbarunya yang dibedah pada tahun ini di JIBF. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya mendambakan bedah buku dengan tema yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, buku-buku pertarungan wacana. Katakanlah buku-buku yang ditulis oleh kaum muslim liberal, seperti Metodologi Studi Al-Quran (2009) karya Abdul Moqsith Ghazali, dkk.  atau sebaliknya, buku-buku yang mengkonternya seperti karya Fahmi Salim sebagaimana yang  telah saya sebutkan di atas. Sangat menarik dan mencerahkan bagi pengunjung JIBF.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harapkan, tahun depan, JIBF lebih kreatif dan inovatif lagi, dengan menyodorkan buku dan acaranya yang lebih segar dan “mencerahkan”. Jangan sampai terjebak oleh keuntungan semata tanpa memperhitungkan kemajuan masyarakat. Teringat kata-kata Muhammad Abduh, “Al-Islam mahjubun bil muslimin.” Islam telah tertutup oleh orang Islam sendiri. Semoga pameran tahun depan lebih baik lagi. Wallahu a’lam.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, pencinta buku, teh, dan gogodoh. Aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community Yogyakarta.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6553064914061454623?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6553064914061454623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6553064914061454623&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6553064914061454623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6553064914061454623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/05/pameran-buku-yang-membosankan.html' title='Pameran Buku yang Membosankan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-1736253441322268631</id><published>2010-05-16T18:35:00.000+07:00</published><updated>2010-05-16T18:35:53.849+07:00</updated><title type='text'>Sang Nabi di Mata Tasaro GK</title><content type='html'>Rabu, 12 Mei 2010, aku menghadiri acara diskusi novel Muhammad (2010) karya Tasaro GK. Acara tersebut diadakan di Toga Mas, Jl. Gejayan, Yogyakarta pada pukul 16.00 hingga 18.00. Pembicaranya adalah penulisnya sendiri, Tasaro GK yang dipandu oleh Salman Faridi (CEO penerbit BENTANG). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Menarik sekali mengikuti acara diskusi novel Muhammad ini. Kelebihan acara itu adalah format acaranya yang sangat santai, di mana pembicara maupun peserta duduk ala lesehan, dan peserta diberi kesempatan bertanya atau berkomentar di tengah-tengah pembahasannya. Dan, disediakan pula angkringan beserta makanannya, seperti ceker ayam, sate telor puyuh, dan aneka  gorengan. Hmm... maknyuss… (sayang, tidak ada kopi, teh hangat, maupun gogodoh, padahal cuaca sedang hujan kala itu).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku (dan barangkali peserta lainnya) acara tersebut kesempatan emas untuk menanyakan dan komentar langsung kepada sang penulisnya perihal novel Muhammad.&lt;br /&gt;Dalam diskusi, Tasaro lebih banyak membicarakan asbabul wurud dan proses kreatif menulis Novel Muhammad, ketimbang membicarakan isi novel. Harus dimaklumi, peserta memang banyak bertanya soal itu dan sebagian peserta belum membaca novelnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didorong oleh rasa gelisah dengan adanya fenomena penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan reaksi kaum muslim atas penghinaan tersebut, Tasaro kemudian menulis novel Muhammad ini. Tentu saja adalah sebuah kesalahan bagi siapa pun yang melakukan penghinaan -- kepada siapa pun, terlebih kepada Nabi Muhammad, sebagai manusia yang agung dan suri tauladan. Namun, apakah reaksi kita atas penghinaan tersebut harus dibalas dengan kekerasan? Inilah yang menjadi keprihatinan Tasaro. “Reaksi” Tasaro adalah dengan jalan menulis novel tentang Nabi Muhammad. Dia mencoba menuangkan kisah Muhammad lewat novel, dengan harapan orang-orang yang menghina Nabi paham bahwa Nabi tidaklah sebagaimana yang mereka anggap demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasaro sendiri tidak menanggapi hinaan atas Nabi Muhammad, karena sedistorsi apa pun persepsi atas Muhammad, tetap akan memancarkan sinar kemuliaan diri Muhammad. Itulah keyakinan Tasaro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, untuk menulis novel tentang Nabi Muhammad sungguh tidak mudah. Terlalu berisiko dan butuh keberanian yang besar. Sedikit saja ada kesalahan atau ketidaksepemahaman dengan khalayak masyakarat akan berakibat fatal. Dan ini pun disadari oleh Tasaro. Tapi, dengan niat dan tujuan yang benar (sesuai yang ia yakini), ia berani menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama yang ia beritahu niat menulis tentang ini adalah ibunya. Apa jawaban ibunya? Pembaca akan tahu di novelnya langsung di halaman persembahan. Ketika Tasaro memberitahukan niatnya tersebut kepada teman-teman dan saudara-saudaranya mempunyai pendapat yang hampir sama, “Terlalu berisiko, dan siap-siap dicerca orang”. Senada dengan jawaban ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Tasaro adalah Tasaro, ia tidak bergeming. Ia terus maju mewujudkan niatnya: MENULIS TENTANG NABI MUHAMMAD. Karena, ia pun seperti halnya orang lain yang melarang niatnya itu: atas dasar cinta kepada Nabi Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasaro menjelaskan bahwa kaum muslim mencintai Nabi Muhammad, tapi banyak yang tidak berani “mendekatinya”. Mereka menjaga jarak, lantaran khawatir salah mendekatinya. Parahnya lagi, tidak sampai 50 persen kaum muslim yang pernah membaca sirah nabawiyah (sejarah hidup Nabi Muhammad).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena itu dan kemudian dikaitkan dengan terbitnya novel tersebut, salah satu peserta ada yang berkomentar bahwa sangat ironik seorang muslim yang mencintai Nabinya tapi tidak tahu sejarah hidupnya. Oleh karena itu, kehadiran novel Muhammad sangat diharapkan untuk mengisi kekosongan tersebut, bahwa seorang muslim (khususnya) perlu membaca novel ini agar bisa mengenal Nabinya, jika mereka memang tidak ingin membaca sirah nabawiyah -- jika dirasa kaku dan kering karena terlalu ilmiah. Jadi, sebuah pendekatan yang sangat bagus yang diperbuat Tasaro ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, uniknya, acara ini dihadiri peserta yang beragama Kristen. Amboi, alangkah kagetnya aku, ternyata mereka sudah membaca novel Muhammad. Dan, yang paling menggetarkan dari pendapat mereka setelah membaca novel itu, yang katanya, mereka jadi tahu sosok Nabi Muhammad dan Islam sendiri. Mereka mengaku sebelum membaca novel itu, pandangan tentang Islam sedikit negatif, karena selalu dikaitkan dengan teroris dan kekerasan, misalnya. Tapi, setelah membaca novel ini, ternyata mereka salah menilai. Islam sejatinya adalah agama penyayang, rahmat bagi semesta alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah diskusi, Tasaro memperkenalkan dan menunjukkan salah seorang teman yang beragama Kristen, bernama Rampa Maega, yang berada di antara peserta diskusi. Ia adalah orang sedikit-banyak membantu proses penulisan novel Muhammad. Tasaro bahkan berani mengatakan kalau novelnya ikut “ditulis” olehnya juga. Karena, banyak sekali hal-hal yang selalu didiskusikan dalam menulis novel ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasaro memang penulis muda berbakat. Hasil racikannya selalu mendecak kagum pembaca dan mendapatkan penghargaan, seperti penghargaan Adikarya IKAPI dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007), Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show (juara cerbung Femina 2006), Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku, novel Muhammad adalah novel yang ditulis dengan melibatkan banyak orang dan banyak revisi (mencapai belasan kali), dibanding novel-novel lainnya yang pernah ditulis. Referensi yang digunakan pun sangat representatif, seperti karya Karen Armstrong, Muhammad Husein Haikal, Tariq Ramadhan, Martin Lings, dan yang lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu membuktikan bahwa Tasaro menulis novel ini sangat serius. Ia hendak menjadikan karyanya karya yang “original”, dalam arti mempunyai sudut pandang yang baru di antara penulis-penulis tentang Nabi Muhammad. Novel ini boleh dikata pandangan Tasaro atas Sang Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayang, dalam acara itu tidak ada pembicara kedua yang menilai novel tersebut, baik kelebihan maupun kekurangannya. Dan, tidak ada pula peserta yang sudah membaca bukunya berkomentar soal sisi sastranya. Karena, bagaimana pun buku ini adalah novel yang layak dinikmati sebagai karya sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda ingin membaca sejarah Nabi Muhammad dengan cita rasa sastra silakan baca novel ini. Dan, sekuelnya akan terbit pada Agustus 2010, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1431 H. []   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, penikmat sastra, teh, dan gogodoh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-1736253441322268631?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/1736253441322268631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=1736253441322268631&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/1736253441322268631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/1736253441322268631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/05/sang-nabi-di-mata-tasaro-gk.html' title='Sang Nabi di Mata Tasaro GK'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-801376291956144710</id><published>2010-02-11T19:46:00.000+07:00</published><updated>2010-02-11T19:46:08.783+07:00</updated><title type='text'>Pamuk dan Istanbul</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3P76hXY3-I/AAAAAAAAAho/3hLufwGszGI/s1600-h/is.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3P76hXY3-I/AAAAAAAAAho/3hLufwGszGI/s320/is.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul: Istanbul : Kenangan Sebuah Kota&lt;br /&gt;Penulis: Orhan Pamuk&lt;br /&gt;Penerjemah: Rahmani Astuti&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal: 563 halaman&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BUKU&lt;/b&gt; ini adalah memoar seorang peraih nobel bidang sastra tahun 2006, Orhan Pamuk, kelahiran Turki. Dalam memoarnya, Pamuk banyak berkisah tentang dirinya—seperti keluarga dan cinta pertamanya—dan tempat kelahirannya yang sekaligus menjadi judul buku ini, Istanbul. Ia mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya di Istanbul antara 1950 hingga 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ferit Orhan Pamuk, demikian nama lengkapnya, dilahirkan di Istanbul pada 7 Juni 1952. Ia terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang makmur. Ayahnya adalah direktur utama pertama IBM Turki. Ia kuliah di Universitas Teknik Istanbul jurusan arsitektur. Namun, ia berhenti setelah tiga tahun kuliah dan memutuskan untuk menjadi seorang penulis sepenuh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak pergi keluar sebentar, kenapa tidak mencoba melihat pemandangan lain, melakukan perjalanan?” Ujar sang ibu suatu ketika menyarankan Pamuk. Pamuk mengakui bahwa dirinya dan Istanbul sudah tidak bisa dipisahkan. Istanbul adalah takdirnya, karena kota tersebut telah menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Pamuk dan kota Istanbul telah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamuk berbeda dengan para penulis dunia lainnya semacam Joseph Conrad, Vladimir Nabokov, dan V.S. Naipul. Mereka adalah penulis dunia yang dikenal telah berhasil melakukan migrasi antar-bahasa, budaya, negara, benua, bahkan peradaban. Imajinasi mereka mendapat makanan dari pengasingan, zat gizi yang diperoleh bukan melalui akar melainkan dari ketiadaaan akar. Oleh karena itu, Inspirasi Pamuk hanyalah kota Istanbul, yang sudah dikenal dengan detail. Maka, tak heran dalam memoarnya ini pula ia banyak mengulas Istanbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang diulas oleh Pamuk mengenai Istanbul adalah sisi kemuramannya alias huzun. Baginya, orang boleh bangga dengan kemegahan Turki yang dibangun pada masa Kesultanan Usmani (Ottoman), tapi saat ini di mana Kesultanan Usmani sudah ambruk, Istanbul tak lain hanyalah kota miskin, kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi Pamuk, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pandangan sinisnya atas Istanbul (umumnya Turki) baik melalui karya-karya maupun wawancaranya, Pamuk menuai kritikan. Banyak orang menanyakan mengapa ia sering mengkritik Turki dari sisi negatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pamuk Sebagai Penulis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak banyak membicarakan perjalanan kepenulisannya, dalam memoarnya tersirat embrio Pamuk akan menjadi penulis besar. Berawal dari perpustakaan ayahnya, pada usia 17 tahun ia mulai mencurahkan waktunya untuk membaca dan melahap habis buku-buku yang ada dalam perpustakaan tersebut. Pada 1970, saat berusia 18 tahun, dia mulai menulis puisi.&lt;br /&gt;Menurut pengakuannya, Pamuk sangat menyukai buku-buku puisi yang ramping dan kusam dari para penyair yang dikenal di Turki sebagai bagian dari gelombang pertama tahun 1940 hingga 1950 dan gelombang kedua tahun 1960 sampai 1970. Pamuk kemudian menulis puisi-puisi dengan cara yang sama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak tahun 1970, Pamuk menambah koleksi perpustakaan keluarganya. Terutama buku-buku yang berkaitan dengan bangsa Turki. Membaca buku-buku yang terkait Turki membuka pikirannya. Sejumlah pertanyaan selalu menggelayut dalam otaknya, seperti mengapa Turki begitu miskin, kumuh, suram, dan kacau balau. Menurutnya, adalah benar bahwa orang seharusnya memandang rendah dirinya karena tak memikirkan apa pun kecuali memikirkan negerinya sendiri dan gagal melihat hubungan antara negerinya dengan bagian dunia yang lain. Semenjak itu, ia mulai serius menulis novel yang bersettingkan Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, buku ini patut dibaca oleh siapa saja (seperti penulis, sosiolog, dan antropolog), terlebih yang mau mengenal lebih jauh siapa Orhan Pamuk dan negeri Turki (baca: Istanbul).[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Penikmat teh dan gogodoh &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-801376291956144710?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/801376291956144710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=801376291956144710&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/801376291956144710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/801376291956144710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/02/pamuk-dan-istanbul.html' title='Pamuk dan Istanbul'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S3P76hXY3-I/AAAAAAAAAho/3hLufwGszGI/s72-c/is.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-1206143926481535937</id><published>2010-01-31T20:43:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T20:43:21.323+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WI7svYwcI/AAAAAAAAAhg/XuD5l4_pqrQ/s1600-h/19374_1209308388985_1116968343_30511952_4089522_a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WI7svYwcI/AAAAAAAAAhg/XuD5l4_pqrQ/s320/19374_1209308388985_1116968343_30511952_4089522_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Gara-gara nama FB-ku pakai "Sheldon", aku pengen baca karya2 Sidney Sheldon.Mungkin dimulai dari&lt;br /&gt;The Other Side Of Midnight, yang begitu fenomenal. Konon novel itu menyelamatkan jiwa wanita yang menderita serangan jantung dan dirawat di RS.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia melarang orangtua dan pacarnya datang menemuinya. Dia menulis kepada Sheldon bahwa dia hanya ingin mati. Di kamar tempat wanita itu dirawat ada yang meninggalkan satu eksemplar novel itu di sebelah ranjangnya. Dia kemudian membacanya dan larut di dalamnya, sehingga dia melupakan masalahnya sendiri, dan siap menghadapi kehidupan lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-1206143926481535937?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/1206143926481535937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=1206143926481535937&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/1206143926481535937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/1206143926481535937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2010/01/gara-gara-nama-fb-ku-pakai-sheldon-aku.html' title=''/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/S2WI7svYwcI/AAAAAAAAAhg/XuD5l4_pqrQ/s72-c/19374_1209308388985_1116968343_30511952_4089522_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5688363832248565670</id><published>2009-12-14T14:18:00.001+07:00</published><updated>2009-12-14T14:18:21.669+07:00</updated><title type='text'>Peduli Iklim Global</title><content type='html'>Konferensi Perubahan Iklim PBB adalah pertemuan terbesar dan terpenting untuk isu perubahan iklim. Konferensi ini dibuka pada Senin kemarin (7/12) di Kopenhagen, Denmark. Peserta konferensi terdiri 192 negara. Tentu, ini akan menjadi kesempatan terbaik dalam upaya menjawab tantangan dampak katastrofik perubahan iklim. Oleh karena itu, konferensi ini harus digunakan sebaik mungkin di mana kemudian diikuti dengan langkah-langkah konkrit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa agenda yang hendak dibahas adalah target penurunan emisi rata-rata 40 persen oleh negara maju sesuai Bali Action Plan, mendorong disepakatinya implementasi mekanisme Reducing Emission from Deforestation and Degradation, serta memasukkan isu kelautan menjadi isu sentral dalam perubahan iklim sebagaimana tertuang dalam Manado Ocean Declaration.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konferensi ini juga akan dibicarakan bagaimana upaya mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Kerusakan hutan, perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto tetang pengurangan emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, menjadi isu-isu penting yang akan dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bumi Sudah Rusak&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Para pemerhati lingkungan sepakat bahwa pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim saat ini menjadi fenomena alam menakutkan. Jika pemanasan bumi ini tidak dikurangi, tidak mustahil kerusakan dan kehancuran bumi akan segera menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelestarian bumi dewasa ini menghadapi ancaman serius. Pulau-pulau kecil terancam tenggelam, produksi pertanian terganggu, banjir dan kekeringan semakin merajalela, suhu bumi terus meningkat, resiko kebakaran hutan, berkembangnya penyakit tropis, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi karena efek perubahan iklim atau dikenal juga dengan pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan global (global warming) terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer sehingga radiasi matahari terperangkap berulangkali dalam jangka waktu relatif lama, dan akhirnya menyebabkan suhu permukaan bumi secara global meningkat. Pemanasan global kemudian menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan unsur iklim tersebut akhirnya mengubah pola iklim dunia dan kemudian disebut dengan Perubahan Iklim (Climate Change). BMKG (2009) melaporkan bahwa GRK di Indonesia sendiri antara tahun 2004 - 2007 konsentrasinya cenderung mengalami peningkatan yang serius. Menurut analisa BMG, kalau kecenderungan kenaikan konsentrasi GRK seperti sekarang ini, maka suhu muka bumi akan naik antara 1,50 - 4,50 °C pada tahun 2030. Bisa dibayangkan betapa semakin dahsyatnya dampak perubahan iklim bagi bumi dan kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap agama besar di dunia ini mengajarkan kekhalifahan, yang dapat disebut pemeliharaan ciptaan. Manusia sudah diberi kepercayaan mengelola sumber-sumber daya yang luar biasa: air, udara, tanah, hewan, dan makanan dari banyak tumbuhan. Setiap agama mengajarkan sesuatu yang sudah diketahui banyak orang secara naluriah: &lt;br /&gt;Manusia harus melindungi semua sumber daya itu. Namun, berapa banyak jenis ikan yang sudah habis diambil manusia? Berapa banyak jenis hewan yang lenyap selamanya? Berapa banyak habitat yang sudah dirusak manusia dengan membabat hutan atau dengan meracuni tanah dan air?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ribuan tahun manusia mengubah beragam sumber daya di bumi menjadi energi, memetik hasil hutan, menanam tumbuhan pangan, menangkap hasil laut, dan sebagainya, dengan cara berkelanjutan. Sekarang sudah lain ceritanya. Sekarang manusia menguras modal alam (air, udara, bumi) lebih cepat daripada kemampuan alam meregenerasi diri. Manusia mengubah iklim melalui penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan. Manusia melakukan banyak hal positif untuk melindungi bumi tetapi juga melakukan hal-hal yang sangat merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Demi Generasi Mendatang&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Ilmuwan terkemuka David Suzuki berkata, “Kita sudah mencemari udara, air, dan tanah, mendesak hewan dan tumbuhan liar menuju kepunahan, mengobrak-abrik hutan purba, meracuni hujan, dan mengoyak langit. Kemakmuran dunia industri dibeli dengan mengorbankan masa depan anak-anak kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya perlindungan lingkungan dipandang sebagai masalah bagi semua orang. Ini sudah menyangkut umat manusia. Bila ada yang merusak lingkungan, yang lain harus menentang perbuatan itu dan memastikan bahwa orang itu diminta bertanggung jawab atas perbuatannya. Jika manusia yang hari ini masih bernafas bekerja bersama untuk melindungi lingkungan, generasi-generasi mendatang akan punya peluang untuk bertahan hidup dengan air dan udara yang bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yakin sekaranglah saatnya kita mulai balas memberi dan merawat planet ini. Sebagaimana disinggung di atas, bahwa tradisi setiap agama mengajarkan pemeliharaan ciptaan. Tetapi, kebanyakan orang tidak mengetahui tradisi ini atau lalai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatan yang lahir dari ketidakpedulian ini berdampak negatif yang besar pada bumi dan sumber-sumber dayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kita berpikir dunia seperti apa yang kelak kita tinggalkan untuk generasi setelah kita. Udara, air, dan tanah seperti apa yang kita wariskan kepada mereka. Kita bisa saja tulus, dermawan, dan santun dalam memberi, tetapi jika satu-satunya rumah (baca: bumi) yang kita miliki ini dirusak dengan kecepatan tinggi, kita semua harus mengambil tindakan. Konsekuensi yang sangat mengenaskan dari perusakan lingkungan oleh manusia, yang akan lebih nyata dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang, akan berdampak lebih besar pada anak-anak kita, bukan pada kita.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami,&lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5688363832248565670?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5688363832248565670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5688363832248565670&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5688363832248565670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5688363832248565670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/12/peduli-iklim-global_14.html' title='Peduli Iklim Global'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7194294545599602953</id><published>2009-12-11T08:50:00.001+07:00</published><updated>2009-12-11T08:51:50.269+07:00</updated><title type='text'>Peduli Iklim Global</title><content type='html'>&lt;b&gt;Konferensi&lt;/b&gt; Perubahan Iklim PBB adalah pertemuan terbesar dan terpenting untuk isu perubahan iklim. Konferensi ini dibuka pada Senin kemarin (7/12) di Kopenhagen, Denmark. Peserta konferensi terdiri 192 negara. Tentu, ini akan menjadi kesempatan terbaik dalam upaya menjawab tantangan dampak katastrofik perubahan iklim. Oleh karena itu, konferensi ini harus digunakan sebaik mungkin di mana kemudian diikuti dengan langkah-langkah konkrit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa agenda yang hendak dibahas adalah target penurunan emisi rata-rata 40 persen oleh negara maju sesuai Bali Action Plan, mendorong disepakatinya implementasi mekanisme Reducing Emission from Deforestation and Degradation, serta memasukkan isu kelautan menjadi isu sentral dalam perubahan iklim sebagaimana tertuang dalam Manado Ocean Declaration.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konferensi ini juga akan dibicarakan bagaimana upaya mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Kerusakan hutan, perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto tetang pengurangan emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, menjadi isu-isu penting yang akan dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bumi Sudah Rusak&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Para pemerhati lingkungan sepakat bahwa pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim saat ini menjadi fenomena alam menakutkan. Jika pemanasan bumi ini tidak dikurangi, tidak mustahil kerusakan dan kehancuran bumi akan segera menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelestarian bumi dewasa ini menghadapi ancaman serius. Pulau-pulau kecil terancam tenggelam, produksi pertanian terganggu, banjir dan kekeringan semakin merajalela, suhu bumi terus meningkat, resiko kebakaran hutan, berkembangnya penyakit tropis, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi karena efek perubahan iklim atau dikenal juga dengan pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan global (global warming) terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer sehingga radiasi matahari terperangkap berulangkali dalam jangka waktu relatif lama, dan akhirnya menyebabkan suhu permukaan bumi secara global meningkat. Pemanasan global kemudian menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan unsur iklim tersebut akhirnya mengubah pola iklim dunia dan kemudian disebut dengan Perubahan Iklim (Climate Change). BMKG (2009) melaporkan bahwa GRK di Indonesia sendiri antara tahun 2004 - 2007 konsentrasinya cenderung mengalami peningkatan yang serius. Menurut analisa BMG, kalau kecenderungan kenaikan konsentrasi GRK seperti sekarang ini, maka suhu muka bumi akan naik antara 1,50 - 4,50 °C pada tahun 2030. Bisa dibayangkan betapa semakin dahsyatnya dampak perubahan iklim bagi bumi dan kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap agama besar di dunia ini mengajarkan kekhalifahan, yang dapat disebut pemeliharaan ciptaan. Manusia sudah diberi kepercayaan mengelola sumber-sumber daya yang luar biasa: air, udara, tanah, hewan, dan makanan dari banyak tumbuhan. Setiap agama mengajarkan sesuatu yang sudah diketahui banyak orang secara naluriah: Manusia harus melindungi semua sumber daya itu. Namun, berapa banyak jenis ikan yang sudah habis diambil manusia? Berapa banyak jenis hewan yang lenyap selamanya? Berapa banyak habitat yang sudah dirusak manusia dengan membabat hutan atau dengan meracuni tanah dan air?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ribuan tahun manusia mengubah beragam sumber daya di bumi menjadi energi, memetik hasil hutan, menanam tumbuhan pangan, menangkap hasil laut, dan sebagainya, dengan cara berkelanjutan. Sekarang sudah lain ceritanya. Sekarang manusia menguras modal alam (air, udara, bumi) lebih cepat daripada kemampuan alam meregenerasi diri. Manusia mengubah iklim melalui penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan. Manusia melakukan banyak hal positif untuk melindungi bumi tetapi juga melakukan hal-hal yang sangat merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Demi Generasi Mendatang&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Ilmuwan terkemuka David Suzuki berkata, “Kita sudah mencemari udara, air, dan tanah, mendesak hewan dan tumbuhan liar menuju kepunahan, mengobrak-abrik hutan purba, meracuni hujan, dan mengoyak langit. Kemakmuran dunia industri dibeli dengan mengorbankan masa depan anak-anak kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya perlindungan lingkungan dipandang sebagai masalah bagi semua orang. Ini sudah menyangkut umat manusia. Bila ada yang merusak lingkungan, yang lain harus menentang perbuatan itu dan memastikan bahwa orang itu diminta bertanggung jawab atas perbuatannya. Jika manusia yang hari ini masih bernafas bekerja bersama untuk melindungi lingkungan, generasi-generasi mendatang akan punya peluang untuk bertahan hidup dengan air dan udara yang bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yakin sekaranglah saatnya kita mulai balas memberi dan merawat planet ini. Sebagaimana disinggung di atas, bahwa tradisi setiap agama mengajarkan pemeliharaan ciptaan. Tetapi, kebanyakan orang tidak mengetahui tradisi ini atau lalai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatan yang lahir dari ketidakpedulian ini berdampak negatif yang besar pada bumi dan sumber-sumber dayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kita berpikir dunia seperti apa yang kelak kita tinggalkan untuk generasi setelah kita. Udara, air, dan tanah seperti apa yang kita wariskan kepada mereka. Kita bisa saja tulus, dermawan, dan santun dalam memberi, tetapi jika satu-satunya rumah (baca: bumi) yang kita miliki ini dirusak dengan kecepatan tinggi, kita semua harus mengambil tindakan. Konsekuensi yang sangat mengenaskan dari perusakan lingkungan oleh manusia, yang akan lebih nyata dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang, akan berdampak lebih besar pada anak-anak kita, bukan pada kita.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7194294545599602953?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7194294545599602953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7194294545599602953&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7194294545599602953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7194294545599602953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/12/peduli-iklim-global.html' title='Peduli Iklim Global'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3041935099238262479</id><published>2009-12-08T12:58:00.003+07:00</published><updated>2009-12-08T12:59:44.236+07:00</updated><title type='text'>Rindu Kanjeng Nabi</title><content type='html'>Wajahmu atau cahaya pagi yang terbit?&lt;br /&gt; Atau bulan purnama penuh, yang menyingkirkan kegelapan?&lt;br /&gt; Atau mentari di siang hari tak berawan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan syair di atas adalah pujian ulama Arab bernama Nabhani pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Muhammad Rasulullah adalah manusia yang paling utama yang pernah diciptakan Tuhan. Pada diri Rasulullah ada teladan yang paripurna.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad sendiri sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya memiliki sifat-sifat supra-manusiawi. Yang membedakan dengan manusia lainnya adalah bahwa dia “seorang hamba yang kepadanya wahyu diturunkan” (surah 41:5). Tetapi,  meski begitu keistimewaan yang ada pada dirinya sungguh luar biasa. Beberapa ayat menunjukkan hal itu, seperti, Muhammad diutus “Untuk menjadi rahmat bagi alam semesta,” rahmatan lil ‘alamin (surah 21:107); Allah beserta para malaikat-Nya memberi shalawat kepadanya (surah 33: 56); beliau “benar-benar mempunyai budi pekerti pilihan” (surah 68:4); dan “teladan yang baik” (surah 33:21). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya keistimewaan yang melekat pada dirinya tersebut, Muhammad disebut sebagai “orang pilihan” (Al-Mushthafa). Perilaku beliau menjadi contoh bagi kaum muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketampanan lahiriahnya tidak lain adalah cermin keindahan dan kemuliaan batinnya, sebab Tuhan telah menciptakannya sempurna dalam akhlak dan moral, khalqan wa khulqan. Ketika Siti Aisyah, istri tercinta Nabi, ditanya tentang akhlak Nabi, dia berkata: “Akhlaknya adalah Alquran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dalam catatan kehidupan Muhammad, akhlak yang terutama ditekankan dalam dirinya adalah kerendahan hati dan kebaikannya. Tuhan menempatkan di depan mata kita sifatnya yang mulia, sempurna dan luhur dalam segala hal. Tuhan memberikan kepadanya kebajikan-kebajikan yang sempurna, sifat-sifat yang patut dipuji, kebiasaan-kebiasaan yang mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah bagi mereka yang sezaman dengan Nabi Muhammad, yang dapat menyaksikan cahaya jiwanya yang diekspresikan dalam kesehariannya. Apa yang harus kita lakukan, ketika waktu memisahkan kita dengan Rasulullah, padahal kerinduan padanya menggelora dalam diri kita? Untunglah ada para penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak buku-buku yang berisikan keteladanan Nabi Muhammad dari pelbagai sisi dan genre. Baik itu ditulis oleh orang Barat, Arab, dan, Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad memang patut ditulis dan diabadikan dengan tinta emas. Dan itu adalah ekspresi para penulis atas kecintaan pada Nabi Muhammad, entah disadari atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penulis, sejauh yang saya ketahui, melihat pada diri Nabi Muhammad tercinta pengejawantahan ideal kualitas-kualitas yang dia sendiri menganggap sangat tinggi dan sangat dibutuhkan di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini pula yang dilakukan Tasaro selaku penulis yang meyakinkan dirinya untuk menulis tentang Muhammad sebagai tanda cintanya dalam bentuk novel. Tasaro hendak berusaha untuk menghadirkan Muhammad Rasulullah dalam keseharian hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan tentang Muhammad dalam bentuk novel boleh jadi lebih menyentuh ke dalam sanubari kita, karena kita akan merasakan betul kedekatan sosok beliau, dan seolah-olah beliau ada dalam kehidupan kita saat kita membacanya. Jadi, akan memberikan efek yang sungguh luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasaro, lewat karyanya, berupaya menumpahkan segala kerinduan seorang manusia kepada junjungannya yang suci. Bukunya yang sebentar lagi terbit patut disambut gembira oleh kita semua. Saya berkeyakinan ketika novel itu dibaca, sungguh tak ada rasa selain gairah cinta kita pada kanjeng Nabi Muhammad berlipat-lipat. Kerinduan pun akan terobati. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat serta salam kami haturkan padamu, wahai junjungan kami, Rasulullah Muhammad SAW. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal Dawami, pemilik blog http://resensor.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3041935099238262479?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3041935099238262479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3041935099238262479&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3041935099238262479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3041935099238262479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/12/rindu-kanjeng-nabi.html' title='Rindu Kanjeng Nabi'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-9138245090993732274</id><published>2009-08-24T10:34:00.003+07:00</published><updated>2009-08-24T10:44:02.063+07:00</updated><title type='text'>Kreatif di Tengah - Tengah Krisis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menurut Komaruddin Hidayat,&lt;/span&gt; krisis itu vitamin dan pemicu untuk maju. Krisis itu bagian integral dari perjalanan seseorang dan bangsa. Lewat krisis biasanya seseorang tertantang untuk bangkit menjawab hambatan dan himpitan hidup yang menghadang. Karena krisis maka sebuah bangsa dipaksa berpikir mencari terobosan dan menciptakan inovasi serta alternatif baru untuk membangun masa depan yang lebih baik. Berbagai terobosan itu muncul biasanya ketika ada krisis yang memaksa manusia untuk mencari solusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar dari biji buah-buahan. Ketika sel-sel biji benih akan tumbuh, maka terjadilah krisis pada jaringan kulitnya berupa keretakan pada permukaannya sehingga membuka jalan bagi berkembangnya calon pohon besar yang secara potensial masih amat kecil tersimpan di dalam biji. Kita juga bisa belajar dari telur seekora hewan. Telur ayam, misalnya, yang sedang ditetaskan akan mengalami krisis dan keretakan pada dindingnya sehingga terbuka pintu bagi anak ayam yang akan menggantikan induknya di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian neuropsikologi, potensi otak manusia sesungguhnya jauh lebih banyak yang belum tergali dan teraktualisasikan. Jaringan saraf-saraf dalam otak yang berfungsi untuk menghimpun informasi sebagai bahan tumbuhnya ilmu pengetahuan belum sampai sepuluh prosen yang terisi. Manusia itu makhluk luar biasa. Mampu hidup di segala cuaca dan kondisi lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah manusia selalu dipicu untuk maju oleh serangkaian krisis yang terjadi dari zaman ke zaman. Tanpa krisis dan tantangan, potensi manusia tidak akan muncul dan teraktualkan. Qomaruddin Hidayat mencontohkan, “mirip orang kampung yang membuat minyak kelapa, hanya dengan cara diperas sedemikian rupa maka minyak baru akan keluar. Atau padi ditumbuk berulangkali agar terjadi gesekan dalam jangka waktu tertentu sehingga kulitnya terkelupas dan muncullah beras.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ide kreatif tidak datang begitu saja. Ia harus ditanam, dipupuk, dan disirami dalam diri kita selama bertahun-tahun bahkan selama hidup. Untuk mendapatkan ide kreattif, dapat dilakukan beberapa hal: &lt;br /&gt;- Banyak membaca&lt;br /&gt;Dengan banyak membaca, kita mengisi pikiran dengan bahan-bahan berupa potongan-potongan informasi yang dapat dianalogikan seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzel. Bila rangkaian potongan-potongan puzzel informasi tersebut telah lengkap atau setidaknya hampir lengkap, maka akan tampak sebuah gambar/bentuk yang memiliki makna cukup jelas yang dapat berupa ide kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan tidak harus berupa buku, tetapi bisa majalah, koran, atau artikel-artikel dan jurnal-jurnal penelitian di internet. Yang penting, isinya bermutu dan sesuai dengan kebutuhan dan minat kita. Semakin banyak informasi bermutu yang kita peroleh, berarti semakin banyak potongan puzzel yang kita kumpulkan. Hal itu berarti peluang untuk mendapatkan ide kreatif semakin besar. Selain itu juga sangat membantu upaya menghindari duplikasi (secara tidak sengaja) ide dari orang lain yang sudah diwujudkan dan atau dipublikasikan lebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering mengamati&lt;br /&gt;Mengamati tidak sama dengan melihat. Mengamati adalah melihat dengan mata dan otak. Kebanyakan orang, kalau melihat sesuatu benda atau kejadian yang menarik akan berhenti pada melihat saja, tanpa meneliti. Seorang peneliti tidak hanya sampai di situ saja, tetapi kemudian berfikir bagaimana bisa, mengapa demikian, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sering berdiskusi&lt;br /&gt;Berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang sama dengan kita sangat diperlukan untuk memperdalam dan memperluas wawasan. Namun demikian, diperlukan juga diskusi dengan orang dengan minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang lain agar kita memiliki pemahaman yang lebih komprehensif pada aspek-aspek yang melingkupi bidang yang kita minati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, setiap orang harus kreatif agar anda dihargai oleh orang lain. Hal itu bisa menjadi pembeda antara anda orang lain. Orang kreatif itu akan menaikkan citra dan harga diri anda di mata siapapun. Lihatlah berapa banyak orang di sekitar anda yang punya hobi dan minat, tapi tidak mau memaksimalkan bahkan senderung mematikannya. Akibat tidak kreatif sehingga mereka serimg dianggap biasa-biasa saja, tidak berharga, tidak dipertimbangkan orang lain, bahkan sering mengalami PHK atau tidak dimanfaatkan orang lain. Seiring dengan perputaran waktu, orang yang tidak kreatif akan cepat terlindas oleh "waktu" dam akhirnya akan menurunkan harga dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita tidak menyadari, betapa Tuhan itu telah melengkapi dan membekali manusia dengan “persenjataan” yang lengkap untuk bertarung dengan kehidupan. Sungguh cermat segala perhitungan-Nya. Diantara sekian banyak peralatan tempur itu salah satunya adalah: Kreativitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda mengenal dan bahkan mengagumi, semisal; Spielberg, Goerge Lucas, John Grisham, Eminem, K.D Lang, Jewel, Allanis Morissete? Atau para pengusaha yang sukses seperti Bill Gates, HM. Sampoerna, Nicolaus Otto, Gottlieb-Daymler? Atau para musisi yang sukses seperti Iwan Fals, Melly Goeslaw, Ahmad Dani, Bimbo, Rhoma Irama, dan bahkan juga Inul Daratista. Serta tertarikah anda untuk menjadi kreatif seperti mereka? Apakah Anda berniat mendirikan suatu usaha baru, atau membantu tempat perusahaan tempat Anda bekerja agar lebih maju dan berkembang? Kini, semakin banyak orang yang menyadari bahwa kreativitas itu memainkan peranan penting dalam meraih kebahagian pribadi dan keunggulan profesional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kreatif adalah mereka yang unggul dalam pekerjaan, mendirikan usaha baru, yang menemukan berbagai produk. Yang membangun gedung dan merancang rumah tinggal, yang memproduksi film dan pementasan, menggubah musik, melukis, dan menelurkan berbagai karya keindahan. Manusia kreatif acapkali memiliki kehidupan sosial mengasyikan dan merangsang, berinteraksi dengan banyak orang, serta menjelajahi tempat-tempat menawan. Dengan demikian mereka terus-menerus belajar dan berbuat. Kreativitas juga merupakan aspek penting lingkungan keluarga yang sehat. Para orang tua kreatif tahu cara membantu anak agar menjadi orang dewasa yang mencintai dan memanfaatkan kehidupan secara maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita umumnya mulai membatasi pencarian dan kemampuan kreatif pada usia teramat muda. Biasanya, mulai masuk SD. Di sini, sedikit demi sedikit, kreativitas mulai dikekang oleh pendidikan tradisional. Kita duduk berderet dengan manis bersama dua puluh atau tiga puluh anak-anak lainnya. Dan harus tunduk pada peraturan dan prosedur yang kaku, yang kebanyakan membatasi keterampilan berpikir kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, riset membuktikan bahwa kita semua memiliki daya untuk menjadi kreatif dalam banyak bidang. Menurut Prof. Howard Gardner dari Universitas Harvard dalam bukunya Frames of Mind. Kita diberkahi tidak hanya satu jenis kecerdasan umum, namun tujuh: Verbal/Linguitis: kemampuan memanipulasi kata secara lisan atau tertulis; Matematis / logis: kemampuan memanipulasi system nomor dan konsep logis; Spasial: kemampuan melihat dan memanipulasi pola dan desain; Musikal: kemampuan mengerti dan memanipulasi konsep musik, seperti nada, irama dll; Kinestesis tubuh: kemampuan memanfaatkan tubuh dan gerakan seperti dalam olah raga atau tari; Intrapersonal: kemampuan memahami perasaan diri, gemar merenung serta berfilsafat;  Interpersonal: kemampuan memahami orang lain, pikiran, serta perasaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas ternyata merupakan sesuatu yang penting bagi sebuah Bangsa. Berpikir kreatif diperlukan dalam proses berpikir untuk menyelesaikan masalah. Semakin kreatif seseorang, semakin banyak alternatif penyelesaiannya. Berpikir merupakan instrumen psikis paling penting. Dengan berpikir, kita dapat lebih mudah mengatasi berbagai masalah dalam hidup. Berpikir kreatif merupakan salah satu cara yang dianjurkan. Dengan cara itu seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak perspektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coleman &amp; Hammen mengungkapkan, ada tiga faktor yang secara umum dapat ikut menunjang cara berpikir kreatif. Pertama, kemampuan kognitif. Seseorang harus mempunyai kecerdasan tinggi. Untuk itu Ia harus secara terus-menerus mengembangkan intelektualitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sikap terbuka. Cara berpikir kreatif akan tumbuh apabila seseorang bersikap terbuka pada stimulus internal dan eksternal. Sikap terbuka dapat dikembangkan dengan memperluas minat dan wawasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sikap bebas, otonom, dan percaya diri. Berpikir secara kreatif membutuhkan kebebasan dalam berpikir dan berekspresi. Juga memerlukan kemandirian berpikir, tidak terikat pada otoritas dan konvensi sosial yang ada. Yang terpenting, ia percaya pada kemampuan dirinya. Seseorang yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi, sering kali menghasilkan pemikiran atau gagasan luar biasa, aneh, terkadang dianggap tidak rasional. Bahkan, karena keluarbiasaan itu, tidak sedikit orang kreatif dianggap "gila". ada kesamaan antara orang kreatif dengan orang gila, karena cara berpikirnya tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Sementara orang gila tidak mampu melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-9138245090993732274?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/9138245090993732274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=9138245090993732274&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/9138245090993732274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/9138245090993732274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/08/kreatif-di-tengah-tengah-krisis.html' title='Kreatif di Tengah - Tengah Krisis'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2969103267491640654</id><published>2009-08-16T08:41:00.002+07:00</published><updated>2009-08-16T08:44:14.867+07:00</updated><title type='text'>Palu Ajaib</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SodkUDfzoUI/AAAAAAAAAcA/BpIEYhVmTP0/s1600-h/PALU+RUNCING.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 280px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SodkUDfzoUI/AAAAAAAAAcA/BpIEYhVmTP0/s320/PALU+RUNCING.