Jumat, 24 Oktober 2008

Pemikiran Hadis Kontemporer

Kepada Yth:
Para mahasiswa STIS Magelang yang mengambil mata kuliah
Pemikiran Hadis Kontemporer

Di bawah ini adalah bahan mata kuliah Pemikiran Hadis Kontemporer (PHK) yang telah kita bahas di kelas selama 1 triwulan.

Ada hal yang perlu diketahui oleh semuanya:
1) Saya tidak menuliskan semua para tokoh pemikir hadis kontemporer (sebagaimana yang tercantum dalam silabi dan kita bahas di kelas). Tapi, Insya Allah bahan ujian nanti sudah ada di sini semua.

2) Tulisan ini hanyalah poin-poin penting saja--yang saya kutip dari berbagai sumber-- yang perlu diketahui dalam kaitannya dengan mata kuliah PHK. Untuk itu saya persilakan untuk mencari data-data lainnya yang lebih komprehensif guna mendapatkan pemahaman yang maksimal.

Semoga tulisan yang sederhana di bawah ini bermanfaat untuk kita semua. Amin. Selamat belajar dan menempuh ujian.

Terima kasih

M.Iqbal Dawami

Cinta yang paling baik adalah memberi daripada menerima

Orang muda belajar kepada orang tua itu biasa, tapi orang tua belajar kepada orang muda adalah luar biasa
-----------------------------------------------------


PEMIKIRAN HADIS KONTEMPORER

MUHAMMAD ABDUH
- Lahir di Mahallah, Mesir, pada 1849 Masehi. Hafal al-Qur'an usia 12 tahun
- Kuliah di Mesir, setamat kuliah dia menjadi guru dan dosen
- Abduh banyak belajar kepada Jamaluddin Al-Afghani
- Tahun 1882 dideportasi karena terlibat dalam Revolusi Arab. Ia tinggal di Syam, dan sempat tinggal juga di Paris, Prancis (selama 10 bulan). Di Paris ia menulis jurnal judulnya Urwatul Wutsqo bersama Jamaluddin al-Afghani.
- Pada 1889 Abduh kembali ke Mesir, lalu menjadi mufti. Dia terkenal sebagai pembaharu/reformer melalui pendidikan. Dia mengidealkan pada masa Nabi dan salafussoleh (para sahabat dan tabi'in), dan langsung merujuk sumber asli (al-Qur'an dan Hadis).
- Metode pembaharuannya: Al-Manhaj Al-Wustha (jalan tengah), yaitu tidak taqlid pada ilmu-ilmu agama yang dibuat ulama dan tidak silau pada ilmu-ilmu dunia (barat).
- Wafat 11 Juli 1905

RASYID RIDHA
- Nama lengkapnya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Lahir di Qalmun, desa yang letaknya 4 km dari Tripol, Libanon, pada 1282 H. Dia masih keturunan Nabi dari Husen putera Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad saw.
- Semenjak di bangku sekolah, dia sudah belajar bahasa Turki dan Prancis.
- Ridha banyak belajar secara door to door dengan beberapa pakar. Di bidang hadis dia belajar pada Mahmud Nasyabah.
- Ridha pandai menilai hadis-hadis yang dha'if dan maudhu' (palsu), sehingga digelari "voltaire", filosof Prancis.
- Ridha pengagum Muhammad Abduh, dan menjadi muridnya. Mulai intensnya ketika Abduh mengajar di Beirut, Tripoli, dan terakhir, di Mesir.
- Ridha dan Abduh mengelola koran yang isinya tentang sosial, budaya dan agama. Koran itu bernama Al-Manar.
- Bersama Abduh, Ridha menulis tafsir Al-Manar, yang dimuat secara berkala di koran Al-Manar.
Pemikiran Hadis menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha:
- Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha menekankan ijtihad
- Muslim harus percaya pada al-Qur'an dan Hadis Mutawatir. Sedang Hadis Ahad, kembali pada pribadi masing-masing.
- Menurut Ridha, dosa-dosa kecil sebagian perawi lain yang dapat dipercaya, tidak menghalangi diterimanya semua hadis mereka. Begitu juga sebaliknya, meskipun perawinya dipercaya, tapi matan (hadisnya) bertentangan dengan al-Qur'an harus ditinggalkan.
- Menurut Ridha masalahl adab dan akhlak hanya didasarkan pada hadis-hadis Ahad. Hadis-hadis Ahad harus dipandang sebagai perluasan dan ulasan tentang al-Qur'an. انا نحن نزلنا الذكر : zikr dalam ayat itu diartikan sebagai Sunnah Nabi.
- Menurut Ridha seorang perawi memiliki 'adalah, tidaklah mencukupi untuk menerima segala yang diriwayatkannya. Isnad dan matan harus diteliti juga.
- Ridha menolak hadis Isra'iliyat. Dia mengkritik perawi Ka'ab yang banyak meriwayatkan Hadis Israi'iliyat. Contohnya: (1) "Matahari dan bulan akan ke neraka pada hari kiamat, seperti dua sapi jantan yang sudah dilumpuhkan." (2) "Allah telah mengizinkan untuk mengatakan kepadamu tentang ayam jantan yang kedua kakinya mencapai bumi dan yang lehernya ada di bawah arsy. (lihat Al-Jami'us Shaghir, karangan Al-suyuthi).
- Hadis ganjil tentang pengobatan, misalnya lalat. Rasul bersabda, "Bila lalat jatuh ke dalam kendimu, tenggelamkan sepenuhnya terlebih dahulu, baru kemudian buang, karena satu sayapnya memberi obat, satunya lagi penyakit"(Bukhori). Kata Ridha, hadis tersebut ganjil. Ada dua alasan: (1) Di lihat hadis itu dari sudut pandang pembuat undang-undang, hadis itu menginjak-injak dua prinsip utama; tidak menasihati agar menghindari sesuatu yang buruk, dan tidak menasihati agar menghindari sesuatu yang kotor. (2)Meskipun ilmu pengetahuan modern telah mengalami kemajuan, namun tetap tidak dapat diketahui bedanya antara sayap lalat yang satu dengan sayap yang satunya lagi. Jika perawinya tidak membuat kesalahan dalam menyusun kata-kata hadis itu, hadis itu dapat dipandang diilhami oleh Allah, tetapi sangatlah mungkin ilmu pengetahuan modern tidak akan pernah mengetahui perbedaannya. Dan dalam kasus itu, harus disimpulkan bahwa hadis itu, sekalipun isnad-nya sahih, matn-nya tidak shahih.
- Ridha dan Abduh menggunakan akal secara luas dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan bersikap kritis atas Hadis-Hadis yang dianggap shahih oleh umat Islam mayoritas.
- Ridha menolak hadis Bukhori yang menceritakan mengenai tersihirnya Nabi yang tidak hanya dianalisanya dari sisi matan tetapi juga dari sisi sanadnya karena salah seorang perawi hadis ini ditolak oleh ulama al-jarh wa at-ta'dil.
- Ridha menolak Hadis terbelahnya bulan yang disampaikan Abu Hurairah melalui Ibnu Juraij yang disebutnya sudah pikun saat menceritakan hadis itu.
- Rasyid Ridha, sama seperti Abduh, sangat berhati-hati menerima riwayat yang mengemukakan pendapat para sahabat Nabi sebagaimana dikutipnya kata-kata As-Suyuthi dalam Al-Itqon ketika menyatakan bahwa dalam kitab Fadha'il al-Imam asy-Syafi'i karangan Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syakir al-Qathan, terdapat satu riwayat dari Ibnu Abdil Hakam: "Aku mendengar Syafi'i berkata: Tidak sah (riwayat yang dinisbahkan) kepada Ibnu Abbas menyangkut tafsir kecuali sekitar 100 hadis.
- Karena itu, Ridha sangat hati-hati sekali menerima tafsir Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat-ayat yang turun di Mekkah dengan dasar: Ibnu Abbas bukanlah salah seorang yang menghafal al-Qur'an atau meriwayatkan Hadis pada periode Mekkah, karena beliau lahir 3 tahun sebelum hijrah atau lima tahun sebelumnya sehingga bisa jadi itu timbul dari pendapat pribadinya atau pendapat orang yang dia riwayatkan.
- Hal dan alasan yang sama dikemukakan Ridha menyangkut umur Ibnu Abbas ketika dia menolak riwayat yang ada dalam Shahih Muslim menyangkut keikutsertaan malaikat dalam perang badar dan pendapatnya bahwa Ibnu Abbas tidak segan-segan mengambil riwayat dari orang lain meskipun sekelas Ka'ab al Ahbar.