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370371376361480514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Inggris,&lt;/span&gt; pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pria kaya yang memiliki kapal uap yang indah, tapi seperti jamaknya benda-benda mahal, kapal uap itu ditakdirkan untuk dirusak. Biasanya, teknisi kapal bisa memperbaikinya, tapi suatu hari, setelah perjalanan yang amat berat, mesinnya mati, dan tidak ada yang bisa menyalakannya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu demi satu, semua montir dan ahli mesin di negeri itu dipanggil untuk memperbaiki mesin kapal, dan satu demi satu gagal melakukannya. Akhirnya, si pria kaya mendengar kabar tentang seorang pembuat kapal tua bijaksana yang mungkin dapat membantu, tapi dengan harga mahal. Pria kaya itu langsung menyetujuinya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian tibalah seorang pria tua yang dari penampilannya terlihat seolah-olah sudah memperbaiki kapal selama ratusan tahun. Dia membawa tas besar berisi peralatan, dan langsung mulai bekerja. Dia memeriksa jaringan luas pipa yang mengarah ke dan dari mesin dengan sangat teliti, sesekali dia meletakkan tangan di atas pipa untuk mengisi kehangatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pria tua itu meraih ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah palu kecil. Dengan lembut dia mengetuk salah satu pipa. Seketika itu juga, suara uap yang mengalir pipa dapat terdengar dan mesin kapal pun menyala sementara pria tua itu dengan hati-hati menyimpan kembali palunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si pria kaya bertanya berapa yang harus dia bayar kepada si pembuat kapal, tagihannya mencapai 10 ribu pound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?!” pemilik kapal berseru. “Kau nyaris tidak melakukan apapun. Jelaskan tagihanmu atau kujebloskan kau ke penjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria tua itu mulai menuliskan sesuatu pada selembara kertas kumal yang dia ambil dari sakunya. Si pria kaya tersenyum saat membacanya dan meminta maaf kepada pembuat kapal atas sikap kasarnya. Ini tulisan yang tertera di kertas:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetuk dengan palu 1 pound&lt;br /&gt;Untuk mengetahui di mana harus mengetuk  9.999 pound&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Orang menginginkan apa yang mereka inginkan untuk beragam alasan. Sebagian orang ingin punya uang karena menurut mereka uang akan memberi mereka “keamanan”, yang lain menginginkannya karena menurut mereka uang akan membeli “kebebasan” mereka. Yang lain ingin merasakan “kekuatan” atau “prestasi” atau “kesuksesan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kata ini mewakili nilai tertinggi anda—hal-hal penting bagi anda dan memberi makna serta kekayaan dalam hidup anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang anda lakukan hanya mengejar tujuan tanpa memenuhi nilai-nilai anda, kesuksesan anda akan kosong dan hidup anda kemungkinan akan terasa berlubang dan kosong di dalam. Anda mungkin bisa punya uang, tapi anda jelas tidak akan kaya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-2969103267491640654?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/2969103267491640654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=2969103267491640654&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2969103267491640654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2969103267491640654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/08/palu-ajaib.html' title='Palu Ajaib'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SodkUDfzoUI/AAAAAAAAAcA/BpIEYhVmTP0/s72-c/PALU+RUNCING.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4721071233782590432</id><published>2009-08-08T12:45:00.002+07:00</published><updated>2009-08-08T12:47:43.692+07:00</updated><title type='text'>Coca-Cola dan Levi’s</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sn0RcpMaxwI/AAAAAAAAAbw/QAeeUOQ5m7M/s1600-h/lg_cocacola_can.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sn0RcpMaxwI/AAAAAAAAAbw/QAeeUOQ5m7M/s320/lg_cocacola_can.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367465514687448834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunci kekayaan &lt;/span&gt;seringkali ditemukan tersimpan jauh di dalam arsip imajinasi kita yang tak disangka-sangka. Sebagai contoh adalah Coca-Cola dan Jeans Levi’s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coca-Cola awalnya sirup sakit kepala yang tidak terlalu berhasil yang dikembangkan oleh apoteker/pengusaha bernama John Pemberton. Ketika dia memergoki beberapa pekerja gudang mencampur sirup barunya dengan air dan meminumnya di belakang toko, dia mencicipinya dan menyadari bahwa jika dia mencampurnya dengan air soda, minuman itu mungkin bisa menjadi sesuatu yang akan membuat orang rela membayar untuk membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk “blue Jeans”, produk ini berkembang ketika seorang calon penambang emas bernama Levi Strauss pergi ke San Fransisco dengan barang dagangan yang rencananya akan dia jual untuk mengumpulkan uang guna membeli sepetak lahan di tambang. Dia tidak berhasil menjual dua gulungan besar kanvas tenda berwarna biru. Jadi, dia membayar seorang penjahit lokal untuk membuat celana terusan dari kain tenda dan paku kuningan. Permintaan untuk celana panjang barunya yang kuat begitu besar sehingga akhirnya dia tidak pernah mencari emas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anda menyadari bahwa cara menghasilkan uang sama sekali tidak terbatas, pertanyaannya berubah dari “adakah cara bagi orang saya menghasilkan uang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu jangan meremehkan kekuatan pikiran kreatif! Ingat, semua inovasi ilmiah, keajaiban medis, lagu, lukisan, film, puisi, dan gerakan politik terkenal hanya bermula dari ide dalam imajinasi kreatif seseorang. Makin kaya pikiran anda, makin kuat kreativitas imajinasi anda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4721071233782590432?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4721071233782590432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4721071233782590432&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4721071233782590432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4721071233782590432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/08/coca-cola-dan-levis.html' title='Coca-Cola dan Levi’s'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sn0RcpMaxwI/AAAAAAAAAbw/QAeeUOQ5m7M/s72-c/lg_cocacola_can.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7746468153182387146</id><published>2009-08-02T05:57:00.001+07:00</published><updated>2009-08-02T06:14:55.262+07:00</updated><title type='text'>Sang Penemu Hemat BBM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SnTMWRXq2wI/AAAAAAAAAbg/pNEerWx165Q/s1600-h/Joko+istiyanto+Femax.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SnTMWRXq2wI/AAAAAAAAAbg/pNEerWx165Q/s320/Joko+istiyanto+Femax.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365137739096972034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lelaki itu &lt;/span&gt;bernama Joko Istianto. Dia berhasil menemukan alat penghemat BBM untuk motor dan  mobil. Alat temuannya itu dia namakan Fe-Max. Dan dia bertekad untuk menebarkan penemuannya ini di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuannya adalah berawal dari lomba karya tulis ilmiah Hemat Energi versi Pertamina tahun 1997. Dia berhasil memenangkan lomba tersebut. Selanjutnya, dia menjadi pemenang terbaik simposium nasional Forum Mahasiswa Mesir Nasional 1998 dan sebagai peserta terbaik pameran Olimpiade fisika se-Asia tahun 2000. Dia juga menjadi pemenang pemuda pelopor nasional bidang teknologi tahun 2007. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melalui alat yang dinamai Fe-Max tersebut, BBM yang dikeluarkan dari tanki motor/mobil saat dikehendaki bisa jadi hemat sampai 35 persen. Artinya, jika misalnya mobil tanpa dipasang Fe-Max dalam sehari menghabiskan 100 liter premium, maka ketika dipasang Fe-Max menjadi hanya keluar duit bensin untuk 65 liter saja. Selain itu Fe-Max juga mampu mengurangi emisi gas buang sampai 60 persen. Tenaga mesin menjadi lebih berdaya, getaran mesin juga menjadi berkurang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan Joko ini tentu begitu bermanfaat bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan untuk membeli BBM karena harganya naik-turun tak menentu. Kehadirannya membawa angin segar bagi pengguna pengeluaran untuk BBM, dan dapat dialokasikan pada kebutuhan-kebutuhan lainnya atau mungkin juga ditabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Zaman&lt;br /&gt;Kreatifitas Joko ini dalam menemukan alat penghemat BBM sejatinya merupakan jawaban dia atas tuntutan zaman yang memaksa untuk berpikir kreatif. Kita tahu bahwa pada saat ditemukannya alat tersebut, Indonesia kena imbas oleh kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah dengan terpaksa menaikkan harga BBM untuk menyesuaikan dengan harga rata-rata pasar dunia. Akibatnya, rakyat menjadi korban. Banyak perusahaan mulai dari yang kecil hingga yang besar menurunkan produktifitasnya, karena biaya produksi mahal, yang diakibatkan oleh harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Joko tidak terkejut oleh keadaan seperti itu. Justru memunculkan kreatifitasnya dengan berpikir bagaimana caranya agar tetap survive di tengah-tengah kenaikan harga BBM. Akhirnya munculah inovasinya menemukan alat penghemat BBM. Sungguh, sebuah usaha yang patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7746468153182387146?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7746468153182387146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7746468153182387146&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7746468153182387146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7746468153182387146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/08/sang-penemu-hemat-bbm.html' title='Sang Penemu Hemat BBM'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SnTMWRXq2wI/AAAAAAAAAbg/pNEerWx165Q/s72-c/Joko+istiyanto+Femax.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8044186772617198627</id><published>2009-07-28T06:08:00.002+07:00</published><updated>2009-07-28T06:10:19.646+07:00</updated><title type='text'>Ia yang Menulis dengan “Kelopak Mata”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sm4zy3lG0NI/AAAAAAAAAbI/hm1N-RBsozA/s1600-h/jean.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 185px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sm4zy3lG0NI/AAAAAAAAAbI/hm1N-RBsozA/s320/jean.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363281155250901202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lelaki itu &lt;/span&gt;bernama Jean-Dominique Bauby, pemimpin redaksi majalah Elle, Prancis. Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya secara sangat istimewa. Judulnya, “Le Scaphandre” et le Papillon (The Bubble and the Butterfly). Setahun sebelumnya, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total. Memang, ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat digerakannya adalah kelopak mata kirinya. Dan itulah satu-satunya cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa stroke-nya, ia menulis buku. Bagaimana caranya? Ia dibantu oleh keluarganya untuk menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untuk bisa menjadi seseorang yang berguna, walaupun untuk menelan ludah saja, dia tidak mampu, karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh. Tetapi yang patut aku teladani adalah bagaimana dia menyikapi situasi hidup yang dialaminya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa mengagumkan semangat hidup dan tekad maupun kemauannya untuk menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis, dengan kondisinya yang seperti sosok mayat bernapas. Sedangkan aku yang hidup tanpa punya problem seberat Jean, sering menjadi manusia yang selalu mengeluh. Coba ingat-ingat apa yang aku lakukan. Ketika mendapat cuaca hujan, biasanya menggerutu. Sebaliknya, mendapat cuaca panas juga menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, seberat apa pun problem dan beban hidup aku semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan Jean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku harus percaya bahwa sebagai manusia masing-masing telah diberikan potensi untuk tetap survive dalam kondisi yang sesulit apa pun oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga jika aku mau menggunakan potensi tersebut aku pasti akan dapat melalui kesulitan demi kekurangan dan kesulitan yang aku hadapi. Aku, sebagai manusia tidak mungkin akan selalu mengalami hal-hal yang menyenangkan, suatu ketika aku pasti akan mengalami hal-hal yang menyedihkan, begitu pula sebaliknya. Dan pada saat itulah aku harus mengaktifkan potensi survive yang aku miliki. Dengan penuh keyakinan aku harus percaya bahwa aku akan dapat mencapai kondisi yang menyenangkan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang telah mencapai hal-hal yang diinginkannya biasanya mengalami perubahan mental, pola pikir, gaya hidup, cara bertindak, dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini biasanya dapat menjerumuskan mereka ke dalam kejatuhan dan kegagalan. Dengan kata lain seseorang yang telah berhasil biasanya cenderung untuk menjadi sombong, tidak mau belajar dari orang lain, merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar dan pandai, meremehkan orang lain, dan serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap-sikap seperti inilah yang kebanyakan membuat orang-orang berhasil dan sukses masuk ke dalam jurang pencobaan dan menemui kegagalan dan kehancuran. Oleh karena itu apabila aku suatu saat telah menjadi orang yang sukses, aku harus waspada dan sering-sering mengintrospeksi diri karena perubahan-perubahan sikap yang aku alami baik secara langsung maupun tidak langsung dapat membawa aku kepada kejatuhan dan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya kegagalan yang berkali-kali dialami seseorang dapat mendidik orang tersebut menjadi lebih tangguh dan lebih tangguh lagi karena ia banyak belajar dari kegagalan yang dialaminya. Dan apabila ia semakin bertekun bukan tidak mustahil ia akan berhasil meraih kesuksesan dan keberhasilan yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pengalaman orang-orang sukses yang bangkit dari kegagalan aku dapat mengatakan bahwa kegagalan sesungguhnya adalah pelajaran yang sangat berharga. Maka jangan cuma menyesali dan meratapinya, tetapi belajarlah dari kegagalan-kegagalan yang aku alami. Pelajari mengapa aku sampai gagal. Sehingga di lain waktu aku bisa lebih hati-hati dalam setiap tindakan. Dan kegagalan yang lalu tidak akan terulang lagi pada diriku.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 27 Juli 2009, Pkl. 23.00&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8044186772617198627?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8044186772617198627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8044186772617198627&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8044186772617198627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8044186772617198627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/07/ia-yang-menulis-dengan-kelopak-mata.html' title='Ia yang Menulis dengan “Kelopak Mata”'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sm4zy3lG0NI/AAAAAAAAAbI/hm1N-RBsozA/s72-c/jean.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7836757387575936773</id><published>2009-07-01T08:03:00.003+07:00</published><updated>2009-07-01T08:06:37.176+07:00</updated><title type='text'>Cita-Cita: The Secret and Power Within</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Skq2kgbn8aI/AAAAAAAAAao/ZkEVD3WgDc4/s1600-h/4824_1085004481465_1116968343_30207363_3573578_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Skq2kgbn8aI/AAAAAAAAAao/ZkEVD3WgDc4/s320/4824_1085004481465_1116968343_30207363_3573578_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353291845380600226" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Cita-Cita: The Secret and Power Within&lt;br /&gt;Penulis: M.Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Penerbit: Diva Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, Mei 2009&lt;br /&gt;Tebal: 260 hlm. &lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setiap manusia &lt;/span&gt;diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan dalam kehidupan sehari-harinya penuh dengan lika-liku. Ada kalanya ditimpa kebahagiaan, namun ada kalanya pula kesedihan. Semua manusia tercipta dengan skenario yang berbeda. Skenario yang sudah tertulis di dalam “catatan” Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa Tuhan menciptakan alam ini dengan begitu sempurna. Semuanya mempunyai “ruh”. Alam beserta segala isi dan peristiwanya mengajarkan kepada manusia, sebagai pengelola alam, untuk menjaga keseimbangan hidup. Tumbuh-tumbuhan, hewan, dan lain-lainnya, adalah bahan renungan untuk manusia. Manusia sering kali ditimpa ujian dan cobaan, lebih sering pula ketika mengalami kesulitan hanya bisa mengeluh dan menuntut, tanpa berfikir lebih jernih lagi apa sebenarnya di balik semua kejadian ini. Mungkin kita masih ingat peristiwa berbagai musibah dan bencana alam yang sudah dan sedang terjadi, pernahkah kita berfikir dan merenung, mengapa Tuhan menurunkan itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alam sebenarnya berperan sebagai “guru” bagi manusia untuk perenungan dan pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa Tuhan begitu perhatian bagi manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling mulia untuk dapat hidup sejahtera dibandingkan ciptaan lain-Nya. Akal adalah bukti kasih sayang dari Tuhan. Ia mencipatakan itu untuk mengambil segala pelajaran yang diberikan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka di ataslah buku ini hendak mengajak para pembaca untuk merenungkan segala peristiwa yang ada di muka bumi ini. Mari kita pikirkan baik-baik segala polah tingkah yang ada di muka bumi ini.&lt;br /&gt;“Manusia yang bijak dan cerdaslah yang senantiasa mengambil pelajaran serta mengisi skenario-Nya dengan amalan yang disukai-Nya. Tanpa pernah berkeluh kesah apalagi berburuk sangka.” Begitu seorang kawan memberi tahu saya lewat blog-nya. Ya, saya sepakat dengan pendapat di atas. Tapi bagi sebagian orang tidak mudah untuk mengambil pelajaran seperti itu. Begitu banyak peristiwa yang berseliweran di sekitar kita, tapi sebagian orang itu tidak mendapatkan pelajaran apa-apa.&lt;br /&gt;Kehidupannya bagaikan mesin. Akalnya sama sekali tak difungsikan untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Dalam hidupnya nyaris mengalami energi-energi negatif, seperti stress, mudah marah, sedih, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagian orang lainnya berperilaku sebaliknya. Mereka dapat dengan mudah meraih pelajaran yang berharga dari segala peristiwa yang ada di muka bumi ini. Saat melihat atau pun mendapat musibah, mereka bersabar, karena mereka yakin bahwa ada makna di balik itu. Pun sebaliknya, saat meraih kebahagiaan, mereka bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam menyodorkan kepada kita di saat pagi dengan adanya kicauan burung, bunga-bunga bermekaran, embun pagi bening yang hinggap di sela-sela dedaunan, udara yang sejuk dan segar. Alam memberikan pelajaran agar hidup senantiasa memberikan yang terbaik kepada kehidupan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi dengan kelakuan para hewan. Semut, misalnya, yang selalu berduyun-duyun mencari makanan. Satu semut memberitahu bahwa ada makanan sebuah tempat, maka yang lainnya pun mengikutinya. Belum lagi dengan kelelewar, yang sering “berangkat” pagi mencari makan dan pulang sore hari saat senja tiba. Tentu masih banyak lagi peristiwa lainnya yang dapat kita ambil hikmahnya. Sekali lagi, semua peristiwa yang terjadi adalah untuk mengajarkan kepada manusia agar menjadi manusia berkualitas. Menjadi manusia berkualitas adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Menjadi manusia berkualitas adalah menjadi manusia yang memberi yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus banyak belajar dari alam ini. Keterciptaan kita di dunia tak lain adalah untuk memelihara bumi ini sebaik-baiknya dalam ketundukan dan kepatuhan yang purna pada Sang Pencipta. Untuk itulah kita diberi kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya, bahkan dari malaikat sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dimafhumi bahwa salah satu penyampaian pesan yang sangat efektif adalah melalui sebuah kisah. Penyampaian melalui kisah dapat dicerna dengan baik oleh siapa pun dan dari kalangan mana pun. Efektifnya lagi adalah tidak pernah merasa digurui bagi siapa saja yang membacanya. Dan sudah dianggap lazim bahwa berkisah atau bercerita merupakan salah satu metode pengajaran yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai tertentu pada para peserta didik, dalam hal ini para pembaca.&lt;br /&gt;Metode pengisahan atau penceritaan ini telah terbukti mampu merangsang imajinasi para pembacanya.&lt;br /&gt;Kisah-kisah yang saya suguhkan bercorak sugestif-transformatif, sehingga para pembaca pun akan mampu menangkap makna yang saya paparkan. Hal itu memang, kisah-kisah tersebut sangat dekat dengan keadaan atau bahkan karakter kita—saya maupun pembaca. Sebagian besar yang dikisahkannya merupakan fenomena yang sedang kita alami sejak dulu hingga kini. Pembaca akan dapat dengan mudah mengambil sari-sari hikmah melalui cerita beserta penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus penulis akui bahwa penyampaian kisah-kisahnya dalam buku ini tidak panjang-panjang. Tapi meski demikian makna dan pesan kearifannya berkelindan dalam semua kisah tersebut. Pemaparan kisah-kisahnya yang pendek boleh jadi dapat memfokuskan pembaca pada pesan yang hendak disampaikan. Adapun kisah-kisah yang terdapat dalam buku ini bersumber dari situs-situs internet yang tidak diketahui pengarang aslinya, dari sinopsis film, dari para sahabat, dan dari saya sendiri.&lt;br /&gt;Harapan saya, semoga buku ini menjadi “danau” para pembaca menemukan kembali dirinya, semangatnya dan kemampuannya untuk melakukan perubahan. Buku ini, mudah-mudahan, akan mampu menjadi obat bagi pembaca untuk sembuh dan bangkit kemudian membangun, minimal membangun karakter kita. Saya hendak mengajak para pembaca, mari kita mengubah nasib kita sendiri menjadi lebih baik, dan sekaligus menjadi manusia terbaik, menjadi manusia berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini saya hendak mengajak para pembaca juga untuk bersikap optimis, tidak pesimis. Saya persilakan para pembaca dapat membacanya dengan meloncat-loncat, memilih mana yang paling disukainya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, semoga kita mampu mengambil hikmah dari apa yang ada di semesta ini. Mari kita belajar dari alam sehingga kita menjadi orang-orang yang lebih bijak dalam menghadapi hidup ini. ***&lt;br /&gt;(Tulisan ini merupakan Kata Pengantar yang ada di dalam buku Cita-Cita: The Secret and Power Within). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7836757387575936773?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7836757387575936773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7836757387575936773&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7836757387575936773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7836757387575936773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/07/cita-cita-secret-and-power-within.html' title='Cita-Cita: The Secret and Power Within'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Skq2kgbn8aI/AAAAAAAAAao/ZkEVD3WgDc4/s72-c/4824_1085004481465_1116968343_30207363_3573578_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-1449763973536907950</id><published>2009-06-21T07:42:00.002+07:00</published><updated>2009-06-21T07:46:50.924+07:00</updated><title type='text'>Spirit Ketika Cinta Bertasbih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sj2C233YrDI/AAAAAAAAAaY/b7Q7tnyrOmA/s1600-h/posterkcb_11.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sj2C233YrDI/AAAAAAAAAaY/b7Q7tnyrOmA/s320/posterkcb_11.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349575811606817842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Novelis Habiburrahman El Shirazy&lt;/span&gt; kembali memfilmkan novelnya yang bertajuk Ketika Cinta Bertasbih. Film ini diputar di bioskop pada 11 Juni 2009. Dan selain di Indonesia, film ini juga akan diputar di beberapa negara, yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Mesir, dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah film Indonesia pertama yang Syuting di Mesir. Dalam film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) ini, seluruh latar belakang dalam novel dihidupkan dengan pengambilan gambar dari lokasi sesungguhnya, yakni di Mesir, di antaranya Kairo, Kedutaan Besar Republik Indonesia, Alexandria, Bandara Internasional Kairo, Sungai Nil, Universitas Al Azhar, dan Piramida Giza. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membedakan film KCB dengan karya novel Habiburrahman yang telah lebih dahulu diangkat menjadi film, yaitu Ayat-Ayat Cinta (AAC),  adalah film ini berusaha melakukan pendekatan yang hampir sama dengan apa yang ada di dalam cerita novelnya. &lt;br /&gt;Ketika Cinta Bertasbih (KCB) berkisah mengenai perjalanan Khairul Azzam (M. Cholidi Asadil Alam), seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia menyelesaikan studinya selama 9 tahun karena selain kuliah, ia juga bekerja. &lt;br /&gt;Azzam berasal dari keluarga sederhana namun cerdas, sampai ia memperoleh predikat jayyid jiddan (istimewa), sehingga mendapat beasiswa baik dari Departemen Agama maupun kampusnya. Namun di tahun kedua, ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, ibunya sering sakit-sakitan. Padahal ketiga adik perempuannya belum bisa diharapkan membantu ibunya karena baru beranjak dewasa. Yang seharusnya membantu ibu dan adik-adiknya di Indonesia adalah Azzam. Sebab ia adalah sulung di keluarganya. Azzam menyadari itu. Maka sejak saat itulah ia mengalihkan konsentrasinya. Dari belajar ke bekerja. Ia di Kairo, bekerja sambil belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang dilakukan Azzam untuk menghidupi dirinya dan keluarganya di Indonesia adalah berbisnis tempe dan bakso. Kenikmatan bakso dan tempenya terkenal di kalangan mahasiswa Indonesia sampai KBRI Mesir. Di KBRI itulah, ia bertemu Eliana Pramesti (Alice Norin)  putri Pak Alam (Slamet Rahardjo) Dubes RI di Mesir. Eliana cukup memikat hatinya. Namun karena gaya kehidupan Eliana tidak cocok dengan Azzam, maka disarankan oleh Pak Ali, seorang supir Dubes, untuk melamar Anna Althafunnisa saja (Oki Setiana), mahasiswi Kulliyyatul Banaat di Alexandria. Kisah cinta pun dimulai di sini antara Azzam, Anna dan Furqan (Andi Arsyil). Diselingi pula kisah keluarga dan adiknya bernama Ayatul Husna (Meyda Sefira) di Solo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film KCB membawa pesan-pesan religius dalam dialog sederhana yang dimainkan nyaris sempurna. Di antara pesan-pesan lainnya adalah mengenai berbagai hal positif tentang etos kerja, kecintaan tanah air, dan kesucian cinta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arti cinta &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kehidupan dan kisah cinta Azzam memberikan pencerahan jiwa, bahkan mengajak penonton untuk lebih mendalami rahasia Ilahi dan memaknai cinta. Sedang kehadiran Anna, menjadi unsur yang mengikat keduanya dalam sebuah misteri cinta yang seolah tak berujung. Jalinan cinta itu dikemas dengan manis dalam sudut pandang yang sangat berbeda dari film-film drama romantis pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan dan cinta. Itulah salah satu kekuatan karya Habiburrahman dalam film ini. Dengan ketulusan dan cinta yang apa adanya, disertai dengan keyakinan kuat dalam dirinya, film yang merajut dialog dan peristiwa, menjadi sedemikian indah, menarik, menyentuh hati, dan membawa penonton seolah-olah merasakan itu sebagai sesuatu yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini juga menuturkan secara jujur perasaan naluriah manusia kepada lawan jenisnya, kegundahgulanaan, keresahan, rindu, malu, dan perasaan-perasaan lainnya yang biasa dialami orang yang sedang jatuh cinta. Namun kemudian diolah secara apik dengan memberi solusi penyejuk jiwa tanpa memaksakan orang untuk membunuh rasa cinta tanpa toleransi. Perasaan cinta tersebut dibingkai dalam syari’at agama (Islam). &lt;br /&gt;Memang, Habiburrahman—dalam karya-karyanya—selalu menciptakan tokoh rekaan yang “selalu menjaga kesucian”, seperti Fahri (Ayat-Ayat Cinta), Zahid ( Di Atas Sajadah Cinta), Raihana (Pudarnya Pesona Cleopatra), Zahrana (Dalam Mihrab Cinta), dan Azzam (Ketika Cinta Bertasbih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Entrepreneurship&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika AAC mengeksplorasi kisah mahasiswa yang haus ilmu, KCB mengeksplorasi sosok mahasiswa berjiwa entrepreneur. Jiwa entrepreneurship memang kuat yang mewujud dalam tokoh utama, Azzam. Film KCB tidak hanya berkutat pada perjuangan "cinta", tetapi juga menggambarkan perjuangan manusia biasa yang gigih menggapai harapan dan cita-cita. Azzam memiliki cita-cita sederhana nan tinggi, yaitu ingin jadi orang terkaya se-Jawa. Dan itu diusahakannya menjadi entrepreneur, yaitu bisnis tempe dan bakso “cinta”-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tokoh Azzam, film ini berhasil meniupkan ruh entrepreneurship sejati. Ruh entrepreneurship sejati ini diantaranya: kreatif menciptakan dan mengemas ide baru untuk kemakmuran diri dan orang orang yang dicintainya, berani mengambil risiko, menyukai tantangan, memiliki daya tahan hidup yang luar biasa, pantang menyerah, selalu ingin menyuguhkan yang terbaik, serta memiliki visi yang jauh ke depan.&lt;br /&gt;Saat ini dunia sedang dilanda krisis global. Dan masa-masa krisis seperti ini mestinya membuat manusia menemukan kekuatan baru untuk bangkit yang akhirnya berhasil berdiri di tengah keterpurukan, dalam hal ini tumbuhnya jiwa wirausaha. Nah, jiwa entrepreneur Azzam patut ditiru setiap generasi muda kita. Semangatnya untuk hidup mandiri dan tanpa pamrih sangat mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pikir khalayak mahasiswa maupun lulusan mahasiswa selalu saja berputar pada bagaimana kelak mendapat pekerjaan yang nyaman, gaji terjamin, dan segala fasilitas yang sudah disediakan dari pemberi kerja. Sebaliknya, sangat jarang yang ingin menjadi wirausahawan, yakni dengan membuka pekerjaan di mana dapat membuka pula kesempatan kerja untuk orang lain. Dengan kata lain, mereka telah kehilangan semangat untuk menjadi wirausaha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film KCB mampu menyisipkan pesan-pesan entrepreneurship; seorang Azzam yang berbisnis Tempe dan Bakso. Semoga film ini bisa memberi inspirasi generasi muda Indonesia untuk jalan hidup yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk syuting di Mesir diharapkan dapat menjadi duta Indonesia dan dapat merekatkan hubungan bilateral kedua Negara — Indonesia dan Mesir.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-1449763973536907950?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/1449763973536907950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=1449763973536907950&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/1449763973536907950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/1449763973536907950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/06/spirit-ketika-cinta-bertasbih.html' title='Spirit Ketika Cinta Bertasbih'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/Sj2C233YrDI/AAAAAAAAAaY/b7Q7tnyrOmA/s72-c/posterkcb_11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4076725233385553441</id><published>2009-06-14T08:07:00.002+07:00</published><updated>2009-06-14T08:08:56.886+07:00</updated><title type='text'>Mengingat Mati Sejak Dini</title><content type='html'>Ingatkanlah kematian kita itu dari detik ke detik dan dari saat ke saat&lt;br /&gt;Justru Allah tidak janjikan kematian kita di waktu tua&lt;br /&gt;Begitu juga Allah tidak janjikan kematian kita disebabkan sakit&lt;br /&gt;Tidak pun sakit dapat mati juga&lt;br /&gt;Hal ini sepatutnya tidak perlu diberitahu&lt;br /&gt;Semua orang tahu, ini adalah pengalaman bersama&lt;br /&gt;Ada orang mati diwaktu kecil, ada orang mati muda, ada orang mati tua&lt;br /&gt;Ada orang mati tanpa sebab apa-apa&lt;br /&gt;Sedang santai diatas kursi tiba-tiba terlintuk saja&lt;br /&gt;Dilihat nafas sudah tiada&lt;br /&gt;Oleh itu janganlah senang hati dengan kematian&lt;br /&gt;Kematian sewaktu-waktu berlaku&lt;br /&gt;Kita tunggulah kematian itu dari nafas ke nafas&lt;br /&gt;Agar kita tidak ada angan-angan yang melalaikan&lt;br /&gt;Hendak membangun, membangunlah&lt;br /&gt;Tapi ingatlah waktu itu kita bisa mati&lt;br /&gt;Hendak maju, majulah tapi kematian bisa terjadi di waktu itu&lt;br /&gt;Hendak kejar kekayaan kejarlah&lt;br /&gt;Tidak salah selagi halal tapi ingatlah mati&lt;br /&gt;Ingatlah mati di dalam sembarang hal&lt;br /&gt;Agar kita tidak lalai, jiwa sentiasa takut dan gentar dengan Tuhan&lt;br /&gt;Bila jiwa takut dengan Tuhan&lt;br /&gt;Kita takut hendak membuat dosa di dalam sebarang hal&lt;br /&gt;--Abuya At Tamimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda di suatu malam saat hendak memejamkan mata menjelang tidur berpikir bagaimana anda bisa yakin besok pagi anda bangun dan diberi kesempatan untuk menjalani hidup? Sebagaimana disebutkan dalam puisi di atas bahwa kematian akan datang secara tiba-tiba. Kedatangannya boleh jadi hinggap kepada balita, anak kecil, remaja, dewasa, maupun usia tua renta. Atau pun saat manusia sedang melakukan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata mengingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar dalam memelihara iman. Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah SAW ke luar menuju masjid. Tiba-tiba beliau mendapati orang-orang yang sedang tertawa terbahak-bahak secara berlebihan. Maka beliau bersabda, ''Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, jika kamu tahu apa yang aku tahu, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.''&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengingat mati adalah hal sangat penting bagi manusia yang masih hidup, namun banyak yang tidak menyadari akan pentingnya mengingat mati. Kenapa kita harus mengingat kematian? Karena mati adalah sesuatu yang pasti akan datang, suka atau tidak suka, ia akan mendatangi kita. Namun, ada yang salah kaprah dalam mayarakat: Pertama, kesadaran akan kematian dipahami sebagai sikap anti-dunia yang menenggelamkan seseorang ke dalam kesibukan ritual keagamaan yang bisa menghambat kreativitas dan membuat orang malas bekerja. Kedua, kesadaran akan kematian hanya cocok untuk orang tua yang tidak kreatif  atau tidak produktif lagi. Akibat pandangan demikian, muncullah semboyan “muda foya-foya, hidup kaya raya, dan mati masuk surga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita mengambil pelajaran dari kematian orang-orang di sekitar kita, entah itu balita, anak-anak, remaja, maupun sudah dewasa? Itu memperlihatkan pada kita bahwa kematian benar-benar tidak pandang usia. Oleh karena itu, kita mesti mengubah persepsi kita tentang dua hal di atas, karena kekeliruan pandangan di atas jelas menghambat kesadaran kita tentang pentingnya mengingat kematian sejak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, dengan mengingat kematian sejak dini membuat kita bergerak secara dinamis untuk menghimpun bekal menuju kematian. Mengingat kematian justru akan menggugah kesadaran kita untuk bertobat, menegakkan kebenaran dan keadilan, serta menabur kebajikan di bumi sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak. Kematian menjadi pengingat kita agar kita tidak mudah terpeleset dalam keburukan sikap dan ketercelaan moral. Betapa banyak kesempatan bertobat kita miliki, tetapi kita sering kali lebih suka menundanya, hari demi hari, tahun demi tahun, dengan alasan klise: karena kita masih muda, masih punya kesempatan bertobat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengingat mati, ada dua hal yang ia ketahui pasti. Pertama, ia tidak akan terjebak pada hiruk pikuknya kehidupan dunia, ia tahu semua perhiasan dunia yang diraihnya hanyalah sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, sarana untuk memperbanyak amal saleh. Kedua, ia tidak akan mudah dihinggapi penyakit hati. Ia sadar bahwa bahwa semua karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia ini adalah amanah. Tidak ada gunanya iri dan dengki atas karunia yang diberikan Allah kepada orang lain, karena sesungguhnya semua itu pun amanah. Bahkan, ia bisa merasakan kebahagiaan manakala orang lain mendapatkan karunia serta berharap hal itu akan menjadi sarana kebaikan bagi orang yang menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh karunia dan amanah Allah SWT di dunia ini, baik berupa harta kekayaan, pangkat dan jabatan, maupun kemuliaan hidup di dunia, hanyalah episode dan peran yang dimainkan manusia untuk mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang sesungguhnya, yaitu di akhirat kelak. Karena itulah, semakin sering seseorang mengingat kematian, maka akan semakin mudah baginya untuk membersihkan penyakit hati. Mengingat matilah selalu mulai dari sekarang!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4076725233385553441?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4076725233385553441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4076725233385553441&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4076725233385553441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4076725233385553441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/06/mengingat-mati-sejak-dini.html' title='Mengingat Mati Sejak Dini'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7253584125433216292</id><published>2009-06-07T16:59:00.001+07:00</published><updated>2009-06-07T17:01:16.236+07:00</updated><title type='text'>Anda Ingin Dikenang Menjadi Apa?</title><content type='html'>Saya hendak mengajak anda untuk berimajinasi. Silakan anda membayangkan bahwa anda sedang pergi ke pemakaman orang yang anda kasihi. Gambarkan diri anda mengemudikan mobil menuju rumah duka, memarkir mobil, dan keluar. Ketika anda berjalan, anda melihat wajah-wajah teman dan keluarga yang anda lewati. Anda merasakan penderitaan bersama karena kehilangan, senang karena pernah kenal, yang memancar dari hati orang-orang yang ada di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara anda berjalan ke depan ruangan dan melihat ke dalam peti jenazah, anda tiba-tiba berhadapan muka dengan diri anda sendiri. Ya ternyata ini adalah pemakaman anda sendiri. Semua orang ini datang untuk menghormati anda, untuk mengekspresikan perasaan cinta dan penghargaan untuk hidup anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda mengambil tempat duduk dan menunggu upacara pelepasan dimulai, dan melihat daftar acara di tangan anda. Akan ada empat orang pembicara. Yang pertama berasal dari keluarga anda, keluarga dekat, dan juga kerabat. Pembicara kedua adalah salah seorang dari teman-teman anda, seseorang yang dapat memberikan pengertian tentang bagaimanakah anda sebagai pribadi. Pembicara ketiga berasal dari pekerjaan atau profesi anda. Dan yang keempat adalah dari organisasi masyarakat di mana anda terlibat di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang berpikirlah dalam-dalam. Apa yang anda ingin agar dikatakan oleh masing-masing pembicara ini tentang diri anda dan kehidupan anda? Suami, istri, ayah, atau ibu macam apa yang anda harapkan tercermin dari kata-kata mereka? Putra atau putri atau sepupu macam apa? Teman macam apa? Rekan sekerja  macam apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter apa yang anda ingin mereka lihat dalam diri anda? Apa kontribusi, prestasi yang anda ingin agar mereka ingat? Lihat dengan cermat orang-orang di sekeliling anda. Perbedaan apa yang anda ingin pernah anda buat dalam kehidupan mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi di atas memberikan kesadaran pada kita bahwa kematian kita (kelak) akan dikenang oleh siapa pun, yang pernah berinteraksi dengan kita baik secara langsung maupun tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat kita semua pasti akan mati. Nah, jika saat anda pun telah tiba untuk meninggalkan dunia ini, anda ingin dunia ini mengenang anda sebagai apa? Apa warisan terbesar dan terbaik yang akan anda tinggalkan? Seperti apa dan bagaimana anda ingin orang-orang mengenang dan mengingat anda? Ataukah anda memilih mati sendirian dan kesepian, tanpa seorang pun yang anda harap mengenang anda ketika masih hidup? Silakan anda jawab dalam hati anda.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yakin bahwa setiap dari kita pasti ingin dikenang sebagai orang baik. Kita ingin orang mengingat kebaikan kita saja. Kelak, dalam pelepasan kematian kita, mungkin anak kita, isteri atau suami kita yang akan berpidato, kita ingin  orang membicarakan kebaikan kita. Betul, semua orang ingin dikenang sebagai orang baik. Dalam lubuk hati yang paling dalam pasti ada kebaikan. Kendati seorang penjahat atau pembunuhpun pasti memiliki kerinduan yang terdalam akan kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam hidup yang sangat berharga ini, seorang manusia selayaknya memiliki nilai yang lebih tinggi dari segala makhluk di dunia ini. Ya, gajah saja kalau mati meninggalkan gadingnya, suatu komoditi yang bernilai tinggi dan semua orang yang memanfaatkannya akan mengetahui dan  mengenang" si gajah tersebut. Akankah cerita seorang anak manusia, yang lahir dan setelah mati pada usia senja, akan dikenang oleh generasi berikutnya? Atau hanya dikenal sampai ke tingkat cucu-nya. Pepatah mengatakan, "Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama". Menurut saya, apa artinya sebuah “nama”, bila nama tersebut tidak meninggalkan suatu yang bermakna dan bermanfaat bagi generasi berikutnya dan merupakan "bukti" bahwa dia pernah hadir di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita tanam suatu saat akan kita petik buahnya. Kita dikenang sesuai apa yang kita perbuat semasa kita hidup. Kita harus belajar dari kehidupan ini bahwa kita suatu saat bakal dikenal berdasarkan apa yang kita perbuat sebelumnya, baik ataupun buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap bagian dari kehidupan kita—perilaku hari ini, perilaku esok, perilaku minggu depan, perilaku perilaku bulan depan—dapat diuji dalam konteks keseluruhan, dari apa yang benar-benar paling penting bagi anda. Dengan mengusahakan titik akhir, yaitu kelak akan dikenang seperti apa diri kita, tetap jelas dalam pikiran, anda dapat memastikan bahwa apa pun yang anda definisikan sebagai yang paling penting, dan bahwa tiap hari dari kehidupan anda menunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada tujuan akhir bahwa kita akan mati dan dikenang orang lain berarti memulai dengan pengertian yang jelas tentang tujuan anda. Hal ini berarti mengetahui kemana anda akan pergi sehingga anda sebaiknya mengerti dimana anda berada sekarang dan dengan begitu anda tahu bahwa langkah-langkah yang anda ambil selalu berada pada arah yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sering mendapatkan diri mereka mencapai kemenangan yang hampa, keberhasilan yang diperoleh dengan mengorbankan hal-hal yang tiba-tiba mereka sadari jauh lebih berharga bagi mereka. Orang-orang dari pelbagai bidang kehidupan--dokter, akademisi, aktor, politikus, professional bisnis, atlet, tukang ledeng, dan lain-lain—sering berjuang untuk mencapai penghasilan yang lebih tinggi, pengakuan yang lebih besar atau tingkat kecakapan profesional tertentu, hanya untuk membutakan mereka terhadap hal-hal yang sebenarnya paling penting dan malah sekarang sudah hilang. Bahkan, tak jarang seringkali orang melakukan hal-hal yang tidak terpuji demi ambisinya, sering bermusuhan dengan keluarga maupun orang lain, melakukan korupsi, sogok-menyogok, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa berbedanya kehidupan kita jika kita benar-benar mengetahui apa yang penting secara mendalam bagi kita, dan dengan gambaran tersebut di benak, kita mengelola diri kita sendiri tiap hari untuk menjadi dan untuk mengerjakan apa yang benar-benar paling penting dan baik. Jika tangga tersebut tidak bersandar pada dinding yang benar, setiap langkah yang kita ambil hanya membawa kita ke tempat yang salah dengan lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda memikirkan dengan cermat apa yang anda ingin agar dikatakan tentang diri anda pada pemakaman anda, definisi anda tentang keberhasilan akan tampak jelas. Ini mungkin sangat berbeda dengan definisi yang anda kira anda miliki dalam pikiran anda. Barangkali kemasyhuran, prestasi, uang, atau beberapa hal lain yang kita perjuangkan bahkan bukan merupakan bagian dari dinding yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda memulai dengan merujuk pada tujuan akhir, anda memperoleh perspektif yang berbeda. Untuk, mari kita membayangkan di saat pemakaman kita, demi hidup kita saat ini menjadi lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7253584125433216292?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7253584125433216292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7253584125433216292&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7253584125433216292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7253584125433216292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/06/anda-ingin-dikenang-menjadi-apa.html' title='Anda Ingin Dikenang Menjadi Apa?'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8645102976248910086</id><published>2009-05-31T09:57:00.001+07:00</published><updated>2009-05-31T09:59:43.513+07:00</updated><title type='text'>Mudik Ke Kampung Akhirat</title><content type='html'>Setiap menjelang Idul Fitri, kota-kota besar di Indonesia, terutama kota Jakarta, nampak lengang. Jama’ah di masjid dan musholla mulai berkurang. Jika minggu pertama, masjid-masjid sesak dipenuhi jamaah sholat tarawih maka di penghujung bulan Ramadhan hanya tersisa sekitar satu shaf atau kurang dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkecuali pula di masjid Safinaturrahmah, Sapen, Yogyakarta, tempat biasa saya shalat. Mulai satu minggu sebelum lebaran, jamaah mesjid tersebut sudah banyak berkurang. Maklum, biasanya, para mahasiswa, kemudian disusul para pekerja dan pengusaha mulai libur dan cuti kerja, dan mudik ke kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halaman. Mudik bisa berarti pula kembali ke akar kebudayaan kita, ke tempat dimana kita dilahirkan, di daerah yang menjadi asal muasal keluarga besar. Pada hari raya Idul Fitri, nuansa mudik sudah sangat terasa kental. Persiapan-persiapan bahkan sudah dilakukan dari jauh-jauh hari. Pemesanan tiket bahkan sudah dilakukan dari beberapa bulan sebelumnya, menghindari kenaikan harga yang berlebihan. Pembelian oleh-oleh untuk sanak kerabat di kampung halaman pun dipersiapkan dengan rapi dan apik. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota perantauan yang dulunya tidak pernah berhenti beraktivitas, megah, selalu gemerlap siang dan malam, akan menjadi sepi dan lengang, ditinggal para penghuni yang biasa mengisi keramaiannya. Susah payah kondisi perjalanan tidak menghalangi niatan untuk pulang ke kampung halaman; letih, lelah, dan tenaga yang terkurang, direlakan; membengkaknya biaya perjalanan dan biaya yang dihabiskan, memang sudah diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya. Bagi sebagian orang, mereka bahkan rela mengirit pengeluaran sehari-hari, agar dapat menabung guna memenuhi biaya perjalanan beserta segala pernak-pernik perjalanan mudiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi mudik di Indonesia adalah urusan yang sangat besar dan sangat menyibukkan. Tidak tanggung-tanggung pemerintah harus menyiapkan dan menjamin kelancaran arus mudik lebaran, dari tentang armada atau angkutan lebaran sampai ke urusan stabilitas sembako. Begitupun para media televisi tidak ketinggalan tiap waktu menyiarkan arus mudik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi mudik pada Idul Fitri pada dasarnya mengandung nilai positif. Karena di sinilah kita bisa berkunjung dan menyambung silaturrahmi dengan orangtua, sanak saudara, kerabat dan handai taulan di kampung halaman. Mereka saling mengunjungi dan bermaaf-maafan. Bisa kita bayangkan apabila tidak ada lebaran dan tradisi mudik, berapa banyak orang yang kehilangan sanak keluarga karena tidak pernah bertemu dan saling silaturrahmi. Walau begitu, silaturrahmi dan saling memaafkan tidak harus dilakukan di Hari Raya saja, tapi di hari-hari lainpun bisa dilakukan. Yang perlu diingat ketika mudik adalah persiapan bekal. Supaya lancar sampai tujuan maka bekal tersebut perlu disiapkan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, dapatkah kita mengambil pelajaran dari peristiwa mudik di hari raya Idul Fitri tersebut yang sebagian besar masyarakat kita melakukannya setiap tahun? Bicara tentang mudik, kita teringat dengan peristiwa mudik yang akan dialami oleh setiap orang. Setiap orang pasti akan mengalami mudik yang seperti ini bahkan banyak dari kita telah mudik mendahului kita. Mudik yang mau tak mau harus kita lakukan. Tidak peduli kita kaya atau miskin, dan baik terpaksa maupun tidak. Tak lain, mudik tersebut adalah mudik ke kampung akhirat, kampung halaman abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik ini adalah mudik yang tidak pernah kembali lagi ke perantauan (dunia), karena di sanalah tempat abadi kita. Untuk menuju ke sana hanya ada satu kendaraan, yaitu kematian. Kematian akan menjemput kita. Itulah mudik yang sebenarnya. Akhirat adalah kampung dengan satu pintu, sekali kita melewatinya, maka sudah pasti dan tidak akan mungkin kita bisa kembali lagi ke dunia. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah, “Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang gaib serta yang nyata.” (QS. Al-Jumu'ah:8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak firman-Nya, Allah selalu mengingatkan kita pada konteks mudik ini. Misalnya, "Kemudian, kepada-Kulah tempat kalian semua pulang" (Tsumma Ilayya Marji'ukum). Maka, tradisi mudik yang hingga kini tak pernah tersentuh dan terpengaruh sedikit pun oleh krisis macam apa pun, termasuk krisis yang tiada henti mendera bangsa ini, sebenarnya menjadi prosesi panjang perjalanan anak manusia menuju Tuhannya. Macam-macam cara ditempuh orang untuk menyiapkan kepulangannya. Pulang ke kampung halaman di dunia ini atau ke kampung halamannya di akhirat kelak. Dua tujuan tersebut, meski sama-sama memiliki perspektif yang berbeda tetapi sungguh sama-sama membutuhkan persiapan, minimal bekal untuk dibawa pulang. Bekal untuk keperluan diri sendiri, atau bekal yang akan kita persembahkan kepada saudara-saudara yang tinggal di kampung. Lantas siapa keluarga kita di akhirat? Mudik ke kampung akhirat, tentu tujuannya cuma satu, "bertemu" dengan Allah SWT (Liqaa'a Robbihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik ke kampung halaman menjelang Idul Fitri, sesungguhnya merupakan latihan yang nyata menjelang kepulangan kita selama-selamanya ke pangkuan Ilahi. Tanpa kita sadar, selama sebelas bulan lamanya, berbagai persiapan kita lakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang akan kita bawa pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah selalu mengingatkan kita agar jangan sampai menyesal ketika kematian datang dan kita masih belum punya bekal yang dibawa yang dapat menyelamatkan kita di alam kubur dan alam akhirat kelak. Sebagaimana orang-orang yang menyesal karena saat kematian tiba bekal yang dibawanya merasa tidak cukup dan merengek kepada Allah supaya jangan dulu dimatikan terlebih dahulu, atau kalau pun sudah dimatikan ingin dikembalikan lagi ke dunia. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’" (QS.: Al-Munafiqun [63]:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, sudah seberapa baik perbekalan yang telah kita persiapkan? Bahkan, sudah sampai seberapa siap diri kita untuk menghadapi perjalanan panjang? Imam Ali bin Abi Thalib, pernah berkata, “Sesungguhnya kita berada pada hari dimana hanya ada amal tanpa ada perhitungan, dan sesungguhnya kita menuju hari dimana hanya ada perhitungan tanpa ada amal”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jadikan setiap detik dalam hidup kita ini menjadi hari-hari pengumpulan bekal mudik ke kampung akhirat kita, dan tidak cukup sampai di situ, jadikan seluruh sisa usia kita, menjadi ajang persiapan mudik ke kampung akhirat, baik dengan beribadah secara vertikal maupun transendental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jadikan dunia ini sebagai ladang untuk mengumpulkan perbekalan mudik kita ke kampung akhirat. Semoga bekal kita mencukupi sehingga kita mendapatkan tempat yang terbaik di akhirat kelak. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8645102976248910086?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8645102976248910086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8645102976248910086&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8645102976248910086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8645102976248910086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/05/mudik-ke-kampung-akhirat.html' title='Mudik Ke Kampung Akhirat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2553057760456355119</id><published>2009-05-24T08:10:00.001+07:00</published><updated>2009-05-24T08:12:37.148+07:00</updated><title type='text'>Hidup Penuh Makna</title><content type='html'>Saat matahari terbit dan ayam berkokok, hal itu menandakan bahwa pagi telah tiba. Seketika waktu itupun menjadi tanda kita untuk bersiap melakukan aktivitas, sesuai dengan pekerjaannya masing-masing. Entah sebagai karyawan, pelajar, seorang profesional, dan lain-lain. Masing-masing dari kita sama-sama memulai hari yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa siang telah datang. Waktunya istirahat dan makan siang. Setelah itu, pekerjaan terus dilanjutkan kembali. Jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja, hingga matahari mulai redup di sebelah barat. Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Rasa lelah telah hinggap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang di rumah sudah malam. Makan malam, nonton televisi, dan tidur. Seperti itulah kehidupan dijalankan sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan. Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama. Sampai akhirnya maut menjemput. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang itu adalah kehidupan, tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas. Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan. Kehidupan bukanlah sekadar rutinitas. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani. Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda? Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda? Akankah sisa waktu anda sebelum ajal menjemput hanya anda korbankan untuk sebuah rutinitas belaka? Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi. Hanya Tuhanlah yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah di sekeliling kita, ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan yang lainnya. Bersyukurlah pada-Nya setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi bermakna, agar hidup anda tidak sia-sia. Jika saat anda mati, anda akan dikenang oleh siapa saja atas kebaikan anda, dan tentu saja Tuhan akan membalas pula kebaikan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: Anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. &lt;br /&gt;Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi. Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan kata lain, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya—yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-2553057760456355119?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/2553057760456355119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=2553057760456355119&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2553057760456355119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2553057760456355119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/05/hidup-penuh-makna.html' title='Hidup Penuh Makna'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5356882291905823374</id><published>2009-05-17T07:42:00.001+07:00</published><updated>2009-05-17T07:44:01.597+07:00</updated><title type='text'>Ketika Hidup Anda Tinggal Menghitung Hari</title><content type='html'>Dua orang peneliti asal Texas, Kerry dan Chris Shook, menulis sebuah buku berjudul One Month to Live: Thirty Days to a No-Regrets Life. Buku tersebut menantang pembaca untuk mencari sebuah jawaban, ‘apa yang ingin anda benar-benar lakukan jika sisa umur anda tinggal 30 hari lagi, atau bahkan kurang dari itu?’ Sebagaimana diakui oleh keduanya, bahwa buku tersebut terinspirasi dari perhatian mereka atas kehidupan banyak orang yang menjalani hari-hari terakhir dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman mereka, akhirnya mereka menyadari bahwa banyak orang mengalami perubahan yang sangat besar ketika menyadari sisa hidupnya tidak lama lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan keduanya, ketika saat manusia divonis hidupnya hanya tinggal beberapa bulan, atau beberapa hari, membuat manusia menjadi “kreatif”. Mereka benar-benar ingin melakukan berbagai hal yang selama ini mereka ingin tapi tidak lakukan. Mereka lebih mudah memaafkan dan meminta maaf kepada orang lain. Mereka lebih berani mengambil resiko. Mereka menjadi semakin jelas dalam membuat prioritas kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan di atas menampakkan beberapa pertanyaan penting bagi kita, apakah kita harus menunggu divonis mati terlebih dahulu untuk melakukan seperti yang dilakukan mereka di atas? Mengapa kita harus menunggu hingga semua telah terlambat? Mengapa kita tidak bisa hidup seperti di atas sepanjang umur kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, disadari atau tidak, menurut saya metode “memvonis mati” kepada diri sendiri adalah sebuah cara lain agar hidup kita bermakna. Karena dengan begitu, kita selalu disadarkan bahwa hidup kita di dunia ini cuma sebentar lagi, dan mendorong kita untuk melakukan yang terbaik. Mengingat akan kematian diri sendiri adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari jebakan berpikir bahwa anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve Job, pendiri Apple dan Pixar, pun mengakui bahwa salah satu keberhasilannya dalam karir hidupnya adalah dengan menggunakan metode di atas. Ketika dirinya berumur 17, dia membaca ungkapan yang kurang lebih&lt;br /&gt;berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri Job, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, dia selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, dia tahu bahwa dia harus berubah. Mengingat bahwa dia akan segera mati adalah kiat penting yang dia  temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidupnya, Steve Job pernah didiagnosis mengidap kanker. Dia memiliki tumor pankreas. Para dokter mengatakan kepadanya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup Steve Job tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan Job pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya. Pernyataan dokter merupakan sinyal agar Job bersiap-siap menghadapi maut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pemeriksaan, para dokter memasukkan endoskopi ke tenggorokannya, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreasnya dan mengambil beberapa sel tumor. Job dibius. Istrinya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Lalu Job dioperasi dan sehat. Itu adalah rekor terdekat dirinya dengan kematian. Namun kejadian itu, justru yang diharapkan Job, walau bukan dalam arti sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui pengalaman tersebut, dia menyimpulkan bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna. Kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. “Kematian membuat hidup berputar. Dengannya, maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain…Jangan pernah puas. Selalulah merasa bodoh.” Itulah pesan Steve Job bagi siapa saja yang ingin maju dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hendak kembali kepada Kerry dan Chris Shook. Dalam bukunya, mereka memberikan jawaban atas pertanyaan, "Jika sisa hidup anda tinggal 30 hari lagi, bagaimana cara anda menjalaninya supaya tidak akan pernah ada penyesalan?" Ada empat jawaban yang diberikan mereka, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Live Passionately. Hal ini mengajak pembaca untuk berhenti hidup dengan "Someday Syndrome" (sindrom yang selalu berkata, ‘saya akan melakukannya suatu hari nanti’) dan mulai menjalani kehidupan mereka dengan sebuah tujuan yang telah Tuhan tetapkan dalam hidup mereka. Jangan mengatakan, jika nanti kami sudah mapan kami akan lakukan ini dan itu, karena kita tidak pernah mencapai titik kemapanan. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan di hari ini, bukan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Love Completely. Hal ini meminta setiap orang fokus dalam hubungan dengan sesama. Banyak orang pada akhir hidupnya mengalami penyesalan yang terbesar dalam hal hubungan dengan sesama. Kerry menjelaskan, bahwa mengasihi dengan sepenuhnya artinya jangan sampai tidak pernah menyatakan kasih anda. Ekpresikan kasih anda hari ini. Kalau perlu tulis surat ucapan terima kasih pada seseorang hari ini. Lakukan apa yang harus anda lakukan pada orang-orang yang anda kasihi hari ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Learn Hubly. Di sini dibicarakan tentang karakter kerendahan hati yang  merupakan kunci untuk mengalami kesembuhan dari kepahitan. Selain itu, kerendahan hati juga membawa mereka mempelajari menggunakan talenta yang Tuhan percayakan dalam hidupnya untuk dapat digunakan dengan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Leave Boldly, Kerry menyemangati pembaca untuk menjalani kehidupan ini sebaik mungkin, sehingga ketika mereka meninggalkan kehidupan ini ada suatu warisan yang berarti bagi penerus mereka. Warisan di sini bukanlah sebuah bisnis yang besar, rumah atau materi, karena semua itu dapat hilang dengan cepat. Warisan yang ditekankan di sini adalah tentang iman, pengharapan kasih, dan semangat mereka yang akan selalu diingat oleh penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat kiat di atas sungguh bermakna universal yang dapat diamalkan oleh siapa pun. Mudah-mudahan keempat kiat itu, jika kita melakukaannya, kita tidak merugi dalam hidup kita jika tiba-tiba saja kita dijemput maut. Tiada seorangpun yang tahu pasti kapan kita akan mati. Untuk itu, sangat penting untuk membuat prioritas kehidupan ini seolah-olah itu esok hari. Sungguh, waktu kehidupan kita saat di sini sangat berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip kata-kata mendiang Randy Pausch, yang mati mengidap kanker. "kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5356882291905823374?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5356882291905823374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5356882291905823374&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5356882291905823374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5356882291905823374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/05/ketika-hidup-anda-tinggal-menghitung.html' title='Ketika Hidup Anda Tinggal Menghitung Hari'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4467288383835818807</id><published>2009-05-10T07:48:00.003+07:00</published><updated>2009-06-21T16:20:30.626+07:00</updated><title type='text'>Ketika Jepang Menginspirasi Novelis Barat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, Sabtu 20 Juni 2009 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SgYlL8GxMiI/AAAAAAAAAYo/zRqyc0nq0DE/s1600-h/cover_dragon+scrool.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 175px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SgYlL8GxMiI/AAAAAAAAAYo/zRqyc0nq0DE/s320/cover_dragon+scrool.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333991695710237218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku  : The Dragon Scroll&lt;br /&gt;Penulis  : I.J. Parker&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Kantera&lt;br /&gt;Cetakan  : I, Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal  : 484 hlm&lt;br /&gt;-------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I.J. Parker, &lt;/span&gt;penulis novel The Dragon Scroll ini menekuni sejarah Jepang masa pertengahan dan menulis kisah-kisah misteri. Pada 1997 cerpennya dengan tokoh Sugawara Akitada—seorang pegawai rendahan kementerian kehakiman Kyoto abad kesebelas yang melakukan penyelidikan terhadap kejahatan—membuat karyanya muncul dalam majalah misteri Alfred Hithcock. Pada tahun 2000, Parker menerima Private Eye Writer of American Shamus Award untuk kategori cerita pendek misteri terbaik. Dan dua novelnya, Rashomon Gate (2002) dan the Hell Screen (2003) mendapatkan penghargaan dari St. Martin Monotaur. Kelahiran Jerman ini amat mumpuni tentang sejarah dan budaya Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel The Dragon Scroll secara kronologis merupakan novel ketiga dari seri-seri karyanya dan menceritakan kembali permulaan karir tokoh utama Sugawara Akitada yang berlatar Periode Heian Jepang (794-1185). Novel ini bertutur tentang Sugawara Akitada yang diutus ke Kisarazu di propinsi Kazusa guna menyelidiki hilangnya pengiriman pajak selama tiga tahun berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, Parker menciptakan narasi yang sangat cepat dan menggairahkan, sesuatu yang menarik perhatian pembaca baik dalam aksi dan penyampaian kultur serta tradisi abad kesebelas. Aksi datang pertama kali melalui latar belakang budaya Jepang yang mengagumkan yang menambah kegairahan membaca. Dalam dua puluh halaman pertama, pembaca disuguhi tentang pembunuhan seorang wanita. Selanjutnya meloncat pada usaha perampokan terhadap Akitada, pertarungan hidup mati dengan para perampok di jalan, kemudian usaha pemerkosaan terhadap gadis tunarungu oleh beberapa oknum biksu budha, dan serangan kekerasan terhadap orang-orang Akitada oleh artis seni bela diri wanita yang memiliki kemampuan hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini merupakan novel terbaru Parker, setelah The Rashomon dan The Hell Screen, yang sama-sama mempunyai kisah misteri dan detektif. Di sini, Akitada adalah seorang sarjana muda yang bertemu Tora—yang menjadi tokoh dalam kedua buku sebelumnya—untuk pertama kalinya. Kemampuan Tora dalam menggunakan tongkat dan  kecepatan melompat dalam setiap aksinya, tidak diragukan lagi, telah menyelamatkan Akitada dan Seimei dari para penjahat yang kejam. Hanya saja reputasinya sebagai “Bandit Jangkung Berkaki Tujuh”, menyebabkan Seimei, sang pembantu Akitada gelisah. Seimei merasa dia bukanlah orang yang dapat dipercaya, ibaratnya ‘seekor burung Elang tidak bisa menjadi burung Bulbul.”       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tokoh kunci, selain Akitada, Tora dan Seimei, yang berperan dalam novel ini, yaitu, The Rat seorang pengemis yang memiliki banyak informasi; Higekuro, seorang anggota bangsawan yang merangkap menjadi pimpinan sekolah seni beladiri; dan Otomi, artis tunarungu yang sketsa-sketsanya tentang sebuah biara menjadi kunci penting dalam penyelidikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, dengan ditemani pelayannya, Seimei, Akitada diserang oleh para perampok. Namun untung saja diselamatkan oleh Tora, seorang pembelot militer yang gagah berani, di mana kemudian  diangkat menjadi seorang ajudannya. Perjalanan melalui daerah pedalaman yang dingin dengan menunggang kuda, Akitada dijamin oleh keduanya kalau sewaktu-waktu ia melihat hal yang tidak menyenangkan dari protokol pegawai lainnya. Seimei sering berbicara kepada Akitada dalam aforisme adat tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal kedatangannya di Kazusa, Akitada berspekulasi menjadikan gubernur Motosuke sebagai tersangka utama. Namun kecurigaan Akitada terhadap sang gubernur sulit dibuktikan. Bahkan Akitada dan pelayannya, Seimei, tercengang dengan efisiensi kerja para staf dan kerapian berkas-berkasnya. Alih-alih berhasil meringkus penjahat Negara, Akitada merasa misinya hanya akan berakhir sia-sia. Karena rumor yang beredar bahwa sudah lama pemerintah ingin kasus ini dilupakan. Kegelisahan Akitada untuk tetap menegakkan hukum semakin mendorongnya berfikir keras, menemukan dalang di balik kejahatan ini. Orang-orang lain yang patut dicurigai dan mulai dijadikan modus operandinya adalah Residen Ikeda, Kapten Yukinari—sang kepala Garnisun, Lord Tachibana—mantan Gubernur—beserta Lady Tachibana (istri mudanya yang cantik mempesona) serta master Joto, sang kepala biara Empat Wajah Kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Masalah semakin pelik ketika terjadi pembunuhan berantai. Mantan gubernur Lord Tachibana ditemukan tewas di ruang kerjanya saat Akitada mengunjunginya. Lalu seorang pelacur dibunuh dengan cara mengerikan. Begitu pula pembantaian yang terjadi  di rumah Higekuro, pemilik perguruan bela diri bojutsu. Dan usaha pemerkosaan terhadap putrinya—gadis tunarungu—oleh beberapa rahib pengkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa motif di balik pembunuhan sang mantan gubernur? Firasat Akitada mengatakan bahwa aksi tersebut ada hubungannya dengan kasus perampokan pajak. Istri mantan gubernur pun ditengarai memiliki skandal dengan Kapten Yukinari dan Residen Ikeda. Kisah ini kemudian berkembang menjadi sebuah konspirasi yang juga melibatkan kepala biara Empat Wajah Kebijaksanaan. Hal itu berdasarkan fakta pembangunan biara yang meningkat drastis. Namun pada akhirnya Akitada memperoleh titik terang setelah ditemukannya sebuah sketsa lukisan Badai Naga karya Otomi, putri Higekuro. Sketsa itulah yang menjadi kunci penting dalam penyelidikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani Tora dan Ayako—gadis pesumo yang membuat Akitada jatuh cinta—Akitada menyusup ke dalam Biara Empat Wajah Kebijaksanaan dan menemukan bukti kebengalan para rahib. Kala segalanya terbuka, bentrokan pun tak terelakkan. Dalam satu adegan klimaks, yang terjadi pada sebuah perayaan biara yang besar, ketegangan mencapai puncaknya. Akitada dan kelompoknya berhasil membongkar monster jahat yang terselubung di balik kedok sang rahib suci. Misteri sekeping bunga biru pun menyingkap pembunuhan wanita bangsawan, Lady Asagao, selir kesayangan Kaisar. Tapi yang lebih buruk, upaya penyelidikan dan pengungkapan yang dilakukan Akitada malah mengancam hubungan cinta dan kariernya. Sungguh, sebuah ending yang mengharukan. Akitada sangat shock karena mendapati sang menteri, atasannya, naik pitam mendengar kabar keberhasilannya. Akibatnya mimpi dan cita-cita Akitada kandas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seluruh novel ini, Parker tetap setia dengan budaya dan sejarah Jepang abad kesebelas. Informasi yang mengagumkan tentang stratifikasi budaya dan pemisahan antara bangsawan dan orang biasa, mengenai ketegangan antara agama Budha dan Santo, dan mengenai operasi pemerintah, semuanya dimasukkan dengan sangat natural dalam misteri tersebut. Parker sangat cermat menciptakan karakter-karakter yang seakan-akan hidup dan memberikan pembacanya untuk beridentifikasi dengan mereka, meskipun ada jarak seratus tahun antara aksi tersebut dengan kehidupan dan masa dari pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parker seringkali menghadirkan adegan-adegan yang berisikan ironi. Dan misteri tersebut secara bertahap berkembang dari awal yang agak sederhana menjadi suatu kesimpulan liar yang secara bersama-sama mengikat tiap detail pada saat yang bersamaan, sehingga hal itu memerlukan perhatian secara cermat. Sebuah seri baru yang pantas mendapatkan banyak pembaca baru. Misteri-misteri Akitado Sugiwara amat mengagumkan dan tampil beda! Kepedulian Parker atas kedetailannya benar-benar tanpa cacat dan kemampuannya untuk melibatkan pembacanya dalam peristiwa-peristiwa yang berasal dari seratus tahun yang lalu di negara asing sungguh menarik perhatian.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Staf Pengajar STIS Magelang, penikmat sastra&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4467288383835818807?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4467288383835818807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4467288383835818807&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4467288383835818807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4467288383835818807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/05/ketika-jepang-menginspirasi-novelis.html' title='Ketika Jepang Menginspirasi Novelis Barat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SgYlL8GxMiI/AAAAAAAAAYo/zRqyc0nq0DE/s72-c/cover_dragon+scrool.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2512668721418766432</id><published>2009-05-05T08:56:00.001+07:00</published><updated>2009-05-05T09:01:06.375+07:00</updated><title type='text'>Kematian Tak Diduga, Namun Memberi Isyarat</title><content type='html'>Andy baru saja meninggalkan rumah ketika terdengar jeritan ibunya. Dengan bergegas dia masuk kembali. Saat itulah dia melihat ayahnya sudah tertelungkup di lantai. Badannya lunglai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dia mengangkat dan memangkunya dalam pelukan, mata Ayahnya menatap Andy dalam sekali. Mulutnya berusaha mengeluarkan kata-kata, namun gagal. Tangan Andy digenggamnya kuat-kuat sebelum akhirnya melemah dan terdiam. Ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit yang lalu Andy masih berdialog dengan ayahnya. Bahkan sedikit bersitegang. Gara-gara ayahnya melarang dia untuk melihat pertandingan tinju di Gelanggang Olahraga Cenderawasih, Jayapura. Ayahnya meminta dia tetap di rumah ‘untuk menjaga ibu’. Permintaan yang aneh. Selama ini Andy selalu bebas menentukan kemana pun pergi. Ayahnya termasuk orangtua yang menyenangkan, yang tidak ‘neko-neko’. Karena itu larangannya sungguh mengejutkan baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu, yang melihat kekecewaan Andy, mencoba membantu Andy dengan membujuk ayahnya. Terjadi perdebatan sebentar sebelum akhirnya ayahnya mengalah dan mengijinkan Andy melangkah meninggalkan rumah. Ayahnya hanya berpesan agar setelah pertandingan usai dia segera pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, baru beberapa langkah, terdengar jeritan ibunya. Ayahnya ambruk. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, di dalam taksi, Andy menyadari ayahnya telah tiada. Denyut nadinya datar. Jantungnya tidak lagi berdegup. Ayahnya telah pergi untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menguruk tanah ke liang lahat, perasaan Andy disesaki rasa penyesalan yang sangat dalam. Kalau saja jarum jam bisa diputar ulang, malam itu Andy ingin menyenangkan hati ayahnya. Andy tidak akan bersikeras pergi ke pertandingan tinju. Tiket pertandingan tinju tidak lagi punya arti berbanding permintaan ayahnya sebelum kematian menjemput. Andy ingin menghantarkan ayahnya berpulang dalam damai. Bukan dengan suasana hati yang galau. Namun apa mau dikata. Kematian datang dengan caranya sendiri. Tidak mengenal waktu dan tempat. Kematian ayahnya begitu mendadak. Andy merasa tidak siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kisah kematian ayah Andy F. Noya, pemandu acara Kick Andy di Metro TV. Dia merasa sedih karena tidak menyenangkan ayahnya saat ayahnya dijemput maut. Kematian ayahnya sangat tiba-tiba.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat yang bertugas mencabut nyawa memang tidak pernah ber-‘assalaamu’alaikum’ atau ber-‘kulonuwun’ (permisi) pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Janji Allah tertulis jelas, bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang akan datang pada tiap-tiap jiwa. Tetapi kapan waktunya, cukuplah ia menjadi rahasia-Nya, ”Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Q.S. Luqman : 34). &lt;br /&gt;Kematian datang secara tiba-tiba namun walau begitu kadang memberikan aba-aba atau isyarat terlebih dahulu. Tanpa meminta ijin kepada siapa pun kapan ia akan datang. &lt;br /&gt;Dia akan datang kepada siapa saja yang dikehendaki dan sudah ditentukan hari kepastiannya. Isyarat kematian kadang kala amat sulit kita pahami, dan barangkali biasa-biasa saja, walau dalam hati kita merasa ada sesuatu yang aneh. Itulah yang dialami Andy F. Noya, yang kematian ayahnya tiba-tiba itu, tidak merasakan sesuatu, hanya saja ayahnya untuk menyarankan Andy untuk tidak kemana-mana, disuruh menjaga ibunya. Ayahnya meminta dia tetap di rumah ‘untuk menjaga ibu’. Bagi Andy, itu adalah permintaan yang aneh. Sebelumnya Andy selalu bebas menentukan ke manapun pergi dan ayahnya pun tidak pernah melarang kemana pun ia pergi. Itulah isyarat yang diberikan Tuhan untuk Andy bahwa ayahnya akan dijemput maut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga dialami oleh Widyawati, istri Sophan Sophiaan. Bahwa kematian telah lama mendekati suaminya, memberi isyarat kepadanya. Isyarat itu, berupa sikap tak biasa Sophan. Selama konvoi, misalnya, Widya merasa Sophan tambah mesra, acap menatapnya dan memeluk erat. Di Rembang, isyarat itu lebih kuat terasa. Sophan memintanya mengenang saat pertama berjumpa, dalam film Pengantin Remadja. Sophan tak hanya menyanyikan soundtrack film itu, tapi juga membacakan surat cinta. “Juli sayang, suatu saat kita akan berjumpa lagi”. Itulah isyarat, dan Widya tak menyadarinya. Isyarat itu juga datang dari alam. Sepanjang Jakarta-Tuban, dalam konvoi berboncengan, Widyawati selalu melihat sepasang burung terbang di depan mereka. Hanya dia yang melihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas memberi isyarat pada kita bahwa kematian bukanlah sesuatu yang jauh. Dia dekat dan datang secara tiba-tiba. Namun kedatangannya dapat diamati, dicatat, jika kita cermat menangkap isyarat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menentukan kematian dengan cara apa pun. Salah satunya, kedatangannya sangat tiba-tiba. Jalan menuju kematian sangat banyak jalurnya, ada yang diuji dengan sakit dahulu, kecelakan atau diambil secara tiba-tiba. Bisa jadi kelak kita akan menempuh salah satu jalan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan banyak cerita tentang meninggalnya orang-orang di sekeliling kita, kita semakin bijak dalam mempersiapkan kematian yang akan datang pada giliran kita. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-2512668721418766432?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/2512668721418766432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=2512668721418766432&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2512668721418766432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/2512668721418766432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/05/kematian-tak-diduga-namun-memberi.html' title='Kematian Tak Diduga, Namun Memberi Isyarat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3910754455410599021</id><published>2009-04-28T05:26:00.003+07:00</published><updated>2009-05-23T08:39:48.500+07:00</updated><title type='text'>Belajar Pada Klub Sepakbola Eropa</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Resensi dimuat di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt;, 23 Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SfYxzOr5SwI/AAAAAAAAAXw/Ea3VpniVrIo/s1600-h/cover_Raksasa+Klub+Bola+Eropa.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SfYxzOr5SwI/AAAAAAAAAXw/Ea3VpniVrIo/s320/cover_Raksasa+Klub+Bola+Eropa.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329501965224856322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Raksasa Klub Bola Eropa&lt;br /&gt;Penulis: Zaidan Almahdi&lt;br /&gt;Penerbit: Harmoni&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2008&lt;br /&gt;Tebal: 215 hlm.&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kini, Liga Champions Eropa &lt;/span&gt;sudah memasuki semi final. Anehnya, dari tahun ke tahun hanya klub-klub itu saja yang menjadi langganan perdelapan final hingga final, seperti Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, AC Milan, Juventus, dan Bayern Munchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar bagi sebagian orang mengapa tim-tim di atas tersebut selalu mendominasi babak-babak akhir Liga Champions? Apa sesungguhnya rahasianya?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini terdapat jawaban atas pertanyaan di atas. Zaidan Almahdi, penulis buku ini, mengungkapkan bahwa salah satu rahasia mengapa tim-tim di atas tersebut selalu mendominasi babak-babak akhir Liga Champions, tak lain terletak pada bisnis yang dijalankan oleh tim tersebut. Kombinasi penghasilan dari hak siar televisi, penonton yang berlimpah, serta pemasaran merchandise membuat tim-tim tersebut berlimpah uang. Dengan uang itu mereka bisa mengontrak pemain bagus dan manajer hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di benua Eropa, sepakbola sudah menjadi industri besar yang menghasilkan uang jutaan dolar baik bagi pemain, manajer, maupun klub. Michael Ballack, misalnya, dari Chelsea FC mendapat gaji perpekan sebesar 2 miliar rupiah. Padahal masih ada 10 pemain lagi yang harus dibayar oleh Chelsea FC. Hal ini memberi sinyal bahwa pemasukan klub Chelsea FC amat luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berbicara mengenai legenda-legenda klub raksasa di Eropa, yaitu  Manchester United (MU), Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, AC Milan, Juventus, dan Bayern Munchen. Dijelaskan di dalamnya bahwa klub-klub tersebut sebetulnya berawal dari klub kecil yang kenyang dengan kekalahan dan kebangkrutan. Tapi mereka terus belajar dan belajar sehingga berkembang menjadi legenda-legenda Eropa dan menjuarai berbagai macam kompetisi baik tingkat domestik maupun internasional, bahkan kejuaraan antar klub dunia. MU, misalnya, pada awalnya hanya tim yang terdiri dari para pekerja jalan Kereta Api. Di awal-awal tahun pendiriannya mereka selalu kalah dari klub-klub lainnya. Namun, seiring waktu berjalan, klub ini menjadi klub raksasa hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klub-klub yang disebutkan di atas menjadi besar ternyata didukung oleh manajemen yang baik, pemilik klub yang punya visi dan misi, serta pendukung yang fanatik. Semuanya itu akan membentuk suasana kondusif bagi para pemain bintang untuk menorehkan prestasi di lapangan hijau dan mengeluarkan segala kemampuannya. Para klub raksasa itu tidak hanya mendapatkan penghasilan dari tiket penonton di stadionnya, tapi mereka juga dibanjiri uang dari setiap tayangan pertandingan yang disiarkan di televisi, pemasukan saham dari bursa efek, kontrak dari sponsorship, dan penjualan merchandise. Misalnya saja untuk Football Association (FA) di Inggris, Barclaycard, sebuah perusahaan bonafid, berani menandatangani kontrak sebesar 49 juta poun untuk 3 musim di tahun 2001, itu belum termasuk sponsor bagi para klub raksasa ini yang jumlahnya jauh lebih besar. Tidak heran jika para klub ini mampu membeli dan menggaji tinggi para pemain bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini semoga kita dapat mengambil pelajaran bagi dunia sepakbola tanah air, yang semakin gersang prestasi dan (malah) semakin subur kerusuhan baik yang disebabkan oleh suporter maupun pemain. Mengaca pada manajemen klub-klub Eropa di atas, kita harus mendorong klub-klub sepakbola di Indonesia agar menjadi profesional dan tidak menggantungkan pada APBD saja, tapi bisa mencari sponsor sendiri dari perusahaan-perusahaan daerah atau nasional, menjual merchandise-nya, dan mendapat hak tayang dari televisi. Untuk itu, buku ini sangat layak dijadikan daftar bacaan bagi yang peduli atas nasib sepakbola Indonesia dan yang hobi dengan dunia sepakbola.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. IQBAL DAWAMI&lt;br /&gt;Staf pengajar STIS Magelang, mantan pemain sepakbola amatiran tingkat desa dan kecamatan di Pandeglang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3910754455410599021?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3910754455410599021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3910754455410599021&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3910754455410599021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3910754455410599021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/04/belajar-pada-klub-sepakbola-eropa.html' title='Belajar Pada Klub Sepakbola Eropa'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SfYxzOr5SwI/AAAAAAAAAXw/Ea3VpniVrIo/s72-c/cover_Raksasa+Klub+Bola+Eropa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5226124634701132299</id><published>2009-04-10T09:09:00.002+07:00</published><updated>2009-04-10T09:12:43.918+07:00</updated><title type='text'>Muntilan (2)</title><content type='html'>“Aku… aku keguguran, Kak…”&lt;br /&gt;What? Keguguran? Ah, kamu pasti mengarang, dik. Batinku.&lt;br /&gt;“Kamu serius, dik? Kamu gak bercanda, kan?” ucapku hendak memastikan kata-kata gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hikss…hikss.., aku serius Kak, aku gak bohong” jawabnya sambil meringis menahan sakit. “Tolongin aku, kak, aku gak kuat” Lanjut gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang. Waduh. Ya Tuhan apa yang mesti kulakukan. Aku benar-benar kasihan melihatnya. Tak mungkin aku membiarkan dia menahan kesakitan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah dik, kita ke rumah sakit ya. Kamu harus ke rumah sakit. Sebentar lagi kita akan sampai di Muntilan.” &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wajah gadis itu semakin lama semakin pucat. Berkali-kali dia minta tolong.&lt;br /&gt;“Sabar ya, dik. Tahan dulu. Tinggal satu belokan lagi akan sampai terminal. Adik kok bisa keguguran, emang lagi hamil ya? Kok cuma sendirian, kemana suaminya?” &lt;br /&gt;“Aku… aku.. aku habis aborsi, Kak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Aku tambah terperangah. Astaghfirullah… Apa sudah gila cewek ini, berani sekali melakukan hal itu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Gadis itu pun bercerita bahwa ia hamil oleh pacarnya. Dan pacarnya tidak mau bertanggungjawab. Maka, ia pun nekat melakukan aborsi di daerah Magelang. Dan kini ia hendak pulang ke Muntilan. Tapi, ia tak menyangka akan sakit seperti ini. Dan ia takut ketahuan oleh orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan mengapa aku bertemu dengan orang seperti ini. Tapi, baru saja hendak protes sama Tuhan, bus sudah sampai di terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu berdiri dengan susah payah. Tangannya memegang tanganku agar tidak terjatuh. Dia mengatakan kalau dirinya sudah gak kuat jalan. Duh, bagaimana ini. Mulanya aku ragu, tapi demi keselamatan dia dan mempercepat penyelamatan, kugendong saja gadis itu. Di terminal orang-orang melihatku dengan penuh tanda tanya. Kukatakan saja, ini adikku lagi sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dari bus, segera aku mencari ojek. “Ke rumah sakit, mas!” ujar aku pada tukang ojek. Gadis itu terus aduh-aduhan, menahan sakit. Tak lama, kami sampai di RS. Begitu datang langsung kubawa menuju bagian UGD (Unit Gawat Darurat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang perawat dengan sigap membantuku mengangkat wanita itu ke atas ranjang beroda. Dia pun lalu dibawa ke perawatan untuk diperiksa. Sedang aku disuruh menghadap bagian administrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama istri bapak siapa?” tanya petugas itu sambil mengisi formulir pendaftaran.&lt;br /&gt;Istri? Dia bukan istriku, mbak. Gerutu aku dalam hati. Tak tahu pula aku, siapa nama wanita itu.&lt;br /&gt;“Ee.. Shinta, mbak.” Jawab aku asal sebut, demi kelancaran pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengisi formulir, akupun diantar menuju dokter yang memeriksa gadis itu. Muka sang dokter itu terlihat serius, seperti ada sesuatu yang tidak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan mengenai istri Bapak,” ujar sang dokter.&lt;br /&gt;Sialan, dia mengira aku suaminya.&lt;br /&gt;“Ada apa dok?” tanyaku&lt;br /&gt;“Istri Bapak harus dioprasi, karena ketubannya sudah pecah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter pun menjelaskan, bahwa sebelum melakukan operasi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, di antaranya masalah tanggung jawab jika ada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keselamatan sang ibu dan janin, dan masalah biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan dokter itu, aku lemas bukan main. Ya Tuhan, mengapa aku menanggung semua ini, padahal aku sama sekali tidak tahu menahu siapa gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepada dokter aku jelaskan asal muasal bertemu dengan sang gadis itu hingga sampai ke Rumah Sakit ini. Setelah sang dokter memberi masukan, akhirnya aku mengambil tindakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Bersambung…)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5226124634701132299?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5226124634701132299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5226124634701132299&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5226124634701132299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5226124634701132299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/04/muntilan-2.html' title='Muntilan (2)'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4495965644685371249</id><published>2009-04-08T09:55:00.001+07:00</published><updated>2009-04-08T09:57:32.810+07:00</updated><title type='text'>Muntilan (1)</title><content type='html'>Matahari sudah mulai tenggelam saat aku naik bis Semarang–Jogjakarta dari Magelang. Aku duduk di samping wanita yang kira-kira berumur 20-an. Tapi, wajah gadis itu dibenamkan pada punggung kursi. Mungkin ia sedang tidur, kecapean menempuh perjalanan dari Semarang, ucapku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MP3 kukeluarkan dalam tas. Kuputar lagu campur sari Yulia Astuti. Kukeluarkan juga buku John Perkins Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional. Buku yang tebalnya 465 hlm. itu baru kubaca setengahnya dari satu minggu yang lalu. Mestinya sudah selesai. Hal ini dikarenakan buku-buku yang lain sudah menunggu pengen dibaca. Baiklah, aku akan membacanya hingga 20 halaman sampai terminal Jombor.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lima menit telah berlalu, dan alunan lagu Yulia Astuti dan kisah John Perkins terus menemaniku. Kulirik wanita itu yang sedang mengubah posisi badannya. Alamak, wajahnya yang putih terlihat sebam, dan matanya begitu sendu seperti habis menangis. Ada apa gerangan? Tiba-tiba ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumatikan MP3 dan kucopot headsetnya dari telingaku.&lt;br /&gt;“Ada apa, dik?” tanyaku dengan pelan dan hati-hati. Aku khawatir tersinggung.&lt;br /&gt;Wanita itu tidak menghiraukan pertanyaanku. Oh, biasanya usia seperti itu paling-paling problem putus cinta. Cinta monyet. Pikirku iseng. Tapi wanita itu masih saja menangis. Sekali lagi aku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, dik?”&lt;br /&gt;Kali ini wanita itu merespon pertanyaanku, dengan menggeleng-gelengkan kepala. Tapi, dia tetap menutup wajahnya dengan tangannya sambil terisak-isak. Anehnya, sesekali dia memegang perutnya, seperti sedang kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adik sakit?” tanyaku penasaran. Duh, aku sangat kasihan melihatnya.&lt;br /&gt;Ia seperti hendak mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;“Ia, Kak…, perutku sakit. Sakit sekali…” ucap wanita itu sayup-sayup sambil meringis dan menitikkan air mata.&lt;br /&gt;“Mungkin kamu masuk angin, dik. Sudah makan belum?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Sudah, Kak. Tapi…” suara wanita itu tertahan karena menahan sakit.&lt;br /&gt;“Nanti, di terminal Muntilan kita beli Promag dan Minyak Kayu Putih.”&lt;br /&gt;“Aku tidak masuk angin, Kak.”&lt;br /&gt;“Lha, terus kenapa, dik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersambung…)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4495965644685371249?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4495965644685371249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4495965644685371249&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4495965644685371249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4495965644685371249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/04/muntilan-1.html' title='Muntilan (1)'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7220388531355280621</id><published>2009-03-29T15:29:00.000+07:00</published><updated>2009-03-29T15:33:46.688+07:00</updated><title type='text'>Situ Gintung</title><content type='html'>Jam dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Dan aku masih berdiri di balik jendela kaca sejak satu jam lalu. Sesekali kuusap jejak hembusan nafasku yang menempel di kaca jendela menghalangi pandanganku menatap halaman rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, di luar hujan masih belum reda dari semalam. Mentari yang mestinya bersinar di pagi ini urung menampakkan diri, lantaran langit masih belum puas mencurahkan “airmata”nya, karena sedih melihat calon para penguasa (baca: legislator) berpesta pora mengobral janji yang mampu meninabobokan rakyat jelata. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di balik jendela kaca itu kulihat kolam ikan beralihfungsi menjadi penampung air hujan. Air yang tidak tertampung terus mengalir melalui celah-celah kolam. Sedikit namun tidak berhenti. Dan saat hujan bertambah besar, frekuensi air pun berkecipak dengan hebat di atas kolam ikan tersebut. Tak ayal, air yang mengalir pun amat deras dari atas kolam. Aku berpikir dan bertanya, seperti itukah gambaran tragedi Situ Gintung? Sungguh, betapa mengerikan peristiwa itu. Kejadian yang sama sekali tidak diduga oleh penduduk di daerah sekitar Situ Gintung. Hanya sekali cipakan saja, ratusan rumah beserta penghuninya terseret air. Dan sejak tulisan ini ditulis terbilang 91 orang meninggal, ratusan lebih luka-luka, dan puluhan orang masih belum ditemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tragedi itu, aku harus mengambil hikmah: Aku harus senantiasa waspada dan siap dengan kenyataan hidup yang datang dari arah tak diharapkan. Kematianku dan kehilangan orang yang kita cintai, itulah di antaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jogja, kukirim doa untuk saudara-saudaraku, semoga yang meninggal diberi maghfirah oleh Allah dan yang ditinggalkan diberi kesabaran. Allahummaghfirlahum war hamhum wa ‘aafihim wa’fu’anhum.  