AHMAD AMIN
Lahir di Kairo, pada 1878 dan meninggal pada 30 Mei 1954. Pernah menjadi Guru Besar di Universitas Kairo pada 1934-1941. Dia dikenal sebagai sejawaran Islam. Adapun karya-karyanya: Fajrul Islam, Duhal Islam, Zuhrul Islam, dll.
Amin menganggap pemalsuan Hadis telah terjadi semenjak Rasul masih hidup. Berdasarkan hadis
من كذب علي متعمد فليتبوء مقعده من النار.
Amin tak percaya kalau semua para sahabat bersifat 'adil. Alasannya: di antara para sahabat saja sering terjadi kritik-mengkritik. Thalhah, Zubair, Aisyah Vs. Ali, Muwaiyah dan Amr bin Ash Vs. sahabat lain. Juga ditambah dengan adanya al-fitnah al-kubra I (pasca kematian Utsman) dan al-fitnah al-kubra II (pasca kematian Ali).
Dari peristiwa tersebut para sahabat tidak netral lagi. Terjadi blok-blok dan perang mengeluarkan hadis sesuai kepentingannya masing-masing, dan menyerang yang lain. Generasi pasca tabi'in hingga sekarang yang mengkultuskan bahwa para sahabat 'adil semua.
Amin memperkuat dengan alasan lainnya: Ibnu Abbas menolak hadis Abu Hurairoh yang berbunyi 'Barangsiapa membawa mait, maka berwudhulah'.
Aisyah juga menolak hadis Abu Hurairoh berbunyi 'barangsiapa bangun dari tidurnya maka basuhlah tangannya'.

HUSAIN HAIKAL
Lahir di Kairo, pada 30 Agustus 1888. Kuliah di Prancis hingga jenjang doktoral pada 1912. Dia mengambil jurusan Hukum.
Karirnya sebagai pengacara dan pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Kairo. Pernah menjadi Menteri Negara Urusan Dalam Negeri. Dia juga pernah menulis novel Zainab yang terkenal, tentang kehidupan petani di mesir.
Karya-karyanya yang terkenal adalah: Hayat Muhammad saw, Zainab, al-Iman wal Ma'rifah wal Falsafah.
Husain Haikal lebih perhatian pada matan hadis ketimbang sanad hadis. Dia adalah pengikut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Haikal tidak percaya dengan hadis-hadis yang tidak masuk akal. Dia juga sangat kritis terhadap hadis-hadis Isra' Mi'raj. Dia mengutip beberapa hadis yang dianggapnya shahih secara matan, meski sanadnya lemah.
Seperti matan dari riwayat Aisyah, Ummu Hani, dan Muawiyah adalah shahih walau sanadnya lemah. Karena semua matannya sesuai dengan Alquran: al-Isra: 60, al-Kahfi: 110, an-Nisa: 68.

YUSUF QARDHAWI
-Yusuf Qardhawi lahir di desa Shaft Turab, daerah Mahallah Al-Kubra, Mesir, pada 9 September 1926. Pada usia 10 tahun dia sudah hafal Alquran. Pendidikan formalnya ditempuh di Al-Azhar Mesir. Keahliannya adalah dalam bidang Aqidah, Tafsir, dan Hadis. Hal itu didukung oleh pelajarannya di Fakultas Ushuluddin, yang diselesaikannya pada tahun 1960.
- Di antara karya-karyanya adalah Al-Quran & As-Sunnah, As-Sunnah Sebagai Sumber IPTEK & Peradaban, Fiqh Prioritas - Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Quran & Al-Sunnah,dll.
Pemikiran Yusuf Qardhawi Tentang Hadis
- Agar sukses memahami hadis secara benar, Qardhawi menegaskan bahwa kita harus menghimpun Hadis Shahih yang berkaitan dengan suatu tema tertentu. Kemudian mengembalikan kandungan yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang mutlak dengan muqayyad, dan menafsirkan yang ‘am dengan khos. Dengan cara itu, suatu hadis dapatlah dimengerti maksudnya dengan lebih jelas dan tidak dipertentangkan antara hadis yang satu dengan yang lain.
- Mencukupkan diri dengan dengan pengertian lahiriah suatu Hadis saja tanpa memerhatikan hadis-hadis lainnya, dan teks-teks lain yang berkaitan dengan topik tertentu seringkali menjerumuskan orang ke dalam kesalahan, dan menjauhkannya dari kebenaran mengenai maksud sebenarnya dari konteks-konteks hadis tersebut. Misalnya: لا يدخل هذا بيت قوم إلا أدخله الله الذل (“Tidak akan masuk (alat) ini ke rumah suatu kaum, kecuali Allah pasti memasukkan kehinaan ke dalamnya.” (HR Bukhori).
- Pengertian lahiriah hadis ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah tidak menyukai pekerjaan bertani sebab akan mengakibatkan kehinaan bagi para pekerjanya. Namun secara lahiriah bertentangan dengan Hadis Shahih lainnya, karena sunnah yang kemudian dirinci dalam fiqih telah banyak menjelaskan tentang hukum-hukum pertanian, pengairan dan penggarapan tanah kosong, serta segala sesuatu yang berkaitan dengan hak dan kewajiban masing-masing.
- Hadis itu sebenarnya berlaku bagi orang yang berada di dekat daerah musuh, sebab apabila ia menyibukkan dirinya dengan pertanian, ia akan melupakan tugas kewiraan, sehingga musuh menjadi berani. Semestinya orang yang demikian lebih memilih ketrampilan ketentaraan (Pendapat Yusuf Q.).
- Menggabungkan antara dua hadis yang dianggap bertentangan kemudian mentarjihnya (memilih yang paling kuat dan rasional). Contoh: “Nabi saw melaknat wanita-wanita yang menziarahi kubur” (HR At-Turmudzi). Hadis itu bertentangan dengan hadis, “Rasul bersabda, ‘aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, kini berziarahlah’…” .