Amin. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7220388531355280621?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7220388531355280621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7220388531355280621&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7220388531355280621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7220388531355280621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/03/situ-gintung.html' title='Situ Gintung'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4443683261785384470</id><published>2009-03-29T15:26:00.002+07:00</published><updated>2009-03-29T15:28:49.886+07:00</updated><title type='text'>Pak Guru Sakit?</title><content type='html'>Waktu duduk di bangku sekolah dasar, aku mempunyai dua orang teman yang sangat akrab, satunya laki-laki bernama Arif Rahman Hakim (panggilannya Maman) dan satunya lagi perempuan, bernama Rosita (biasa dipanggil Iros). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kini sudah berkeluarga dan sudah punya anak. Keakraban kami sangat terkenal, sebagaimana kenakalannya. Ingat mereka ingat pula suatu kejadian menarik waktu itu.   &lt;br /&gt;Ketika kami naik ke kelas lima, ada seorang guru laki-laki yang killer. Usianya sekitar empatpuluhan. Ia selalu datang pagi-pagi sebelum jam sekolah berdenting. Dan pulang paling akhir. Yang membuat kami sekelas tak suka adalah guru ini selalu memberi kami tugas yang kami rasa sangat berat dan membebani.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tugas itu hampir setiap hari ada. Dan jika ada salah seorang yang tidak mengerjakannya maka dia akan menghukumnya. Hukuman tersebut biasanya sesuatu yang menguntungkan dia sendiri. Seperti membuatkan minuman untuknya, membelikan kebutuhannya di pasar, membereskan meja kantornya, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas yang berat dan membebani itu ditambah hukuman yang hanya selalu menguntungkan dirinya sendiri membuat kami semakin tidak menyukainya. Kami selalu mendoakan mudah-mudahan saja guru itu jatuh sakit, sehingga kami memperoleh kebebasan selama beberapa hari. Tapi, sayangnya guru itu tidak pernah sakit, dan tetap bersemangat mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami jengkel. Kami tak ingin terus-terusan dibebani seperti ini. Kami ingin santai bermain sepuas kami setelah pulang sekolah tanpa memikirkan tugas sekolah, sebagaimana pada waktu kelas empat. Kejengkelan kami pada guru itu akhirnya memuncak. Dan kami bertiga mempunyai ide untuk mengerjai guru tersebut. Kami bertiga mengoordinir kelas kami atas rencana ini untuk esok hari. Ini adalah salah satu rencana dari dua rencana yang kami pikirkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi pak, Bapak kok terlihat pucat, apakah Bapak sakit?” tanya aku sambil menuju tempat dudukku. &lt;br /&gt;“Tidak, aku tidak sakit. Biasa saja. Tumben kamu memperhatikan Bapak. Terima kasih”  jawab sang guru sambil tersenyum. &lt;br /&gt;Tak lama Maman datang masuk kelas. &lt;br /&gt;“Lho pak, wajah Bapak tidak seperti biasanya. Terlihat pucat, apakah Bapak sakit?” tanya Maman. &lt;br /&gt;“Jangan ngawur kamu. Aku sehat, tidak sakit.” Jawab sang guru. &lt;br /&gt;“Benar lho pak. Aku jujur. Ya sudah Bapak kalau tidak percaya.” Timpal Maman lagi. &lt;br /&gt;Sang guru agak tercenung. Matanya melongo seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dalam batinnya bertanya-tanya, “Benarkah aku sakit?” &lt;br /&gt;“Selamat pagi, pak. Bapak kok pagi-pagi sudah melamun. Kayaknya Bapak sakit ya? Aku lihat wajah Bapak benar-benar pucat.” Ujar Rosita. &lt;br /&gt;“Sakit? Benarkah aku sakit? Apakah wajahku pucat?” sang guru mulai mempercayai kami.  &lt;br /&gt;Kami semua serentak mengatakan bahwa guru sakit, wajah guru pucat. Melihat kami semua menjawab demikian, sang guru pun yakin bahwa dirinya sakit. &lt;br /&gt;“Kalau begitu, aku harus cepat-cepat pulang, biar langsung bisa istirahat dulu. Jadi aku harap keesokan hari aku sudah bisa kembali ke sekolah dengan tidak pucat lagi.” &lt;br /&gt;Kami senang bukan kepalang. Kami sudah membayangkan pulang sekolah sudah bisa bermain dengan sepuas hati. Tapi…. &lt;br /&gt;“Untuk itu, hari ini kita belajar di rumah Bapak saja!”  ujar sang guru dengan sambil berpikir apa betul dirinya sakit. &lt;br /&gt;Semua diam. Kami tidak jadi senang. Kebahagiaan kami ditarik kembali. Rencana kami gagal untuk mengelabui sang guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat kami menjalankan rencana kedua. Kami semua jalan kaki sedang sang guru naik motor. Di rumahnya, sang guru mengomeli istrinya. “Ibu ini bagaimana sih, aku pucat kok enggak dikasih tahu. Kalau terlihat guru-guru lain bagaimana reputasiku di sekolah nanti? Aku kan sudah dikenal guru teladan. Untung saja sakitku belum parah.” &lt;br /&gt;Dengan penuh keheranan, istri sang guru berkata, “Bapak sakit? Ah yang benar saja? Bapak tidak terlihat pucat kok. Bapak sehat, Bapak benar-benar sehat. Coba saja lihat di cermin!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sang guru tidak bergeming. Ia langsung masuk ke kamarnya dan ganti pakaian. Istrinya mengikuti. &lt;br /&gt;“Mungkin perasaan bapak saja itu. Soalnya wajah Bapak benar-benar bugar.” Istrinya masih meyakinkan suaminya. &lt;br /&gt;“Tidak bu, kata anak-anak Bapak pucat. Memalukan saja aku ini. Tapi, jangan khawatir aku suruh anak-anak belajar di sini selama aku kurang sehat. ”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya hanya diam. Ia tidak mau mengajak ribut pagi-pagi begini. &lt;br /&gt;Tak lama kami datang dan langsung disambut oleh sang guru. &lt;br /&gt;“Berhubung aku sakit, jadi kalian saja yang aktif ya. Aku hanya mendengarkan saja belajar kalian.” Ujar sang Guru. &lt;br /&gt;Kami hanya mengiyakan. &lt;br /&gt;“Coba Maman baca pelajaran ketiga di halaman tujuh puluh!”  &lt;br /&gt;Maman pun membacanya. &lt;br /&gt;“Jangan kencang-kencang membacanya. Biasa saja!” tegur sang guru.&lt;br /&gt;“Tidak guru. Aku membacanya dengan pelan kok.”  &lt;br /&gt;Giliran Rosita membaca. &lt;br /&gt;“Kamu juga. Jangan keras-keras membacanya!” Bentak sang guru lagi. &lt;br /&gt;“Siapa yang keras-keras pak guru? Aku biasa saja kok membacanya” ujar Rosita pura-pura heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu giliran aku. Aku pun sama ditegur oleh sang guru. &lt;br /&gt;“Aha, aku tahu pak guru. Sebetulnya bukan suara kami yang keras tapi mungkin kepala pak guru saja yang lagi pusing. Jadi, suara kami yang lembut ini terdengar keras.” Ujar aku panjang lebar. &lt;br /&gt;“Mungkin juga ya. Ya sudah kalau begitu kalian belajar sendiri saja di rumah. Aku harus istirahat total.” &lt;br /&gt;Bukan main senangnya hati kami. Kami merasa bebas. Seolah-olah kami baru saja memenangkan perlombaan drama. Akting kami sungguh bagus dan benar-benar menjiwai. Kami semua pulang dengan kemenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah ibuku bertanya penuh keheranan. Aku jawab saja bahwa pak gurunya sakit. Jadi, kelas kami diliburkan. Tapi ibuku tak mempercayainya begitu saja. Ia berpikir bahwa ada sesuatu yang janggal. Untuk memastikannya, ia pun pergi menuju rumah sang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Ternyata memang betul. Sang guru sakit betulan. Aku pun tak mempercayainya. tapi kenyataannya memang demikian.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kok bisa ya Pak guru tiba-tiba sakit?” tanya ibuku. &lt;br /&gt;“Entahlah, tiba-tiba saja aku sakit. Untung diberitahu oleh para siswa, sehingga bisa cepat-cepat pulang ke rumah dan beristirahat. Kalau tidak, mungkin lebih parah lagi,” kata sang guru.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4443683261785384470?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4443683261785384470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4443683261785384470&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4443683261785384470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4443683261785384470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/03/pak-guru-sakit.html' title='Pak Guru Sakit?'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4193733156688021356</id><published>2009-03-26T06:17:00.000+07:00</published><updated>2009-03-26T06:21:14.573+07:00</updated><title type='text'>Beda, donk!</title><content type='html'>Aku  : Hok, kenapa sih orang Cina itu kaya raya, dagangannya kok sukses terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahok : Lho, kami kan orang cina sering berdoa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  : Kita orang Indonesia juga berdoa, emang beda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahok : Beda, donk. Kami kan berdoa dengan bahasa cina &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4193733156688021356?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4193733156688021356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4193733156688021356&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4193733156688021356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4193733156688021356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/03/beda-donk_26.html' title='Beda, donk!'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-235219164798676875</id><published>2009-03-10T11:47:00.002+07:00</published><updated>2009-03-10T11:49:23.734+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Kepenulisan'/><title type='text'>Meniru Kreativitas Tuhan</title><content type='html'>Tulisan ini disuguhkan pada LK I HMI Kom. Fak. Ekonomi UGM, pada 09 Maret 2009.&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;“Apabila ingin mengubah dunia, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri”&lt;br /&gt;“Allah tidak akan mengubah suatu masyarakat, sampai masyarakat sendiri yang mengubahnya”&lt;br /&gt;“Apa yang anda wariskan dalam hidup saat anda sudah mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, peradaban Islam sebenarnya adalah peradaban buku. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Pertama adalah ditandai dengan turunnya ayat al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (S.Al-‘Alaq: 1-5).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Nabi Muhammad SAW Al-Qur’an mulai ditulis oleh masing-masing sahabat. Setelah Nabi wafat, Umar bin Khattab kemudian menggagas agar Al-Qur’an dijadikan satu mushaf. Dari situ, jadilah Al-Qur’an yang kita lihat saat ini. Ketika Islam menyebar ke luar Mekkah dan Madinah, tuntutan tafsir/interpretasi atas Al-Qur’an menjadi keniscayaan. Hal itu disebabkan  masyarakat di luar Makkah dan Madinah mempunyai konteks yang berbeda. Dari situ, mulai bermunculan tafsir-tafsir Al-Qur’an. Seiring dengan itu, ilmu-ilmu keislaman--yang terinspirasi dari pokok-pokok Al-Qur’an--mulai bermunculan, sesuai dengan kapasitas keilmuan ulama dan kebutuhan masyarakat pada waktu itu, seperti kitab-kitab fiqih, tasawuf, sejarah, sastra, politik, ekonomi, filsafat, kedokteran, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fenomena di atas, tak aneh kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam berkembang pesat, dan puncaknya adalah meraih peradabannya. Hampir semua lini mengalami kemajuan: filsafat, politik, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain. Warisan-warisan para ulama terdahulu masih dapat kita saksikan pada saat ini. Salah satu warisannya adalah karya tulis (alias buku/kitab). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda berkunjung ke perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, anda akan mendapatkan deretan kitab-kitab klasik yang ditulis pada abad-abad silam. Kitab-kitab tersebut lazim dijuluki dengan “kitab kuning” (lantaran kertasnya sudah termakan usia, meski tidak mesti berwarna kuning). Sebut saja misalnya, tafsir at-Thabari, tafsir ar-Razy, tafsir az-Zamakhsari, di mana semua kitab itu masing-masing lebih dari sepuluh jilid. Belum lagi, kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, al-Qanun fi ath-Thib karya Ibnu Sina, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan ini saya hendak mengatakan bahwa tulisan mempunyai dua manfaat: 1) dapat mengubah seseorang dan masyarakat, dan 2) sifatnya abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tulisan dapat mengubah seseorang dan masyarakat. Berbagai karya tulis para ulama adalah salah satu bukti konkritnya. Karya-karya tulis mereka secara tidak langsung telah mengantarkan umat Islam pada kejayaannya. Dengan kata lain, karya tulis mereka mampu mengubah dan menggerakkan masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain, karya tulis pun mampu mengubah penulisnya sendiri. Beberapa penelitian dan pengalaman orang-orang membuktikan hal itu, bahwa menulis benar-benar memberikan efek sugesti yang baik bagi diri kita, dari berbagai sisi, misalnya kesehatan dan melejitkan potensi, serta merencanakan hidup sukses dan bahagia. (Lebih detailnya silakan baca karangan saya, The True Power of Writing: Menulis itu Menyembuhkan, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tulisan mempunyai sifat yang abadi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Bukti konkrit dalam hal ini adalah Al-Qur’an. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika Al-Qur’an tidak ditulis, dengan jarak yang yang terbentang begitu jauh baik ruang dan waktu, apakah bisa sampai kepada kita saat ini? Begitu juga dengan karya-karya tulis para ulama terdahulu, jika saja mereka tidak menulis dapatkah mereka mewariskan sesuatu yang abadi kepada generasi mereka berikutnya, yaitu kita? Pun dengan tokoh-tokoh Indonesia, mereka tetap dikenang lantaran terekam dalam buku-buku sejarah, apalagi mereka yang menulis karya tulis (baik fiksi, non-fiksi, maupun memoar/diary). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua manfaat menulis di atas, apa yang bisa kita petik hikmah/pelajarannya bagi kita, sebagai umat muslim generasi saat ini dan mendatang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi”. Dari sabda nabi ini secara tidak langsung mengingatkan bahwa kita (sebagai ulama; ilmuwan/cendekiawan) harus meneruskan tradisi para nabi, yaitu membawa misi kebaikan kepada dunia ini. Lebih-lebih kita sebagai muslim intelektual dan akademis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dilakukan salah satunya adalah melalui tulis menulis. Dengan tulis menulis kesempatan kita amatlah besar. Melalui tulis menulis, benih-benih kebaikan dapat kita sebarkan kepada orang lain, paling tidak kepada diri kita sendiri. Menulis akan mengabadikan kita sepanjang adanya dunia, meski kita telah lama mati. Menulis pula dapat kita wariskan pada anak cucu kita, lebih-lebih pada dunia. Menulis pula—mudah-mudahan—akan dapat menjadi amal baik kita yang akan terus menerus mengalir pahalanya kepada kita, lantaran dibaca dan bermanfaat bagi orang lain, sehingga hal itu menjadi doa bagi kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menulis (apa saja), asal bermanfaat bagi diri sendiri, lebih-lebih bagi orang lain. Scripta manent verba volant! Yang tertulis akan abadi yang terucap akan hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;M.Iqbal Dawami&lt;br /&gt;penulis buku The True Power Of Writing: Menulis itu Menyembuhkan (2007)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-235219164798676875?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/235219164798676875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=235219164798676875&amp;isPopup=true' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/235219164798676875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/235219164798676875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/03/meniru-kreativitas-tuhan_10.html' title='Meniru Kreativitas Tuhan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7466018689618892052</id><published>2009-02-17T09:10:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:49:48.519+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kasidah Cinta'/><title type='text'>Jeda</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Aku harus pergi. Ucapkan selamat jalan, saudaraku!&lt;br /&gt;Aku membungkuk kepadamu semua dan kujelang keberangkatanku.&lt;br /&gt;Ini, kukembalikan kunci pintuku—dan tidak akan lagi aku menuntut rumahku.&lt;br /&gt;Aku hanya minta kata-kata manis terakhir darimu.&lt;br /&gt;Kita sudah bersama sekian lama, namun aku menerima&lt;br /&gt;lebih banyak daripada yang bisa kuberikan.&lt;br /&gt;Sekarang, fajar sudah menjelang dan lampu yang menerangi sudut gelapku telah padam.&lt;br /&gt;Sebuah panggilan telah datang dan aku siap bagi perjalananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Rabindranath Tagore&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7466018689618892052?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7466018689618892052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7466018689618892052&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7466018689618892052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7466018689618892052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/02/jeda.html' title='Jeda'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5424393275807632955</id><published>2009-02-14T09:14:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:50:04.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Bias Gender Dalam Fatwa MUI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SZYpe1eHVjI/AAAAAAAAAU4/jIMY0lcx_SY/s1600-h/200633p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SZYpe1eHVjI/AAAAAAAAAU4/jIMY0lcx_SY/s320/200633p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302471221001541170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ijtima' Ulama&lt;/span&gt; Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia yang ketiga di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 25 Januari 2009 akhirnya memilih hukum makruh untuk merokok. Yang diharamkan merokok adalah anak-anak, remaja, wanita hamil, dan merokok di tempat umum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal fatwa haram merokok bisa dinilai sesuai bidang MUI. Benarkah demikian? Sudah tepatkah fatwa haram rokok yang dikeluarkan MUI tersebut? Mari kita kaji lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, umat Islam mengenal hukum merokok berada pada wilayah khilafiyah (perbedaan pandangan). Hukum yang tidak dari nash, baik qath’i (pasti) ataupun zanni (dugaan), dan tidak pula ada kesepakatan mujtahidin atas hukum itu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalil fiqh itu adalah: Alquran, Hadist, Ijma’ mujtahidin dan Qiyas. Dan sebagian para ulama juga menambahkan Istihsan, Istidlal, ‘Urf dan Istishhab. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kaidah di atas (bahwa tidak ada nash yang mengharamkan merokok), tidak sedikit dari para ulama sendiri yang condong ke pendapat mubah (boleh) tentang rokok, walau banyak juga yang memakruhkannya. Ini dapat kita buktikan dengan tidak sedikit pula para ulama yang  juga berstatus sebagai perokok aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan (baca: fatwa) MUI atas penetapan hukum ini dinilai merugikan beberapa pihak. Pertama, fatwa tersebut akan memunculkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi para pekerja di bidang perokokan. Perusahaan rokok, misalnya, memastikan akan memberhentikan sedikit-banyak karyawannya. Padahal buruh pabrik rokok tidak sedikit.  PT Patria Adikarsa—perusahaan rokok di Kulonprogo, misalnya, salah satu mitra PT HM Sampoerna saat ini memiliki buruh sebanyak 1.465 orang. Total produksinya pun cukup tinggi, yakni 1,9 juta batang per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keresahan serupa juga dialami pedagang tembakau yang setiap hari mampu menjual tembakau hingga lima kilogram, dengan keuntungan lebih dari Rp20 ribu. Belum lagi petani tembakau, mereka pun akan jadi korban fatwa tersebut. Dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kegelisahan itu, muncul pernyataan dari pihak MUI bahwa pekerja industri rokok tidak perlu terlalu cemas. Fatwa haram itu hanya ditujukan untuk kalangan terbatas seperti ibu hamil, dan anak di bawah umur. Sekretaris MUI, Ikhwan Syam mengatakan memang banyak pihak yang meminta rokok itu diharamkan, kendati demikian masih banyak hal yang harus dipertimbangkan seperti manfaatnya dari segi pajak bea cukai rokok, lahan pekerjaan yang luas, dan segi manfaatnya tembakau tumbuh subur di Indonesia, dan memberikan banyak kesempatan penghasilan bagi petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesaikah kegelisahan masyarakat dengan pernyataan di atas? Mari kita lihat poin kedua, bahwa masih ada kesan bias di dalam formula fatwa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua bias yang sangat terlihat yakni: pertama bias gender, seperti mengapa hanya wanita hamil yang diharamkan merokok—tidak beserta suaminya sekaligus. Padahal menurut hasil riset kesehatan, seorang perokok pasif justru mendapatkan pengaruh yang lebih buruk ketimbang seorang perokok aktif. Seorang istri yang sedang hamil, duduk di sebuah ruangan privat (bukan area publik yang diperkenakan merokok berdasarkan fatwa tersebut) bersama suaminya yang merokok—juga akan membahayakan kesehatannya dan janin yang dikandungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bias terhadap proteksi kesehatan itu sendiri. Sebagai contoh, larangan merokok bagi anak-anak di bawah umur. Di tengah-tengah sebuah keluarga yang anggota keluarga dewasanya merokok, tentu fatwa ini tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kesehatan si anak karena anak tetap akan menjadi perokok pasif, yang notabene risikonya lebih besar dari perokok aktif. Idealnya MUI juga mempertimbangkan bahwa pria, sebagai kepala keluarga, dan orangtua memiliki peran yang sentral di dalam membentuk sebuah konstruksi pola hidup sehat keluarga sehingga pengaturan terhadap budaya merokok pria seharusnya lebih ketat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat jelas fatwa tersebut bias gender, ambigu, dan tidak logis. Fatwa tersebut menimbulkan kesan perempuan dianggap sebagai penyebab tidak sehatnya janin yang dikandung, padahal fenomena wanita merokok tidaklah banyak dan bukan satu-satunya penyebab ketidaksehatan janin. Dan justru, seringkali perempuan malah menjadi korban karena harus ikut menghirup asap rokok yang dinikmati laki-laki, karena, misalnya, perempuan hamil tidak merokok, tapi kondisi di sekelilingnya banyak perokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya, semoga ke depan, MUI benar-benar dapat menghasilkan fatwa yang cerdas baik secara sosial, psikologi, maupun gender. Karena saat ini opini yang berkembang adalah adanya tujuan dari dikeluarkannya fatwa tersebut. Jika saja karena adanya pesanan dari pihak manapun, maka hal ini menjadi sangat menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, dalam rangka pencerdasan MUI, ada tawaran menarik dari Khaled Abou El-Fadl, bahwa dalam penetapan hukum Islam harus memenuhi lima syarat penting, yaitu: kemampuan dan keharusan seseorang, kelompok, organisasi, atau lembaga untuk mengontrol dan mengendalikan dirinya, bersikap jujur, sungguh-sungguh (dalam berijtihad), mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait (komprehensif, menyeluruh), dan menggunakan rasionalitas berpikir. Kelima syarat itu sangat berfungsi untuk membatasi peran para wakil khusus, dan kemungkinan penyalahgunaan otoritas dan kesewenang-wenangan akan bisa dicegah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5424393275807632955?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5424393275807632955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5424393275807632955&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5424393275807632955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5424393275807632955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/02/bias-gender-dalam-fatwa-mui.html' title='Bias Gender Dalam Fatwa MUI'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SZYpe1eHVjI/AAAAAAAAAU4/jIMY0lcx_SY/s72-c/200633p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8986320659600300613</id><published>2009-02-11T09:53:00.000+07:00</published><updated>2009-02-19T14:11:56.905+07:00</updated><title type='text'>Rahasia Di Balik Keberanian Munir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SZI-5qJpSVI/AAAAAAAAAUw/wbDKyDNzblk/s1600-h/gambar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SZI-5qJpSVI/AAAAAAAAAUw/wbDKyDNzblk/s200/gambar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301368871656704338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Resensi ini dimuat di surat kabar &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt; (Rabu, 18 Februari 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-------------------------&lt;br /&gt;Judul: Keberanian Bernama Munir:Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir&lt;br /&gt;Penulis: Meicky Shoreamanis Panggabean&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan&lt;br /&gt;Cetakan: I, Desember 2008&lt;br /&gt;Tebal:  277 hlm.&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angka tahun masehi &lt;/span&gt;sudah memasuki 2009. Artinya, lima tahun sudah berlalu kasus Munir. Namun semenjak kematiannya, kini kasus Munir masih saja menggantung. Kasus tersebut berhenti pada Pollycarpus sebagai tersangka. Hal ini menyisakan tanda tanya bagi sebagian besar orang, mungkinkah Pollycarpus seorang diri mengatur kejahatan itu? Sekali lagi, mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, baiklah, pertanyaan itu kita serahkan saja pada pihak-pihak yang berwenang untuk menjawabnya. Bagi kita saat ini yang paling penting adalah apa yang bisa kita ambil dari mendiang pribadi Munir? Terutama, rahasia apa di balik keberanian Munir dalam memperjuangkan kaum tertindas? Salah satunya adalah melalui buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karangan Meicky Shoreamanis Panggabean ini mempunyai perspektif berbeda ketimbang buku-buku lain perihal Munir yang sudah ada. Buku ini lebih memotret personalitas Munir dalam kehidupan sehari-hari, mulai sejak kecil hingga dewasa, serta pandangan ia atas beberapa persoalan hidup.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;‘De Mortuis nil nisi bonum’, begitulah bunyi sebuah ungkapan Latin, yang bermakna bahwa ‘katakan hanya yang baik saja bagi mereka yang telah mati’. Nampaknya, ungkapan tersebut tidak berlaku untuk disandangkan pada buku ini. Kenyataannya, buku ini memang cukup berimbang dalam menyampaikan sosok almarhum Munir. Sang penulis tidak hanya memotret sisi kelebihannya saja dari sosok Munir, melainkan juga sisi kekurangannya. Oleh karena itu, buku ini bisa diibaratkan sebagai sebuah cermin Munir yang menggambarkan dirinya sebagaimana adanya. Justru, di sinilah sebetulnya keunggulan buku ini, karena ada hal-hal yang kemungkinan besar belum diketahui oleh publik mengenai sosok Munir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu ciri yang melekat dari cermin Munir yang sudah diakui oleh semua orang, yaitu keberanian. Munir dikenal sebagai sosok yang berani pada siapa pun, tak terkecuali pada pemerintah (beserta kepolisian dan TNI). Dengan bendera KontraS (Komite untuk Orang-orang Hilang dan Tindak Kekerasan) ia melawan penguasa yang menindas kaum dhu’afa (baca: lemah), seperti para buruh dan petani, serta korban penculikan. Keberanian itulah yang kemudian menjadikan dirinya terpilih sebagai sebagai Man of the The Year 1999 versi majalah Ummat dan The Right Livelihood Award di Swedia (2000), serta penghargaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku ini, Meicky Shoreamanis Panggabean, adalah seorang guru dan mantan relawan KontraS saat Munir masih hidup. Oleh karena itu, tulisannya banyak mengungkap hal-hal keseharian Munir. Meicky dengan mudah mewawancarai Munir maupun orang-orang terdekat Munir sebagai narasumbernya. Buku ini juga banyak dihiasi beberapa wawancara eksklusif baik dengan Munir maupun orang lain yang terkait dengan hal-hal sederhana, yang mungkin belum pernah ditulis dalam buku mana pun sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, siapa saja yang berperan dalam kehidupan Munir sehingga ia terbentuk menjadi pribadi yang fenomenal. Betapa peran ayah-ibu, kakak-kakak, lingkungan, sekolah, guru, istri, anak-anak, dan sahabat-sahabatnya membentuk kepribadian Munir. Hal itu menyiratkan ternyata ada begitu banyak silent heroes (pahlawan tak dikenal) dalam hidup Munir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang mencatatat personalitas Munir ini menginspirasikan kita untuk peduli atas kehidupan bermasyarakat dan berani melawan ketidakadilan. Sebenarnya, Munir seperti halnya kita, mempunyai rasa takut, tapi ketakutannya itu dinalar, lalu dikalahkan. “Aku harus bersikap tenang walaupun takut … untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang nggak takut, cuma yang coba aku temukan adalah merasionalisasikan rasa takut …” (hlm. 61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pandangan di atas, ada hal menarik dari beberapa pernyataan lainnya yang diutarakan Munir mengenai subjek lain. Tentang cinta, misalnya, ia mengatakan tanpa cinta, manusia hanya sekadar hidup, bukan bertumbuh. Tanpa cinta, manusia hanya sekadar bergerak, bukan berkembang. Coba kita simak langsung pandangan dia selanjutnya tentang cinta, perkawinan, dan jodoh. “Kawin itu bukan cita-cita, melainkan sesuatu yang datang sendiri dan nggak bisa dihindari. Kawin datang ketika cinta dan kontraktual untuk bersama ditemukan. Cinta dan perkawinan itu bukan soal fisik, melainkan kebenaran dalam kejujuran menemukan kesesuaian. Ok, jangan berdoa untuk dapat jodoh, tapi berdoalah untuk kebenaran. Karena di situ, cinta akan ditemukan” (hlm. 80-81).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini pun dilengkapi pelbagai pandangan orang-orang terhadap sosok Munir, mulai dari ibunya, kakak dan adiknya, koleganya, dan istrinya.  Anisa, kakak Munir, bercerita tentang sifat Munir masa kecil, “Munir nggak nakal, tapi kalo diganggu, dia nggak keberatan untuk berkelahi. Tapi nggak pernah inisiatif duluan”. (hlm.92). Sedang Jamal, adik Munir, menceritakan, “Dia itu berantemnya profesional, bukan berantem sembarangan. Berantemnya itu spesifik, dia nggak bisa melihat sesuatu yang nggak benar menurut dia. Dia berani, apa pun risikonya, walaupun berantemnya nggak seimbang.” (hlm. 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata sang istri, Suci, Munir adalah sosok seorang suami yang begitu mengesankan. Suci bercerita, “Dia adalah seorang ayah bagi anak-anakku. Dia sangat akrab karena pada saat-saat tertentu dia memandikan anak saya, menyuapi anak saya. Bangun pagi, kami nggak langsung bangun, tapi bercengkrama di kamar tidur. Anak-anak berkumpul di dalam kamar terus kita bercanda. Yang paling dia sukai itu memeluk dari belakang. Memeluk anaknya, memeluk istrinya” (hlm. 128). Bahkan tidak hanya itu, di setiap hari libur, Munir mengajak istri dan anak-anaknya menonton, memutar musik keras-keras sambil mengajak anak-anak dan istrinya berjoget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah kesaksian Suci di atas menyiratkan bahwa sosok Munir bukan hanya keberanian saja yang dapat kita teladani, tetapi juga keharmonisannya dalam keluarga. Semoga kedua hal itu dapat menginspirasi tunas-tunas Munir-Munir muda di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8986320659600300613?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8986320659600300613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8986320659600300613&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8986320659600300613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8986320659600300613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/02/rahasia-di-balik-keberanian-munir.html' title='Rahasia Di Balik Keberanian Munir'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SZI-5qJpSVI/AAAAAAAAAUw/wbDKyDNzblk/s72-c/gambar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-5758780153343253003</id><published>2009-02-06T09:57:00.000+07:00</published><updated>2009-02-06T10:00:34.205+07:00</updated><title type='text'>Bangkitnya Naga dan Gajah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SYunuOE5otI/AAAAAAAAAUo/v_6WpMxL-dw/s1600-h/cover.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 211px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SYunuOE5otI/AAAAAAAAAUo/v_6WpMxL-dw/s320/cover.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299513799025992402" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: The Elephant And The Dragon: Fenomena Kebangkitan India Dan Cina Yang Luar Biasa Serta Pengaruhnya Terhadap Kita&lt;br /&gt;Penulis: Robyn Meredith &lt;br /&gt;Penerjemah: Haris Priyatna&amp;Asep Nugraha&lt;br /&gt;Penerbit: quacana&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2008&lt;br /&gt;Tebal: xx + 240 &lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awal tahun ini&lt;/span&gt; pebisnis Cina telah menancapkan kuku di Benua Afrika. Ekspansi bisnisnya terus berlanjut meski krisis ekonomi global sedang terjadi. Ekspansi ini kebalikan dari tindakan pemodal Barat yang berhamburan keluar dari Afrika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi pebisnis Cina berjangka panjang sehingga krisis tidak menyurutkan minat mereka memperkuat pijakan di benua yang kaya sumber daya alam mineral itu. Alasan utama ekspansi itu adalah mengamankan kebutuhan energi jangka panjang Cina. Visi ini tidak luntur hanya karena krisis ekonomi global, yang memang turut menghunjam sektor keuangan perusahaan Cina. Perdagangan bilateral Cina-Benua Afrika naik 30 persen per tahun sepanjang dekade 2000-an menjadi sekitar 107 miliar dollar AS pada 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat Cina di Afrika tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga pembangunan infrastruktur dan teknologi. Huawei Technologies, perusahaan telekomunikasi Cina yang berbasis di Shenzen, juga terus menancapkan kuku bisnisnya di tanah Afrika. Korporasi Cina kini terus sibuk berburu kesempatan baru di Afrika. &lt;br /&gt;Pebisnis India juga senada dengan Cina.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka melakukan ekspansi bisnisnya ke Afrika. Salah satu perusahaan India menyatakan minatnya untuk mengambil alih Luanshya Copper Mines, perusahaan tembaga Zambia, yang berhenti beroperasi Desember 2008. Pada januari 2007, Tata Steel yang pernah melemah membeli bekas British Steel. Saat ini India membuat tiga kali lipat baja dari yang dihasilkan oleh bekas penjajahnya, Inggris. India saat ini mempunyai pabrik baja terbesar di dunia yang dimiliki oleh Arcellor Mittal. Menurut majalah Forbes, Mittal saat ini merupakan orang terkaya nomor empat dunia dengan nilai kekayaan 45 miliar dollar AS.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar untuk diketahui, India saat ini menjadi negara pencetak milyarder paling cepat. Laporan Kekayaan Asia-Pasifik, yang disusun bank investasi AS, Merril Lynch, dan para konsultan Capgemini menunjukkan sekitar 123.000 milyarder di India pada akhir 2007. Angka tersebut naik 22,7 persen daripada setahun sebelumnya&lt;br /&gt;Melalui buku ini, fenomena di atas menunjukkan bahwa Cina dan India telah menjadi negara besar dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di planet ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena helai-helai ekonomi global kini telah terajut, perubahan di India dan Cina membentuk masa depan untuk seluruh dunia. Tidak pernah sebelumnya pasar global terhubung begitu eratnya. Dan coba bayangkan apabila perdagangan besar pada jalan sutra digabungkan dengan yang melintasi jalur rempah, dan gabungan perdagangan global ini diperkuat dengan teknologi modern. Kini apa yang dijual oleh India dan Cina ke Barat tidak lagi diangkat dengan unta atau galleon (kapal layar), namun dengan penerbangan kargo, kapal-kapal peti kemas, atau melalui internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berusaha membantu pembaca memahami betapa dunia kita sedang dibentuk oleh kebangkitan India dan Cina—dua negara yang potensi pengaruhnya pada dekade-dekade mendatang ditakuti sekaligus diremehkan. The Elepehant and The Dragon memerlihatkan bahwa seluruh dunia dapat menyesuaikan diri dengan kebangkitan India dan Cina ini. Melalui buku ini kita dapat memahami mengapa kedua negara itu mengalami transformasi yang begitu cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosis Cina dari Negara pertanian ke Negara industri berjalan begitu cepat. Pada tahun 2000, 30 persen pasokan mainan dunia datang dari Cina. Lima tahun kemudian, secara mengejutkan 75 persen dari seluruh mainan baru adalah buatan Cina. Hal ini terjadi pula pada produk-produk lainnya. Misalnya, dalam 10 tahun terakhir, Cina telah menjadi pembuat sepatu dunia, pengekspor satu dari setiap tiga pasang sepatu di dunia. Cina mengekspor senilai 1,3 miliar dolar suku cadang kendaraan pada 2001, namun mencapai hampir 9 miliar dolar hanya dalam waktu 4 tahun kemudian. Pada 1996, Cina mengekspor komputer, telepon seluler, dan CD player serta barang elektronik lainnya senilai 20 miliar dolar. Hingga 2004 Cina mengekspor senilai 180 milyar dolar, lebih dari Negara manapun di dunia. Negara itu terus mendominasi manufakturing dari satu industri ke industri yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang embrio kebangkitan India diawali pasca pembunuhan Rajiv Gandhi, Juli 1991. &lt;br /&gt;Dari situ kemudian India membuka diri dari dunia. Pemerintah mengizinkan perusahaan-perusahaan dari beberapa industri untuk 100 persen dimiliki oleh orang asing di mana sebelumnya perusahaan asing yang melakukan kegiatan bisnis di India harus menyerahkan kendali operasi perusahaannya ke tangan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain India juga mencari inspirasi ke Cina. Pada 1994, kepala Negara bagian Andhra Pradesh, N. Chandrababu Naidu, mulai mengirimkan pejabat pemerintahan menuju Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Dia mengirim seluruh legislatornya ke Cina dengan mandat bahwa saat kembali masing-masing harus memberinya paling sedikit dua ide bagaimana India bisa memperbaiki diri.  India juga mengizinkan perusahaan swasta dalam bidang telekomunikasi. Implikasinya, pengguna telepon seluler menggelembung dengan pesat. Biaya hubungan jarak jauh turun sampai tiga kali lipat dalam lima tahun, dan tarif untuk mengirim pesan merosot sampai 80 persen. India hanya memiliki 300.000 telepon genggam pada 1996, namun pada 2007, meningkat sampai 150 juta dan orang India membeli hampir tujuh juta telepon genggam setiap bulan. Dari situlah India bangun dari peraduannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta di atas, jika India dan Cina yang pernah tertinggal dapat mentransformasi diri, lantas bagaimana dengan Indonesia? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-5758780153343253003?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/5758780153343253003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=5758780153343253003&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5758780153343253003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/5758780153343253003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/02/bangkitnya-naga-dan-gajah.html' title='Bangkitnya Naga dan Gajah'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SYunuOE5otI/AAAAAAAAAUo/v_6WpMxL-dw/s72-c/cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4783863905284464168</id><published>2009-02-02T11:59:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:50:24.643+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Konstruksi Perempuan Dalam Perempuan Berkalung Sorban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SYZ_GNIQ8TI/AAAAAAAAAUY/Q_KcbaHKoPk/s1600-h/l34484707706_9048.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SYZ_GNIQ8TI/AAAAAAAAAUY/Q_KcbaHKoPk/s200/l34484707706_9048.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298061756228235570" /&gt;&lt;/a&gt;Menumbuhkan kesadaran tentang relasi gender yang adil bukanlah hal mudah. Terlebih lagi jika harus berhadapan dengan kultur dan kebudayaan masyarakat patriarkhi, khususnya dalam kehidupan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, agama seringkali dijadikan legitimasi atas konstruksi perempuan, di mana hal ini berimplikasi pada berbagai tindak kekuasaan terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan suci agama diturunkan oleh Tuhan melalui utusan-Nya, dengan harapan pesan-pesan-Nya menjadi suatu pemecah masalah atas segala problematika hidup. Namun justru tak jarang agama malah dianggap sebagai bagian dari masalah itu sendiri. Islam yang pada dasarnya menjunjung tinggi persamaan dan keadilan umat manusia, malah dijadikan alat untuk turut serta memperkuat konstruksi perempuan dan seksualitas yang timpang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah penafsiran Alquran surat an-Nisa (4): 34, yang ditafsirkan secara tekstual tanpa melihat problem sosial pada saat ayat tersebut diturunkan. Ayat tersebut dipahami bahwa laki-laki sedikit diberi kelebihan atas perempuan, karena mencari nafkah. Oleh karena itu, di saat sang istri melakukan yang tidak terpuji, atau tidak taat kepada suaminya, maka seorang suami dibolehkan melakukan pisah ranjang, bahkan kalau perlu melakukan pemukulan atas istrinya. Dengan penafsiran umum seperti itu “pemukulan” dianggap sebagai satu media yang disahkan oleh agama. Oleh karena itu, pemukulan yang sejatinya satu bentuk kekerasan, dijadikan alat legitimasi untuk mengkonstruk kekerasan rumah tangga, dengan dalih “izin” agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mansour Faqih (2003) bahwa dalam realitas masyarakat yang patriarkhis, perbedaan gender seringkali melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan yang menimpa perempuan, di antaranya: marginalisasi (proses pemiskinan ekonomi); subordinasi (penganggapan tidak penting); stereotip (pelabelan negatif); violence (kekerasan); dan double burden (beban ganda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret di atas diangkat oleh Abidah el-Khalieqy dalam novelnya Perempuan Berkalung Sorban (PBS) (2008) yang beberapa waktu lalu versi filmnya juga muncul dengan judul yang sama. Abidah, seorang sastrawan terkemuka yang pernah mengenyam pendidikan pesantren, dengan berani mengungkap segala pikiran yang merupakan ide pemberontakannya terhadap konstruksi tentang perempuan yang diajarkan dalam lingkungan pesantren dengan segala kulturnya yang telah lama melembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel PBS menceritakan tentang perjuangan perempuan dalam melawan keterkungkungan kekuasaan yang menempatkannya pada kedudukan yang lebih rendah dibanding laki-laki. Kenyataan yang dihadapi oleh perempuan seperti di atas selalu dikatakan oleh pemegang kuasa bahwa itu merupakan ajaran agama yang dianutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstitusi perempuan yang berimplikasi pada kekuasaan terhadap perempuan sebagaimana tergambar dalam novel ini diwakili oleh tokoh Annisa yang berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW, merupakan sosok yang agung, pilihan Tuhan, yang sangat menghargai, menghormati, menyayangi, dan mengagungkan kaum perempuan. Pertanyaan yang selalu menggelisahkan hatinya adalah kenapa kini sepeninggal Rasul ada jurang yang amat lebar antara kehendak Nabi dengan pemahaman dan prilaku umat Islam? Mengapa juga terjadi kesenjangan antara cita-cita ideal Islam dengan realitas umat Islam dalam memandang dan memperlakukan kaum perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini bercerita seorang perempuan dari sebuah keluarga santri di Jawa Timur yang bernama Annisa. Sejak kecil ia sudah berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagai anak perempuan dalam beberapa hal orangtuanya membedakan ia dengan saudara-saudaranya yang laki-laki. Perbedaan ini dapat ditemuinya dalam cara bagaimana orangtuanya menerimanya sebagai anak perempuan, memperlakukan dirinya dalam kehidupan sehari-hari, dan hal-hal lain yang dinilai oleh orangtuanya sebagai sesuatu yang tidak boleh atau tidak pantas dilakukan olehnya, karena ia perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa dikaruniai kecerdasan, namun tidak dibarengi dengan kesempatan yang diberikan orangtuanya dalam upaya mengembangkan dirinya. Ayah Annisa adalah seorang kyai terpandang di desanya, mempunyai pondok pesantren khusus anak perempuan. Ibunya berharap kelak Annisa akan dapat menggantikan posisi ayahnya dalam mengelola dan mendidik pesantrennya. Tapi, ia lebih suka bersekolah. Ia senang belajar segala sesuatu yang baru seperti membaca buku dan puisi, memancing, menunggang kuda dan berpetualang. Namun kesempatan untuk belajar juga harus banyak tersita oleh keharusannya sebagai anak perempuan untuk membantu ibunya di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa dengan ketajaman otaknya selalu gelisah dengan berbagai pertanyaan yang kerap mengganggunya seperti kenapa ia diperlakukan demikian oleh keluarganya, kenapa ia harus bersikap sebagaimana digambarkan oleh orangtua dan lingkungannya, kenapa ia harus memakai kerudung, dan banyak hal yang tidak ia terima dari banyak literatur kitab-kitab yang diajarkan di pesantrennya yang telah dianggap sebagai kebenaran agama dalam memperlakukan dan melihat perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat umur sepuluh tahun ia harus menikah dengan Samsudin, seorang anak kyai sahabat ayahnya. Ironisnya, bukan kebahagiaan yang didapatnya, namun justru penderitaan fisik dan mentalnya secara terus menerus ia harus telan sendiri tanpa tahu kepada siapa ia mengadu. Dan seiring usianya berjalan disertai kehidupannya yang penuh liku dan dilema membuat dirinya belajar dari situ. Akhirnya ia pun berhasil berontak melalui pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel PBS ini menunjukkan bahwa perempuan dikonstruksikan sebagai makhluk kedua, makhluk yang kurang akalnya, kurang agamanya, dan diciptakan untuk laki-laki. Konstruksi perempuan seperti itu ternyata berimplikasi pada berbagai bentuk kekerasan, sebagaimana dialami tokoh Annisa tersebut. Adapun bentuk-bentuk kekerasan yang dialaminya diantaranya adalah kekerasan fisik, kekerasan psikologis, deprivasi ekonomi, kekerasan seksual, dan diskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini mengandung pesan bahwa tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri dan harus dihargai setinggi-tingginya jauh lebih tinggi dari sekadar rasa malu untuk lari dari kekerasan rumah tangga yang menimpanya atau karena harus menjanda. Selain itu, perempuan juga harus dapat membuat pilihan dan menyiapkan diri untuk maju dan mandiri serta tidak bergantung pada laki-laki. Salah satunya adalah dengan pendidikan. Melalui pendidikan perempuan mempunyai kesempatan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah relasi gender yang kemudian berimplikasi pada kekerasan terhadap perempuan ini memang layak mendapat perhatian yang lebih, lantaran masih saja dijumpai di sekitar kita, bahkan boleh jadi hampir setiap hari selalu ada sebagaimana dapat kita lihat di media informasi, baik cetak maupun elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4783863905284464168?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4783863905284464168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4783863905284464168&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4783863905284464168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4783863905284464168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/02/konstruksi-perempuan-dalam-perempuan.html' title='Konstruksi Perempuan Dalam Perempuan Berkalung Sorban'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SYZ_GNIQ8TI/AAAAAAAAAUY/Q_KcbaHKoPk/s72-c/l34484707706_9048.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-86033950719601616</id><published>2009-01-26T06:34:00.000+07:00</published><updated>2009-01-26T06:38:27.248+07:00</updated><title type='text'>Sepatu Spesial untuk Bush</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXz3kwUzi3I/AAAAAAAAAUI/iB1XYCK9TNk/s1600-h/cover+sepatu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXz3kwUzi3I/AAAAAAAAAUI/iB1XYCK9TNk/s320/cover+sepatu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295379472700377970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Resensi ini dimuat di &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; pada sabtu 24 Januari 2009&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;Judul : Goodbye, Bush! - Sepatu Perpisahan dari Baghdad&lt;br /&gt;Penulis : Muhsin Labib&lt;br /&gt;Penerbit : Rajut Publishing House&lt;br /&gt;Cetakan : I, Januari 2009&lt;br /&gt;Tebal : 96 hlm&lt;br /&gt;-------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masih&lt;/span&gt; ingatkah anda dengan peristiwa lemparan sepatu milik wartawan al-Zaidi kepada Presiden Bush, di Irak? Peristiwa ‘sepatu buat Bush’ itu telah mengantarkan Muntahar al Zaidi menjadi terkenal di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang ikut menandai lengsernya Presiden George Walker Bush Junior itu, akan selalu dikenang dunia. Dan, nama al Zaidi kini menjadi hero di Irak, bahkan di negara-negara arab lainnya. Al Zaidi muncul sebagai tokoh pembangkang yang berani melawan Bush-Amerika. Saking tingginya daya tarik peristiwa itu, kini tahukah anda sepatu tersebut dilelang dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 110 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kronologi peristiwa pelemparan sepatu tersebut? Siapa sesungguhnya Muntahar al-Zaidi? Terus, bagaimana reaksi setelah peristiwa itu? Dalam buku inilah ketiga pertanyaan di atas dapat ditemukan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 14 Desember 2008, presiden AS George W. Bush tiba di bandara Internasional Baghdad dengan pesawat kepresidenan AS, Air Force One. Tujuan utama Bush adalah, selain hendak pamitan, untuk menandatangani pakta keamanan AS-Irak. Usai menandatangani, Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki hendak melakukan konferensi pers. Seluruh petugas di situ juga telah menyiapkan semua prosedur pengamanan super maksimum yang lengkap dengan peralatan canggihnya. Maka, hampir dipastikan dalam ruangan tersebut tak ada bom, pistol, atau barang apapun yang mengancam keamanan Sang presiden dan perdana menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat al-Maliki dan Bush berdiri di podium dengan tatapannya yang penuh kepercayaan diri hendak bersiap menjawab pertanyaan para wartawan, tiba-tiba seorang wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntahar al-Zaidi melemparkan sepatunya ke arah Bush sambil berteriak , “Good bye, dog!” Belum sempat para pengawal presiden bereaksi, al-Zaidi melempar sebuah sepatunya lagi, beruntunglah Bush dapat menghindarinya sehingga kedua sepatu itu tak mengenai kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut diliput secara live oleh hampir seluruh stasiun televisi dunia. Dan dapat dipastikan berita itu telah tersebar dengan cepat, dan menghibur banyak pemirsa, serta segera saja menjadi bahan gurauan dan melahirkan berbagai reaksi dari seluruh masyarakat dunia. Tentunya peristiwa ini bisa menjadi insiden yang paling memalukan sepanjang sejarah kepresidenan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam budaya arab, tapak kaki (serta yang membungkusnya: Sandal dan sepatu) adalah sebuah penghinaan. Kita tahu, setelah patung Sadam Husein dirobohkan di Baghdad banyak orang memukuli wajah patung itu dengan tapak sepatu mereka. Nah, Bush pun mengalami nasib yang sama dengan Sadam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelemparan sepatu Zaidi merupakan perlawanan simbolik untuk merontokkan kewibawaan Bush. Pesan yang disampaikan tindakan itu adalah hegemoni politik Amerika tidak bisa serta merta beroperasi secara total bagi seluruh rakyat Irak. Negara bisa ditawan dan dikuasai, namun tidak untuk seluruh rakyatnya. Al Zaidi merupakan martir simbolik. Wajar jika kemudian rakyat Irak memberikan dukungan atas tindakan al Zaidi tersebut.&lt;br /&gt;Saat ini kita dapat membaca peristiwa tersebut secara utuh melalui sebuah buku. Buku karangan Mushin Labib ini disertai pula pelbagai informasi yang mengitari peristiwa ‘pelemparan sepatu tersebut’. Buku ini disebut dengan ‘flash book’, dengan dibuat secara cepat untuk menangkap sebuah momen yang masih aktual, yang mampu diselesaikan dalam waktu 2x24 jam. Sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal buku ini diperlihatkan peristiwa seputar Pakta Keamanan Amerika-Irak beserta polemik-polemiknya. Bagian ini memuat berbagai pasal pakta pertahanan tersebut beserta pasal-pasal rahasia dari kesepakatan tersebut. Dari pasal-pasal tersebut terlihat dengan jelas bagaimana AS masih enggan sepenuhnya melepas cengkeraman militernya atas Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya ini buku pertama di Indonesia yang memaparkan insiden pelemparan sepatu pada Bush. Selain itu ada banyak informasi yang mungkin hanya bisa diperoleh dalam buku ini saja. Selain kita bisa memperoleh seluruh rangkaian peristiwa ini secara utuh, melalui buku ini pula kita juga akan melihat sebuah ekspresi penolakan yang kuat terhadap arogansi dan hegemoni suatu pemerintahan yang secara sadar ingin menguasai bangsa lain dengan dalih perdamaian dan keamanan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bagian ketiga dalam buku ini memuat profil singkat pelempar sepatu, Muntahar al Zaidi dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sosoknya sesuai aksi pelemparan seperti penyiksaan yang dialaminya dan dukungan serta simpati mulai dari sesama wartawan. Terkait dengan dirinya, beberapa fenomena menarik juga direkam dalam buku ini, seperti banyak ibu-ibu yang bersedia menikahi anak gadisnya dengan al Zaidi, pabrik pembuat sepatu yang mereknya sama dengan yang digunakan al Zaidi kebanjiran order, sehingga pesanan jenis sepatu tersebut dinaikkan hingga 4 kali lipat. Dan uniknya kebanyakan pesanan tersebut berasal dari AS, Inggris, dan sejumlah negara Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Zaidi memang telah menjadi hero dan simbol perlawanan terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya. Bahkan setelah peristiwa tersebut para intifadah di jalur Gaza tak lagi melempari tentara Israel dengan batu melainkan dengan sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu terungkap pula bahwa sejatinya kejadian aib bagi sang presiden tersebut malah menjadi hiburan gratis bagi tentara AS di Irak. Peristiwa tersebut nyaris tidak terkesan sebagai peristiwa kekerasan, namun kelucuan. Tentara AS di Irak terbahak-bahak melihat insiden tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus ‘sepatu al Zaidi’ itu memang tidak otomatis merontokkan kewibawaan Amerika baik secara ekonomi, politik, militer dan budaya. Sebagaimana yang dikatakan Indra Tranggono, budayawan Jogja, bahwa mereka terlalu digdaya. Namun, lanjutnya, secara politik dan kultural peristiwa itu telah menjadi interupsi penting bagi Amerika bahwa sebuah bangsa dan negara mempunyai harga diri yang tidak bisa diperlakukan secara semena-mena. Semoga kasus ini menjadi bahan renungan bagi Barrack Obama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-86033950719601616?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/86033950719601616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=86033950719601616&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/86033950719601616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/86033950719601616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/01/sepatu-spesial-untuk-bush.html' title='Sepatu Spesial untuk Bush'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXz3kwUzi3I/AAAAAAAAAUI/iB1XYCK9TNk/s72-c/cover+sepatu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6231745932352715990</id><published>2009-01-24T09:48:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:51:07.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Hidup'/><title type='text'>Golput Sebagai Ijtihad Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXqDIeHiJ5I/AAAAAAAAAT4/Yc9-Rg9iki0/s1600-h/Registrars_No_Vote.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 288px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXqDIeHiJ5I/AAAAAAAAAT4/Yc9-Rg9iki0/s320/Registrars_No_Vote.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294688493474293650" /&gt;&lt;/a&gt;Akhir-akhir ini dunia perpolitikan di negeri kita mulai memanas. Tahun 2009 berarti memasuki euforia pemilu Presiden. Pilkada di tingkat legislasi mulai digenjot agar segera rampung sebelum rangkaian pemilihan presiden dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para calon legislatif (caleg) dan KPU mulai sibuk dengan perannya masing-masing. Aksi narsis para caleg melalui baliho berlambang partai berjejer di sepanjang jalan, baik jalan raya, maupun jalan-jalan setapak, bahkan hingga gank-gank sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana jalanan pun menjadi semrawut dan kotor oleh gambar-gambar itu. Semua caleg menampakkan diri dengan wajah yang percaya diri, serta tak lupa memamerkan senyumnya. Umumnya para caleg itu ada yang berdasi, berpeci, bersorban, juga berkemeja koko. Tak lupa nama mereka diawali dan diakhiri dengan seabreg titel, seperti K.H., Dr, dr, Ustadz, S.Ag, M.Ag., M.S.i., Drs., dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang para caleg pun macam-macam: Pengusaha, petani, kyai, pengurus yayasan, dan tak lupa hubungan kekerabatan (istri bupati, anak walikota, anak gubernur, suami gubernur, dan seterusnya). Tak lupa pula dengan jargonnya masing-masing. Bahkan banyak juga yang meminta restu, doa, dan dukungan yang tertera di aneka alat kampanye. Ah, sungguh aneh-aneh saja mereka ini. Mau memperkaya diri sendiri saja mereka minta doa restu. Saya kemudian berpikir dapatkah mereka memainkan perannya menjadi wakil rakyat? Lha wong wawasan tentang kenegaraan saja masih diragukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tolok ukur (modal) menjadi caleg hanya satu, yaitu bermodal duit saja. Siapa yang berduit pasti akan mulus menjadi caleg. Dan harus diakui bahwa menjadi caleg itu amatlah mahal. Saat harus lolos di partainya saja, jelas harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Ingin nomor urut jadi (dulu masih berlaku nomor urut), harus merogoh kantong dalam-dalam. Sudah jadi caleg, dia harus promosi sembari membawa sembako, stiker, baliho, kalender, baju, topi, dan lain-lain ke masyarakat di daerah pemilihannya (dapil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan logika di atas, jika saja mereka kemudian berhasil duduk di bangku legislatif alias menjadi wakil rakyat kita sudah dapat menebak prihal yang mereka lakukan, yaitu meraup uang sebanyak-banyaknya, demi mengembalikan modal yang dulu mereka keluarkan di saat pilkada. Bahkan tidak berhenti di situ, mereka akan meraup untung sebnyak-banyaknya, karena mumpung menjadi wakil rakyat. Mumpungisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat memungkinkan para wakil rakyat tersebut berperilaku keji, seperti melakukan suap menyuap, korupsi berjamaah, alih fungsi lahan, dan seterusnya. Tak lain semua itu dilakukan demi modal yang dulu telah mereka keluarkan yang harus mereka raih kembali. Dan jangan tanya tentang produk undang-undang (UU) yang mereka buat, yang alih-alih meringankan rakyat, mereka terkesan membuatnya setengah hati untuk mengutamakan keutamaan rakyat. Bisa jadi malah menambah beban rakyat. Sebut saja  pengesahan beberapa UU oleh DPR RI seperti soal UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), UU Minyak dan Gas (Migas), UU Mineral dan Batu Bara (Minerba), dan UU Sumberdaya Alam (SDA), yang semuanya mendapat kritik pedas dari para ahli dan masyarakat luas karena berbagai dampak yang pasti ditimbulkannya. Para anggota dewan itu juga malas-malasan bekerja dan sering bolos saat diadakannya rapat paripurna. Ini menjadi bukti bahwa para caleg jika telah duduk di kursi empuk akan lupa atau melupakan rakyat yang pernah diminta untuk memilihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, beranikah kita mengatakan kalau para caleg yang berlomba-lomba meraih simpati rakyat dengan seabreg janji-janjinya itu adalah awal perlombaan kebohongan calon politisi? Benarkah mereka hendak mengabdi bagi ibu pertiwi dan mendedikasikan diri untuk kepentingan masyarakat luas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sikap Golput Sebuah Ijtihad&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Melihat fakta di atas saya sendiri sanksi untuk memilih para caleg. Saya tidak begitu yakin kalau mereka membawa membawa manfaat bagi masyarakat. Terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Keluhan demi keluhan masih sering terdengar nyaring di telinga kita. Jadi, pantaskah saya mencoblos caleg yang pintar berbohong dan bersilat lidah itu? Pantaskah para caleg untuk dipilih yang amat narsis dan membanggakan diri lewat poster dan baliho itu di tengah-tengah rakyat jelata yang selalu resah memikirkan hari esok masih bisa makan apa tidak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat terpaksa, jika kenyataan seperti itu dan saya belum menemukan figur yang pantas untuk dipilih, barangkali saya akan bersikap golput. Saya akan memosisikan diri dengan mereka yang mempunyai kesadaran politik untuk memilih golput. Bukan tanpa alasan, dan bukan pula atas hasutan atau pun ikut-ikutan. Sungguh, ini benar-benar sikap yang justru disadari sebagai kesadaran berpolitik. Ada memang beberapa caleg yang menurutku pantas untuk dicoblos, karena sejauh yang saya ketahui caleg tersebut punya reputasi baik, terutama perannya dalam keilmuan, khususnya kajian keislaman. Tapi, sangat disayangkan, mereka tidak berada di daerah yang aku coblos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, baiklah, saya akan berusaha menilik para caleg yang ada di daerahku sekali lagi. Jika memang secara keilmuan tidak mumpuni, tapi paling tidak mereka mempunyai kepribadian baik, seperti jujur, tawadhu, sosialis, dan beragam cara lainnya yang wajar. Namun, jika kriteria tersebut masih belum ada, lantas bagaimana? Ya, sekali lagi saya akan melakukan ijtihad sendiri seperti  telah saya katakan di atas, golput. Jadi, jangan salahkan saya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6231745932352715990?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6231745932352715990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6231745932352715990&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6231745932352715990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6231745932352715990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/01/golput-sebagai-ijtihad-politik.html' title='Golput Sebagai Ijtihad Politik'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXqDIeHiJ5I/AAAAAAAAAT4/Yc9-Rg9iki0/s72-c/Registrars_No_Vote.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6944793524727245917</id><published>2009-01-19T06:29:00.000+07:00</published><updated>2009-01-19T06:35:54.052+07:00</updated><title type='text'>Harry Potter Menjadi CEO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXO8bTMuwXI/AAAAAAAAATg/8tPSeS14a9s/s1600-h/cover+harry.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 292px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXO8bTMuwXI/AAAAAAAAATg/8tPSeS14a9s/s320/cover+harry.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292781164286624114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; pada 8 Januari 2009&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Harry Potter is Back, And Now he’s the CEO of the General Electric&lt;br /&gt;Penulis: Tom Morris&lt;br /&gt;Penerbit: Quacana,&lt;br /&gt;Cetakan: I, November 2008&lt;br /&gt;Halaman: 406 halaman&lt;br /&gt;---------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry Potter selebritas dalam dunia sihir, masih terus booming dalam kiprahnya membangun hikmah dan kearifan hidup para pembacanya. Tom Morris satu dari sekian banyak pembaca karya-karya Rowling yang berhasil mengeksplorasi pesona sihir Harry Potter menjadi sebuah karya nyata yang menginspirasi semua kalangan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Morris kisah Harry Potter belum berhenti. Petualangan-petualangannya di sekolah Hogwarts--setelah ia berhasil menundukkan Voldemort--telah mengantarkannya menjadi CEO General Electric, sebuah perusahaan besar kelas dunia. Penulis buku ini begitu yakin Harry Potter telah dipersiapkan menjadi “pemain bintang” dalam dunia bisnis, juga menjadi pemimpin muda yang sangat mengesankan. Apa kira-kira yang akan dilakukan Harry sebagai pemimpin perusahaan? Apa kiat-kiat bisnis, manajemen, dan kepemimpinan yang bisa diambil dari Harry Potter? Di buku inilah jawabannya akan ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dituturkan dalam kisah-kisah Harry Potter menurut Morris adalah kebaikan-kebaikan yang selalu menyebar tepat di pusat kehidupan beretika. Dan dari pengamatannya, ia tercengang, lantaran menemukan banyak pelajaran berharga dan ajaran-ajaran filosofis dalam karya-karya Rowling yang menjadi modal dasar kepemimpinan. Bagaimana Dumbledore telah mengilhami Harry rasa percaya diri, karakter, semangat dan keteguhan dalam kemandiriannya, sehingga ia dapat mengatur dan memimpin perlawanan tanpa henti terhadap kekuatan jahat yang muncul sepanjang cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik jubah sihirnya, justru kisah-kisah Harry Potter ingin menunjukkan bahwa bukan sihir yang memberi kesuksesan dalam meraih impian, karena kita tahu kebanyakan dari kita tidak memiliki perangkat-perangkat sihir itu. Akan tetapi kearifan-kearifan yang terpancar di dalamnya sangat tepat untuk diaplikasikan pada tantangan-tantangan bisnis sekarang ini. Kita bisa melihat banyak petunjuk mengenai kebaikan-kebaikan, keberanian, etika, dan sifat-sifat kepemimpinan yang penuh integritas, yang banyak tersebar dalam kisah-kisah Harry Potter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang penting dalam dunia bisnis, sebagaimana ditulis Morris, adalah keberanian. Keberanian untuk mengambil resiko, juga seperangkat keberanian lainnya; mengatakan kebenaran dan bertingkah laku sesuai prinsip tanpa terpengaruh oleh orang lain. Harry sering terlihat bersedia menghadapi bahaya besar untuk menyelamatkan temannya. Harry mengerti apa yang sedang dihadapi dan bersedia melawannya karena sesuatu yang dia junjung tinggi. Inilah yang harus dijadikan tauladan seorang pelaku bisnis, CEO, dan pemimpin-pemimpin yang berada pada garda depan. Dalam hal ini tentunya termasuk berani untuk dapat menampilkan kenyataan yang benar, bukan hanya berlindung di balik penciptaan kesan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pribadi yang hebat, merupakan komitmen yang harus dipegang oleh seorang pemimpin. Hebat yang mengacu kepada persaingan untuk menjadi yang terbaik. Membangun kepercayaan melalui kasih sayang, kemanusiaan, dan cinta. Jeft Immelt, CEO perusahaan besar kelas dunia menawarkan lima buah saran yang ia sebut sebagai “lima buah nilai yang dijunjung tinggi”, yaitu: Berkomitmen kepada apa yang harus dipelajari; bekerja keras dengan rasa kasih sayang dan keberanian; jadilah si pemberi; anda harus memiliki kepercayaan diri; terakhir, jadilah orang yang optimistik.                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat berguna untuk semua orang yang ingin menemukan sedikit keajaiban dalam bisnis dan kehidupan. Jika Harry Potter dewasa yang matang memimpin General Electric, atau organisasi lain dalam dunia bisnis, pemerintahan, atau pelayanan masyarakat, sang penulis yakin kita akan melihat sebentuk kepemimpinan yang didasarkan pada sifat-sifat baik, yang tindakannya berani secara etis, dan dimotivasi serta diarahkan oleh cinta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6944793524727245917?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6944793524727245917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6944793524727245917&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6944793524727245917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6944793524727245917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/01/harry-potter-menjadi-ceo.html' title='Harry Potter Menjadi CEO'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SXO8bTMuwXI/AAAAAAAAATg/8tPSeS14a9s/s72-c/cover+harry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6868798378366836443</id><published>2009-01-13T08:58:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:51:07.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Hidup'/><title type='text'>Maafkan Aku Palestina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SWv3oKXTWFI/AAAAAAAAATQ/JJaan9VHfDg/s1600-h/jenazah_palestina.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 163px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SWv3oKXTWFI/AAAAAAAAATQ/JJaan9VHfDg/s320/jenazah_palestina.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290594456625698898" /&gt;&lt;/a&gt;Sehari menjelang tahun baru Masehi, aku berada di Magelang, bekerja. Dan tak ada perasaan atau pun persiapan apa-apa untuk menyambut malam tahun baru tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang maghrib aku tiba di Jogja. Setelah shalat maghrib dan makan, aku pun berangkat tidur dan bangun pukul tiga dini hari, lantaran belum shalat Isya. Sayup-sayup terompet dan kembang api memang sempat terdengar pada tengah malam, tapi semua itu tidak membuatku penasaran ingin keluar rumah. Malahan aku menutup telingaku dengan bantal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikata sikap dinginku itu dalam menghadapi tahun baru adalah sebentuk sikap empatiku atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di tanah Palestina. Betapa tidak, masyarakat Palestina yang tidak tahu apa-apa yang terjadi antara Hamas dan Israel menjadi korban kebrutalan serdadu Israel. Akhir Desember perang antara keduanya sudah terjadi, dan saat itu pula orang-orang Palestina tewas satu persatu dijadikan sasaran tembak tentara Israel. Dan tidak lebih dari satu minggu, kurang lebih 300 orang dipastikan tewas dan ratusan luka-luka.   &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dunia yang sudah mafhum dengan kebiadaban Israel itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain aksi demo dan memberi bantuan logistik (makanan dan obat-obatan) sebisanya. Masyarakat dunia (termasuk PBB dan anggota Liga Arab) tidak bisa menghukum Israel karena dilindungi Amerika. PBB dan anggota liga Arab sudah ompong dan pikun. Mereka semua hanya mementingkan dirinya sendiri. Ibarat perut kenyang yang sudah malas untuk berbuat apa-apa. Inginnya tidur melulu. Ibarat Pegawai Negeri yang sudah terjamin hidupnya, karena selalu dibiayai oleh duit rakyat, malas untuk melakukan kreatifitas lagi. Enggan untuk membantu kaum dhu’afa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kekejian Israel masih terus berlangsung, entah sampai kapan berakhir, dan korban yang tewas dari rakyat Palestina masih terus bertambah, hampir mencapai seribu. Dan masyarakat dunia, PBB dan anggota Liga Arab yang punya kuasa dan otoritas tetap tak ada aksi nyata dengan kuasanya itu, hanya bisa berkoar-koar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang aku? Aku pun hanya bisa menulis... tak berani menjadi anggota sukarelawan ke medan tempur sana. Maafkan aku Palestina…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6868798378366836443?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6868798378366836443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6868798378366836443&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6868798378366836443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6868798378366836443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/01/maafkan-aku-palestina.html' title='Maafkan Aku Palestina'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SWv3oKXTWFI/AAAAAAAAATQ/JJaan9VHfDg/s72-c/jenazah_palestina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4359736673220760122</id><published>2009-01-12T11:15:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:51:28.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Hidup'/><title type='text'>Doa Awal Tahun 2009</title><content type='html'>“Menurutku kebahagiaan itu identik dengan sukses dan kaya. Dan kesemuanya itu ibarat orgasme yang selalu ingin dirasakan berkali-kali, tanpa pernah lelah dan puas”(suara hati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada oktober 2008 aku mendapat kiriman buku dari penerbit Kaifa (Bandung).  Buku tersebut karangan Arvan Pradiansyah berjudul The 7 Laws of Happiness, dengan ketebalan mencapai 423 hlm. Tentu saja kiriman tersebut dimaksudkan agar aku dapat mengulasnya dengan baik dan dikirimkan (hasil ulasan tersebut) ke media massa, termasuk milis dan blog. Dan itu sudah kulakukan, meski media massa komersial tidak memuatnya. Tapi, aku sudah mempostingnya di blogku, khusus ulasan buku (http://resensor.blogspot.com). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca awal-awal buku tersebut, minimal ada tiga hal yang tergurat erat dalam benakku, 1) manusia hidup pada intinya adalah mencari kebahagiaan, 2) mencari kebahagiaan sejati jangan dengan hati tapi dengan otak (pikiran), dan 3) apakah sama  sukses dan bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pernyataan tersebut sedikit demi sedikit aku temukan jawabannya dalam buku Arvan tersebut. Meski dalam beberapa hal aku tidak sependapat dengannya. Hal ini patut dianggap wajar, bukan hanya karena dua manusia yang berbeda (antara aku dan Arvan) secara historis maupun psikologis, tapi juga secara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;experience&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;point of view,&lt;/span&gt; terutama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;de facto&lt;/span&gt; bahwa Arvan adalah seorang jutawan dan aku seorang “recehan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik (bagiku) dalam buku The 7 Laws of Happiness adalah Arvan ternyata banyak sekali mengambil bahan tulisannya dari ajaran agama, baik agama samawi maupun ardhi. Walau tak dapat dipungkiri dia lebih banyak mengambil ajaran dari agama Islam: Alquran dan Hadis, terutama saat ia mengutip sebuah Hadis yang menjelaskan tentang segumpal daging, bahwa jika daging tersebut baik maka baiklah seluruh organ tubuh dan ruhnya (hidupnya). Hanya saja ia sedikit mengubah hadis tersebut, bahwa daging tersebut bukanlah hati tapi otak. Benarkah? Sepengetahuanku (bacaan yang kubaca dari SD sampai PT) adalah kebalikannya, bahwa daging yang dimaksud Nabi Saw tersebut adalah hati. Entah dari mana Arvan mendapatkan bunyi hadis tersebut? Atau jangan-jangan dia mencoba mengadaptasikan pernyataannya dari hadis tersebut? Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik lainnya dari buku ini adalah Arvan mendeskripsikan kebahagiaan seperti bangunan rumah. Rumah kebahagiaan itu harus memiliki fondasi: sabar, syukur, dan sederhana. Sedang bangunannya adalah: kasih, memberi, dan memaafkan. Adapun puncaknya ialah pasrah, kemampuan berserah diri dan percaya kepada Tuhan. Ketiga komponen tersebut (fondasi, bangunan, dan puncak) harus mencakup hubungan seorang individu dengan diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Sungguh sebuah idealisasi yang tak tergoyahkan dan amat mapan. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah apakah kita bisa menerapkannya dengan baik dalam hidup kita? Jika sudah bisa, mampukah kita melakukannya secara konsisten dan dawam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Arvan mengatakan bahwa sukses itu tidak sama dengan bahagia. Buktinya, banyak orang sukses tapi tidak merasakan kebahagiaan. Pun dengan orang yang hidupnya dilimpahi dengan kekayaan, mereka tidak secara otomatis akan merasakan kebahagiaan. Benarkah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, aku harus percaya dengan kata-kata itu. Oleh karena itu, aku ingin berdoa, ‘Ya Tuhan beri aku kekayaan, setelah itu akan kukatakan bahwa ternyata kekayaan tidak mesti mendatangkan kebahagiaan’? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4359736673220760122?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4359736673220760122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4359736673220760122&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4359736673220760122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4359736673220760122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2009/01/lebih-bahagia-di-tahun-2009.html' title='Doa Awal Tahun 2009'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-7597953260781916462</id><published>2008-12-31T09:41:00.000+07:00</published><updated>2008-12-31T09:44:19.177+07:00</updated><title type='text'>8 Alasan Berbisnis Internet</title><content type='html'>Di bulan Ramadhan kemarin aku mengikuti sebuah seminar perihal bisnis berbasis internet di toko buku Gramedia. Sungguh menarik. Pembicaranya adalah mas Hengki Ferdianto, sarjana kedokteran UGM yang kini bekerja sebagai asisten dokter di Rumah Sakit Sardjito. Acara tersebut dimulai siang hari hingga menjelang buka puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Hengki bercerita bahwa tentang sebuah analogi pentingnya berbisnis internet saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ada sebuah desa di Italia mempekerjakan dua pemuda untuk membawa air dari sungai ke sebuah penampungan air di tengah desa. Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno. Keduanya masing-masing membawa 2 buah ember dan segera menuju sungai. Menjelang sore hari, keduanya telah mengisi penampungan air sampai mencapai sisi-sisi permukaannya. Kepala Desa menggaji mereka masing-masing berdasarkan jumlah ember air yang mereka bawa. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari punggung Pablo nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet akibat ia membawa 2 buah ember yang berat. Ia tidak lagi nyaman bekerja. Oleh karena itu, ia berpikir keras mencari akal bagaimana caranya membawa air dari sungai ke desanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bruno, saya punya rencana, daripada kita mondar-mandir membawa ember hanya untuk mendapatkan beberapa penny per hari, mengapa tidak sekalian kita membuat sebuah saluran pipa dari sungai ke desa kita?” ujar Pablo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saluran pipa! Ide apaan itu? kita kan sudah mempunyai pekerjaan yang sangat bagus, Pablo. Saya bisa membawa 100 ember sehari. Dengan upah 1 penny per ember, berarti penghasilan kita bisa 1 dolar per hari! Saya akan menjadi orang kaya!” jawab Bruno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tidak didukung oleh temannya, Pablo tetap menjalankan idenya sendirian. Ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Ia tetap bekerja mengangkut ember-ember air. Ia meluangkan separuh waktunya serta akhir minggu untuk membangun saluran pipanya. Dari awal, ia sudah menyadari bahwa akan sangat sulit baginya untuk menggali saluran di tanah yang mengandung batu karang. Ia pun menyadari, lantaran upahnya berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun otomatis menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pablo paham benar bahwa ia membutuhkan waktu 1 tahun atau bahkan 2 tahun, sebelum saluran pipanya bisa menghasilkan seseuatu yang berarti. Namun, ia yakin akan impian dan cita-citanya. Oleh karena itu, ia terus giat bekerja. Bruno dan orang-orang desa mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa”. Bruno yang berpenghasilan hamper 2 kali lipat daripada Pablo terus membangga-banggakan barang baru yang telah berhasil dibelinya. Orang-orang desa menyebutnya “Mr.Bruno”. Mereka selalu menyambutnya kalau dia mentraktir mereka minum di bar dan ikut tertawa-tawa saat ia menceritakan lelucon-leluconnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Bruno berbaring santai di jaring gantungan pada sore hari di akhir minggu, Pablo terus menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan pertamanya, Pablo memang tidak bisa menunjukkan hasil usahanya. Pekerjaannya memang sangat berat, bahkan lebih berat daripada pekerjaan Bruno karena Pablo pun harus bekerja pada malam hari, demikian pula di akhir minggu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti bulan. Pada suatu hari, Pablo menyadari bahwa saluran pipanya sudah setengah jadi. Berarti dia hanya perlu berjalan setengahnya dari jarak yang biasa ditempuh untuk mengisi ember-embernya. Kemudian, ia menggunakan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian sluran pipanya pun semakin mendekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus mengangkut ember-ember. Bahu Bruno tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia menyeringai kesakitan, langkahnya semakin lamban akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena ia menyadari bahwa ia “ditakdirkan” untuk terus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran pipanya sudah rampung. Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desanya. Sekarang, desa sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan orang-orang yang semula tinggal di sekeliling desa sengaja pindah ke sana. Desa itu pun kemudian terus tumbuh dan semakin makmur. Setelah saluran pipa selesai, Pablo sudah tidak perlu membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik saat ia sedang bekerja maupun tidak. Air mengalir di akhir minggu ketika ia asyik bermain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo. Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan “si manusia pipa”, sekarang menjadi lebih lebih terkenal dengan sebutan “si manusia ajaib”. Saat itu ia berencanan membangun saluran pipa di seluruh dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah analogi yang jitu akan dahsyatnya internet. Sarana internet merupakan terobosan dalam bidang tekonologi dan bisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain analogi di atas, ada delapan alasan yang perlu anda ketahui letak pentingnya berbisnis internet:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;peningkatan pemakai dan pelanggan internet yang signifikan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; bisnis berbasis internet tidak dibatasi oleh ruang dan wilayah &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; modal yang diperlukan kecil&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; bisnis berbasis internet bisa berlangsung 24 jam &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kelima, &lt;/span&gt;bisnis internet bisa berjalan secara otomatis&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keenam,&lt;/span&gt; tidak membutuhkan ruang kantor, tetapi jika memerlukan, kantor pun tidak harus luas&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketujuh,&lt;/span&gt; anda bisa menjadi bos bagi diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedelapan,&lt;/span&gt; bisnis internet tidak dipengaruhi oleh cuaca, kemacetan lalu lintas, dan hambatan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya dipaparkan secara gamblang kedelapan poin di atas. Buku ini juga dilengkapi dengan bagaimana cara mempromosikan website bisnis kita, mulai dari email hingga mempromosikan di google adWords.  Selain itu, buku ini pun memberikan fakta para pebisnis internet yang beberapa di antaranya sudah tidak asing lagi di telinga kita, seperti Jerry Yang dan David Filo pemilik Yahoo, dan Jeff Bezos pendiri www.amazon.com. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-7597953260781916462?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/7597953260781916462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=7597953260781916462&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7597953260781916462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/7597953260781916462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/12/8-alasan-berbisnis-internet.html' title='8 Alasan Berbisnis Internet'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6033577897386100975</id><published>2008-12-28T21:08:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:51:58.718+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Hidup'/><title type='text'>Kalah Terhormat</title><content type='html'>Akhirnya muncul juga kabar itu, setelah sehari semalam aku menunggunya, dengan jantung dag-dig-dug. Tapi apa lacur, kabar itu nampaknya tidak terdengar syahdu di telingaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak apalah, mungkin ini sudah menjadi suratan takdirku. Tak ada cara lain, selain menerima kenyataan itu dengan sabar dan pasrah. Dan harus diakui dia memang lebih baik dariku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku terima kekalahan ini dengan gentle, karenanya kekalahanku adalah kekalahan terhormat. Lantaran usahaku lumayan maksimal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kekalahan harus dihadirkan dengan tangisan dan ratapan?&lt;br /&gt;Apakah ada episode selanjutnya yang ternyata lebih indah ketimbang jika aku meraih impianku yang tak sampai ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungi sebuah kekalahan dengan keridhaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul kata orang bijak bahwa kekalahan hanyalah kerikil kecil yang membuat kakiku harus lebih hati-hati lagi.&lt;br /&gt;* * * &lt;br /&gt;Beberapa teman mencoba menghiburku dengan tulus (kuucapkan terima kasih pada mereka semua):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar ya semoga Allah memberikan yang terbaik buat kang Iqbal, amin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetap sabar kawanku! Sudah disiapkan-Nya jalan yang lain untukmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar usiamu masih muda. Masih banyak waktu berjuang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya paling tidak pengalaman. Semoga kesempatan lain ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang ini dari Abahku di kampung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak lulus bukan segalanya. Masih banyak bidang-bidang yang lain yang harus digarap dan ini juga bagian dari ujian hidup yang menjadi motivasi dalam menghadapi hidup. Sabar … sabar… dan sabar… tawakal pada Allah dan lebih dekat lagi. Abah selalu mendoakan. Amin..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;So, siapa berikutnya yang mau menghiburku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6033577897386100975?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6033577897386100975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6033577897386100975&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6033577897386100975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6033577897386100975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/12/kalah-terhormat.html' title='Kalah Terhormat'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-4337279425015183427</id><published>2008-12-28T14:09:00.000+07:00</published><updated>2009-03-10T11:51:58.719+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Hidup'/><title type='text'>Dia Yang Berada Di Balik Kesuksesan Para Ulama Muslim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SVcnz5xQqFI/AAAAAAAAATA/zX_q5yhCn3k/s1600-h/ibu-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 248px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SVcnz5xQqFI/AAAAAAAAATA/zX_q5yhCn3k/s320/ibu-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284736460376811602" /&gt;&lt;/a&gt;Refleksi Hari Ibu&lt;br /&gt;Persembahan bagi para ibu (khususnya ibuku) &lt;br /&gt;- - - - - - - - - - - - - - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu kita mencari jawaban mengapa kita harus menghormati orangtua. Selain naluri sebagai anak, Islam pun sudah mengatur hal ini, bahwa kita—sebagai anak—harus menghormati orangtua. Lihat, misalnya, dalam Alquran surat 17 ayat 23. Dan dalam Hadis pun kurang lebih sama, bahkan lebih tegas lagi. Misalnya Hadis di bawah ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbuat baiklah kepada kedua orangtuamu, sebab hanya dengan begitulah anak-anakmu nanti akan berbuat baik kepadamu, dan jagalah kesucian dirimu, sebab hanya dengan begitulah istrimu akan terjaga kesuciannya.” (HR. Bukhari) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hadis lain kita diperintahkan oleh Nabi untuk menghormati ibu kita agak dominan. Mengingat jasa ibu yang begitu besar bagi perkembangan kita, sebagai anak. Paling tidak ada dua Hadis yang memperlihatkan dan memperkuat hal tersebut. Pertama, Hadis yang sudah sering kita dengar, “Surga berada di telapak kaki ibu” (HR. Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Hadis yang bunyinya, “Ada seorang pemuda mendatangi Nabi dan bertanya, ‘Siapa yang paling pantas kucintai dan kuhormati?” Nabi menjawab, “Ibumu!”, “dan yang kedua?” “Ibumu!”, “dan yang ketiga?” Nabi menjawab, “Ibumu!”, “terus siapa lagi?”, “(Baru) ayahmu!” (HR. Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Islam menghormati kaum perempuan (baca:Ibu) karena peranannya begitu besar dalam kehidupan, terutama kehidupan seorang anak. Jalaluddin Rumi berkomentar tentang seorang ibu dalam Matsnawi, “(Karena) kelembutan ibu berasal dari dari Tuhan, merupakan kewajiban suci dan tugas mulia bagi kita untuk berbakti kepadanya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran sesungguhnya jika kita menyadari bahwa kita dibesarkan oleh ibu kita, karena sedari kecil kita lebih interaktif dengan ibu dibanding ayah. Kita dirawat dan dijaga dengan baik oleh sang ibu. Maka secara tidak langsung watak kita akan terpengaruh oleh ibu. Kelembutan hatinya mampu mencurahkan kasih sayang kepada kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah juga diceritakan bagaimana para tokoh besar dalam Islam berkat asuhan sang ibu. Bukhari adalah salah satu contohnya. Hampir semua kaum muslim pernah mendengar namanya. Melalui karyanya Shahih al-Bukhari ia dikenal baik, karena karyanya dianggap compatible di bawah Alquran. Dan kita   semua berhutang budi padanya karena kita jadi tahu Hadis-Hadis shahih. Bukhari menjadi sukses tidak lepas dari “campur tangan” ibunya. Karena ibunya lah ia berbudi baik, dan berpendidikan tinggi. Konon, kekayaan ibunya dicurahkan untuk Bukhari dalam membiayai mencari ilmunya. Sungguh, pengorbanan ibu yang sangat luar biasa. Imam Syafi’i, kurang lebih hampir sama dengan Bukhari yang mempunyai ibu luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annemarie Schimmel menulis begitu dalam mengenai hal peranan perempuan, terutama dalam bidang tasawuf. Melalui bukunya Jiwaku Adalah Wanita dia mengatakan bahwa para ibu memainkan peranan menentukan dalam biografi orang-orang suci Chisyti dari India utara. Betapa para ibu orang-orang suci begitu dihormati di sana. Di Mehrauli, misalnya, para pengunjung perempuan ke pusara Quthbuddin Bakhtiyar Kaki (w. 1235) untuk meletakkan karangan bunga di atas kuburan ibunya dan anggota-anggota keluarganya yang perempuan. Hal sama juga pada kuburan Burhanudin Gharab (w. 1338) di Khuldabad di Dekan atau pusara ibu Maulana Rumi di Karaman (Anatolia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di India, Fariduddin Ganj–i Syakar, sufi tersohor pada masanya, sebenarnya turunan dari seorang ibu yang saleh. Fariduddin mengaku bahwa seluruh keberhasilannya adalah berkat ibunya, yang diyakini memiliki mukjizat dapat membutakan seorang pencuri yang memasuki rumahnya. Setelah si pencuri bertobat atas perbuatannya yang salah, ibunya mengembalikan penglihatan si pencuri tersebut dan orang itu pun masuk Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini saya ingin menutup dengan ulasan mengenai puisi yang menceritakan seorang ibu. Puisi-puisi yang ditulis para penyair Islam begitu dalam maknanya. Di dalamnya telah diekspresikan rasa terima kasih dan kecintaan kaum muslim kepada ibu-ibu mereka. Muhammad iqbal, misalnya, seorang filsuf dan penyair India menulis puisi tentang ibunya: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapakah itu, yang menungguku di rumah, berdoa untukku, &lt;br /&gt;Dan merasa khawatir ketika surat-surat datang  terlambat?&lt;br /&gt;Pada pusaramu akan kutulis pertanyaan ini:&lt;br /&gt;Siapa yang ingat kepadaku dalam salat malamnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga ditulis oleh Jalaludin Rumi dalam Matsnawi-nya mengenai sang ibu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemarahan para nabi itu seperti kemarahan para ibu, &lt;br /&gt;Kemarahan yang dipenuhi kasih sayang bagi anaknya tercinta &lt;br /&gt;Sebab tidak ada ibu yang memarahi anaknya hanya untuk mendapatkan kesenangan, &lt;br /&gt;Melainkan untuk membantunya mengerti. &lt;br /&gt;Akankah dia membiarkan anaknya berlumuran darah jika dia tidak tahu &lt;br /&gt;Bahwa sedikit rasa sakit dapat mendatangkan kebaikan pada anak itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk para ibu, selamat berhari raya. &lt;br /&gt;Ibuku yang ada di kampung, semoga selalu berada dalam lindungan-Nya. Maafkan anakmu ini, yang masih saja merepotkanmu, alih-alih membahagiakanmu. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-4337279425015183427?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/4337279425015183427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=4337279425015183427&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4337279425015183427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/4337279425015183427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/12/dia-yang-berada-di-balik-kesuksesan.html' title='Dia Yang Berada Di Balik Kesuksesan Para Ulama Muslim'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SVcnz5xQqFI/AAAAAAAAATA/zX_q5yhCn3k/s72-c/ibu-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6783575641499211901</id><published>2008-12-25T11:12:00.000+07:00</published><updated>2008-12-25T11:28:57.219+07:00</updated><title type='text'>SELAMAT NATAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SVMLz8ZjjII/AAAAAAAAAS4/z8qwfo2dIRM/s1600-h/nASatal.