MUHAMMAD AL-GHAZALI
- Muhammad Al-Ghazali di sini bukanlah Muhammad Al-Ghazali yang menulis kitab Ihya Ulumuddin.
- Dia lahir pada 1917 M di al-Bahirah, Mesir, kuliah di Al-Azhar Mesir, lulus pada 1941. Dia aktif di organisasi Ikhwanul Muslimin. Dia juga aktif menulis dan berceramah.
- Muhammad Al-Ghazali wafat pada sabtu 9 syawal 1416 H bertepatan dengan tanggal 1996.
- Di antara karya-karyanya adalah As-Sunnah An-Nabawiyyah Baina Ahlul Fiqh wa Ahlul Hadis, Al-Islam Wa Al-Ausa’ Al-Iqtishadiyah, dll.
Pemikiran Hadis Muhammad Al-Ghazali
- Keterhindaran dari syadz dan ‘illat, merupakan persyaratan keshahihan matan. Dia tidak mensyaratkan ketersambungan sanad sebagai salah satu syarat keshahihan sanad hadis.
- Banyak tertuju pada matannya saja. Dia sering mengajukan pertanyaan: Apa gunanya hadis dengan isnad yang kuat tetapi memiliki matan yang cacat?
- Hadis Mutawatir cakupannya sangat luas (aqidah, hukum, dan muamalah). Hadis mutawatir juga akan mendatangkan ketenangan jiwa bagi pengamalnya. Sedang Hadis Ahad hanya menghasilkan dugaan kuat (zann al-‘ilmi), dan cakupannya hanya dalam cabang-cabang hukum syari’ah. Karena itu, dia hanya menerima hadis-hadis mutawatir untuk persoalan dasar Islam, seperti tentang akidah dan hukum.
- Hadis tentang “Orang yang meninggal diazab karena ditangisi yang hidup (baca:keluarganya)”, dari 37 jalur sanad hadis itu hanya dua jalur yang dapat diterima, yaitu yang terdapat dalam Shahih Muslim. Yaitu hanya riwayat dari Aisyah yang dapat diterima, sedang yang lainnya ditolak. Hal ini didasarkan pada Aisyah sendiri yang menolak hadis di atas, karena bertentangan dengan Alquran, “Tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain…” (Al-An’am: 164).
- Hadis berbunyi, “Tidak akan sukses suatu kaum (masyarakat) yang menyerahkan urusannya kepada wanita.” (HR Bukhori). Hadis itu harus dilihat konteksnya. Ketika Nabi SAW mengucapkan hadis itu pasukan persia telah dipaksa mundur dan luas wilayahnya makin menyempit. Sebenarnya masih ada kemungkinan untuk menyerahkan kepemimpinan negara kepada seorang jenderal yang piawai, yang mungkin dapat menghentikan kekalahan demi kekalahan. Namun, paganisme politik tidak menjadikan rakyat dan negara sebagai harta warisan yang diterimakan kepada seorang wanita muda yang tidak tahu apa-apa. Hal itulah yang menandakan bahwa Persia sedang menuju kehancuran total.
- M. Al-Ghazali mengatakan bahwa wanita yang tidak boleh diserahi tugas sebagai pemimpin oleh Nabi Saw adalah wanita yang tidak memenuhi syarat kepemimpinan, baik dilihat dari segi kepakaran maupun dilihat dari segi budaya setempat. Jadi, Hadis di atas tidak dapat dijadikan sebagai dasar penolakan wanita sebagai pemimpin.

MUSTHAFA AS-SIBA’I
As-siba’i mengutip asy-Syafi’i yang mengatakan bahwa istilah bayan (atau tibyan, sebagaimana yang digunakan Shidqi dari ayat Alquran, surah 16 ayat 89) bermaksud menerangkan prinsip-prinsip dan juga cabang-cabangnya.alquran mungkin saja memberikan ajaran-ajaran yang terinci, sehingga tidak diperlukan lagi penjelasan tambahan: namun alquran juga mengandung ajaran-ajaran yang kata-katanya disusun dalam istilah-istilah yang luas sehingga sangat diperlukan keterangan yang terinci. Dalam kasus yang terakhir. Alquran itu sendiri mengindikasikan agar kita menemukan penjelasan tentang ajaran-ajaran yang luas ini: penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam sunnah Nabi, karena Allah memerintahkan kepada manusia untuk menaati Nabi-nya. Dengan kata lain, alquran adalah sebuah Hujjah, dan sunnah juga demikian, karena ketaatan kepada Nabi dalam segala yang diperintahkannya mendapat penekanan dalam alquran.
Pertama-tama as-siba’i menyangkal sepenuhnya bahwa hadis mutawatir itu jumlahnya tak lebih dari satu atau tujuh. Tanpa mengutip sumber-sumbernya, dia menyebutkan bahwa jumlah hadis mutawatir itu jauh lebih banyak. Kedua, tidak ada ulama yang pernah menempatkan praktik ahad di bawah kelompok “dibolehkan” yaitu ja’iz. As-Siba’i menyinggung lima kualifikasi, al-ahkam al-khamsah. Hanya orang-orang seperti kaum Rafidhi yang fanatic sajalah yang menolak sama sekali hujjiyah sunnah; mayoritas besar kaum Muslim, tandas As-Siba’i, mengamalkan hadis-hadis ahad sebagai kewajiban, jika hadis-hadis ahad ini terbukti sahih. Beberapa sarjana mengakui bahwa mempercayai hadis-hadis ahad bahkan merupakan suatu keharusan; hal ini berarti bahwa mengetahui hadis-hadis tersebut sama wajibnya dengan mengamalkannya. Apa lagi yang tertinggal dalam sunnah, kata ak-siba’i, kalau mutawatir disebut-sebut tidak ada, dan pengamatan hadis-hadis ahad hanya setingkat “dibolehkan”! lantas apa kedudukannya di tengah-tengah sumber-sumber perundang-undangan islam! Lantas apa gunanya sunnah bagi kaum muslim.
Inilah contoh gaya as-siba’i, yang dengan keras hati berbicara berulang-ulang tentang kesalahan-kesalahan lawannya, yang pribadi tidak pernah luput dari kritiknya. Inilah gaya as-siba’I dalam menulis bukunya setebal 500 halaman yang berjudul as-sunnah wa makanatuha fit-Tasyri al-islam. Selama tahun-tahun terakhir masa hidupnya, as-siba’i mengajar hokum islam pada universitas Damaskus.motif-motif penulisan buku ini dijelaskan oleh penulis secara panjang lebar dalam kata pengantar.
Lahir di Suriah, as-siba’i pergi ke Kairo untuk belajar di Universitas al-Azhar. Pada 1939 dia mengikuti kuliah-kuliah ‘Ali Hasan ‘Abdul Qadir tentang sejarah perundang-undangan islam. Sarjana ini pernah belajar di Jerman, dan kembali ke Mesir dengan menyandang gelar doctor dari Jerman untuk mengajar di Al-Azhar. Dia menggunakan studi Goldziher mengenai hadis dalam Muhammadanische Studien, bagian dua, sebagai buku teks; dia menerjemahkan naskah Jerman ke dalam bahasa Arab, dan berdasarkan ini dia mengajar sejarah sunnah. Dia sendiri sepenuhnya mendukung gagasan-gagasan yang dikemukakan Goldziher dalam bukunya, dan dia tidak mau menyerah terhadap argument yang menentangnya yang dilontarkan oleh pendengarnya. Dia memandang metode Goldziher sebagai “… suatu metode ilmiah, yang belum pernah diterapkan di Al-Azhar hingga sekarang.”
Mushthafa as-Siba’i, yang pada umumnya sepakat dengan bantahan as-Samahi dan al-Mu’allimi, mengemukakan argument lain. Dia menyalahkan abu Rayyah yang tidak menyebutkan riwayat lain, yang juga dikemukakan dalam Ibn Katsir, dimana ‘Umar mengizinkan Abu Hurairah untuk meriwayatkan hadis lagi. Bunyi riwayat itu seperti ini. Abu Hurairah berkata: “sebuah hadis dariku sampai kepada Umar. ‘Umar memanggilku, lalu berkata: “apakah kamu bersama kami, ketika kami ada di rumah si Fulan bersama Rasulullah? Aku menjawab: “Ya, dan aku sudah tahu kenapa engkau menanyakan hal ini.” ‘Umar berkata: “Kenapa aku Tanya engkau?” Kataku: Rasulullah pada hari itu berkata: “Barangsiapa berkata dusta tentang aku, berarti dia mempersiapkan bagi dirinya sendiri sebuah tempat duduk di neraka.” ‘Umar berkata: “Baiklah, silakan meriwayatka hadis.”
Riwayat lain dari Ibn Katsir dikutip oleh Abu Rayyah. Riwayat ini menyebutkan bahwa ‘Umar mengancam Abu Hurairah, dengan kata-kata: “Janganlah meriwayatkan dari Rasul Allah, kalau tidak, aku akan memulangkanmu ke tanah Daws. As-Samahi mengatakan bahwa ‘Umar khawatir masyarakat akan kebingungan membedakan mana yang alquran dan mana yang hadis; dia selalu berupaya menarik perhatian masyarakat kepada alquran dan menjauhkan masyarakat dari memperhatikan hadis. As-samahi tidak menafsirkan pernyataan ‘Umar sebagai semata-mata kata-kata yang keras, yang ditujukan kepada Abu Hurairah, namun lebih sebagai memperlihatkan kekhawatiran umum ‘Umar berkenaan dengan hadis. Dia tidak membatasi larangannya mengenai hadis pada Abu Hurairah saja.