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SVMLz8ZjjII/AAAAAAAAAS4/z8qwfo2dIRM/s320/nASatal.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283579774850272386" /&gt;&lt;/a&gt;BAGI KAWAN-KAWANKU YANG BERAGAMA NASRANI&lt;br /&gt;KU UCAPKAN.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"  &gt;SELAMAT NATAL &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMOGA ALLAH MEMBERKAHI KITA SEMUA&lt;br /&gt;AMIN...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6783575641499211901?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6783575641499211901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6783575641499211901&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6783575641499211901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6783575641499211901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/12/selamat-natal.html' title='SELAMAT NATAL'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SVMLz8ZjjII/AAAAAAAAAS4/z8qwfo2dIRM/s72-c/nASatal.gif' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-6106662822578079202</id><published>2008-12-03T06:44:00.000+07:00</published><updated>2008-12-05T17:32:25.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Misteri Sebuah Nama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/STXJz7ipktI/AAAAAAAAASI/TsxWXHxG41U/s1600-h/rembrandt_sacrifice401x600.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/STXJz7ipktI/AAAAAAAAASI/TsxWXHxG41U/s200/rembrandt_sacrifice401x600.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275344432527938258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Senin, 8 Desember 2008 bertepatan dengan 10 Zulhijah 1429 H umat Islam akan melaksanakan Hari Raya Idul Adha. Hari raya ini disebut juga Hari Raya Kurban. Karena pada hari itu diadakan kurban yang berupa penyembelihan binatang ternak: Unta, kerbau, sapi, domba atau kambing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan kurban, adalah sebuah ayat Alquran menjadi asal-muasal adanya perintah berkurban tersebut, yaitu dalam surat As-Saffat (37) dari ayat 102 sampai 107. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat itu menceritakan bahwa Ibrahim bermimpi dirinya diperintah Allah untuk menyembelih anaknya. Dan anaknya pun pasrah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun saat hendak disembelih Allah pun menggantinya dengan kambing sambil menjelaskan bahwa itu adalah hanyalah ujian bagi Ibrahim. Nah, dalam ayat-ayat tersebut tidak disebut secara pasti putra Ibrahim yang mana yang hendak disembelih tersebut? Apakah Ismail atau Ishak? Pertanyaan lebih lanjut, ada rahasia apa di balik tidak disebutkannya di antara dua nama tersebut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dua Pandangan Ulama &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam lintasan sejarah ada dua kubu ulama berbeda pandangan tentang siapa yang hendak disembelih di antara kedua putra Ibrahim itu. Wajar sebetulnya kedua pandangan itu muncul, karena imbas dari pada hal di atas. Sebagian ada yang menyebut Ismail, anak Ibrahim dari hasil perkawinannya dengan Hajar, isteri kedua. Dan ada pula yang menyatakan Ishak, anak Ibrahim dari hasil perkawinannya dengan Sarah, isteri pertama. &lt;br /&gt;Rentang usia Ismail dan Ishak sendiri sebetulnya begitu berjauhan. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Qur`an al-Karim (Juz IV hlm.16) menjelaskan bahwa Ismail lahir saat Ibrahim berumur 86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahim berumur 99 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama menyatakan bahwa Ismail lah yang hendak disembelih waktu itu. Hal ini berdasarkan data historis yang menjelaskan bahwa penyembelihan tersebut berlangsung di Mekah. Oleh karena tempatnya di Mekah, maka hampir dipastikan bahwa Ismail lah yang dimaksud anak tersebut, karena Ishak sepanjang hidupnya tidak pernah sampai ke sana. Selain data itu, tanduk hewan kurban, pengganti Ismail, digantung di Ka’bah. Pendapat ini dikemukakan oleh sejumlah sahabat Nabi dan tabi’in: Abu Hurairah, Abu Thufail, Amir bin Watsilah, Sa’id ibn al-Musayyab, Yusuf bin Mihran, Rabi’ bin Anas, dan Muhammad ibn Ka’b al-Quradhiy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua menyatakan bahwa Ishak lah orangnya. Mereka berdasarkan pada &lt;br /&gt;Hadis Nabi SAW dan data historis juga. Tanduk domba yang digantung di Ka’bah itu, kata mereka, dibawa Ibrahim dari negeri Kan’an, tempat tinggal Ishak. Pendapat ini diikuti oleh Abdullah ibn Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khaththab, Jabir, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Alqamah, Sya’biy, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ka’ab al-Ahbar, Qatadah, Masruq, Ikrimah, Qasim bin Abi Bazzah, Atha`, Abdurrahman bin Sabith, al-Zuhry, al-Sadiy, Abdullah bin Abi al-Hudzail, dan Malik bin Anas. Untuk lebih rincinya  silakan lihat kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Jilid VIII, halaman 87 karangan Al-Qurthubiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan pandangan kedua, Perjanjian Lama juga menyebutkan bahwa bahwa Ishak lah yang akan dikurbankan, bukan Ismail. Bunyi pernyataannya yaitu, “Tuhan berfirman kepada Ibrahim, ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu’” (Kejadian, 22: 2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kedua pandangan yang berbeda di atas mempunyai satu kesamaan landasan argumentasi, yaitu sama-sama menyandarkan data-data sejarah, yang notabene-nya sangat sulit untuk dibuktikan secara empiris. Walhasil, kedua pandangan di atas sangat sulit kita terima dengan akal sehat. Harus diakui bahwa tidaklah mudah kita buktikan kebenaran kisah-kisah dalam Alquran. Semuanya bersifat spekulatif dan membingungkan masyarakat awam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, amatlah rentan sebenarnya jika Alquran didekati dengan pendekatan kritik sejarah, karena mengharuskan peristiwa-peristiwa itu tersusun secara kronologis, padahal sebagaimana dikemukakan Kenneth Cragg (1971), “It is not arranged in chrological order”. Dan tampaknya akan lebih bijaksana jika penggunaan kisah-kisah Alquran itu dijadikan sebagai moral sejarah, yang dapat kita ambil pelajarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan Alternatif  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sebenarnya ada sebuah pertanyaan alternatif yang lebih bermanfaat nan bijak dibanding pertanyaan ‘Ismail atau Ishak yang hendak dikurbankan Ibrahim?’, yaitu ‘mengapa Tuhan menyembunyikan sebuah nama yang hendak dikurbankan Ibrahim?’ Saya percaya bukan tanpa maksud Tuhan tidak menyebutkan dengan jelas siapa yang hendak dikurbankan Ibrahim tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, bahwa esensi kisah kurban ini adalah uji ketaatan bagi Ibrahim untuk merelakan sesuatu yang paling dicintainya. Apakah dirinya rela mengorbankan sesuatu yang dicintainya (baca: anaknya) demi Tuhan? Tidak soal siapa—Ismail atau pun Ishak—yang dikorbankan tersebut, karena pada akhirnya yang dijadikan kurban adalah domba oleh Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah paling tidak terdapat tiga unsur: Tokoh, peristiwa, dan dialog. Ketiga unsur ini terdapat pada hampir seluruh kisah dalam Alquran. Hanya saja tampilan ketiga unsur itu tidak sama, terkadang salah satunya tampil secara menonjol, sedangkan kedua unsur lainnya hanya sedikit, bahkan menghilang. Maksud Tuhan menyuguhkan kisah dengan model itu tak lain adalah agar pembaca dapat fokus pada salah satu unsur tersebut, sehingga pengambilan pelajaran bisa efektif. Nah, dalam kisah Ibrahim ini, yang ditonjolkan adalah (tokoh) Ibrahim yang sedang diuji ketaatannya. Dengan begitu, pembaca dapat memfokuskan diri pada tokoh tersebut dan mengambil pelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya dapatlah kita ambil pelajaran dari peristiwa kurban ini, bahwa kecintaan Ibrahim kepada Tuhan melebihi segalanya. Kecintaan tersebut justru menumbuhkan nilai humanis dalam diri Ibrahim. Ia adalah seorang ayah yang egaliter yang meminta pendapat anaknya saat hendak melakukan sesuatu. Walhasil, kedua anaknya pun (Ismail dan Ishak) menjadi anak yang taat pada Tuhan dan orang tua. Pelajaran lainnya yang tak kalah penting yaitu bahwa  Tuhan tidak pernah membenarkan pembunuhan manusia sebagai jalan beriman. Itulah kemudian Tuhan menggantikan Ismail/Ishak dengan binatang sembelihan saat hendak dikurbankan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-6106662822578079202?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/6106662822578079202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=6106662822578079202&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6106662822578079202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/6106662822578079202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/12/misteri-sebuah-nama.html' title='Misteri Sebuah Nama'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/STXJz7ipktI/AAAAAAAAASI/TsxWXHxG41U/s72-c/rembrandt_sacrifice401x600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-255925837898996236</id><published>2008-11-30T14:53:00.000+07:00</published><updated>2008-11-30T14:57:07.978+07:00</updated><title type='text'>Bahagia Dengan Otak Kanan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/STJHRlE0sEI/AAAAAAAAAR4/Dube1bZrA4c/s1600-h/THE+7+LAWS+OF+HAPPINESS+(Arvan+Pradiansyah)_cover.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/STJHRlE0sEI/AAAAAAAAAR4/Dube1bZrA4c/s200/THE+7+LAWS+OF+HAPPINESS+(Arvan+Pradiansyah)_cover.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274356480939962434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul : The 7 Laws of Happiness&lt;br /&gt;Penulis : Arvan Pradiansyah&lt;br /&gt;Penerbit : Kaifa&lt;br /&gt;Cetakan : I, Sept 2008&lt;br /&gt;Tebal :  428 hlm&lt;br /&gt;Bahagia Dengan Otak Kanan&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;Taufiq Pasiak (2006) mengatakan sedikitnya ada dua ilmu (sains) yang mengalami perkembangan pesat akhir-akhir ini jika dikaitkan dengan pengungkapan hakikat diri manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ilmu itu adalah fisika kuantum yang berkaitan dengan eksplorasi alam semesta dan selanjutnya berimplikasi pada posisi manusia di dalam universum (alam semesta) dan neurosains (ilmu tentang otak), terutama neurosains kognitif yang mempelajari otak manusia hingga tahap molekuler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neurosains mengkaji diri manusia sebagai proses yang berlangsung pada tingkat sel saraf. Neurosains bahkan mempelajari hingga proses perhubungan manusia dengan Tuhan. Pelbagai penemuan neurosains sangat berguna tidak saja dalam bidang kedokteran, tetapi juga dalam bidang lainnya, seperti manajemen dan bisnis, psikologi, filsafat, dan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dalam bidang neurosains meliputi salah satunya kajian tentang neurokimiawi, yang dapat mengetahui kegiatan-kegiatan otak, mulai dari kegiatan sederhana seperti bergerak, sensasi, hingga kegiatan tingkat tinggi seperti berbahasa dan berpikir. Apa yang disebut kegiatan-kegiatan “jiwa”, misalkan tampilan-tampilan emosi (marah, sedih, gembira, dan lain-lain), ternyata sangat berkaitan dengan zat kimia otak. Zat mirip morfin, namanya endorfin, yang dihasilkan otak diketahui ternyata berperanan dalam menimbulkan rasa gembira pada seorang manusia, atau adrenalin, dopamine, dan serotonin ternyata memainkan peran dalam menimbulkan rasa senang dan cemas, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang yang mengatur emosi manusia berada dalam sistem limbik, yaitu bagian otak mamalia yang dikelompokkan sebagai paleocerebri’ (‘otak tua’). Daerah ini relatif sama pada manusia dan mamalia lain. Ia mengatur aspek sosial maupun privat dari emosi manusia. Bagian sistem limbik bernama amygdale yang mengatur hubungan langsung dengan kulit otak sebagai pusat berpikir. Adanya komponen ini membuat manusia menjadi makhluk yang tidak melulu berpikir, tetapi juga merasa. Dimensi inilah yang membangun hubungan antara manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya paradigma keilmuan di atas dijadikan pijakan oleh Arvan Pradiansyah dalam bukunya ini. Arvan sesungguhnya menjabarkan neurosains yang dapat dipakai dalam bidang Sumber Daya Manusia (SDM). SDM seseorang sejatinya akan melejit jika dapat mengelola pikirannya. Dengan kata lain, pikiranlah yang sebenarnya sangat memainkan peran penting terhadap segala sesuatu yang menyangkut diri seseorang, baik menyangkut jasmani maupun rohani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan pentingnya pikiran tersebut, menggerakkan Arvan untuk membuat sebuah metode bagaimana menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhatian pada pikiran positif tersebut. Pemilihan pikiran itu sendiri akan dapat merangsang terciptanya pola-pola baru, kombinasi-kombinasi baru antara sel-sel saraf dan neurotransmitter, yaitu zat kimiawi yang mengirimkan pesan-pesan di antara sel-sel saraf, khususnya dalam hal kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arvan sendiri mengakui bahwa The 7 Laws sebenarnya terinspirasi dari 7 Habits karya Stephen Covey. Namun, jika Covey menggambarkan perjalanan manusia yang dimulai dari dependensi menuju independensi dan berhenti di interdependensi sebagai suatu bentuk bentuk kematangan tertinggi manusia, sedang The 7 Laws menggambarkan sebuah perjalanan melingkar, yaitu dimulai dari dependensi ke independensi, ke interdependensi, dan kembali ke dependensi. Inilah yang membedakan dengan konsep 7 Habits karya Stephen Covey tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rumusan Kebahagiaan&lt;/strong&gt;Setelah Arvan menjabarkan bangunan teorinya mengenai kekuatan pikiran, maka ia kemudian memasuki wilayah ‘bahagia’. Sungguh, tak bisa dipungkiri oleh siapa pun, bahwa inti hidup kita adalah sebenarnya mencari kebahagiaan. Terlepas jalannya seperti apa. Hal ini, secara tak langsung dipahami dengan baik oleh Arvan, bahwa buku mengenai kebahagiaan sangatlah sedikit, ketimbang buku tentang meraih kesukesan. Padahal, kesuksesan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang berbeda. Buktinya, banyak orang sukses tapi ternyata tidak bahagia. Kesuksesan hanyalah bagian kecil dari bahagia yang sifatnya relatif tersebut.    &lt;br /&gt;Selain itu, menurutnya, hakikat kebahagiaan yang sejati berasal dari pikiran, bukan dari hati. Hati itu tidak jelas letaknya di mana; di jantung, empedu, ginjal atau organ yang lainnya, dan sifatnya pun bisa bolak-balik. Sedang pikiran pasti menunjukkan pada satu tempat, yaitu otak. Maka kemudian, Arvan meyakini bahwa untuk mencapai kebahagiaan maka yang harus kita lakukan adalah dengan cara memilih pikiran yang positif. Dengan pikiran tersebut, kita akan senantiasa dipenuhi oleh rasa bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arvan pun memberikan contoh konkrit, bahwa salah satu cara mengisi pikiran kita dengan hal yang positif yaitu dengan cara menghindari bacaan dan tontonan yang berdampak negatif. Dalam hal ini acara Empat Mata di stasiun televisi swasta kena damprat oleh Arvan, lantaran dianggap sebagai salah satu tontonan yang akan mematikan belas kasih. Untunglah, saat ini acara yang dipandu Tukul tersebut sudah dilarang tayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini secara terperinci memberikan pelatihan pikiran yang sistematis dan metode bagaimana menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan memfokuskan perhatian pada pikiran positif tersebut. Sebaliknya, buku ini juga melatih bagaimana membuang pikiran-pikiran negatif yang masuk ke kepala kita dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi. Arvan kemudian merumuskan hal tersebut dengan menyebutnya  The 7 Laws of Happines. Ketujuh rahasianya tersebut dibagi dalam tiga kelompok besar. Tiga rahasia pertama berkaitan dengan diri kita sendiri, yaitu Patience (Sabar), Gratefulness (Syukur), dan Simplicity (Sederhana). Tiga rahasia berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain, yaitu Love (Kasih), Giving (Memberi), dan Forgiving (Memaafkan). Satu rahasia terakhir berkaitan dengan Tuhan, yaitu Surender (Pasrah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Arvan memberikan jaminan bahwa ketujuh rumusannya itu akan mendatangkan kebahagaiaan, asalkan: Dipraktikan dan dilatih secara berulang-ulang. Hal itu senada dengan sebuah pernyataan yang dilontarkan Aristoteles bahwa keberhasilan hidup adalah memang sebuah kebiasaan yang diulang-ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat patut dibaca dan (lebih penting lagi) dipraktikan serta kemudian dilatih secara berulang-ulang dalam hidup kita. Jadi, harus menunggu apalagi jika anda ingin meraih bahagia? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-255925837898996236?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/255925837898996236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=255925837898996236&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/255925837898996236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/255925837898996236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/11/bahagia-dengan-otak-kanan.html' title='Bahagia Dengan Otak Kanan'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/STJHRlE0sEI/AAAAAAAAAR4/Dube1bZrA4c/s72-c/THE+7+LAWS+OF+HAPPINESS+(Arvan+Pradiansyah)_cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-100676282882226149</id><published>2008-11-24T19:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-05T17:32:48.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Menjadi Pegawai Negeri Sipil, Mau?</title><content type='html'>Beberapa bulan lalu aku di telpon sama ibuku, “A i-i (panggilan akrabku di keluarga), sebentar lagi ada pembukaan CPNS, syarat-syaratnya segera disiapkan ya, biar nanti pas waktu pembukaan sudah gak perlu repot-repot lagi. Pokoknya harus daftar, entah di mana pun daftarnya. Siapa tahu keberuntungan berpihak pada kamu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun hanya mengiyakan, tanpa memperpanjang jawaban. Apa pasal, jujur saja aku sangat malas untuk daftar CPNS, minimal untuk mengurus syarat-syaratnya, yang membuatku selalu kerepotan, harus kesana kemari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama berurusan dengan kepolisian dan depnaker. Maksimalnya, tentu saja banyak, misalnya ikut tes CPNS hanya ikut-ikutan, latah, dan partisipan saja. Lha, wong tahun lalu aku pernah ikut. Formasi untuk bidangku biasanya cuma membutuhkan 1 orang. Sedang yang daftar ratusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, bulan November ini, tepatnya tanggal 17-21, telah dibuka secara resmi pendaftaran CPNS di berbagai daerah. Banyak teman memberi tahuku prihal pembukaan CPNS tersebut entah lewat email, handphone, maupun saat berpapasan denganku. Begitu juga sebaliknya, beberapa teman maupun kenalan menanyakan formasi di UIN Sunan Kalijaga, yang barangkali ada yang sesuai dengan ijazah mereka. Intinya, mereka begitu antusias adanya pembukaan CPNS ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sarjana Pengangguran?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabtu (15 November 2008), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan wisuda priode IV 2008. Mahasiswa yang diwisuda mencapai ratusan dari berbagai fakultas. Beberapa perguruan tinggi lain pun di Yogyakarta mengadakan wisuda juga. Dan barangkali di kota-kota lainnya telah mengadakannya juga. Fenomena wisuda, yang kemudian wisudawan/ti disebut dengan sarjana, yang selalu ada tiap tahunnya dan jumlahnya terus membengkak dari tahun ke tahun membuat pasar tenaga kerja di sektor formal kewalahan dalam menampung semua sarjana tersebut. Akibatnya, sejumlah alumni universitas tersebut harus memperoleh predikat “sarjana pengangguran”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, fakta tersebut menemukan momentumnya pada saat ini. Salah satu pekerjaan di sektor formal yang diincar para sarjana telah dibuka pada beberapa hari yang lalu, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, ribuan lulusan universitas telah mendaftar. Bahkan yang sudah punya pekerjaan sekalipun, mereka turut serta daftar CPNS. Motivasinya hampir bisa ditebak, adalah memberikan keamanan secara finansial, tak tanggung-tanggung seumur hidup. Selain mendapat gaji setiap bulannya, jenjang karir yang menjanjikan, Pegawai Negeri Sipil pun kelak memperoleh penghasilan yang disebut dengan gaji pensiun. Mindset seperti itulah yang bersemayam di banyak benak rakyat Indonesia (Jangan tanya aku apakah aku termasuk di dalamnya juga atau tidak, ha ha ha). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tak habis pikir, kok tega amat sih (padahal Pak Amat dan Bu Amat aja gak tega ^_^) orang-orang meniatkan mencari ilmu dalam rangka mencari kerja kelak setelah mereka lulus kuliah. Bukankah ini penghinaan terhadap dunia keilmuan dan pendidikan? Pasalnya, jika dunia keilmuan diniatkan dengan mencari kerja, maka alangkah rendahnya kita memandang sebuah ilmu. Aku pikir, tidak ada kaitannya antara kuliah dan pekerjaan. Karena sudah barang tentu, di bangku kuliah kita tidak diajarkan bagaimana meraih finansial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal itu, aku jadi teringat sebuah judul buku yang sangat berani dan melawan mainstream, If You Want To Be Reach Don’t Go To School! karangan Robert Kiyosaki. Sayangnya, aku belum menemukan buku tersebut, baik versi asli maupun terjemahannya (Upss... memangnya sudah ada terjemahannya?). Tapi sedikit berani saya menduga sebagaimana yang aku katakan di atas bahwa di bangku kuliah kita tidak diajarkan bagaimana mendapatkan uang. Jadi, jika anda ingin mencari uang dan kekayaan maka buat apa sekolah/kuliah? Bangku pendidikan bukanlah bangku untuk mencari uang kelak, tapi mencari ilmu dan keahlian. Maka, kalau kuliah diartikan sebagai pencarian keahlian, sehingga kelak untuk mendapatkan pekerjaan, bolehlah, ha-ha-ha… (dasar munafik kau iqbal!)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Entrepreneurship &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Temanku, mahasiswa fakultas ekonomi di UGM, pernah mengatakan bahwa pola pikir (mindset) khalayak mahasiswa maupun lulusan mahasiwa selalu saja berputar pada bagaimana kelak mendapat pekerjaan yang nyaman, gaji terjamin, dan segala fasilitas yang sudah disediakan dari pemberi kerja. (Sebaliknya) sangat jarang yang ingin menjadi wirausahawan, yakni dengan membuka pekerjaan di mana dapat membuka pula kesempatan kerja untuk orang lain. Dengan kata lain, mereka telah kehilangan semangat untuk menjadi wirausaha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, lanjut dia, secara nasional, kewirausahaan dapat menjadi pendorong kemajuan ekonomi suatu bangsa. Mengutip pendapat Prof Didik J. Rachbini, masalah kewirausahaan merupakan persoalan paling penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang membangun. Jika suatu bangsa tidak memiliki modal manusia ini, maka jangan berharap ada kemajuan yang berarti pada bangsa tersebut. Begitu pentingnya kewirausahaan, sehingga dianggap sebagai tonggak maju suatu bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ada yang terlupakan oleh sahabatku itu, bahwa para sarjana punya alasan mengapa mereka tidak berwirausaha, yaitu tidak adanya modal. Modal finansial terutama. Harus diakui, modal seringkali dijadikan kambing hitam mengapa orang tidak lantas berwirausaha. Rasional memang. Tapi tidak sepenuhnya benar. Tanpa modal kita memang tidak bisa melakukannya, tapi modal bukanlah segala-galanya. Banyak jalan sesungguhnya jika kita memang berniat untuk berwirausaha. Buku-buku tentang berwirausaha hampir tidak menomorsatukan modal finansial. Mereka lebih menitikberatkan pada kemauan yang kuat, dan keahlian, serta saudara-saudaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Krisis Ekonomi Global Modal Kebangkitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dunia sedang dilanda krisis global, khususnya krisis ekonomi, lantaran negara adi daya Amerika Serikat dirundung paceklik. Indonesia ikut-ikutan kena imbasnya. Payah memang. Beberapa perusahaan tidak bisa mengekspor barang-barangnya. Pun sebaliknya, perusahaan-perusahaan negara lain tidak bisa mengimpor ke negara kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal ini mestinya menjadi pemacu kita untuk bangkit. Haryanto Adikoesoemo, Presiden Direktur PT AKR Corporindo Tbk, yang baru-baru ini dinobatkanan menjadi Ernst&amp;Young Indonesia Entrepreneur of the Year 2008, mengatakan masa-masa kritis seperti ini akan membuat manusia akan menemukan kekuatan baru untuk bangkit yang akhirnya berhasil berdiri di tengah keterpurukan, dalam hal ini tumbuhnya jiwa wirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu mencontohkan pada saat krisis ekonomi tahun 1998 yang dialami Indonesia, justru memunculkan banyak entrepreneur baru akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Pada waktu itu banyak orang banting setir dari sosok manusia 'gajian' menjadi wirausaha termasuk berdagang kaki lima, buka toko, cafe, restoran dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah, tapi tak sulit pula untuk diamalkannya. Beberapa buku yang aku baca mengenai kewirausahaan mengatakan bahwa kunci sukses sebagai seorang entrepreneur harus mempunyai mimpi atau vision, dan juga disiplin, ulet, kerja keras untuk mencapai visi.  Sehingga dengan keuletan diharapkan  bisa merealisasikan mimpi menjadi kenyataan. Maka, ‘seleksi alam’ sangat berlaku dalam hal ini. Mudah-mudahan aku bisa menjadi entrepreneur sejati yang berhasil diseleksi alam, di mana saat ini aku sedang menggeluti dunia peternakan dan perikanan, di samping mengajar dan menulis. Untuk khalayak pembaca mohon doanya ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-100676282882226149?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/100676282882226149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=100676282882226149&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/100676282882226149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/100676282882226149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/11/menjadi-pegawai-negeri-sipil-mau.html' title='Menjadi Pegawai Negeri Sipil, Mau?'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3259738449064181778</id><published>2008-11-21T09:48:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T09:51:56.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Kepenulisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Merencanakan Hidup Sukses dan Bahagia Dengan Menulis</title><content type='html'>Paparan Hernowo dalam bukunya yang berjudul Vitamin T (MLC:2004) begitu menginspirasi hidup saya.Pasalnya, dalam buku itu ada sub judul Lebih Baik Punya Tujuan Hidup atau Peta Hidup? Bab ini membuat saya tersadarkan dari tidur panjang saya bahwa hidup memang harus punya tujuan atau peta, agar kita tak kehilangan arah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya coba kita simak perkataan Hernowo di bawah ini: &lt;br /&gt;“Peta? Ya, peta. Saya kira peta adalah sebentuk pedoman atau pemandu yang membuat apa pun yang ingin kita lakukan dapat terbayangkan sebelumnya. Apa “peta kehidupan” kita? Bagaimana kita mendapatkan peta yang dapat memandu kehidupan kita yang terus berjalan dan kita tak tahu kapan hidup kita berhenti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Orang bilang, hidup yang berkualitas dan jelas adalah hidup yang bertujuan. Siapa saja yang dapat merumuskan hidupnya secara jelas, tentulah dia akan dapat menjalani hidup itu tanpa siksaan. Apakah pernyataan ini benar? Bukankah kadang kita memiliki tujuan yang sangat jelas di dalam kehidupan kita, namun kadang-kadang kita tetap berada dalam kegelapan kehidupan kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah tujuan hidup kita adalah untuk mematuhi perintah dan menghindari larangan Tuhan? Bukankah tujuan hidup kita sudah dirumuskan oleh kitab suci yang kita yakini kebenarannya? Bukankah, mungkin, kita juga mampu untuk merencanakan hidup kita setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahun? Apalagi yang kurang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa wujud konkret dari “peta hidup” atau peta untuk membantu kita agar lebih mudah dan nyaman dalam menyusuri hidup kita ini. Ya, apa wujudnya? Inilah yang ingin saya diskusikan di sini. Peta itu harus jelas dan nyata. Peta itu harus memiliki gambar-gambar yang menunjukkan arah perjalanan hidup kita. Peta itu juga terus dapat diperbaiki letak atau tempat-tempat yang akan kita tuju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merasakan sekali bahwa kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk membuat peta kehidupan kita. Saya juga merasakan sekali bahwa teks atau kalimat-kalimat tertulis itu dapat menampung kekayaan kehidupan kita—baik itu kekayaan hidup yang sudah kita jalani maupun yang belum sempat kita jalani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan Anda setelah mendengar perkataan Hernowo itu? Tidakkah Anda terketuk seperti halnya saya. Sungguh, saya merasakan sekali betapa manfaat menulis masih saja ada. Menulis bisa memasuki daerah-daerah yang tak pernah kita ketahui dan sadari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengatakan pada Anda tentang dua hal dari perkataan Hernowo tersebut, yaitu tujuan hidup dan menulis. Apa hubungannya tujuan hidup dengan menulis? Seperti halnya Hernowo, bagi saya keduanya mempunyai kaitan yang sangat erat. Sebagaimana kita ketahui, kita hidup bukan hanya sebatas hidup. Kita hidup tentu ada suatu misi yang harus kita emban. Karena, apalah artinya kita diciptakan dan diberi akal kalau tak ada sesuatu yang harus kita perjuangkan. Maka, sebuah tujuan hidup adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki setiap manusia. Dan tujuan hidup bisa kita gambarkan dengan jelas yaitu dengan cara menuliskannya. Teks-teks yang kita buat akan membantu kita untuk menampung semua tujuan hidup kita. Karena dengan teks, kita bisa merencanakan apa yang akan kita jadikan tujuan hidup tersebut.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo lebih sreg menyebut tujuan hidup dengan “peta hidup”. Oleh karenanya ia mengutip Stephen J. Spignesi dalam pembuka sub-bab bukunya, bahwa “Sebuah perjalanan selalu lebih mudah dengan peta”. Saya akui, memang dengan bahasa “peta hidup” kesan saya adalah bahwa hidup kita akan terpandu dan terbimbing lantaran adanya sebuah peta. Dan dengan menuliskannya, peta tersebut akan mengontrol kehidupan kita, apakah kita masih dalam jalur yang benar atau tidak. Jadi, menuliskan peta tersebut kita bukan saja bisa terpandu dan terbimbing tapi juga terkontrol kehidupan kita, seperti, apakah hari ini sesuai dengan apa yang kita petakan? Dan apakah hari ini mendekati tujuan hidup kita?  Bahkan dengan menuliskannya pula, hidup kita akan selalu diingatkan oleh peta tersebut. Dan masih banyak hal lagi manfaat membuat “peta hidup” dan lalu menuliskannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo telah membuktikannya. Ia akui sendiri sebagaimana  perkataannya di bawah ini:&lt;br /&gt;“… saya telah berhasil membuat peta kehidupan saya sendiri. Saya telah merekam hampir seluruh kehidupan saya yang lalu dan yang akan datang—dan juga malah yang sekarang ini lagi saya jalani—dalam teks-teks yang saya tuliskan setiap hari, dan kemudian itu mewujud menjadi sebuah peta, “peta kehidupan saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Hernowo, masih ada orang-orang yang berhasil hidupnya lantaran membuat tujuan hidup atau, meminjam istilah Hernowo, peta hidupnya, di antaranya ialah Benjamin Franklin yang telah membuat rencana hidupnya baik menyangkut impiannya maupun pengembangan kepribadiannya. Dan saat sudah berusia lanjut, ia telah memenuhinya dengan baik. Selain Benjamin yaitu Lee Laccoca, mantan pemimpin perusahaan di Amerika. Ia membuat rencana jangka pendek dan berusaha memperhatikan waktu dengan sebaik mungkin. Dan ia mengatakan, “Sejak di perguruan tinggi, saya selalu bekerja keras dari Senin sampai Jum’at dan mencoba untuk meluangkan akhir pekan saya untuk keluarga dan berekreasi. Setiap Minggu malam saya memupuk kembali semangat saya dengan membuat garis besar apa yang ingin saya selesaikan pekan depan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik perihal tujuan hidup/cita-cita ini, yang saya angkat dari buku Seajaib Lampu Aladdin karya Jack Canfield dan Mark Victor . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“John Goddard membuat daftar semacam itu ketika dia berusia lima belas tahun. Ayahnya, seorang pengusaha yang berhasil, biasa mengundang relasinya untuk makan malam di rumah mereka sekali sepekan, tepatnya setiap Jumat malam. John Goddard muda sangat terkesan dengan pembicaraan yang didengarnya selama acara makan malam tersebut.  Ayah John dan tamu-tamunya pada akhirnya mendiskusikan penyesalan mereka dalam hidup—semua hal yang mereka inginkan pernah mereka lakukan, namun tidak pernah sempat diselesaikan, atau bahkan dimulai. Setelah melewati suatu jamuan makan malam semacam itu, John bertekad untuk tidak bernasib seperti teman-teman ayahnya ketika mencapai usia mereka. John masuk ke kamarnya dan menuliskan 127 hal yang dia ingin raih dalam hidupnya. Saat ini, pada usia enam puluhan, John telah menyelesaikan 115 dari 127 cita-cita tersebut. Daftar ini memberikan kerangka bagi hidupnya dan dia telah mengunjungi lebih dari seratus negara, bertemu banyak pemimpin dunia, termasuk Paus, dan mencapai banyak impian yang bersifat pribadi. Dia telah mengunjungi Tembok Besar Cina, menjelajahi Sungai Nila, mengendarai kuda di Rose Bowl Parade (Parade Rangkaian Bunga Mawar), dan belajar menerbangkan empat puluh delapan jenis pesawat terbang yang berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi sebenarnya kisah orang-orang yang sukses lantaran mempunyai tujuan hidup yang ditulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya menuliskan keberhasilan dalam menempuh tujuan hidup, atau yang dicita-citakannya tidak menjamin kesuksesan, tapi setidaknya lima puluh persen kesuksesan telah kita raih, yang sisanya adalah aksi. Ya, rencana tertulis harus dibarengi dengan aksi. Dua hal ini harus kita lakukan jika ingin meraih kesuksesan hidup tersebut. Sebagaimana telah saya katakan, bahwa dengan menuliskan tujuan atau cita-cita hidup, maka kita bisa melihatnya dengan gamblang apa saja tujuan atau cita-cita hidup kita itu? Kapan kita akan melakukannya? Apakah kita melakukannya dengan bergairah? Apakah kita bisa meraihnya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akan bisa kita jawab jika kita menuliskan tujuan hidup kita itu. Dengan menuliskannya kita bisa mengontrol dan mengingatkan akan tujuan kita itu, sehingga kita bisa mengevaluasinya. Tujuan atau cita-cita hidup bisa dalam hal pekerjaan, impian, atau kegiatan kita sehari-hari seperti dalam keluarga atau masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu kita ketahui bahwa ada beberapa hal yang harus diingat tentang tujuan atau cita-cita hidup kita itu, di antaranya seperti yang diingatkan oleh Thomas Armstrong dalam bukunya 7 Kinds of Smart:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kita harus memilih sasaran yang harus dicapai. Artinya, kita harus bersifat realistis apakah cita-cita itu bisa kita capai dengan disesuaikan dengan kekuatan dan keterbatasan kita. Kedua, ambil sasaran yang pantas diharapkan. Artinya, apakah tujuan atau cita-cita tersebut bermanfaat bagi kita? Karena hal ini akan mempengaruhi proses pelaksanaan cita-cita tersebut. Thomas mengingatkan bahwa sasaran Anda muncul dari diri sendiri, sehingga akan timbul gairah untuk menjalankannya. Seperti yang dikatakan Charles Garfield, “orang boleh menargetkan 99 sasaran, tetapi kegairahan yang muncul karena sasaran itu sangat bermakna bagi orang yang dapat membuang sikap ‘masa bodoh’.“ Ketiga, sasaran (tujuan/cita-cita hidup) dapat diukur. Oleh karena itu, lanjut Thomas, kita harus menggunakan bahasa yang konkret dan terperinci untuk menggambarkan apa yang akan kita kerjakan dan kapan bisa menyelesaikannya. Misalnya, jangan Anda mengatakan bahwa Anda akan menghasilkan banyak uang, tetapi katakanlah Anda akan menghasilkan 100 juta rupiah dalam waktu setahun sebagai desainer interior pada tahun 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Armstrong memberikan sebuah latihan yang bagus buat kita untuk membantu bagaimana caranya meraih sebuah cita-cita atau tujuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daftarlah 10 sasaran penting yang ingin Anda capai dalam kehidupan Anda dan/atau kehidupan profesional Anda pada kertas kosong. Buatlah sasaran seterperinci mungkin dan pastikan bahwa sasaran itu merupakan sasaran yang penting dan dapat dicapai. Kemudian urutkan sasaran itu, tulis sasaran terpenting di bagian teratas dan sasaran kurang penting pada bagian terbawah. Ambillah sehelai kertas kedua dan tuliskan sasaran terpenting dari daftar Anda pada bagian teratas halaman baru ini (di sampingnya cantumkan tanggal kapan Anda ingin mencapai sasaran itu). Tuliskan segala sesuatu yang perlu Anda lakukan untuk mencapai sasaran tersebut (kalau perlu, lakukanlah sumbang saran bersama seorang teman). Pada helai kertas ketiga, daftarkan kegiatan untuk mencapai sasaran tersebut menurut urutan kepentingannya (apa yang harus Anda lakukan terlebih dahulu, hal kedua yang perlu Anda kerjakan, begitu seterusnya). Kemudian, mulailah melakukan kegiatan pada bagian atas daftar itu. &lt;br /&gt;Setelah Anda menyelesaikannya, tandai sasaran itu dan lanjutkan ke sasaran berikut. Lanjutkan proses ini sampai sasaran Anda tercapai. Untuk menolong proses tersebut, tuliskan epigram Goethe ini pada sehelai kartu: “Apa pun yang dapat Engkau lakukan atau ingin Engkau lakukan, rintislah. Di dalam keberanian ada kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban. Lakukan sekarang!” tempatkan kartu ini di meja anda atau carilah kutipan lain yang membangkitkan inspirasi Anda mencapai sasaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan Anda setelah membaca hal-hal yang di atas, apakah timbul kegairahan untuk bertindak? Semoga saja. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3259738449064181778?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3259738449064181778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3259738449064181778&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3259738449064181778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3259738449064181778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/11/merencanakan-hidup-sukses-dan-bahagia.html' title='Merencanakan Hidup Sukses dan Bahagia Dengan Menulis'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3754012756414822392</id><published>2008-11-18T04:50:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T09:51:56.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Kepenulisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mereka yang Tercerahkan Dengan Menulis</title><content type='html'>Saya ingin membuktikan kepada pembaca bahwa banyak orang-orang yang benar-benar tercerahkan lantaran aktivitas menulis. Hidup mereka menjadi lebih bergairah karena menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bisa bangkit dari kegagalan dan bahkan kualitas hidupnya meningkat pesat dengan, sekali lagi, menulis. Anda bisa merasakan bagaimana perjuangan hidup mereka dalam melawan penderitaan, atau dalam meningkatkan kualitas hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada lima orang yang saya ketahui tentang orang-orang yang tercerahkan karena menulis tersebut. Dan saya harap walau hanya lima orang semoga membuat kita yakin kalau menulis memang benar-benar ampuh untuk membuat hidup kita cerah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya temui teman-teman saya tidak mempercayai akan sebuah teori tanpa ada bukti terlebih dahulu. Begitu pun dalam masalah menulis yang bisa mencerahkan ini. &lt;br /&gt;Saya sendiri telah membuktikannya kalau aktivitas menulis benar-benar ampuh untuk mengobati penyakit hati di kala saya gundah gulana, pun saat saya kehilangan makna. &lt;br /&gt;Dan alhamdulillah dalam waktu empat tahun saya bisa menghasilkan dua buku yang berisi catatan harian yang kira-kira ketebalannya mirip dengan Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya tak punya catatan harian, apakah saya bisa meredam segala gejolak emosi saya, apakah saya mempunyai planning hidup, dan sebagainya. Bagi saya, menulis memang seperti terapi dan obat untuk menyembuhkan segala penyakit hati saya, seperti halnya orang-orang di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Karen Armstrong&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Hidup saya berubah setelah penerbitan buku Sejarah Tuhan”&lt;br /&gt;(Karen Armstrong)&lt;br /&gt; Buku-buku Karen Armstrong telah menggemparkan dunia. Nama dirinya melejit tatkala bukunya A History of God (1993) terbit dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tak ada satu pun bukunya yang tak laris. Buku-bukunya memang hanya berkisar di seputar agama, seperti Kristen, Islam, Yahudi, dan Budha. Tapi, yang menjadi keunikan dan berbeda dengan buku-buku semisalnya adalah berangkat dari pengalamannya sendiri tatkala “mencari Tuhan”. Ia bukan saja menelusuri lewat literatur untuk menulis bukunya, tetapi juga mengadakan perjalanan spiritual ke berbagai negara.&lt;br /&gt;Hal yang mendorong untuk menulis dan mengadakan perjalanan spiritualnya bukan semata-mata ingin menjadi penulis (pada awalnya) dan mengadakan observasi langsung sebagai bahan tulisannya. Tetapi lebih dari itu. Ia mencari “obat” untuk menyembuhkan lukanya dari trauma dan penyakit yang dideritanya semenjak remaja serta haus akan spiritualnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahun 1962 ia disuruh masuk biara. Namun dalam biara ia merasa seperti dalam penjara. Badan dan jiwanya merasa terkungkung, kaku, harus mengikuti aturan yang monoton, dan banyak pengalaman yang menekan hidupnya. Setiap hari pekerjaannya selalu begitu saja. Selama tujuh tahun ia mengikuti tradisi yang berlaku di biara. Tujuh tahun itu pula ia merasa di “penjara”, memberikan trauma yang sangat dalam sekali, yang sulit dihilangkan hingga beberapa tahun setelah ia keluar dari biara tersebut. &lt;br /&gt;Setelah memutuskan keluar ia kemudian masuk ke perguruan tinggi di Universitas Oxford, jurusan sastra Inggris. Ia tengah memulai kehidupan baru yang sekuler. Namun, ia merasa tak bisa bebas juga hidupnya. Ia merasa terasing di dunia luar. Banyak hal yang tidak ia ketahui. Ia menjadi manusia kuper (kurang pergaulan), dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Dan ia masih saja dibayang-bayangi kehidupan biaranya, yang begitu melekat akan pengalaman pedihnya. Perlakuaan-perlakuan di biara dulu masih terbayang-bayang jelas di matanya. Dengan kata lain, ia tengah mengalami trauma yang berkepanjangan dan sangat akut sampai-sampai ia menderita epilepsi serta gangguan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengalaman tragisnya dialami juga setelah keluar dari biara, gara-gara penyakit yang dideritanya. Suatu ketika ia telah menjadi guru tetap di SMA khusus perempuan. Namun karena penyakit yang dideritanya ia diberhentikan oleh pihak sekolah. Inilah penderitaan klimaks yang dialaminya. Gara-gara diberhentikan dan sering kambuh traumanya, ia sering berhalusinasi, kadang-kadang ketakutan dan kadang-kadang ia panik. Ia merasa tak berguna hidupnya. Karena penyakit yang sangat akut itu ia pernah mencoba bunuh diri, berharap penderitaannya berakhir. Namun sedikit demi sedikit ia mulai sembuh setelah sering berkonsultasi ke psikiater, dan akhirnya sang dokter bisa mendeteksi penyakitnya tersebut.&lt;br /&gt;Setelah sembuh walau belum seratus persen, ia mencoba kembali menggeluti dunia spiritualnya yang telah hilang. Ia lalu menulis buku keagamaan sebagai representasi pencarian dan pengalamannya. A History of God, begitu ia namakan bukunya. Dan dengan secepat kilat kehidupannya berubah. Ia telah menemukan kembali ruh hidupnya lantaran menuliskan segala pencarian serta pengalaman spiritualnya. Tulisan-tulisan yang bertemakan keagamaan terus ia tekuni, dan menjadi pembicaraan banyak kalangan. Karya-karyanya seperti Sejarah Tuhan, Berperang Demi Tuhan, Perang Suci, Islam dan Buddha, dan yang lainnya mendapat apresiasi di sebagian negara di dunia ini. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa yang  kurang lebih berjumlah 40 bahasa di seluruh dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penulis yang tinggal di London ini juga membuat acara-acara yang bertemakan keagamaan, di antaranya bersama Bill Moyers dalam seri Genesis. Ia sering mendapat undangan-undangan untuk menjadi pembicara tentang keagamaan lantaran tulisannya. Dan bahkan banyak orang Barat menanyakan pada dia tentang Islam, dan sekali lagi, lantaran bukunya, yang banyak membahas tentang Islam. Ada dua buku yang bagi saya sangat mengagumkan, yaitu  Muhammad dan Menerobos Kegelapan. Judul yang pertama berbicara tentang Nabi Muhammad Saw yang dia gambarkan dengan sangat memikat. Ia telah menjungkirbalikkan anggapan-anggapan barat tentang Nabi Muhammad ini. Ia ingin memberitahukan bahwa Muhammad tidaklah sosok yang “sangar” sebagaimana yang digambarkan oleh Salman Rushdi dalam Satanic Verses-nya atau kaum orientalis lainnya. Ia sangat mengagumi sosok Nabi ini dalam membawa Islam, terutama kepribadiannya. Walau secara substansi tidak ada yang baru tapi cara penyampaiannya mendapat nilai plus di mata pembaca. Saya ingin mengatakan di sini bahwa Karen menulis bukan hanya mengandalkan literatur saja, tapi ia juga menulis dengan jiwa dan raganya. Ia sangat menghayati apa yang ia tulis, dan yang pasti kesan yang mendalamnya terhadap tema yang akan dia sampaikan, sehingga bahasanya mudah dicerna dan mengalir bagai mata air. Inilah salah satu keistimewaan karya-karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun buku Menerobos Kegelapan adalah sebuah perjalanan hidupnya. Inilah buku yang telah merekam kehidupannya semenjak kecil hingga menjadi saat ini. Dan saya sangat yakin kalau ia telah menemukan jati dirinya lantaran menulis tersebut. Ia telah tersembuhkan dan tercerahkan gara-gara menuliskan segala kepedihan dan traumanya, serta yang ia cari dan ia dapatkan. Sekarang ia telah menemukan jawabannya, dan ia mengatakan:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teologi itu sejenis puisi yang elusif, yang memerlukan pikiran tenang dan reseptif seperti yang anda perlukan untuk mendengarkan Beethoven atau membaca Rilke. Anda mesti memberinya perhatian penuh, menunggunya dengan sabar,dan menyisakan ruang kosong untuknya .... Dan di ujung hari karya itu akan mewartakan diri Anda ke Anda-hingga menjadi bagian dari Anda." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Virginia Woolf&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam sastra Barat nama Virginia Woolf sudah tak asing lagi. Ia merupakan sastrawan Inggris yang karya-karyanya disejajarkan dengan sastrawan lainnya seperti William Shakespeare, T.S. Elliot, Charles Dickens, atau George Orwel. Namun, di telinga kita nama tersebut memang masih asing, tak sepopuler yang lainnya, seperti halnya William Shakespeare dengan Romeo and Juliet-nya. Mungkin saja dikarenakan karyanya tak lazim dengan selera pembaca Indonesia. Karya-karya Virginia masih sangat jarang untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Memang, karyanya tergolong tak seperti halnya pengarang lainnya. Ia sering membuat karya dengan gaya yang berbeda dengan kebanyakan sastrawan lainnya. &lt;br /&gt;Virginia mengidap penyakit kejiwaan yang amat sangat menyiksa hidupnya, seperti halnya Karen Armstrong. Namun ia masih terus menulis, dan menjadikan obat bagi penyakitnya itu. Seolah-olah derita telah tertahankan saat ia merangkai dunia imajinasinya, walau pada akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Adeline Virginia Woolf, dilahirkan di London pada tahun 1882 dari pasangan Leslie dan Julia Stephen. Ayahnya adalah seorang redaktur Cornhill Magazine dan penyunting Dictionary of National Biography. Bakat menulisnya tertular dari ayahnya. Ia hanya belajar membaca dan menulis dari orangtuanya, dan tak pernah merasakan bangku sekolah. Ia banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan yang letaknya di dalam rumahnya sendiri. Bimbingan orangtuanya serta semangat belajarnya membuat bakat kepenulisannya cepat berkembang. Semakin lama semakin terasah pula insting menulisnya yang pada akhirnya ia mengabdikan hidupnya untuk menulis. Setelah menikah, ia bersama suaminya membuat penerbit Hogarth Press. Selain menerbitkan karya-karyanya ia juga menerbitkan pengarang lainnya yang terkenal seperti puisi T.S. Elliot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penulisan karya sastranya, ia memperkenalkan corak yang tak lazim dilakukan oleh sastrawan lainnya. Ia telah mengembangkan temuannya William James dalam gaya penceritaan yaitu yang dikenal dengan istilah arus kesadaran (stream of consciosness) atau juga dikenal dengan dialog batin, dimana teknik tersebut akan menghasilkan efek yang berbeda di mata pembacanya. Efek dari teknik tersebut adalah pembaca benar-benar merasa menjadi terlibat di dalamnya, seolah-olah menjadi bagian dalam cerita tersebut, dimana pembaca merasakan sama yang dirasakan tokohnya. Efek lainnya adalah memberikan kesadaran kepada manusia bahwa mereka sering merasakan kesendiriannya, seperti saat mengalami kesedihan yang luar biasa. Untuk lebih jelasnya silakan baca tulisan Kurniasih dalam kata pengantar novel Mrs. Dalloway (Jalasutra:Yogyakarta).  &lt;br /&gt;Selain kegiatan menulis, ia juga pejuang hak asasi perempuan. Ia seorang  feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada masa itu yang dianggap telah dirugikan kedudukannya. Kedudukannya amat berpengaruh lantaran ide-ide feminisnya yang bisa membuat merah telinga orang yang mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan jiwa yang dialaminya semenjak remaja semakin hari semakin parah. Mulai dari anorexia (tidak bernafsu makan), sakit kepala, depresi, hypermania (perasaan gembira berlebihan), hingga kehilangan kesadaran akan realitas membuat hidupnya semakin tak bergairah. Menurut para peneliti, badan Virginia adalah badan yang sakit. Keadaan seperti itu mendorong ia mencoba untuk melakukan bunuh diri, tapi selalu saja gagal. Untunglah ia menulis. Menulis adalah semacam cara untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Segala perasaan yang dialaminya ia tuangkan ke dalam karyanya. Maka tak heran jika karya-karyanya sering menggambarkan tentang keadaan dan perasaan yang dimilikinya. Lewat karyanya, ia membuat dunia ciptaannya dimana ia bisa tinggal, sesuai dengan kehendaknya, dan ia merasa nyaman di dalamnya. Namun setelah merampungkan ceritanya sering terjadi dualisme dalam dirinya, yaitu antara rasa plong dan menderita kembali seperti ketika sebelum ia menuliskan cerita tersebut. Bagai seorang ibu, begitu Kurniasih mengibaratkan, setiap kali melahirkan tulisannya ia merasa senang sekaligus merasa kehilangan sesuatu setelah diterbitkan karyanya itu. Namun setidaknya dengan menulis ia bisa menghilangkan tekanan jiwanya itu, walau pada akhirnya ia berhasil bunuh diri, lantaran penyakitnya yang sudah akut. Tapi, seandainya tidak karena menulis boleh jadi peristiwa tersebut akan terjadi sedini mungkin. Menulis, bisa dikatakan, adalah penyelamat hidupnya, yang ikut memperlambat proses percobaan bunuh dirinya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virginia bukan hanya menulis novel dan cerpen saja, tetapi ia juga menulis catatan harian, biografi, dan esai-esai tentang hak asasi perempuan. Di antara karya-karyanya ialah The Voyage Out (1915) dan Night and Day (1919), Mondays or Tuesday (1921), Jacob's (1927) dan The Waves (1931), Mrs. Dalloway, dan masih  banyak lagi karya  yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Pipiet Senja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Alhamdulillah, akhirnya penyakit ini bagi teteh malah merupakan berkah. Mungkin teteh gak akan jadi seorang penulis kalau gak thallassemia, ya kan?” (Pipiet Senja)&lt;br /&gt;Nama Pipiet Senja sudah dikenal di seluruh pelosok Indonesia, terutama bagi anggota Forum Lingkar Pena. Namun sepertinya masih jarang yang tahu nama aslinya. Etty Hadiwati Arief ialah nama aslinya. Ia lahir di Sumedang, 16 Mei 1957 dari pasangan Hj. Siti Hadijah dan SM. Arief (alm). Ia mulai menulis sejak remaja. Semenjak kecil hingga remaja ia sudah suka baca karya sastra seperti Old Sutherhand karya Karl May, Winetou, komik-komik wayang Kosasih, cerita silat Kho Phing Ho, sajak-sajaknya Ajip Rosidi, WS.Rendra, Kuntowijoyo, Abdulhadi WM, Charles Dicksen, Emille Zola, Barbara Cartland, Sidney Sheldon, dan masih banyak lagi. Keluasan wawasannya mengenai karya sastra sangat mempengaruhi pada penulisan karyanya sendiri. Daya tampung otaknya seolah-olah tak muat lagi untuk diisi, maka jalan satu-satunya adalah menulis. Tak aneh jika aktivitas menulisnya tak pernah off. Kurang lebih 55 buah buku telah ia hasilkan sejak tahun 1975. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu pembaca ketahui ia mengenyam pendidikan formal hanya sampai kelas dua SMU, selebihnya ia belajar dari kehidupan. Menulis pun ia belajar sendiri alias otodidak. Sebelum terjun menjadi penulis professional, ia pernah juga mencicipi berbagai pekerjaan di antaranya menjadi pramuniaga toko buku, dengan alasan ingin banyak baca buku dengan gratis, pernah pula ia jadi penyiar radio daerah, dan terakhir, menjadi reporter tabloid Mutiara, Selecta Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak setuju kalau pandai menulis itu karena bakat. “Kan sebenarnya bakat itu hanya sekian persen, selanjutnya tergantung motivasi penulisnya. Apakah dia memang kepingin menjadi seorang penulis, atau cuma coba-coba, motivasi. Ini sungguh modal awal!” ujar Pipiet saat ia diwawancara oleh  kru Kafemuslim.com. Dan untuk membuktikannya ia melatih putrinya menulis yang masih berusia 16 tahun, Adzimatinnur Siregar. Dan ajaib, putrinya itu telah menghasilkan lebih dari 5 buku., yang salah satunya berjudul Amerika Siapa Takut! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang membuat saya terkesan dan terenyuh tentang cerita Pipiet Senja ini, ialah perjuangannya melawan penyakit thallasemia. Thallassemia adalah penyakit genetis, sejak lahir ia sudah membawa gen thallassemia. Kelas enam SD Pipiet sudah mulai ditransfusi setiap dua-tiga bulan sekali hingga sekarang. Penyakit ini tidak ada obatnya kecuali ditransfusi darah, dan setelah itu ia harus memakai desferal, namanya syringedriver yang ditempelkan di perut untuk mengalirkan obat desferal selama sepuluh jam. Setelah demikian ia sudah tak bisa apa-apa. Namun yang membuat saya salut adalah ketetapannya menulis walau keadaan seperti itu, bahkan lebih produktif lagi. Seolah-olah ia ingin melawan penyakitnya dengan menulis, bahkan ia mengatakan,“Alhamdulillah, akhirnya penyakit ini bagi teteh malah merupakan berkah. Mungkin teteh gak akan jadi seorang penulis kalau gak thallassemia, ya kan?”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, penyakit bukanlah halangan untuk merangkai kata, kalimat dan menjelma menjadi cerita. Dan lantaran semangatnya untuk terus menulis—walau keadaan sakit—ia mendapat julukan sebagai pengarang Prolifik. Kapan dan dimana pun ia bisa menulis, “Insya Allah, saya bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Kalau saya lagi diopname di rumah sakit, saya suka bawa-bawa mesin ketik yang kuberi nama si denok. &lt;br /&gt;Nyuri-nyuri waktu dari dokter atau suster, pas mereka meleng, teteh ngederektek aja nulis”, ujar Pipiet dengan logat sundanya yang masih kental. Ia pun sudah terbiasa bangun pukul tiga dinihari. Setelah sholat malam, ia langsung menulis hingga subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pipiet, inspirasi pun tidak perlu dicari kemana-mana. Ia akan datang sendiri. Misalnya, ketika ia jalan ke rumah sakit, bertemu pasien kanker yang divonis tinggal beberapa bulan lagi. Maka dari situ ia bisa membuat cerpen atau novel yang temanya penderitaaan seorang ibu karena mengidap kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidupnya telah ia tulis dalam buku yang berjudul “Cahaya di Kalbuku: Sebuah Memoar Pipiet Senja”.  Baginya menulis adalah sebuah proses penyembuhan dan pencerahan yang membuat ia terus hidup dan selalu optimis menghadapi kenyataan yang penuh lika-liku. “Hidupnya memang untuk menulis bahkan suatu ketika dia pernah mengatakan kalau tidak menulis dia tidak akan hidup,” komentar  Izzatul Jannah saat ia berbicara tentang Pipiet Senja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Pipiet Senja telah diabadikan di buku Pengarang Peneliti di Indonesia sebagai profil perempuan pengarang, dan Penulis Perempuan Indonesia, (ed. Korrie Layun Rampan). Di antara karya-karyanya yang terbaru ialah  Namaku May Sarah, Riak Hati Garsini, Dan Senja Pun Begitu Indah (novelet bareng Mariam Arianto, Asy-Syaamil), Serpihan Hati, Menggapai Kasih-Mu, memoarnya Cahaya di Kalbuku, Lukisan Rembulan, Trilogi; Kalbu, Nurani, Cahaya (Mizan), Kidung Kembara, Tembang Lara, Rembulan Sepasi, Rumah Idaman (Gema Insani Press). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Hernowo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Saya merasakan sekali bahwa kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk membuat peta kehidupan kita. Saya juga merasakan sekali bahwa teks atau kalimat-kalimat tertulis itu dapat menampung kekayaan kehidupan kita—baik itu kekayaan hidup yang sudah kita jalani maupun yang belum sempat kita jalani” (Hernowo)&lt;br /&gt;Bagi orang yang suka membaca, menulis, dan berkunjung  ke toko-toko buku hampir saya pastikan telah mengenal buku-buku Hernowo. Karena Sudah 17 buku telah ia hasilkan dari tangannya. Buku-bukunya berisi tentang motivasi, manfaat, dan bagaimana agar kita bergairah membaca dan menulis. Buku-bukunya seperti Mengikat Makna, dan Andaikan Buku itu Sepotong Pizza telah mengalami cetak ulang. Ini artinya, buku-bukunya telah mendapat sambutan yang luar biasa di masyarakat pembaca dan penulis. Lantaran buku-bukunya, ia telah melalang buana ke berbagai kota untuk mengisi acara baik sebagai promotor buku-bukunya, undangan tentang baca-tulis, atau pun untuk mempresentasikan berbagai gagasan dan penemuannya mengenai membaca dan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo lahir di Magelang pada 12 Juli 1957. TK hingga SMU-nya ia habiskan di tanah kelahirannya itu. Kemudian ia kuliah di ITB, Bandung, jurusan Teknik Industri. Hingga sekarang ia masih di sana untuk melanjutkan “sekolahnya” di penerbit Mizan yang kesekian, katanya. Semenjak kecil ia sudah rajin membaca. Semua bacaan mengenai dunia “anak-anak” telah disantapnya dengan lahap sekali, seperti majalah anak-anak, komik, cerita silat, dan masih banyak lagi. Namun ia merasa beku otaknya saat mempelajari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, karena buku-bukunya monoton dan banyak yang “beracun”, ujarnya saat mengisi acara di Toko Buku Toga Mas Yogyakarta pada 26 Pebruari 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kuliah ada sebuah buku yang amat ia sukai yang sering sekali ia sebut di buku-bukunya dan amat berpengaruh yaitu Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karya Muhammad Iqbal. Itulah buku pertama yang mengenalkan ia dengan filsafat. Sosok Iqbal begitu ia kagumi. Dan setelah ia bekerja di penerbit Mizan pada tahun 1984, ia mulai berkenalan dengan penulis-penulis lainnya seperti Ali Syariati dan Murtadha Muthahhari, serta Anemarie Schimmel. Itulah para penulis yang ia kagumi hingga sekarang ini. Bekerja di sebuah penerbitan maka secara otomatis kebiasaan membacanya meningkat pesat. Baginya, tiada hari tanpa membaca. Selama bekerja di Mizan itu, ia mempersepsi dirinya sedang menjalani proses pembelajaran. Haidar Bagir bercerita tentang Hernowo, “Hampir semua buku Mizan, terutama yang terbit pada 1983-1993, telah dilahapnya. Dia bukan membaca huruf, melainkan benar-benar memahaminya—dia bisa tahu secara cepat kelebihan-kelebihan sebuah buku yang dibacanya dan siapa yang tepat mengonsumsinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan sekaligus hobi membuat kariernya melonjak naik secara cepat. Berawal dari karyawan di bagian produksi kemudian naik menjadi staf keredaksian, menjadi manajer Produksi, lalu General Manager Editorial. Setelah itu ia dipercaya memimpin penerbit Kaifa yang masih berada di bawah Mizan yang dikhususkan untuk menerbitkan buku-buku How to seperti Quantum Learning, dan Learning Revolution. Dan, saat ini ia memegang penerbit MLC (Mizan Learning Centre). Setelah ia memegang penerbit Kaifa ia sering menjadi trainer tentang pembelajaran seperti bagaimana agar bergairah membaca dan menulis, dan lain sebagainya. Kegemarannya membaca buku, dan kemudian menulis meningkat amat pesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1998 ia dipercaya untuk mengajar matakuliah “Digesting” (mencerna buku) di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM), Bandung. Pada tahun berikutnya ia juga mengajar Bahasa Indonesia (bidang ketrampilan menulis), di SMU plus Mutahhari, Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pertamanya muncul pada tahun 2001 yaitu Mengikat Makna: Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Buku ini adalah hasil pembelajarannya setelah ia “sekolah” di penerbit Mizan bertahun-tahun. Usahanya ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Setelah sukses dengan buku pertamanya ia susul buku keduanya berjudul Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, dan mengalami hal yang sama yaitu sambutan ruarr biasa. Mesin menulisnya seolah-olah tak mau berhenti sampai di situ. Ia kemudian menyusul buku ketiganya, keempatnya  hingga sampai yang ketujuh belasnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan meningkat karya-karyanya, karakter serta kepribadiannya pun meningkat pesat. Wawasannya yang luas membuat ia kaya akan perspektif, atau dengan istilahnya sendiri, “mata baru”. Jika Haidar Bagir mengatakan kalau prestasi-prestasinya itu dihasilkan akibat dari aktivitas membacanya, maka saya akan menambahkan dengan aktivitas menulisnya juga ia menjadi seperti itu. Membaca akan memperkaya perspektif dan meluaskan wawasannya sedangkan menulis akan merekam serta mengekspresikan apa yang diungkapkannya. Perpaduan itu menjadikan hidupnya amat luar biasa.  Dia sendiri mengakui kalau pribadinya (dulu) introvert dan kaku dalam berbicara di depan umum. Tapi berkat membaca dan menulis (untuk dirinya sendiri) sifat itu pun hilang. Dengan dua aktivitas itu ia bisa menghadapi hidup dengan sehat, karena baginya, membaca—terutama menulis—bisa menyembuhkan dan mencerahkan. Setiap ada gejolak emosi atas pengalamannya ia selalu menuliskan ke dalam buku hariannya. Dan setiap membaca buku ia selalu menuliskan apa yang menurut ia penting dan manfaat untuk dirinya sendiri.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengalamannya, ia sangat yakin kalau dengan membaca dan menulis maka hidup kita akan bahagia, lebih terarah, dan mampu meredam segala emosi baik disebabkan peristiwa masa lalu atau yang sedang dialaminya saat ini. Jadi, selain mengasah ketrampilan menulis dan membaca ia juga sangat yakin keduanya itu bisa melejitkan potensi apa yang ada dalam diri kita. Bahkan bisa dikatakan, bagi dia, keduanya adalah kunci kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku, menurut Hernowo, sama halnya mencerna makanan. Dan makanan dari buku adalah gagasan. Jika kita memakan makanan yang banyak lemaknya otomatis itu tidak akan menyehatkan badan kita dan memberi ruang datangnya penyakit. Begitu pun dengan buku, jika kita membaca buku yang tak bermanfaat maka buku itu akan merusak otak kita. Oleh karena itu, bacalah buku yang bergizi, yang memberikan asupan pada badan kita sehingga kita menjadi sehat baik jiwa maupun raga. Sebagaimana kita makan, membaca pun tak bisa dilakukan secara sekaligus. Bacalah buku secara ngemil dan perlahan-lahan seperti halnya memakan makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan menulis, menurutnya, terletak pada kemampuannya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang ditujukan pada diri kita sebagai orang yang menulis. Menulis, ia artikan sebagai merumuskan hal-hal yang kita simpan "di dalam" untuk kemudian dapat kita pahami "di luar". “Dan syarat menulis yang dapat menghasilkan rumusan yang baik adalah adanya kongruensi, bahwa segala sesuatu yang ada di dalam (yang kita pikir dan rasakan) harus sama persis dengan segala yang sesuatu yang ada di luar (yang kita tulis dan lakukan)” Ujar Hernowo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyarankan, jika kita ingin tercerahkan dengan menulis kita harus mempunyai catatan harian. Dengan catatan harian itu kita akan mengekspresikan diri kita. Kita akan menuliskan segala apa yang kita pikirkan dan rasakan. Dan kita juga akan merekam segala aktivitas dan perubahan-perubahan yang ada dalam diri kita lantaran catatan harian tersebut. Sungguh, ia bukan hanya bicara thok mengenai penemuannya ini, tapi ia berdasarkan pengalaman dan penelitiannya. Inilah yang membuat kita mempercayai akan perkataannya. Maka tak heran kalau buku-bukunya sangat laris di pasaran. Ia sudah mempunyai “peta kehidupan”nya sendiri melalui teks-teks yang ia tuliskan di catatan hariannya. Selain tercerahkan lantaran menulis, ia juga memiliki keunggulan dalam menyelenggarakan kegiatan membaca dan menulis. Dan keunggulannya itu memang bersifat 'ke dalam'. “Artinya, saya merasakan memiliki keunggulan dalam hal membaca dan menulis lebih dikarenakan saya merasakan sekali bahwa diri saya tumbuh dan berkembang setiap hari gara-gara saya melakukan, secara konsisten dan kontinu, kegiatan membaca dan menulis. Manfaat yang saya raih selama saya menekuni kegiatan membaca dan menulis dapat mewujud baik berkaitan dengan manfaat fisik maupun non fisik”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun karya-karyanya di antaranya Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Main-Main Dengan Teks, Quantum Reading, Quantum Writing, dan buku yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Asma Nadia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Menulis sekarang menjadi kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Kalau pergi ke mana-mana, jauh dari komputer, kangen. Saya tiap hari harus menulis sehingga ada kebutuhan untuk menulis. Setelah urusan lain-lain di rumah selesai, aktivitas pertama menulis. Menutup hari juga dengan menulis” (Asma Nadia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma Nadia adalah nama pena dari Asmarani Rosalba. Ia adalah adik kandung dari seorang sastrawan yang tak asing lagi di telinga kita yaitu Helvy Tiana Rosa. Asma dikenal sebagai seorang novelis dan cerpenis. Karya-karyanya mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat. Hal itu terbukti dengan beberapa karyanya yang mendapatkan penghargaan, di antaranya dua bukunya, Rembulan di Mata Ibu (Mizan, 2000) dan Dialog Dua Layar (Mizan, 2001) dinobatkan sebagai buku remaja terbaik Adikarya IKAPI 2001 dan 2002. Bahkan, “sempat cetak ulang sampai delapan kali”, ujar Asma Nadia saat ia diwawancarai wartawan Republika. Sedang bukunya yang lain, Derai Sunyi (Mizan, 2002) menjadi novel terpuji tingkat nasional versi Forum Lingkar Pena. Dalam karir kepengarangannya, ia pernah terpilih sebagai salah satu pengarang terbaik tingkat nasional selama dua tahun berturut-turut yang berbarengan dengan kedua bukunya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah proses yang begitu panjang untuk menuju hal yang disebutkan di atas itu. Banyak jalan terjal yang harus ia lewati: Sejak kecil Asma Nadia sangat suka membaca. Semua bacaan ia lahap dengan “rakus”. Mulai buku cerita, buku pelajaran, koran, bungkus cabai, bawang, dan kertas-kertas pembungkus sayur yang dibawa pulang ibunya dari pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, pada waktu umur tujuh tahun ia terjatuh dan kepalanya terbentur benda keras. Ia kesakitan dan dibawa ke rumah sakit.  Ia “divonis” gegar otak oleh sang dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sangat menyesal. Lima benjolan kecil di kepalanya ternyata tumor, harus diangkat."  Ujar sang dokter saat memeriksa Asma kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali merasakan sakit, ia lalu dibawa ke rumah sakit lagi. Kadang menjalani rawat inap beberapa hari. Saat sakit itulah ia sering mengisi waktunya dengan menulis cerita. Kadang juga menulis lagu. Buku-buku yang telah dibacanya sudah tak terhitung lagi. Namun, sesekali ia memegangi kepalanya sambil memejamkan matanya. Akibat efek dari operasi itulah ia sering pusing dan sulit berkonsentrasi dalam waktu lama.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa aku bisa, Kak? Aku kan gegar otak." Ujar ia saat mengucapkan keinginannya jadi penulis. Namun kakaknya memberi semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu, Dik. Tentu saja kamu bisa! Kamu bisa melakukan apa pun yang kakak kerjakan bila kamu mau!" ujar sang kakak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ ia mulai serius belajar. Ia tak memedulikan sakit yang ada di kepalanya itu. Walau sesekali ia pusing. Di bangku sekolah ia mulai menonjol. Ia selalu menjadi rangking satu, bahkan juara umum pun pernah diraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan melawan penyakit ini dengan berkarya, Kak. Dengan melakukan sesuatu!" kata Asma Nadia pada kakaknya saat remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, hingga beranjak dewasa ia selalu mempertahankan keinginannya menjadi pengarang. Ia melupakan sakitnya dengan berkarya. Mulailah ia menulis untuk media massa. Ia menulis artikel, cerpen, dan cerita bersambung, bahkan skenario televisi. Maka, di tahun 2000 terbitlah bukunya yang diterbitkan oleh As Syamil. Dan, hingga sekarang ia telah menulis beberapa puluh buku yang telah diterbitkan. Karir kepenulisannya pernah membawanya terbang ke negeri jiran (Malaysia) dan Mesir, dan pemateri workshop kepenulisan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1997 hingga kini ia menjadi Direktur Yayasan Prakarsa Insan Mandiri, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial, budaya, dan pendidikan. Ia juga menjadi ketua I FLP pusat, dan menjadi CEO Lingkar Pena Publishing House. Ia juga menjadi pengarang nasyid, pernah meluncurkan tiga album bersama kelompok Bestari, dan beberapa lagunya dibawakan oleh Snada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi inspirator kakaknya, Helvi Tiana Rosa. “Setiap kali saya merasa lemah dalam melangkah, saya akan selalu teringat saat-saat kami masih kecil juga tekad Asma Nadia untuk melawan semua penyakitnya dengan berkarya.” Ujar Helvy. Sedangkan Helvy, bagi Asma bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai guru menulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ia dikaruniai dua orang anak, Eva Maria Putri Salsabila dan Adam Putra Firdaus. Namun, menjadi seorang ibu dua orang anak itu, tak membuat surut karir kepenulisannya. Pada awalnya memang agak repot untuk menulis, mesti menunggu anak-anaknya tidur. Namun, setelah beradaptasi dengan keadaannya sebagai seorang ibu, ia mampu kapan saja menulis. “Penulis harus punya kemampuan adaptasi yang bagus. Bisa menulis dalam berbagai situasi: ribut atau hening. Bisa menulis tidak dalam satu waktu, tapi sambil melakukan hal-hal lain.” Ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat mensyukuri bisa bertahan hingga sekarang lantaran menulis. &lt;br /&gt;''Allah memberikan begitu banyak tanda. Mungkin wujud syukur yang bisa saya lakukan adalah tetap menulis,'' ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3754012756414822392?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3754012756414822392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3754012756414822392&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3754012756414822392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3754012756414822392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/11/mereka-yang-tercerahkan-dengan-menulis.html' title='Mereka yang Tercerahkan Dengan Menulis'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8368754003484150916</id><published>2008-11-17T10:32:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T09:54:00.370+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Nilai-Nilai Edukatif dalam Film Laskar Pelangi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SSDm5XzgEjI/AAAAAAAAARw/dtAjF3Rphyo/s1600-h/laskar+pelangi+the+movie.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SSDm5XzgEjI/AAAAAAAAARw/dtAjF3Rphyo/s200/laskar+pelangi+the+movie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269465437340439090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Film Laskar Pelangi menjadi sebuah fenomenal. Kehadirannya begitu memukau di semua kalangan. Masyarakat begitu antusias menontonnya. Entah hanya sebagai hiburan, ikut-ikutan menonton, atau bahkan mengapresiasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali di kalangan pendidik. Mengapa bisa demikian? Film ini memang tidak hanya berkualitas dari sisi perfilman dan hiburan, tetapi juga dari sisi pesan yang hendak disampaikannya. Pesan moralnya begitu kuat. Paling tidak ada tiga hal besar pesan pentingnya: Optimisme, semangat belajar, dan semangat mengejar cita-cita. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Film Laskar Pelangi merupakan film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata dengan judul yang sama, Laskar Pelangi (Bentang Pustaka, 2005). Film ini disutradarai oleh Mira Lesmana dan Riri Reza yang menggambarkan sekelumit sisi lain (yang ironis) dari dunia pendidikan di Indonesia. Adapun setting film tersebut pada tahun 1970-an di tanah Bangka Belitung (kadang dieja ‘Belitong’) yang kaya dengan tambang timah, namun mempunyai sekolah SD yang miskin, yaitu SD Muhammadiyah Gantong. Kemiskinan tersebut otomatis disertai pula oleh para siswa yang berlatar belakang kelas bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, para pendidiknya (Pak Harfan dan Bu Muslmah) berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan eksistensi sekolahnya. Mereka beranggapan bahwa sekolah tersebut adalah warisan luhur yang harus dilestarikan dan dikembangkan, karena sekolah ini adalah satu-satunya (di tanah Belitong) yang mengajarkan antara ilmu dan agama (baca:akhlak). Dan SD tersebut ternyata mempunyai para siswa yang penuh bakat. Sebut saja, misalnya, Lintang yang cerdas dalam matematika, dan Mahar yang pintar dalam hal seni. Keduanya mengharumkan sekolah mereka saat ada perlombaan antar sekolah SD. Hanya saja kemudian kecerdasan mereka tak bisa tersalurkan akibat himpitan hidup yang memaksa mereka untuk bekerja membantu perekonomian keluarganya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Guru Sebagai Motivator&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Tokoh Pak Harfan dan Bu Muslimah sebagai guru begitu strategis dalam film Laskar Pelangi. Keduanya menjadi inspirasi para siswanya untuk terus bersemangat dalam belajar. Kata-kata mutiara yang sering diucapkan Pak Harfan terhadap anak-anaknya adalah ‘hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya’ menjadi ruh para siswa untuk optimis mengarungi hidupnya. Pak Harfan memberi siswanya pelajaran tentang keteguhan pendirian, ketekunan, dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Dia  meyakinkan mereka bahwa hidup bisa demikian bahagia jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Tak jauh berbeda juga dengan peran Bu Muslimah. Dia menjadi figur ‘ibu’ di sekolah, yang selalu mengayomi para Laskar Pelangi (panggilan untuk kesepuluh siswanya itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari film tersebut—melalui tokoh kedua pendidik itu—tersirat bahwa sebagai pendidik tidak hanya sekadar mentransfer keilmuan an sich yang terdapat dalam buku-buku, melainkan juga membantu para siswanya untuk menjadi dirinya sendiri sesuai dengan bakat dan minatnya. Tidak berhenti di situ saja, seorang guru pun harus menjadi motivator para siswanya, agar para siswa bersemangat dalam belajar, mengejar cita-cita, dan berbuat baik, serta rendah hati. Dus, saya tekankan sekali lagi bahwa kedua pendidik tersebut, yaitu Pak Harfan dan Bu Mus, bukan sekadar mengajari para siswanya tentang materi pelajaran yang didapat dari buku-buku kurikulum, tapi juga mengajarkan budi pekerti dan memberi tauladan yang baik dari kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah idealnya seorang pendidik atas anak didiknya. Kehidupan abstrak yang didapat dari teori-teori pengetahuan dan kehidupan konkrit yang didapat dari kenyataan hidup harus secara beriringan pada saat ditransfer kepada para siswanya. Maka, dengan kata lain bahwa pendidikan sejatinya menghilangkan jarak antara alam materi dan alam konkrit, antara dunia teori dengan dunia nyata. Dengan begitu, diharapkan peserta didik mempunyai visi ke depan, sehingga ia dapat merencanakan hidupnya di masa depan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelajar Sejati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Anggota Laskar Pelangi adalah para pelajar sejati. Betapa tidak, mereka tetap bertahan untuk melangsungkan pembelajaran di sekolah yang sesungguhnya tak layak untuk ditempati. Mereka benar-benar teruji sebagai pelajar sejati, lantaran tak kalah dengan keadaan. Maka cita rasa pendidikannya pun akan lain dengan keadaan sekolah yang serba mewah. Kearifan hidup tak terasa di sekolah yang serba memanjakan siswanya. Inilah sesungguhnya yang telah hilang dari dunia pendidikan kita baik tingkat Taman Kanak-Kanak maupun Perguruan Tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa dunia pendidikan saat ini telah kehilangan makna dan karakternya. Dasar dan falsafah pendidikannya pun hampir tak tersentuh sama sekali. Pendidikan kita saat ini sangat berorientasi pada materialisme, rasionalisme, kapitalisme, dan standarisme (nasional maupun internasional). Para pendidik seperti Pak Harfan dan Bu Muslimah sangat jarang kita temui saat ini. Guru-guru kita telah terjebak pada rutinitas belaka sebagai “guru”, yang hanya menjalankan kewajibannya dan memikirkan pendapatannya saja. Mereka telah kehilangan ruh sebagai pendidik yang sejatinya harus memberi suri tauladan hidup bagi peserta didiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek dari seorang pendidik yang memfungsikan dirinya sebagai suri tauladan akan sangat berpengaruh terhadap peserta didiknya. Hal itu bisa kita lihat pada tokoh Pak Harfan dan Bu Muslimah yang memberikan suri tauladan kepada Laskar Pelangi. Pak Harfan sering memberikan kisah-kisah inspiratif dan dorongan positif kepada Lintang dan kawan-kawannya itu, dan Bu Muslimah selalu memperhatikan mereka dengan sepenuh hati yang dilandasi kasih dan sayang. Efeknya adalah mereka tetap semangat belajar walau sekolah mereka minim fasilitas. Mereka juga semangat menjalankan hidupnya, lantaran terlecut kisah-kisah dan motivasi yang diberikan kedua pendidik mereka, Pak Harfan dan Bu Muslimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar Pelangi adalah para pelajar sejati yang tak terkalahkan oleh keadaan yang serba minim. Keadaan yang serba kekurangan tidak menghalangi mereka untuk selalu belajar. Mereka tidak saja belajar dalam kelas tetapi juga belajar dari alam yang mengajarkan mereka untuk berbagi kepada sesama. ***   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8368754003484150916?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8368754003484150916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8368754003484150916&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8368754003484150916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8368754003484150916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/11/nilai-nilai-edukatif-dalam-film-laskar.html' title='Nilai-Nilai Edukatif dalam Film Laskar Pelangi'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SSDm5XzgEjI/AAAAAAAAARw/dtAjF3Rphyo/s72-c/laskar+pelangi+the+movie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-9126712467654581553</id><published>2008-11-01T05:19:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T09:54:21.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kritik Kodifikasi Al-Qur’an dan Asbab An-Nuzul (Telaah Pemikiran Andrew Rippin)</title><content type='html'>Dalam buku “Approach To Islam In Religius Studies” Rippin menulis essay tentang metodologi yang dipakai John Wansbrough dalam memahami al-Qur'an. Metode yang digunakan Wansbrough dalam hal tersebut adalah metode sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rippin memulai pembahasannya dengan mengatakan bahwa Yahudi dan Islam adalah dua agama dalam sejarah. Karena dalam kedua agama tersebut Tuhan turut campur atau berinteraksi dalam sejarah untuk merampungkan tujuan-tujuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pernyataan ini, Fazlur Rahman berkomentar bahwa apa yang dapat dan tidak dapat dibuktikan oleh penelitian sejarah adalah apakah agama-agama ini telah membuat klaim semacam itu dan berada pada titik tertentu dalam waktu atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Rippin telah menggambarkan perbedaan serupa, yaitu mencampuradukan pandangan agama tentang sejarah dan pandangan sejarah tentang agama. Rippin menolak penelitian kesejarahan mengenai “apa yang sesungguhnya terjadi”. Padahal agama mengajukan klaim-klaim seperti itu dapat dan harus diteliti secara historis. Misalnya, kapan klaim-klaim tersebut dikemukakan, siapa yang mengajukannya, dan seterusnya. Bagaimana penolakan atas teologi sejarah meniadakan keniscayaan sejarah teologi itu? Hal yang patut dipertanyakan juga adalah mengapa ketika agama (Kristen, Yahudi, dan Islam) tersebut disebut agama-agama historis dan Hindu, Brahma, dan lain-lainnya tidak?[1] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rippin mengatakan tentang posisi Islam tidak historis lantaran tidak ada dukungan berupa bukti ekstra literer dalam data arkeologis yang tersedia. Oleh karena itu, Rippin, senada dengan Wansbrough bahwa untuk menghilangkan problem teologis tentang asal usul Islam, menawarkan pendekatan sastra, karena pendekatan historis tidak dapat menyingkirkan problem teologis.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam hal ini, Fazlur Rahman mengatakan keampuhan metode historis sudah cukup membuktikan bahwa bahan-bahan historis kaum muslim pada pokoknya asli, dan pengalihan kepada suatu metode analisa sastra yang murni tidak diperlukan.[3] Fazlur Rahman secara nyata memberi contoh konsekwensi jika berhenti pada sejarah dan hanya memakai pendekatan sastra, yaitu perbedaan-perbedaan tertentu dalam al-Qur'an di lihat kronologi periode Mekkah dan Madinah, seperti kisah perselisihan Ibrahim dengan ayahnya. Surat 19:47 (makkiyah) mengatakan bahwa Ibrahim sementara bersahabat dengan ayahnya. Ia mengatakan pada ayahnya bahwa dirinya akan terus berdoa memohonkan ampun baginya. Dan periode Madinah, ketika al-Qur'an memerintahkan kaum muhajirin untuk melepaskan diri dari anggota keluarga dekatnya di Mekkah yang tetap pagan dan terus mencela dan memusuhi muslim. Maka dari itu al-Qur'an mengatakan pada mereka (surat 19:114), “Ibrahim berdoa memohonkan ampun bagi ayahnya hanya karena ia pernah berjanji” (dengan kata lain ia benar-benar telah memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya). Hal ini menurut Fazlur Rahman masing-masing ayat ini cocok untuk lingkungan historis Nabi di Mekkah dan Madinah. Selain itu coba lihat surat 11:27-29, dimana Nuh diminta oleh para “pembesar” kaumnya agar melemparkan pengikutnya yang berkelas rendah sebelum mereka bergabung dengannya adalah sesuai dengan situasi Muhammad pada tahun-tahun terakhir di Mekkah, atau surat 7:85 Syu’aib diutus kepada kaumnya untuk menasihati mereka agar jujur dalam berdagang. Tentu saja ini juga merupakan problem yang dihadapi Muhammad dalam masyarakatnya. Semua contoh di atas memberi kesimpulan bahwa al-Qur'an berhubungan erat dengan aktivitas Nabi.[4] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rippin membela diri atas paparan yang ditulis Fazlur Rahman bahwa kita tidak tahu dan tidak pernah dapat mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Apa yang oleh kita, lanjut Rippin, dapat diketahui adalah apa yang orang-orang kemudian dipercayai atau diyakini sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi oleh orang-orang kemudian. Ia berkomentar bahwa sumber-sumber sejarah mendukung untuk merekam pertimbangan tentang “apa yang sesungguhnya terjadi”. Keinginan untuk merekam apa yang terjadi pada masa lalu, lanjut Rippin, adalah suatu tugas yang tidak masuk akal atau secara teoritik adalah tugas yang tidak mungkin. Islam memiliki sejarah, tetapi keinginan untuk mencapai hasil positif tidak harus menyebabkan kita mengabaikan sifat-sifat sastra dari sumber-sumber yang ada.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik lain yang dilontarkan Rippin yaitu mengenai studi Islam yang dilakukan Patricia Crone dan Michael Cook. Kata Rippin, mereka tidak mampu mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam sumber-sumber itu karena sumber-sumber tersebut merupakan otentisitas sejarah yang dapat dipertanyakan, dan lebih-lebih sumber-sumber itu adalah karya-karya yang dibangun atas dasar polemik.[6] Lalu dia memperkuat kata-katanya dengan kata-kata Wansbrough:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapatkah sejumlah motif secara bebas dipertimbangkan atas dasar  stereotip sastra yang mempunyai ciri-ciri tersendiri yang disusun oleh pengamat asing dan bermusuhan dan setelah itu digunakan untuk menjelaskan bahkan menafsirkan dimana tidak sekadar perilaku lahiriah tetapi juga perkembangan intelektual dan spiritual dari para aktor yang hampir tidak berdosa dan tidak membutuhkan pertolongan?”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kritik Kodifikasi al-Qur'an&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Andrew &lt;br /&gt;Rippin mengamini pendapat Wansbrough bahwa kanonisasi teks al-Qur'an terbentuk pada akhir abad ke-2 Hijriah. Oleh sebab itu, semua Hadis yang menyatakan tentang himpunan al-Qur'an harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya secara historis. Semua informasi tersebut adalah fiktif yang punya maksud-maksud tertentu. Semua informasi tersebut mungkin dibuat oleh para fuqaha untuk menjelaskan doktrin-doktrin syari’ah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikuti model periwayatan teks orisinal pantekosta dan kanonisasi kitab suci Ibrani.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut keduanya, untuk menyimpulkan teks yang diterima dan selama ini diyakini oleh kaum Muslimin sebenarnya adalah fiksi yang belakangan yang direkayasa oleh kaum Muslimin. Teks al-Qur'an baru menjadi baku setelah tahun 800 M. Lebih jauh lagi Rippin mengatakan, Al-Qur'an tidak diturunkan kepada satu orang, tetapi merupakan kumpulan atau pengeditan oleh sekelompok orang selama beberapa abad.[9] Jadi, al-Qur'an yang kita baca sekarang tidak sama dengan apa yang ada pada abad ke 7M. kemungkinan merupakan hasil abad 8M dan 9M.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya tahap pembentukan Islam tidak berlangsung pada masa Muhammad, namun berkembang selama 200-300 tahun berikutnya. Sumber-sumber materi bagi periode ini, sangat sedikit. Dan di luar dugaan, semua sumber berusia jauh setelah abad 7. Sebelum 750 M tidak ada dokumen yang bisa diverifikasi yang bisa menjelaskan periode pembentukan Islam ini. Periode klasik ini menggambarkan masa lalu tetapi dari sudut pandangnya sendiri, seperti orang dewasa menulis tentang masa kecilnya yang cenderung mengingat hal-hal yang manis saja. Sehingga kesaksian ini bersifat tidak obyektif dan oleh karena itu tidak dapat diterima sebagai otentik.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Rippin, muslim ortodok percaya penuh bahwa wahyu Islam adalah intervensi ilahi lewat Jibril selama periode 22 tahun, masa yang menetapkan hukum dan tradisi yang akhirnya membentuk Islam. Tetapi hal ini diragukan, kata Rippin, bahwa pada abad ke 7, Islam, sebuah agama yang terdiri dari hukum dan tradisi yang njlimet dibentuk dalam sebuah budaya nomad terbelakang dan berfungsi penuh dalam hanya 22 tahun. Wilayah Arabia sebelumnya tidak dikenal sebagai dunia beradab. Periode ini bahkan dicap sebagai periode jahiliyah. Wilayah Arabia sebelum Muhammad tidak memiliki budaya maju, apalagi infrastruktur yang diperlukan untuk menciptakan keadaan yang mendukung pembentukan Islam. Jadi, bagaimana Islam diciptakan secepat dan serapih itu? Dalam lingkungan padang pasir yang terbelakang lagi.[12]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asbab an-Nuzul &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya John Wansbrough yang berjudul Qur’anic Studies:Sorces And Methods Of Scriptural Interpretation, sejumlah tesis dicetuskan mengenai asbab an-nuzul, atau peristiwa-peristiwa pewahyuan. Keseluruhan pandangan Wansbrough salah satunya secara kritis diambil dari as-Suyuti. Materi asbab merupakan poin rujukan utamanya dalam karya-karya yang berusaha untuk mengambil hukum dari teks al-Qur’an, yaitu, karya halakhic. Dia mengemukakan bahwa keberadaan materi asbab sebagaimana ditemukan dalam haggadic atau tafsir naratif, seperti dalam karya Muqatil adalah “kebetulan’, karena, ketika laporan-laporan naratif asbab menjadi anekdot. Mereka tidak bisa memenuhi apa yang Wansbrough pandang sebagai “fungsi esensial’, yang  membentuk ‘sebuah kronologi pewahyuan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal di atas, Andrew Rippin mencoba melakukan investigasi khusus terhadap fungsi dari asbab dalam penafsiran, yaitu untuk mengajukan pertanyaan mengenai apa yang diselesaikan dalam cerita-cerita asbab? Apakah mereka (para penafsir) memberikan sejarah atau penafsiran? Apakah dalam karakternya hal itu merupakan haggadic atau halakhic penafsiran? Petanyaan tersebut ditujukan untuk analisis literal mengenai cerita itu sendiri dan juga dengan melihat penggunaan materi tersebut di dalam teks penafsiran. Pertanyaan yang dikemukakan dalam nada ini adalah sebagai berikut: mengapa di dalam konteks sebuah karya seperti dalam karya at-Tabari materi asbab nuzul dikemukakan? Apa tujuan penafsir mengemukakan hal itu? Apa yang dia harap untuk selesai dengan melakukannya? Apa yang dia lakukan terhadap materi tersebut setelah dia mengemukakannya?[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitiannya, Rippin memakai pendekatan yang digunakan Wansbrough, yaitu kritik sastra dan kritik histories. Andrew Rippin membuat frame work investigasinya yang dibatasi pada karya-karya penafsiran yang dihasilkan oleh pengarang Sunni di Arab mulai dari periode awal (yaitu, sebelum abad enam Hijriah), terutama ketika teknik literatur penafsiran benar-benar tidak rumit dan belum kacau. Jangkauan dari karya penafsiran yang disurvey meliputi tipe haggadik cerita periode awal, yaitu karya Muqatil (w. 150/767), Pseudo al-Kalbi (w. 146/763), Sufyan at-Tsauri (w. 161/777), Mujahid (w.104/772), Abd al-Razzaq (211/826), al-Thabari (w.310/922), dan al-Wahidi (468/1075). Adapun poin penggunaan tiga sub-genre tafsir untuk diinvestigasi adalah sangat simpel, karena mereka telah dikemukakan dalam konteks pembahasan sebelumnya mengenai peran asbab an nuzul sebagaimana ditemukan baik dalam karya terkini Wonsbrogh, yaitu Qur’anic Studies  dan The Secterian Milieu, tetapi juga sebagaimana diindikasikan dalam pembahasan mengani topik tersebut oleh al-Zarkasy dan Suyuti. Dan yang menjadi fokus Rippin dalam penggunaan teks-teks yang para penafsir adalah memfokuskan pada pertanyaan literatur esensial: Kenapa asbab an-nuzul dikemukakan dalam karya-karya ini? Hasilnya akan memberikan sebuah pandangan mengenai teknik penafsiran atau metode penafsiran literal yang digunakan oleh para penafsir ini.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan investigasi, Rippin menyimpulkan bahwa asbab al-Nuzul mendapat perhatian karena didasari dari keinginan Umat Islam untuk men’sejarah’kan teks al-Qur’an agar dapat dikatakan bahwa Tuhan benar-benar mewahyukan kitab-Nya pada manusia di dunia ini merupakan bukti perhatian Tuhan pada makhluk-Nya. Hanya saja menurut penelitiannya, Andrew Rippin menyatakan bahwa bidang ini belum mendapat perhatian serius menjadi kajian sejarah dan kontekstual teks dari kalangan umat Islam sendiri. Asbab al-nuzul hanya dicatat dan lalu dibiarkan tanpa ada penjelasan kausalitas. Kesimpulan yang lainnya juga adalah bahwa asbab al-nuzul tidak berada pada zaman nabi, tapi hanya hasil rekonstruksi setelah masa Nabi Saw, dimana salah satunya adalah melalui sunnah maupun  hadis, padahal keduanya dalam periwayatannya belum tentu benar dan jujur, ketika seseorang meriwayatkannya, apalagi jika mengingat rentang waktu yang berpuluhan tahun. Namun, Rippin tidak menyadari tentang teori periwayan yang dikenal dalam dunia islam. Bahwa proses periwayatan bukan hanya saja secara lafdzi akan tetapi juga secara maknawi[15]. Inilah saya kira salah satu yang luput dicermati oleh Rippin ketika menyimpulkan hal di atas.