MUHAMMAD TAWFIQ SHIDQI
Muhammad Tawfiq Shidqi adalah dokter di penjara Thurra. Di bawah bimbingan Ridha, dia melakukan studi tentang berbagai masalah pokok teologi.selain beberapa buku yang bersifat apologetic, dimana dia membandingkan islam dan Kristen satu sama lain, dan beberapa buku kedokteran. Dia menerbitkan artikel seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Al-Islam huwal Qur’an wahdahu. Ridha tidak sependapat dengannya tentang banyak hal. Namun, menurut Ridha, setiap orang berhak mengungkapkan pendapatnya sendiri.
Shidqi mengikuti satu pola berpikir dalam artikelnya: dia ingin memperlihatkan bahwa manusia dapat meninggalkan sunnah, karena ALqur’an telah memberikan berbagai jawaban terhadap segala persoalan dalam kehidupan, baik kehidupan keagamaan maupun kehidupan secular. Dengan kata lain, dia mendekati otentisitas dari salah satu sudut yang digambarkan dalam bab pertama, yaitu sudut hujjiyyah.
Menurut Shidqi, semua orang islam tidak meragukan keandalan nash alquran, sedangkan terhadap hadis, ada orang islam yang meragukannya. Alqur’an ditulis pada saat nabi masih hidup, sedangkan hadis baru ditulis beberapa abad kemudian. Alquran adalah criteria dan petunjuk abadi bagi segenap zaman; bagi masyarakat zaman sekarang. Sunnah Nabi telah kehilangan nilainya, dan hanya memiliki arti bagi generasi-generasi pertama Muslim saja.
Dimanakah letak kearifan, Tanya Shidqi, kalau sebagian dari iman diletakkan dalam alquran, sedangkan sebagian lagi dalam sunnah?shidqi mengutip Surah 6 ayat 38: “Kami tidak mengabaikan apa pun dalam kitab.” Dan Surah 16 ayat 89: “Dan telah kami turunkan kepadamu kitab yang menjelaskan segalanya.” Kalau nabi memaksudkan sunnahnya sebagai satu bagian dari agama, yang merupakan sumber keagamaan yang fundamental bagi umat, tentu Nabi memerintahkan agar sunnahnya ditulis pada masa hidupnya, dengan cara yang sama seperti yang dilakukan terhadap Al-qur’an. Kata Shidqi, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa penulisan hadis yang terjadi jauh pada masa kemudian disebabkan rawa khawatir Nabi dan sahabat-sahabatnya bahwa jika alquran dan sunnah ditulis pada waktu yang sama maka akan terjadi kekacauan antara alquran dan sunnah. Namun hal itu tidak masuk akal, piker Shidqi; tidak ada makhluk hidup yang dapat membuat sesuatu yang menyamai alquran. Tidak mungkin terjadi kekacauan antara satu ayat alquran dengan yang lain; perbedaannya terlalu jelas.
Muhammad Tawfiq Shidqi, Durus Sunan Al-Kainat, Muhadharat Thibbiya ‘Ilmiyyah Islamiyyah, cetakan ketiga, Kairo 1354; buku ini mengungkapkan pujian penulis terhadap banyak keputusan Nabi mengenai pengobatan. Nadanya jauh lebih moderat disbanding karya-karya sebelumnya.
Orang-orang Arab Jahiliyah beranggapan bahwa sakit hanya dapat terjadi karena adanya orang yang sakit. Namun menurut Shidqi, penyakit itu sendiri tidak ada, tidak dibawa dari satu orang ke orang lain, tetapi dibawa oleh mikroba penyakit tu. Orang-orang Arab kuno tidak tahu apa-apa tentang mikroba. Nabi, dalam kearifannya, memberikan nasehat, seperti yang ditunjukkan riwayat yang kedua, agar menghindari orang sakit, tetapi jangan sampai orang sakit itu tidak mendapat perawatan yang baik; dengan mengucapkan kedua sabda itu Nabi berupaya menghilangkan ketakutan yang berlebihan terhadap penularan yang ada pada zaman pra-islam dengan arif, didasarkan pada pertimbangan rasional.
Pengikut paling penting dari Abduh, yaitu Muhammad Rasyid Ridha, juga penganjur gigih ijtihad, meskipun dia berangsur-angsur jadi lebih konservatif. Di kemudian hari dia mencurahkan banyak perhatian terhadap literature hadis, dan tiba pada kesimpulan bahwa banyak hadis yang terdapat dalam kitab-kitab himpunan hadis yang sahih harus diteliti kembali, karena kritik formal terhadap isnad, seperti yang dipraktikkan pada abad pertengahan, ternyata tidak mencukupi dalam pandangannya. Secara keseluruhan, sudut pandang Ridha tidak berbeda dengan sudut pandang yang dirumuskan oleh seorang sahabat dekatnya, Muhammad Tawfiq Shidqi. Namun Shidqi melangkah terlalu jauh sampai-sampai mengatakan bahwa kaum muslim modern tidak lagi memerlukan seluruh sunnah Nabi . dia terpaksa harus menarik kembali pandangan ini karena mendapat tekanan dari Ridha, namun dia mempertahankan hipotesisnya yang menyebutkan bahwa kebanyakan hadis yang tertulis dalam kitab-kitab himpunan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, haruslah dikaji ulang.

SYAH WALIYULLAH AL-DAHLAWI
Lahir pada 4 syawal 1114H di Delhi, India. Wafat 29 Muharram 1176 H.
Dia hanya tamatan SD, tapi penuh bakat sehingga pada masa mudanya menjadi intelektual yang handal.Usia 17 tahun dia sudah diberi tanggung jawab untuk menjadi kepala sekolah di madrasah.
Dia banyak berguru pada pakar hadis dan fiqih di Hijaz dan Mekkah beberapa tahun, dan kembali lagi ke kampung asalnya.

Pemikiran al-dahlawi tentang hadis:
Nabi saw disamping sebagai seorang yang ma’sum juga sebagai manusia biasa.
Perlu dilakukan pemilahan terhadap segala apa yang keluar dari Nabi saw, mana yang tasyri’ dan mana yang ghairu tasy’ri’.untuk itu al-dahlawi menggolongkan hadis ke dalam dua macam:1)risalah, dan 2) ghairu risalah.
Tidak semua yang berasal dari nabi mesti diteladani, melainkan harus dilihat dulu apakah termasuk risalah atau tidak.
Hadis risalah yaitu hadis yang berkaitan dengan aturan ibadh formal.
Hadis ghairu risalah adalah hadis yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan nabi.
Membuat kategori risalah dan ghairu risalah berdasarkan: Q.S. Al-Hastir:7 dan Al-Kahfi:110.
Kriteria hadis-hadis risalah: 1) Tentang berita-berita ghaib, 2) Ketentuan-ketentuan ibadah seperti shalat, puasa, dll.3)dan lain-lain.
Kriteria hadis-hadis ghairu risalah: 1)tentang ilmu pengobatan, 2)pertanian, 3)Kebiasaan Nabi sehari-hari (seperti makan, minum, tidur,dll), 4)kebijakan-kebijakan yang sifatnya temporal, bukan untuk sepanjang masa.

KASSIM AMIN
lahir pada 9 September 1933 di Malaysia
karyanya yang membahas tentang hadis adalah Hadis Satu Penilaian Semula.
Pemikirannya tentang hadis:
Hadis bukan wahyu.
Para ulama terdahulu menafsirkan kata al-hikmah Q.S. Al-Baqarah: 129 dengan hadis/sunnah. Sedang bagi Kassim Amin artinya alquran sendiri. Dia merujuk pada Q.S. Al-Isra:39.
Nabi sebagai uswatun hasanah dalam ibadah bukan dalam hal kebiasaan sehari-hari layaknya manusia (karena itu terkait dengan budaya setempat, yang boleh jadi tidak sama budayanya dengan daerah di luar arab), tetapi terkait dengan ibadah mahdhoh (shalat, zakat, puasa, haji,dll.).

Benang Merah Pemikiran Hadis Kontemporer
1)Para tokoh kontemporer sedikit-banyak mempersoalkan otentisitas hadis.
2)Banyak mengkritik persoalan dan sistem sanad
3)Menitikberatkan pada matan dan rasio.

Selasa, 21 Oktober 2008

Untuk kekasih saya tercinta, ALLAH SWT…


Diadaptasi dari Rindu Jiwa
------
Ya ALLAH, tahukah Engkau bahwa malam ini saya sangat merindukannya… sangat ingin berbicara dengannya, sangat ingin berdua saja dengannya, sangat ingin dimanjakan olehnya, sangat ingin disayangi dengan segenap kasih sayangnya, sangat ingin tidak ada hijab, tidak ada jarak di antara kita, sangat ingin Engkau memaafkan segala kesalahannya di masa masa yang lalu agar kami bisa bersama hingga ujung napas kami, bahkan setelah napas kami berpisah dari raga saya ini…

Ya ALLAH tahukah Engkau bahwa namanya selalu saya sebut disetiap langkah saya… bahwa namanya adalah nama terindah yang pernah saya kenal, bahwa dengan menyebut namanya hati saya akan kembali tenang, bahwa namanya mampu membuat segumpal daging merah bernama hati didalam jiwa saya bergetar, bahwa namanya begitu indah bukan hanya ditelinga saya, tapi diseluruh darah yang mengalir sempurna didalam raga saya bahkan berdetak sempurna bak rentakan rampak gendang dijantung hati saya… :)

Minggu, 19 Oktober 2008

Ketika “Sang Pengikat Makna” Berhaji

Judul Buku: Terapi Hati Di Tanah Suci
Penulis: Hernowo
Penerbit :Lingkar Pena, September 2008
Tebal: 199 (termasuk indeks)
-----------------------------
Tahukah Anda apa yang dipersiapkan bagi seorang penulis untuk berhaji? Ya, pena dan buku (tentang haji). Pena adalah untuk mencatat segala peristiwa yang tengah dialaminya, sedang buku untuk memperkaya wawasan mengenai rangkaian hajinya. Keduanya itu hendak digunakan untuk mempersepsikan haji oleh dirinya. Itulah yang dilakukan Hernowo, sang “Pengikat Makna”, yang karyanya sudah lebih dari 30 buku.

Adapun hasil dari pengalaman dan persepsinya tentang haji dia bukukan dengan judul Terapi Hati Di Tanah Suci;Ya Allah, Jadikan Aku Cahaya (2008). Buku yang ditulis dengan “hati” ini mampu membuat seorang penulis lainnya menangis. Hal itu lantaran dirinya iri dan menyesal mengapa dirinya tidak melakukan apa yang dilakukan Hernowo tersebut. Penulis tersebut bernama Asma Nadia.

Dia mengatakan sebab keiriannya dalam Kata Pengantar buku ini, “Kenapa saya kurang menyiapkan bekal bacaan,… kedua, karena saya melewatkan beberapa doa yang diamalkan oleh Mas Hernowo di tanah suci dari hasil iqra’-nya yang panjang. Ketiga, perasaan menyesal karena buku ini tidak hadir sebelum saya menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 lalu”(hlm.7-8).

Terkait dengan ketiga alasa keirian Asma Nadia di atas, memang buku ini—terdiri dari tiga bagian—mampu membuat pembaca hanyut dalam dunia haji. Bagian pertama Mempersiapkan Bekal Berhaji, bagia kedua, Pesona Masjidil Haram, dan bagian ketiga Berkah Masjid Nabawi. Hernowo sebelum melaksanakan haji jauh hari sudah membekali dirinya dengan memperkaya wawasan mengenai haji. Tepatnya di bulan Ramadhan—beberapa bulan sebelum bulan haji. Paling tidak ada dua alasan mengapa dia melakukan pembekalannya di bulan tersebut. Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan mulia. Dengan begitu Hernowo termotivasi untuk membekali dirinya dengan sabaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dia yakin bahwa jika seseorang berminat untuk mengumpulkan “bekal” berhaji di bulan suci Ramadhan Tuhan pasti akan menyediakan sumber “bekal” itu secara sangat melimpah.

Kedua, turunnya pertama kali Alquran, yang diawali dengan ayat-ayat perintah membaca (Surat Al-‘Alaq ayat 1-5). Sudah bisa ditebak apa “bekal” yang dipersiapkan Hernowo tersebut, yaitu membaca buku-buku yang terkait dengan haji. Bahkan tidak hanya itu, dia juga membaca buku-buku tentang tanah suci, Masjidil Haram, Madinah, biografi Nabi Muhammad SAW, sejarah awal Islam, dan kebudayaan Islam. Nah, hasil dari bacaannya tersebut, dia menulis hal-hal yang penting dan berkesan. Sebagaimana kita tahu dalam buku-buku sebelumnya, aktivitas tersebut dia namakan dengan “mengikat makna”.

Oleh karena itu, dia “mengikat makna” segala hal yang berkenaan dengan haji. Di saat pembacaan dan penulisannya, dia membayangkan bahwa pada saat berhaji kelak, dia akan merasakan tanah tempatnya lahir Nabi SAW, dan kehidupan Nabi baik di Mekkah maupun Madinah. Bayangan tersebut dia alami saat dia berhaji. Maka tak ayal lagi, lahirlah dari tulisannya kalimat-kalimat yang “hidup”, yang mampu membangkitkan emosi pembacanya untuk merasakan juga apa yang dirasakan oleh Hernowo. Iihat saja misalnya saat dia membaca buku Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi karya O.Hashem, dan dia mendapatkan ihwal Raudhah, di mana dalam bab tersebut disampaikan lima sabda Rasulullah SAW: Pertama, “Antara rumah dan mimbarku adalah taman (Raudhah) di taman-taman surga”, Kedua, “antara kuburku dan mimbarku adalah taman-taman di surga,” Ketiga, “antara kamarku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman di surga,” keempat, “antara mimbarku dan rumah Aisyah adalah taman dari taman-taman di surga,” kelima, “barangsiapa ingin bergembira shalat dalam taman dari taman-taman di surga, maka shalatlah di antara kubur dan mimbarku” (hlm.65-67).

Nah, di halaman 131-132 dia mengakuinya bahwa saat masuk ke Raudhah begitu berkesan. Dia melakukan shalat dua rakaat dan berzikir serta merenung. Hasil renungannya itu adalah bahwa spirit Islam adalah spirit iqra’. Islam memerintahkan umatnya untuk tak henti-hentinya mencari ilmu, ke mana pun dan dari mana pun sumbernya.