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Refleksi Atas Rippin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Betapapun naifnya Rippin terhadap pendekatan sejarah, namun patut juga kita renungkan secara jernih tanpa a priori padanya. Hal itu memang senada dengan pernyataan bahwa semua produk pemikiran dalam khazanah Islam tidak lebih dari produk sejarah yang tidak bisa mengelak dari ruang dan waktu. Tak pernah ada jaminan bahwa sebuah teks betul-betul murni menyuarakan secara utuh apa yang seharusnya dikatakan. Oleh karena itu, tak heran, jika kita dapatkan kritikan tajam dari para orientalis mengenai sejarah yang dipunyai umat Islam, terutama al-Qur'an wama haulahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, pendekatan sejarah (dan sastra) dalam studi al-Qur'an tidak akan menghasilkan konklusi yang positif dalam pandangan Islam, karena historisme melakukan eksplanasi terhadap obyek penyelidikannya. Eksplanasi dilakukan sebagai pihak outsider (baca:non-muslim). Akibat negatifnya adalah data yang diteliti dengan mudah direduksi untuk mencocokkan dengan kategori-kategori metodologi. Karena itu, ini akan menghasilkan reduksionisme. Inilah yang penulis simpulkan dari catatan Andrew Rippin mengenai pandangannnya tentang sejarah sebagai metodologi kajian Islam, khususnya al-Qur'an. &lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;----------------------------&lt;br /&gt;[1] Andrew Rippin, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Analisis Sastra Terhadap al-Qur'an, Tafsir, dan Sirah: Metodologi John Wansbrough.&lt;/span&gt; Hlm. 201. Lihat juga Fazlur Rahman, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pendekatan Terhadap Islam Dalam Studi Agama&lt;/span&gt;. Hlm.249. Kedua tulisan di atas ada dalam buku Richard C. Martin (ed.), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama&lt;/span&gt;, pen. Zakiyuddin Bhaidhawy, (Surakarta: Muhammadiyah University Press), cet.2, 2002&lt;br /&gt;[2] Andrew Rippin, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[3]Fazlur Rahman, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[4]Fazlur Rahman, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;, Hlm. 262&lt;br /&gt;[5]Rippin.,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Ibid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[6]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;[7]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;[8] http://www. Faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=8619&lt;br /&gt;[9]Rippin 1985:155. lihat http://www. Faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=8619. Ibid.&lt;br /&gt;[10]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;[11]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[12]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid&lt;/span&gt;., Rippin, 1990:3-4&lt;br /&gt;[13]Andrew Rippin, “The Function of Asbab an-Nuzul Qur’anic Exegesis”, dalam Buletin of The School of Oriental an African Studies.51, 1988, hlm. 1-20. lihat juga situs www.muhammadanism.com. Dikutip pada tanggal 1 Pebruari 2007 &lt;br /&gt;[14]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[15]&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ibid.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-9126712467654581553?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/9126712467654581553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=9126712467654581553&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/9126712467654581553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/9126712467654581553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/10/kritik-kodifikasi-al-quran-dan-asbab_31.html' title='Kritik Kodifikasi Al-Qur’an dan Asbab An-Nuzul (Telaah Pemikiran Andrew Rippin)'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3610646446979224806</id><published>2008-10-24T13:17:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T09:54:33.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pemikiran Hadis Kontemporer</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepada Yth:&lt;br /&gt;Para mahasiswa STIS Magelang yang mengambil mata kuliah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Pemikiran Hadis Kontemporer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah bahan mata kuliah Pemikiran Hadis Kontemporer (PHK) yang telah kita bahas di kelas selama 1 triwulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang perlu diketahui oleh semuanya:&lt;br /&gt;1) Saya tidak menuliskan semua para tokoh pemikir hadis kontemporer (sebagaimana yang tercantum dalam silabi dan kita bahas di kelas). Tapi, Insya Allah bahan ujian nanti sudah ada di sini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Tulisan ini hanyalah poin-poin penting saja--&lt;span&gt;yang saya kutip dari berbagai sumber--&lt;/span&gt; yang perlu diketahui dalam kaitannya dengan mata kuliah PHK. Untuk itu saya persilakan untuk mencari data-data lainnya yang lebih komprehensif guna mendapatkan pemahaman yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan yang sederhana di bawah ini bermanfaat untuk kita semua. Amin. Selamat belajar dan menempuh ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.Iqbal Dawami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta yang paling baik adalah memberi daripada menerima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang muda belajar kepada orang tua itu biasa, tapi orang tua belajar kepada orang muda adalah luar biasa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMIKIRAN HADIS KONTEMPORER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUHAMMAD ABDUH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Lahir di Mahallah, Mesir, pada 1849 Masehi. Hafal al-Qur'an usia 12 tahun&lt;br /&gt;- Kuliah di Mesir, setamat kuliah dia menjadi guru dan dosen&lt;br /&gt;- Abduh banyak belajar kepada Jamaluddin Al-Afghani&lt;br /&gt;- Tahun 1882 dideportasi karena terlibat dalam Revolusi Arab. Ia tinggal di Syam, dan sempat tinggal juga di Paris, Prancis (selama 10 bulan). Di Paris ia menulis jurnal judulnya Urwatul Wutsqo bersama Jamaluddin al-Afghani.&lt;br /&gt;- Pada 1889 Abduh kembali ke Mesir, lalu menjadi mufti. Dia terkenal sebagai pembaharu/reformer melalui pendidikan. Dia mengidealkan pada masa Nabi dan salafussoleh (para sahabat dan tabi'in), dan langsung merujuk sumber asli (al-Qur'an dan Hadis).&lt;br /&gt;- Metode pembaharuannya: Al-Manhaj Al-Wustha (jalan tengah), yaitu tidak taqlid pada ilmu-ilmu agama yang dibuat ulama dan tidak silau pada ilmu-ilmu dunia (barat).&lt;br /&gt;- Wafat 11 Juli 1905&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RASYID RIDHA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Nama lengkapnya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Lahir di Qalmun, desa yang letaknya 4 km dari Tripol, Libanon, pada 1282 H. Dia masih keturunan Nabi dari Husen putera Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad saw.&lt;br /&gt;- Semenjak di bangku sekolah, dia sudah belajar bahasa Turki dan Prancis.&lt;br /&gt;- Ridha banyak belajar secara door to door dengan beberapa pakar. Di bidang hadis dia belajar pada Mahmud Nasyabah.&lt;br /&gt;- Ridha pandai menilai hadis-hadis yang dha'if dan maudhu' (palsu), sehingga digelari "voltaire", filosof Prancis.&lt;br /&gt;- Ridha pengagum Muhammad Abduh, dan menjadi muridnya. Mulai intensnya ketika Abduh mengajar di Beirut, Tripoli, dan terakhir, di Mesir.&lt;br /&gt;- Ridha dan Abduh mengelola koran yang isinya tentang sosial, budaya dan agama. Koran itu bernama Al-Manar.&lt;br /&gt;- Bersama Abduh, Ridha menulis tafsir Al-Manar, yang dimuat secara berkala di koran Al-Manar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemikiran Hadis menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha menekankan ijtihad&lt;br /&gt;- Muslim harus percaya pada al-Qur'an dan Hadis Mutawatir. Sedang Hadis Ahad, kembali pada pribadi masing-masing.&lt;br /&gt;- Menurut Ridha, dosa-dosa kecil sebagian perawi lain yang dapat dipercaya, tidak menghalangi diterimanya semua hadis mereka. Begitu juga sebaliknya, meskipun perawinya dipercaya, tapi matan (hadisnya) bertentangan dengan al-Qur'an harus ditinggalkan.&lt;br /&gt;- Menurut Ridha masalahl adab dan akhlak hanya didasarkan pada hadis-hadis Ahad. Hadis-hadis Ahad harus dipandang sebagai perluasan dan ulasan tentang al-Qur'an.  انا نحن نزلنا الذكر : zikr dalam ayat itu diartikan sebagai Sunnah Nabi.&lt;br /&gt;- Menurut Ridha seorang perawi memiliki 'adalah, tidaklah mencukupi untuk menerima segala yang diriwayatkannya. Isnad dan matan harus diteliti juga.&lt;br /&gt;- Ridha menolak hadis Isra'iliyat. Dia mengkritik perawi Ka'ab yang banyak meriwayatkan Hadis Israi'iliyat. Contohnya: (1) "Matahari dan bulan akan ke neraka pada hari kiamat, seperti dua sapi jantan yang sudah dilumpuhkan." (2) "Allah telah mengizinkan untuk mengatakan kepadamu tentang ayam jantan yang kedua kakinya mencapai bumi dan yang lehernya ada di bawah arsy. (lihat Al-Jami'us Shaghir, karangan Al-suyuthi).&lt;br /&gt;- Hadis ganjil tentang pengobatan, misalnya lalat. Rasul bersabda, "Bila lalat jatuh ke dalam kendimu, tenggelamkan sepenuhnya terlebih dahulu, baru kemudian buang, karena satu sayapnya memberi obat, satunya lagi penyakit"(Bukhori). Kata Ridha, hadis tersebut ganjil. Ada dua alasan: (1) Di lihat hadis itu dari sudut pandang pembuat undang-undang, hadis itu menginjak-injak dua prinsip utama; tidak menasihati agar menghindari sesuatu yang buruk, dan tidak menasihati agar menghindari sesuatu yang kotor. (2)Meskipun ilmu pengetahuan modern telah mengalami kemajuan, namun tetap tidak dapat diketahui bedanya antara sayap lalat yang satu dengan sayap yang satunya lagi. Jika perawinya tidak membuat kesalahan dalam menyusun kata-kata hadis itu, hadis itu dapat dipandang diilhami oleh Allah, tetapi sangatlah mungkin ilmu pengetahuan modern tidak akan pernah mengetahui perbedaannya. Dan dalam kasus itu, harus disimpulkan bahwa hadis itu, sekalipun isnad-nya sahih, matn-nya tidak shahih.&lt;br /&gt;- Ridha dan Abduh menggunakan akal secara luas dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan bersikap kritis atas Hadis-Hadis yang dianggap shahih oleh umat Islam mayoritas.&lt;br /&gt;- Ridha menolak hadis Bukhori yang menceritakan mengenai tersihirnya Nabi yang tidak hanya dianalisanya dari sisi matan tetapi juga dari sisi sanadnya karena salah seorang perawi hadis ini ditolak oleh ulama al-jarh wa at-ta'dil.&lt;br /&gt;- Ridha menolak Hadis terbelahnya bulan yang disampaikan Abu Hurairah melalui Ibnu Juraij yang disebutnya sudah pikun saat menceritakan hadis itu.&lt;br /&gt;- Rasyid Ridha, sama seperti Abduh, sangat berhati-hati menerima riwayat yang mengemukakan pendapat para sahabat Nabi sebagaimana dikutipnya kata-kata As-Suyuthi dalam Al-Itqon ketika menyatakan bahwa dalam kitab Fadha'il al-Imam asy-Syafi'i karangan Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syakir al-Qathan, terdapat satu riwayat dari Ibnu Abdil Hakam: "Aku mendengar Syafi'i berkata: Tidak sah (riwayat yang dinisbahkan) kepada Ibnu Abbas menyangkut tafsir kecuali sekitar 100 hadis.&lt;br /&gt;- Karena itu, Ridha sangat hati-hati sekali menerima tafsir Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat-ayat yang turun di Mekkah dengan dasar: Ibnu Abbas bukanlah salah seorang yang menghafal al-Qur'an atau meriwayatkan Hadis pada periode Mekkah, karena beliau lahir 3 tahun sebelum hijrah atau lima tahun sebelumnya sehingga bisa jadi itu timbul dari pendapat pribadinya atau pendapat orang yang dia riwayatkan.&lt;br /&gt;- Hal dan alasan yang sama dikemukakan Ridha menyangkut umur Ibnu Abbas ketika dia menolak riwayat yang ada dalam Shahih Muslim menyangkut keikutsertaan malaikat dalam perang badar dan pendapatnya bahwa Ibnu Abbas tidak segan-segan mengambil riwayat dari orang lain meskipun sekelas Ka'ab al Ahbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AHMAD AMIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Kairo, pada 1878 dan meninggal pada 30 Mei 1954. Pernah menjadi Guru Besar di Universitas Kairo pada 1934-1941. Dia dikenal sebagai sejawaran Islam. Adapun karya-karyanya: Fajrul Islam, Duhal Islam, Zuhrul Islam, dll.&lt;br /&gt;Amin menganggap pemalsuan Hadis telah terjadi semenjak Rasul masih hidup. Berdasarkan hadis&lt;br /&gt;من كذب علي متعمد فليتبوء مقعده من النار.&lt;br /&gt;Amin tak percaya kalau semua para sahabat bersifat 'adil. Alasannya: di antara para sahabat saja sering terjadi kritik-mengkritik. Thalhah, Zubair, Aisyah Vs. Ali, Muwaiyah dan Amr bin Ash Vs. sahabat lain. Juga ditambah dengan adanya al-fitnah al-kubra I (pasca kematian Utsman) dan al-fitnah al-kubra II (pasca kematian Ali).&lt;br /&gt;Dari peristiwa tersebut para sahabat tidak netral lagi. Terjadi blok-blok dan perang mengeluarkan hadis sesuai kepentingannya masing-masing, dan menyerang yang lain. Generasi pasca tabi'in hingga sekarang yang mengkultuskan bahwa para sahabat 'adil semua.&lt;br /&gt;Amin memperkuat dengan alasan lainnya: Ibnu Abbas menolak hadis Abu Hurairoh yang berbunyi 'Barangsiapa membawa mait, maka berwudhulah'.&lt;br /&gt;Aisyah juga menolak hadis Abu Hurairoh berbunyi 'barangsiapa bangun dari tidurnya maka basuhlah tangannya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HUSAIN HAIKAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Kairo, pada 30 Agustus 1888. Kuliah di Prancis hingga jenjang doktoral pada 1912. Dia mengambil jurusan Hukum.&lt;br /&gt;Karirnya sebagai pengacara dan pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Kairo. Pernah menjadi Menteri Negara Urusan Dalam Negeri. Dia juga pernah menulis novel Zainab yang terkenal, tentang kehidupan petani di mesir.&lt;br /&gt;Karya-karyanya yang terkenal adalah: Hayat Muhammad saw, Zainab, al-Iman wal Ma'rifah wal Falsafah.&lt;br /&gt;Husain Haikal lebih perhatian pada matan hadis ketimbang sanad hadis. Dia adalah pengikut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.&lt;br /&gt;Haikal tidak percaya dengan hadis-hadis yang tidak masuk akal. Dia juga sangat kritis terhadap hadis-hadis Isra' Mi'raj. Dia mengutip beberapa hadis yang dianggapnya shahih secara matan, meski sanadnya lemah.&lt;br /&gt;Seperti matan dari riwayat Aisyah, Ummu Hani, dan Muawiyah adalah shahih walau sanadnya lemah. Karena semua matannya sesuai dengan Alquran: al-Isra: 60, al-Kahfi: 110, an-Nisa: 68.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;YUSUF QARDHAWI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-Yusuf Qardhawi lahir di desa Shaft Turab, daerah Mahallah Al-Kubra, Mesir, pada 9 September 1926. Pada usia 10 tahun dia sudah hafal Alquran. Pendidikan formalnya ditempuh di Al-Azhar Mesir. Keahliannya adalah dalam bidang Aqidah, Tafsir, dan Hadis. Hal itu didukung oleh pelajarannya di Fakultas Ushuluddin, yang diselesaikannya pada tahun 1960.&lt;br /&gt;- Di antara karya-karyanya adalah Al-Quran &amp;amp; As-Sunnah, As-Sunnah Sebagai Sumber IPTEK &amp;amp; Peradaban, Fiqh Prioritas - Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Quran &amp;amp; Al-Sunnah,dll.&lt;br /&gt;Pemikiran Yusuf Qardhawi Tentang Hadis&lt;br /&gt;- Agar sukses memahami hadis secara benar, Qardhawi menegaskan bahwa kita harus menghimpun Hadis Shahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungan yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang mutlak dengan muqayyad, dan menafsirkan yang ‘am dengan khos. Dengan cara itu, suatu hadis dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;- Mencukupkan diri dengan dengan pengertian lahiriah suatu Hadis saja tanpa memerhatikan hadis-hadis lainnya, dan teks-teks lain yang berkaitan dengan topik tertentu seringkali menjerumuskan orang ke dalam kesalahan, dan menjauhkannya dari kebenaran mengenai maksud sebenarnya dari konteks-konteks hadis tersebut. Misalnya: لا يدخل هذا بيت قوم إلا أدخله الله الذل  (“Tidak akan masuk (alat) ini ke rumah suatu kaum, kecuali Allah pasti memasukkan kehinaan ke dalamnya.” (HR Bukhori).&lt;br /&gt;- Pengertian lahiriah hadis ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah tidak menyukai pekerjaan bertani sebab akan mengakibatkan kehinaan bagi para pekerjanya. Namun secara lahiriah bertentangan dengan Hadis Shahih lainnya, karena sunnah yang kemudian dirinci dalam fiqih telah banyak menjelaskan tentang hukum-hukum pertanian, pengairan dan penggarapan tanah kosong, serta segala sesuatu yang berkaitan dengan hak dan kewajiban masing-masing.&lt;br /&gt;- Hadis itu sebenarnya berlaku bagi orang yang berada di dekat daerah musuh, sebab apabila ia menyibukkan dirinya dengan pertanian, ia akan melupakan tugas kewiraan, sehingga musuh menjadi berani. Semestinya orang yang demikian lebih memilih ketrampilan ketentaraan (Pendapat Yusuf Q.).&lt;br /&gt;- Menggabungkan antara dua hadis yang dianggap bertentangan kemudian mentarjihnya (memilih yang paling kuat dan rasional). Contoh: “Nabi saw melaknat wanita-wanita yang menziarahi kubur” (HR At-Turmudzi). Hadis itu bertentangan dengan hadis, “Rasul bersabda, ‘aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, kini berziarahlah’…” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUHAMMAD AL-GHAZALI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Muhammad Al-Ghazali di sini bukanlah Muhammad Al-Ghazali yang menulis kitab Ihya Ulumuddin.&lt;br /&gt;- Dia lahir pada 1917 M di al-Bahirah, Mesir, kuliah di Al-Azhar Mesir, lulus pada 1941. Dia aktif di organisasi Ikhwanul Muslimin. Dia juga aktif menulis dan berceramah.&lt;br /&gt;- Muhammad Al-Ghazali wafat pada sabtu 9 syawal 1416 H bertepatan dengan tanggal 1996.&lt;br /&gt;- Di antara karya-karyanya adalah As-Sunnah An-Nabawiyyah Baina Ahlul Fiqh wa Ahlul Hadis, Al-Islam Wa Al-Ausa’ Al-Iqtishadiyah, dll.&lt;br /&gt;Pemikiran Hadis Muhammad Al-Ghazali&lt;br /&gt;- Keterhindaran dari syadz dan ‘illat, merupakan persyaratan keshahihan matan. Dia tidak mensyaratkan ketersambungan sanad sebagai salah satu syarat keshahihan sanad hadis.&lt;br /&gt;- Banyak tertuju pada matannya saja. Dia sering mengajukan pertanyaan: Apa gunanya hadis dengan isnad yang kuat tetapi memiliki matan yang cacat?&lt;br /&gt;- Hadis Mutawatir cakupannya sangat luas (aqidah, hukum, dan muamalah). Hadis mutawatir juga akan mendatangkan ketenangan jiwa bagi pengamalnya. Sedang Hadis Ahad hanya menghasilkan dugaan kuat (zann al-‘ilmi), dan cakupannya hanya dalam cabang-cabang hukum syari’ah. Karena itu, dia hanya menerima hadis-hadis mutawatir untuk persoalan dasar Islam, seperti tentang akidah dan hukum.&lt;br /&gt;- Hadis tentang “Orang yang meninggal diazab karena ditangisi yang hidup (baca:keluarganya)”, dari 37 jalur sanad hadis itu hanya dua jalur yang dapat diterima, yaitu yang terdapat dalam Shahih Muslim. Yaitu hanya riwayat dari Aisyah yang dapat diterima, sedang yang lainnya ditolak. Hal ini didasarkan pada Aisyah sendiri yang menolak hadis di atas, karena bertentangan dengan Alquran, “Tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain…” (Al-An’am: 164).&lt;br /&gt;- Hadis berbunyi, “Tidak akan sukses suatu kaum (masyarakat) yang menyerahkan urusannya kepada wanita.” (HR Bukhori). Hadis itu harus dilihat konteksnya. Ketika Nabi SAW mengucapkan hadis itu pasukan persia telah dipaksa mundur dan luas wilayahnya makin menyempit. Sebenarnya masih ada kemungkinan untuk menyerahkan kepemimpinan negara kepada seorang jenderal yang piawai, yang mungkin dapat menghentikan kekalahan demi kekalahan. Namun, paganisme politik tidak menjadikan rakyat dan negara sebagai harta warisan yang diterimakan kepada seorang wanita muda yang tidak tahu apa-apa. Hal itulah yang menandakan bahwa Persia sedang menuju kehancuran total.&lt;br /&gt;- M. Al-Ghazali mengatakan bahwa wanita yang tidak boleh diserahi tugas sebagai pemimpin oleh Nabi Saw adalah wanita yang tidak memenuhi syarat kepemimpinan, baik dilihat dari segi kepakaran maupun dilihat dari segi budaya setempat. Jadi, Hadis di atas tidak dapat dijadikan sebagai dasar penolakan wanita sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUSTHAFA AS-SIBA’I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;As-siba’i mengutip asy-Syafi’i yang mengatakan bahwa istilah bayan (atau tibyan, sebagaimana yang digunakan Shidqi dari ayat Alquran, surah 16 ayat 89) bermaksud menerangkan prinsip-prinsip dan juga cabang-cabangnya.alquran mungkin saja memberikan ajaran-ajaran yang terinci, sehingga tidak diperlukan lagi penjelasan tambahan: namun alquran juga mengandung ajaran-ajaran yang kata-katanya disusun dalam istilah-istilah yang luas sehingga sangat diperlukan keterangan yang terinci. Dalam kasus yang terakhir. Alquran itu sendiri mengindikasikan agar kita menemukan penjelasan tentang ajaran-ajaran yang luas ini: penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam sunnah Nabi, karena Allah memerintahkan kepada manusia untuk menaati Nabi-nya. Dengan kata lain, alquran adalah sebuah Hujjah, dan sunnah juga demikian, karena ketaatan kepada Nabi dalam segala yang diperintahkannya mendapat penekanan dalam alquran.&lt;br /&gt;Pertama-tama as-siba’i menyangkal sepenuhnya bahwa hadis mutawatir itu jumlahnya tak lebih dari satu atau tujuh. Tanpa mengutip sumber-sumbernya, dia menyebutkan bahwa jumlah hadis mutawatir itu jauh lebih banyak. Kedua, tidak ada ulama yang pernah menempatkan praktik ahad di bawah kelompok “dibolehkan” yaitu ja’iz. As-Siba’i menyinggung lima kualifikasi, al-ahkam al-khamsah. Hanya orang-orang seperti kaum Rafidhi yang fanatic sajalah yang menolak sama sekali hujjiyah sunnah; mayoritas besar kaum Muslim, tandas As-Siba’i, mengamalkan hadis-hadis ahad sebagai kewajiban, jika hadis-hadis ahad ini terbukti sahih. Beberapa sarjana mengakui bahwa mempercayai hadis-hadis ahad bahkan merupakan suatu keharusan; hal ini berarti bahwa mengetahui hadis-hadis tersebut sama wajibnya dengan mengamalkannya. Apa lagi yang tertinggal dalam sunnah, kata ak-siba’i, kalau mutawatir disebut-sebut tidak ada, dan pengamatan hadis-hadis ahad hanya setingkat “dibolehkan”! lantas apa kedudukannya di tengah-tengah sumber-sumber perundang-undangan islam! Lantas apa gunanya sunnah bagi kaum muslim.&lt;br /&gt;Inilah contoh gaya as-siba’i, yang dengan keras hati berbicara berulang-ulang tentang kesalahan-kesalahan lawannya, yang pribadi tidak pernah luput dari kritiknya. Inilah gaya as-siba’I dalam menulis bukunya setebal 500 halaman yang berjudul as-sunnah wa makanatuha fit-Tasyri al-islam. Selama tahun-tahun terakhir masa hidupnya, as-siba’i mengajar hokum islam pada universitas Damaskus.motif-motif penulisan buku ini dijelaskan oleh penulis secara panjang lebar dalam kata pengantar.&lt;br /&gt;Lahir di Suriah, as-siba’i pergi ke Kairo untuk belajar di Universitas al-Azhar. Pada 1939 dia mengikuti kuliah-kuliah ‘Ali Hasan ‘Abdul Qadir tentang sejarah perundang-undangan islam. Sarjana ini pernah belajar di Jerman, dan kembali ke Mesir dengan menyandang gelar doctor dari Jerman untuk mengajar di Al-Azhar. Dia menggunakan studi Goldziher mengenai hadis dalam Muhammadanische Studien, bagian dua, sebagai buku teks; dia menerjemahkan naskah Jerman ke dalam bahasa Arab, dan berdasarkan ini dia mengajar sejarah sunnah. Dia sendiri sepenuhnya mendukung gagasan-gagasan yang dikemukakan Goldziher dalam bukunya, dan dia tidak mau menyerah terhadap argument yang menentangnya yang dilontarkan oleh pendengarnya. Dia memandang metode Goldziher sebagai “… suatu metode ilmiah, yang belum pernah diterapkan di Al-Azhar hingga sekarang.”&lt;br /&gt;Mushthafa as-Siba’i, yang pada umumnya sepakat dengan bantahan as-Samahi dan al-Mu’allimi, mengemukakan argument lain. Dia menyalahkan abu Rayyah yang tidak menyebutkan riwayat lain, yang juga dikemukakan dalam Ibn Katsir, dimana ‘Umar mengizinkan Abu Hurairah untuk meriwayatkan hadis lagi. Bunyi riwayat itu seperti ini. Abu Hurairah berkata: “sebuah hadis dariku sampai kepada Umar. ‘Umar memanggilku, lalu berkata: “apakah kamu bersama kami, ketika kami ada di rumah si Fulan bersama Rasulullah? Aku menjawab: “Ya, dan aku sudah tahu kenapa engkau menanyakan hal ini.” ‘Umar berkata: “Kenapa aku Tanya engkau?” Kataku: Rasulullah pada hari itu berkata: “Barangsiapa berkata dusta tentang aku, berarti dia mempersiapkan bagi dirinya sendiri sebuah tempat duduk di neraka.” ‘Umar berkata: “Baiklah, silakan meriwayatka hadis.”&lt;br /&gt;Riwayat lain dari Ibn Katsir dikutip oleh Abu Rayyah. Riwayat ini menyebutkan bahwa ‘Umar mengancam Abu Hurairah, dengan kata-kata: “Janganlah meriwayatkan dari Rasul Allah, kalau tidak, aku akan memulangkanmu ke tanah Daws. As-Samahi mengatakan bahwa ‘Umar khawatir masyarakat akan kebingungan membedakan mana yang alquran dan mana yang hadis; dia selalu berupaya menarik perhatian masyarakat kepada alquran dan menjauhkan masyarakat dari memperhatikan hadis. As-samahi tidak menafsirkan pernyataan ‘Umar sebagai semata-mata kata-kata yang keras, yang ditujukan kepada Abu Hurairah, namun lebih sebagai memperlihatkan kekhawatiran umum ‘Umar berkenaan dengan hadis. Dia tidak membatasi larangannya mengenai hadis pada Abu Hurairah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUHAMMAD TAWFIQ SHIDQI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Tawfiq Shidqi adalah dokter di penjara Thurra. Di bawah bimbingan Ridha, dia melakukan studi tentang berbagai masalah pokok teologi.selain beberapa buku yang bersifat apologetic, dimana dia membandingkan islam dan Kristen satu sama lain, dan beberapa buku kedokteran. Dia menerbitkan artikel seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Al-Islam huwal Qur’an wahdahu. Ridha tidak sependapat dengannya tentang banyak hal. Namun, menurut Ridha, setiap orang berhak mengungkapkan pendapatnya sendiri.&lt;br /&gt;Shidqi mengikuti satu pola berpikir dalam artikelnya: dia ingin memperlihatkan bahwa manusia dapat meninggalkan sunnah, karena ALqur’an telah memberikan berbagai jawaban terhadap segala persoalan dalam kehidupan, baik kehidupan keagamaan maupun kehidupan secular. Dengan kata lain, dia mendekati otentisitas dari salah satu sudut yang digambarkan dalam bab pertama, yaitu sudut hujjiyyah.&lt;br /&gt;Menurut Shidqi, semua orang islam tidak meragukan keandalan nash alquran, sedangkan terhadap hadis, ada orang islam yang meragukannya. Alqur’an ditulis pada saat nabi masih hidup, sedangkan hadis baru ditulis beberapa abad kemudian. Alquran adalah criteria dan petunjuk abadi bagi segenap zaman; bagi masyarakat zaman sekarang. Sunnah Nabi telah kehilangan nilainya, dan hanya memiliki arti bagi generasi-generasi pertama Muslim saja.&lt;br /&gt;Dimanakah letak kearifan, Tanya Shidqi, kalau sebagian dari iman diletakkan dalam alquran, sedangkan sebagian lagi dalam sunnah?shidqi mengutip Surah 6 ayat 38: “Kami tidak mengabaikan apa pun dalam kitab.” Dan Surah 16 ayat 89: “Dan telah kami turunkan kepadamu kitab yang menjelaskan segalanya.” Kalau nabi memaksudkan sunnahnya sebagai satu bagian dari agama, yang merupakan sumber keagamaan yang fundamental bagi umat, tentu Nabi memerintahkan agar sunnahnya ditulis pada masa hidupnya, dengan cara yang sama seperti yang dilakukan terhadap Al-qur’an. Kata Shidqi, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa penulisan hadis yang terjadi jauh pada masa kemudian disebabkan rawa khawatir Nabi dan sahabat-sahabatnya bahwa jika alquran dan sunnah ditulis pada waktu yang sama maka akan terjadi kekacauan antara alquran dan sunnah. Namun hal itu tidak masuk akal, piker Shidqi; tidak ada makhluk hidup yang dapat membuat sesuatu yang menyamai alquran. Tidak mungkin terjadi kekacauan antara satu ayat alquran dengan yang lain; perbedaannya terlalu jelas.&lt;br /&gt;Muhammad Tawfiq Shidqi, Durus Sunan Al-Kainat, Muhadharat Thibbiya ‘Ilmiyyah Islamiyyah, cetakan ketiga, Kairo 1354; buku ini mengungkapkan pujian penulis terhadap banyak keputusan Nabi mengenai pengobatan. Nadanya jauh lebih moderat disbanding karya-karya sebelumnya.&lt;br /&gt;Orang-orang Arab Jahiliyah beranggapan bahwa sakit hanya dapat terjadi karena adanya orang yang sakit. Namun menurut Shidqi, penyakit itu sendiri tidak ada, tidak dibawa dari satu orang ke orang lain, tetapi dibawa oleh mikroba penyakit tu. Orang-orang Arab kuno tidak tahu apa-apa tentang mikroba. Nabi, dalam kearifannya, memberikan nasehat, seperti yang ditunjukkan riwayat yang kedua, agar menghindari orang sakit, tetapi jangan sampai orang sakit itu tidak mendapat perawatan yang baik; dengan mengucapkan kedua sabda itu Nabi berupaya menghilangkan ketakutan yang berlebihan terhadap penularan yang ada pada zaman pra-islam dengan arif, didasarkan pada pertimbangan rasional.&lt;br /&gt;Pengikut paling penting dari Abduh, yaitu Muhammad Rasyid Ridha, juga penganjur gigih ijtihad, meskipun dia berangsur-angsur jadi lebih konservatif. Di kemudian hari dia mencurahkan banyak perhatian terhadap literature hadis, dan tiba pada kesimpulan bahwa banyak hadis yang terdapat dalam kitab-kitab himpunan hadis yang sahih harus diteliti kembali, karena kritik formal terhadap isnad, seperti yang dipraktikkan pada abad pertengahan, ternyata tidak mencukupi dalam pandangannya. Secara keseluruhan, sudut pandang Ridha tidak berbeda dengan sudut pandang yang dirumuskan oleh seorang sahabat dekatnya, Muhammad Tawfiq Shidqi. Namun Shidqi melangkah terlalu jauh sampai-sampai mengatakan bahwa kaum muslim modern tidak lagi memerlukan seluruh sunnah Nabi . dia terpaksa harus menarik kembali pandangan ini karena mendapat tekanan dari Ridha, namun dia mempertahankan hipotesisnya yang menyebutkan bahwa kebanyakan hadis yang tertulis dalam kitab-kitab himpunan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, haruslah dikaji ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SYAH WALIYULLAH AL-DAHLAWI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahir pada 4 syawal 1114H di Delhi, India. Wafat 29 Muharram 1176 H.&lt;br /&gt;Dia hanya tamatan SD, tapi penuh bakat sehingga pada masa mudanya menjadi intelektual yang handal.Usia 17 tahun dia sudah diberi tanggung jawab untuk menjadi kepala sekolah di madrasah.&lt;br /&gt;Dia banyak berguru pada pakar hadis dan fiqih di Hijaz dan Mekkah beberapa tahun, dan kembali lagi ke kampung asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran al-dahlawi tentang hadis:&lt;br /&gt;Nabi saw disamping sebagai seorang yang ma’sum juga sebagai manusia biasa.&lt;br /&gt;Perlu dilakukan pemilahan terhadap segala apa yang keluar dari Nabi saw, mana yang tasyri’ dan mana yang ghairu tasy’ri’.untuk itu al-dahlawi menggolongkan hadis ke dalam dua macam:1)risalah, dan 2) ghairu risalah.&lt;br /&gt;Tidak semua yang berasal dari nabi mesti diteladani, melainkan harus dilihat dulu apakah termasuk risalah atau tidak.&lt;br /&gt;Hadis risalah yaitu hadis yang berkaitan dengan aturan ibadh formal.&lt;br /&gt;Hadis ghairu risalah adalah hadis yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan nabi.&lt;br /&gt;Membuat kategori risalah dan ghairu risalah berdasarkan: Q.S. Al-Hastir:7 dan Al-Kahfi:110.&lt;br /&gt;Kriteria hadis-hadis risalah: 1) Tentang berita-berita ghaib, 2) Ketentuan-ketentuan ibadah seperti shalat, puasa, dll.3)dan lain-lain.&lt;br /&gt;Kriteria hadis-hadis ghairu risalah: 1)tentang ilmu pengobatan, 2)pertanian, 3)Kebiasaan Nabi sehari-hari (seperti makan, minum, tidur,dll), 4)kebijakan-kebijakan yang sifatnya temporal, bukan untuk sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KASSIM AMIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;lahir pada 9 September 1933 di Malaysia&lt;br /&gt;karyanya yang membahas tentang hadis adalah Hadis Satu Penilaian Semula.&lt;br /&gt;Pemikirannya tentang hadis:&lt;br /&gt;Hadis bukan wahyu.&lt;br /&gt;Para ulama terdahulu menafsirkan kata al-hikmah Q.S. Al-Baqarah: 129 dengan hadis/sunnah. Sedang bagi Kassim Amin artinya alquran sendiri. Dia merujuk pada Q.S. Al-Isra:39.&lt;br /&gt;Nabi sebagai uswatun hasanah dalam ibadah bukan dalam hal kebiasaan sehari-hari layaknya manusia (karena itu terkait dengan budaya setempat, yang boleh jadi tidak sama budayanya dengan daerah di luar arab), tetapi terkait dengan ibadah mahdhoh (shalat, zakat, puasa, haji,dll.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Benang Merah Pemikiran Hadis Kontemporer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)Para tokoh kontemporer sedikit-banyak mempersoalkan otentisitas hadis.&lt;br /&gt;2)Banyak mengkritik persoalan dan sistem sanad&lt;br /&gt;3)Menitikberatkan pada matan dan rasio.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3610646446979224806?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3610646446979224806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3610646446979224806&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3610646446979224806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3610646446979224806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/10/pemikiran-hadis-kontemporer.html' title='Pemikiran Hadis Kontemporer'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-3811206368699698209</id><published>2008-10-21T20:02:00.000+07:00</published><updated>2008-10-21T20:04:27.568+07:00</updated><title type='text'>Untuk kekasih saya tercinta, ALLAH SWT…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SP3TSZRGNvI/AAAAAAAAARg/uMu2rGmNY-0/s1600-h/photo6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SP3TSZRGNvI/AAAAAAAAARg/uMu2rGmNY-0/s320/photo6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259592252812310258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rindu Jiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;Ya ALLAH, tahukah Engkau bahwa malam ini saya sangat merindukannya… sangat ingin berbicara dengannya, sangat ingin berdua saja dengannya, sangat ingin dimanjakan olehnya, sangat ingin disayangi dengan segenap kasih sayangnya, sangat ingin tidak ada hijab, tidak ada jarak di antara kita, sangat ingin Engkau memaafkan segala kesalahannya di masa masa yang lalu agar kami bisa bersama hingga ujung napas kami, bahkan setelah napas kami berpisah dari raga saya ini…&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya ALLAH tahukah Engkau bahwa namanya selalu saya sebut disetiap langkah saya… bahwa namanya adalah nama terindah yang pernah saya kenal, bahwa dengan menyebut namanya hati saya akan kembali tenang, bahwa namanya mampu membuat segumpal daging merah bernama hati didalam jiwa saya bergetar, bahwa namanya begitu indah bukan hanya ditelinga saya, tapi diseluruh darah yang mengalir sempurna didalam raga saya bahkan berdetak sempurna bak rentakan rampak gendang dijantung hati saya… :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-3811206368699698209?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/3811206368699698209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=3811206368699698209&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3811206368699698209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/3811206368699698209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/10/untuk-kekasih-saya-tercinta-allah-swt_21.html' title='Untuk kekasih saya tercinta, ALLAH SWT…'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SP3TSZRGNvI/AAAAAAAAARg/uMu2rGmNY-0/s72-c/photo6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-8205157463711635045</id><published>2008-10-19T10:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-21T09:52:16.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Kepenulisan'/><title type='text'>Ketika “Sang Pengikat Makna” Berhaji</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SPqn6l37T5I/AAAAAAAAARQ/MTIxs4J0uVA/s1600-h/Terapi+Hati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SPqn6l37T5I/AAAAAAAAARQ/MTIxs4J0uVA/s200/Terapi+Hati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5258700139949412242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku: Terapi Hati Di Tanah Suci&lt;br /&gt;Penulis: Hernowo&lt;br /&gt;Penerbit :Lingkar Pena, September 2008&lt;br /&gt;Tebal: 199 (termasuk indeks)&lt;br /&gt;-----------------------------&lt;br /&gt;Tahukah Anda apa yang dipersiapkan bagi seorang penulis untuk berhaji? Ya, pena dan buku (tentang haji). Pena adalah untuk mencatat segala peristiwa yang tengah dialaminya, sedang buku untuk memperkaya wawasan mengenai rangkaian hajinya. Keduanya itu hendak digunakan untuk mempersepsikan haji oleh dirinya. Itulah yang dilakukan Hernowo, sang “Pengikat Makna”, yang karyanya sudah lebih dari 30 buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hasil dari pengalaman dan persepsinya tentang haji dia bukukan dengan judul Terapi Hati Di Tanah Suci;Ya Allah, Jadikan Aku Cahaya (2008). Buku yang ditulis dengan “hati” ini mampu membuat seorang penulis lainnya menangis. Hal itu lantaran dirinya iri dan menyesal mengapa dirinya tidak melakukan apa yang dilakukan Hernowo tersebut. Penulis tersebut bernama Asma Nadia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan sebab keiriannya dalam Kata Pengantar buku ini, “Kenapa saya kurang menyiapkan bekal bacaan,… kedua, karena saya melewatkan beberapa doa yang diamalkan oleh Mas Hernowo di tanah suci dari hasil iqra’-nya yang panjang. Ketiga, perasaan menyesal karena buku ini tidak hadir sebelum saya menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 lalu”(hlm.7-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan ketiga alasa keirian Asma Nadia di atas, memang buku ini—terdiri dari tiga bagian—mampu membuat pembaca hanyut dalam dunia haji. Bagian pertama Mempersiapkan Bekal Berhaji, bagia kedua, Pesona Masjidil Haram, dan bagian ketiga Berkah Masjid Nabawi. Hernowo sebelum melaksanakan haji jauh hari sudah membekali dirinya dengan memperkaya wawasan mengenai haji. Tepatnya di bulan Ramadhan—beberapa bulan sebelum bulan haji. Paling tidak ada dua alasan mengapa dia melakukan pembekalannya di bulan tersebut. Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan mulia. Dengan begitu Hernowo termotivasi untuk membekali dirinya dengan sabaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dia yakin bahwa jika seseorang berminat untuk mengumpulkan “bekal” berhaji di bulan suci Ramadhan Tuhan pasti akan menyediakan sumber “bekal” itu secara sangat melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, turunnya pertama kali Alquran, yang diawali dengan ayat-ayat perintah membaca (Surat Al-‘Alaq ayat 1-5). Sudah bisa ditebak apa “bekal” yang dipersiapkan Hernowo tersebut, yaitu membaca buku-buku yang terkait dengan haji. Bahkan tidak hanya itu, dia juga membaca buku-buku tentang tanah suci, Masjidil Haram, Madinah, biografi Nabi Muhammad SAW, sejarah awal Islam, dan kebudayaan Islam. Nah, hasil dari bacaannya tersebut, dia menulis hal-hal yang penting dan berkesan. Sebagaimana kita tahu dalam buku-buku sebelumnya, aktivitas tersebut dia namakan dengan “mengikat makna”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dia “mengikat makna” segala hal yang berkenaan dengan haji. Di saat pembacaan dan penulisannya, dia membayangkan bahwa pada saat berhaji kelak, dia akan merasakan tanah tempatnya lahir Nabi SAW, dan kehidupan Nabi baik di Mekkah maupun Madinah. Bayangan tersebut dia alami saat dia berhaji. Maka tak ayal lagi, lahirlah dari tulisannya kalimat-kalimat yang “hidup”, yang mampu membangkitkan emosi pembacanya untuk merasakan juga apa yang dirasakan oleh Hernowo. Iihat saja misalnya saat dia membaca buku Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi karya O.Hashem, dan dia mendapatkan ihwal Raudhah, di mana dalam bab tersebut disampaikan lima sabda Rasulullah SAW: Pertama, “Antara rumah dan mimbarku adalah taman (Raudhah) di taman-taman surga”, Kedua, “antara kuburku dan mimbarku adalah taman-taman di surga,” Ketiga, “antara kamarku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman di surga,” keempat, “antara mimbarku dan rumah Aisyah adalah taman dari taman-taman di surga,” kelima, “barangsiapa ingin bergembira shalat dalam taman dari taman-taman di surga, maka shalatlah di antara kubur dan mimbarku” (hlm.65-67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di halaman 131-132 dia mengakuinya bahwa saat masuk ke Raudhah begitu berkesan. Dia melakukan shalat dua rakaat dan berzikir serta merenung. Hasil renungannya itu adalah bahwa spirit Islam adalah spirit iqra’. Islam memerintahkan umatnya untuk tak henti-hentinya mencari ilmu, ke mana pun dan dari mana pun sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di Raudhah, Hernowo membayangkan dirinya berjejer dengan para sahabat sedang mendengar Rasulullah menyampaikan ilmu-ilmunya. Dan itu pun disebabkan oleh para sahabat kepada umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Doa Cahaya”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ruh buku ini terletak pada sub-bab yang berjudul “Doa Cahaya”. Sub ini begitu penting, karena dapat mempertemukan dari sub-sub lainnya, bahkan seluruh komponen dalam kehidupan Hernowo, sebagai penulis yang produktif. “Doa Cahaya” merupakan doa yang berisikan permohonan agar dijadikan cahaya secara menyeluruh. Hernowo sangat terkesan dengan doa ini, karenanya dia mengaitkannya dengan keadaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi cahaya sangat identik dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dengan pengertian seperti itu, doa dia adalah doa logis yang dapat diwujudkan. Yang menjadi pertanyaanya adalah apakah doa yang dia panjatkan pada waktu berhaji pada 2002 benar-benar mewujud nyata pada saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ke-34 ini adalah buah nyata bahwa Tuhan mengabulkan doanya. Waktu yang relatif singkat, dalam jangka enam tahun, Hernowo telah menghasilkan 34 buku. Sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Sebelum berhaji, dia baru satu buku yang dihasilkannya, yaitu Mengikat Makna. Tapi begitu selesai berhaji, goresan penanya tetap tidak berhenti dari waktu ke waktu. Ide-idenya mengalir dengan deras. Lalu muncullah setiap tahunnya buku demi buku. Nah, buku-buku yang diciptakannya itulah cahaya yang dapat menyinari dirinya dan orang lain. Dengan kata lain, cahaya tersebut adalah berbentuk buku. Dengan buku lah dia dapat menyinari alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3283949915733897582-8205157463711635045?l=penulispinggiran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/feeds/8205157463711635045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3283949915733897582&amp;postID=8205157463711635045&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8205157463711635045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3283949915733897582/posts/default/8205157463711635045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulispinggiran.blogspot.com/2008/10/judul-buku-terapi-hati-di-tanah-suci.html' title='Ketika “Sang Pengikat Makna” Berhaji'/><author><name>M.Iqbal Dawami</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06746326631223582040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SPqn6l37T5I/AAAAAAAAARQ/MTIxs4J0uVA/s72-c/Terapi+Hati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3283949915733897582.post-2711681362257570984</id><published>2008-10-14T14:54:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T15:00:58.496+07:00</updated><title type='text'>Modal Spiritual</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SPRRs1LIXoI/AAAAAAAAARA/p8gNNhL5SnY/s1600-h/capital.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QnwylXgFqFQ/SPRRs1LIXoI/AAAAAAAAARA/p8gNNhL5SnY/s200/capital.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256916495678070402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Tulisan ini dimuat di http://www.pembelajar.com/ pada 13 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal spiritual adalah istilah yang dipopulerkan oleh Danah Zohar. Kedua kata ini menjadi konsep yang dikembangkan olehnya dan suaminya, Ian Marshall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mulanya ia menemukan konsep ini saat ia digerakkan oleh sebuah ketakutan pada dunia yang bergerak di sekitarnya. Ketika itu anaknya bertanya untuk apa ia hidup di dunia, lalu pertanyaan ke manakah ia seharusnya melanjutkan pendidikan kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpikir lama, Zohar akhirnya menemukan jawabannya. "Hidup manusia adalah untuk memberi arti bagi manusia lain dan lingkungannya," katanya. Pertanyaan sang anak kemudian menamparnya lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia mengembalikan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. "Saat itu saya merasa berada pada titik terendah kehidupan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Zohar, perilaku lingkungan dan budaya Barat menjerumuskannya ke dalam depresi berat. "Saya menghadapi banyak pengkhianatan personal, ketololan, kesembronoan, atau kekerasan yang dipaparkan terus-menerus sepanjang hari," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia berbicara dengan banyak orang mengenai ciri-ciri kecerdasan manusia, semua orang ingin tahu bagaimana kecerdasan itu bisa digunakan untuk menggali dan mendapatkan sebanyak mungkin uang. Semuanya telah diukur dengan kapital, alias duit. Dan di mata Zohar, cara-cara seperti itu sudah salah kaprah. "Inilah kapitalisme cara Barat, monster yang memangsa dirinya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sangat tergantung pada sejauh mana perusahaan berpegang pada prinsip etika bisnis di dalam kegiatan bisnis yang dilakukannya. Untuk berperilaku sesuai dengan kaidah etik perusahaan memeliki berbagai perangkat pendukung etik, yang salah satunya adalah manusia yang memiliki moral yang maengharamkan perilaku yang melanggar etik. Kehancuran dan kemunduran berbagai perusahaan besar di USA seperti Enron (perusahaan listrik terbesar), dan Arthur Anderson (perusahaan konsultan keuangan yang beroperasi di seluruh dunia) disebabkan oleh perilaku bisnis yang melanggar etika bisnis. Demikian pula dengan kasus krisis keuangan di Indonesia tahun 1997-1978 yang membuat perbankan Indonesia bangkrut karena kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) adalah disebabkan oleh perilaku para pemain bisnis yang tidak berpegang pada etika bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak juga hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang berpegang pada prinsip etika memiliki citra perusahaan yang baik. Citra ini tidak hanya membuat orang suka membeli produk dan jasa perusahaan tersebut, tetapi juga membuat harga saham di pasar bursa meningkat secara signifikan. Selain itu perusahaan yang berperilaku etikal juga akan menarik banyak calon pekerja yang berkualitas untuk melamar menjadi pekerja di perusahaan tersebut (lihat Strategic Finance, vol 83, No. 7, p.20, January 2002). Sebaliknya kalau sebuah perusahaan melakukan perilaku yang melanggar etika bisnis maka kerugianlah yang akan dialaminya. Sebagai contoh sepatu Nike kehilangan banyak pembeli setelah ada publikasi yang luas mengenai anak-anak di bawah umur yang bekerja di perusahaan nike di negara dunia ke tiga pembuat sepatu Nike ( Hawkins, D.I; Best, R.J. &amp;amp; Coney, K.A: Consumer Behavior: Building Marketing Strategy, McGraw-Hill, 1998 , p. 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zohar menceritakan bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti coca-cola, british petroleoum, van city, merck (perusahaan farmasi terbesar di amerika) dan dan amul (koperasi susu terbesar di Gu