Masih di Raudhah, Hernowo membayangkan dirinya berjejer dengan para sahabat sedang mendengar Rasulullah menyampaikan ilmu-ilmunya. Dan itu pun disebabkan oleh para sahabat kepada umat manusia.

“Doa Cahaya”
Saya kira ruh buku ini terletak pada sub-bab yang berjudul “Doa Cahaya”. Sub ini begitu penting, karena dapat mempertemukan dari sub-sub lainnya, bahkan seluruh komponen dalam kehidupan Hernowo, sebagai penulis yang produktif. “Doa Cahaya” merupakan doa yang berisikan permohonan agar dijadikan cahaya secara menyeluruh. Hernowo sangat terkesan dengan doa ini, karenanya dia mengaitkannya dengan keadaan dirinya.

Menjadi cahaya sangat identik dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dengan pengertian seperti itu, doa dia adalah doa logis yang dapat diwujudkan. Yang menjadi pertanyaanya adalah apakah doa yang dia panjatkan pada waktu berhaji pada 2002 benar-benar mewujud nyata pada saat ini?

Buku yang ke-34 ini adalah buah nyata bahwa Tuhan mengabulkan doanya. Waktu yang relatif singkat, dalam jangka enam tahun, Hernowo telah menghasilkan 34 buku. Sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Sebelum berhaji, dia baru satu buku yang dihasilkannya, yaitu Mengikat Makna. Tapi begitu selesai berhaji, goresan penanya tetap tidak berhenti dari waktu ke waktu. Ide-idenya mengalir dengan deras. Lalu muncullah setiap tahunnya buku demi buku. Nah, buku-buku yang diciptakannya itulah cahaya yang dapat menyinari dirinya dan orang lain. Dengan kata lain, cahaya tersebut adalah berbentuk buku. Dengan buku lah dia dapat menyinari alam semesta ini.

Selasa, 14 Oktober 2008

Modal Spiritual


Tulisan ini dimuat di http://www.pembelajar.com/ pada 13 Oktober 2008
-----------------

Modal spiritual adalah istilah yang dipopulerkan oleh Danah Zohar. Kedua kata ini menjadi konsep yang dikembangkan olehnya dan suaminya, Ian Marshall.

Awal mulanya ia menemukan konsep ini saat ia digerakkan oleh sebuah ketakutan pada dunia yang bergerak di sekitarnya. Ketika itu anaknya bertanya untuk apa ia hidup di dunia, lalu pertanyaan ke manakah ia seharusnya melanjutkan pendidikan kelak.

Setelah berpikir lama, Zohar akhirnya menemukan jawabannya. "Hidup manusia adalah untuk memberi arti bagi manusia lain dan lingkungannya," katanya. Pertanyaan sang anak kemudian menamparnya lebih keras.

Ia mengembalikan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. "Saat itu saya merasa berada pada titik terendah kehidupan," katanya.

Di mata Zohar, perilaku lingkungan dan budaya Barat menjerumuskannya ke dalam depresi berat. "Saya menghadapi banyak pengkhianatan personal, ketololan, kesembronoan, atau kekerasan yang dipaparkan terus-menerus sepanjang hari," katanya.

Saat ia berbicara dengan banyak orang mengenai ciri-ciri kecerdasan manusia, semua orang ingin tahu bagaimana kecerdasan itu bisa digunakan untuk menggali dan mendapatkan sebanyak mungkin uang. Semuanya telah diukur dengan kapital, alias duit. Dan di mata Zohar, cara-cara seperti itu sudah salah kaprah. "Inilah kapitalisme cara Barat, monster yang memangsa dirinya sendiri."

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sangat tergantung pada sejauh mana perusahaan berpegang pada prinsip etika bisnis di dalam kegiatan bisnis yang dilakukannya. Untuk berperilaku sesuai dengan kaidah etik perusahaan memeliki berbagai perangkat pendukung etik, yang salah satunya adalah manusia yang memiliki moral yang maengharamkan perilaku yang melanggar etik. Kehancuran dan kemunduran berbagai perusahaan besar di USA seperti Enron (perusahaan listrik terbesar), dan Arthur Anderson (perusahaan konsultan keuangan yang beroperasi di seluruh dunia) disebabkan oleh perilaku bisnis yang melanggar etika bisnis. Demikian pula dengan kasus krisis keuangan di Indonesia tahun 1997-1978 yang membuat perbankan Indonesia bangkrut karena kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) adalah disebabkan oleh perilaku para pemain bisnis yang tidak berpegang pada etika bisnis.

Banyak juga hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang berpegang pada prinsip etika memiliki citra perusahaan yang baik. Citra ini tidak hanya membuat orang suka membeli produk dan jasa perusahaan tersebut, tetapi juga membuat harga saham di pasar bursa meningkat secara signifikan. Selain itu perusahaan yang berperilaku etikal juga akan menarik banyak calon pekerja yang berkualitas untuk melamar menjadi pekerja di perusahaan tersebut (lihat Strategic Finance, vol 83, No. 7, p.20, January 2002). Sebaliknya kalau sebuah perusahaan melakukan perilaku yang melanggar etika bisnis maka kerugianlah yang akan dialaminya. Sebagai contoh sepatu Nike kehilangan banyak pembeli setelah ada publikasi yang luas mengenai anak-anak di bawah umur yang bekerja di perusahaan nike di negara dunia ke tiga pembuat sepatu Nike ( Hawkins, D.I; Best, R.J. & Coney, K.A: Consumer Behavior: Building Marketing Strategy, McGraw-Hill, 1998 , p. 16).

Zohar menceritakan bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti coca-cola, british petroleoum, van city, merck (perusahaan farmasi terbesar di amerika) dan dan amul (koperasi susu terbesar di Gujarat) yang mengoptimalisasikan modal spiritual ini. Secara sederhana, modal spiritual menunjuk pada modal dasar yang dimiliki perusahaan-perusahaan itu untuk bekerja dan berusaha tidak semata-mata demi keuntungan finansial dan materi. Ada dimensi jangka panjang yang lebih diharapkan melalui optimalisasi modal spiritual ini.

Oleh karena itu untuk mengubah budaya bisnis agar tidak berorientasi pada laba semata, menurut Danah, para pemimpin seharusnya memadukan tiga modal yang dimiliki. Pertama adalah modal material. Ia dibentuk oleh kecerdasan rasional (IQ), berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan rasional seperti, "apa yang saya pikir".

Kedua, modal sosial, diukur dengan tingkat kepercayaan di masyarakat, saling merasakan, empati, serta komitmen terhadap kesehatan masyarakat. Ini dibentuk oleh kecerdasan emosional (EQ), berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perasaan, seperti, "apa yang saya rasakan".

Ketiga adalah modal spiritual—di dalamnya termasuk modal moral—dibentuk oleh kecerdasan spiritual (SQ), dibangun dengan mengeksplorasi secara spiritual pertanyaan-pertanyaan seperti "untuk apa saya ada, apa tujuan hidup saya, apa yang sebenarnya ingin saya capai".

Modal spiritual melampaui modal intelektual yang mendasarkan pada paradigma newtonian dan materialisme yang melihat kehidupan secara linear. Dengan modal ini kehidupan dapat dikendalikan dan dikuasai, serta memberi keuntungan dalam bisnis. Modal spiritual juga melampaui modal sosial, yaitu kekayaan material dan keuntungan sosial yang didapat suatu masyarakat dengan mengandalkan sikap saling percaya (trust).

Menurut Zohar, banyak cara sederhana untuk mulai menerapkan modal spiritual di satu perusahaan. Ia memberi contoh sejumlah perusahaan yang menciptakan kebijakan peduli lingkungan serta menyisihkan sebagian modal perusahaan untuk mengembangkan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. "Meski kelihatannya mengeluarkan biaya lebih besar, banyak perusahaan yang tidak sadar bahwa modal spiritual akan mendatangkan kelanggengan bisnis dalam jangka panjang."

Tentu saja modal spiritual juga dapat diterapkan dalam kehidupan masing-masing manusia. Hal-hal sepele namun dapat memberikan keuntungan yang sangat memuaskan, yang tidak bisa diukur dengan kapital.

Di bawah ini ada dua kisah tentang bagaimana bagaimana seseorang dapat menerapkan modal spiritual dalam kehidupannya.

Pertama, kisah Taufik Pasiak yang membantu dua sahabatnya yang sedang membutuhkan uang.

“Kamis lalu, secara tiba-tiba dua orang kenalan dekat menelepon saya. Ini waktu yang tidak lazim bagi mereka menelepon. Karena itu, saya sangat heran. Biasanya orang yang menelepon tiba-tiba ini kalau bukan hendak berkonsultasi soal penyakit pasti mau [injam uang. Rupanya dugaan saya yang kedua yang benar. Dua kenalan ini bermaksud meminja uang; kenalan pertama untuk mengongkosi mertuanya yang sakit, kenalan kedua untuk membayar bunga atas barang gadaian yang hampir jatuh tempo. Uang yang dipinjam pun tidak banyak dan mereka mohon dalam waktu setengah jam saya dapat memberikannya. Saya bukan orang kaya, apalagi dengan uang berlimpah. Karena itu, saya sedikit defensif dan kaget. Syukur, pikiran waras saya mengatakan bahwa orang-orang ini harus dibantu karena saat ini mereka memerlukannya. Kalau ditunda, seberapa pun uang yang saya berikan, tidak lagi bermakna. Mereka butuh hari ini karena itu harus saya berikan hari ini juga.

Singkat kata, uang yang diberikan saya anggap tidak dipinjam, tetapi hadiah dari saya bagi mereka. Saya sedikit plong karena tidak memberikan utang pada orang lain dan membuat kesulitan bagi mereka ketika ditagih. Pun bagi saya yang menagih. Dalam pikiran saya juga berkelebat banyak kejadian serupa yang memberikan hikmah sangat besar. Saya beroleh banyak keuntungan, yang bukan material, untuk sesuatu yang pernah saya berikan.”

Kedua, kisah yang saya kutip dari kisah yang dituturkan Ary Ginanjar, pengarang ESQ.

“Ada kisah menarik dari Dr Sheikh Muszaphar angkasawan Malaysia, satu-satunya orang Melayu yang pergi ke angkasa. la terpilih dari 11000 orang. Ketika turun ia tersenyum bahagia dan berkata, "Di angkasa saya menemukan jati diri saya. Selama ini saya mencarinya dengan pergi ke Kamboja, Afghanistan, untuk kegiatan kemanusiaan, namun saya selalu merasakan kekosongan yang tidak saya mengerti. Di Angkasa saya melihat keindahan ciptaan Tuhan hingga menyentuh saya secara spiritual. Saat ini saya tidak lagi melihat hal kecil dalam kehidupan, saya bicara kemiskinan, kemelaratan, perdamaian dan persoalan dunia yang kini menjadi rumah saya."

Kamis, 02 Oktober 2008

Lebaran Tanpa Sang Kakek

Dapatkah anda membayangkan ketika merayakan kebahagiaan tanpa disertai orang yang kita cintai dan hormati? Bahkan orang tersebut tidak hanya kita yang mencintai dan menghormatinya, tetapi juga semua saudara bahkan sekampung dan sekecamatan? Ya, kita semua pasti sedih dan pilu.

Ada ruang hati yang terasa kosong dan hampa. Kebahagiaan tersebut seolah-olah tak bermakna karena tidak ada orang yang kita cintai di tengah-tengah kita.

Itulah gambaran keadaan keluarga kami di saat lebaran Idul Fitri 1429H ini. Kami merayakan Idul Fitri tanpa sang kakek. Beliau telah meninggal pada 30 Juni 2008. Sosok kakek adalah sosok yang begitu kami cintai dan muliakan.

Bahkan tidak saja oleh keluarga kami, tetapi juga oleh masyarakat, baik tingkat desa maupun kecamatan. Apa sebetulnya yang membuat beliau begitu disegani di desa kami?

Tentu saja kiprah dalam hidupnya tercurah untuk desa kami tercinta. Beliau ikut menentukan perkembangan desa kami. Beliau sangat dekat sekali dengan siapa pun. Aku sendiri sudah menganggap beliau adalah orangtuaku.

Lebaran kali ini adalah lebaran anti-klimaks. Kami merayakannya tanpa dirinya. Ketika kakek masih ada, rasanya kebahagiaan kami begitu sempurna. Beberapa agenda lebaran kami lakukan bersama. Setiap lebaran kami selalu ziarah ke makam-makam keluarga beliau, baik yang ada di desa sendiri mapun di luar desa, seperti di Serang dan Cilegon. Sedikitnya ada 4 mobil yang membawa keluarga kami. Berangkat pagi dan pulang malam. Boleh dikata momen lebaran adalah momen yang memadukan antara ziarah dan wisata. Karena biasanya begitu selesai ziarah ke makam-makam saudara kakek dan nenek, dan juga silaturahmi, pulangnya kami ke pantai, tepatnya pantai Anyer. Di sana kami bakar ikan dan makan berjama’ah. Sungguh, sebuah kenangan yang indah.

Keluarga kami adalah keluarga yang besar. Besar dalam pengertian yang sebenarnya. Kakek dan nenekku mempunyai 13 anak. Tentu saja dari rahim sang nenek semuanya. Soalnya, ada temanku yang tidak percaya dengan hal itu, kalau kakekku punya anak 13 dari 1 ibu saja, yaitu nenekku. Beliau pun adalah tipe setia yang hanya mempunyai 1 istri, yaitu nenekku.13 anak itu terdiri dari 8 putra dan 5 putri. Anak ke-1(laki-laki) di Belanda, ke-2 (laki-laki) di Jakarta, ke-3 (perempuan) di Pandeglang, ke-4 (perempuan;ibuku hehe..) di Pandeglang, ke-5 (laki-laki) di Belanda, ke-6 (perempuan) di Bekasi, ke-7 (laki-laki) di Tangerang, ke-8 (laki-laki) di Serang, ke-9 (laki-laki) di Jakarta, ke-10(perempuan) di Pandeglang, ke-11 (laki-laki) di Pandeglang, ke-12 (perempuan) di Serang, dan ke-13 (laki-laki) di Pandeglang. Di antara ke-13 anak beliau, mayoritas berprofesi guru (baik di negeri maupun swasta). Sisanya adalah pegawai kantoran (baik di negeri maupun swasta). Kakek dan nenekku sendiri adalah pensiunan guru. Kakek dalam jenjang karirnya pernah menjadi kepala KUA, ketua MUI kecamatan, sesepuh di ormas keagamaan Mathla’ul Anwar, serta kepala sekolah MTs MA Bojong. Sedang di masyarakat sendiri beliau adalah ketua Takmir Masjid Al-Hidayah Bojong, dan pengisi pengajian rutin. Beliau juga masa mudanya pernah menjadi pemimpin Tentara Rakyat saat melawan Jepang dan Belanda.

Kenangan Bersama Sang Kakek
Kenangan hidupku bersama sang kakek begitu banyak dan takkan pernah terlupakan. Semenjak aku kecil hingga dewasa selalu saja terjalin peristiwa demi peristiwa dengan beliau. Pada masa kecil aku masih ingat 3 peristiwa:
Pertama, pada saat musim durian. Kakek mengajakku ke kebun untuk menunggu durian jatuh. Jika durian jatuh tandanya durian itu sudah masak, dan dapat langsung dimakan. Tapi sayang waktu itu tidak ada yang jatuh, terpaksa kami menunggu hingga sore hari. Ya, di kebun, tepatnya di sebuah gubuk, hanya ada aku dan kakek saja. Nah, pada saat menunggu itu, sambil membersihkan semak-semak, tiba-tiba ada kalajengking di dekatku. Kontan saja aku takut dan mau menangis. Dengan sigap, kakekku menghampiri kalajengking itu, dan memukulnya dengan kayu.
Kedua, saat jalan-jalan dengan beliau ke daerah Kananga, tempat beliau hidup beberapa tahun saat belajar di sebuah pondok pesantren. Dari desaku, untuk menuju ke sana, harus naik angkot 2 kali, dan naik ojek 1 kali. Aku masih ingat, kami menaiki ojek bersama. Badanku yang kecil diangkatnya ke atas motor. Baru setelah itu beliau naik. Kurang lebih ¼ jam kami naik ojek menuju Kananga.

Nah, sekembali dari Kananga, kami tidak langsung pulang. Beliau mengajakku ke kota Labuan untuk jalan-jalan dan membeli alat-alat perumahan. Aku masih ingat waktu itu, aku dibelikan kembang api yang waktu itu masih langka dan mewah sekali di desaku. Kembang apinya panjang banget. Ya Allah, aku senang banget waktu itu. Sekembali di desaku, dengan bangganya kuperlihatkan kepada teman-temanku kembang api tersebut. Pada malam-malam kunyalakan di depan teman-teman, horee…percikan cahayanya bagus sekali.

Ketiga, pada saat aku sunatan. Ya, masih jelas sekali tergambar peristiwa itu. Saat itu aku kelas 4 SD. Aku dibawa ke mantri sunat yang letaknya di kecamatan Picung, sebelah selatan kecamatanku. Waktu itu, hanya kakek yang mengantarku. Ya, hanya beliau. Bapakku sendiri waktu itu tidak bisa, karena sedang berjualan di pasar.

Ada yang lucu, saat aku disunat, beliau menutup mataku agar tidak melihat prosesi itu. Tapi, beliau menutup mataku dengan jari-jari tangannya tidak dirapatkan, maka otomatis akupun bisa melihatnya. Hiii… mengerikan sekali aku melihatnya. Adapun sekembali dari—disunat--itu, aku dan kakek naik angkot, sebagaimana saat berangkatnya juga. Aku mengenakan sarung ketika selesai disunat. Di angkot itu aku duduk di bagian depan dekat sopir dan di samping kirinya adalah kakekku. Angkot tersebut memuat banyak penumpang. Semuanya pada memandangku dengan senyam-senyum sembari mengucapkan selamat. Begitu datang di desaku, kakek meminta kepada sang sopir untuk mengantar kami sampai halaman rumah. Berhubung rumahku tidak bisa dilalui angkot, maka kami minta sopir mengarahkan angkotnya ke rumah kakek. Rumah kakek mudah dijangkau mobil. Di rumah kakek sudah ramai. Dan mereka kaget, kok yang mengantarku banyak sekali, padahal berangkatnya cuma kakekku saja. Hi-hi-hi… mereka tidak tahu kalau semua orang-orang itu adalah penumpang.

Adapun peristiwa yang masih kuingat saat remaja adalah seringnya kami tadarus Alquran bersama. Masa ini adalah saat aku duduk di MTs, yang beliau pimpin. Tahu tidak, seingatku aku tidak pernah bayar SPP lho. Bukannya tidak mau bayar sebetulnya, saat aku hendak bayar, petugasnya selalu saja menolak. Katanya sih aku sudah bebas biaya sekolah, kakekku yang menjaminnya. Ah, kakek…

Masa remaja itu aku begitu intensif belajar Alquran pada kakek. Kebetulan waktu itu ada saudaraku juga, yaitu anak pak Dhek-ku yang di Belanda, yang disekolahkan di Bojong, tapi hanya sampai SD saja. Bersama saudaraku, kami belajar Alquran. Setiap ba’da Ashar, maghrib, dan shubuh, kami tadarus bersama dengan dibimbing sang kakek. Hampir tiap hari kami melakukannya. Beberapa surat pilihan kami baca di waktu-waktu itu. Surat-surat pilihan itu adalah surat al-Kahfi, Yasin, ar-Rahman, al-Waqi’ah, al-Mulk, dan an-Naba. Dan itu berlangsung kurang lebih 3 tahunan. Walhasil, Alhamdulillah aku dapat menghafalnya. Mungkin sampai saat ini. Alquran kecil, yang berisi surat-surat pilihan itu, pemberian kakek (dari Mekkah) selalu kubawa ke mana-mana hingga aku ke Jogja, selalu kubaca di setiap ada kesempatan. Sekarang, Alquran mini (yang berisi surat-surat pilihan) itu sudah kuwariskan pada seseorang yang behak memilikinya. Mudah-mudahan saja berkah bagi kakek dan aku, serta yang membacanya, amin..

Oh iya, ada yang terlewatkan. Sebetulnya tidak hanya belajar Alquran saja, aku pun diajari keberanian oleh beliau untuk ceramah di depan umum. Pernah suatu kali aku disuruh mengisi ceramah dalam rangka peringatan Isra Mi’raj. Saudaraku juga disuruh ceramah. Kalau aku disuruh ceramah dengan menggunakan Bahasa Arab, sedang saudaraku itu menggunakan Bahasa Belanda.

Sedang masa dewasaku jarang sekali kulewatan bersama kakek, lantaran aku masuk pesantren dan sekolah Aliyah di Ciamis. Ciamis adalah kota yang begitu jauh dari desaku. Karena jauh, konsekwensinya aku jarang pulang. Otomatis aku jarang melewati hari-hari bersama kakek. Keadaan ini terus berlanjut hingga aku kuliah ke Jogjakarta. Tapi walau begitu setiap aku pulang, mesti aku menghampiri kakek dan mengobrol ke sana- kemari. Beberapa kali juga aku disuruh mengisi khutbah Jum’at dan khutbah Idul Fitri. Banyak orang mengatakan kalau akulah nanti yang akan menjadi penerus perjuangan beliau, terutama dalam keagamaan. Sungguh, aku malu dikatakan seperti itu, karena aku sangat tidak pantas. Ilmu dan akhlakku sangat minim. Selain itu, hidupku banyak dihabiskan di Jogjakarta.

Hal yang tak bisa kulupakan juga adalah beliau selalu mendoakan aku manakala aku pamitan hendak ke Ciamis atau ke Jogjakarta. Setelah didoakan beliau, aku pun dikasih sangu 50 ribu. Lumayan hehe..

Begitulah kenanganku bersama kakek dari fragmen ke fragmen. Hidupnya sungguh berarti bagiku. Aku ingin mengenangnya sampai kapan pun. Semua yang ada di desa dan kecamatanku merasa kehilangan beliau. Di saat pelepasan ke liang lahat, telah hadir ribuan orang dari mana-mana. Mereka menyolatkannya seraya memberi penghormatan terakhir. Di antara ribuan orang itu, salah satunya adalah Bupati Pandeglang.

Akhirnya,… selamat jalan kakek. Semoga amal baikmu diterima oleh Allah Swt. Lebaran kali ini terasa hampa karena engkau tidak lagi bersama kami.
Mudah-mudahan aku bisa meneruskan perjuanganmu, kek… hikss
Hanya doa yang bisa kupersembahkan untukmu…

Allahmummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu wa akrim nuzulahu wawassi' madkhalahu waghsilhu bi maain watsaljin wabarodin wanaqqihi minalkhathaaya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minad danasi waabdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaujihi waqihi fitnatal qabri wa'adzaaban naari.